Waktu dan Tempat Mustajab untuk Berdoa

Kala sesesorang memanjatkan doa dengan penuh harap, tentu ia ingin agar doanya diijabah oleh Allah SWT. Doa juga memiliki adab-adab. Selain harus bersih dari hal yang haram, ada pula waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat khusus yang bisa mempercepat dikabulkannya doa.

Ketua IKADI Prof Dr Ahmad Satori Ismail mengatakan saat shalat adalah saat terbaik untuk doa. Karena hakikatnya seluruh bagian shalat yang dikerjakan umat Muslim merupakan doa. “Saat berpuasa juga dianjurkan banyak berdoa, dalam haji selain ibadah secara fisik juga harus berdoa, zakat pun tak hanya niat, dalam niat ada doa,” ujar dia.

Kiai Satori menjelaskan ada tempat dan waktu yang lebih mustajab untuk berdoa. Waktu khusus tersebut Allah SWT janjikan diijabahnya doa seperti setelah shalat fardhu, tengah malam, ketika bepergian, hari Jumat, bulan Ramadhan, saat berpuasa, menjelang berbuka, malam lailatul qadr, sedang mendapatkan kenikmatan, saat shalat ied, dan setelah lebaran.

“Sedangkan dari sisi tempat, sebagian besar tempat yang mustajab berada di Arab Saudi, seperti di Raudhah, Masjidil Haram, Makkah, depan Multazam, belakang Makam Nabi Ibrahim, Hijr Ismail, Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan masjid-masjid yang selalu dijadikan tempat iktikaf,”ujar dia.

Orang mukmin harus berdoa dengan hati dan kekhusyuan. Dalam meminta harus sungguh-sungguh dan lebih bagus diulang sampai tiga kali.“Allah tidak menerima dari mulut yang hatinya lengah, lalai dan lupa,”jelas dia.

Orang yang dalam keadaan terdesak dan dizalimi pun dapat diijabah doanya.Begitu juga dengan doa orang tua terhadap anak dan sebaliknya serta guru pada murid-muridnya.

 

sumber: Republika Online

Alasan Hari Kiamat Dirahasiakan

Tiada satu makhluk Allah pun yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat, bahkan nabi atau malaikat yang paling dekat dengan Allah sekalipun. Hanya Al¬lah yang mengetahui datangnya hari kiamat.

Demikian penggalan materi tausyiah bertajuk ‘Yaumul Akhir’ Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif (iHaqi), Erick Yusuf  ketika menghadiri acara Buka Bersama di Hotel Harris Festival City Link Bandung. “Hari Akhir itu adalah hari berakhir dan hancurnya alam semesta. Segala yang masih hidup akan mati, langit dan bumi akan diganti, bukan lagi langit dan bumi yang seperti sekarang,” kata Ustaz.

“Seperti ada dalam Qur’an :“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui“. (QS. Al-A’raf : 187).”

Meskipun demikian, Allah SWT memberitahukan kita melalui Rasulullah SAW mengenai tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Allah sengaja merahasiakan waktu tibanya hari kiamat karena adanya hikmah syariat. maksudnya adalah agar manusia lebih memperhatikan ketaatan terhadap Allah dan lebih menghindari diri dari perbuatan maksiat.

“Dengan demikian, saksi amalan bagi manusia di alam akhirat nanti bukan saja anggota tubuhnya. Namun, alam (bumi) pun akan bersaksi terhadap segala yang dilakukan oleh seseorang semasa hidupnya. Oleh karena itu, berbuatlah kebajikan selama kita hidup di dunia. Bertakwalah dengan sesungguh-sungguhnya takwa kepada Allah SWT,” kata dia.

 

sumber: Republika Online

Kemenlu Belum Bisa Konfirmasi Santunan Raja Salman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Luar Negeri, Kamis (17/9), mengaku belum menerima konfirmasi uang diyat atau santunan yang dikabarkan akan diberikan Raja Saudi Salman kepada para korban jatuhnya crane.

Kemenlu mengatakan, telah meminta Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah untuk meminta kebenaran tersebut.

“Mereka mendapatkan angka itu namun bukan pernyataan resmi. Kami akan meminta konfirmasi lagi,” ujar juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir atau yang akrab disapa Tata itu.

