Kaidah-Kaidah Memahami Hakikat Istiqomah Bag. 1

Berduyun-duyun manusia menuju hijrah mereka di jalan Allah, ada yang hijrah dari kekafiran menuju cahaya islam, adapula yang hijrah dari kefasikan menuju ketaatan di atas jalan al-quran dan sunnah. Siapapun yang jujur dalam hijrahnya, pasti merasakan kebahagiaan, karena demikianlah, kebahagiaan itu hanya bisa diraih di atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya al-Musthafa.

Tugas selanjutnya bagi seorang hamba yang telah hijrah menuju iman kepada Allah adalah istiqomah.

Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah radhiallaahu ‘anhu berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah! Katakan kepadaku sebuah perkataan tentang Islam yang tidak akan aku tanyakan kepada seorangpun selain engkau.’ Beliau menjawab,

قل آمنت بالله ثم استقم!

Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah!’ (HR. Muslim).

Namun, kehidupan di dunia tidak pernah lepas dari cobaan, termasuk cobaan dalam keimanan setelah hijrah. Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha bertahan dengan istiqomah dalam ketaatan atas dasar al-quran dan sunnah.

Muncul banyak pertanyaan, bagaimana agar kita istiqomah dalam mengaruhi jalan hijrah? Bagaimana agar kita tetap istiqomah dalam ketaatan? Berikut kami sarikan pembahasan tentang pokok-pokok istiqomah dari kitab ‘Asyra Qawaaid Fil Istiqomah. Tulisan ini tidak secara langsung membahas sebab-sebab istiqomah, namun menuntun pembaca untuk memahami kaidah-kaidah penting dalam istiqomah sehingga bisa menempuh sebab-sebabnya, biidznillah.

Kaidah pertama: Istiqomah merupakan karunia dan pemberian Allah

Allah Ta’ala firmankan dalam banyak ayat-Nya maupun risalah Nabi-Nya tentang salah satu kaidah yang penting untuk memahami dan merealisasikan istiqomah, yaitu memahami bahwa istiqomah adalah karunia dan pemberian dari Allah, bukan semata-mata karena usaha. Bahkan kita harus meyakini bahwa seluruh urusan ada di tangan Allah, atas kuasa dan kehendak Allah. Allah akan memberikan petunjuk berupa istiqomah di atas jalan kebenaran kepada siapa yang Allah inginkan dan Allah pulalah yang memalingkan hamba dari jalan kebenaran kepada siapa yang Allah kehendaki. Yang harus kita yakini, kehendak Allah selalu mengandung hikmah kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Dan pasti Kami tunjukan kepada mereka jalan yang lurus.” (QS. An-Nisa: 68).

Allah juga berfirman

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nur: 46).

Ayat yang menjelaskan bahwa istiqomah di atas jalan kebenaran merupakan karunia dan pemberian Allah amatlah banyak dan disebutkan berulang-ulang dalam al-qur’an. Diantara faidahnya, agar kita hanya bergantung dan berharap istiqomah kepada Allah saja.

Dalil lain yang menunjukkan istiqomah merupakan pemberian dari Allah yaitu; Rasulullah senantiasa memperbanyak (dan mengulang-ulang) berdo’a kepada Allah agar Allah tetapkan hati beliau di atas istiqomah. Beliau selalu berdoa,

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبَيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu.”

Tidak kita ragukan lagi bagaimana keimanan Rasulullah dan amal beliau, bahkan beliau sudah Allah jaminkan surga untuk-Nya. Namun, Rasulullah senantiasa memohon istiqomah kepada Allah dalam do’a-do’a beliau. Tentu kita dengan kadar taqwa, ilmu dan amal yang amat jauh dari beliau harusnya lebih banyak meminta kepada Allah. Kita dengan segala kelemahan dalam beragama, lebih rentan terkena syubhat dan syahwat harusnya lebih besar pengharapannya kepada Allah agar Allah jaga kita dari penyimpangan dalam beragama dan istiqomah di atas jalan islam sesuai al-Quran dan sunnah.

Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Benarkah hati bisa berbolak-balik?” Rasulullah menjawab,

نعم، ما من خلق الله من بني آدم من بشر إلا أن قلبه بين أصبعين من أصابع الله فإن شاء الله عز وجل أقامه، وإن شاء أزاغه

Ya. Tidak ada satupun cipataan Allah dari kalangan bani Adam melainkan hati mereka ada di antara 2 jari jemari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah istiqomahkan ia. Dan jika Allah berkehendak, Allah akan sesatkan ia.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan al-Albani).

Allah Ta’ala berfirman,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Jika kita menyadari, ternyata kita telah meminta keistiqomahan kepada Allah minimal 17 kali dalam sehari ketika membaca surat al-Fatihah di setiap shalat fardhu. Dengan demikian, kita memahami bahwa memohon istiqomah adalah doa yang harus terus dipanjatkan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah) …” (QS. Fusshilat: 30).

