Buah Manis Tawakal Seorang Ibu

Tawakal kepada Allah Ta’ala adalah sikap berserah diri sepenuh hati dalam semua hal. Banyak ayat Al-Qur`an yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertawakal.

Di samping itu, sikap tawakal juga merupakan obat paling mujarab yang sering dilupakan kaum muslimin.

Dengan bertawakal, seseorang akan merasakan kenyamanan dalam hatinya. Sehingga, dengan izin Allah, semua penyakit akan sembuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita dengar kisah tawakal yang dialami sekelompok orang. Di antaranya adalah tawakal orang-orang yang ditimpa musibah dalam beragam bentuknya.

Di antara kisah itu dimuat oleh seorang dokter dari Arab Saudi, Dr. dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jabir dalam bukunyaMusyahadat Thabîb Qashash Waqi’iyah.

Mari kita simak kisahnya berikut ini.

Saya telah melakukan operasi kepada seorang anak bayi yang belum genap berumur dua tahun.

Dua jam setelah operasi, anak ini mengalami pendarahan yang cukup hebat pada saluran pernapasannya disebabkan oleh adanya luka pada urat nadi yang menuju saluran ini.

Kejadian ini tidak ada kaitannya secara langsung dengan operasi yang baru saja dilakukan.

Akibatnya, anak itu mengalami sesak nafas yang memicu kegagalan jantung.

Jantungnya berhenti bekerja selama empat puluh lima menit. Setelah itu –Alhamdulillah– jantungnya kembali bekerja. Biasanya dalam kondisi seperti ini kemungkinan terjadinya kematian otak sangat tinggi sekali.

Ketika kejadian ini kami jelaskan kepada ibunya, sang ibu tidak berkata-kata apa-apa kecuali hanya mengucapkan,

“Hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah untukku, dan ia sebaik-sebaik Pelindung). Ya Allah sembuhkanlah ia jika kesembuhan adalah yang terbaik untuknya.”

Kemudian ia pergi menengok anaknya seraya membaca Al-Qur`an dari mushaf kecil yang berada di tangannya.

Dua minggu kemudian, terlihat bahwa organ otak anak tersebut sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian itu.

Dua hari berikutnya, anak itu mengalami pendarahan serupa, dan tiap kali kondisinya kelihatan membaik ia mengalami pendarahan lagi, akan tetapi ibunya tidak mengucap selain,

“Hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah untukku, dan ia sebaik-sebaik Pelindung).”

Dokter sepesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan) berhasil mengatasi masalah pendarahan di saluran pernafasan anak tersebut, sehingga kondisi kesehatan anak itu menunjukkan kemajuan secara perlahan

Akan tetapi, tiba-tiba ia terkena kebocoran otak yang hampir merenggut nyawanya. Ibunya selalu mengulang-ulang doa,

Hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah untukku, dan ia sebaik-sebaik Pelindung).”

Sang ibu tetap setia membacakan Al-Qur`an dari mushaf kecil yang berwarna biru kepada anaknya.

 

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Inilah Kalimat Dzikir yang Paling Dicintai Allah

Dzikir adalah kunci ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia serta kesejahteraan di akhirat kelak.

Saking pentingnya dzikir, tujuan utama dari perintah shalat adalah mengingat Allah Taala ketika berdiri, rukuk, duduk, sujud, dan dalam kehidupan selepas salam. Sedangkan shalat merupakan amal yang pertama dihisab di akhirat kelak.

Berdizikir hendaknya menjadi kebiasaan seorang hamba yang beriman. Jangan lalai apalagi enggan. Upayakan. Prioritaskan. Tak ada yang lebih penting di dunia ini selain mengabdi kepada Allah Taala, salah satunya dengan selalu mengingat nama-Nya di setiap jenak kehidupan.

Ada begitu banyak kalimat dzikir yang disunnahkan. Namun, ada di antaranya yang menjadi kalimat-kalimat yang paling disukai Allah Taala.

Dua Kalimat

Sebagaimana disebutkan dalam al-Adzkar, Imam an-Nawawi mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr al-Ghifari, “Maukah engkau kuberitahu kalimat yang paling dicintai Allah Taala?”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah Taala adalah (Subhanallahi wa bihamdihi-Mahasuci Allah dan segala puji hanya bagi-Nya).”