Sebelumnya media-media Arab mengabarkan, Raja Salman akan memberikan uang santunan sebesar 1 juta riyal Saudi atau sekitar Rp 3,8 miliar bagi keluar korban tewas crane.

Sedikitnya, 107 calon haji menjadi korban tewas jatuhnya crane di Masjidil Haram, Jumat (11/9) lalu. Sementara 10 di antaranya teridentifikasi calon haji dari Indonesia.

Insiden jatuhnya crane diduga karena cuaca buruk yang belakangan terjadi di Arab Saudi. Namun pemerintah Arab Saudi terus melakukan penyelidikan terkait jatuhnya crane terberat kedua di dunia itu.

Bahkan, seperti diberitakan Reuters, Raja Salman menghentikan menjatuhkan sanksi ke perusahaan Bin Ladin Grup yang melakukan pembangunan di Masjidil Haram.

Kebakaran di Hotel Makkah, 1.000 Jamaah Asia Dievakuasi

Sekitar 1.000 jamaah asal Asia dievakuasi pada Kamis (17/9), setelah hotel mereka terbakar di Makkah. Kantor pertahanan sipil mengatakan, insiden melukai dua orang jamaah.

The National melaporkan, petugas pemadam kebakaran telah menyelamatkan dua jamaah yang terluka. Kantor pertahanan sipil tak memberikan keterangan kewarganegaraan korban. Mereka juga tak mengumumkan apa yang menjadi penyebab kebakaran.

Insiden terjadi tak lama setelah insiden jatuhnya crane yang menewaskan 107 orang, termasuk beberapa jamaah Asia. Pada 2006, lebih dari 360 jamaah meninggal akibat berdesakan di dataran gurun Mina, dekat Makkah.

 

sumber: Republika Online

Menengok Rumah Kelahiran Rasulullah SAW

Mengutip pendapatnya Caussin de Percevel dalam Essay sur l’Histoire des Arabes, Husein Haykal menyatakan, Nabi Muhammad dilahirkan di Kota Makkah pada bulan Agustus tahun 570 M. Kalangan Muslim di seluruh dunia, umumnya mengambil pandangan Ibnu Hasyim, Ibnu Ishaq, Ibnu Abbas, dan Caussin tersebut.

Seluruh umat Islam juga percaya bahwa Rasulullah SAW dilahirkan di rumah kakeknya yang bernama Abdul Muthalib. Rumah itu kini dipercaya telah dijadikan perpustakaan (Maktabah) Makkah al-Mukarramah. Hal yang sama juga diakui oleh Muhammad Husein Haykal.

Sejumlah pihak mengemukakan alasan dijadikannya rumah Abdul Muthalib tersebut sebagai perpustakaan. Intinya adalah untuk menghindari pemujaan oleh sebagian umat Islam terhadap tempat tersebut. Bahkan, kalangan Wahabi sebenarnya bermaksud menghancurkan tempat tersebut. Tujuannya agar tempat tersebut tidak dijadikan sebagai berhala-berhala baru atau tempat pemujaan.

Mereka tidak ingin ada situs-situs Islam yang menjadi sesembahan umat Islam. Demikian halnya dengan pemerintah Arab Saudi, mereka juga pernah merencanakan untuk menghancurkan bangunan tersebut dengan maksud untuk memperluas Masjid al-Haram. Namun, akhirnya dibatalkan.

Kini, rumah itu telah dijadikan sebagai perpustakaan. Disana-sini dilakukan renovasi untuk menjaga bangunan tersebut agar tetap terjaga dan terpelihara. Hanya saja, lokasi tersebut sengaja disembunyikan dari perhatian khalayak umum agar tidak ada pemujaan terhadap tempat tersebut. Didalamnya berisi berbagai buku-buku dan literatur sebagai bacaan umat Islam untuk menggali beragam ilmu pengetahuan.

Menurut Sirah an-Nabawiyah, tempat kelahiran Nabi Muhammad itu dulunya dikenal dengan lembah Abu Thalib. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, rumah itu ditempati oleh Aqil bin Abi Thalib, yang kemudian diikuti oleh anak keturunannya. Selanjutnya, rumah itu dibeli oleh Khizran.