Hasan al-Bashri ketika membaca ayat tersebut, beliau berdo’a

اللّهُمَّ أَنْتَ رَبَّنَا فَارْزُقْنَا الإِسْتِقَامَةَ

Ya Allah! Engkaulah Rabb kami, rezkikanlah istiqomah kepada kami.” (Tafsir Ath-Thabari, 21/465).

Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat. In syaa Allah, kaidah lain tentang istiqomah akan dibahas di artikel-artikel muslimah.or.id selanjutnya.

***

Disarikan dari kitab ‘Asyru Qawaaid Fil Istiqomah karya Syaikh Abdur Razzaq bi Abdul Muhsin Al-Badr, Daarul Fadhilah, cet. I 1431 H.

Referensi lain:

  • Terjemahan Al-Quran Al-Kariim
  • Terjemahan Matan Al-Arbain An-Nawawiyyah, Imam An-Nawawi, Pustaka Ibnu Umar

Penulis: Titi Komalasari
Murojaah: Ustadz Ratno, Lc
Artikel Muslimah.Or.Id

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11057-kaidah-kaidah-memahami-hakikat-istiqomah-bag-1.html

McKinney Eks Tentara AS: Saya Benci Islam, Tapi Kini Muslim

Richard McKinney memeluk Islam setelah belajar agama ini.

Mantan sersan laut Amerika Serikat (AS) Richard McKinney resmi masuk Islam. Padahal sebelumnya, dia mengaku sangat benci terhadap kaum Muslimin.

Dirinya bahkan menganggap orang Islam sebagai musuhnya. Kebencian McKinney yang amat kuat, membuatnya berharap semua Muslim mati.

Selama di militer, dia menyatakan tidak membenci Islam. “Hanya saja banyak hal yang saya lihat adalah alasan mengapa saya merasakan hal yang saya lakukan di kemudian hari,” ujanya seperti dilansir Ilmfeed.com pada Senin, (8/4).

Setelah masa tugasnya selesai, McKinney kembali ke AS. Dirinya menjadi pemabuk dan kebenciannya pada Muslim semakin meningkat.

“Saya tidak berpikir dapat membenci umat Islam lebih jauh. Maksudnya, saya benar-benar memiliki kebencian sejati. Saya pikir dengan meledakkan masjid, akan melakukan hal baik untuk negara saya,” jelas McKinney.

Dia mengaku sempat berencana membuat bom sendiri lalu menanamnya di Islamic Center setempat. Dirinya ingin bom tersebut bisa membunuh setidaknya 200 Muslim. Meski tahu nantinya akan dihukum mati bila melakukan aksi itu, namun pria ini tidak peduli.

Sampai akhirnya atas izin Allah SWT, hidayah mulai menyapanya. Kebenciannya yang mendalam mulai berubah saat mengomentari orang Islam di depan putrinya yang masih kecil.

McKinney menyadari, rencana pemboman tersebut kemungkinan menyebabkan putrinya terkejut. Apalagi saat melihat mata buah hatinya itu, dirinya merasa rasa cintanya dipertanyakan.

“Anak-anak tidak dilahirkan dengan prasangka, rasisme, atau kebencian, tapi ketika orang tua memahami mereka, mereka mulai berbalik dan tumbuh untuk berpikir sama seperti kita,” jelasnya.

Dia tidak ingin putrinya memiliki rasa benci mendalam sepertinya, sehingga Mckinnery berusaha menemukan cara lain yang lebih baik untuk menghadapi kebencian.

Pria yang selama di militer mengalami desensitisasi dalam membunuh itu kemudian datang ke Islamic Center setempat. Tidak berniat melakukan pemboman, dia justru mengajukan pertanyaan ke para Muslim di sana.

Selanjutnya, McKinney diberi terjamahan Alquran dalam bahasa Inggris. Setelah membacanya, dia diperbolehkan untuk bertanya lagi.

“Sejak hari pertama saya berjalan ke pintu itu, tidak ada sedikit pun yang menyakiti saya. Mereka memperlakukan saya dengan cinta bahkan sebelum saya menjadi Muslim. Mereka sangat terbuka, ramah, dan menganggap saya seperti saudara,” tuturnya.

McKinney kemudian mulai menghabiskan waktu berjam-jam di Masjid. Setelah delapan pekan, dia memutuskan bersyahadat dan masuk Islam.

Kini dia mendorong semua orang belajar tentang Islam dan Muslim. “Saya sudah melakukan banyak hal. Saya sudah meyakiti banyak orang. Saya harus hidup dengan itu, namun bila saya dapat menghentikan orang lain di jalan permusuhan, saya ingin melakukannya,” tegas McKinney.