Empat Kalimat

Empat kalimat ini amat masyhur di kalangan kaum Muslimin pecinta dzikir. Bisa diucapkan dalam satu kalimat utuh, dipisah-pisah, dan bisa dibaca sesuai kondisi seseorang.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Samurah bin Jundab, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalimat yang paling dicintai Allah Taala ada empat.”

Ialah; (Subhanallah-Mahasuci Allah), (Alhamdulillah-Segala puji bagi Allah), (Laa ilaha ilallah-Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), (Allahu akbar-Allah Mahabesar).

Di akhir riwayat yang dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan petunjuk, “Tidak ada salahnya bagimu untuk memulai (membacanya)nya dari kalimat yang mana.”

Paling Utama

Diriwayatkan secara hasan oleh Imam at-Tirmidzi, Jabir bin Abdillah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah (Laa ilaha ilallah-Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).”

Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat nama-Mu, mudahkan dan istiqamahkan kami untuk mensyukuri semua nikmat-Mu, dan kuatkan kamu untuk membaguskan kualitas ibadah kepada-Mu. [ ]

Sumber bersamadakwah

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2250122/inilah-kalimat-dzikir-yang-paling-dicintai-allah#sthash.RHgkzV4z.dpuf

Memberi Pengemis yang Bukan Sedekah, Malah Berdosa

Seorang peserta sebuah pengajian bertanya tentang hukum memberi uang kepada pengemis yangmenurut dia, semakin banyak terdapat di kotanya. Ustdaz Muhammad Shiddiq Al Jawiyang ditanya soal itu menjawabnya sebagai berikut.

Memberi uang kepada pengemis dapat dianggap bersedekah. Maka hukumnya sunnah, karena bersedekah hukum asalnya sunnah. Wahbah az-Zuhaili berkata,“Sedekah tathawwu (sedekah sunnah/bukan zakat) dianjurkan (mustahab) dalam segala waktu, dan hukumnya sunnah berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.”(Wahbah Zuhaili,Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu, 3/389).

Dalil Al-Qur`an antara lain (artinya),“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”(QS Al-Baqarah [2] : 245). Dalil As-Sunnah misalnya sabda Nabi SAW,”Barangsiapa memberi makan orang lapar, Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga. Barangsiapa memberi minuman kepada orang haus, Allah pada Hari Kiamat nanti akan memberinya minuman surga yang amat lezat (ar-rahiq al-makhtum), dan barangsiapa memberi pakaian orang yang telanjang, Allah akan memberinya pakaian surga yang berwarna hijau (khudhr al-jannah).”(HR Abu Dawud no 1432; Tirmidzi no 2373).

Namun hukum asal sunnah ini bisa berubah bergantung pada kondisinya. Sedekah dapat menjadi wajib. Misalnya ada pengemis dalam kondisi darurat (mudhthar), yakni sudah kelaparan dan tak punya makanan sedikit pun, sedang pemberi sedekah mempunyai kelebihan makanan setelah tercukupi kebutuhannya. (Wahbah Zuhaili,Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu, 3/390).

Dalam kondisi seperti ini, sedekah wajib hukumnya. Sebab jika tak ada cara lain menolongnya kecuali bersedekah, maka sedekah menjadi wajib, sesuai kaidah fiqih :“Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib.”(Jika suatu kewajiban tak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya). (Saifuddin Al-Amidi,Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, 1/111).

Namun sedekah dapat menjadi haram hukumnya, jika diketahui pengemis itu akan menggunakan sedekah itu untuk kemaksiatan. (Wahbah Zuhaili,Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu, 3/390). Misalnya, digunakan untuk berjudi, berzina, atau minum khamr. Hukum sedekah dalam kondisi ini menjadi haram, karena telah menjadi perantaraan (wasilah) pada yang haram. Kaidah fikih menyebutkan,”Al-Wasilah ila al-haram haram.” (Segala perantaraan menuju yang haram, haram hukumnya). (M. Shidqi al-Burnu,Mausuah Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah, 12/200).