Dalam perkembangannya, di lokasi tersebut sempat dibangun sebuah masjid oleh Al-Khaizuran, ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Namun, bangunan itu kemudian dihancurkan dan dijadikan perpustakaan oleh Syekh Abbas Ottoman (1370 H/1950 M).

Kini, kaum Muslimin dengan mudah mengenali tempat itu karena diatasnya tertulis Maktabah Makkah al-Mukarramah yang berarti perpustakaan Makkah al-Mukarramah.

Konon, bangunan yang berdiri sekarang ini tetap berdiri karena desakan Wali Kota Makkah, Syekh Abbas Qaththan, yang meminta agar Raja Saudi Arabia, King Abdul Aziz, mengizinkannya untuk membangun perpustakaan di tempat tersebut. Akhirnya terwujudlah bangunan itu.

Bangunan yang ada sekarang ini ukurannya sekitar 10×18 meter. Dibandingkan dengan bangunan lainnya, bangunan ini sangat sederhana sekali. Bahkan, oleh pemerintah Arab Saudi, bangunan itu terkadang dibiarkan terkunci diakibatkan adanya kekhawatiran akan terjadi pemujaan terhadap tempat itu.

Selain buku-buku, di bagian sebelah kiri bangunan itu digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Sementara pada bagian kanan, langsung berhadapan dengan tempat pengambilan air Zamzam. Bagian belakangnya berbatasan dengan jalanan yang biasa dilalui baik oleh masyarakat maupun jamaah haji (dan umrah) yang ingin melaksanakan ibadah ke Masjid al-Haram.

Sungguh sangat memperihatinkan bila melihat kondisi bangunan itu. Dibandingkan dengan sejumlah bangunan yang ada di Makkah lainnya, tempat yang dipercaya sebagai rumah kelahiran nabi akhir zaman itu, sangat sederhana di negeri yang kaya dengan minyak itu.

Sumber: Pusat Data Republika/Syaruddin el-Fikri

Rumah Tempat Berteduh

Oleh: Ali Farkhan Tsani

Rumah secara fisik adalah tempat berteduh dari panas, angin, dan hujan, serta tempat beristirahat setelah bekerja seharian mencari nafkah. Di dalam rumah, anggota keluarga berkumpul melakukan berbagai kegiatan rutin.

Mulai dari makan, minum, masak, mandi, buang hajat, mengobrol, hingga tidur melepas penat dan lelah. Rumah secara psikologis merupakan tempat mendapatkan ketenteraman, kedamaian, kebahagiaan, keamanan, dan kenyamanan bagi para penghuninya.

Karena itu, banyak pemilik rumah sederhana atau bahkan gubuk bambu sekalipun merasa bahagia. Sebab, meskipun gubuk namun suasana di dalamnya penuh dengan keceriaan, keterbukaan, kejujuran, dan tanggung jawab bersama.

Rumah dalam bahasa Arab disebut dengan bayt (tempat bermalam),daar (tempat beraktivitas), maskan (tempat menetap dengan tenang), atau manzil (tempat persinggahan). Keempat makna ini menunjukkan fungsi rumah seseungguhnya bagi para penghuninya.

Di dalam Alquran, Allah SWT menyebutkan, “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.’’ (QS an-Nahl [16] : 80).

Ibnu Katsir menguraikan ayat tersebut dengan penjelasan bahwa Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas hamba-hamba-Nya dengan menjadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka.

Sehingga, mereka menjadikan rumah itu sebagai tempat kembali dan berlindung serta tempat mendapatkan berbagai manfaat. Oleh karena itu, rumah bagi seorang Muslim mungkin hanya sebuah gubuk bambu sederhana.

Namun, di dalam rumah itu penuh dengan rasa syukur kepada Allah, ridha dengan pemberian-Nya, serta penuh dengan nuansa ibadah. Para anggota keluarganya merasa bahagia bukan karena mereka memiliki furnitur yang serba lengkap dan mahal.

Bukan harta yang membuat kebahagiaan muncul dari hati para penghuninya, melainkan karena keyakinan penuh mereka kepada Tuhannya, menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan-Nya, serta menempatkan Muhammad SAW sebagai contoh teladan mereka.

Keadaan semacam itu terungkap dari rumah Nabi Muhammad yang secara fisik sederhana, dengan tempat tidur beralaskan pelepah kurma, tidak ada persediaan harta dan makanan.

