Inilah yang Dikatakan Al-Quran tentang Dunia

Jika berbicara tentang kehidupan dunia, akan kita temukan berbagai penjelasan yang telah diuraikan oleh banyak ilmuwan tentangnya. Bermacam arti dunia muncul sesuai dasar pemikiran masing-masing.

Kaum materialis, sosialis dan ilmuwan yang bertauhid saling melontarkan pendapatnya masing-masing. Sekarang kita akan berhenti untuk membicarakan pendapat manusia, kira-kira apa pandangan Tuhan tentang dunia?

Dalam mengartikan kehidupan dunia, Allah merangkumnya dalam satu ayat berikut ini :

 

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.

Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (QS.Al-Hadid:20)

Pertama, kehidupan dunia hanyalah permainan. Tak ada yang hakiki didalamnya. Apapun yang kita cari akan hilang begitu saja. Entah ia meninggalkan kita atau kita yang meninggalkannya.

Kedua, kehidupan dunia adalah gurauan belaka. Bukan kehidupan yang sebenarnya. Sungguh kerugian yang besar jika ada manusia yang menganggap kehidupan sebenarnya ada di alam ini. Padahal waktunya begitu singkat dan segera berakhir.

Ketiga, kehidupan dunia hanyalah hiasan. Sekedar hiasan saja, jangan sampai sesuatu yang kita miliki dianggap sebagai miliki kita seutuhnya. Itu semua hanyalah hiasan untuk kehidupan yang sementara ini.

Keempat, kehidupan dunia tak terlepas dari saling bangga akan dirinya masing-masing. Padahal apa yang hendak dibanggakan jika sebenarnya hidup mereka bukan disini? Silahkan berbangga diri jika telah mampu selamat dari panasnya api neraka.

Kelima, kehidupan dunia sungguh tak lepas dari berlomba dalam harta dan anak. Bahkan banyak yang menghalalkan segala cara untuk menjadi yang terkaya dan terhebat. Menyombongkan keluarga besar dan anak keturunan. Padahal semua itu tak berarti jika tidak diinvestasikan untuk bekal kehidupan nanti.

Jika kita lebih memperhatikan lagi, perumpamaan di atas serasi dengan perjalanan umur manusia. Di saat kecil, manusia menghabiskan waktunya untuk bermain. Lalu mulai bisa bergurau. Kemudian ketika remaja semakin sering berhias. Semakin dewasa ia mulai membanggakan diri dan berlomba untuk memperbanyak harta serta keturunan.

Kemudian Allah mengakhiri ayat ini dengan memperumpamakan singkatnya masa di dunia seperti tanaman yang terlihat hijau menawan. Tak lama ia mulai menguning, kering dan hancur. Begitu singkat masanya.

Dan itulah sekelumit pandangan Al-Quran tentang kehidupan di dunia. Ingat, kita terikat kontrak dengan umur yang semakin berkurang. Bersiap-siaplah selalu untuk menempati rumah abadi kita di akhirat. Jangan habiskan waktu untuk membangun rumah megah di dunia saja hingga melupakan rumah abadi di akhirat.

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung di dunia sampai kelak menjalani hidup yang sesungguhnya di akhirat. [ ]

Sumber: khazanahalquran/Inilah.com

 

American Qur’an, Ungkapan Kekaguman Seorang Ateis

Setelah menggali lebih dalam tentang Kristen melalui the Dante’s Divine Comedy series (Chronicle Books, 2006), kini artis Sandow Birk tertarik untuk memusatkan perhatiannya kepada Islam.

Dia kemudian menulis sebuah buku berjudul American Qur’an. Menurut Publisher Weeks, Kamis (5/11), buku karya Birk ini merupakan salah satu buku terbaik terbitan mereka pada tahun ini.

Dalam buku tersebut, Birk menggambarkan Alquran dengan menggunakan latar kehidupan Amerika, dari tanah Iowa hingga ke Pantai Selatan California. Birk bukanlah seorang yang berkeyakinan atau seorang ateis. Dia hanya tertarik mempelajari banyak agama di dunia ini.

Menurut dia, tidak berkeyakinan bukan berarti bahwa agama orang lain tidak penting untuk dipahami dan tidak relevan. Bahkan, dia meyakini agama sering menjadi jalan masuk manusia dalam memahami dunia geopolitik zaman.

“Saya sudah tertarik pada teks-teks agama lain untuk waktu yang lama, tetapi dengan jalannya peristiwa dunia, saya menjadi ingin tahu tentang Alquran. Saya bekerja pada proyek ini selama bertahun-tahun dan saya bisa jujur mengatakan bahwa saya menemukan Alquran selalu menarik dan sangat familier,” katanya.

 

sumber: Republika Online

Donor ASI, Ini Tinjauan dalam Fikih Islam

Praktik donor ASI sudah berjamuran di kota-kota besar. Bahkan, transaksinya meluas di dunia maya. Mereka menginformasikan ketersediaan ASI melalui media sosial atau grup pesan instan, seperti BBM, Whatsapp, dan lainnya. Selanjutnya, mereka yang membutuhkan akan menghubungi dan menyepakati mekanisme pengambilan ASI. Bagaimanakah tinjauan donor ASI ini dalam fikih Islam?

