Bersabar Atas Ujian Allah pada Kita

Setiap manusia akan Allah beri cobaan. Cobaan yang diberikan adalah hal-hal yang dicintainya. Mari kita bersabar dan bersyukur atas setiap cobaan yang Allah berikan pada kita.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT berfirman: bila Aku member cobaan kepada HambaKu dengan kedua yang dicintainya (kedua matanya) dan dia tetap sabar, maka Aku ganti kedua yang dicintainya (kedua matanya) dengan syurga”. (HR. Bukhari)

 

sumber: Ummi-Online

Saat Banjir Melanda, Amalkan Do’a Ketika Terjadi Hujan Deras

Banjir dapat terjadi karena hujan yang terus menerus turun atau karena adanya hujan deras, bisa juga karena banjir kiriman. Jika yang terjadi adalah hujan yang begitu deras di tempat kita atau hujan yang tidak kunjung berhenti, maka kita bisa meminta pada Allah untuk memalingkan hujan tersebut pada tempat yang lebih manfaat dengan mengamalkan do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Do’a yang dimaksud adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

(Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa. Allahumma ‘alal aakaami wadz dzirabi wa buthuunil awdiyati wa manabitis syajari)

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami. Ya, Allah! turunkanlah hujan di dataran tinggi, di bukit-bukit, di perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” 1

Do’a di atas disebutkan dalam hadits Anas bin Malik, ketika hujan tak kunjung berhenti (dalam sepekan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memohon pada Allah agar cuaca kembali cerah. Lalu beliau membaca do’a di atas. (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897).

Do’a tersebut berisi permintaan agar cuaca yang jelek beralih cerah dan hujan yang ada berpindah pada tempat yang lebih membutuhkan air. [ed]

Atau untuk ringkasnya membaca:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا

“Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa” [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami]

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata menjelaskan hadits, “Maksud hadits ini adalah memalingkan hujan dari pusat kehidupan, al-aakaam adalah jamak dari akmah dengan memfathahkan hamzah, yaitu gunung kecil atau apa yang tinggi di bumi (dataran tinggi). Adz dziraf maknanya adalah bukit yang kecil. Adapun penyebutan lembah karena di situlah tempat berkumpulnya air dalam waktu yang lama sehingga bisa dimanfaatkan oleh manusia dan binatang ternak.”2

Ibnu Daqiq Al-‘Ied rahimahullah berkata, “Hadits ini merupakan dalil doa memohon dihentikan dampak buruk hujan, sebagaimana dianjurkan untuk berdoa agar turun hujan, ketika lama tidak turun. Karena semuanya membahayakan (baik lama tidak hujan atau hujan yang sangat lama, pent).”3

Syaikh Abdul Aziz bin Biz rahimahullah berkata,  “Selama hujan tidak membawa bahaya maka –alhamdulillah– ucapkan doa:

اللهم صيّباً نافعاً، مطرنا بفضل الله ورحمته

Allahumma shayyiban nafi’a, muthirna bifadhlillahi wa rahmatihi, Allahummaj’alhu mubarakan

Jika hujan ini memberatkan, maka berdoalah:

اللهم حوالينا ولا علينا

Allahumma hawalaina wa laa ‘alaina”4

Jadi, bagi saudara-saudara kami yang merasakan hujan yang begitu deras, amalkanlah do’a di atas. Moga hujan tersebut turun tidak membawa musibah banjir. Moga dengan diberikannya ujian, kita sadar untuk bertaubat pada Allah. Moga kita pun terus diberi kesabaran. [ed]

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Editor: M. Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

 

1 HR. Al-Bukhari 1/224 dan Muslim 2/614

2 Fathul Baari 2/505, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, syamilah

3 Ihkam Al-Ahkam, 1/358. Mathba’ah As-Sunnah Muhammadiyyah, syamilah

//

 

Semoga Hujan Ini Mendatangkan Manfaat

ssalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah, negeri kita tengah dilanda berbagai macam bencana: tanah longsor, gunung meletus, hingga banjir bandang. Selayaknya kita banyak beristigfar, …

 

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah, negeri kita tengah dilanda berbagai macam bencana: tanah longsor, gunung meletus, hingga banjir bandang.