Sedekah kepada pengemis juga menjadi haram, jika diketahui pengemis itu tidak termasuk orang yang boleh mengemis (meminta-minta), misalnya bukan orang miskin. Dalam masalah ini ada dalil khusus yang mengharamkan meminta-minta, kecuali untuk tiga golongan tertentu. Sabda Nabi SAW,”Meminta-minta tidaklah halal kecuali untuk tiga golongan : orang fakir yang sangat sengsara (dzi faqr mudqi), orang yang terlilit utang (dzi ghurm mufzhi), dan orang yang berkewajiban membayar diyat (dzi damm muuji).” (HR Abu Dawud no 1398; Tirmidzi no 590; Ibnu Majah no 2198). (Abdul Qadim Zallum,Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah, hal. 194).

Jadi kalau seorang pengemis sebenarnya bukan orang miskin, haram baginya meminta-meminta. Demikian pula pemberi sedekah, haram memberikan sedekah kepadanya, jika dia mengetahuinya. Dalam kondisi ini pemberi sedekah turut melakukan keharaman, karena dianggap membantu pengemis tersebut berbuat haram. Kaidah fikih menyebutkan : “Man aana ala mashiyyatin fahuwa syariik fi al itsmi(Barangsiapa membantu suatu kemaksiatan, maka dia telah bersekutu dalam dosa akibat kemaksiatan itu.). (Syarah Ibnu Bathal, 17/207).Wallahu alam. [ ]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2195874/memberi-pengemis-yang-bukan-sedekah-malah-berdosa#sthash.vHzlCZtN.dpuf

Memanfaatkan Waktu di Kala Setan Terdiam

DI sepertiga malam, ruh-ruh berada dalam genggaman-Nya. Beberapa ruh-ruh itu, terbangun dengan jasadnya dan beranjak dari hamparan kasur yang nyaman dan selimut yang mencengkram tubuhnya.

Walau gaya gravitasi tempat tidur sangat tinggi. Dengan izin-Nya, tubuh itu dituntun untuk mensucikan diri dan berbincang mesra dengan Sang Kekasih. Hingga dunia menyimak percakapan mesra hamba-hamba-Nya.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, “Setiap malam, Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam yang terakhir, kemudian Dia ‘Azza wa Jalla berfirman, siapakah yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengijabahnya. Siapakah yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberi kepadanya. Dan siapakah yang memohon pada-Ku ampunan, niscaya Aku akan mengampuninya’.”

Hadist tentang nuzul Ilahi ini termasuk berderajat mutawatir. Tak kurang dari 31 shahabat meriwayatkannya. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini dan membenarkan turun-Nya Allah SWT tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, tanpa memperumpamakannya, dan tanpa merinci bagaimananya.

Di saat-saat inilah waktu paling indah untuk mencurahkan segala lelah, payah, dan keluh kesah dalam sujud kepada-Nya. Inilah, waktu terindah menangisi dosa dan meminta ampunan-Nya dengan taubat nasuha. Inilah waktu mustajab memanjatkan permohonan dan segala pinta. Inilah waktu yang paling berkesan untuk menghayati firman-firman-Nya seakan dia bicara langsung pada diri kita.

Al-‘Allamah Muhammad Amin Asy-Syinqthi, penulis Adhwa’ul Bayan menyatakan, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini takkan menetap dalam dada, tak mudah pula menjaganya, dan takkan dapat difahami kedalamannya hingga memberi keteguhan bagi kita, kecuali jika ia ditadabburi dalam bacaan qiyamullail di kedalam malam”.

Inilah detik-detik yang selayaknya tak kita lewatkan. Amat agung keutamaannya, bahkan bagi yang tidur dengan memenuhi adabnya dan berserah pada Penguasa ruhnya, maka waktu sepertiga malam terakhir ini adalah mimpi seorang mukmin paling dekat dengan kebenaran.

“Mimpi yang paling benar adalah yang terjadi di waktu sahur,” ujar Rasulullah seperti disampaikan Abu Sa’id Al-Khudzri dalam riwayat Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi.

“Hal ini dikarenakan,” catat imam Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin, “ialah waktu nuzul Ilahi, kala rahmat dan ampunan didekatkan, serta saat diamnya syaithan-syaithan.”

