Istiqomah

Oleh
Ustadz Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

Sesunguhnya nikmat Allâh Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya tidak terbatas. Di antara nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam. Demikian juga nikmat istiqomah di atas iman. Hal ini ditunjukkan oleh hadits di bawah ini:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah”. [HR Muslim, no. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972].

MAKNA ISTIQOMAH
Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat tahun 795 H) berkata menjelaskan makna istiqomah dan kedudukan hadits ini dengan mengatakan: “Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama”.[1]

Dari penjelasan di atas maka diketahui bahwa ukuran istiqomah adalah agama yang lurus ini. Yaitu melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan dengan tanpa melewati batas, tanpa mengikuti hawa-nafsu, walaupun orang menganggapnya sebagai sikap berlebihan atau mengurangi. Allâh Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Hûd/11:112].

Allâh Ta’ala juga berfirman:

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqomahlah (tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allâh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allâh-lah tuhan kami dan tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allâh akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali (kita)”. [Syûrâ/42:15].

ISTIQOMAH HATI DAN ANGGOTA BADAN
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: Pokok istiqomah adalah istiqomah hati di atas tauhid, sebagaimana penjelasan Abu Bakar ash-Shiddîq dan lainnya terhadap firman Allâh:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka”. [al-Ahqâf/46:13].

(Yaitu) bahwa mereka tidak berpaling kepada selain-Nya.

Ketika hati telah istiqomah di atas ma’rifah (pengetahuan) terhadap Allâh, khasyah (takut) kepada Allâh, mengagungkan Allâh, menghormati-Nya, mencintai-Nya, menghendaki-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya; maka semua anggota badan juga istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Karena hati merupaka raja semua anggota badan, dan semua anggota badan merupakan tentara hati. Maka jika raja istiqomah, tentara dan rakyatnya juga istiqomah.

Demikian juga firman Allâh:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allâh -Rûm/30 ayat 30- ditafsirkan dengan memurnikan niat dan kehendak bagi Allâh semata, tanpa sekutu bagi-Nya.

Setelah hati, maka perkara terbesar yang juga dijaga isitqomahnya adalah lisan, karena ia merupakan penterjemah hati dan pengungkap (isi) hati. Oleh karena itulah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan istiqomah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan.

Di dalam Musnad Imam Ahmad dari Anas bin Mâlik , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. [HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13].

Disebutkan dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa’id al-Khudri secara marfuu’ dan mauqûf:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: “Takwalah kepada Allâh di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. [HR Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin 3/17, no. 1521].[2]

KEUTAMAAN ISTIQOMAH
Istiqomah tidaklah mudah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allâh Ta’ala berfirman memberitakan keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh kepadamu”. [Fush-shilat/41:30].

Di dalam ayat yang lain Allâh Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh”, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. [al-Ahqâf /46:13-14].

ISTIGHFAR MELENGKAPI ISTIQOMAH
Manusia pasti memiliki kekurangan. Manusia tidak akan mampu melaksanakan agama ini secara menyeluruh dengan sempurna. Oleh karena itulah Allâh Ta’ala memerintahkan istighfar setelah memerintahkan istiqomah. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. [Fush-shilat/41:6].

Iman Ibnu Rajab berkata: “Di dalam firman Allâh ‘maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya’, merupakan isyarat bahwa pasti terjadi kekuarangan di dalam (menjalankan) istiqomah yang diperintahkan, maka diperbaiki dengan istighfar yang mengharuskan taubat dan ruju’ menuju istiqomah”.[3]

SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH
Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allâh Ta’ala ialah sebagai berikut:
1. Merenungkan al-Qur`ân.
2. Mengamalkan agama Allâh.
3. Doa.
4. Dzikir.
5. Pembinaan iman.
6. Meneladani Salafush-Shâlih dan ulama yang istiqomah.
7. Mencintai Allâh dan Rasul-Nya melebihi yang lainnya.
8. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allâh.
9. Saling berwasiat dengan al-haq, kesabaran, dan kasih-sayang.
10. Meyakini masa depan bagi agama Islam.

Inilah sedikit penjelasan tentang istiqomah, semoga bermanfaat.

Wallâhu A’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam, juz 1, hlm. 510, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bajis, Penerbit ar-Risalah, Cet. 5, th. 1414 H/ 1994 M.
[2]. Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam, 1/511-512.
[3]. Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam, 1/510.

sumber: Almanhaj

Ilustrasi: rumaysho.com

Terima Ajakan Agus Salim, Hamka Pulang

Waktu berhaji jatuh pada musim panas. Wukuf di Arafah bukan main panasnya. Banyak orang mati. Hamka pun tak luput dari serangan panas. Ia ditimpa sakit kepala dan tak dapat berjalan ke mana-mana.

