Matematika yang Bertuhan

Rumus matematika di sekolah menyatakan, 10-1 = 9. Maka, mulanya orang terperanjat tatkala Ustadz Yusuf Mansur menyodorkan formula: 10 – 1 = 19.

Lho, kok gitu? Rumus dari mana tuh?

Padahal, yang dikemukakan Ustadz Yusuf bukan barang baru. Itu adalah formula matematika sedekah, yang tersurat dalam Kitab Al Qur’an yang telah diturunkan berabad-abad lalu.

Matematika sedekah di atas diambil dari Surat Al-An`am ayat 160, yang menyebutkan bahwa Allah SWT menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik (sedekah).

‘’Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).’’

Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya bukan 9, melainkan 19. Sebab yang satu, yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat.

Kita terkaget-kaget, karena belum menyadari bahwa ilmu matematika juga ‘’bertuhan’’. Maklum, bertahun-tahun kita dididik dengan matematika sekuler, yang mengesampingkan faktor spiritualitas dari kalkulator.

Padahal, matematika adalah salah satu ayat Allah SWT. Baik ayat kauniyah (sunatullah), maupun tanziliyah (Qur’an dan Hadits).

Abdusysyakir dalam bukunya yang berjudul ‘’Ketika Kyai Mengajar Matematika’’ (2007) menyatakan, sesungguhnya matematika memiliki hubungan yang sangat erat dengan tradisi spiritual umat Islam, akrab dengan Al Qur’an, dan menjadi “jalan” menuju pencapaian manfaat-kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Matematika sebagai bagian dari ayat kauniyah, diakui para pakar ilmu hitung sejak dahulu. Misalnya Galileo (1564-1642 SM). Seperti dikutip Harry Frank and Steven C Althoen dalam Statistics: Concepts and Applications (1994), ahli dari Galilea itu pernah menyatakan: “Mathematics is the language in which God wrote the universe.’’ Matematika adalah bahasa Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini.

“Setiap kehidupan adalah matematis,” cetus Prof Abdul Halim Abdullah Shabazz, Guru Besar Matematika di Clark Atlanta University, AS. Tokoh Islam di Amerika, Malcolm X, menandaskan, ‘’Matematika adalah hidup, dan hidup adalah matematika.’’

Matematika sedekah bersifat progresif. Semakin banyak yang dikurangkan, kian besar jumlah yang ditambahkan. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT melipatgandakan sedekah hingga 700x lipat.

‘’Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.’’

Dalam ayat ke-10 Surat Az-Zumar bahkan kelipatan ganjarannya tak terhingga. Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan, dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’’

Dengan matematika pula, Ustadz Yusuf Mansur mengajarkan percepatan dalam mengembangkan PPPA Daarul Qur’an.  Seperti kata Robert Harold Schuller dalam acara Hour of Powers: ‘’The mathematics of high achievement can be stated by a simple formula. Begin with a dream. Divide the problems and conquer them one by one. Multiply the exciting possibilities in your mind. Substract all the negative thoughts to get started. Add enthusiasm. Your answer will be the attainment of your goal.”

‘’Matematika untuk prestasi tinggi,’’ katanya, ‘’dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang sederhana. Mulailah dengan sebuah mimpi. Bagilah masalah-masalah yang ada menjadi bagian-bagian kecil dan taklukkanlah satu demi satu. Kalikanlah dengan kemungkinan-kemungkinan yang positif dalam pikiran anda. Kurangkanlah semua pikiran-pikiran yang negatif untuk memulai. Tambahkanlah antusiasme. Jawabannya adalah pencapaian cita-cita Anda.”

Ustadz Yusuf Mansur ‘’mimpi’’ mencetak 100.000 Penghafal Al Qur’an, ketika ia dan kawan-kawan masih harus ‘’berburu’’ calon santri di Kampung Bulak di awal tahun 2000-an. Alhamdulillah, kini sudah ‘’dipanen’’ setidaknya 30.000 santri tahfidz Qur’an.

