Membaca Al Quran Saat Haid

Pertanyaan :

Bolehkah seorang wanita yang sedang haid atau nifas membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf serta menyentuh mushaf? Terutama jika ada hajat atau kebutuhan seperti wanita ini adalah seorang pelajar yang menghafal Al-Qur’an (ia takut hafalannya lupa) atau seorang guru yang mengajarkan Al-Qur’an?

Ada beberapa pendapat ulama yang masyhur tentang masalah membaca Al-Qur’an dan menyentuh mushaf bagi wanita yang sedang haid dan nifas.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berpendapat bahwa boleh bagi seorang wanita yang sedang haid dan nifas membaca Al-Qur’an karena suatu hajat atau kebutuhan seperti wanita yang menghafal Al-Qur’an atau wanita yang mengajarkan Al-Qur’an.

Akan tetapi, beliau berpendapat apabila membacanya untuk mendapatkan pahala, maka afdhalnya atau yang lebih utama adalah meninggalkannya. Karena sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh membaca Al-Qur’an.

Sedangkan dalam madzhab Abu Hanifah dan dari riwayat yang masyhur dari madzhab Syafi’i dan Ahmad (lihat kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/459), dikatakan bahwa tidak mengapa wanita yang haid membaca Al-qur’an.

Pendapat ini juga diperkuat oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla (1/77-78), beliau mengatakan bahwa wanita haid dan nifas boleh membaca Alqur’an, bersujud, menyentuh mushaf, dan berdzikir kepada Allah.

 

Wallahu A’lam

 

 

Diambil dari Fiqih Wanita

Sumber :

  • Fiqhus Sunnah Lin-Nisaa’ karya Kamal bin As-Sayyid Salim
  • ٥٢ سؤالاًَ عن أحكام الحيض في الصلاة والصيام والحج والاعتمار

 

Menuliskan Basmalah dalam Kartu Undangan

Pertanyaan:

Apa hukumnya menuliskan basmalah pada kartu undangan, semisal undangan pernikahan? Lalu bagaimana hukumnya jika membuang kartu undangan bertuliskan basmalah itu ke tempat sampah atau tempat kotor lainnya? Mengingat biasanya jika sudah tidak terpakai, kartu undangan tersebut dibuang begitu saja. Terimakasih.

Jawaban:

Sudah menjadi hal yang lumrah dalam budaya kita, manakala kita membuat atau mendapatkan undangan dari seorang Muslim, dan dalam undangan tersebut dimulakan dengan ucapan tasmiyah (yakni : “bismillah” – pen). Belakangan, muncul pertanyaan sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Bukankah biasanya undangan yang sudah tidak terpakai itu dibuang ke tempat sampah? Lalu bagaimana dengan kalimat “bismillah” yang tertuliskan dalam dalam kartu tersebut?

Pertama, patut kita ketahui bahwa sesungguhnya menuliskan ucapan tasmiyah atau basmalah atau kalimat “bismillah” dalam permulaan surat ataupun undangan itu memiliki dalil syar’i. Jadi, hal ini bukan lagi merupakan lumrahnya saja, melainkan disyariatkan oleh agama.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُل أَمرذِي بَال لَايُبدَأُ فيهِ بسمِ اللهِ فَهُوَ أَبتَرُ

“Setiap segala urusan penting yang tidak dimulai dengan basmalah maka akan terputus.”

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mencontohkan kita, bagaimana beliau memulai surat-surat beliau dengan menyebutkan nama Allah. Jadi, tidak mengapa, jika seseorang membuat surat undangan dan menuliskan kalimat basmalah untuk memulainya.

Sedangkan bagi yang menerima undangan tersebut, hendaknya ia tidak membuang undangan tersebut di tempat sampah atau tempat hina lainnya. Jika sudah tidak terpakai, kita bisa membakarnya atau dipendam di tempat yang baik. Sebagaimana dahulu Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu membakar mushaf-mushaf yang sudah tidak terpakai.

Wallahu a’lam. 

 

 

Diambil dari Fiqih Wanita

Sumber: Al-Fatawa Kitab Dakwah 2/213 oleh Syaikh bin Baz & http://asysyariah.com/kertas-bertuliskan-ayat-al-quran/

Gambar : http://site4funs.com/desktop-wallpapers/lataest-wallpaper-of-bismillah-1702/

Berbaik Sangka kepada Allah

Al-Harits Al-Muhasibi berkata, “Wahai diri, berdoalah, dan merasa malu kepada-Nya, karena engkau terlalu lama tidak memiliki rasa malu kepada-Nya.”