Meski demikian, beliau menyebut suasana dalam rumahnya dengan ungkapan luar biasa, “Rumahku adalah surgaku” (baitii jannatii).

Karena itu, memperbaiki rumah memang penting, seperti mengganti genting yang bocor, mengecat kembali warna yang pudar, memberi pagar pembatas, dan sebagainya. Namun, jauh lebih penting dari itu semua adalah memperbaiki suasana di dalam rumah.

Cara memperbaiki suasana tersebut, di antaranya dengan mengembuskan nuansa ibadah, merenovasi kebiasaan para penghuninya untuk saling jujur dan terbuka, serta menambal sifat-sifat buruk dengan berbagai kebaikan. Insya Allah.

 

sumber: Republika Online

Pengaruh Arah Rumah dalam Islam

ass. wr wb. pak ustadz

semoga pak ustadz selalu dalam lindungan Allah Swt, amin. pak ustadz, saya baru beli rumah, tapi pemiliknya bukan orang muslim, rumah itu sendiri masih ada yang mengontrak. menurut yang mengontrak rumah itu agak “seret” rejekinya. apakah memang benar dalam islam kita percaya bahwa suatu rumah akan mempengaruhi rejeki penghuninya. juga arah rumah yang menghadap ke selatan lebih baik dibanding menghadap ke arah lain. mohon penjelasan dari pak ustadz. terimakasih dan wassalam

Waalaikumusslam Wr Wb

Saudara ds yang dimuliakan Allah swt

Sebagai seorang muslim haruslah meyakini bahwa rezeki seluruh makhluk ada ditangan Allah swt, termasuk rezeki manusia. Dan tak satu makhluk pun yang luput dari pemberian rezeki oleh Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud : 6)

Bahkan Allah swt telah menuliskan bagi setiap bayi yang akan terlahir rezekinya bersamaan dengan ajal, amal serta celaka atau bahagianya sebagaiamana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya tiap-tiap kalian akan dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqoh selama itu juga, kemudian menjadi mudhghoh selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya. Lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : rezekinya, ajalnya, amalnya dan celaka serta bahagianya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Allah pula lah yang menjadikan rezeki sebagian manusia dilebihkan dari sebagian lainnya dengan hikmah dan pengetahuan-Nya.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf : 32)

Sebagai konsekuensi dari persyahadatan seorang muslim yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah adalah meyakini bahwa rezeki yang diterima atau didapat seluruhnya adalah berasal dari Allah swt, tidak diperbolehkan baginya untuk meyakini hal-hal yang berbau khurafat atau kemusyrikan didalam permasalahan rezeki ini, seperti : keyakinan bahwa letak arah rumah mempengaruhi rezeki yang didapatnya.

Akan tetapi apabila letak rumah strategis menjadi bahan pertimbangan seseorang didalam berbisnisnya yang dari situ diharapkan akan banyak pembelinya dan mendapatkan income berlebih maka hal ini dibolehkan, seperti : seorang yang ingin membuka sebuah toko lalu memilih rumah di pinggir jalan yang banyak dilalui orang. Hal demikian termasuk didalam kategori ikhtiyar (usaha) yang dibolehkan dan sebagai sebuah sebab baginya untuk mendapatkan income tambahan namun diharuskan baginya untuk meyakini bahwa rezeki atau pendapatannya itu adalah dari Allah swt dengan tetap bertawakal kepada-Nya.

Sedikitnya rezeki seseorang bisa jadi sebagai sebuah ujian dan cobaan baginya untuk menaikkan derajatnya di sisi Allah swt sebagaimana Dia swt telah menguji manusia-manusia pilihan-Nya yang terdahulu, dari kalangan para Nabi dan salafusshaleh, sebagaimana firman Allah swt :

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٨٣﴾
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ﴿٨٤﴾

Artinya : “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al Anbiya : 83 – 84)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh kefakiran dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al Baqoroh : 214)

Namun bisa juga kekurangan atau seretnya rezeki yang didapat seseorang adalah dikarenakan dosa atau maksiat yang dilakukannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya seseorang terhalang rezekinya disebabkan dosa yang menimpanya dan tidaklah takdir itu dicegah kecuali dengan doa dan tidaklah umur bertambah kecuali dengan kebaikan.” (HR. Ahmad)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo Lc