Oleh: Ust. Anwar Sani

sumber: Daqu.or.id

ilustrasi: Sukarja

 

Demi Naik Haji, Penjual Bubur Candil Ini Menabung 24 Tahun

BANYUMAS, KOMPAS.com — Sariyah, perempuan berusia 52 tahun asal warga Desa Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, pada tahun 2014 akan menunaikan ibadah haji.

Bukan karena mendapat “durian runtuh”, Sariyah, yang merupakan penjual bubur candil keliling, ini dapat berangkat ke Mekkah. Sebab, dia sudah memulai tekad bisa berhaji sejak 1990. Selama 24 tahun itu pula dia tekun menabung.

“Saya kalau nabung tidak setiap hari, kadang dua atau tiga hari sekali, bahkan jika memang tidak ada sisa uangnya, saya baru satu minggu menabung. Itu pun sekali menabung saya hanya Rp 20.000,” ungkap dia yang ditemui di rumahnya, Minggu (7/9/2014).

“Setiap hari, dari hasil keliling jualan bubur candil sama sepeda biasanya saya dapat Rp 20.000 sampai Rp 30.000. Ya kadang-kadang malah kurang dari itu,” kata Sariyah.

Namun, dengan tekadnya yang besar, dia berhasil mengumpulkan uang. Pada 2010, dia mendaftar pemberangkatan haji ke Kantor Kementerian Agama Banyumas. Namun, dia harus masuk dalam daftar antrean dan baru akan berangkat haji pada 2014 ini. “Saat itu, saya mendaftar dengan uang Rp 25 juta dan harus mengantre empat tahun,” kata dia.

Meski sudah mendaftarkan diri, Sariyah tetap meneruskan kebiasaannya untuk gemar menabung. “Saya nabung terus karena uangnya kan masih kurang untuk ongkos dan sangu (bekal) haji,” sambung dia lagi.

Satu kunci untuk bisa mewujudkan niat beribadah haji, menurut dia, adalah ketekunan dan selalu berdoa. “Kuncinya hanya satu, niatnya harus sungguhan dan selalu berdoa kepada Allah SWT, lalu kita berusaha,” ungkap dia.

Dulu, sebelum menggunakan sepeda onthel untuk berjualan, dia hanya menggendong barang dagangannya. “Dulu waktu jualan menggunakan gendong, setiap hari penghasilan saya antara Rp 5.000 sampai Rp 7.000. Alhamdulilah sekarang sudah lumayan,” kata perempuan satu anak ini.

Sudah lebih dari 10 tahun, Sariyah harus hidup sendiri sejak suaminya meninggal dunia. Selama itu, dia menggantungkan hidupnya dari pendapatan sebagai penjual bubur candil keliling.

Alhamdulillah dari hasil usaha sebagai penjual bubur candil keliling saya bisa menyekolahkan putra saya,” ungkap dia.

Kini, putra Sariyah satu-satunya, bernama Ilham Setiawan, sudah bekerja dan memiliki keluarga yang tinggal di Jakarta. Sariyah akan menjadi salah satu calon jemaah haji yang bertolak ke Tanah Suci dengan kelompok penerbangan 47. “Berapa pun pendapatan saya setiap hari, saya selalu syukuri,” ujar dia menutup perbincangan.