Wahai Tuhanku, siapa lagi yang mendengarkan betapa besar kelemahanku, dan siapa lagi yang telah melihat begitu buruknya derajatku. Maka, hanya kepadaMu-lah aku mengadu, dan hanya kepadaMu aku meminta pertolongan, meski yakin bahwa aku tak pantas untuk Engkau beri pertolongan dan Engkau lepaskan dari kepedihanku. Akan tetapi, Engkaulah yang patut memberikan kelapangan kepadaku, dan mengasihi kelemahanku (maskanati), karena pengetahuanku bahwa tidak ada yang memiliki hak memberikan pertolongan kepadaku selain Engkau, yang amat mendorong keputusasaanku untuk mendapatkan jalan keluar, kecuali dari sisiMu.

Harapanku kepadaMu, agar Engkau mengabulkan doaku dan mengentaskanku dari keterpurukanku. Sehingga, harapanku tidak sia-sia… Dan segerakanlah mewujudkan harapanku, karena keberanianku untuk mengajukan permintaan, tidak lain (karena) apa yang telah Engkau karuniakan kepadaku dengan marifat tentang keberadaanMu yang Agung, rahmatMu yang luas dan rasa ibaMu terhadap orang-orang yang lemah sebelum aku; juga pengetahuan akan orang-orang yang telah Engkau ubah derajatnya, dari beban berat dosa, banyaknya kesalahan-kesalahan, dan perbuatan-perbuatannya yang buruk.

Selamatkanlah aku, wahai Yang Maha menyelamatkan, dan kasihilah aku, wahai Yang Maha Pengasih. Karena aku, pada hari ini, berada dalam kemakmuran pada kehidupan duniaku ini, bersaman dengan buruknya kelakuanku pada segi keagamaanku.

Padahal telah dekat kepadaku sirnanya kehidupan; keterpurukanku dalam kepedihan yang susul menyusul, bencana yang bertubi-tubi dan kesedihan-kesedihan yang berlipat-lipat, berupa tibanya sang maut dan kesusahannya, dengan kecemasan yang genting (khathr) apakah yang kelak menimpa padaku adalah maaf dan pengampunan dosa (ghufran) dariMu, atau justru kemurkaan (sukhth) atas perbuatan-perbuatan maksiat (ishyan) yang telah kulakukan.

Kemudian persinggahan dalam kubur, dengan himpitan tanah, pertanyaan dari dua malaikat dan masa tinggal yang cukup lama di alam Barzakh. Kemudian dikumpulkan, dan semuanya disingkap.

Jika aku menjumpai-Mu, sementara keadaanku masih tetap seperti ini, maka betapa panjang kesedihanku di dalam kubur, dan betapa mengerikannya hari kebangkitan yang akan kujalani. Kemudian, perasaan yang selalu mencemaskan kalbuku ialah tatkala Engkau tidak segera menyelamatkanku di dunia. Sehingga menggantikan apa saja yang membuatMu marah dengan apa saja yang membuatMu ridha kepadaku.

Jika penyelamatan dari sisi-Mu atas kecemasan itu tidak aku dapatkan, kebinasaan demi Allah pasti tidak akan pernah putus sampai waktu perjumpaan denganMu, serta kehinaan di Hari Kebangkitan (an-Nasyr).

Betapa terasingnya diriku pada Hari Kiamat, betapa panjang penyesalan dan keputusasaanku, betapa lamanya tangisanku di Hari Kiamat, dan di dalam neraka ditawan terhalang dari indahnya berada di sisiMu dan penglihatan (an-nazhr) akan kemuliaan-Mu.

