Awas Zina dan Riba Tanda Datangnya Azab Allah

DARI Maimunah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‘Tidak henti-hentinya umatku dalam kebaikan selama tidak tersebar kepada mereka anak zina. Jika telah tersebar di kalangan mereka anak zina, maka hampir-hampir Allah meratakan azab ke atas mereka’.” (HR Ahmad)

Dalam riwayat Abu Ya’la, beliau mengatakan, “Umatku senantiasa berpegang dalam kebaikan dan perintah-Nya, selama tidak tampak di kalangan mereka anak zina.” Lalu dalam riwayat lain disebutkan, “Jika zina telah merajalela, maka merebaklah kekafiran dan kemiskinan.” (HR Al-Bazzar)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Jika zina dan riba telah muncul di suatu kampung, sungguh mereka telah menghalalkan dirinya untuk ditimpa azab Allah.” (HR Al-Hakim)

INILAH MOZAK

Makar Allah kepada Orang-orang Kafir

SALAH satu bentuk makar Allah termuat dalam firman-Nya, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa penangguhan Kami pada mereka adalah baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menangguhkan mereka agar bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS 3: 178).

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa mengulur waktu dan menangguhkan azab yang disertai dengan penambahan karunia bagi seseorang adalah bentuk makar Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Bila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya yang berdosa, maka Dia akan membalas dosanya dan mengingatkannya untuk meminta ampun. Dan bila Allah menginginkan keburukan hamba-Nya yang berdosa, maka Dia akan memberinya (tambahan) kenikmatan guna melalaikannya dari meminta ampun.”

Allah berfirman, “Orang-orang kafir itu (mencoba) membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan sesungguhnya Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS 3: 54).

Salah satu bentuk tipuan Allah pada pendosa adalah menimbulkan ujub dalam dirinya, sehingga dia membesar-besarkan perbuatan baiknya, merasa puas dan senang dengannya, tersipu (seperti orang yang sedang dirayu) dan terkesima oleh dirinya sendiri dan merasa dirinya terbebas dari seluruh kekurangan dalam perbuatan tersebut, sambil merasa bahwa dia sendirilah yang telah melakukan kebaikan itu tanpa bantuan Allah. “Dan bagaimana dengan orang yang diperhiaskan perbuatan buruknya sehingga ia melihatnya sebagai kebaikan?” (QS 35: 8).

Sebelum membangkang kepada Allah, iblis adalah makhluk yang rajin beribadah dan pandai. Tapi lantaran lupa pada pemberian Allah, timbul rasa ujub di dalam dirinya. Dia merasa bahwa api lebih baik daripada tanah. Padahal, tak ada satu pun bukti yang membenarkan klaim iblis bahwa api lebih baik daripada tanah. Di sinilah letak tipuan Allah.

Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah berkata kepada Nabi Daud. Hai Daud, sampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa dan peringatkanlah para pelaku kesalehan. Daud berkata, Bagaimana aku menyampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa dan memperingatkan para pelaku kesalehan?

Allah menjawab, Sampaikanlah kabar gembira kepada para pelaku dosa bahwa Aku menerima tobat mereka dan peringatkanlah orang-orang yang saleh agar mereka tidak memiliki sifat ujub atas perbuatan-perbuatan mereka karena tidak ada seorang hamba pun yang akan selamat jika Aku menilai perbuatan-perbuatan mereka.” Semua manusia pasti patut mendapat hukuman, karenasesuai prinsip keadilan yang menuntut imbalan setimpalseluruh ibadah manusia, jin dan malaikat tidak mungkin menunaikan satu kali saja syukur atas satu rahmat Allah sekalipun.

Ya Allah! Kami berlindung kepada-Mu dari tipu daya setan dan muslihat hawa nafsu yang selalu mengajak pada keburukan. Lindungilah kami dari tipu muslihat keduanya demi kemuliaan Rasul kekasih-Mu serta orang-orang suci dari keluarga dan sahabat beliau.[IslamIndonesia]

 

INILAH MOZAIK

Kisah Umayyah bin Khalaf yang Tergila-gila Harta

Harta adalah segala-galanya bagi  Umayyah bin Khalaf. Sejak kecil, dia telah dikenalkan bahwa uang adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan oleh apa pun. Ayahnya, Wahab bin Hudzafah, adalah seorang pedagang Quraisy yang paling kaya dan paling beruntung dalam perdagangan di Jazirah Arabia.

Dia adalah Umayyah bin Khalaf bin Safwan, seorang pemimpin Quraisy dan ketua Bani Jumah yang terkemuka. Umayyah belajar banyak dari sang ayah. Tak heran bila kemudian dia besar menjadi pedagang yang kikir dan senang menumpuk kekayaan.

Dia pun dapat menguasai harta kekayaan yang banyak hingga merasa kuat dan berpandangan bahwa harta adalah nilai tertinggi dalam kehi dupan. Sementara, nilai manusia dan kebenaran dipandang rendah.

Salah satu bisnisnya adalah membodohi rombongan penyembah berhala di Ka’bah. Pada masa itu, ribuan orang dari seluruh Jazirah Arab rela menyeberangi gurun pasir untuk datang secara berkala ke Makkah guna menemui berhala dan arca.

Mereka akan datang sambil membawa buah-buahan dan barang berharga guna menyenangkan para juru kunci Ka’bah, salah satunya Umayyah. Umayyah merasakan betapa tingginya nilai berhala tersebut.

Dari berhala itulah rezeki datang kepadanya. Dia dapat meraih harta kekayaan tanpa kesulitan dan keletihan. Bagi Umayyah, berhala adalah gudang harta yang tidak pernah surut, sumber rezeki yang tidak pernah habis, dan sumber kekayaan yang harus dipelihara walaupun harus mengorbankan raga dan nyawa.