 

sumber: Kompas.com

Waspadai Penawaran Keberangkatan Haji Tanpa Antrian dan Penipuan Umrah

Terkait dengan banyaknya penawaran keberangkatan haji tanpa antrian dan penipuan umrah yang meresahkan masyarakat, maka Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI menyampaikan
informasi penting untuk diketahui sebagai berikut:
A. Informasi penting terkait banyaknya penawaran keberangkatan haji tanpa antrian:
  1. Jangan percaya kepada orang ataupun travel yang menawarkan dapat memberangkatkan haji tanpa antrian.
  2. Jangan percaya kepada orang ataupun travel yang menawarkan umrah murah.
  3. Lihat daftar travel haji khusus dan travel umrah resmi yang terdaftar dan memiliki izin di www.haji.kemenag.go.id.
  4. Jangan sampai Anda menyesal dan akhirnya menyalahkan Kementerian Agama jika akhirnya Anda tertipu.
  5. Sebarkan informasi ini, satu kali Anda sebarkan maka Anda berbuat mulia karena Anda mencegah Sanak Saudara/Keluarga/Sahabat Anda dari penipuan.
B. Informasi penting terkait penipuan umrah:
  1. Jika Anda tertipu oleh travel umrah atau travel haji khususmaka laporkan hal tersebut ke Polri terdekat domisili Anda dengan membawa bukti dugaan penipuan tersebut.
  2. Jika yang melakukan penipuan adalah travel umrah atau haji haji khusus yang memiliki izin dari Kementerian Agama, maka sampaikan tembusan laporan penipuan tersebut ke Kementerian Agama domisili Anda.
  3. Kementerian Agama dan Polri senantiasa melayani Anda dan akan menindak pelaku-pelaku kejahatan tersebut.
  4. Sudah banyak yang ditindak dan dipenjara serta dalam proses persidangan.
  5. Jangan takut untuk melaporkan dugaan penipuan travel umrah dan haji dengan membawa bukti ke Polri domisili Anda.
“Mencegah Lebih Baik: Mari Bersama Kita Berantas Penipuan Umrah dan Haji”
Jakarta, 18 Mei 2015,
Tim Informasi Haji dan Umrah Ditjen PHU
Gedung Siskohat Lantai 3
Kementerian Agama RI
Jalan Lapangan Banteng Barat Nomor 3-4 Jakarta Pusat

Mencontoh Puasa Rasulullah

Ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW menjadi contoh bagi Umat Islam untuk menjalankannya. Termasuk berpuasa.

Tak mudah mengikuti seperti apa yang diberikan dan disampaikan oleh Rasul SAW. Sebab, Rasulullah adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.

Dalam Alquran, Allah memuji Rasulullah SAW sebagai suri teladan yang baik bagi umat. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21). Hal ini menunjukkan bahwa akhlak dan pribadinya sangat baik dan mulia.

Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA dinyatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW itu senantiasa merujuk pada Alquran.

Karena itu, sudah selayaknya umat Islam mencontoh dan meneladani kepribadian Rasulullah SAW dalam segala hal, termasuk puasa. Berikut beberapa cara yang biasa dilakukan Rasulullah SAW dalam menjalankan ibadah puasa dan menghidupkan Ramadhan.

Berniat puasa sejak malam

Diriwayatkan dari Hafsah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa Ramadhan sejak malam, maka tak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud).

Mengawali dengan sahur

Setiap akan berpuasa, Rasul SAW selalu makan sahur dengan mengakhirkannya, yakni menjelang datangnya waktu imsak.

Menyegerakan berbuka dan shalat

Dan ketika berbuka itu, Rasul SAW hanya memakan tiga biji kurma dan segelas air putih, lalu segera berwudhu untuk mengerjakan shIalat Maghrib secara berjamaah.

Dari Abu ‘Athiyah RA, dia berkata, “Saya bersama Masruq datang kepada Aisyah RA. Kemudian Masruq berkata kepadanya, “Ada dua sahabat Nabi Muhammad SAW yang masing-masing ingin mengejar kebaikan, dan salah seorang dari keduanya itu segera mengerjakan shalat Maghrib dan kemudian berbuka. Sedangkan yang seorang lagi, berbuka dulu baru kemudian mengerjakan shalat Maghrib.” Aisyah bertanya, “Siapakah yang segera mengerjakan shalat Maghrib dan berbuka?” Masruq menjawab, “Abdullah bin Mas’ud.” Kemudian Aisyah berkata, “Demikianlah yang diperbuat oleh Rasulullah SAW.” (HR Muslim No 1242).