Aku begitu berharap meskipun Engkau menangguhkan pertolonganMu kepadaku agar Engkau tidak meninggalkanku karena buruknya kondisi spiritual (hal)-ku, hingga Engkau berbelas menyegerakan jalan keluar dan perubahan kondisiku. Maka, aku memohon kepadaMu, demi WajahMu yang Maha Mulia, KeperkasaanMu atas segala sesuatu, demi IradahMu yang mesti terlaksana dalam semua Yang Engkau kehendaki, demi sifatMu Yang Awwal yang tidak bermula, dan sifat baqa-Mu yang tak pernah berakhir, agar Engkau membuka tirai yang menyelimutiku dan tidak menyiksaku betapapun besar dosaku, betapapun banyak maksiat yang kulakukan, dan sedikitnya rasa malu yang ada padaku. [ ]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2280835/berbaik-sangka-kepada-allah#sthash.vKf0HBFQ.dpuf

Hindari Dramatisasi yang Mempersulit Diri

PERMASALAHAN yang terjadi dalam hidup kita adalah hasil dari dramatisasi yang kita lakukan sendiri. Kita lebih banyak merasakan penderitaan sebagai akibat dari buatan kita sendiri, kekhawatiran kita sendiri, kepanikan kita sendiri.

Ternyata kesemua itulah yang membuat kita menjadi merasa tertekan dan terbebani. Padahal, jika kita sikapi dengan kepala dingin, pikiran jernih dan hati yang lapang, kita tidak akan merasa kerepotan menghadapi segala kenyataan yang terjadi pada hidup kita.

Sebagai contoh misalnya, seseorang yang merasakan sakit pinggang. Kemudian, dia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Sebelum berangkat, ia bercerita pada temannya tentang apa yang sedang dirasakannya itu. Ia sampaikan segala kekhawatiran jika seandainya yang ia derita adalah penyakit ginjal, maka ia akan menghadapi risiko pengobatan dan perawatan yang tidak sederhana dan mahal. Bahkan, ia pun menceritakan kegelisahannya seandainya ternyata ia harus mengalami gagal ginjal dan menjalani cuci darah, dan seterusnya, dan sebagainya.

Semakin orang ini menceritakan ketakutan dan kekhawatirannya, maka semakin terbebanilah ia, semakin streslah ia. Beban yang datang disebabkan ketakutan-ketakutan yang ia hadirkan sendiri dari perkiraan atau dugaannya sendiri. Padahal ia sama sekali belum menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Hal seperti inilah yang banyak terjadi pada diri manusia, yang kemudian menimbulkan penderitaan jiwa di dalam diri mereka sendiri.

Maka, kendalikanlah diri sebisa mungkin agar terhindar dari sikap mendramatisir masalah yang sedang terjadi. Janganlah larut di dalam jebakan-jebakan sikap yang mempersulit diri sendiri. Karena sikap-sikap seperti itulah yang akan semakin memperbesar kesulitan dan penderitaan di dalam diri.

Allah Swt. di dalam Al Quran,“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengankadar kesanggupannya..”(QS. Al Baqarah [2] : 286).

Maha Suci Allah Swt dari perbuatan dzalim terhadap hamba-hamba-Nya. Tidak ada ketetapan-Nya yang di luar batas kesanggupan hamba-hamba-Nya. Kesemuanya sudah terukur. Tidak ada yang berat dan tidak ada yang tidak bisa dihadapi. Adapun yang berat adalah karena kita kurang ilmu dan kurang iman dalam menghadapi kenyataan yang terjadi pada diri kita, sehingga kita keliru dalam menyikapi apa yang Allah Swt tetapkan kepada diri kita.

Jadi saudaraku, hidup ini bagaikan siang dan malam. Kita siap menghadapi siang karena kita tahu persis apa yang akan kita lakukan pada siang hari. Kita pun tidak panik saat malam menjelang karena kita tahu apa yang akan kita lakukan di waktu malam.

Bahkan, tidak jarang kita sangat mendambakan malam segera datang karena kita tahu akan ada manfaat yang akan kita peroleh di waktu malam. Demikian juga, tidak jarang kita menanti-nanti datangnya waktu siang karena tahu bahwa ada hal menyenangkan yang akan didapat di waktu siang.

Memang benar, tidak jarang babak kehidupan yang menimpa kita terasa berat dan getir. Tapi itu sama sekali bukan alasan bagi kita untuk mendramatisir keadaan kemudian merasa beralasan untuk tenggelam dalam kesedihan, seolah kemalangan adalah nasibnya. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2273465/hindari-dramatisasi-yang-mempersulit-diri#sthash.aynnBvPq.dpuf

Menjaga Salat Melancarkan Rezeki

Orang yang meninggalkan salat telah melakukan dosa yang sangat besar.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan kesyirikan atau kekafiran adalah meninggalkan salat.”