 

Hal itu terus berlangsung hingga Nabi Muhammad datang membawa ajaran yang menyapu se gala bentuk politeisme dan khu ra fat di Tanah Arab. Rasulullah mengajak penduduk bumi untuk menghamba kepada ketauhidan yang murni dan meminta mereka agar menyingkirkan berhala dan arca sebab benda-benda mati tersebut tidak dapat mendengar, memahami, dan memberi mamfaat.

Tentu saja ajaran Rasulullah itu menjadi ancaman bagi penghidupan Umayyah, mata air kekayaannya. Pada saat itulah Umayyah dan para juru kunci Ka’bah lainnya seperti merasakan bahwa bumi mulai bergoncang di bawah kaki mereka. Bahwa, kekuasaannya mendekati kepunahan serta menuju kehancuran.

Maka, dengan sekuat tenaga mereka menentang dakwah baru itu dengan segala cara, termasuk dengan menuduh isi dakwahnya sebagai sihir, perbuatan gila, dan kadang-kadang menuduhnya sebagai praktik perdukunan. Anak- anak Umayyah pun mengikuti jejak ayahnya.

Umayyah kemudian pergi menemui Nabi Muhammad untuk membuat sebuah kesepakatan. Muhammad marilah menuju ke sepakatan, kami akan menyem bah apa yang kamu sembah dan kamu juga menyembah apa yang kami sembah sehingga kita sama-sama dalam satu perkara. Jika yang kamu sembah itu lebih baik daripada yang kami sembah, berarti kami telah meraih bagian kami dari kebaikan itu. Jika apa yang kami sembah itu lebih baik daripada yang kamu sembah, berarti kami telah meraih bagian dari kebaikan itu, ujarnya.

Negosiasi tersebut gagal karena Rasulullah tak sedikit pun terpengaruh oleh apa yang dika takannya. Seiring gagalnya upaya tersebut, Umayyah pun memutar otak dan mencari jalan lain untuk menghentikan dakwah yang dijalankan Rasulullah.

Mencegat Rasulullah Dia dan orang Quraisy lainnya akan tidur di seputar rumah Rasulullah agar beliau tidak bisa keluar rumah dan menyebarkan ajarannya. Namun, muslihat dan tipu dayanya gagal. Rasulullah tetap bisa keluar rumah dengan mudah. Dikisahkan, Rasulullah mengambil segenggam pasir lalu menebarkannya kepada mereka sambil berdoa.

Rasulullah pun berlalu sedang mereka terlelap tidur. Akhirnya, salah seorang di antara penduduk Makkah memeriksa me reka. Siapa yang kalian tunggu? ujar nya. Muhammad, jawab mereka. Orang itu kemudian berkata, Merugilah dan gagallah kalian! Demi Allah, dia telah pergi dengan melewati kalian.

“Dia menaburkan pasir kepada kalian,” ujarnya dengan kesal.

Tak henti di situ saja, Umayyah senantiasa berada di balik kekacauan yang ditebarkan oleh kaum Quraisy untuk menimbulkan keraguan terhadap Rasulullah dan risalahnya. Sejumlah propaganda diembuskannya. Dia pernah berkata, Apakah wahyu itu diturukan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang pendusta lagi sombong.

Lain waktu Umayyah beretorika, Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat dan kalau kami turunkan seorang malaikat tentu selesailah semua urusan itu kemudian mereka tidak diberikan sedikit pun.

Rasulullah bersabar dan memikul cacian mereka serta mengambil pelajaran dari para rasul terdahulu.

Beliau percaya betul bahwa orang- orang yang memperolok tersebut akan menerima balasannya pada waktu yang dekat dari Allah. Dan, sungguh telah diperolok-olokan beberapa orang rasul sebelum kamu.

Maka, turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok- olokkan, demikian bunyi ayat ke- 41 dari surah al-Anbiyaa.

Kepongahan Umayyah mencapai puncaknya pada beberapa hari sebelum Perang Badar. Saat itu, seorang temannya, Sa’ad bin Muadz, singgah di rumah Umayyah dalam perjalananya umrah dari Madinah ke Makkah. Menjelang tengah hari, Sa’ad mengatakan kepada Umayyah untuk melakukan tawaf. Namun, Umayyah menghalanginya. Dia tidak membiarkan Sa’ad untuk melaksanakan ibadahnya dan bersikap tidak sopan pada pemimpin Quraisy ketika itu, Abu Jahal.

Sa’ad terbakar amarah. Biarkan kami, wahai Umayyah! Sesung guhnya aku telah mendengar Rasulullah mengatakan bahwa mereka (umat Islam–Red) akan membunuhmu! Umayyah membalas dengan berkata, Di Kota Makkah? Sa’ad berkata, Aku tidak tahu. Maka, Umayyah sangat ketakutan karena hal tersebut. Dia bahkan tidak berani untuk keluar dari Kota Makkah.

Namun, ketika akan terjadi Perang Badar, Abu Jahal memaksanya untuk ikut berperang. Umayyah tidak punya pilihan selain ikut berperang. Dalam peperangan itu lah, Umayyah terbunuh. Kisah Umayyah yang tergila-gila harta hingga berupaya untuk menghancurkan Islam ini direkam Allah dalam surah al-Humazah ayat 1-9.

Kecelakaanlah bagi setiap pe ngumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan berulang- ulang menghitung kekayaannya. Ia menyangka bahawa hartanya itu dapat mengekalkannya (dalam dunia ini)! Tidak! Sesungguhnya, dia akan dicampakkan ke dalam al-Hutamah. Dan, apakah eng kau mengetahui apakah itu al-Hu tamah?(al-Hutamah) ialah api yang dinyalakan. Yang naik menjulang ke hati. Sesungguhnya, api neraka itu ditutup rapat atas mereka; (mereka terikat di situ) pada batang-batang palang yang melintang panjang.