Memberbanyak ibadah

Selama bulan Ramadhan, Rasul SAW senantiasa memperbanyak amalan, seperti shalat malam, tadarus Alquran, zikir, tasbih, dan sedekah.

Iktikaf

Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasul SAW meningkatkan aktivitas ibadahnya, terutama dengan iktikaf.

Reporter : Syahrudin El-Fikri
Redaktur : A.Syalaby Ichsan

11 Tips Berpuasa untuk Lanjut Usia

1. Seimbangkan Kebutuhan Kalori

Kebutuhan kalori harus sama dengan kebutuhan kalori saat tidak berpuasa. Untuk itu perlu dilakukan pengaturan pola makan, yaitu dengan mengkonsumsi:

  • 40% kalori saat sahur
  • 50% kalori saat berbuka dengan mengonsumsi makanan ringan terlebih dahulu saat berbuka/sebelum sholat maghrib dilanjutkan dengan makanan berat setelah sholat maghrib, dan
  • 10% kalori sisanya setelah sholat tarawih.

2. Pastikan Kebutuhan Cairan Terpenuhi

Konsumsi cairan 30-50 cc/KgBB/hari atau setara dengan 8-10 gelas untuk mencegah dehidrasidengan cara sebagai berikut:

  • 2 gelas air saat berbuka
  • 3-4 gelas air setelah tarawih sampai dengan sebelum tidur
  • Satu gelas saat bangun tidur sebelum sahur
  • 1-2 gelas saat sahur.

3. Perbanyak Cairan atau Jus

Konsumsi air atau jus buah pada waktu antara berbuka puasadan sebelum tidur.

4. Hindari Es

Hindari terlalu banyak mengkonsumsi es karena dapat menahan rasa kenyang sehingga konsumsi makanan lengkap akan berkurang.

5. Komposisi Gizi Harus Seimbang.

Pastikan menu makanan yang ada memiliki nilai gizi yang seimbang dengan porsi yang ada.

6. Bijaksana Memilih Menu

Batasilah makanan yang digoreng dan tinggi lemak.

7. Tips Saat Sahur:

  • batasi konsumsi teh atau kopi
  • batasi makanan yang lebih cepat dicerna seperti gula
  • dianjurkan untuk konsumsi makanan yang lambat dicerna dan tinggi serat.

8. Tips Saat Berbuka:

  • Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi kurma karena mengandung gula serat, karbohidrat, kalium, natrium, kalsium, fosfor, zat besi, dan magnesium.
  • Baik untuk mengonsumsi pisang sebagai sumber kalium, magnesium, dan karbohidrat.

9.  Cukupi Konsumsi Vitamin dan Mineral

Pastikan menu yang ada memiliki intake nilai nutrisi yang seimabng dan tepat guna. Untuk beberapa kondisi, mengkonsumsi vitamin atau suplemen harian memang dianjurkan, seperti halnya masa pemulihan pasca sakit. Meskipun demikian, jika menu makanan harian sudah memiliki nilai gizi yang seimbang, maka asupan suplemen tambahan tidak lagi diperlukan, karena asupan kebutuhan nutrisi sudah cukup terpenuhi.

10.   Waspadai Kekurangan Cairan (dehidrasi)

Atur sedemikian rupa untuk senantiasa memastikan asupan cairan mudah selalu terpenuhi di malam hari.

11.  Meminum Obat-obatan

Obat-obatan (bila ada) tetap harus dikonsumsi saat sahur dan berbuka puasa.

 

sumber: Klikdokter.com

Puasa itu untuk Allah

Assalamualaikum wr wb.

Ustaz, mengapa dalam hadis disebutkan Allah SWT menegaskan bahwa ibadah puasa untuk-Nya dan hanya Dia sendiri yang membalasnya? Bukankah semua amal ibadah kita itu untuk Allah dan Allah jugalah yang membalas semua amal ibadah kita?