Selayaknya kita banyak beristigfar, bertaubat kepada Allah, dan menengadahkan tangan ke atas langit untuk berdoa kepada-Nya.

Berikut ini kami salinkan beberapa doa yang sangat bagus dibaca dalam kondisi saat ini. Semoga Allah berkenan mengabulkannya.

Berdoa ketika hujan turun

Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ‘Allahumma shoyyiban nafi’an (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat).’” (HR. Bukhari, no. 1032)

Ibnu Baththal mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdoa ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak manfaatnya.” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal, 5: 18, Asy-Syamilah)

Turun hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan; lihat Shahihul Jami’, no. 3078)

Doa ketika hujan lebat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebat, beliau memohon kepada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiraabi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan).” (HR. Bukhari, no. 1014)

Syaikh Shalih As-Sadlan mengatakan bahwa doa di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya. (Lihat Dzikru wa Tadzkir, Shalih As-Sadlan, hlm. 28, Asy-Syamilah)

Berdoa setelah turun hujan

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah shalat, lalu mengatakan, ‘Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?’ Kemudian mereka mengatakan, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa yang mengatakan ’muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘muthirna binnau kadza wa kadza’ (kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini) maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang.’” (HR. Bukhari, no. 846; Muslim, no. 71)

Doa apabila ada angin kencang

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya.” (HR. Abu Dawud, 4:326; Ibnu Majah, 2:1228, lihat kitab Shahih Ibnu Majah, 2:305)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya dan kebaikan tujuan dihembuskannya angin ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan tujuan diehmbuskannya angin ini.” (HR. Bukhari, 4:76; Muslim, 2:616)

Apakah penduduk negeri itu merasa aman?

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka pada malam hari sewaktu mereka sedang tidur?” (Qs. Al-A’raf: 97)

أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka sewaktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Qs. Al-A’raf: 98)

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 99)

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk segera beristigfar dan bertaubat dari segala dosa dan maksiat, yang dilakukan secara sengaja maupun tak sengaja, yang dilakukan sendirian maupun beramai-ramai, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Mari bertaubat sebelum terlambat
Mari berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa

Maraji’:

Penyusun: Redaksi Muslimah.Or.Id

Artikel Muslimah.Or.Id

Bersama Keberkahan Hujan

Jakarta dan sekitarnya akhir-akhir ini seringkali gerimis bahkan hujan. Kira-kira apa yang pertama kali terlintas saat hujan turun membasahi tanah yang kita pijak ini? Keluhan kah atau sebuah lantunan do’a? Tak jarang secara disadari atau tidak kita lebih banyak membuat daftar deretan keluh kesah karena merasa “kepentingan” kita “di dzalimi” oleh hujan. Hujan dirasa “menghambat” laju gerak kita, hujan dianggap membawa pengaruh yang buruk untuk kita, selain membuat pakaian yang kita kenakan basah karenanya.

Terkadang hujan pula yang menjadi alasan kita untuk tidak berangkat shalat taraweh berjamaah, walaupun sebenarnya shalat tersebut bisa dilakukan di rumah, akan tetapi seorang bijak berkata bukankah di bulan Ramadhan ini bulan yang penuh rahmat, berkah dan pahala berlipat, jadi kalau bukan sekarang melakukan kebaikan yang lebih, kapan lagi.

Rasulullah pernah bersabda “Kami pernah diguyur hujan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyingkap pakaiannya hingga terkena hujan. Kami pun bertanya kepada beliau : ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan itu ?’. Beliau menjawab : ‘Karena hujan baru saja diturunkan oleh Rabb-nya”. Bahkan disyariatkan pula saat turun hujan untuk berdo’a Allohumma soyyiban naafi’an yang artinya Ya Alloh turunkanlah hujan yang bermanfa’at. Bukankah Rasul adalah sebaik baik qudwah.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa banyak keberkahan yang disampaikan melalui hujan, namun karena nafsu yang tidak dikelola dengan baik lebih mendominasi pemikiran kita maka hikmah itu pun hilang bersama dengan “kecaman-kecaman” yang kita lontarkan saat turun hujan. Bukankah AllohSubhanahu Wata’ala telah berfirman bahwa “Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” [QS. An-Nahl (16) : 10-11].