Sumber: Lapis-lapis Keberkahan, Salim A Fillah

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2290713/memanfaatkan-waktu-di-kala-setan-terdiam#sthash.QEukbxuh.dpuf

Istiqomah, tak Ikut dalam Kezaliman

AYAT tentang istiqomah ini adalah ayat yang paling berat konsekuensinya. Yakni, penerimaan kita terhadap perintah untuk tetap beristiqomah, khususnya dalam pelaksanaannya manakala harus bersikap menghadapi orang-orang zalim, termasuk penguasa.

Allah Swt berfirman:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Huud 112).

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali amu tiada mempunyai seorang penolongpun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” (QS. Huud 113).

Diriwayatkan oleh at Tirmidzi dari Ibnu Abbas bahwa Abu Bakar ra berkata kepada beliau saw : Wahai Rasulullah saw kami melihat anda beruban (pertanda tua). Beliau saw menjawab : telah membuat aku beruban (tua) Surat Huud dkk. Dan dikatakan bahwa sesungguhnya yang membuat beruban (tua) Rasulullah SAW dari surat Huud adalah firmanNya : “. fastaqim kamaa umirta” Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar!

Imam Az Zamakhsyari dalam tafsir Kasysyaf Juz II/416 menyebut bahwa Ibnu Abbas mengatakan : Tidak ada ayat di seluruh Al Quran yang diturunkan kepada Rasulullah saw yang lebih berat dan lebih sulit dari pada ayat ini.

Allah SWT meminta Nabi saw agar bersikap istiqomah. Dia berfirman : fastaqim ; “Bersikaplah istiqomah”. Tuntutan Allah SWT kepada Nabi Muhammad dan umatnya agar terus menerus di jalan yang lurus tanpa menyimpang ke kiri dan ke anan. Untuk itu seorang muslim harus senantiasa waspada, selalu menilai halal-haram, mendisiplinkan perasaan yang mau melenceng sedikit atau banyak.

Menurut Imam Az Zamakhsyari (idem), lafazh waman taba maaka mengandung pengertian bahwa seruan bersikap istiqomah itu juga ditujukan kepada orang-orang yang telah bertaubat dari kekufuran dan beriman kepadamu (wahai Muhammad saw).

Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Sufyan bin Abdullah as Tsaqafi berkata : Aku berkata wahai Rasulullah saw : Katakanlah kepadaku dalam Islam, suatu ucapan yang aku tak akan bertanya lagi tentang hal itu sesudahmu. Rasulullah saw menjawab : “Katakanlah : Aku beriman kepada Allah, lalu tetapilah”

Istiqomah Bukan Berlebihan

Bersikap istiqomah bukan berarti bersikap berlebihan. Allah SWT berfirman : Walaa tathghau janganlah kalian melampaui batas. Artinya janganlah kalian melampaui batas-batas hukum Allah SWT. Larangan ini diberikan setelah perintah untuk istiqomah adalah sebagai antisipasi agar manusia tidak berlebihan, sehingga mempersulit pelaksanaan aturan agama Allah (diinullah). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah 185).

Tidak Boleh Berpihak Kepada Orang Zalim

Salah satu tanda sikap istiqomah seseorang adalah manakala dirinya diminta untuk mendukung atau paling tidak menyetujui dan diam atas tindakan kezaliman yang dilakukan seseorang. Allah SWT berfirman walaa tarkanuu ila janganlah cenderung. Lafazh Walaa tarkanuu berasal dari kata ar rukun yang artinya bersandar dan diam pada sesuatu serta ridha kepadanya.

Ibnu Juraij mengatakan janan cenderung kepadanya, Qathadah mengatakan : Jangan bermesraan dan jangan mentaatinya, Abu Aliyah mengatakan : Jangan meridai perbuatan-perbuatannya.

Larangan cenderung tersebut ditujukan kepada orang-orang mukmin agar tidak cenderung terhadap orang-orang yang melakukan tindakan kezaliman. Allah SWT berfirman alladziina dzolamu orang-orang yang berbuat zalim yakni, ahli perbuatan syirik dan maksiat, orang-orang kasar yang melampaui batas, orang-orang yang puna kekuatan dan kekuasaan mereka.

Allah melarang cenderung kepada mereka karena dalam kecenderungan itu terkandung pengakuan atas kekufuran, kedzaliman dan kefasikan mereka. Pengakuan itu dipandang sebagai peran serta dalam dosa dan siksa.