REPUBLIKA

Memakmurkan Bumi dalam Pandangan Islam

Menjaga lingkungan dan memakmurkan bumi Allah adalah dua hal yang tak luput dari perhatian Islam. Allah swt sebagai Pencipta Alam Semesta telah mempersiapkan semua sarana agar manusia dapat meraih kehidupan yang makmur dan tentram di bumi-Nya.

Allah swt berfirman,

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا

“Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.” (QS.Hud:61)

Ketika Allah pertama kali menciptakan manusia, malaikat berkomentar bahwa dibalik penciptaan ini ada ancaman dahsyat yang akan menghancurkan kemakmuran diatas bumi. Bumi akan diisi dengan perbuatan durjana dan pertumpahan darah.

قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ

Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana.” (QS.Al-Baqarah:30)

Lawan dari memakmurkan bumi adalah berbuat durjana dan menciptakan kerusakan diatasnya. Karena itu Allah selalu mengingatkan bahwa bumi tidak akan pernah makmur selama masih ada kekejian dan kekejaman diatasnya.

Dalam beberapa ayat Allah memberikan sebuah kecaman seperti dalam firman-Nya:

وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS.Al-Baqarah:205)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS.Al-Qashash:77)

Tak hanya itu, Allah telah menentukan hukum dalam Al-Qur’an dengan nada yang sangat keras bagi siapapun yang berbuat durjana di bumi-Nya.

Allah swt berfirman,

إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.” (QS.Al-Ma’idah:33)

Bila kita melihat pada hukum-hukum Islam maka akan kita temukan banyak sekali anjuran untuk menanam pohon, menjaga lingkungan dari pencemaran dan hal-hal semacam itu. Tak hanya itu Allah juga memberikan pahala yang besar bagi mereka yang berperan dalam menjaga lingkungan.

Islam juga melarang seseorang untuk mengucilkan diri. Tidak bergaul dengan orang lain dan menghindari perkawinan yang menyebabkan putusnya kemakmuran di bumi Allah swt.

Begitulah cara Al-Qur’an merangsang manusia untuk memakmurkan bumi Allah swt. Bahkan seringkali Allah memberikan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang bekerja, beramal dan makan dari hasil yang ia usahakan.

Maka sebelum Allah memakmurkan bumi ini, Allah mendahului dengan memakmurkan hati dan jiwa manusia. Karena walaupun bumi ini makmur dan jaya, tanpa kemakmuran dan kebersihan hati maka manusia tidak akan meraih kata bahagia.

Semoga bermanfaat

KHAZANAH ALQURAN

 

Bangun Malam, Jangan Sia-siakan, Bacalah Dzikir Ini

KETIKA orang lain sedang merasakan nikmatnya tidur, terkadang kita malah terbangun di malam hari. Jelas saja, bagi yang belum terbiasa, hal ini sangat mengganggu. Mengingat, waktu tidur merupakan saat terbaik untuk mengistirahatkan tubuh. Tetapi, Anda tak perlu khawatir. Anda bisa gunakan waktu terbangun di malam hari itu menjadi tidak sia-sia. Bagaimana caranya?

Salah satu hal yang bisa Anda lakukan ketika terbangun di malam hari ialah berdzikir. Sebagaimana diungkapkan dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang berbaring di atas kasurnya dalam keadaan suci dan dia berdzikir kepada Allah hingga dia merasa kantuk, tidaklah berbalik sesaat dari waktu malam ketika dia memohon kebaikan dunia dan akhirat, melainkan Allah akan mengabulkannya,” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Anda tak perlu langsung duduk, pergi ke kamar mandi, mengambil minum, atau malah tidur lagi. Tetaplah dalam kondisi tertidur sambil membaca dzikir yang diamalkan oleh Rasulullah ﷺ. Dzikir seperti apakah itu?

Dari Ubadah bin Shamit, dari Nabi ﷺ bersabda, “Siapa terbangun di waktu malam lalu membaca, ‘Laa Ilaaha Illallaahu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku, Walahul Hamdu, Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai-in Qadiir. Alhamdulillaah Wasubhanallaahu Walaa Ilaaha Illallaahu Wallahu Akbar, Walaa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaahi,’ kemudian ia berdoa ‘Ya Allah, ampuni Aku’ atau berdoa pasti dikabulkan doanya. Jika ia berwudhu dan shalat, pasti diterima shalatnya,” (HR. Al-Bukhari).

Dzikir itulah yang diungkapkan oleh Rasulullah ﷺ ketika terbangun di malam hari. Inilah yang membuat bangunnya Anda tidak akan sia-sia.

Setelah membaca dzikir itu, Anda boleh melanjutkan kembali tidur. Tetapi, alangkah lebih baik, jika Anda langsung berwudhu, kemudian melaksanakan shalat malam. Sebab, jika Anda shalat di waktu itu, insyaAllah, Allah akan menerima shalat Anda. Dan jika Anda berdoa, maka Allah akan mengabulkannya. Wallahu ‘alam.

