‘Jenazah Siyono Utuh dan tak Bau, Insya Allah Almarhum Syahid’

Prosesi pembongkaran makam, hingga pelaksanaan autopsi jenazah Siyono, terduga teroris asal Klaten, mulai dari pukul 06.00 hingga 11.30 WIB, berjalan lancar. Nyaris tak ada satupun orang sekitar makam yang perutnya mual, apalagi meludah akibat mencium bau tak sedap.

Hampir seluruh anggota Kokam (Komando Kesiapsiagaan Pemuda Muhammadiyah), anggota polisi dari unsur Dalmas maupun Brimob, ataupun pimpinan Ormas Islam, maupun fungsionari PP Muhammadiyah, tidak ada yang mengenakan masker. ”Tidak ada bau menyengat, atau bau tidak sedap dari dalam makam. Semua biasa saja,” kata Husni Thamrin, fungsionaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten, Ahad (3/4).

Menurut Husni, hanya bau samar-samar kurang sedap dari lumpur makam yang tercium. Ini karena dalam makam penuh genangan air. Sehingga wajar kalau makam dibongkar, bau lumpur kurang sedap.

”Kalau kondisi jenazah sendiri masih utuh. Tak mengeluarkan bau kurang sedap sama sekali. Dan, kondisi jenazah masih utuh. Tak melepuh. Tak bengkak. Padahal, almarhum meninggal sudah 23 hari lalu. Insyaallah, almarhum mati syahid,” tambah Husni Thamrin.

Ia sendiri juga heran, hampir ratusan orang sekitar liang kubur almarhum tak mengenakan masker. Padahal, mereka tidak terbiasa dengan menghadapi pembongkaran jenazah. Normal semua. Setelah bekerja membongkar makam, semua orang makan dengan biasa.

Biasanya, kalau terjadi pembongkaran makam selalu mengeluarkan bau tak sedap. Bahkan, saking tidak sedapnya membuat perut mual, menyebabkan orang muntah-muntah, pusing kepala, dan sebagainya. Dalam jarak ratusan meter saja bau tak sedap cepat tercium. ”Tapi, kali ini tidak terjadi sama sekali. Ya, semoga saja mati syahid almarhum,” doa Husni Thamrin.

Pemimpin autopsi dari tim Forensix Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dr Gatot Suharto, juga mengungkap kondisi utuh jazad almarhum. Hanya saja, ia mengungkapkan ada perubahan kondisi fisik setelah meninggal secara tidak wajar.

Hukum Menonton Sinetron Hingga Lupa Waktu

Sinetron menjadi salah satu sajian televisi yang mendapatkan rating tertinggi di Indonesia. Banyak kalangan yang menyukai sinetron sebagai sarana hiburan. Bahkan sebuah sinetron yang digemari bisa memiliki epidose hingga ratusan.

Salah satu yang banyak menjadi penikmat sinetron adalah kalangan perempuan. Terlebih saat ini banyak sinetron impor dari negara-negara seperti Korea, India dan Turki yang menghiasi layar kaca setiap hari. Lalu bolehkan seseorang menghabiskan berjam-jam waktunya menonton sinetron yang kerap memengaruhinya dalam kehidupan nyata?

Soal sinetron sebagai tayangan televisi sendiri hukum dalam fikih tergantung dari tujuan dibuatnya sinetron tersebut. Syekh Yusuf Qaradhawi berpendapat tayangan televisi kedudukannya sama dengan radio, koran dan majalah yakni sebatas media.

Segalanya tergantung pada tujuan dan materi acaranya. Seperti halnya pedang, di tangan mujahid ia adalah alat untuk berjihad; dan bila di tangan perompak, maka pedang itu merupakan alat untuk melakukan tindak kejahatan.