Subhanallah, dengan izinNYA, hujan membawa manfaat demi keberlangsungan hidup manusia, air hujan bisa menjadi minuman dan juga menyuburkan tanaman. Selain itu hujan juga merupakan waktu mustajabnya do’a dimana dua do’a yang tidak pernah ditolak yaitu doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan. Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab do’a pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. Bahkan di saat hujan turun, Alloh mendengar do’a hambaNYA yang meminta dengan penuh kesungguhan, pintalah padaNYA karena Alloh Maha Baik, sungguh Alloh Maha Baik.

Kisah seseorang yang tertahan pulang oleh derasnya hujan saat melaksanakan ifthor jama’i (buka puasa bersama) dan shalat magrib berjamaah. Niat awal berangkat adalah “hanya” ifthor dan shalat magrib berjamaah saja, tetapi subhanallah, dengan turunnya hujan, kebaikan itu menjadi berlipat, bisa tadarus Al Qur’an lebih banyak juga merasakan shalat taraweh di masjid lain serta silaturahim dengan Saudara seiman yang lebih terbina. Mendayung sekali, dua tiga pulau terlampaui.

Jadi, mari kita sama-sama tidak mencela saat hujan datang, karena Alloh telah berfirman “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaaf (50) : 18]. Marilah kita sama-sama menyambut keberkahan hujan yang turun dengan do’a dan harapan. Karena Allah sesuai prasangka hambaNya, maka berprasangka baik selalu agar menjadi baik akhirnya.

 

sumber: Era Muslim

Hujan menjadi Musibah karena Kejahilan Manusia

“Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9)”

Jika hujan akhir-akhir ini selalu melahirkan musibah dan bencana, itu bukan salah Allah, tetapi al-Quran banyak menyitir datangnya musibah lebih banyak karena kesalahan manusia itu sendiri.

Hadirnya musibah dan banjir, seharusnya membuat kita berintropeksi diri karena banyaknya tangan-tangan jahil manusialah telah memporakporandakan alam dan ekosistem menjadi tidak serasi.

Hutan-hutan yang seharusnya menjadi penahan air, tiba-tiba sudah ditumbuhi beton-beton. Gunung, bukit sudah berubah menjadi perumahan mewah, villa (yang sesungguhnya juga jarang dihuni), karena pemiliknya hanya menempati setahun sekali untuk bersenang-senang.

Perliaku buruk manusia dalam pembangunan yang lebih mementingkan dirinya sendiri tidak melihat dampak-dampak lain menyebakan datangnya hujan seharusnya jadi berkah justru menjadi musibah.

Datangnya hujan ibarat datangnya harta pada kita. Bila sebelumnya kita tak memiliki uang tiba-tiba dalam sekejab diberi kekayaan berlimpah-ruah, maka harta yang kita miliki bisa jadi musibah jika tidak kita control dan kita kelola dengan baik. Memiliki harta dan kekayaan belum tentu berkah, bahkan bisa jadi musibah bagi anak, istri atau kita sendiri. Sama seperti hujan yang tidak kita kelola.

Larangan mencela Hujan

Sebahagian orang sering keluar dari mulutnya celaan, “Aduh! Hujan lagi, hujan lagi.”

Ketahuilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasihatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya); “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” [HR Muslim].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Janganlah kamu mencaci maki angin.” [HR. Tirmidzi no. 2252]

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang dalam Islam. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.
Islam memberi panduan kita  hujan turun.

Pertama, do’a kesyukuran pada Allah

’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan;”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.[HR Bukhori]

Kedua,  turunnya hujan, justru kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a dan di mana doa mudah dikabulkan
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.” [HR Bukhari]

Ketiga: do’a ketika terjadi hujan lebat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”

Keempat, mengambil berkah dari air hujan

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga tersiram hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” [HR Muslim]

An-Nawawi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”[ Syarh Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi,]

Demikianlah akidah seorang Muslim dalam melihat persoalan hujan. Semoga berkah yang dating pada kita menyebabkan iman kita bertambah bukan sebaliknya menjadi berkurang dan mengakibatkan kita inkar pada Allah Subhanahu Wata’ala, layaknya orang-orang yang tidak memiliki keimanan.*

 

oleh: Sholih Hasyim

 

sumber:Hidayatulah

Datangnya Hujan adalah Berkah, bukan Musibah

HUJAN, Jakarta dikepung Genangan Air”, demikian judul sebuah media di Jakarta. Ada lagi judul lain, “Musim hujan, harga sayur-mayur di Jakarta melonjak”, “Longsor akibat hujan sepekan rusak 84 rumah di Jepara”.