 

ISLAMPOS.com

Menyambut Ramadhan Dengan Puasa Sunnah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةِ رضي الله عنه قاَلَ : قَالَ رَسُوْلُ الله  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ , أَوْ يَوْمَيْنِ إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian dahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka (tidak mengapa) ia berpuasa.

HADITS INI DIRIWAYATKAN:

Imam al-Bukhâri, no. 1914; Muslim, no. 1082; Abu Daud, no. 2335; At-Tirmidzi, no. 685; An-Nasa’i 4/149, 154; Ibnu Majah, no. 1650; Al-Baghawi, no. 1718; Ibnul Jârûd 378; Al-Baihaqi, 4/207; Ahmad 2/234, 237, 408, 438; Ibnu Hibbân, no. 3586, 3592; Abdur Razzâq, no. 7315; Ibnu Abi Syaibah, 3/23; Ad-Dârimi 2/4.

PENJELASAN HADITS:

* Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mengatakan: Ramadhan tanpa menyebut kata (bulan diawalnya), tanpa ada kemakruhan. Dan inilah yang shahih, baik ketika ada qarînah(indikator) yang menunjukkannya ataupun tidak ada. Ada pendapat yang mengatakan bahwa itu dimakruhkan, kecuali bila diucapkan bergandengan dengan kata bulan. Ada hadits yang menunjukkan hal itu, akan tetapi hadits tersebut dha’if.

Ada lagi pendapat lain yang mengatakan, bila ada qarinah yang menunjukkan bulan, maka itu tidak dimakruhkan. Kalau tidak ada qarînah, maka dimakruhkan.

* Dalam hadits ini terdapat penegasan larangan untuk memulai satu atau dua hari sebelum Ramadhan dengan berpuasa sunnah yang bukan menjadi kebiasaannya. Yaitu ketika itu dilakukan dalam rangka kehati-hatian terhadap masuknya bulan Ramadhan. Konsekuensi dari hal ini adalah boleh berpuasa 3 atau 4 atau 5 hari sebelum masuk Ramadhan. Ini adalah yang menjadi konsekuensi ucapan al-Bandaniji dan Ibnu ash-Shabbagh dari kalangan Ulama Syâfi’iyyah.

Mengenai puasa sunnah menjelang Ramadhan, para Ulama syafi’iyah terbagi dalam empat  pendapat:

  1. Pendapat yang disebut di atas.
  2. Bila telah menginjak pertengahan bulan Sya’ban , diharamkan berpuasa. Pendapat inilah yang diputuskan oleh para ahli tahqiq dari kalangan Ulama syafi’iyah. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانَ فَلَا تَصُومُوا

Bila Sya’ban telah berada di pertengahan, maka janganlah kalian berpuasa!.”[2]

Hadits ini diriwayatkan para penyusun Kitab Sunan yang empat dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . Hadits ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân.

Ulama yang berpendapat seperti ini memberikan jawaban terhadap hadits Abu Hurairah yang disebutkan di awal. Yaitu bahwa ucapan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “(jangan kalian dahului) dengan satu hari atau dua hari” itu tidak menunjukkan makna pilihan (yaitu memilih dengan tidak mendahului satu hari atau dua hari). Akan tetapi itu hanyalah untuk menjelaskan adanya larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa sebelumnya. Karena biasanya itulah yang  dilakukan dan yang terjadi pada orang yang bermaksud menyambut bulan Ramadhan. Rentang waktu larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah sejak pertengahan Sya’ban, seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang terakhir tadi.

  1. Hal itu boleh, tidak dimakruhkan. Ini yang diputuskan oleh al-Mutawalli. Ia berkata mengenai hadits yang dibawakan di atas (yaitu mengenai hadits pertengahan Sya’ban), bahwa hadits tersebut tidaklah valid menurut pandangan para ahli.[3]
  2. Dimakruhkan karâhah tanzîh (dilarang syara’, namun bukan keharusan. Yang melakukannya tidak disiksa karenanya). Ini dipilih ar-Rauyâni.

* Sebagian Ulama menyebutkan bahwa hikmah larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa adalah untuk menjaga stamina dan kekuatan dalam berpuasa Ramadhan. Namun ini tidak tepat. Karena bila hal itu menyebabkan lemah dalam berpuasa dalam Ramadhan, maka berpuasa selama bulan Sya’ban lebih-lebih membuat lemah (untuk puasa Ramadhan). Padahal telah terjadi ijma’ dibolehkannya berpuasa pada bulan Sya’ban keseluruhannya, bahkan hal tersebut sunnah. Para penyusun Kitab Sunan yang empat telah meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa, “Tidak pernah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh dari suatu tahun kecuali Sya’ban, di mana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambungnya dengan Ramadhan.”[4] At-Tirmidzi berkata, “(Hadits ini) hasan.”