Tayangan televisi termasuk sinetron, papar Syekh Qaradhawi bisa menjadi media pembangunan dan pengembangan fikiran, ruh, jiwa, akhlak, dan kemasyarakatan. Tetapi di sisi lain, tayangan televisi dapat juga menjadi alat penghancur dan perusak. Semua itu kembali kepada materi acara dan pengaruh yang ditimbulkannya.

 

Jangan Sampai Menyita Waktu

Syekh Yusuf Qaradhawi menyarankan agar setiap Muslim dapat mengendalikan diri terhadap media-media seperti ini, sehingga dia menghidupkan televisi jika acaranya berisi kebaikan, dan mematikannya bila berisi keburukan.

Melalui media ini seseorang dapat menyaksikan dan mendengarkan berita-berita dan acara-acara keagamaan, pendidikan, pengajaran, atau acara lainnya yang tidak mengandungi unsur keburukan. Sehingga dalam hal ini anak-anak dapat menyaksikan gerakan-gerakan lincah dari suguhan hiburan yang menyenangkan hatinya atau dapat memperoleh manfaat dari tayangan acara pendidikan yang mereka saksikan.

Soal konten sinetron, Syekh Yusuf Qaradhawi mewati-wanti agar tidak menonton sinetron yang bertentangan dengan akhlak dan akidah Islam. Misal sinetron tersebut mengajarkan pacaran, balas dendam, dongeng khayal yang merusak akhlak.

Selain itu terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi juga tidak baik. Media televisi saat ini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan akhlak. Jika tayangannya melenakan seseorang dan memiliki dampak buruk, maka cukuplah mematikan televisi menjadi solusi praktisnya.

Ustaz Bachtiar Nasir juga mengingatkan tentang tayangan yang bisa melenakan. Sinetron yang di dalamnya terdapat hal-hal yang dilarang Allah sebaiknya ditinggalkan.

Misalnya, perempuan berpakaian minim, perkataan keji, bahkan terkadang diselipkan budaya dan pemikiran yang bertujuan menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai Islam dan mengubah identitas dan karakternya. Apalagi jika menonton sinetron hanya untuk menghabiskan waktu saat Ramadhan. Hal ini tentu jauh dari pesan Ramadhan untuk memperbanyak amal.

Syarat Sinetron Islami

Soal sinetron juga menjadi tantangan tersendiri bagi sineas Muslim untuk memproduksi sinetron yang berkualitas. Ada beberapa catatan soal sebuah sinetron bisa dikatakan sinetron yang Islami. Pertama soal cerita.

Cerita sebuah film Islami tidak harus melulu tentang sejarah nabi atau para shahabat. Juga tidak harus film-film berbahasa Arab dengan kostum surban dan setting padang pasir. Cerita bisa saja tentang potret masyarakat dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari yang lekat dan kental dengan dakwah dan visi Islam.

Soal kostum dan aurat pemain juga perlu mendapat perhatian. Meski sebuah cerita menuntut adegan atau peran tokoh antagonis atau yang tidak Islami, bukan berarti menampilkan wanita dan auratnya menjadi boleh.

Kalau pun harus muncul sosok wanta, maka seharusnya wanita yang menutup aurat dengan tidak mengekspose kecantikannya atau lemah gemulai sosoknya. Hadirnya sinetron Islami yang berkualitas diharapkan bisa menjadikan media yang awalnya netral menjadi positif untuk akhlak sekaligus hiburan jiwa. Allahua’lam. 

 

Oleh Hafidz Muftisany

sumber:Republika Online

Pilih Islam, Jermain Jackson Baca Alquran dan Dengarkan Musik Cat Steven

Tak pernah tebersit sekali pun di benak musisi asal Amerika ini bahwa pertemuan singkatnya dengan anak-anak Muslim di Bahrain akan membawanya menuju Islam.

Semua bermula saat ia dan adiknya melakukan tur konser musik ke Timur Tengah pada 1989. Saat di Bahrain, ia mendapat sambutan hangat dari warga sekitar, dan sambutan paling berkesan yang akan menjadi titik balik kehidupannya itu muncul dari anak-anak. Ya, mereka yang masih di bawah umur.