Darah mengalir dari hidung. Ia tak sadarkan diri hingga lepas tengah malam. Hamka teringat ayah bundanya. Begitu mudah orang mati, sampai ia merasa barangkali tentu akan mati.

Syukur, ia kembali sehat dan melengkapkan rukun haji. Kebiasaan zaman itu, selepas menunaikan haji, semua berkumpul di hadapan syeikh masing-masing.

Syeikh akan memasangkan serban dan mengganti nama haji yang diinginkan si empu. Uang seringgit tak lupa melompat ke kantong Syekh setelah prosesi.

Tapi, Hamka tak mau mengikuti adat itu. “Buat apa? Serban itu bagiku tak perlu, dan nama yang telah diberikan ayahku kepadaku tidak akan kutukar! Ini hanya perbuatan khurafat semua,” kata Hamka membatin.

Saat orang sibuk membicarakan kepulangan, Hamka terbelah; mukim atau pulang. Seorang teman menyarankan untuk mukim barang setahun. Hamka sempat ragu.

Apalagi, Tuan Hamid sedia menerimanya kembali. Niat mukim itu lenyap setelah Hamka bertemu Haji Agus Salim. Hampir seminggu Hamka menyediakan diri jadi khadam (pelayan) Agus Salim.

“Apa yang akan engkau tunggui di sini? Lebih baik pulang. Banyak pekerjaan penting berhubung dengan pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat dikerjakan di Indonesia,” kata Agus Salim pada anak muda yang belum genap 20 itu.

Perjalanan pulang dari Makkah ke Jeddah terpaksa ditempuhnya dengan berjalan kaki. Hamka sudah tak punya uang. Payah, letih, ia berjalan bersama seorang kawan yang juga kehabisan uang.

Di tengah jalan, mereka kehabisan roti dan air minum. Beruntung, tampak dua orang Afghanistan bernaung di bawah pohon, juga dalam perjalanan ke Jeddah. Mereka berbagi makanan. Sampai di Bahra, tak kuat lagi Hamka dan kawannya berjalan.

Terpaksalah mereka menyewa keledai dengan uang seadanya. Sore berangkat, tengah malam tiba di Jeddah. Hanya dua malam di kota itu, kapal ke Buitenzorg berangkat. Sabang tampak dari kejauhan setelah 15 hari terapung di lautan.

Memoar ini termasuk kisah perjalanan haji yang mula-mula ditulis pribumi. Hamka dalam hal ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dia’ dengan ungkapan pemuda kita.

Artinya, ia menempatkan diri sebagai objek pengamatan yang berjarak, sekaligus hendak menjadi bagian dari pembaca. Suatu gaya yang menurut Indonesianis asal Perancis, Henri Chambert-Loir, “modern, pintar, dan menarik.”

 

sumber: Republika Online

Kakek 105 Tahun Ini Akhirnya Sempurnakan Ibadah Haji

Setelah menabung selama hampir 15 tahun, Noor Mohammed, seorang jamaah haji Pakistan berusia 105 tahun akhirnya berhasil sampai ke Makkah untuk melakukan ibadah haji.

“Saya tabungkan uang 15 tahun lalu dan memulai perjalanan untuk seumur hidup ini,” katanya kepada surat kabar Al-Hayat, dilansir Siasat, Senin (28/9).

“Biaya haji yang meningkat dari tahun ke tahun, sempat membuat sulit karena ekonomi keluarga saya yang tidak mampu, “katanya.

Mohammed mengatakan dia hanya mampu menyimpan uang haji di usia tua. “Ketika saya melintasi usia ke-100, barulah saya bisa menyimpan jumlah yang diperlukan untuk mencapai impian saya seumur hidup ini,” katanya.

Dia mengatakan ketika ia tiba di Arab Saudi untuk pertama kalinya, ia menemukan bahwa beribadah haji itu tidak sesulit yang sebelumnya ia bayangkan. Mohammed mengatakan teman-temannya, yang semuanya telah meninggal sekarang, telah banyak bercerita tentang kesulitan-kesulitan selama ibadah haji.

“Saat ini sangat mudah untuk bergerak di antara tempat-tempat suci. Hal ini juga mudah untuk melakukan ritual. Hal ini bertentangan dengan apa yang diceritakan orang-orang tentang haji selama bertahun-tahun,” katanya.