 

Menjual Bilal Terlalu ‘Murah’

Umayyah bin Khalaf tidak hanya mengganggu upaya dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saja, dia juga menghalang-halangi mereka yang terbuka hatinya untuk menerima kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah.

Umayyah pernah menyiksa seorang budak yang memeluk Islam, yaitu Bilal bin Rabah. Umayyah pernah membaringkan Bilal di atas padang pasir yang panas membakar ketika matahari sedang terik sambil menindih batu besar di atas dadanya.

Sehingga, Bilal tidak dapat menggerakan badannya sedikit pun.

Pada malam harinya, Bilal diikat dengan rantai, kemudian dicambuk terus menerus hingga badannya luka-luka. Pada siang harinya, dia dibaringkan kembali di atas padang pasir yang panas.

“Apakah kamu bersedia mati dalam keadaan seperti ini? Ataukah kamu mau terus hidup, dengan syarat kamu tinggalkan agama Islam? ujar Umayyah. Walaupun Bilal disiksa seperti itu, ia berkata, Ahad!!! Ahad!!! sebagai wujud pengakuan atas keesaan Tuhan.

Umayyah memaksa Bilal agar memuji Latta dan Uzza yang patungnya memenuhi pelataran Ka’bah. Tapi, Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya dan Bilal menjawab, Lidahku tidak bisa mengatakannya. Jawaban ini membuat siksaan yang diterimanya semakin hebat dan keras. Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, Umayyah akan mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang jalanan Makkah.

Penderitaan Bilal berakhir ketika Abu Bakar mengajukan penawaran kepada Umayyah untuk membeli Bilal. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqyah emas, dengan nilai sekarang sekitar Rp 150 juta.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqyah pun maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya. Abu Bakar membalas, Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqyah pun aku tidak akan ragu membelinya.

Ketika Allah SWT Berkuasa Atas Hidayah

Lelaki itu tumbuh di tengah keluarga terhormat. Ia dikaruniai bakat kepenyairan yang membuatnya terkenal di seluruh kabilah. Pada musim-musim Pasar ‘Ukazh, ketika para penyair Arab berdatangan dari segala penjuru, lelaki bernama ath-Thufail Ibn ‘Amr ad-Dausi itu berada di posisi terdepan.

Thufail adalah aset suku Quraisy. Suatu bencana bagi Quraisy bila Thufail menggunakan bakat kepenyairannya untuk membela Rasulullah SAW. Karena itu, para pemuka Quraisy bergegas menyambut tatkala mendengar kabar kedatangan Thufail ke Makkah. Mereka khawatir Thufail bertemu Rasulullah dan masuk Islam. Mereka mencegat lelaki itu. Ia disuguhi jamuan yang mewah dan penginapan.

“Muhammad itu memiliki kata-kata laksana sihir yang bisa memisahkan seorang ayah dari anaknya, saudara dari saudaranya, atau suami dari istrinya. Kami mengkhawatirkan dirimu dan kaummu darinya. Karena itu, janganlah kau berbicara dengannya dan janganlah mendengarkan kata-katanya!” pesan para pemuka Quraisy, seperti dikisahkan Khalid Muhammad Khalid dalam Biografi 60 Sahabat Rasulullah.

Begitu gencar kaum Quraisy memengaruhinya sampai-sampai Thufail terpengaruh. “Demi Allah, mereka terus membujuk diriku hingga aku benar-benar memutuskan untuk tidak mendengar sesuatu pun dari Rasulullah dan tidak pernah bertemu dengannya. Ketika pergi ke Ka’bah, aku tutup telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar apa pun yang beliau katakan.”

Keesokan harinya, Thufail pergi ke Ka’bah dengan telinga tersumpal kapas. Setibanya di sana, ia melihat Rasulullah tengah menunaikan shalat. Lelaki itu tertarik dengan tata cara shalat Rasulullah yang amat berbeda dengan kaumnya. Perlahan-lahan, ia mulai mendekat. Allah tidak menghendaki selain memperdengarkan sedikit dari yang dibaca Rasul kepadanya. Thufail mendengar kalam yang indah.

Penyair itu membatin, “Aduhai, celakalah ibuku. Demi Allah, aku adalah seorang penyair dan laki-laki yang cerdas. Aku bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Jadi, apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang dibaca oleh Muhammad. Jika yang dibawanya adalah baik, aku bisa menerimanya dan jika yang dibawa itu buruk, aku tinggalkan.”

Lelaki itu pun menanti hingga Rasulullah kembali ke rumah. Thufail mengikutinya. Ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kaumku telah menceritakan ini dan itu tentang dirimu. Demi Allah, mereka tidak pernah berhenti untuk menakut-nakuti diriku terhadapmu sehingga aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar tidak bisa mendengar apa yang engkau katakan.”

“Tetapi, Allah menghendaki agar aku mendengar. Aku pun mendengar kalam yang indah. Karena itu, tunjukkanlah apa yang kau bawa!” lanjut Thufail meminta.

Rasulullah pun membacakan beberapa ayat dari Alquran. Demi Allah, kata Thufail, ia tidak pernah mendengar kalam yang lebih indah daripada Alquran dan lebih adil daripada Rasulullah. Lelaki itu kemudian menyatakan kalimat syahadat.

Tidakkah kita lihat ada kesamaan antara lelaki ini dan Umar bin Khatab? Mereka orang-orang terhormat dengan citarasa sastra tinggi, tumbuh di tengah tradisi syair yang melegenda, namun tunduk mendengar ayat-ayat-Nya. Fitrah yang suci membimbing mereka mengakui kebenaran kalam Ilahi.