Meski terlihat remeh-temeh, judul-judul berita media menunjukkan tauhid dan akidah si pembuat atau pengelola media. Tak ada judul-judul media/Koran/TV yang sedikit menunjukkan –setidaknya—memuji keagungan Allah Subhanahu Wata’ala Sang Pencipta alam dan seisinya.

Belum pernah kita temukan berita sebuah Koran dengan menuliskan dengan memuji segala apa yang diberikan Allah dalam bentuk berkah hujan seperti, “Alhamdulillah, Hujan Sudah Turun. Hati-hati Banjir”. Bahkan semua berita seolah memberikan rasa takut dan menyalahkan Alam serta menyalahkan Allah Subhanahu Wata’ala.

Berkah, bukan Musibah

Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat, tidak hanya manusia, tapi hampir semua makhluk.

Hujan juga memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Dalam al-Quran Surat Az-Zukhruf, Allah memberikan informasi bahwa hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”(QS: Az-Zukhruf : 11)

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk. Allah pula menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hamper putus asa menunggu. Karena itu, al-Quran menyebut hujan sebagai rahmat dan berkah, bukan musibah.

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).

Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan).

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (QS. Al Anbiya’ (21) : 30).

Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.” */(bersambung Hujan menjadi Musibah karena Kejahilan Manusia)

Oleh: Sholih Hasyim

sumber: Hidayatullah

Belajar Mensyukuri Semua Nikmat Allah

Setiap manusia akan diuji dengan ujian sesuai dengan kemampuannya. Setiap ujian itu ada yang berupa nikmat. Setiap nikmat itu akan membawa kita pada kesesatan atau malah kedekatan dengan Allah.

Penting bagi kita, untuk menyikapi setiap nikmat Allah dengan syukur nikmat. Banyak berdzikir mengingat Allah adalah tanda-tanda syukur nikmat.

 

sumber: Ummi-Online

Cerita Mualaf Rusia Terpikat Cara Hidup Islam

Pertumbuhan mualaf etnis Rusia kian pesat sejak dekade 2000-an. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat.

Dilansir Opendemocracy.net, seorang pendeta Ortodoks yang masuk Islam, Ali Vyacheslav Polosin mengatakan, sekarang ada lebih dari 10 ribu Muslim etnis Rusia di negara itu. Tak melulu soal teologi, sebagian mualaf jatuh hati lantaran cara Islam menyadarkan mereka akan arti hidup.

Alexei Abdulla Terekhov, misalnya. Ia masuk Islam 10 tahun yang lalu. Awalnya, dia benar-benar tertekan. Dia merasa hidupnya sangat pahit dan getir. Abdulla sudah berusia 40 tahun, namun dia tidak pernah melakukan sesuatu yang serius. Dia tidak punya keluarga, tidak ada pekerjaan, juga tidak ada tempat tinggal tetap. Segala sesuatunya benar-benar buruk.

Hal itu membuat Abdulla gelisah. Dia mulai berhenti merokok dan kebiasaan buruk lain. Kemudian, pada satu kesempatan dia membaca Alquran, terjemahan Krachkovsky. Abdulla melihat banyak surat-surat itu diakhiri dengan kata “Semoga kamu bahagia” atau May you be happy. Lelaki itu pun merasa tentram.

Dia pun tertarik pergi ke masjid. Ketika pertama kali datang, Abdulla kaget. Dia melihat semua orang memiliki jenggot. Mereka tidak terlihat seperti orang Rusia. “Saya takut. Tapi, saya tetap tinggal. Saya merasa kesepian di rumah. Di rumah, saya tertekan.”

 

Kasus Abdulla berbeda dari banyak orang. Sebelum masuk Islam, Abdulla beragama Kristen. Dia tidak mencari kebenaran selama bertahun-tahun. “Saya datang, saya menyukainya, dan saya merasa lebih baik. Saya pun mengikutinya,” ucapnya. Seseorang menyarankan lelaki itu memilih nama baru. Dia pun memilih nama Abdulla, hampir sama dengan nama aslinya, Alexei.