 

sumber:Republika Online

Bila Hamka Naik Haji

“Pada permulaan Februari 1927, pemuda kita meninggalkan pelabuhan Belawan, menuju Jeddah; menumpang kapal Karimata kepunyaan Sttomvaart Maatschappij Netherland,” tulis pemuda kita dalam Kenang-Kenangan Hidup (1950), sebuah memoar perjalanan haji keluaran penerbit Gapura, Jakarta.

Pemuda kita itu bernama Hamka. Lengkapnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia ulama, aktivis, mubaligh, sekaligus sastrawan yang masyhur. Hamka menunaikan ibadah haji tahun 1927, tapi memoar ini ditulisnya tahun 1950.

Sewaktu Hamka lahir, Haji Rasul pernah berjanji mengirim anak laki-laki pertamanya ini ke Makkah setelah berusia 10 tahun. Tapi, janji itu tak dapat ditepati lantaran beberapa alasan. Karena itu, keputusan Hamka naik haji tahun 1927 adalah semacam pembuktian, sekaligus pemenuhan.

Kepada ayah dan andung-nya, pemuda itu tak menuturkan kemana hendak pergi. Ia hanya berkata hendak pergi ke tempat yang jauh. Tak ada uang saku. Hanya andung-nya, yang memberikan dua gulden hasil penjualan kapuk.

Hamka memperoleh uang untuk membeli tiket pulang pergi berkat bantuan Isa, temannya di Siantar. Ia baru berusia 19 tahun, saat kapalnya meninggalkan laut Ceylon.

Lantaran pandai mengaji Alquran, di atas kapal Hamka amat dihormati. Orang memanggil dengan sebutanajengan.

Ia bahkan ditawari kawin dengan seorang gadis Bandung yang memang telah menawan hatinya, tapi Hamka menolak. Sewaktu itu, kata Hamka, biasa saja orang menikah di atas kapal.

Orang sangat banyak naik haji tahun itu. Tak kurang 64 ribu orang dari Indonesia. Kabar kemenangan Ibnu Sa’ud dan kenaikan harga getah, menyebabkan orang banyak naik haji.

Tahun sebelumnya, dua pemimpin besar Indonesia, HOS Tjokroaminoto dan KH Mas Mansur juga baru saja pulang dari Makkah menghadiri Muktamar Islam. Semangat pergerakan Islam sedang berkembang.

Pemuda kita tak ketinggalan dalam aktivitas pergerakan. Bahasa Arabnya paling fasih dari yang lain. Ia pun dipercaya memimpin delegasi menemui putra Raja Saud, Amir Faishal, serta Imam Besar Masjidil Haram.

Pada kesempatan lain, Hamka bahkan sempat menjajal bertemu Raja Saud, meski gagal. Mereka minta izin memberi ceramah agama dan manasik haji bagi jamaah Indonesia di Masjidil Haram.

Ini memicu pertengkaran pertama Hamka dengan syekh (pemandu haji)-nya, yang berlanjut sampai akhir perjalanan berhaji.

Selama di Tanah Suci, Hamka sangat kekurangan uang. Ia bekerja di percetakan Tuan Hamid Kurdi, mertua ulama Minangkabau, Syekh Ahmad Chatib.

Hampir dua bulan ia di sana. Tak hanya bekerja, tapi juga menyelami buku-buku Tuan Hamid. Baru setelah tiba musim haji, Hamka pamit.

 

sumber: Republika Online

Saudi Bantah Rombongan Putra Mahkota Penyebab Tragedi Mina

Putera Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud hadir di Mina pada Kamis pagi hari membawa rombongan besar dengan kawalan 200 tentara dan 150 polisi.

Dream – Rombongan Putera Mahkota yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, dituding menjadi penyebab terjadinya tragedi Mina. Ini dilaporkan media berbahasa Arab, Al Diyar.

Dalam laporan tersebut, Mohammad tiba di Mina pada Kamis pagi hari. Dia membawa rombongan besar dengan dikawal 200 tentara dan 150 polisi.

Rombongan tersebut masuk dengan menerobos kerumunan jemaah yang sudah ada di Jalan 204. Hal itu menimbulkan kepanikan hingga menyebabkan ribuan jemaah menjadi korban, baik meninggal maupun mengalami luka parah akibat berdesak-desakan.

Saat tragedi terjadi, Mohammad beserta rombongannya dilaporkan segera meninggalkan lokasi kejadian. Petugas keamanan kemudian berusaha menutupi penyebab tragedi tersebut.

Sejumlah pejabat kerajaan menyatakan bantahan atas penyebab tragedi tersebut. Salah satunya adalah Menteri Kesehatan Khaled al-Falih, yang menyatakan tragedi terjadi murni disebabkan kesalahan para jemaah haji yang ingin melontar jumrah tidak sesuai jadwal mereka.