Dalam istilah fikih, menyusui diistilahkan dengan ar-radha’. Menyusui bayi orang lain punya konsekuensi hukum syar’i, yaitu menjadi haram untuk dinikahi. Ada dua kelompok yang menjadi haram untuk dinikahi karena ar-ridha’, yaitu ibu yang menyusui serta nasabnya ke atas dan anak dari ibu yang menyusui (saudara sepersusuan).

Dalam memilih ibu susuan juga tidak sembarangan. Islam menuntun agar memilih ASI dari ibu susuan yang Muslimah, berakhlak baik, sehat, serta salehah. Para ulama, seperti Imam Malik, memakruhkan menerima ibu susuan dari orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi, serta yang buruk akhlaknya. Yang demikian ditakutkan menularkan perangai-perangai buruk kepada si bayi walau sebenarnya secara jasmani mereka sehat.

Para ulama berbeda pendapat tentang kadar susuan yang menyebabkannya menjadi mahram (diharamkan menikah karena sepersusuan). Pendapat Hanafiyah, Malikiyah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya menyatakan mahram sepersusuan jika si bayi sudah meminum air susunya sedikit atau banyak.

Pendapat yang sama juga dilontarkan Ibadiyah dan ulama dan sahabat pada umumnya, seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyab, Hasan Basri, Juhri, Qatadah, Hammad, Auza’i, Tsauri, Laits bin Sa’ad, dan Ibnu Mas’ud. Mereka berdalil dengan keumuman ayat Alquran yang mutlak tanpa menyebutkan takaran air susu atau jumlah susuan.

Pendapat lainnya dari Ibnu Hazm (golongan dzahiriyah), Syafi’iyah, Hanabilah, dan Zaidiyah mengatakan, si bayi baru akan terikat mahram dengan ibu susuannya jika sudah mencapai lima kali susuan yang banyak. Susuan itu juga harus terpisah dan mengenyangkan si bayi. Mereka berdalil dengan hadis dari Aisyah RA yang mengatakan, pada permulaan turunnya Alquran, 10 kali menyusu menjadi mahram.

Kemudian, hukum ini di-nasakh (dihapus) dengan ayat yang mengatakan lima kali saja sudah menjadi haram. Kemudian, Rasulullah SAW meninggal dunia dan ayat itu masih dibaca karena masih dianggap bagian dari ayat Alquran. (HR Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i).

Beberapa ulama yang menganggap perkataan Aisyah ini tidak mutawatir (mempunyai banyak periwayat), bahkan dhaif (hadis lemah). Namun, hujjah para ulama dalam hal ini sangat kuat. Pakar hukum Islam di Universitas al-Azhar Mesir banyak yang memilih pendapat ini. Dalam buku Fiqh Sunnah jilid 5, para ulama Mesir menganggap pendapat inilah yang paling rajih (kuat).

Pendapat yang lain dari Imam Ahmad, Daud bin Ali adz-Dzahiri, Abu Tsaur, dan Ibnu al-Mundzir. Mereka berpendapat, susuan baru terikat menjadi mahram jika sudah lebih dari tiga kali. Mereka berdalil dengan hadis Rasulullah SAW, “Tidak haram untuk menikah karena sekali atau dua kali susuan.” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Maajah).

Teknis pemberian ASI juga menjadi hal yang membedakan hukum fikihnya. ASI yang diminum bayi langsung dari payudara ibu berbeda hukumnya dengan ASI yang diminum dari tabung. Jika diminum secara langsung dengan cara mengisap, para ulama sepakat akan hukumnya, yaitu menjadi mahram. Sedangkan, yang diminum tidak langsung, ada ulama yang tidak mengategorikan ini sebagai radha’.

Di antaranya, Ibnu Hazm yang menyebutkan hal ini tidak bisa dikategorikan ar-radha’. Pendapat ini juga dikutip Dr Yusuf Qardhawi dan sepakat yang seperti ini tidak punya konsekuensi hukum sebagai mahram. Sifatnya sama dengan makanan, suntikan, menuangkan, atau meneteskan obat atau makanan. Qardhawi berpendapat, Allah SWT tidak mengharamkan perkawinan dengan hal-hal yang disebabkan hal-hal sedemikian.

Menurut Qardhawi, hikmah pengharaman penyusuan karena adanya sifat keibuan yang menyerupai rasa keibuan satu nasab dan menumbuhkan rasa kekanakan (sebagai anak), persaudaraan (sesusuan), dan kekerabatan-kekerabatan lainnya. Sedangkan, ASI yang diminum melalui tabung susu tidak akan mendapatkan pengalaman tersebut.

Terkait hukum fikih donor ASI, Majelis UIama Indonesia (MUI) hingga saat ini belum mengeluarkan fatwa. Pembahasan mengenai hal ini memang pernah dilakukan MUI, namun kesimpulan sementara, MUI memperbolehkan donor ASI melihat kondisi. Hukum donor ASI diperbolehkan dengan pertimbangan Rasulullah SAW juga memiliki ibu susu, yakni Halimah as-Sa’diyah.