Lewat surah az-Zumar ayat 18, Allah telah menyanjung mereka “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” Thufail adalah perwujudan fitrah yang suci. Semua orang berusaha menjauhkannya dari kebenaran, tapi kehendak-Nya tak dapat dikekang. Thufail pun bersikap adil dengan tidak membabi buta mengikuti nasihat kaum Quraisy. Dia pergunakan akal untuk memilah yang baik dan yang buruk.

 

REPUBLIKA

Ini 5 Ciri Orang yang Mendapatkan Hidayah

Seorang Muslim yang menegakkan shalat lima waktu, sesungguhnya ia meminta hidayah 17 kali dalam sehari. “Setiap kali membaca Surat Al-Fatihah, pada ayat keenam ia membaca “Ihdinash shirathal mustaqim”, yang artinya “tunjukilah (berilah hidayah) kepada kami jalan yang lurus,” kata Habib Abdurrahman Al-Habsy saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani Bogor, Jawa Barat, Jumat (22/9).

Abdurrahman menambahkan, ada dua bentuk hidayah. Pertama, hidayah bayan wal irsyad (penjelasan dan petunjuk). “Hidayah ini cenderung dimiliki oleh para nabi dan rasul. Hidayah turun kepada mereka dan mereka punya kewajiban menyampaikan dan menjelaskan hal tersebut kepada umat yang ada bersama mereka pada saat itu,” ujarnya.

Kedua, hidayah taufiq. Ini adalah hidayah yang Allah turunkan kepada hamba-hamba Allah, siapa saja, dengan syarat punya kemauan dan kesungguhan untuk mendapatkan hidayah Allah. “Hidayah ini akan sampai kepada seseorang manakala dia mau menjemputnya. Hanya hamba-hamba Allah yang punya persiapan yang baik, punya keinginan yang baik dalam hidupnya, dan mau berikhtiar sungguh-sungguh untuk menjemputnya, yang akan mendapatkan hidayah taufiq,” tuturnya.

Lalu, apa kendaraan untuk menjemput hidayah taufiq tersebut? Menurut Abdurrahman, ada dua kendaraannya, yakni Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. “Hendaklah kita selalu mengakrabi Alquran, baik dengan cara membacanya, memahaminya, mendalaminya dan mengamalkannya. Selain itu, pelajari Sunnah Rasulullah SAW dengan sebaik mungkin, baik perkataan, perbuatan maupun penetapan beliau,” paparnya.

Abdurrahman lalu mengungkapkan lima cirri orang yang mendapat hidayah Allah. Pertama, ia merasakan mudah atau tidak berat melaksanakan kewajiban (ketaatan) kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Termasuk di dalamnya tidak berat melaksanakan Tahajud, shalat fardhu berjamaah dan ketaatan lainnya kepada Allah,” ujarnya.

Kedua, kalau mendengar nama Allah disebut cintanya kepada Allah bertambah, hatinya bergetar.   “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hati mereka. dan apabila dibacakan ayat-ayatnya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2)

Ketiga, senantiasa istiqamah/ konsisten. Artinya berpegang teguh pada nilai-nilai keimanan yang dimiliki. “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Ali ‘Imran: 101)

Keempat, rajin dan sungguh-sungguhn menghadiri majelis-majelis ilmu, guna menambah perbendaharaan keilmuan dan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (iImu) beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)

Kelima, hidupnya bermahkotakan rasa malu. Baik malu kepada Allah maupun makhluk Allah.

Abdurrahman mengatakan, banyak sekali hadits Rasulullah yang menegaskan pentingnya sifat malu (haya’).  Salah satu di antaranya, “Malu itu sebagian dari iman.” Hadits lainnya, “Jika kamu tidak punya rasa malu, silakan lakukan sesuka hatimu.” “Malu dan iman itu ibarat saudara kembar. Orang yang beriman pasti punya rasa malu.” “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan.”

 

REPUBLIKA

Dari Arab, Melayu, Israel: Apa itu istilah Jawa dan Jawi?

Silap bahasa kadang membuat berbeda bahkan berbeda arti dan pengertian. Bisa saja dalam sebua kelompok masyarakat menyebut istilah itu dengan arti yang sama, tapi mungkin saja di kelompok atau suku masyarakat lain diartikan berbeda. Beda kata malah berbeda arti dan kadang tidak berhubungan sama sekali.

Guru Besar Filsafat Universutas Paramadina dan sekaligus penyair sufi, Prof Abdul Hadu WM, mencontohkan kondisi itu. Di antaranya adalah soal isitilah dari penggunaan kata ‘Jawa’ dan ‘Jawi’. Pada orang Jawa memang kedua kata sama saja. Jawi adalah bahasa ’tinggi’ (kromo alus) untuk menyebutkan kata Jawa.

“Di kalangan orang Melayu tak dikenal kata-kata piyantun Jawi atau tyang Jawi, yang artinya orang Jawa. Di dalam bahasa Melayu orang Jawa disebut orang Jawa. Tetapi kata-kata ‘Jawi’ juga digunakan untuk meyebut aksara yang digunakan orang Melayu dari abad ke-14 s/d 20 M untuk menulis teks-teks keagamaan, keilmuan dan sastra,’’ kata Abdul Hadi, kepada Republika.co.id (1/6).

Yang disebut, lanjutnya, aksara Jawi jelas bukan huruf Jawa (abjad Ha Na Ca Ra Ka dst), melainkan aksara Arab Melayu. Di Jawa dan Madura aksara ini disebut aksrara Arab Pegon atau Arab Gundul.