Imam Sufyan at Tsuari berkata : Di neraka Jahanam nanti ada satu lembah yang tidak dihuni oleh orang kecuali para pembaca Al Quran yang suka berkunjung kepada raja. Imam Auzai mengatakan : Termasuk yang dibenci oleh Allah adalah ulama yang suka berkunjung kepada penguasa.

Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi Rasulullah saw bersabda : Siapa yang berdoa atau mengajak orang zalim tetap berkuasa, maka dia telah menyukai orang itu bermaksiat kepada Allah di bumiNya.

Imam Az Zamakhsyari (idem) mengutip riwayat yang menyebut bahwa ketika Imam Az Zuhri bergaul dengan para penguasa yang terkenal tidak memenuhi hak-hak masyarakat dan tidak meninggalkan kebatilan, maka ada seseorang mengirimi surat nasihat kepadanya agar menjauhi fitnah.

Dalam suratnya itu antara lain dia menyebut bahwa tindakan bergaul rapat dengan penguasa zalaim itu akan menimbulkan konsekwensi akan dijadikan oleh para penguasa itu sebagai poros (legitimasi) beredarnya kebatilan yang mereka lakukan, jembatan (pengakuan) atas bencana yang mereka timbulkan, dan sebagai tangga (pembenaran) atas kesesatan mereka, juga akan menimbulkan keraguan para ulama, dan akan menjadi tambatan atau ikutan orang-orang bodoh.

Orang itu menutup surat dengan kalimat : “Betapa banyak (keuntungan) yang mereka ambil dari anda disamping kerusakan yang mereka timbulkan kepada anda”. []

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2290229/istiqomah-tak-ikut-dalam-kezaliman#sthash.1NT2AXVy.dpuf

Apakah Hanya AllahTempatmu Bergantung?

KETAHUILAH bahwa hati itu dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala dan negeri akhirat. Jalan yang benar sudah ditunjukkan. Begitu pula ujian jiwa dan amal, penghambat-penghambat jalan yang dapat disingkirkan dengan cahaya, kehidupan, dan kekuatannya dengan kesehatan pendengaran dan penglihatannya.

Ada lima perkara yang akan memadamkan cahaya hati, menutupi penglihatan dan menyumbat pendengarannya, membuatnya bisu dan tuli, melemahkan kekuatannya, menggerogoti kesehatannya dan menghentikan tekadnya. Adapun kelima perkara itu ialah banyak bergaul dengan manusia, mengumbar harapan, bergantung kepada selain Allah, kenyang dan banyak tidur. Siapa yang tidak merasakan semua ini, berarti hatinya mati. Sementara luka pada orang yang sudah mati tidak membuatnya merasa sakit.

Tidak ada kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan kesempurnaan kecuali dengan mengetahui Allah dan mencintai-Nya, merasa tentram saat menyebut-Nya, senang berdekatan dengan-Nya, dan rindu bersua dengan-Nya. Inilah surga dunia baginya, sebagaimana dia tahu bahwa kenikmatannya yang hakiki adalah kenikmatan di akhirat dan di surga. Dengan begitu, dia mempunyai dua surga.

Surga yang kedua tidak dimasuki sebelum dia memasuki surga yang pertama. Lima perkara ini menjadi penghalang antara hati dan Allah, menghambat perjalanannya dan menimbulkan penyakit di dalamnya, antara lain bergantung kepada selain Allah. Bergantung kepada selain Allah merupakan perusak hati yang paling besar, dan tidak ada yang lebih berbahaya selain dari hal ini, tidak ada yang lebih menghambat kemaslahatan dan kebahagiaannya selain dari hal ini.

Jika hati bergantung kepada selain Allah, Allah menyerahkannya kepada sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat bergantung. Padahal, apa yang dijadikan sebagai tempat bergantung itu dihinakan Allah dan dia tidak mendapatkan maksudnya karena dia beralih kepada selain Allah sehingga dia tidak mendapatkan apa yang ada di sisi Allah dan tidak mendapatkan dari apa yang dijadikannya sebagai tempat bergantung seperti yang diharapkannya.

Firman Allah Ta’ala, “Dan mereka telah memilih tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka, sama sekali tidak! Kelak mereka (sesembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka.” (QS Maryam, 19:81-82)

Orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah karena orang yang bergantung kepada selain Allah seperti orang yang berlindung dari panas dan dingin dengan rumah laba-laba karena rumah laba-laba merupakan rumah yang paling rapuh.