Para ulama sepakat membolehkan donor ASI dengan catatan harus secara langsung melalui payudara kepada bayi. Kebolehan ini berdalil dengan keumuman ayat Alquran, “Dan, tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebaikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS al-Maidah (5]: 2).

Lalu, bagaimana hukumnya dengan jual beli ASI? Kebanyakan ulama pun memperbolehkannya. Hal ini berdalil dengan ayat Alquran, “Kemudian, jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS at-Thalaq [65]: 6).

Bagaimana dengan bank ASI? Hal inilah yang masih menjadi kontroversi. Para ulama membatasi definisi ar-radha’ hanya dengan cara mengisap lewat payudara ibu. Yang menjadi permasalahan, jika ibu pendonor ASI tidak jelas identitasnya. Demikian juga jika ASI telah dicampur aduk menjadi satu. Namun, jika bank ASI bisa dikelola secara profesional dan memerhatikan asal muasal ASI, banyak pula ulama kontemporer yang membolehkannya.

Pihak yang tidak mendukung adanya bank ASI dalam Islam adalah semua ulama yang tidak mendapati konsekuensi tentang keharaman hubungan sepersusuan dalam bank ASI sesusuan dengan hujjah pendapat fikih masing-masing karena mereka lebih mementingkan kehati-hatian. Seperti pendapat Yusuf Qardhawi yang lebih mementingkan proses penyusuan langsung agar sikap hati-hati itu lebih terpelihara dan lebih jauh dari syubhat.

Pendapat yang lebih moderat, yaitu ulama yang memberikan tahzir (peringatan) untuk menjauhi sesuatu yang syubhat. Seperti fatwa Qardhawi, diutamakan kehati-hatian dalam hal radha’ karena ia berkaitan dengan nasab dan mahram. Siapa tahu si bayi kelak memilih pasangan hidupnya dengan seseorang. Namun, karena ibunya ceroboh dan sering memberikan ASI dari banyak ibu, ia jadi terhalang untuk menikah.

Yusuf Qardhawi juga memberikan peringatan atas pendapatnya sendiri. Bagi kaum wanita, janganlah sembrono dalam memberikan ASI bagi bayinya. Tidak boleh menyusui anak kepada orang lain, kecuali karena darurat. Jika mereka melakukannya, hendaklah mereka mengingatnya atau mencatatnya sebagai sikap hati-hati.

 

sumber: Republika Online

Surah Al Hujurat Jadi Alasan MUI Lebak Dukung SE Kapolri Ujaran Kebencian

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak KH Baidjuri mendukung surat edaran ujaran kebencian (Hate Speech) yang dikeluarkan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pada 8 Oktober 2015.

“Saya kira surat edaran ini bertujuan agar masyarakat dalam perkataan maupun ujaran melalui media sosial (medsos) melakukannya dengan santun sebagai bentuk karakter bangsa Indonesia,” kata Baidjuri di Lebak, Kamis (5/11).

Menurut dia, surat edaran ujaran kebencian itu agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang bisa menimbulkan perpecahan maupun konflik.

Sebab, banyak tindakan penyebaran kebencian, di antaranya mencemooh, mengolok-olok atau menghina sehingga terjadi perpecahan yang lebih mendalam.

Karena itu, ia menilai surat edaran ujaran kebencian merupakan bentuk pencegahan agar masyarakat bertutur kata dengan baik dan santun.

“Kita sebagai umat Muslim wajib bertutur kata yang baik dan santun, baik melalui perkataan langsung kepada orangnya maupun melalui media,” katanya.

Ia juga mengatakan masyarakat untuk menghindari tindakan penyebaran kebencian, seperti mengolok-olok, menjelekkan, menghina, meledek, dan menggunjing melalui media.

Menurut Baidjuri, perbuatan ujaran kebencian dilarang oleh agama Islam seperti dalam Alquran surat Al Hujurat ayat 11.

“Kami berharap kepolisian juga bertindak tegas terhadap perbuatan yang menyebar ujaran kebencian,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat boleh mengkritik dengan menggunakan kata-kata yang baik tanpa menyingung maupun menjatuhkan pihak yang dikritik.

Kritik yang dilontarkan itu untuk melakukan perbaikan dengan kata-kata yang baik sehingga tidak menimbulkan rasa kebencian.

“Kami sangat mendukung surat edaran penyebaran kebencian agar membawa kemaslahatan dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bertutur kata-kata yang sopan dan baik,” katanya.

 

sumber: Republika Online

Tafsir Sederhana Surat Al-Maun (1)

Al-Maun, adalah salah satu surat pendek dalam Al-Quran. Pada ayat-ayatnya yang singkat, surat ini menyimpan berbagai masalah yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.

Nama lain dari Surat ini adalah Surat Aroaita, sesuai dengan ayat pertama didalamnya. Surat ini hanya memiliki 7 ayat, namun pahala bagi pembacanya amatlah besar.Sebelum kita masuk dalam tafsir Surat ini, kita akan simak sabda Rasulullah saw tentang pahala bagi orang yang membacanya. Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang membaca surat ini, Allah mengampuni dosanya selagi dia masih menunaikan zakat.””Siapa yang membacanya setelah solat isya, maka Allah akan mengampuni dan menjaganya hingga solat subuh.”