‘’Lalu kenapa aksara Arab Melayu disebut aksara Jawi? Karena penyusun aksara ini ialah Syekh Jawini. Syekh ini adalah guru bahasa yang hidup pada akhir abad ke-13 di Samudra Pasai, Aceh. Dialah yang mempelopori penulisan karangan-karangan berbahasa Melayu dengan menggunakan aksara yang disebut huruf Jawi,’’ ujarnya. (Hal yang sama juga kini terjadi di Pakistan di mana huruf Arab dipakai untuk menulis kata dalam bahasa Urdu).

Tetapi di negeri Arab, kata Abdul Hadi, sebutan Jawi dan Jawa bertumpang tindah. Semua orang Nusantara disebut Jawi. Bahkan istilah ini kerap dipakai bahan candaan atau guyonan ringan.

“Mendiang Gus Dur dahulu pernah berkelakar. Katanya untuk membedakan orang Jawi yang berasal dari Jawa dengan mereka yang datang dari Sumatra dan Malaysia ialah dengan menyebut Jawi al-Mrikiuntuk orang Jawa dan Jawi al-Mriko untuk yang datang dari Sumatra,’’ ungkap Abdul Hadi seraya menyatakan bila orang Arab umumnya menyebut orang Asia Tenggara sebagai Jawi.

Menurut Abdul Hadi, memang kata Jawi berasal dari nama penyusun abjad Arab Melayu. Sedangkan nama Jawa itu berasal dari kata ‘Juwawut’. Di pulau Jawa kata juwawut artinya jelai. Orang India mengartikannya padi.

“Namun, adanya sebutan  kalimat Jawi yang dikatakan orang Arab untuk menyebut orang asal Asia Tenggara itu, juga menunjukkan hebatnya hubungan Melayu dan Islam.” kata Abdul Hadi lagi.

Selain itu dalam dunia masa kini, istilah Jawa sebagai juga mulai dikenal ada persamaan yang lain. Di dalam dunia pemograman komputer kini ada yang memakai memakai nama ‘Java’ (Jawa).

Mengutip Wikipedia, Jaffa atau Yafo (bahasa IbraniיפוYafo; Arabيَافَا‎, juga disebut japho atau joppa), adalah bagian selatan dan tertua dari Tel Aviv-Yafo, sebuah kota pelabuhan kuno di Israel.

Ibu kota Israel, Tel Aviv,itu juga mendapat penyebutan dengan nama yang ketika dilafalkan seperti seperti ‘Jawa’, yakni Jaffa’. Apalagi memang kota ini juga memiliki komunitas Arab (Palestina) yang cukup besar. Komunitas Arab terutama berada di wilayah  Yafo atau Jaffa.

 

REPUBLIKA

Bukan Surga Teroris

Kebiadaban aksi terorisme kembali menelan korban. Aksi dengan motif bom bunuh diri ini dilakukan di tengah kedamaian warga yang hendak beribadah di gereja. Mereka melakukan tindakannya dengan iming-iming surga. Para pelaku berharap tiket itu didapat tanpa dihisab ketika tewas bersama bom yang dipeluknya.

Dr Musa bin Fathullah Harun dalam bukunya, Perjalanan Rabbani Merentasi Alam Dunia, Barzakh dan Akhirat, menjelasan, Allah menjadikan surga sebagai ganjaran bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan segala apa yang disampaikan Allah SWT lewat rasul-Nya.Tiket surga hanya bisa diperoleh bagi mereka yang taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya. Mereka pun akan kekal selama-lamanya di dalam surga.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula), sehingga apabila mereka sampai ke surga itu yang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya. Kesejahteraan dilimpahkan atasmu, berbahagia lah kamu, maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. (QS az- Zumar: 83).

Surga memang digambarkan sebuah tempat yang penuh kenikmatan. Dalam Buku Ensiklopedia Islam Al Kamil, Syekh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at- Tuwaijiri menjelaskan, penghuni surga dihiasi dengan gelang emas. Mereka mengenakan pakaian hijau berbahan sutra halus dan sutra tebal. Mereka akan duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah.

Para penghuni surga juga dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda. Para pelayan itu akan membawa gelas, cerek, dan minuman dari air yang mengalir. Tak hanya itu, mereka juga ditemani bidadari- bidadari berkulit putih yang dipingit di dalam rumah. Mereka pun bisa menikmati buah-buahan yang bisa dipilih dan daging burung yang mereka inginkan.

Syuhada menjadi satu dari golongan yang berhak mengecap pintu surga. Salah satu kriteria syuhada adalah mati di jalan Allah. Status ini lantas menjadi kerinduan banyak Muslim di dunia. Mereka disebut tetap hidup di sisi Tuhannya. Mereka pun bergembira karena mendapat karuna Allah. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati ter- hadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Ali Imran: 169-170).

Orang yang mati syahid tidak wajib untuk dimandikan. Mereka dikubur bersama dengan pakaian yang melekat padanya.Meski demikian, Imam Fakhrur-Razi mengatakan, syuhada tidak boleh ditafsirkan sebagai orang-orang yang hanya mati dibunuh orang kafir. Penyebabnya yakni ayat ini menunjukkan bahwa martabat syuhada merupakan martabat tinggi dalam agama.Sementara itu, matinya seseorang karena dibunuh oleh orang kafir tidak selalu mendapat tambahan kemuliaan. Tak hanya itu, Rasulullah SAW juga menyebut mati syahid kepada orang yang meninggal dunia karena beberapa kondisi.

Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang mati karena sakit perut adalah syahid dan orang yang mati lemas dalam air adalah syahid. Dari sabda Nabi SAW itu, kita memahami bahwa syahadah tak selalu kematian karena dibunuh. Dr Musa berpendapat, syahid merupakan orang yang menjadi saksi atas kebenaran agama Allah baik dengan hujjah atau keterangan ataupun dengan pedang atau senjata.