Dalam dialognya dengan anak-anak tersebut, Jackson memberi beberapa pertanyaan kepada mereka. Begitu juga sebaliknya, anak-anak tersebut juga memberikan pertanyaan kepada musisi berusia 61 tahun itu.

Selama interaksi tersebut, anak-anak bertanya tentang agama kepada Jermaine. Ia menjawab agamanya Kristen. Saat ia menanyakan hal serupa, mereka menjawab dalam satu suara, yakni Islam. Jawaban antusias tersebut benar-benar mengguncang Jackson. Ia merasakan getaran dalam hatinya.

Tanpa disuruh, anak-anak tersebut mulai menceritakan tentang Islam kepada Jackson. Dari informasi tersebut, ia mengetahui bahwa anak-anak bangga dengan agama yang mereka yakini.

Interaksi singkat ini membuat Jackson terngiang-ngiang dengan Islam. “Saya gagal membuat upaya untuk menghibur diri sendiri bahwa tidak ada yang terjadi, tapi aku tidak bisa menyembunyikan fakta ini dari diriku sendiri bahwa di hati ini saya telah masuk Islam. Ini saya ungkapkan pertama kali kepada teman saya, Qunber Ali,” ujar Jackson.

Akhirnya, suatu ketika, temannya tersebut membawa Jackson ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Padahal, saat itu ia tidak tahu banyak tentang Islam. Tiba di sana keluarga Arab Saudi mengajak Jackson umrah. Setelah umrah ini, untuk pertama kalinya ia mengaku kepada publik bahwa ia seorang Muslim.

Setelah berikrar syahadat, Jackson merasa seperti dilahirkan kembali. Ia merasa menemukan jawaban atas kebimbangan yang selama ini dirasakan. Selain itu, Islam membantu pria kelahiran 11 Desember 1954 ini menemukan jawaban atas kegamangannya terhadap konsep ketuhanan yang ada di agamanya terdahulu.

Ia mengakui, ada banyak hal yang membuatnya memilih Islam. Ia terkesan dengan Muslim. Namun, satu yang membuka mata hatinya kali pertama adalah Alquran. Kitab suci umat Islam itu berhasil menepis keraguan tetang konsep ketuhanan yang selama ini ia yakini.

Jackson berupaya menambah wawasan dan menguatkan keimanan lewat beragam media, salah satunya kaset-kaset ceramah. Selama tinggal di Arab Saudi, ia membeli kaset mantan penyanyi pop Inggris dan pendakwah Muslim Yusuf Islam (sebelumnya Cat Stevens) yang masuk Islam terlebih dahulu.

 

Ia merasakan perubahan besar dalam dirinya seusai mengamini risalah Muhammad SAW ini. Ia meninggalkan semua hal yang dilarang Islam. Ini merupakan hal yang sulit bagi keluarganya. Keluarga besar Jackson merasa khawatir dengan apa yang diyakininya.

Kabar Islamnya Jackson menyebar begitu cepat setelah ia kembali ke Amerika Serikat. Menurut dia, saat itu media Amerika memberikan propaganda keji terhadap Islam dan Muslim. Hal ini benar-benar mengganggu pikirannya.

Warga Amerika benar-benar berhasil menyebarkan fitnah tentang umat Islam. Mereka menggambarkan Islam sebagai agama teroris. Umat Islam tersudutkan dan terpental dari pergaulan serta lingkungan sosial.

Kondisi itu membuatnya gelisah. Ia berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menghilangkan stigma negatif ihwal Islam yang digambarkan oleh media Amerika.

Satu hal yang ia lakukan begitu memeluk Islam adalah memanjatkan doa agar Allah SWT menganugerahkan hidayah untuk segenap keluarganya. Kendati demikian, ia tetap menghargai perbedaan keyakinan di keluarganya. Atmosfer toleransi dan menghormati keragaman merupakan ciri khas keluarga besarnya.