Para Mufassirin sepakat bahwa Surat ini termasuk Surat Makkiyah, turun sebelum hijrahnya Rasul ke Madinah. Walau ada segelintir yang mengatakan bahwa Surat ini turun setalah hijrah ataupun turun bertahap di Mekah lalu di Madinah.

Asbabun Nuzul

Ada banyak versi yang menceritakan Sebab turunnya ayat ini.Salah satunya mengatakan bahwa Surat ini turun kepada Walid bin Mughiroh, seorang tokoh kafir Quraisy yang punya banyak harta tapi amat kikir. Dia juga punya kedudukan namun kejam dan keras kepada anak yatim.

Surat Al-Maun

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.”(Al-Maun 1-7)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (). Pada awal Surat ini, Allah memulainya dengan sebuah pertanyaan. Sebenarnya, bisa saja Allah langsung mengabarkan tentang orang-orang yang mendustakan agama, seperti “Ketahuilah orang-orang yang mendustakan agama”.

Tapi Allah tidak menggunakan cara itu, Allah memakai bentuk pertanyaan sebagai cara menggugah pendengar agar lebih siap menerima informasi. Tentu berbeda ketika kita mendengar,”Ada seorang yang berbuat keji” dengan “Tahukah engkau, ada orang yang berbuat keji”

Kata Ad-Din dalam ayat ini memiliki banyak arti. Ada yang memberi arti agama secara mutlak, yaitu orang-orang yang mendustakan agama islam itu sendiri. Walau dhohirnya terlihat muslim, tapi dia sedang mendustakan agamanya sendiri.

Ada pula yang mengartikannya sebagai Hari Pembalasan. Yaitu orang-orang yang mengingkari Hari Kiamat dan Hari Pembalasan. Walaupun mengingkari Kiamat sama dengan mengingkari agama. Karena Percaya pada Hari Akhir termasuk dalam Ushuluddin yang harus diyakini.

Dalam ayat lain, Allah juga menggunakan kata Ad-Din dengan makna Hari Pembalasan.

“Pemilik hari pembalasan.”(Al-Fatihah 4)

Dengan mengucapkan syahadat, seorang telah terhitung sebagai muslim dan harus dijaga kehormatannya. Tapi seluruh amalnya bisa menjadi tak bernilai saat ia mendustakan agamanya dengan mengingkari Hari Pembalasan.

Mengapa yakin terhadap Hari Pembalasan itu begitu penting?Karena keyakinan ini begitu berpengaruh dalam hidup manusia. Salah satu faktor yang membuat seorang bisa menjadi rajin beramal adalah karena yakin dengan balasan indah di akhirat. Dan dia juga menghindar dari maksiat agar tidak sengsara di hari itu.

Tapi seorang yang mengingkari Hari Kiamat akan berbeda. Dia bisa saja tak lagi peduli dengan perbuatan baik karena baginya akan sia-sia, dan akan terdorong untuk melakukan maksiat karena tidak akan ada pertanggung jawaban setelahnya.

Ketika bercerita tentang penghuni neraka, Allah berfirman,

Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.”(An-Naba 27)

Orang yang tidak percaya dengan hari kiamat akan lepas kontrol, karena keyakinan ini adalah faktor penting untuk menahan seorang dari perbuatan buruk.

“Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”(Shad 26)

Siapa saja mereka yang mendustakan agama?

Maka itulah orang yang menghardik anak yatim ()

Tipe pertama yang mendustakan agama adalah mereka yang suka menghardik dan berlaku keras kepada anak yatim. Disaat semestinya para orang tua siap menjadi ayah bagi mereka.

Teringat sejarah Sayidina Ali bin Abi tholib ketika memimpin di kota Kufah. Jika kita bertanya pada seluruh anak yatim disana tentang siapa ayah mereka. Seluruh yatim itu akan kompak menjawab, “ayah kami adalah Ali bin Abi tholib.” Maka jangan heran ketika beliau wafat, yang paling bersedih saat itu adalah anak-anak yatim yang harus kehilangan ayah untuk kedua kalinya.

Disaat tubuh berhias dengan pakaian Muslim, tidak menjamin seorang untuk tidak termasuk orang yang mendustakan agama jika ia masih berlaku kasar pada anak yatim.

Kata dzalika disini menunjukkan begitu jauhnya mereka dalam kebejatan.

Cara Al-Quran Memperlakukan Anak Yatim

Melihat betapa keji mereka memperlakukan anak yatim, kita akan melihat bagaimana cara Al-Quran memperlakukan mereka. Allah berfirman,

“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.”(Al-Fajr 17)

Al-Quran selalu membedakan perlakuan kepada orang miskin dan anak yatim. Kepada orang miskin, Al-Quran hanya menyuruh kita untuk memberinya makanan atau sesuatu yang mereka butuhkan. Tapi untuk anak yatim, tak cukup memberi makanan, pakaian dan kebutuhan mereka. Kita juga dituntut untuk memberi kasih sayang dan memuliakan mereka. Rasulullah saw bersabda,

“Siapa yang mengelus kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, Allah akan memberikan pahala kepadanya dengan bilangan rambut yang ada di kepala yatim tersebut.””Kelak, aku dan orang-orang yang mengayomi anak yatim berdampingan di Surga.”Sebaik-baik hidangan adalah hidangan yang menyertakan anak yatim di dalamnya.”