Karena itu, Dr Musa menyebut para syuhada adalah orang-orang yang memperjuangkan keadilan.Mereka disebut dalam QS Ali Imran ayat 18: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Menegakkan Keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Lantas, bagaimana dengan status para pelaku teror? Apakah mereka termasuk syuhada? Apakah mereka akan mendapat surga yang diidamkan atau tidak? Pertanyaan penguji itu bisa dijawab dengan beberapa petunjuk dari Alquran dan sunah.

Ketika dalam kondisi perang, Nabi SAW meletakkan etika bagi kaum Muslimin dalam menghadapi musuh-musuhnya. Muslim dilarang untuk membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua.Muslim juga dilarang menghancurkan bangunan dan menebang pohon. Ajaran yang tertuang dalam Alquran dan sunah ini ternyata dilanggar oleh para teroris. Mereka membunuh anak-anak dan hendak menghancurkan bangunan (rumah ibadah).

Allah SWT dalam Alquran pun sudah menetapkan larangan untuk menghancurkan rumah ibadah. …Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa lagi Mahaperkasa.(QS al-Haj: 40).

Tak hanya itu, mayoritas ulama menolak bom bunuh diri. Mereka berdalil: Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri karena sesungguhnya Allah sangat penyayang kepada kalian. (QS an-Nisaa: 29).Dan, hadis Rasulullah SAW: Siapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahanam, dia kekal di dalamnya. (HR Bukhari Muslim).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun berpendapat, bom bunuh diri haram untuk dilakukan. Di dalam fatwa tentang terorisme Nomor 3 Tahun 2004, MUI berpendapat, bom bunuh diri hukumnya haram karena merupakan salah satu bentuk tindakan keputusasaan (al-ya’su) dan mencelakakan diri sendiri (ihlak an-nafs). Baik dilakukan di daerah damai (al-shulh/dar al- salam/dar al dakwah) maupun di daerah perang (dar al-harb). Dengan demikian, patutkah mereka mendapatkan surga dengan cara yang diharamkan? Wallahu a’lam.

Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri karena sesungguhnya Allah sangat penyayang kepada kalian.(QS an-Nisaa: 29)

 

REPUBLIKA

Mendekati Surga Dengan Wudhu

“Wahai yang letih seberapa kau beristirahat, engkau melelahkan badan demi kerugian. Tengoklah ruh itu dan sempurnakan manfaatnya karena engkau menjadi manusia dengan ruh bukan dengan badan Wahai yang bersungguh-sungguh membangun rumah yang runtuh. Demi Allah, apakah rumah yang runtuh dapat dibangun.”

Begitulah kiasan seseorang yang hendak membangun istana di dunia. Mereka bersungguh-sungguh membangun rumah yang pasti akan runtuh. Padahal, ada istana lebih megah dan abadi di surga sana. Betapa bahagia para sahabat saat Rasu lullah menceritakan surga, kenik matan dan wanginya.

Pada satu waktu, Rasulullah SAW ke luar menuju mereka dan menceritakan kenikmatan surga. Nabi SAW bersabda ke pada Bilal bin Rabah. “Ceritakanlah kepadaku perbuatan terbaik apa yang kau lakukan di Islam karena aku mendengar suara terompahmu di surga,” Bilal menjawab, “aku tidak melakukan apa-apa hanya saja aku tidak pernah berwudhu kecuali sesudahnya aku melaksanakan shalat (sunah berwudhu).” Begitu mulai para mukminin yang menjaga wudhunya. Sampai-sampai, Allah SWT mengangkat derajat Bilal bin Rabah bersama terompahnya.

Wudhu menjadi kewajiban seseorang yang hendak melaksanakan shalat. Dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan, dengan perinci bagaimana rukun wudhu itu. “Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sempai dengan kedua mata kaki,” (QS al-Maidah: 6). Shaleh al Fauzan dalam Fiqih Sehari-hari menjelaskan, kunci shalat adalah bersuci karena hadas itu menghalangi shalat. Bersuci itu seperti kunci yang diletakkan kepada orang yang berhadas. Jika ia berwudhu, otomatis kunci itu pun terbuka.

Imam Ahmad, dalam riwayatnya, mengungkapkan, Uqbah bin Amir pernah berkata, “Dahulu kami bergilir menggembalakan unta hingga tibalah giliranku maka aku pun menggiringnya. Tiba-tiba, aku menjumpai Rasulullah sedang bersabda di hadapan orang ramai. Aku pun mendengar sabdanya yang berbunyi, “Barang siapa di antara kalian yang berwudhu dengan sempurna kemudian melaksanakan shalat dua rakaat dengan khusyuk, niscaya dia akan masuk surga dan akan diampuni. ‘Aku berkata, alangkah bagusnya itu.

‘Tiba-tiba berkata seseorang di dekatku. Wahai Uqbah, ada yang lebih bagus darinya.’ Aku menoleh, ternyata orang itu adalah Umar ibnul Khaththab. Kukatakan kepadanya, apakah itu wahai Abu Hafshah? Ia menjawab, sesungguhnya Rasulullah bersabda sebelum kedatanganmu. Barang siapa di antara kalian yang ber wudhu dengan sempurna kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu alla ilaa ha illallah, wahdahuu laa syarika lahu, wa anna Muhammadan Abduhu wa rasuluhu,’ niscaya akan dibukakan untuknya kedelapan pintu surga, dia masuk dari mana dia suka.’

