Rumus Rasulullah untuk Menjadi Orang Sukses

Untuk menjadi orang terbaik dan tersukses di tengah-tengah manusia, sebenarnya sederhana saja. Cukup menjadi orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Itulah rumus yang diberikan Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Ahmad, Thabrani, Darulquthni, disahihkan al-Bani dalam as-Silsilah as-Shahihah).

Rumus Rasulullah SAW ini sangat sesuai dengan konsep dunia modern, baik ditinjau dari aspek ekonomi, politik, sosial, dan lainnya. Rumus ini pun sudah terbukti ampuhnya. Rumus ini telah dipraktikkan para sahabat Rasulullah SAW yang diyakini telah sukses dalam kehidupan. Para sahabat tersebut meyakini, untuk menjadi orang sukses, tipsnya sederhana. Hanya perlu menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Utsman bin Affan, misalnya. Seorang pria sukses, pebisnis kaya, dan juga khalifah ketiga bagi umat Islam. Utsman berprinsip, ia tak mau ketinggalan ketika ada peluang untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat. Ia akan tampil sebagai orang yang paling banyak dan paling besar menebar manfaat bagi orang lain.

Ketika kaum Muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka dilanda kesulitan air. Saat itu, ada sebuah sumur milik seorang Yahudi di Madinah yang airnya diperdagangkan. Utsman peka membaca kesulitan kaum Muslimin soal air ini. Ia melihat, banyak di antara kaum Muhajirin yang tak membawa harta benda ketika berhijrah ke Madinah. Mereka tak sanggup jika membeli air yang sangat mahal dari si Yahudi Madinah.

Akhirnya, Utsman pun membeli setengah sumur tersebut dari si Yahudi. Hitung-hitungannya, sehari sumur itu milik Yahudi dan sehari esoknya milik Utsman bin Affan. Utsman tak segan mengeluarkan uang sebanyak 12 ribu dirham untuk membeli sumur tersebut.

Ketika giliran hak pakai Utsman bin Affan, kaum Muslimin bergegas mengambil air sumur itu untuk keperluan dua hari secara gratis. Dengan demikian, ketika giliran hak pakai si Yahudi, tak ada lagi kaum Muslimin yang membeli air darinya. Ia merasa rugi dan akhirnya menjual saham kepemilikannya yang separuh lagi kepada Utsman seharga 8.000 dirham. Kaum Muslimin pun bisa leluasa memanfaatkan sumur tersebut kapan saja. Sehebat apa pun suatu bisnis, seperti yang dimiliki si Yahudi ini, akan gulung tikar jika berhadapan dengan pebisnis yang menebar manfaat.

Karena persoalan sumur ini saja, elektabilitas dan popularitas Utsman naik di mata kaum Muslimin. Selanjutnya, bisnis apa pun yang dilakoni Utsman disambut baik kaum Muslimin. Kekayaannya di Madinah jauh naik berlipat-lipat karena mendapat simpati dari umat Islam. Utsman tercatat sebagai salah satu sahabat paling kaya ketika itu.

Kesalahan para pebisnis saat ini, mereka mengabaikan rumus yang diberikan Rasulullah SAW. Mereka hanya memikirkan bagaimana meraih keuntungan sebesar-besarnya bagi diri dan perusahaannya. Ia menyepelekan untuk memikirkan apa manfaat yang akan diterima konsumennya.

Dalam mengembangkan bisnis, mereka hanya berpikir how?, what?, dan who? saja. Bagaimana memulai suatu bisnis? Apa jenis bisnis yang cocok? Dan, seprofesional apa orang yang akan menggerakkan bisnisnya?

Mereka lupa untuk berfikir why?. Mengapa calon konsumen harus membeli produk mereka, bukan orang lain?

Apakah konsumen merasakan suatu manfaat ketika membeli atau menggunakan produk tersebut sehingga ia memutuskan untuk membeli? Inilah yang menjadi dasar utama bagi pebisnis andal dalam memulai kariernya. Ia peka membaca keinginan konsumen. Ia ingin konsumennya bisa mendapatkan manfaat yang lebih ketika membeli atau menggunakan produknya ketimbang menggunakan produk lain.

Kebanyakan pebisnis terlalu egois memikirkan, “Bagaimana saya mendapatkan uang lebih banyak?” Mereka tak peduli apakah produk atau jasanya memiliki aspek manfaat bagi konsumennya. Lalu, mengapa konsumennya harus membeli atau menggunakan jasa dari bisnisnya?

Semakin banyak manfaat dari produk tersebut, semakin banyak pula konsumen, yaitu orang yang ingin memetik manfaat darinya. Jika semakin banyak konsumen, pasar, dan jaringan bisnisnya, maka semakin besar pulalah bisnisnya. Semakin besar bisnisnya, tentu semakin sukseslah ia dalam dunia bisnis. Awalnya sederhana, berpikir untuk memberikan manfaat yang lebih kepada orang lain.