Islam sangat mengecam orang-orang yang keras kepada anak yatim. Terbukti dengan banyaknya ayat yang membicarakan tentang mereka. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa.”(Al-Anam 152)

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”(An-Nisa 10)

Apabila kita mengaku sebagi muslim tapi belum menyayangi dan memberikan hak anak yatim maka berhati-hatilah karena kita akan termasuk orang yang mendustakan agama Allah swt.

Apabila kita mengaku cinta kepada Nabi Muhammad saw, ingatlah bahwa beliau juga yatim disaat kelahirannya. Dan Rasul pun berulang kali berpesan untuk menyayangi anak yatim, bahkan Allah swt pernah berfirman kepada beliau,

Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”(Ad-Dhuha 9)

Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin ()

Tipe kedua yang termasuk mendustakan agama adalah mereka yang tidak saling menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.

Mengentaskan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab orang-orang kaya. Kita semua punya tanggung jawab kepada orang-orang miskin. Jika tidak mampu untuk membantu secara langsung, kita masih punya kewajiban untuk mendorong orang-orang kaya agar membantu yang miskin.

Tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak ikut serta membantu orang yang membutuhkan. Sungguh aneh manusia itu, disaat kaya begitu kikir dan enggan membantu. Disaat tak mampu juga tak mau saling menganjurkan untuk memberi orang-orang miskin.

Salah satu kelompok yang dicampakkan ke neraka adalah mereka yang tidak menganjurkan untuk membantu orang miskin. Allah berfirman,

— — — — — — —

“Di dalam surga, mereka saling menanyakan, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan.”(Al-Muddatsir 40-46)

Saat Allah bermaksud untuk menyebutkan kalimat “memberi makan orang miskin”, harusnya menggunakan kalimat . Kata toamu miskin sebenarnya memiliki arti “makanan orang miskin”. Kenapa Allah memilih kalimat ini?

Disini Allah ingin menegaskan bahwa sebenarnya saat kita memberi makan orang miskin, kita tidak sedang “memberi” karena sebenarnya makanan itu adalah hak mereka. Kita hanya menyampaikan hak kepada yang berhak menerimanya.

“Dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu.”(Al-Maarij 24)

Ada sebagian orang yang merasa dimuliakan Allah saat memiliki banyak harta. Dan mereka merasa sedang dihinakan oleh Allah saat mengalami kesempitan dalam rezekinya. Bagaimana jawaban Allah terhadap orang seperti ini?

“Maka adapun manusia, apabila Tuhan Mengujinya lalu Memuliakannya dan Memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhan-ku telah Memuliakanku.” Namun apabila Tuhan Mengujinya lalu Membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhan-ku telah Menghinaku.” Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin”(Al-Fajr 15-18)

Mulia menurut Al-Quran adalah di saat kita memuliakan anak yatim dan saling mengajak untuk memberi orang miskin. Sudahkah kita melakukan hal ini?

[bersambung]

sumber: Inilah.com

Kilau (Harta) yang Menipu

Oleh Hafidz Muftisany

Hati siapa yang tidak tertarik dengan godaan harta. Terlebih seseorang seharusnya mendapatkan bagian harta tertentu setelah ia berjuang keras. Berjuang hingga risiko antara hidup dan mati hanya dipisahkan benang tipis.

Ketertarikan atas harta yang lantas tak sesuai dengan harapan tentu memunculkan gundah. Keresehan itu pula yang dialami oleh kaum Anshar saat Perang Hunain nan berat itu sudah usai. Kaum Muslimin mendapat kemenangan yang besar.

Seperti laiknya perang-perang lain, kaum Muslimin pun berhak mendapat harta rampasan perang (ghanimah). Namun alangkah kecewanya kaum yang menerima Nabi SAW saat ia diusir dari kaummnya itu. Nabi SAW justru memberikan bagian harta ghanimah kepada orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam semisal Abu Sufyan, ‘Uyainah, Al Aqra’ dan Suhail bin ‘Amar.

Maka jiwa-jiwa manusia biasa kaum Anshar menyeruak protes. Kenapa orang yang dulunya memusuhi Nabi SAW dan baru masuk Islam mendapat bagian? sementara mereka yang menolong Nabi SAW dan kaum muhajirin, pulang dengan tangan hampa.

Rasulullah seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad, lantas menemui dan menjawab kegundahan sahabat-sahabatnya dari Anshar itu. “Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar,” ujar Nabi SAW dalam kalimatnya yang bersejarah, “manusia pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung halamanmu membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar.”

Kita paham bagaimana akhir dari kisah ini. Siapakah yang lebih beruntung bisa membawa serta Rasulullah SAW bersama mereka dibandingkan sampah dunia bernama harta. Sesenggukan wajah-wajah Anshar itu terdengar saling bersahutan. Air mata penyesalan mereka basah mengaliri hingga janggut-janggut mereka.