Orang yang meninggalkan salat bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah. Allah subhaanahu wa taaala menyebutkan kaitan yang erat antara salat dan rezeki seseorang di dalam ayat berikut, Allah subhaanahu wa taaala berfirman:

“(131) Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (132) Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha: 131-132).

Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa orang yang mengerjakan salat kemudian memiliki kesabaran yang kuat ketika mengerjakannya, maka dia akan diberikan rezeki oleh Allah tanpa bersusah payah mencarinya. Dan ini adalah ganjaran bagi orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala.

Di dalam kisah Nabi Syuaib alaihissalaam, Allah subhaanahu wa taaala menyebutkan, perkataan Nabi Syuaib setelah kaumnya memahami bahwa salatlah yang menahan diri beliau untuk melakukan perbuatan mungkar:

Syuaib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)?” (QS Huud: 88).

Nabi Syuaib alaihissalam menjelaskan kepada mereka bahwa dengan salat dan penjelasan yang nyata dari Rabb-nya, maka Allah memberikan kepadanya rezeki yang baik dan halal. Berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Mereka sibuk mencari harta-harta haram.

Akan tetapi, sebagian orang tidak mempercayai adanya kaitan yang erat antara salat dengan rezeki seseorang. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Syuaib alaihissalaam:

“Wahai Syuaib! Kami tidak paham banyak hal dari apa yang kamu katakan.” (QS Huud: 91).

Hal ini dikarenakan terikatnya hati-hati mereka dengan dunia lebih besar daripada keterikatan mereka dengan salat.

Bertaubat dari meninggalkan salat

Orang-orang yang belum bisa mengerjakan salat lima waktu sudah sepantasnya bertaubat kepada Allah dengan segera. Sesungguhnya Allah subhaanahu wa taaala Maha Mengampuni hamba-hambanya yang bertaubat kepada-Nya.

Di antara hal-hal yang dapat meleburkan dosa adalah mengerjakan salat lima waktu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Bagaimana menurut kalian jika di depan pintu seorang di antara kalian terdapat sungai yang setiap hari dia mandi di dalamnya. Apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat menjawab, “Tidak tersisa kotoran sedikit pun di tubuhnya.” Beliau berkata, “Seperti itulah salat lima waktu, Allah bisa menghapuskan dosa-dosa dengannya.”

Allah subhaanahu wa taaala menjanjikan rezeki yang berlimpah untuk orang-orang yang mau bertaubat kepada Allah subhanahu wa taala. Allah subhaanahu wa taaala berfirman:

“(10) Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, (11). Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (12) Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuuh: 10-12). []

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283975/menjaga-salat-melancarkan-rezeki#sthash.p2CVlLzz.dpuf

Rezeki Tertahan karena Maksiat

Dosa yang dilakukan seseorang dapat berpengaruh terhadap rezeki yang Allah berikan kepadanya. Allah menahan rezeki orang-orang yang berbuat maksiat.

Allah subhaanahu wa taaala berfirman: “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS Al-Araf : 96)

“Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS Al-Ma-idah: 65-66)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Ayat-ayat di atas menunjukkan kaitan yang besar antara rezeki seseorang dengan ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa taala. Orang yang berbuat maksiat kepada Allah bukanlah orang yang bertakwa kepada-Nya. []

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283974/rezeki-tertahan-karena-maksiat#sthash.nkh65yhH.dpuf

Bahagia Tak Layak Jika Dinikmati Sendirian

BAHAGIA itu belum layak dinamai bahagia kecuali ada satu atau lebih orang lain yang ikut berserikat dalam kebahagiaan itu. Bahagia sendirian itu lebih layak disebut arogansi, kesombongan dan eksklufisme diri yang di dalam ilmu kejiwaan disebut sebagai bagian gangguan kejiwaan.

Bisa dibayangkan ada seseorang yang sendirian duduk di restoran mewah di hotel termewah, memesan semua makanan terenak untuk dimakan sendirian. Lalu dia senyum-senyum sendiri sambil setengah teriak pada setiap orang yang lewat: “enak, nyaman, istimewa, mantap menunya.” Orang waras yang lewat pasti akan menganggapnya memiliki kelainan jiwa.