Pebisnis Islam tidak berorientasi bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tapi bagaimana menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Hal ini sesuai dengan konsep ekonomi modern, memulai bisnis dengan menakhlukkan pasar terlebih dahulu sebelum menjual produk. Ketika konsumen sudah merasakan manfaat yang besar dari produknya, tentu ia tak akan segan terus membeli, bahkan berlangganan.

Lima Gangguan Setan Saat Salat

1. Was-Was Semasa Takbiratul Ihram

Saat mulai membaca takbiratul ihram “Allahu Akbar”, ia ragu apakah takbir yang dilakukannya itu sudah sah atau belum sah. Sehingga ada yang mengulanginya lagi dengan membaca takbir. Peristiwa itu terus menerus terulang, terkadang sampai imamnya hampir rukuk. Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk tipu daya setan yang banyak menggangu mereka adalah was-was dalam ber-suci (berwudu) dan niat atau semasa takbiratul ihram dalam salat”.

2. Tidak Khusyuk Ketika Membaca Bacaan dalam Salat

Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Utsman bin Abil Ash datang kepada Rasulullah dan mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah hadir dalam salatku dan membuat bacaanku salah”. Rasulullah menjawab, “Itulah setan yang disebut dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah Ta’ala. Aku pun melakukan hal itu dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku”. (HR. Muslim)

3. Lupa Jumlah Rakaat yang Telah Dikerjakan

Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian salat, setan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah lakukan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) semasa masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam”. (HR Bukhari dan Muslim)

4. Hadirnya Pikiran yang Mengganggu

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila dikumandangkan azan salat, setan akan berlari sambil terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara azan tersebut. Apabila muazin telah selesai azan, ia kembali lagi. Dan jika iqamah dikumandangkan ia berlari. Apabila telah selesai iqamah, dia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang yang salat seraya berkata kepadanya, ingatlah apa yang tadinya tidak kamu ingat! Sehingga orang tersebut tidak tahu berapa rakaat ia salat”. (HR Bukhari)

5. Tergesa-Gesa Untuk Menyelesaikan Salat

Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya tergesa-gesa itu datangnya dari setan, karena tergesa-gesa adalah sifat gegabah, yang menghalangi seseorang untuk hati-hati, tenang dan santun serta meletakkan sesuatu pada tempatnya.”

Tentu saja bila salat dalam keadaan tergesa-gesa, maka cara pelaksanaannya asal boleh. Asal boleh mengerjakan, asal selesai dan asal jadi. Tidak ada ketenangan atau tukmaninah. Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada orang salat dengan tergesa-gesa. Akhirnya Rasulullah memerintahkannya untuk mengulanginya lagi karena salat yang telah ia kerjakan belum sah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Apabila kamu salat, bertakbirlah (takbiratul ihram). Lalu bacalah dari Alquran yang mudah bagimu, lalu rukuklah sampai kamu benar-benar rukuk, lalu bangkitlah dari rukuk sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat salatmu”. (HR Bukhari dan Muslim) []

 

 

Saudaraku, Jaga Lisan dan Tanganmu

DARI Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya,. (HR Bukhari dan Muslim)

Seorang muslim hendaknya menegakkan hak Allah dengan benar, dan menunaikan hak sesama dengan benar pula. Dan menjadi kewajibannya adalah bergaul dengan orang lain tanpa menyakiti mereka, baik dengan lisannya maupun tangannya.

Seorang muslim adalah orang yang selamat dan menyelamatkan (aslam). Yakni selamat dari berbuat dzalim dan menyelamatkan orang lain dari perbuatan dzalimnya.

Perbuatan dzalim dapat melingkupi perbuatan, persangkaan, dan perkataan. Jangankan perbuatan, perkataan seseorang pun dapat mendatangkan mudharat atau melukai hati orang lain. Dan seorang muslim adalah orang yang orang lain dapat selamat dari lisan dan tangannya.

Di antara keburukan lisan manusia adalah tajassus (mencari-cari kesalahan oranglain), ghibah (menggunjing keburukan orang lain), berdusta dan menyebarkan kedustaan (termasuk hoax), mencela dan mengumpat orang lain.

Mencela dan mengumpat termasuk dengan menyebut orang lain dengan sebutan atau gelar buruk. Juga apa yang dilakukan sebagian orang di dunia maya dengan menuliskan atau menyebut orang lain dengan (akronim) umpatan anjg, bgsd, dan yang semisalnya.

Di antara kedzaliman yang dilakukan oleh tangan dan dapat menyebabkan tetangga atau orang lain terdzalimi adalah membuang sampah sembarangan. Membuang sampah sembarangan mengakibatkan pemandangan yang tidak rapi dan aroma yang tidak sedap. Tentu itu menyakitkan tetangga kita.

Pilar akhlak yang baik adalah menempatkan dan menggunakan lisan dan perbuatannya dengan benar. Sedangkan akhlak yang baik akan mengantarkan pelakunya kepada surga. Karena berakhlak baik adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allahu A’lam. [*]

 

INILAH MOZAIK