Begitulah kita sejatinya diajarkan untuk bersikap terhadap harta. Memiliki keinginan untuk menguasai harta adalah sesuatu yang wajar. Namun pada hakikatnya, harta hanyalah sebuah sarana. Seperti hanya Rasulullah SAW memberikan harta kepada kaum Quraisy yang baru masuk Islam. Semua itu hanya sarana untuk mengikat hati mereka agar tetap bersama dakwah.

Sementara Rasulullah SAW paham, sejatinya kaum Anshar tak memerlukan itu semua. Bagi mereka yang mengutamakan kaum muhajirin di atas diri mereka sendiri, tentu harta bukanlah yang paling utama. Jika kaum Anshar menangis tersedu karena mereka “mendapat” Rasulullah SAW, kita justru tergugu jika harta kita berkurang.

Otak kita seakan disetting hanya untuk mencari uang dan materi. Bukan dengan niat jihad mencari nafkah, namun demi memenuhi buas nafsu diri. Terkadang waktu yang kita miliki tak cukup 24 jam guna mencari pundi-pundi rupiah. Demi sebuah tas bermerk agar tak lagi dijauhi dalam kumpulan arisan-arisan masa kini.

Kehidupan kini hanya berjalan dari satu transaksi ke transaksi berikutnya. Dari satu lembur ke lembur yang sama keesokannya. Muara semuanya itu hanya kelelahan raga dan jiwa yang tak pernah tenang. Terlalu keras mengais emas terkadang turut melenakan kita pada hal-hal kecil yang sejatinya butuh perhatian.

Mengejar tender milyaran bagi kita masih terlalu penting dibanding mengajari anak-anak kita belajar huruf hijaiyah agar mereka dapat membaca kitab sucinya. Kita lupa membantu mengejakan hukum-hukum tajwid agar kelak saat kita mati, si anak dengan lancar memimpin barisan shalat jenazah.

Padahal bisa jadi bekal yang sangat ia perlukan bukanlah properti tak bergerak senilai puluhan miliar. Yang mereka butuhkan sejatinya adalah apa yang kaum Anshar butuhkan. Kehadiran sosok Rasulullah SAW. Mereka jauh lebih beruntung membawa pulang Nabi Muhammad SAW ke kota mereka. Lantas menyerap saripati hidup yang sebenarnya.

Semoga kita ini seperti orang-orang Anshar yang mendapat keistimewaan untuk “membawa pulang” Rasulullah SAW bersama mereka. Karena mereka sadar, meski ketertarikan pada kilau harta sangatlah normal namun tak akan bisa menggantikan kilau cahaya hakiki dari Muhammad SAW

 

sumber: Republika Online

Ini Kisah Perjalanan Sandow Birk dalam Menulis American Qur’an

Sandow Birk, penulis buku American Qur’an berkelana ke banyak negara-negara Islam yang memiliki karya seni Islam di dunia.  Perjalanannya itu bersamaan dengan banyaknya peristiwa politik di seluruh dunia. Hal itulah yang kemudian membuatnya terinspirasi dengan Islam dan Alquran.

Selama perjalanannya itu, Birk melakukan kunjungan berulang untuk penelitian ke berbagai tempat. Dari masjid terbesar di Afrika hingga komunitas Muslim terpencil di daerah terluar di Mindanao, Filipina dan juga Kepulauan Andaman India.  (Baca Juga : American Qur’an, Ungkapan Kekaguman Seorang Ateis)

Penelitian ekstensifnya dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat lain di sepanjang Maroko. Selain itu dia juga berkunjung di Institut du Monde Arab di Paris selama tiga bulan. Di sana, dia tinggal di Cité International des Artes.

Tidak hanya itu, dia juga berkunjung ke Perpustakaan Chester Beatty di Dublin. Chester Beatty disebut-sebut sebagai salah satu perpustakaan yang memiliki koleksi terbesar dan terbaik Alquran dengan tulisan tangan di dunia. Penelitian lebih lanjut dilakukannya pada Smithsonian Freer dan Sackler Galeri, serta Museu Calouste Gulbenkian di Lisbon.

Tidak seperti kitab Injil, yang menceritakan kisah-kisah pelayanan Yesus di bumi, Birk meyakini Alquran merupakan firman Allah. Hal itu menurut dia seperti yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Muhammad SAW pada abad ke 7 Masehi. Selain itu dia juga meyakini Alquran dikumpulkan bersama dan umumnya dikelompokkan menurut panjang (bukan secara kronologis).

“Sebanyak 114 bab (surah) membentuk kumpulan khutbah, seperti ‘wahyu’ yang merupakan teks dasar Islam,” katanya.

Birk menghabiskan waktu sembilan tahun menciptakan tulisan tangan Alquran. Dengan mengikuti tradisi kuno Arab dan naskah-naskah Islam, dia menerjemahkan seluruh teks Alquran. Dia menuliskan Alquran dengan bahasa seperti yang dilakukan di abad masa lalu. Dengan panduan tradisional termasuk warna tinta, format halaman, ukuran margin dan iluminasi judul halaman, termasuk juga corak hiasan yang menandai ayat-ayat dan bagian.