Sang ibu yang seorang perempuan religius dan beradab mempertanyakan keputusan Jackson memeluk Islam. Apakah pilihannya tersebut dilakukan secara tiba-tiba atau merupakan hasil dari pemikiran yang panjang. “Saya telah memutuskan setelah banyak berpikir tentang hal itu,” jawab kakak kandung Michael Jackson ini.

Menurut dia, keluarga besarnya dikenal religius sehingga keluarga besarnya tidak begitu mempermasalahkan keyakinan yang ia anut dan tidak memiliki sikap yang sama seperti warga Amerika lainnya. Mereka memiliki rasa toleransi yang baik terhadap semua agama.

 

Seperti anggota keluarga yang lain, perpindahan keyakinan pria kelahiran Indiana ini juga merupakan kejutan besar bagi adiknya, Janet Jackson. Pada awalnya, sang adik khawatir. Ini karena pemahaman yang ada di benak Janet bahwa Muslim sangat erat kaitannya dengan poligami, yakni memiliki empat istri.

Jackson akhirnya menjelaskan kepada adiknya mengenai hal tersebut. Anjuran poligami dalam Islam merupakan pengamanan struktur sosial dari kehancuran moral yang ada saat ini.

Mantan personel Jackson Five ini menambahkan tujuh putra dan dua putrinya mengikuti keyakinan yang ia anut. “Semoga Allah SWT memberi kita keberanian dan ketekunan untuk tetap berada pada agama yang benar ini—Islam,” tutupnya.

 

 

sumber:Republika Online

Jepretan Hidayah Peter Sanders

Fotografer profesional asal Inggris ini memutuskan menjadi Muslim saat ia berusia 24 tahun. Pria kelahiran 1946 ini memulai kariernya sebagai fotografer internasional sekitar 1960-an.

Saat itu, ia menjadi fotografer untuk orang-orang terkenal dalam bidang musik, seperti Bob Dylan, Jimi Hendrix, The Doors, The Who, dan The Rolling Stones.

Menjelang akhir 1970-an, Sanders mulai merasa bosan dengan aktivitas yang ia jalani. Ia akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual ke India. Sanders langsung mengemas barangnya dan melakukan perjalanan ke India. Di sana, ia memutuskan untuk mencari seorang guru spiritual.

Sesampainya di India, Sanders akhirnya menemukan seorang guru spiritual yang ia cari.  Guru tersebut beragama Hindu. Namun, menurutnya, kualitas ajaran yang dimiliki guru itu sama dengan seorang Muslim.

 

Belajar ke Saudi

Ia  belajar di India sekitar enam bulan. Dan, ketika ia memutuskan untuk kembali lagi ke Inggris, beberapa temannya telah menjadi Muslim.

Namun, ada juga beberapa teman dekatnya yang justru semakin bergantung pada narkoba dan alkohol. “Seolah-olah Tuhan berkata kepada saya, arah mana yang akan saya pilih?” ujarnya.

Pria kelahiran London ini dulunya tidak mengenal Islam sama sekali. Keputusannya menjadi Muslim ia ambil tanpa banyak mengetahui tentang hal itu.

Akhirnya, Sanders memutuskan untuk pergi ke Arab Saudi. Di pusat kelahiran Islam itu, ia menemukan keindahan spiritual Islam dan meninggalkan kesan yang tak terhapuskan kepadanya.

Naik Haji

Perkenalannya dengan Islam terbilang singkat. Sanders hanya perlu waktu tiga bulan untuk berikrar syahadat. Setelah kembali ke Inggris, ia memeluk Islam dan Abdul-Adheem merupakan nama Muslimnya.