Setelah berislam, dia mulai memikirkan hidup lebih serius. Dia mencari pekerjaan dan hidup normal. Lelaki yang kini berusia 50 tahun itu kemudian menikah dengan seorang gadis. Istrinya memeluk Islam setelah pernikahan mereka. Kini mereka telah dikaruniai dua orang anak. Semua anaknya dibesarkan sebagai Muslim.

Mualaf lain adalah Viktor Abdulla, pria 31 tahun yang berprofesi sebagai penjual buku. Dia sudah masuk Islam lebih dari sepuluh tahun lalu. Seperti kebanyakan warga Rusia, semula dia menganut Ortodoks. Viktor juga aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan gereja.

Sekalipun begitu, dia menyimpan kegelisahan. Secara teologis, dia tidak suka konsep Ortodoks tentang trinitas dan ketuhanan Yesus karena ia tidak mengerti. Lelaki itu juga lebih tertarik dengan ajaran asketis. Cara hidup sederhana, zuhud, dan bersahaja, itulah yang dia temukan dalam Islam. Khususnya, dalam tasawuf.

 

Viktor pun merasa lebih dekat dengan Islam. Ia juga membaca buku-buku Ali Vyacheslav Polosin, mantan imam Ortodoks yang masuk Islam. Dia suka buku-buku itu. Pada akhirnya, lelaki itu memutuskan bersyahadat. Ia memilih masuk ke jalan tasawuf.

“Islam, pertama dan terutama, adalah cara hidup. Alquran terlibat aktif dalam kehidupan seorang Muslim, baik menyangkut pengembangan pribadi maupun interaksi dengan orang lain,” kata pria asli Rusia itu.

Tidak semua bisa menerima konversi Viktor. Keislamannya merupakan pukulan berat bagi teman-teman lamanya yang kebanyakan aktivis gereja. Tapi, keluarga menerima dengan mudah. Mereka mengerti. Istrinya yang juga etnis asli Rusia kemudian ikut berislam. Anak-anaknya, Madina dan Mikael, terlahir sebagai Muslim. Saat ini, Viktor tengah menanti kelahiran anak ketiganya.

 

sumber: Republika Online

Ini Tips Memilih Guru Spiritual

Oleh Susie Evidia Y 

Hidup di dunia memang butuh seorang guru dan pembimbing. Keberadan mereka laksana lentera yang memendarkan cahaya di kegelapan malam. Tak sembarang lampu bisa bersinar terang. Demikian pula memilih para pembina spiritual. Soal agama, seorang murid dituntut lebih jeli. Tak sekadar bermodal decak kagum dengan kekuatan supranaturalnya.

Direktur Pusat Kajiah Hadis Jakarta Dr Ahmad Lutfi Fathullah memberikan kiat dalam memilih seorang guru ataupun penasihat spiritual. Paling mendasar, menurutnya, perhatikan akidah dan praktik keagamaan dia sehari-hari.

Sudahkah sesuai dengan Alquran dan hadis. Adakah ajaran-ajarannya mengajak kepada kemusyrikan dan kekufuran. Jika terbukti positif menyimpanng, segera tinggalkan. “Tak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat,” tegasnya.

Dari segi kasat mata, tuturnya, perhatikan dengan seksama tipologi keluarga “sang guru” tersebut, saleh atau tidaknya. Demikian pula, bisa mengecek rumahnya, apakah terdapat minuman keras ataupun benda-benda yang tidak sesuai dengan syariat. Tak kalah penting tentunya, cermati shalat lima waktunya.

Sikap jeli dan cerdas dari umat, kata dosen ilmu hadis di sejumlah perguruan tinggi Islam itu sangat penting. Ini menyusul maraknya kerancuan antara yang benar-benar guru dan guru jadi-jadian. Ada yang tukang jahit “memiliki ilmu” dipilih sebagai guru spiritual. Ada juga tanpa melalui proses belajar atau belajar instan sudah dianggap sebagai guru spiritual.

Menurut alumnus program doktoral Universitas Kebangsaan Malaysia ini, guru yang patut diikuti ialah guru dengan tingkat kesalehan yang mumpuni. Artinya, memiliki kapasitas keilmuan dan praktik yang seimbang. Perilakunya pun sesuai dengan tuntunan syariat. “Jika tidak berilmu, apanya yang harus diikuti,” ujar penyabet gelar Lc dari Universitas Damaskus Suriah itu.