Dia menulis kaligrafi dengan menggunakan gaya Amerika. Yaitu seperti pesan-pesan di jalanan yang biasa disebut urban grafity yang ia temukan di sekitar lingkungannya di Los Angeles. Uniknya, setelah setiap bab diterjemahkan, setiap halaman dibubuhi dengan peristiwa-peristiwa dari kehidupan kontemporer Amerika.

Dia meneliti bagaimana pesan dalam Alquran tersebut yang berhubungan dengan kehidupan di Amerika Serikat saat ini.  Dengan mengadaptasi teknik dan gaya perangkat lukisan Arab dan Persia, proyek ini memadukan masa lalu dengan masa kini, Timur dengan Barat. Dari situlah buku American Qur’an tercipta.

 

sumber: Republika Online

Bersaksi Palsu, Ini Pandangan Islam

Bersaksi di pengadilan ternyata bisa menimbulkan konsekuensi serius. Jika kesaksian seseorang salah atau terbukti palsu, ancaman hukuman pidana siap menanti.

Seseorang yang awalnya duduk di kursi saksi, jika terbukti melakukan kesaksian palsu bisa berubah duduk menjadi tersangka. Dalam hukum positif di Indonesia, sesuai Pasal 242 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), seseorang yang memberi keterangan palsu di atas umpah, baik lisan maupun tulisan diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Lalu bagaimana dengan bersaksi palsu menurut syariat Islam? Para ulama menggolongkan saksi palsu sebagai salah satu dosa besar. Dalam Syarah Riyadhus Shalihin, ucapan palsu didefinisikan sebagai sebuah kebohongan dan perbuatan yang mengada-ada.

Perbuatan ini merupakan salah satu dari dosa-dosa yang membinasakan dan paling berat ketentuan hukum haramnya. Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menerangkan saksi palsu sebagai seseorang bersaksi terhadap sesuatu yang dia tidak mengetahui atau mengetahui yang sebaliknya.

Saleh al-Fauzan dalam Fikih Sehari-hari berpendapat, seorang saksi haruslah menjelaskan apa yang telah ia saksikan dan ketahui. Kesaksian yang benar adalah sebuah kewajiban yang hukumnya fardu kifayah. Allah SWT berfirman, “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberikan keterangan) apabila mereka dipanggil.” (QS al Baqarah [2] : 282).

Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini menyatakan, ini merupakan perintah untuk menunaikan persaksian dan menyampaikannya kepada hakim. Sebab, hal itu sangat dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran dan hak.

Larangan bersaksi palsu termaktub dalam firman Allah SWT, “..dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS al-Hajj [22]:30). Para ulama bahkan menyejajarkan pelaku saksi palsu dengan pelaku kemusyrikan. Pelaku kemusyrikan sendiri adalah dosa paling besar dan tidak diampuni oleh Allah SWT. Dasarnya adalah beberapa ayat Alquran yang menyandingkan perbuatan dusta dengan musyrik.

Seperti dalam lanjutan surah al-Hajj ayat 30-31. “..maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”

Dalam surah lain Allah SWT berfirman, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,  mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengada-adakan  terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-A’raaf [7] :33)

Beberapa sifat ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) adalah mereka tidak suka bersaksi palsu (QS al-Furqan [25]: 72). Tafsir ayat ini disebutkan sifat lainnya, yakni kufur, bohong, fasik, sia-sia, dan perkara yang bathil. Makna lain dari ayat itu adalah nyanyian dan omong kosong. Lanjutan dari ayat 72 surah al-Furqan adalah, “dan apabila mereka bertemu dengan yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya.” Maknanya kehormatan orang-orang yang melakukan perbuatan dusta sama sekali tidak ada.

Dalam sebuah hadis, lebih jelas lagi tentang derajat keharaman saksi palsu. Rasulullah SAW menyejajarkan perbuatan saksi palsu dengan syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. Dua dosa besar yang derajat dosanya sangat besar sekali.

Dari Abu Bakrah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kau kuberi tahu tentang dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka  kepada kedua orang tua.” Ketika itu beliau sedang bersandar, kemudian beliau duduk lalu bersabda lagi, “Ketahuilah demikianlah pula ucapan bohong!” Beliau mengucapkannya berulang-ulang sehingga kami berkata, “Mudah-mudahan beliau diam.” (HR Bukhari Muslim).

Penyejajaran dengan syirik dan durhaka kepada orang tua menegaskan kedudukan dusta dalam persaksian dalam derajat dosa besar yang paling besar. Diulang-ulangnya perkataan Rasulullah saat menyebut perkataan bohong merupakan penegasan jika perbuatan ini adalah dosa yang tidak sepele.

Orang yang gemar melakukan perbuatan dusta juga termasuk golongan orang-orang munafik. Rasulullah SAW bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, apabila berkata berdusta, apabila berjanji ia ingkar dan jika diamanati ia berkhianat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dusta juga bukan sifat orang beriman. Bahkan, ia bisa menjauhkan orang tersebut dari iman. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-ngadakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS an-Nahl [16]: 105).