Al-Mâziri membawa pengertian larangan tersebut pada orang yang berpuasa dalam rangka pengagungan dan sambutan terhadap bulan Ramadhan. Artinya itu dilarang, agar suatu ibadah tidak ditambahi sesuatu yang bukan bagian dari ibadah tersebut. Adapun bila berpuasa pada hari syakk (hari yang diragukan antara Sya’ban dan Ramadhan) sebagai puasa sunnah belaka, maka ada perselisihan di dalamnya. Seperti yang akan disebutkan nanti.

* Sebagian Ulama menyebutkan: bahwa zahir hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di awal pembahasan ini bertentangan dengan ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertanya kepada seseorang:

هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ شَيْئًا

Apakah engkau ada berpuasa sesuatupun pada akhir Sya’ban?

Ia menjawab, “Tidak.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila engkau telah berbuka (yakni usai melaksanakan puasa Ramadhan), maka berpuasalah satu hari.”[5] Dalam riwayat lain: “dua hari.” Ini diriwayatkan Al-Bukhâri dan Muslim dari hadits Imran bin al-Hushain Radhiyallahu anhu .

Yang dimaksud dengan surar Sya’ban adalah akhirnya. Karena hilal (bulan sabit) akan menyembunyikan diri pada satu atau dua malam terakhir.

Namun dua hadits ini bisa dikompromikan, bahwa orang tersebut telah mewajibkan dirinya untuk berpuasa akhir bulan karena ia telah bernadzar. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk memenuhinya. Atau bisa juga karena berpuasa akhir bulan sudah menjadi kebiasaannya, lalu ia tinggalkan dalam rangka menyambut Ramadhan, karena ada larangan mendahuluinya (dengan puasa); dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin orang tersebut mengqadha’ nya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya.

Sebagian Ulama lain berkata: Bahkan ucapan Nabi, “Apakah engkau berpuasa pada akhir Sya’ban?” adalah pertanyaan dalam rangka mengingkari dan melarang. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya. Sehingga tidak ada kontradiksi antara keduanya.

Kalau yang dimaksudkan dengan surar Sya’ban adalah awal bulan, seperti yang disebutkan sebagian Ulama, bahwa surar asy-syahr adalah awalnya, maka tidak ada kontradiksi diantara dua hadits tersebut.

*  Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kaum rafidhah, yang memandang perlunya mendahulukan puasa daripada melihat hilal Ramadhan. Karena Ramadhan adalah nama untuk sebutan untuk (rentang waktu) yang berada di antara dua hilal. Maka bila seseorang berpuasa satu hari sebelumnya, berarti ia telah mendahului Ramadhan (dengan berpuasa).

*  Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan makna hadits:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

Berpuasalah saat kalian melihatnya (hilal) dan berbukalah saat kalian melihatnya!

* Di dalam hadits ini tidak terdapat larangan mendahulukan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, bagi orang yang punya kebiasaan berpuasa di akhir-akhir bulan di luar Sya’ban. Sama saja, apakah kebiasaannya itu karena nadzar atau murni sebagai puasa sunnah. Hal itu masuk dalam  cakupan kemutlakan hadits tersebut. Dan di antara bentuk nadzar adalah kala seseorang berkata, “Aku bernadzar kepada Allâh untuk berpuasa pada hari datangnya si fulan.” Lalu kebetulan si fulan datang bertepatan dengan akhir Sya’ban sebelum Ramadhan.

* Termasuk dari yang dilarang adalah berpuasa pada hari syakk (hari yang meragukan), yaitu hari yang mana orang-orang masih memperbincangkan tentang apakah hilal benar-benar sudah terlihat atau belum?  Atau telah ada orang yang bersaksi bahwa dia telah melihat hilal, namun dia masih anak-anak atau budak atau orang yang fasik.

Para Ulama salaf telah berselisih pendpat tentang orang yang berpuasa sunnah (pada hari itu) dengan tanpa sebab.

Dan yang paling sah menurut Ulama kalangan Syafi’iyah adalah puasa sunnah tersebut terlarang.

Dan dalam madzhab Malikiyah terdapat tiga pendapat:

(Pendapat) yang ketiga dari pendapat-pendapat Malikiyyah adalah bagi orang yang punya kebiasaan menyambung puasa, ia boleh berpuasa pada saat itu, tapi tidak bagi yang lainnya. Dan menurut mereka, boleh berpuasa pada saat itu bagi orang yang telah bernadzar.