Secara umum, landasan dan pondasi syirik adalah bergantung kepada selain Allah sehingga pelakunya mendapat kehinaan dan celaan. Allah berfirman, “Janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau menjadi tercela dan terhina.” (QS Al-Isra, 17:22)

Maka perhatikanlah apa-apa yang menjadi tempat kita bergantung. Apakah hanya Dia satu-satunya? Seolah Allah berkata, “Apakah hanya Aku tempatmu bergantung duhai hamba-Ku?”

[DOS/Ditulis ulang dari karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2290226/apakah-hanya-allahtempatmu-bergantung#sthash.4TNB9lZj.dpuf

Yusuf Mansur Berharap Negara Bantu Kembangkan Hafiz Alquran

Ustaz Yusuf Mansur mengatakan sangat penting untuk mengembangkan hafiz Alquran di Indonesia. Pimpinan Pondok Pesantren Darul Quran juga mengapresiasi atas diraihnya juara umum musabaqah Alquran dan Hadist tingkat Asia Pasifik.

“Alhamdulillah dengan prestasi ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia yang dikenal sebagai negara Muslim terbanyak dan ini sangat bagus untuk meningkatkan semangat umat muslim di Indonesia,” jelas dia kepada //Republika.co.id, Ahad (24/4).

Apalagi selain gelar juara umum tingkat Asia Pasifik, juga ada Musa yang mengharumkan Indonesia untuk kompetisi internasional di Mesir. Ustaz Yusuf Mansur mengatakan berbagai upaya untuk mengembangkan hafiz Alquran seperti dengan menyuburkan tempat-tempat pembinaan rumah tahfiz.

“Rumah tahfiz ini tidak hanya untuk memperbanyak murid yang hafidz, tetapi juga guru dan manajer seperti yang dilakukan Daarul Quran,”ujar dia. Apalagi jika negara bisa ikut campur dalam mengembangkan hafidz Alquran speerti mempermudah perizinan bagi dai dari negara Timur Tengah yang ingin mengajarkan Muslim Indonesia untuk hafiz Alquran.

Saat ini, menurut dia animo masyarakat untuk menghafal Alquran sangat tinggi. Terbukti dengan rumah tahfidz Daarul Quran yang telah meluluskan hafidz 30 juz hingga 1000 orang. Untuk meningkatkan animo umat Islam menghafal Alquran, dia tidak hanya membuka rmah tahfidz di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

“Kami telah mulai untuk menyuburkan rumah tahfidz sejak tahun lalu tidak hanya di Indonesia, tetapi juga saat ini rumah tahfidz Daarul Quran sudah ada di Jepang, Australia, dan secara bertahap akan ada di lima benua,” jelas dia. Murid-murid di rumah tahfidz pun dapat belajar dengan mendapat beasiswa. n i

 

sumberRepublikaOnline

Mengapa Allah Mengharamkan Bangkai?

Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena dianggap kotor. Keharaman binatang juga terkait dengan alasan ibadah, yaitu untuk mendekatkan diri kepada berhala dan karena mengikuti waham (kepercayaan yang salah).

Di balik sikap itu, mereka juga menunjukkan perilaku yang kontradiktif. Mereka menghalalkan binatang yang kotor seperti bangkai dan darah yang mengalir. Ada pula yang mengonsumsi makanan yang berlebihan, ada yang melarang secara keras.

Islam datang memberikan pandangan baru dalam masalah makanan hewani. Agama ini mengajarkan manusia untuk mengambil yang baik-baik dari segala yang telah dihamparkan Allah SWT di muka bumi. Walaupun begitu, Allah memberikan batasan berupa empat hal yang diatur dalam QS al-An’am: 145. Keempat hal tersebut, antara lain, bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi yang dianggap kotor. Allah juga mengharamkan binatang yang disembelih dengan nama selain-Nya.

Ulama kontemporer Yusuf Qaradhawi menjelaskan dalam kitab Halal dan Haram, bangkai diartikan sebagai makanan yang kematiannya tidak disebabkan adanya usaha manusia. Secara naluri, bangkai dipandang sebagai barang yang kotor.