Berada di bawah naungan Islam, Sanders benar-benar tertarik menunaikan haji, meski ia tak cukup memiliki biaya. Guru spiritualnya mengetahui niatan Sanders, lalu memberinya tiket pergi haji. Sayangnya, sang guru wafat dalam perjalanan menuju tanah suci, Makkah.

Niat mulia itu terlaksana pada 1971. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk diabadikannya melalui jepretan foto. Ia sempat mendapat kesulitan izin mengambil gambar, apalagi ia seorang mualaf dan orang bule.

Sanders tak berhenti bersyukur saat seseorang menjaminkan diri kepadanya dan siap bertanggung jawab.

 

Jepretan Dakwah

Dalam proses usaha memperoleh izin ini, ia teringat pernyataan penyair yang menjadi penyemangatnya, yaitu: “Untuk melihat realitas Madinah, yang kita butuhkan lebih dari lensa kamera, tetapi juga memerlukan visi.” Seakan ingin memiliki visi ini, Sanders berusaha menyampaikannya kepada orang lain melalui hasil jepretannya.

Iktikadnya itu membuahkan hasil. Gambar-gambar yang ia ambil muncul di berbagai media internasional, seperti Sunday Times Magazine, The Observer, dan jurnal utama lainnya.

Bagi Peter Sanders, iman dan fotografi menjadi bagian penting dalam perkembangan spiritualnya. Dulu, ia memotret orang-orang terkenal di industri musik.

Namun, sekarang dengan kamera yang ia miliki, ia juga memotret situs-situs suci umat Islam di dunia. Baginya, perjalanan hidupnya lebih dari perubahan fokus untuk lensa kameranya.

Fotografi pada dasarnya, menurut Sanders, adalah sarana untuk menumbuhkan semangat Islam. Semenjak memeluk Islam, ia telah menghabiskan 30 tahun mendokumentasikan tradisi Islam tradisional yang kian menghilang dari bumi.

Sanders sempat menjalani satu proyek yang merupakan kompilasi dari album fotografi dan ulama besar. Ia berharap dapat mengumpulkan dana untuk memublikasikan hasil karyanya ini.

 

Karya Sanders dalam bidang fotografi sudah tidak diragukan lagi. Beberapa karyanya mendapat penghargaan di tingkat internasional. Bahkan, fotografer dunia juga memuji hasil karya fotografer Muslim ini.

Pakar seni asal Jepang, Tsuyoshi Kawasoe, menyebut hasil karya Sanders menciptakan rekor dan berbeda. Ia mampu menghasilkan karya yang menggambarkan tradisi Muslim tradisional.

Komitmen dan cinta Sanders terhadap budaya Islam tradisional telah membawanya ke tempat yang diimpikan banyak fotografer.

Menurut Kawasoe, Sanders selalu menganut prinsip bahwa fotografi adalah perpanjangan dari hidupnya.

Fotografi adalah proses yang indah dan karunia dari Allah yang telah memungkinkan ia untuk belajar banyak tentang diri sendiri dan dunia sekitar. “Foto-fotonya sangat luar biasa indah,” katanya.

Penulis asal Amerika Michael Sugich menilai, Sanders adalah satu-satunya fotografer yang saat ini memiliki rencana sistematis dan pengabdian yang besar, khususnya di dunia Islam, karena ia adalah seorang Muslim. Berkat pemahaman mendalam tentang budaya dan kesopanan spiritual, ia mampu menjangkau lokasi yang sulit disentuh fotografer Barat lainnya.

Ia telah meninggalkan catatan yang tak terhapuskan, puitis, dan menggairahkan dari waktu yang luar biasa dan budaya yang kaya serta menarik. “Ia menangkap keindahan spiritual ciptaan sendiri,” katanya. Sanders menerbitkan buku fotografi pertamanya yang berjudul, In The Shade of The Tree.

 

sumber: Republika Online

Apakah Jatuh Talak bila Seorang Suami Melaknat Istrinya?