Derita itu tidak layak disebut derita kecuali derita itu hanya dipikul sendirian. Sakit hati sendiri, menangis sendiri dan menjerit sendirian adalah potret derita yang sempurna. Karenanya, jangan biarkan sahabat dan saudara kita menderita sendirian. Ulurkan tangan dan bangkitkan mereka yang menderita dari deritanya, temani mereka dan ajaklah untuk tersenyum karena esok pagi bisa mempersembahkan kisah lain yang tak sama dengan yang dipikirkannya.

Islam itu menjadi agama terindah karena Islam mengajarkan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan untuk semua. Perintah untuk saling menasehati dan perintah untuk saling berbagi adalah perintah yang sangat prinsipil yang akan memampukan orang yang mengamalkannya menjadi orang-orang pilihan. Berhentilah saling menjelekkan dan berhentilah saling menjegal. Bergandeng tangan sambil tersenyum sungguh terlihat lebih menyenangkan.

Marilah tersenyum manis dan tebarkan senyum termanis itu pada orang yang ada di dekat kita sekarang. Berikan sesuatu yang bisa dengan ikhlas diberikan sebagai pelaksanaan dari saling berbagi. Ucapkan kalimat yang baik yang menenangkan dan menenteramkan orang lain, termasuk berkomentar atas status ini. Kemudian, rasakan tambahan bahagia yang akan memenuhi hati kita. Salam, AIM. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2284112/bahagia-tak-layak-jika-dinikmati-sendirian#sthash.S0mkG9Nn.dpuf

Kisah Suami-Istri Gaji 900 Ribu Nafkahi 100 Yatim

KALAU kita bisa makan walau tak punya uang bersyukurlah. Kita masih bisa pinjam uang untuk makan untuk kemudian kita bayar ketika punya nanti. Kalau kita bisa makan dan memiliki uang yang cukup untuk makan itu maka lebih bersyukurlah. Kita sungguh berhak menyebut diri sebagai orang berkecukupan.

Kalau kita punya uang dan kita tak bisa makan karena sakit maka bersabarlah. Memang selalu saja ada masa di mana ujian sakit itu harus mengisi kuliah kehidupan kita. Kalau kita punya uang berlebih dan kemudian kita bisa makan bersama orang lain, terlebih mereka yang kekurangan, maka bersyukurlah karena kita berhak merasa sebagai kelompok orang berkelebihan.

Kalau kita memiliki uang berlebihan namun tak pernah tersentuh memberi makan anak yatim dan fakir miskin nestapa maka bertobatlah dan istighfarlah karena itu berarti kita sedang menahan diri memberikan sebagian harta yang menjadi hak mereka yang membutuhkan itu.

Kalau kita orang yang tak berkelebihan namun bisa menanggung hidup banyak orang yang menurut akal “lebih” dari kemampuan kita, ini baru luar biasa. Ini berarti kita dipilih Allah untuk menjadi orang tua dari banyak orang.

Ini pelajaran hidup yang saya petik hari ini dari sepasang suami isteri yang menanggung makan 100 orang anak selama mau mondok dan sekolah dan minggu ini bertambah 3 lagi anak yatim lagi, hanya dengan penghasilan resmi suami-isteri 900 ribu rupiah perbulan sebagai kepala sekolah swasta. Tak hanya makannya yang 3x sehari semalam, kadang lengkap dengan uang saku dan biaya sekolahnya. Ini menarik karena tak ada bantuan dari pemerintah dan pasangan ini tak pernah mengajukan proposal bantuan untuk urusan ini.

Saya dan isteri sering “menggoda” pasangan suami isteri yang sudah 4 kali ini ke Mekah tentang “kenekatan”nya. Dijawabnya dengan senyum dan berkata: “Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemberi Rizki dengan caraNya, bukan dengan cara kita.” Selamat adikku, semoga selalu sehat dan panjang umur. Salam, AIM. [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283372/kisah-suami-istri-gaji-900-ribu-nafkahi-100-yatim#sthash.gmp88CcJ.dpuf

Milisi Syiah Lebanon Bunuh Dokter di Kota Zabadani, Suriah

Akhir bulan Maret, aktivis lokal mengatakan bahwa, dua tokoh di kota Zabadani diperangi dan dibunuh pada hari Jum’at oleh milis Hizbullah, Lebanon.

Sebagaimana yang dilansir Zaman Al-Wasl (26/3), Dr Mohamed al-Khos, seorang dokter yang bertugas di kota tersebut dan Kolonel Abdul Karim Alloush, 56 tahun, telah tewah terkena tembakan yang diluncurkan oleh penembak jitu kelompok Iran-Proxy pada hari Jum’at.