Direktur Pusat Pendidikan Quran Rumah Tajwid, Depok, Jawa Barat, Ustaz Hartanto Saryono Lc menekankan pula tentang pentingnya akidah dan amaliah seorang guru. Tak semua orang yang bergamis, berpeci, lalu menampakkan kesalehan, padahal faktanya jauh dari kesan yang ditampakkan, layak dianggap sebagai pembimbing spiritual.

Ia menyebutkan, tolok ukur yang digunakan adalah Alquran dan hadis, serta praktik generasi salaf. Jangan sampai terlena dengan berbagai tipu muslihat. Apalagi, sebagai pengikut, tak boleh taklid buta. Segera takar tuntunan dan nasihat “sang guru” tersebut dengan sumber-sumber utama Islam. “Kita harus kritis,” ujar alumnus Universitas Al-Iman, Sanaa, Yaman, ini.

Jika dikorelasikan dengan praktik paranormal dan dukun saat ini, ujarnya, aktivitas mereka bisa menyesatkan. Apa yang dilakukan oleh kebanyakan paranormal menyimpang dari ajaran Islam dan berbau mistis karena pengaruh jin. Sumber “keilmuan” mereka pun tak jelas,seperti ritual pertapaan atau semedi di lokasi tertentu. Dunia gaib menjadi rujukan mereka. “Kita harus peka membaca gelagat menyimpang seperti ini,” tegasnya.

Menurut Hartanto, ada kalanya paranormal itu melakukan shalat dan rajin puasa. Tapi, tata cara ibadah yang mereka laksanakan tidak sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW. Mereka mengutamakan sesuatu yang kecil dengan mengabaikan yang wajib. Begitulah cara jin mengelabui agar manusia lalai melakukan ibadah wajib (seperti shalat wajib) yang diperintahkan Allah.

 

sumber: Republika Online

Umat Nabi Musa dan Kisah Sapi Betina

Oleh Afriza Hanifa

Semakin mereka bertanya, makin sulit mendapatkan sapi yang dimaksud.

Kisah ini merupakan satu dari beragam kisah Israiliyat. Namun, penyebutannya dalam Alquran membuat kisah ini benar adanya. Jika Anda membaca al-Baqarah, inilah kisah di balik surah kedua kitabullah tersebut.

Pada zaman dahulu kala di zaman Bani Israil hidup sorang hartawan yang kekayaannya luar biasa berlimpah. Namun, ia tak satu pun memiliki anak yang akan mewarisi harta tersebut. Alhasil, banyak kerabat yang menginginkan dan menanti warisan.

Hal yang ditunggu mereka pun terjadi, sang hartawan ditemukan tewas di depan sebuah rumah penduduk. Kerabat sang hartawanlah yang kali pertama menemukan mayatnya pada pagi hari. Maka, gemparlah seluruh desa atas kematian sang hartawan. Masing-masing dari mereka bertanya-tanya, siapa gerangan yang membunuhnya?

Asumsi-asumsi pun bermunculan. Ada yang bilang, sang kerabat yang menemukanlah yang membunuhnya. Yang lain mengatakan, si pemilik rumah yang didepannya ditemukan jasad si hartawanlah pelakunya.

Di tengah keributan tersebut, datang seorang salih yang cerdas. Ia pun menengahi warga. “Mengapa kalian berkelahi? Bukankah di antara kita ada Musa, sang rasul Allah? Mari kita tanyakan perihal ini kepada beliau,” ujarnya. Maka, mereka pun segera berbondong-bondong menemui Musa.

Mendengar kisah dari penduduk desa, Nabi Musa segera memanjatkan doa. Ia memohon wahyu dari Allah agar menunjukkan rahasia di balik kematian sang hartawan. Maka, Allah pun memerintahkan Musa agar menyuruh umatnya menyembelih seekor sapi.

“Hai Musa, apakah kau ingin menjadikan kami bahan ejekan?” ujar mereka.