Asal-usul kematian binatang yang ditemukan dalam bentuk bangkai juga tidak jelas. Suatu binatang bisa saja mati karena penyakit, umur sudah tua, atau mengonsumsi makanan beracun. Dengan kata lain, bangkai tidak dapat dijamin keamanannya untuk dikonsumsi.

Diharamkannya bangkai menyimpan hikmah agar manusia tidak tamak. Dengan mengharamkan bangkai bagi manusia, Allah menyediakannya sebagai makanan bagi makhluk lain seperti burung dan binatang pemangsa lain. Ini juga memberikan isyarat agar manusia senantiasa memperhatikan binatang yang dimiliki dan tidak membiarkannya sakit, mati, lalu menjadi bangkai.

Selain itu, naluri manusia yang sehat pasti tidak akan rela memakan bangkai, dengan sendirinya ia akan menganggapnya kotor. Para ahli di kalangan mereka pasti akan beranggapan bahwa makan bangkai adalah suatu perbuatan buruk yang dapat menurunkan derajat manusia.

Oleh karena itu, seluruh agama samawi memandang bangkai tersebut suatu makanan yang dikategorikan haram. Mereka tidak boleh makan kecuali yang telah disembelih sesuai dengan syariat.

Selanjutnya, binatang yang mati dengan sendirinya pada umumnya mati karena suatu sebab tertentu. Bisa jadi, karena penyakit yang mengancam, umurnya sudah tua, atau karena makan tumbuh-tumbuhan yang beracun dan sebagainya sehingga keamanannya tidak dapat dijamin.

 

Menghawatirkan, Jumlah Populasi Yahudi di Indonesia Mencapai Ratusan

Yahudi Indonesia memperingati hari paskah pada Jumat (21/4/2016) kemarin, dalam sebuah perayaan kecil yang mereka sebut sebagai perdamaian dan kaharhominisan antar agama. Setidaknya ada 50 orang mengikuti acara tersebut di sebuah hotel di Jakarta. Demikian dilansir CNNIndonesia.

Peranyaan ini juga diikuti oleh Deputi Luar Negeri Amerika seritak Antoni Blinken.

Yahudi di Indonesia adalah keturuan dari imigran Belanda dan Iraq. Kurang dari 200 anggota Yahudi ada di Indonesia. Mereka bersembunyi dan berlindung di agama Kristen.

Ini bukan pertama kali umat Yahudi dalam merayakan paskah.

Dalam perayaan tersebut tampak, umat Yahudi melakukan ritual dengan melakukan doa dengan meminum 4 gelas wine dan memakan masakan pahit selama 3 jam. Paskah berakhir pada 30 April mendatang.[RN]

 

sumber: Panji Mas

Umat Islam Sering Kalah dalam Perang Budaya

Tokoh Senior Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Ridwan, mengingatkan kalau perang budaya lebih berbahaya dari perang konvensional, karena tidak mengenal waktu dan lokasi untuk terjadi. Sayangnya, ia merasa umat Islam di Indonesia sering dipecundangi, dalam perang-perang budaya yang selama ini terjadi.

“Perang budaya itu lebih bahaya dari yang konvensional, dan kita sering jadi pecundang dalam perang itu,” kata Cholil belum lama ini.

Padahal, lanjut Cholil, perang merupakan bagian dari kehidupan yang memang tidak bisa dihindari, terutama oleh umat Islam yang memang sangat dekat dengan perjuangan. Terlebih, posisi budaya dalam Islam sangatlah penting, karena merupakan bagian hidup yang harus diteguhkan lewat aqidah.

Ia menekankan perjuangan umat Islam dapat dituangkan dalam banyak aspek, seperti perang melawan budaya pembiaran, yang belakangan banyak dimiliki umat di Indonesia. Cholil menerangkan budaya pembiaran itu dapat dilihat jelas, saat umat seakan membiarkan gerakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) merajalela dan pemimpinan yang sewenang-wenang.

Selain itu, ia menekankan perjuangan umat dapat dituangkan lewat penafsiran Pancasila sebagai dasar negara dengan benar, termasuk unsur Islam di dalamnya. Cholil menambahkan, Pancasila harus jadi bagian Islam, dan umat tidak boleh meyakininya sebagai ideologi melebih keyakinan atas Islam.

 

sumber:Republika Online