Pertanyaan: Bagaimana hukum seorang suami yang melaknat isterinya? Apakah jatuh talak/cerai kepada istrinya karena laknat tersebut?

Jawaban:

Laknat suami dan isteri adalah hal yang munkar. Hukumnya tidak boleh, bahkan itu termasuk perbuatan dosa besar. Larangan ini didasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Melaknat orang mukmin sama dengan membunuhnya”. Dan sabda lain : “Mencela orang muslim itu fasik dan membunuhnya termasuk perbuatan kufur.” (Muttafaq ‘alaih).

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن اللعانينَ لَايَكُونُونَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَيَومَ القِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang melaknat tidak menjadi saksi dan orang yang mendapat syafa’at pada hari Kiamat.”

Wajib bagi sang suami untuk bertaubat dan meminta maaf kepada isterinya atas pencelaannya. Sedangkan isterinya tetap sah sebagai istrinya, alias tidak menjadi haram atasnya dengan laknatnya tadi. Jadi, tidak jatuh talak atas ucapan laknat tersebut.

Dan yang juga menjadi kewajiban seorang suami terhadap istrinya adalah mempergaulinya dengan cara yang baik dan menjaga lisannya dari setiap perkataan yang membuat Allah marah. Begitu juga istri, hendaknya memperbaiki perilakunya terhadap suaminya dan menjaga lisannya dari hal yang membuat Allah murka dan apa yang menjadikan suaminya marah kecuali dengan cara yang benar.

Allah ta’ala berfirman:

“…Dan pergaulilah istri-istri kalian dengan cara yang baik….” (QS. an-Nisa’; 19)

Dan Allah berfirman:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (QS. al-Baqarah: 228).

 

Sumber: Al-Fatawa- Kitab Dakwa 2/247-248 oleh Syaikh Ibnu Baaz rahimahullaah.

Fiqih Wanita

Ketika Ulama Berguru pada Anak Kecil

Fudhail bin ‘Iyadh ialah seorang ulama yang terkenal akan kezuhudannya. Sebelum mencapai derajat kesalihan tersebut, beliau merupakan seorang penyamun yang biasa menghadang para musafir di daerah antara Abu Warda dan Sirjis.

Suatu hari beliau berkata, “Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika aku pernah berjalan ke masjid. Aku mendapati seorang wanita di dalam rumahnya sedang memukuli anaknya. Anak itu berteriak, lalu membuka pintu dan kemudian lari. Maka wanita itu pun mengunci pintu rumahnya.

Tatkala aku pulang dari masjid, aku kembali memperhatikan. Aku mendapati anak itu telah tertidur di dekat daun pintu setelah menangis beberapa saat. Dia sedang berharap belas kasihan ibunya. Maka luluhlah hati sang ibu dan ia pun membukakan pintu itu untuk anaknya.”

Kemudian Fudhail bin ‘Iyadh menangis sampai air mata membasahi jenggotnya. Beliau berkata, “Subhanallah, kalau seorang hamba bisa bersabar di depan pintu rahmat Allah, niscaya Allah akan membukakan pintu itu untuknya.”

Hal ini sebagaimana ucapan Abu Darda radhiallahu anha, “Bersungguh-sungguhlah dalam memanjatkan doa, karena siapa yang banyak mengetuk pintu rahmat Allah, niscaya pintu itu akan dibukakan untuknya.”

Tidakkah kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini? Bila seorang ibu dengan sifat rahimnya tetap memberi belas kasihan pada anaknya yang melakukan kesalahan, apalagi Allah Yang Maha Rahim. Dialah pemilik seluruh kasih sayang sempurna sepenuh langit dan bumi.

Dan sungguh, pada hakikatnya yang tertutup itu adalah pintu hati kita akibat dosa-dosa, bukan pintu Tuhan. Karena bagaimana mungkin Dia terhijab dari sesuatu yang dinamakan pintu sedangkan Dialah Dzat yang melingkupi segala sesuatu?