Sedangkan Ahmad dan sekelompok Ulama, mereka mewajibkan untuk berpuasa pada saat itu sebagai puasa Ramadhan, dengan syarat saat itu ada mendung (yang menghalangi terlihatnya hilal).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote

[1] Pembahasan ini diringkas oleh redaksi dari kitab al-I’lam bi Fawa’id Umdatil Ahkâm, 5/158-170

[2] At-Tirmidzi, no. 738; Abu Daud, no. 2337 dalam kitab Shaum Bab Dimakruhkannya Hal Tersebut; Ibnu Mâjah, no. 1651; Ad-Darimi, 2/17; Ahmad, 2/442; Ibnu Hibbân, 3589; Al-Baihaqi, 4/209, Abdur Razzâq 7325

[3] Sebagian ulama ada yang melemahkan hadits ini, karena ‘Ala menyendiri dalam meriwayatkannya. Namun sebagian ulama lain, menilainya Shahih, tidak ada yang menodai keshahihannya. Imam Muslim juga mengeluarkan beberapa riwayat hadits dalam Shahihnya dari ‘Ala, dari ayahnya Abu Hurairah. Syaikh Al-Bani menilainya Shahih dalam Shahih al-Jami’ash-Shaghir wa Ziyadatuh no. 397 (red)

[4] HR. An-Nasa’i 4/150, At-Turmudzi 736 dalam Ash-shiyâm bab mengenai orang yang menyambung Sya’ban dengan Ramadhan, juga Ad-Darimi 2/17.

[5] Teks hadits yang dibawakan di atas, sesuai dengan salah satu riwayat Abu Daud. Dan sebagian riwayat ada tambahan: atau dua hari. Ini diriwayatkan al-Bukhâri, no.1983; Muslim, no. 1161; Abu Daud, no. 2231; Al-Baihaqi 4/210; Ad-Darimi 2/18; Ibnu Hibbân, no. 3587; Ahmad 4/428, 432, 439.

Read more https://almanhaj.or.id/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html

Menghindari Maksiat

Kemaksiatan dan setiap yang dilarang Allah SWT mesti dijauhi

Kemaksiatan dan setiap yang dilarang Allah SWT mesti dijauhi (QS 59:7). Kemaksiatan terjadi karena ada kesempatan dan bisikan setan yang datang karena setan tak pernah lengah untuk menjerumuskan anak Adam ke dalam nereka (QS 7: 16-17). Setan selalu membisikkan bujuk rayu jahatnya ke dalam hati manusia, kecuali bagi orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT (muroqobatullah).

Adalah penting upaya menghindari diri dari perbuatan maksiat. Namun, bagaimanakah caranya? Pertama, yakinilah Allah selalu mengawasi kita. Allah adalah Zat yang Maha Melihat, Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya di langit maupun di bumi.

Allah berfirman, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS 6:59).

Kedua, yakinilah seluruh amalan manusia akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawab an kelak pada hari Kiamat. Tak ada satu pun yang akan luput dari catatan-Nya. Allah berfirman, Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

Sunday, 07 Apr 2019 23:51 WIB

Menghindari Maksiat

Kemaksiatan dan setiap yang dilarang Allah SWT mesti dijauhi
Red: Agung Sasongko
blog.science.gc.ca

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Kemaksiatan dan setiap yang dilarang Allah SWT mesti dijauhi (QS 59:7). Kemaksiatan terjadi karena ada kesempatan dan bisikan setan yang datang karena setan tak pernah lengah untuk menjerumuskan anak Adam ke dalam nereka (QS 7: 16-17). Setan selalu membisikkan bujuk rayu jahatnya ke dalam hati manusia, kecuali bagi orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT (muroqobatullah).

Adalah penting upaya menghindari diri dari perbuatan maksiat. Namun, bagaimanakah caranya? Pertama, yakinilah Allah selalu mengawasi kita. Allah adalah Zat yang Maha Melihat, Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya di langit maupun di bumi.

Allah berfirman, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS 6:59).

Kedua, yakinilah seluruh amalan manusia akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawab an kelak pada hari Kiamat. Tak ada satu pun yang akan luput dari catatan-Nya. Allah berfirman, Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

ADVERTISEMENT

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. (QS az-Zalzalah [99]:6-8) Ketiga, yakinilah bahwasanya kulit, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan akan menjadi saksi di akhirat kelak.

Allah berfirman, Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (QS Fusilat [41]:22). Keempat, yakinilah Allah mengutus para malaikat untuk mengawasi kita (QS 50:16-18).

Sunday, 07 Apr 2019 23:51 WIB

Menghindari Maksiat

Kemaksiatan dan setiap yang dilarang Allah SWT mesti dijauhi
Red: Agung Sasongko
blog.science.gc.ca

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Kemaksiatan dan setiap yang dilarang Allah SWT mesti dijauhi (QS 59:7). Kemaksiatan terjadi karena ada kesempatan dan bisikan setan yang datang karena setan tak pernah lengah untuk menjerumuskan anak Adam ke dalam nereka (QS 7: 16-17). Setan selalu membisikkan bujuk rayu jahatnya ke dalam hati manusia, kecuali bagi orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT (muroqobatullah).