Syeikh Aidh al Qarni mengungkapkan, selamat atas orang-orang yang berwudhu. Rasulullah mengetahui wajah mereka dari bekas wudhu yang indah dipandang pada hari berkumpul nanti. Abu Hurairah seperti diriwayatkan Imam Muslim, menjelaskan, Rasulullah mendatangi kuburan dan bersabda, ‘Selamat atas kalian tempat kaum mukmin dan kami insyaAllah menyertai kalian.

“Aku senang kita telah melihat saudara-saudara kita. ‘Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah kami juga saudara-saudaramu? Beliau menjawab, ‘Kalian sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang belum lahir.’ Mereka berkata, ‘wahai Rasulullah, bagaimana engkau mengetahui umatmu yang belum lahir nanti? Beliau menjawab, ‘Apa pendapatmu kalau seseorang memiliki kuda dengan warna putih di tubuhnya di antara sekumpulan kuda hitam, legam. Tidakkah dia mengetahui kudanya?

Mereka berkata, ‘Iya benar’. Beliau bersabda, Mereka akan datang dengan warna putih di tubuhnya akibat dari bekas wudhu dan aku menuntun mereka ke kolam. Begitulah Rasulullah mengetahui umatnya dari kaum-kaum lainnya, seperti kaum Nabi Musa, Isa, Nuh, dan Ibrahim.

Syekh Aidh al Qarni mengungkapkan, dalam Sentuhan Spiritual Aidh al Qarni, Nabi SAW melihat wajah kaumnya yang bersinar bagaikan bulan karena wudhu. Begitu pula anggota badannya. Dengan tangannya yang mulia, Rasulullah SAW pun memberi mereka minum hingga tidak pernah haus selama-lamanya. Perlakuan ini hanya untuk orang-orang mukmin yang berwudhu dan menunaikan shalat.

Bagi orang-orang munafik dan sesat, orang-orang yang tidak berwudhu, tidak ruku dan sujud, Rasulullah akan bersabda seperti dalam sebuah hadis. “Mereka niscaya akan terusir dari kolamku, seperti mengusir unta liar. Aku memanggil mereka, ‘kemarilah!’ Maka dikatakan, ‘mereka tidak berubah setelahmu.’ Aku pun bersabda, ‘menjauh-menjauh’.

Kisah lainnya menyebutkan, Allah melihat kepada hamba mukminnya ketika terbangun dan melakukan shalat Subuh. Dengan takutnya, ia mengambil air dingin dan berwudhu pada cuaca yang amat dingin. Dia pun shalat. Allah kemudian berkata kepada malaikat-Nya. “Wahai malaikat-Ku, lihatlah kepada hamba mukmin ini. Dia meninggalkan kasur dan selimutnya yang hangat bangkit menuju air yang dingin untuk berwudhu. Dia bangkit memohon kepada-Ku. Kalian saksi bahwa Aku telah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke surga.”

Kemuliaan orang-orang yang bersuci dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu hadis dari Abu Malik al-Asy’ari. ‘Rasulullah bersabda: Bersuci itu separuh dari iman. Alhamdulillah memenuhi timbangan. Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya. Sedekah itu petunjuk. Kesa baran itu lentera. Dan, Alquran itu bukti untukmu atau atasmu. Setiap orang pergi menjual dirinya, ada yang melepaskannya ada juga yang mengurungnya.” (HR Muslim).

 

REPUBLIKA

Umat yang Terbaik

Siapa sebetulnya umat terbaik itu? Secara benderang, istilah umat terbaik disebut dalam Alquran, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS 3: 110).

Para mufasir sependapat bahwa yang dimaksud “kamu” di awal surah tersebut adalah umat Islam. Lalu, pada lanjutan ayat itu dijelaskan mengapa dikategorikan sebagai umat terbaik karena mereka memikul tanggung jawab menyuruh kepada kebaikan sekaligus mencegah atas yang buruk. Jadi, jika kedua tanggung jawab itu ditinggalkan, lepas juga sebutan sebagai umat terbaik.

Untuk memelihara sebutan sebagai umat terbaik, umat Islam harus berusaha menyelamatkan misi menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, atau secara populer disebut dakwah. Bagaimana mewujudkannya, dibutuhkan perangkat pendukung yang secara dinamis terus berkembang.

Pada zaman Nabi, misalnya, dakwah dapat dilaksanakan sejalan dengan kenyataan kebudayaan masyarakat nya. Nabi beserta para sahabatnya da tang dari satu pintu yang satu me nuju ke pintu yang lain, lalu mengajak secara perlahan dan damai, sehingga masuk Islamlah sejumlah orang yang kemudian menjadi sahabat Nabi.

Abu Bakar as-Shiddiq dikenal sebagai orang pertama yang menyatakan diri masuk Islam setelah istri Na bi, Khadijah. Seorang saudagar, Utsman bin Affan juga masuk Islam de ngan caranya sendiri. Lalu, Umar bin Khattab yang dikenal seorang pemberani juga masuk Islam dengan cara dan gayanya yang khas dan menakjubkan.

Islam masuk ke nusantara juga dibawa dan disebarkan oleh orang-orang terbaik pada zamannya. Islam disebarkan oleh para wali, yang dalam sejarah dikenal sebagai Wali Sanga. Dengan penuh akomodasi mereka mem perkenalkan Islam dari pintu ke pintu sehingga Islam menjadi agama pribumi yang kuat melekat pada sistem kehidupan masyarakat nya. Para wali dengan tekun menyapa setiap warna kebudayaan yang dimiliki masyarakat yang dihadapinya, termasuk digunakannya tradisi wayang golek untuk menyebarkan agama. Sukses!

Namun, jangan mimpi kalau sukses gemilang yang dilalui para wali itu dapat diulang untuk menghadapi masyarakat saat ini. Zaman kini telah berubah, dan warna kebudayaannya pun ikut berubah secara signifikan. Saat ini, secara kasatmata, media baru sedang menguasai dunia.

