Asap dalam Alquran

Allah SWT telah memberikan oksigen secara gratis yang bebas dihirup. Namun, sekarang ini masyarakat mulai membeli oksigen. Saat ini asap yang berasal dari pembakaran lahan di Sumatra dan Kalimantan terus mengepul yang seolah menjadi rutinitas tahunan.

Andaikan saja Allah SWT memutar arah angin ke arah timur, mungkin asap pekat meliputi semua wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Alquran telah menceritakan istilah asap, minimal dalam beberapa surat.

Pada surah Fushilat ayat 11, misalnya. “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.'”

Asap yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah gambaran awal diciptakannya langit yang masih berupa asap atau uap air dengan istilah dukhanun. Pada surah ar-Rahman ayat 15, asap yang dimaksud adalah berkaitan dengan penciptaan jin dari nyala api yang tidak berasap (mim marijim min nar).

Asap pada surah al-Waqi’ah ayat 43 adalah gambaran orang golongan kiri atau orang durhaka dengan dinaungi angin dan air yang mendidih serta dalam naungan asap yang hitam. Wa zhillin (dan dalam naungan) yang menaungi mereka. Miy yahmum (asap yang hitam), yakni asap neraka jahanam yang hitam pekat.

Sedangkan, asap pada surah al-Mursalat ayat 30 adalah asap neraka jahanam (zhillin) bagi orang-orang kafir dari segala penjuru. Orang-orang kafir telah dikepung asap dari segala penjuru.

Asap yang digambarkan dalam Alquran terutama pada surah ar-Rahman ayat 15, al-Waqi’ah ayat 43, dan al-Mursalat ayat 30 dengan asap yang saat ini menjadi bencana di sebagian pulau di Indonesia memang berbeda, tetapi memiliki esensi yang sama bahwa asap di sini adalah sesuatu yang membuat manusia tersiksa seperti asap yang berasal dari neraka. Banyak korban yang mengalami sakit, bahkan meninggal dunia, yang diakibatkan oleh asap dari akibat pembakaran lahan yang ada di beberapa daerah.

Asap dalam kasus ini merupakan akibat perbuatan manusia-manusia serakah, juga akibat sikap permisifnya manusia-manusia yang memiliki kewenangan dalam menindak. Kebakaran yang terjadi disinyalir merupakan tindakan sengaja yang dilakukan secara terorganisasi, dan ini sudah terulang beberapa tahun. Sehingga, perilaku pembakaran dan tidak ditegakkannya hukum, keduanya menjadi sistem produksi asap pekat sekaligus menjadi neraka dunia bagi masyarakat yang tidak berdaya.

Amar makruf nahi mungkar dan penegakan hukum adalah harapan besar agar neraka dunia ini jangan terulang kembali. Wallahu a’lam.

 

 

Oleh: Abdul Hopid

sumber: Republika Online