Saudaraku, bersabarlah sedikit lagi, hingga tangisan berganti dengan senyuman. Allahul Musta’an. (DOS)

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2287562/ketika-ulama-berguru-pada-anak-kecil#sthash.VWFOy5LT.dpuf

Memperoleh Kebahagiaan dengan Kebiasaan

Untuk meraih kebahagiaan atau keberuntungan, seseorang harus beristiqamah dalam mengerjakan kebajikan dan tak cukup hanya dengan membenci dosa. Dia juga harus menemukan kegembiraan dan kenikmatan dalam melakukan perbuatan baik.

Makin panjang umur seseorang, makin mantap dan makin sempurna kebajikannya. Ketika Rasulullah Saw ditanya tentang apa yang disebut keberuntungan, beliau menjawab, “Senantiasa beribadat (taat kepada Allah) sepanjang hidup adalah keberuntungan yang besar.”

Karena alasan itulah, sebagian para nabi dan wali tidak suka mati karena dunia ini merupakan ladang tempat bercocok tanam bagi panenan di akhirat. Bagi mereka, makin lama hidup, makin banyak ibadah yang dapat dilakukan dan makin banyak pahala yang dapat diraih. Karena itu, makin suci jiwanya serta makin kuat dan kokoh akhlaknya.

Tujuan beribadah kepada Allah adalah pengaruh baiknya atas jiwa. Adapun tujuan akhlak dan perilaku yang baik adalah memutuskan keterpautan jiwa dengan dunia yang fana ini dan yang membatasi serta menghalangi kecinntaan jepada Allah Yang Mahatinggi. Hal yang paling membahagiakan bagi jiwa adalah perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Kebiasaan yang baik menimbulkan cahaya dalam hati dan dapat memperlihatkan banyak hal yang menakjubkan.

Orang yang menemukan kegembiraan, kepuasan dan kenikmatan bermain dengan burung merpati dapat berdiri sepanjang hari di bawah terik matahari dan dia sama sekali tidak merasakan kelelahan.

Seorang pencuri yang sudah terbiasa mencuri justru merasa bangga dengan perbuatan itu sekalipun tangannya dipotong dan tubuhnya dicambuk. Pria-pria yang yang suka berperilaku seperti wanita membiarkan rambutnya tumbuh panjang, membedaki mukanya dan mengenakan pakaian wanita.

Mereka banggga dengan berbuat demikian. Kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut menyebabkan mereka bangga dan mereka senang, nikmat serta puas. [Imam Al-Ghazzali]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2287618/memperoleh-kebahagiaan-dengan-kebiasaan#sthash.ZW78d9Cc.dpuf

Murid Tercerdas, Tapi Masuk Neraka

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah satu murid Fudhail bin ‘Iyadh tengah menghadapi sakratul maut. Kemudian gurunya itu duduk di sebelah kepalanya dan membacakan surah Yasin.

Mendengar bacaan ayat Qur’an dari gurunya, si murid pun berkata, “Wahai guruku, jangan baca surah itu!”

Gurunya kemudian diam dan mencoba membimbing muridnya yang sedang sekarat untuk membaca kalimat Syahadat, “Muridku, katakanlah Laa ilaaha illallaah.”

Lantas si murid menjawab dengan gusarnya, “Tidak! Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.” Dan seketika, dia meninggal dunia tanpa melafalkan sepatahpun kalimat syahadat.

Padahal Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam pernah bersabda:

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallaah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

“Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan bacaan: laa ilaha illallaah.” (HR. Muslim)

Mengetahui bahwa dirinya tak dapat membimbing muridnya saat sakratul maut, Fudhail pulang ke rumahnya, beliau menangis selama empat puluh hari dan tidak keluar rumah.

Dalam mimpinya, Fudhail melihat muridnya diseret ke dalam api neraka, beliau bertanya, “Kenapa Allah memperlakukanmu seperti ini, sementara kamu termasuk muridku yang paling cerdas?”