“Jika jemaah mengikuti instruksi, tragedi ini tidak akan terjadi,” ujar Khaled.

Tragedi Mekah yang terjadi pada Kamis, 24 September 2015 kemarin, menelan sedikitnya 1.300 korban. Sebanyak 717 jemaah dilaporkan meninggal sedangkan 863 jemaah mengalami cedera.

Sumber: presstv.com

Amalkan Surat Ash-Shaf, Ini Alasannya

Janji Allah pertolongan bagi setiap Muslim pasti benar. Menurut Syekh Ali Jaber, hal itu terbukti dengan perkembangan terkini di Tolikara.

‎”Alhamdulillah, hari ini kita melihat perjuangan semua pihak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI dan Polri terkait amannya pelaksanaan shalat Idul Adha,” kata Syekh Ali Jaber, Jumat (25/9).

Syekh Ali menyarankan, selepas pelaksanaan Shalat Idul Adha 1436 Hijriah di Masjid Khairul Ummah, Karubaga, Tolikara selesai dan berlangsung aman Umat Islam silahkan pelajari surat Ash-Shaf. “Surat ini pendek, tapi subhanallah banyak pelajaran di dalamnya,” kata Syekh Ali.

Dia menjelaskan, dalam surat Ash-Shaf terdapat cerita Nabi Musa, Isa, dan Janji Allah akan kejayaan Islam di bumi. Ada juga pelajaran kesabaran dan perjuangan untuk kemakmuran di Bumi.

“Pesan ini selalu saya sampaikan kepada setiap khatib agar mengajak jamaah membaca dan mengamalkan surat ini. Di surat inilah, Allah memenuhi janjinya memberikan pertolongan kepada Allah,” kata dia. “Mari jadikan surat ini kekuatan bagi kita untuk kehidupan yang lebih baik.”‎

 

 

sumber: Republika Online

Penuhi Mimpi, Pria Ini Gendong Ayah Saat Ibadah Haji

Membalas semua budi terhadap apa yang sudah orang tua berikan tidak akan pernah bisa dilakukan oleh seorang anak. Hanya saja anak bisa melakukan hal-hal yang bisa membantu orang tua, seperti menggendongnya untuk beribadah haji.

Untuk memenuhi mimpi ayahnya yang sudah tua, seorang pria Muslim Pakistan yang tidak ingin disebutkan namanya tertangkap kamera sedang menggendong ayahnya yang lumpuh. Kejadian itu tertangkap saat pria berusia 50 tahun itu melakukannya selama shalat Jumat di Arab Saudi.

Menurut laporan Emirates 24/7, yang dikutip dari OnIslam, Selasa (8/7), dia mengatakan akan melakukan hal yang sama terhadap ayahnya saat beribadah haji. Ia menceritakan ayahnya lumpuh dan tidak bisa lagi berjalan layaknya manusia pada umumnya. Pria tersebut berjanji akan membawa ayahnya di punggung untuk melalui musim haji.

Pria tersebut juga menceritakan ini merupakan kali pertamanya pula melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

“Ia mengatakan ia telah bersumpah untuk menggendong ayahnya untuk haji dan dia siap untuk mengatasi semua kesulitan dan membawanya sepanjang waktu untuk menghormati janjinya,” tulis artikel tersebut.

Foto mengagumkan tersebut beredar di media sosial dan dipenuhi dengan pujian. Mereka memuji perilaku anak untuk ayahnya, dan memuji ayahnya yang dapat mendidik anaknya dengan baik.

 

sumber:Republika Online

Kesaksian Jamaah Haji Al-Jazair Tentang Tragedi Mina; Video

Televisi al-Nahar melaporkan para jamaah haji al-Jazair yang selamat dari tragedi tersebut mengutuk pemerintah Arab Saudi untuk bertanggung jawab atas tragedi Mina. (Baca Wakil Putra Mahkota Saudi Sumber Malapetaka Mina; Video)

Para jamaah haji al-Jazair yang menjadi saksi mata sekaligus korban tragedi itu, mengatakan bahwa pasukan keamanan Saudi menutup pintu masuk menuju tempat rajam setan. Penutupan ini kontan membuat penumpukan ribuan jamaah haji dari berbagai negara di tempat yang kecil dan sempit.  (BacaEksklusif, Konvoi Putra Mahkota Muhammad bin Salman Biang Tragedi Mina :Video)

Kemudian setelah penumpukan semakin membuat sesak ribuan jamaah haji, tiba-tiba pasukan keamanan Saudi membuka satu pintu (yang satu arah) hingga terjadilah benturan antara jamaah haji yang ingin masuk dengan jamaah haji yang ingin keluar. Demikianlah awal mula terjadinya tragedi Mina yang menelan ribuan jamaah haji dari berbagai negara.