Orang yang memiliki iman di hatinya mungkin memiliki rasa takut. Namun, orang yang beriman disifati Rasulullah tidak memiliki sedikitpun perangai dusta. Rasulullah SAW pernah ditanya, “Apakah mungkin orang mukmin itu penakut?” Beliau menjawab, “Mungkin.” Orang itu bertanya lagi, “Apa mungkin dia bakhil?” Beliau menjawab, “Mungkin.” Kemudian orang itu bertanya lagi, “Apakah mungkin dia pendusta?” Beliau menjawab, “Tidak Mungkin.” (HR Malik). Allahu A’lam.

Sumber: Pusat Data Republika

Apa Hukumnya Menabung di Bank?

Menabung di bank telah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat modern. Guna meningkatkan kesejahteraannya, sebagian besar masyarakat telah memiliki kebiasaan untuk menabung di bank. Tabungan merupakan simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati.

Lalu  apa hukumnya menabung di bank? Adakah  jenis tabungan yang dilarang oleh ajaran Islam? ‘’Kegiatan tabungan tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah),’’ ungkap Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Atas dasar itulah, DSN MUI menetapkan fatwa No: 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan. Lalu, jenis tabungan apa yang dihalalkan dan dilarang agama Islam? Dalam fatwanya, DSN MUI yang diketuai KH Ali Yafi’e pada tahun 2000 telah menetapkan fatwa tentang tabungan.

Menurut DSN, tabungan  terbagi menjadi dua jenis. Pertama, tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah, yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. Kedua,  tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah.

Selain itu, DSB juga menetapkan ketentuan umum tabungan berdasarkan Mudharabah.  ‘’Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana,’’ ungkap Kiai Ali Yafi’e dalam fatwa itu.

Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, papar DSN,  bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Selain itu, modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

‘’Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening,’’ papar DSN.  Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Dalam fatwanya, DSN menegaskan, bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Hal lain yang disoroti DSN dalam fatwa itu adalah ketentuan umum tabungan berdasarkan Wadi’ah. Pertama,  bersifat simpanan. Kedua, simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan. Ketiga, tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Dalam menetapkan fatwa tersebut, ulama yang tergabung dalam DSN berpijak pada Alquran, hadis, ijma dan qiyas. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 29: Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu.

Selain itu,  Allah SWT juga berfirman dalam  surah Al-Baqarah ayat 283: ‘’Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya. (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

Dalam hadis yang diriwayat Ibnu Majah, Nabi bersabda, ‘’Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.’ (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

Fatwa tentang tabungan juga didasarkan pada ijma. Diriwayatkan, sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang, mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Karenanya, hal itu dipandang sebagai ijma’ (Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1989, 4/838).

Sedangkan berpijak pada qiyas,  transaksi mudharabah diqiyaskan kepada transaksi musaqah. Berdasarkan kaidah fikih, pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Para ulama menyatakan, dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya; sementara itu, tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. Oleh karena itu, diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut.

Sumber: Pusat Data Republika/Heri Ruslan

Soal Masjid di Manokwari, Kemenag: Umat Islam Perlu Instrospeksi

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) memberikan catatan atas penolakan pembangunan masjid di kompleks Anday, Manokwari Selatan. Dirjen Bimas Islam Kemenag Machasin, menilai sengketa masjid di Manokwari dibutuhkan introspeksi diri dari semua pihak, termasuk umat Islam.

“Umat Islam juga perlu introspeksi dalam hal ketertiban pembangunan masjid. Karena informasi yang kami dapat ada ketimpangan jumlah riil umat Islam dengan besarnya bangunan masjid,” ujarnya kepadaRepublika.co.id, Jumat (6/11). (Baca: Pelarangan Pendirian Masjid di Manokwari, Ini Respon MUI)

Tanpa bermaksud untuk menyalahkan, Machasin berharap umat Islam di Manokwari harus lebih bisa bersikap bijak terutama memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Bila lingkungan sekitar berbeda agama, tentu harus lebih sensitif membangun tempat ibadah.

Hal yang sama ia harapkan kepada umat agama lain, di suatu lingkungan yang dominan umat Islam. “Jadi semua pihak perlu Tepo Seliro, menghargai perasaan orang lain,” terangnya. Ia meminta sekelompok orang jangan hanya melihat hak semata, tapi juga perlu memperhatikan perasaan masyarakat sekitar.

Terkait bangunan masjid, pihaknya menerima laporan memang bangunan masjid tidak sebanding dengan jumlah penduduk Muslim di sekitar. Bangunan masjid berukuran 40×50 meter, padahal jumlah penduduk di sana masih sangat timpang. Baru 200 meter jarak jumlah penduduk terdekat.

Selain itu, masjid tersebut juga belum mendapatkan izin resmi dari Pemerintah Kabupaten Manokwari. Izin baru di dapat dari pimpinan suku dan beberapa pendeta setempat. “Karena itu, kita perlu instrospeksi juga kalau memang dirasa perlu ada yang kuran tepat, harus dibicarakan,” ujarnya.

Termasuk peran umat Islam untuk terus mengajak berdialog dengan umat lain dalam Forum Keyakinan Umat Beragama (FKUB) agar konflik bisa diredam di masyarakat. Sebelumnya muncul tuntutan penghentian pembangunan masjid dari beberapa jemaat dari berbagai denominasi Gereja Kristen Injili di Manokwari, Papua Barat.