‘Kembalikan Semua kepada Allah SWT!’ (Habis-2)

Oleh: KH Hasyim Muzadi

 

Kewajiban kita adalah bersyukur karena memperoleh anugerah kesempatakan menjadi “kepanjangan tangan”  Allah dalam menyampaikan kebaikan dan kebajikan. Jamaknya, Allah akan memilih orang-orang tertentu karena mujahadahnya dalam beribadah agar dapat menjadi perantara datangnya kebaikan dan kebajikan. Sebab, Allah tidak akan turun “tangan” langsung menyuguhkan penganan kepada kita. Ia akan menyiapkan perantara agar kebaikan-Nya sampai kepada yang berhak.

Kebaikan dan kebajikan Allah beragam jenisnya dan sangat tak terhitung jumlahnya. Allah akan terus menambah kebaikan dan kebajikan itu, jika kita pandai bersyukur. Allah mengajari kita bersyukur agar kita menjadi tahu diri bahwa itu bukan milik kita, tetapi sebatas titipan yang kapan saja Allah berkehendak, semua bisa diambil kembali. Maka, para pemimpin yang merasa mendapatkan amanah kepemimpinan mesti menunaikan amanah sesuai tuntunan Allah.

Itulah bentuk kesyukuran bagi para pemimpin. Menyukuri anugerah kepemimpinan adalah dengan bermujahadah semaksimal mungkin demi terciptanya kemaslahatan untuk semua orang. Kepemimpinan berubah menjadi laknat jika tak ditunaikan dengan semestinya, apalagi hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, golongan, dan sekelompok orang. Allah telah menyiapkan azab yang pedih bagi mereka yang tidak mensyukuri nikmat kepemimpinan dengan benar.

Ilmu, harta kekayaan, kekuatan fisik, ketampanan diri, kecakapan, keterampilan, kemahiran, keahlian dalam semua bidang, kesempatan, peluang dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk lain dari anugerah  Allah. Mereka yang memiliki ini semua punya peluang untuk mencapai sukses dan prestasi. Maka, para ilmuwan, hartawan, para ahli, dan pelaku ekonomi yang tak manjalankan amanah keilmuan, kekayaan, serta keahliannya untuk tujuan kemaslahatan umat dincam dengan azab yang pedih.

Tetapi, jika mereka mampu membantu bangsa keluar dari krisis, jangan lantas merasa berhak mendapat  pujian. Para politisi yang karena kesadarannya sebagai perantara kebaikan Allah, lalu berhenti membuat gaduh dan hanya berjuang untuk kepentingan rakyat, jangan mengaku pantas diguyur dengan kembang puja puji. Segera kembalikan dan pulangkan semua itu kepada Allah. Kalian menjadi politisi, juga karena kebaikan Allah kepada kalian.

Untu kita semua, mari belajar, berlatih, melakukan riyadhah agar biasa hidup tak memiliki apa-apa karena semua hidup dan isinya memang semata milik Allah SWT. Celakalah kita jika hati sudah tertambat pada hal-hal yang bukan milik kita. Kita akan didera oleh perjalanan yang tak pernah ada ujung. Kehidupan yang tak pernah ada akhir. Pencarían yag tak pernah bertemu muara. Semua ini bisa teratasi jika kita menjadikan Allah sebagai tempat kita kembali.

Karena itu, sudahlah! Sudah cukup perjalanan sia-sia ini. Perjalanan yang sudah nyaris di ujung  tetapi kita masih berada di luar garis “permainan”. Segeralah kembali ke jalan yang lurus dan benar. Jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Jalan yang terjal tetapi akan berujung landai di surga  keridhaan-Nya. Maka, kewajiban kita adalah mengembalikan semua bentuk penghormatan, penghargaan, dan pujian hanya kepada pemiliknya, yaitu Allah SWT. Wallaahu a’lamus bish shawaab.

 

sumber: Republika Online

Kembalikan Semua kepada Allah SWT!’ (1)

Oleh: KH Hasyim Muzadi

 

 

“Idzaa Athlaqats Tsanaa-a ‘Alaiyka
Wa Lasta Bi Ahlin
Fatsni Alayhi Bimaa Huwa Ahluh—
Jika Allah membiarkan suatu pujian kepadamu,
padahal engkau tak layak untuk itu
maka pujilah Allah karena Dialah yang berhak atas pujian itu.”