 

Nabi Musa pun dengan sabar menjawab, “Aku berlindung dari Allah agar aku tak termasuk orang-orang yang bodoh. Aku berlindung kepada Allah untuk tidak mengatakan sesuatu yang bukan firman-Nya,” ujar Musa. Namun, tetap saja Bani Israil enggan menaati perintah Musa. Mereka bermalas-malasan menyembelih seekor sapi. Pasalnya, sapi merupakan binatang yang dihormati oleh mereka.

Saat Musa menanyakan perihal sapi tersebut, mereka pun terlihat amat malas. Mereka justru mencari-cari pertanyaan yang dapat menunda mereka menyembelih sapi. “Beri kami spesifikasi, berapa usia sapi itu?” ujar mereka. Nabi Musa pun menjawab, “Tidak muda, tidak pula tua, melainkan pertengahan saja. Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada kalian,” perintah Musa.

Lagi-lagi, mereka tak juga menjalankan perintah itu. Setiap kali Musa menanyakannya, mereka menanyakan spesifikasi sapi yang akan disembelih. “Apa warna sapi itu?” tanya mereka. Dengan sabar, Musa pun menjawab, “Warnanya kuning tua, setiap kali orang memandangnya maka akan senang melihatnya,” jawab nabiyullah.

Bukan mencari, keesokan hari justru mereka bertanya kembali. “Beri tahu kami bagaimana kondisi sapi itu sehingga kami dapat mencarinya,” kata mereka. Kesabaran Musa begitu diuji, beliau pun menjawab dengan rincian yang banyak. “Sapi itu tak pernah digunakan untuk membajak sawah atau memberi air bagi tanaman. Sapi itu pun sangat bersih, tidak memiliki cacat,” ujar Musa.

Semakin banyak bertanya, mereka justru semakin sulit mendapatkan sapi itu. Andai mereka menurut saat perintah pertama, mereka bebas memilih sapi manapun.

 

Namun, sifat membangkang justru membuat mereka semakin sulit. Setelah banyak pertanyaan, mereka justru harus mendapatkan sapi yang sempurna. Rupanya mereka menyadari kebodohan mereka itu. Akhirnya, mereka pun mencukupkan pertanyaan dan mulai mencari jenis sapi yang elok itu. “Sekarang kamu menerangkan sapi itu dengan lengkap,” kata mereka.

Setelah kesulitan yang sangat mencari sapi tersebut, akhirnya mereka pun mendapatkannya. Hampir saja mereka menyerah karena nyaris tak ada sapi yang sesempurna itu. Sapi itu pun didapatkan dengan harga yang sangat mahal. Sapi tersebut merupakan milik seorang yatim yang usianya masih belia. Sapi tersebut merupakan satu-satunya warisan sang ayah. Atas wasiat sang ayah, sapi itu tak diizinkan bekerja dan hanya dirawat sedemikian rupa. Kulitnya juga berwarna kuning tua yang sangat elok. Seluruh kriteria yang Nabi Musa sebutkan ada pada sapi tersebut.

Sapi itu pun didatangkan ke hadapan Nabi Musa. Setelah disembelih, nabiyullah Musa mengambil sebagian anggota tubuh sapi, kemudian memukulkannya pada jenazah tersebut. Dengan izin Allah, mayat si hartawan hidup kembali. Nabi Musa pun segera bertanya kepada si mayat hidup. “Siapakah yang telah membunuhmu?” Sang hartawan pun menunjuk salah serang kerabatnya. “Dia!” ujarnya. Setelah itu, si hartawan kembali menjadi mayat dengan izin Allah.

Ternyata, sang pembunuh merupakan kerabat yang selalu menginginkan warisan sang hartawan. Dia pula yang berpura-pura menemukan mayat sang hartawan yang dia bunuh dan diletakkan di depan salah satu rumah penduduk desa. Namun, meski telah terang fakta, si kerabat tetap saja menyangkal bahwa ia yang membunuhnya. “Demi Allah, bukan aku yang membunuhnya,” ujarnya tanpa takut menyebut asma Allah sebagai penjamin kesaksiannya. Itulah memang watak Bani Israil.

Kisah tentang sapi betina ini dapat dibaca dalam surah al-Baqarah ayat 67-73. Dalam kisah tersebut terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik. Satu hal yang terang, yakni menaati perintah Allah sesegera mungkin.

 

 

sumber: Republika Online