Pemerintah Arab Saudi sendiri hingga kini belum menjelaskan sebab penutupan jalan yang memicu tragedi Mina. Seorang analis Arab mengatakan sebenarnya untuk mengungkap penyebab tragedi Mina sangatlah mudah, karena di Mina sendiri terpasang ratusan cctv yang dapat memudahkan penyelidikan. Lalu kenapa ini tidak diungkap? Tentu pengungkapan ini akan menimbulkan kerugian dan kekhawatiran bagi kerajaan, sehingga mereka harus memusnahkan semua bukti-bukti tersebut. (ARN/TValnahar)

 

sumber: Arrahman News

Perjuangan Jemaah Haji Berusia 105 Tahun

“Kegagalan berulang-ulang untuk menunaikan haji tidak menghalangi saya.”

Bagi seorang warga Pakistan bernama Noor Mohammed, Allah mungkin memanjangkan usianya agar dia bisa menunaikan ibadah haji di Mekah.

Noor, jemaah haji berusia 105 tahun asal Pakistan, sangat senang bisa menunaikan ibadah haji tahun ini setelah gagal beberapa kali.

“Kegagalan berulang-ulang untuk menunaikan haji tidak menghalangi saya. Saya terus berjuang menyimpan uang agar bisa memulai perjalanan ibadah satu kali seumur hidup ini,” katanya kepada surat kabar Al-Hayat dikutip Saudigazette.com, Jumat kemarin.

Noor mengatakan telah menabung selama 15 tahun. “Biaya haji naik dari tahun ke tahun. Setiap kali saya mencoba untuk mengumpulkan cukup uang, saya gagal karena kondisi keuangan keluarga yang sulit,” katanya.

Ia mengatakan baru bisa menunaikan haji di usia tua. “Ketika saya melewati usia 100, tabungan saya bisa mencapai jumlah yang diperlukan untuk mencapai impian seumur hidup ini,” katanya.

Ketika tiba di Arab Saudi untuk pertama kalinya, dia menemukan bahwa haji itu tidak sesulit yang dibayangkan.

Noor mengatakan teman-temannya, yang semuanya telah meninggal sekarang, sering bercerita bahwa selama menunaikan haji itu penuh penderitaan dan susah.

“Fasilitas yang saya rasakan dan lihat telah melenyapkan gambaran buruk soal haji,” tambahnya.

Noor mengatakan ibadah haji kini semakin mudah terutama bagi orang-orang tua seperti dia. Hal itu karena pemerintah Arab Saudi menyediakan berbagai fasilitas dan layanan yang terintegrasi.

“Saat ini sangat mudah untuk pergi ke tempat-tempat suci. Sekarang juga mudah melakukan berbagai ritual haji. Semua ini bertentangan dengan gambaran saya tentang haji yang selama bertahun-tahun saya bayangkan,” katanya.

Noor, menggunakan tongkat berjalan, menangis sepanjang waktu saat dia berbicara dengan Al-Hayat. “Ini adalah air mata kebahagiaan,” jelasnya.

 

sumber: Dream.co.id

Menag Minta Maaf Kepada Keluarga Korban Insiden Mina

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin meminta maaf pada keluarga jamaah haji Indonesia atas proses pencarian serta identifikasi korban insiden Mina yang lamban.

“Kepada keluarga korban, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mohon kesabaran bahwa kami di sini bekerja 24 jam dan terus berupaya semaksimal dan seoptimal mungkin sehingga pada akhirnya bisa mengungkap seluruh korban yang merupakan warga negara Indonesia,” urai Menag, Senin (28/9).

Kelambatan proses informasi tersebut, diakuinya karena ada sejumlah aturan serta tahapan yang harus ditempuh sesuai ketentuan negara Arab Saudi. Tentu saja, ujar Menag, kondisi tadi membuat tim petugas haji yang dikerahkan tidak leluasa untuk melakukan hal-hal tertentu.

“Saya tidak tahu negara lain melakukan verifikasi, identifikasi, tapi yang kami lakukan seperti ini. Sampai saat ini dengan segala keterbatasan kami berterima kasih kepada Pemerintah Arab Saudi terkait pemberian sejumlah akses. Tapi, kami memaklumi prosesnya tidak bisa secepat yang diharapkan,” ungkap Menag.

 

sumber: Republika Online