Al-khos adalah seorang dokter ahli bedah yang dihormati di daerah Zabadani, ia menolak untuk meninggalkan kota tersebut dan tetap bersikeras memilih tinggal di Zabadani dan membantu masyarakatnya, bahkan ada ratusan orang yang dirawat olehnya. Kata seorang aktivis.

Insident Penembakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terang-terangan yang dilakukan oleh kelompok Hizbullah terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati pada tahun 2015.

(Eka Aprila)/Bumi Syam

Gabungan NGO Kemanusiaan Gelar Aksi Damai Tolak Agresi Rusia di Suriah

Jum’at siang (8/1), Aliansi Merah Putih Peduli Suriah yang merupakan gabungan dari beberapa LSM Kemanusiaan melakukan aksi damai solidaritas kemanusiaan di depan Kedubes Rusia di Jakarta.

Setidaknya 12 LSM dan pergerakan Islam di Indonesia melakukan aksi damai di depan kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia untuk Indonesia, Jl Rasuna Said, Jakarta. Aliansi ini diikuti oleh Forum Indonesia Peduli Syam, Majelis Az-Zikra, Sinergi Foundation, Sapa Islam, Road 4 Peace, Auction4Humanity, Charity4Syria, Human Right Care for Palestine, dan Islampos Aid.

Juga diikuti oleh Mahasiswa Pecinta Islam, Syam Organizer, KAMMI, Sahabat Al Aqsha, Sahabat Suriah, Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), World Human Care, dan Hilal Ahmar Society Indonesia.

Hadir pula perwakilan dari komunitas el-MAHALLI (Mahasiswa Hidayatullah LIPIA Jakarta). Aksi damai ini berlangsung selepas shalat Jumat, sekitar pukul 13.00-14.50 WIB.

IMG_4443Invasi militer Rusia ke wilayah Suriah sejak malam 30 September 2015 telah memperburuk kondisi kemanusiaan di Suriah. Alasan Rusia untuk masuk ke Suriah dengan dalih memerangi terorisme, justru bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Ribuan warga sipil tewas. Ratusan Wanita dan anak-anak meregang nyawa.

Tak pelak, agresi Rusia hanyalah menambah amunisi untuk melanggengkan kejahatan HAM yang dilakukan diktator Bashar Assad.

Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat, 55.219 orang telah tewas akibat tragedi kemanusiaan di Suriah sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2015. Warga sipil menempati jumlah korban terbanyak, lebih dari 20.000 orang. Banyak dari mereka mengalami cacat permanen, ratusan ribu anak-anak menjadi yatim piatu, lebih dari setengah populasi Suriah mengungsi sejak perang berkecamuk di sana.

Amnesty International mencatat, akibat agresi Rusia sedikitnya 100 ribu orang telah melarikan diri dari Aleppo, sementara 1.000 lainnya melarikan diri ke sebuah kamp pengungsi di pinggiran kota Atma, Idlib.

IMG_4454Indikasi banyaknya korban sipil dari serangan Rusia ke Suriah memang sudah terlihat sejak serangan pertama. Sebanyak 35 warga menjadi korban di Idlib pada malam 30 September 2015.

Bahkan serangan terbesar terjadi di Provinsi Idlib, 49 warga Sipil pada 29 November 2015 meninggal dunia secara bersamaan setelah tiga misil menghantam satu pasar di Ariha.

Selain membunuh warga sipil, serangan Rusia juga menyasar fasilitas medis dan konvoi kemanusiaan. Di Idlib, Aleppo, dan Hama, Rusia membombardir instalasi kesehatan. Akibatnya, rumah sakit dan ambulans hancur. Para dokter, perawat, staf rumah sakit dan pasien pun turut tewas dalam serangan Rusia. Bahkan, pada akhir November 2015 lalu, pesawat-pesawat tempur Rusia menyerang konvoi bantuan kemanusiaan wilayah Aleppo yang berusaha memberikan pasokan kepada para pengungsi.

Maka diamnya masyarakat Internasional atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Suriah, akan mendorong lagi para penjahat untuk membunuh manusia dan kemanusiaan. Sudah seharusnya Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki sikap nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Suriah. (san)

 

sumber:BumiSyam.com