Adalah penting upaya menghindari diri dari perbuatan maksiat. Namun, bagaimanakah caranya? Pertama, yakinilah Allah selalu mengawasi kita. Allah adalah Zat yang Maha Melihat, Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya di langit maupun di bumi.

Allah berfirman, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS 6:59).

Kedua, yakinilah seluruh amalan manusia akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawab an kelak pada hari Kiamat. Tak ada satu pun yang akan luput dari catatan-Nya. Allah berfirman, Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.

ADVERTISEMENT

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. (QS az-Zalzalah [99]:6-8) Ketiga, yakinilah bahwasanya kulit, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan akan menjadi saksi di akhirat kelak.

Allah berfirman, Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (QS Fusilat [41]:22). Keempat, yakinilah Allah mengutus para malaikat untuk mengawasi kita (QS 50:16-18).

Kelima, sadarilah bumi akan menjadi saksi perbutan kita. Meskipun tak ada yang melihat kita, di manapun kita melakukan maksiat walaupun dengan sembunyi-sembunyi, bumi yang kita pijak akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak. Allah berfirman, Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. (QS 99:4).

Barang siapa yang dapat menjaga hatinya dan anggota tubuhnya serta menahan hawa nafsunya dari kemaksiatan, itulah sebuah keberhasilan imunitas kemaksiatan bagi orang yang bertakwa dan Allah janjikan sebuah pahala yang besar bagi mereka (QS 50:31-34, 55:46). Wallahualam.

KHAZANAH REPUBLIKA

100 Perilaku Mulia Rasulullah SAW

CUCU Rasululullah, Jafar Ash-Shadiq berkata, Saya tidak ingin seseorang meninggal dunia sementara ia belum mengetahui sebagian perilaku Rasulullah Saw.

1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.

2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.

3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.

4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya. Tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.

5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.

6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.

7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.

8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.

9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.

10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.

11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.

12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.

13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.

14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.

15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.

16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.

17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.

18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.

19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.

20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.

21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.

22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.

23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.

24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.

25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?

26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.

27. Menerima undangan para abdi dan budak.

28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.

29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.

30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.

31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.

32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.

33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.

34. Tidak pernah merendahkan seseorang.

35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.

36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.

37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.

38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.

39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.

40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.

41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.

42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.

43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.

44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.

45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.

46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.

47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.

48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.

49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.

50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.

51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.

52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Saw. Beliau selalu mengatakan, Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!

53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Saw pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.

54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.

55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.

56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.

57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.

58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.

59. Saat gembira, Rasulullah Saw memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.

60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.

61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.

62. Rasulullah Saw mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.

63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.

64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.

65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.

66. Rasulullah Saw tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.

67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.

68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.

69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.

70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.

71. Duduk dan makan di atas tanah.

72. Tidur di atas tanah.

73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.

74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.

75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.

76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abayanya sendiri.

77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.

78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumnya pasti diberikan kepada fakir miskin.

79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.

80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.

81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.

82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.

83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti menyikat giginya.

84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.

85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.

86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.

87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.

88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.

89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.

90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.

91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.

92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.

93. Tidak pernah makan dua model makanan.

94. Ketika makan tidak pernah sendawa.

95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.

96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.

97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.

98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.

99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.

100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.

 

INILAH MOZAIK

Iman adalah Kekuatan Yang Tak Terkalahkan

Keimanan adalah power dalam diri manusia yang mampu memberikan kekuatan yang dahsyat.

Maka tak heran bila Al-Qur’an dipenuhi dengan ayat-ayat yang mengajak untuk beriman kepada Allah swt.

Karena apabila keimanan itu telah melekat di hati seseorang, maka ia akan memiliki kekuatan yang tak terkalahkan.

Kali ini kita akan membawa beberapa contoh yang disebut dalam Al-Qur’an bagaimana kekuatan iman mampu merubah keadaan.

(1) Tukang sihir Fir’aun adalah para penyembah hawa nafsu yang hanya mengejar kenikmatan dunia. Ketika dihadapkan dengan Nabi Musa as, mereka pun berkata :

وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوٓاْ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ

Dan para pesihir datang kepada Fir‘aun. Mereka berkata, “(Apakah) kami akan mendapat imbalan, jika kami menang?” (QS.Al-A’raf:113)

Fir’aun menjawab,

قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ

Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (QS.Al-A’raf:114)

Yang diharapkan oleh tukang sihir Fir’aun adalah imbalan duniawi yang besar bila mereka berhasil mengalahkan Nabi Musa as. Tetapi ketika mereka melihat dengan nyata bahwa tongkat Musa benar-benar berubah menjadi ular dan semua yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, maka dalam waktu singkat hati mereka dipenuhi dengan keimanan.