Perkembangan internet yang menjadi salah satu ciri abad ini tanpa banyak disadari para dai telah ber impli kasi besar pada pembentukan ma syarakat baru, komunitas virtual, yakni sebuah komunitas yang secara bebas dan independen berinteraksi dalam dunia cyberspace.

Inilah masyarakat dakwah baru yang seharusnya dipertimbangkan ketika akan menjadikannya sebagai sasaran utama amar makruf nahi mungkar. Dakwah di atas mimbar kini sudah bukan zamannya lagi. Bahkan, media sosial kini sudah menjadi pilihannya. Karena itu, penting untuk mulai merancang bagaimana menjadi umat terbaik yang tetap eksis di era media.

Oleh: Asep S Muhtadi

 

REPUBLIKA

Dua Syarat Diampuninya Dosa di Bulan Ramadan

NABI kita Shallallhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadn karena imn dan mengharapkan pahala, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadts Riwayat Bukhri nomor 37, versi Fathul Bari nomor 38 dan Muslim nomor 1268, versi Syarh Muslim nomor 760)

Kalau kita cermati dari sabda Nabi Shallallhu ‘alayhi wa sallam di atas, maka betapa besar pahala yang dijanjikan oleh Raslullh shallallhu ‘alayhi wa sallam bagi yang berpuasa Ramadn

Betapa tidak bahwa dia akan mendapatkan ganjaran berupa ampunan dosa dari seluruh dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Namun kalau kita cermati lebih dalam bahwa ternyata untuk mendapatkan ampunan dosa dengan sebab puasa tidak semudah yang dibayangkan. Karena di dalamnya ada dua persyaratan yang disyaratkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallhu ‘alayhi wa sallam yaitu :

1. Imnan (dengan landasan keimnan)
2. Ihtisban

Apakah yang dimaksud dengan 2 (dua) persyaratan tersebut ?

Keimnan

Maka untuk dikatakan seseorang itu bahwa puasanya dilandasi dengan keimnan yang bersama dia berimn secara umum dalam arti bahwa orang yang berpuasa tersebut harus orang yang berimn.

Artinya secara pribadi dia memiliki keimanan yang sah.

– Jadi dia bukan orang kfir, bukan orang yang telah batal imnnya disebabkan tindakan atau perilaku, walaupun dia asalnya muslim (misalnya) tapi ternyata pada dirinya ada kekfiran sehingga tidak layak dia mendapatkan predikat orang yang berimn.

– Dia beriman tentang wajibnya puasa Ramadhn tersebut. Ini terkait dengan syarat keimnan.

Ihtisban

*Ihtisaban yaitu mengharapkan ganjaran.*

Bahwa yang dimaksudkan seseorang yang berpuasa meniatkan dengan puasanya mendapatkan pahala, yaitu pahala akhirat. Dan pahala akhirat yang terbesar adalah melihat Allh Ta’la di surga. Jadi dia mengharapkan ganjaran dimana Allh Ta’la mengganjarnya di akhirat.

Maka bukanlah puasanya hanya semata-mata dia mengikuti kebanyakan kaum muslimin berpuasa. Tidak enak kalau tidak puasa atau berpuasa dalam rangka untuk supaya sehat atau berpuasa demi mendapatkan kenikmatan duniawi tetapi dia berpuasa untuk mengharapkan pahala akhirat.

Ganjaran yang disediakan oleh Allh diakhirat. Di surga kelak. Dan apabila ternyata dia puasanya tidak memenuhi dua persyaratan diatas, maka dia tidak mendapatkan ampunan dosa. Apakah ada disana orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan ganjaran? Banyak.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallhu ‘alayhi wa sallam :

Telah menceritakan kepada kami Amr bin Raafi, telah menceritakan kepada kami Abdullaah bin Al-Mubaarak, dari Usaamah bin Zaid, dari Saiid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

“Berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam namun tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya selain menahan kantuk.” (Sunan Ibnu Maajah no. 1690] Sanadnya hasan. Syaikh Al-Albaaniy berkata “hasan shahih” dalam Shahiih Ibnu Maajah no. 1380)

“Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidaklah dia dapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (Hadts Riwayat At- Tabrani dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Syaikh Al-Albniy rahimahullh dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadts ini shahh ligoirihi yaitu shahh dilihat dari jalur lainnya)

Sebagaimana juga beliau bersabda :

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang dusta, yang buruk dan mengamalkan amalan yang buruk, maka tidak ada kepentingan terkait dengan dia meninggalkan makan dan minumnya.” (Hadts Riwayat Bukhri nomor 1770, versi Fathul Baru nomor 1903)

Artinya tidak mendapatkan sedikitpun dari makan dan minumnya, tidak mendapatkan ganjaran sama sekali. Ini menunjukan bahwa di sana ada orang-orang yang dia telah lapar dan dahaga dengan puasanya tapi yang dia dapatkan, hanya lapar dan dahaga.

Di samping dua syarat di atas tentang keimanan dan juga ihtisb dengan penjelasan yang telah disampaikan tentunya dia juga harus memenuhi syarat dan rukunnya puasa sehingga dia sah secara fiqih dan juga dia layak untuk mendapatkan ganjaran yang besar yaitu berupa ampunan Allh Ta’ala atas dosa-dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Mudah-mudahan kita bisa menyiapkan diri untuk menghadapi Ramadhn dengan keimanan yang benar dan dengan betul-betul mengharapkan pahala dari sisi Allh Ta’ala.

Demikian mudah-mudahan bermanfa’at bagi kita semuanya. Wa billhi taufiq wal hidayah. [Ustaz Abu Isa Abdullah bin Salam]

 

INILAH MOZAIK