–Ibnu ‘Atho’—

Sudahlah, kembalikan semua kepada Allah SWT. Jangan membiasakan diri mengaku sebagai pemilik semua hal. Jangan merasa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Semua itu milik Allah. Semua alam semesta dan semua yang selain-Nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya. Termasuk kita dan kehidupan kita. Allah yang menciptakan kita sebagai mahluk paling sempurna lalu menganugerahkan kehidupan kepada kita. Kita adalah milik Allah dan pada saatnya akan kembali kepada-Nya.

Sering dalam hidup sehari-hari kita menghadapi beragam masalah. Ada yang menyenangkan ada yang menjengkelkan, mengharukan atau membuat kita tertawa, menenangkan atau membingungkan. Membuat kita bersemangat atau merasa kehilangan harapan. Mendapatkan hinaan atau menangguk pujian. Semua terlahir akibat perbuatan kita. Siapa yang menggerakkan kita? Siapa yang mengatur semua ini? Siapakah sumber segala keteraturan hidup?

Semuanya bersumber dari Allah SWT. Kalau karena sebuah perbuatan, lalu perbuatan itu dianggap sebagai prestasi maka kita mesti belajar mengembalikan semua itu kepada Allah SWT. Penghargaan yang diberikan karena prestasi, pujian yang disajikan karena keluhuran budi, penghormatan yang disampaikan karena ketinggian pencapaian adalah sesuatu yang niscaya. Keniscayaan itu milik Allah. Kita bisa mencapai semua itu karena campur tengan Allah juga.

Allahlah yang menumbuhkan semangat sehingga kita giat bekerja. Allah pula yang menghadirkan wajah ayah-bunda kita sehingga kita selalu berikhtiar agar bisa menjadi anak yang saleh. Allah yang menumbuhkan jalan bagi sukses pekerjaan kita. Allah yang menyingkirkan aral yang melintang sehingga kita bisa sampai di garis finis tugas-tugas kita di kantor. Allah adalah alasan bagi semua kebaikan yang mungkin kita lakukan. Allah adalah segala-galanya dalam kehidupan kita.

Maka, kembalikan semua pujian, penghargaan, dan penghormatan hanya kepada Allah. Jika kita  membiasakan berperilaku seperti ini maka Allah akan melempangkan jalan kita untuk selalu berada di dekat-Nya. Paling kurang, Allah akan selalu setia menemani kita, meluruskan jika polah tingkah kita berbelok, memperbaikinya jika ada yang kurang, menegur kita jika amalan tidak berdasarkan semua tuntunan-Nya, dan memaafkan jika kita memohon ampun karena mengakui kesalahan.

 

REPUBLIKA.CO.ID

Kemenag Diminta Segera Temukaan Jamaah Yang Hilang usai Peristiwa Crane

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Komisi VIII DPR RI mendesak kementerian agama untuk segera mencari kejelasan status jamaah haji Indonesia yang sampai hari ini belum ditemukan pascaperistiwacrane di masjidil Haram Jumat lalu.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengatakan, jamaah yang belum kembali tersebut bernama Janniro binti H Gadumbang berasal dari kloter 9 Embarkasi Kualanamu Medan.

“Saya telah menyampaikan informasi ini kepada PPIH (Petugas Pelaksana Ibadah Haji) daker Mekkah. Saya juga melaporkan hal itu langsung kepada menteri agama. Mereka berjanji akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencari jamaah tersebut,” ujar Saleh kepada Republika.co.id, Selasa (15/9).

Ia menjelaskan, Selasa (15/9) sore waktu Arab Saudi, rombongan pengawas Komisi VIII akan bertolak ke Makkah untuk melakukan rapat koordinasi sekaligus mendengar laporan dari PPIH daker Makkah. Rapat koordinasi tersebut juga akan dihadiri oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah beserta jajaran kementerian agama lainnya.

Komisi VIII juga akan mengunjungi rumah sakit tempat jamaah haji Indonesia dirawat. Selain itu, tim pengawas DPR RI juga akan mencari jamaah yang belum diketahui keberadaannya tersebut.

Redaktur : Didi Purwadi
Reporter : Marniati