Setelah keimanan itu masuk dalam hati mereka, kemarahan dan ancaman Fir’aun sama sekali tak membuat mereka takut. Fir’aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka bila mengikuti Musa, tapi power keimanan dalam hati mereka mengalahkan semua ketakutan itu.

قَالُواْ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلَّذِي فَطَرَنَاۖ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ

Mereka (para pesihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.” (QS.Tha-Ha:72)

(2) Begitupula kita temukan bagaimana di zaman Nabi saw musuh-musuh Islam menakut-nakuti dan menteror kaum muslimin dengan berbagai cara. Akan tetapi karena keimanan telah menancap kuat di hati mereka, semua ancaman itu tidak bisa mempengaruhi apa-apa. Allah swt menceritakan dalam firman-Nya :

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka. (QS.Ali ‘Imran:173)

(3) Contoh ketiga adalah apa yang terjadi di perang Ahzab. Ketika semua kekuatan musuh bersatu untuk melawan Rasulullah saw. Kemudian apa yang terjadi?

Allah merekamnya dalam firman-Nya,

وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا

Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka. (QS.Al-Ahzb:22)

(4) Lihatlah kisah Bilal sang muadzin Nabi. Dulunya ia adalah seorang budak yang disiksa dengan berbagai siksaan oleh majikannya karena beriman kepada Allah swt. Tapi semua siksaan itu tidak membuatnya goyah, karena iman telah memberi power yang begitu dahsyat dalam dirinya.

(5) Lihatlah Sumayyah ibunda Ammar. Seorang budak wanita yang disiksa dan dihinakan karena keimanannya. Namun semua penghinaan itu tidak mampu mengalahkan power keimanan yang ada dihatinya.

Orang yang beriman akan selalu berada diatas bagaimanapun kondisi yang ia hadapi. Ancaman, siksaan dan intimidasi tidak akan merubah keimanan mereka. Karena iman itu sendiri adalah power yang begitu dahsyat yang tak mampu dikalahkan.

Karena itulah Allah swt berfirman,

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS.Ali ‘Imran:139)

Kalian yang teratas apabila ada keimanan di hati kalian !

Lalau darimana semua kekuatan ini berasal?

Kekuatan seorang mukmin adalah pemberian dari Allah swt atas keimanan mereka. Bukankah Allah swt berfirman,

أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ

“Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia.” (QS.Al-Mujadilah:22)

Semoga bermanfaat

 

KHAZANAHALQURAN

Hindari Kata Menunda!

Setan memiliki satu agenda besar dalam menjerumuskan manusia. Salah satunya adalah dengan mempengaruhi manusia untuk menunda pekerjaan dan mengulur waktu.

“Ya, nanti akan saya kerjakan..”

Kalimat semacam ini akan membawa kita pada kerugian dan penyesalan.

Berapa banyak orang yang ingin bersedekah kemudian ditunda dan akhirnya batal.

Berapa banyak orang ingin berbuat baik lalu ditunda dan ia kehilangan kesempatan.

Berapa banyak orang yang ingin bertaubat lalu ditunda kemudian ia mati dengan membawa dosa-dosa itu.

Al-Qur’an selalu mengingatkan kita agar jangan menunda dan mengulur waktu.

Salah satu metodenya adalah dengan merangsang kita untuk berlomba dan bercepat-cepat dalam melakukan kebaikan.

۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Ali ‘Imran:133)

Begitupula Allah menyifati para Nabi dalam firman-Nya.

إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ

“Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS.Al-Anbiya’:90)

Begitupula salah satu sifat orang mukmin yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah bercepat-cepat dalam berbuat kebaikan.

أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ

“Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS.Al-Mu’minun:61)

Menunda perbuatan yang paling merugikan adalah ketika kita dirayu untuk menunda kebaikan. Dan yang lebih berbahaya adalah ketika kita menunda untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah swt.

Setidaknya ada dua bahaya dibalik menunda taubat :

1. Dosa akan bertumpuk dan semakin menjauhkan kita dari keinginan untuk bertaubat.

2. Bisa saja kematian tiba-tiba datang sebelum kita sempat bertaubat.

Hindari kata “nanti” dan lakukan semua kebaikan itu sesegera mungkin. Hindari kata “nanti” dan laksanakan taubatmu secepat mungkin. Karena bisa saja kesempatan itu akan hilang ketika engkau menundanya sekarang.

Ingatlah bahwa sifat menunda adalah bala tentara setan yang tidak ingin melihatmu berbuat kebaikan dan kembali kepada Allah swt.

Semoga bermanfaat..

 

KHAZANAHALQURAN