Muridnya menjawab, “Karena tiga hal: Pertama, suka memfitnah (mengadu domba). Kedua, memendam dengki kepada orang lain. Ketiga, aku memiliki penyakit, lalu aku menemui seorang dokter. Ia menyarankan kepadaku untuk meminum secangkir khamar setahun sekali jika ingin sembuh. Kemudian, aku terbiasa meminumnya.”

Itulah kisah yang dialami oleh murid tercerdas dari Fudhail bin ‘Iyadh, karena Allah menilai hati dan perbuatan kita seluruhnya, baik yang tampak maupun tidak dari mata manusia. Sungguh, Allah adalah Dzat Yang tak pernah tidur. (DOS)

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2287635/murid-tercerdas-tapi-masuk-neraka#sthash.1NBSAyWl.dpuf

Betapa Indahnya Agama Ini (2)

Seorang lelaki menemui Rasulullah saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, perlukah saya minta izin pada ibu saya?” Rasulullah saw menjawab, “Ya.” Ia mengulangi lagi pertanyaannya, “Ya Rasulullah, perlukah saya minta izin pada ibu saya?” Rasulullah saw menjawab, “Ya.”

Untuk yang ketiga kalinya, ia tetap mengulangi pertanyaannya, “Ya Rasulullah, perlukah saya meminta izin pada ibu sauya?” Rasulullah saw lalu mengatakan, “Apa kamu senang melihatnya tanpa busana?” Lelaki itu menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Nabi lalu berkata, “Oleh karenanya, kamu mesti meminta izin pada ibumu.”

Saya melihat Anda trheran-heran dengan hadis di atas. Anda berhak untuk itu. Anda juga telah didik tentang Islam. Anda pun berhak untuk heran dengan pertanyaan seseorang. Namun, orang Arab dahulu tidak biasa meminta izin pada ibunya. Bukan hanya mereka, tapi seluruh dunia, sebelum Islam datang. Warga dunia tidak pernah menghormati kecerdasan-kecerdasan emosi seperti ini sebelumnya.

Rasulullah saw datang membawa Islam. Beliau menyelamatkan sisi kemanusiaan dan membuat perubahan besar dari kesemrawutan menuju peraturan, dari ketiadaan penghormatan terhadap perasaan menuju tata etika dan kepekaan rasa yang luhur.

Baru setelah itu, lahirlah generasi Islam yang mengajarkan agama dunia tentang kepekaan emosi dan etika Islam. Sekarang, semuanya telah meminta izin pada ayah dan ibunya. Semuanya telah beretika sesuai dengan ajaran Islam. Kemudian, orang-orang Barat menisbahkah dan mengaku bahwa semua itu hasil peradaban mereka. [amru muhammad khalid]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2287681/betapa-indahnya-agama-ini-2#sthash.SXCygKFA.dpuf

Betapa Indahnya Agama Ini (1)

Lihatlah kepekaan luhur yang diajarkan agama ini tentang meminta izin masuk ke kamar ayah dan ibu. Satu ayat Alquran secara khusus berbicara tentang etika dan waktu waktu ke kamar orangtua.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum salat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari, dan sesudah salat isya.” (Q.S. al-Nur [24]: 58).

Luar biasa! Ayat di atas semakin mengukuhkan salah satu kaidah kepekaan emosi.

Setelah itu, apakah Anda masih mengatakan, “Islam itu mengatur kehidupan di dalam masjid saja? Ataukah Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan?” Ketahuilah, Islam mengatur urusan kehidupan, bahkan di dalam kamar tidur!

Lihatlah kedudukan etika dan kepekaan emosi dalam agama kita yang agung. Perhatikan sampai di mana ia bisa mencapainya. Betapa indahnya agama yang agung ini! [amru muhammad khalid]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2287677/betapa-indahnya-agama-ini-1#sthash.Wz8F8Y16.dpuf