Imakyadi Jakarta

—————————————————-

 

Waalaikumussalam wr wb.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).

Hadis di atas menjelaskan keutamaan dan kelebihan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Ada beberapa penjelasan ulama tentang maksud dari hadis di atas.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menyebutkan penjelasan ulama tentang makna hadis dan mengapa puasa diberi keutamaan ini.

Di antara alasan yang paling kuat, pertama, ibadah puasa itu tidak terkena riya sebagaimana ibadah lainnya berpotensi terkena riya.

Al-Qurtubi berkata, Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut, kecuali Allah, maka Allah sandarkan ibadah puasa itu kepada Diri-Nya.
Karena itu, dikatakan dalam hadis, ‘Ia meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’

Ibnu Al-Jauzi berkata, ‘‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan, sedikit sekali yang selamat dari godaan, yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya, berbeda dengan ibadah puasa.

Kedua, maksud ungkapan Aku yang akan membalasnya, adalah bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya.

Al-Qurtuby berkata, Artinya amalan ibadah lainnya telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa, dia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai 700 kali sampai sekehendak Allah, kecuali puasa, Allah sendiri yang akan memberi pahalanya tanpa batasan.

Ketiga, makna Puasa untuk-Ku, maksudnya adalah bahwa dia termasuk ibadah yang paling Allah cintai dan paling mulia di sisi-Nya.

Ibnu Abdul Bar berkata, Cukuplah ungkapan ‘puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Keempat, penyandaran di sini adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana ungkapan Baitullah (rumah Allah) meskipun semua rumah milik Allah.

Az-Zain bin Munayyir berkata, Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini tidak dapat dipahami melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan. Kemudian, Ibnu Hajar menjelaskan, makna yang paling kuat adalah makna yang pertama.

Sedangkan, Ibnu Abdil Barr menjelaskan, makna ungkapan puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya adalah bahwa ibadah puasa seseorang itu tidak terlihat melalui perkataan ataupun perbuatannya karena dia merupakan amalan hati yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah.

Puasa bukan sesuatu yang terlihat sehingga bisa ditulis oleh malaikat pencatat sebagaimana ibadah-ibadah lain, seperti dzikir, shalat, sedekah, dan ibadah lainnya.

Hal itu karena puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga saja tanpa adanya niat melakukannya karena Allah SWT. Dengan demikian, siapa yang tidak berniat menahan lapar dan dahaga karena Allah  maka dia bukanlah orang yang berpuasa.

Hal tersebut ditegaskan dalam hadis Nabi. Puasa haruslah dilakukan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah SWT.

Karena itu, seharusnya ibadah puasa kita adalah amalan yang  paling jauh dari segala unsur riya dan pamer karena hanya Allah yang mengetahui puasa kita. Ini mendidik kita memurnikan keikhlasan hanya untuk Allah. Wallahu a’lam bish shawab.

Ustaz Bachtiar Nasir

 

 

sumber:Republika Online

Kisah Seorang Pemulung yang Bisa Naik Haji

Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp 10 ribu. Yang Rp 5 ribu ditabung dan yang Rp 5 ribu untuk makan.

Probolinggo – Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Inilah yang diyakini dan dilakukan Mbok Karyati, seorang pemulung asal Probolinggo.

Meski secara logika pekerjaannya adalah pekerjaan rendahan, namun nenek 68 tahun ini ternyata bisa mencapai cita-citanya yakni menunaikan rukun Islam yang kelima, haji.

Untuk bisa mencapai keinginannya itu, Mbok Karyati telah bekerja sangat keras. Selama 20 tahun, wanita paruh baya yang tinggal di Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Probolinggo ini menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.

Janda renta yang mempunyai 4 orang anak ini berkeyakinan bahwa ia bakal bisa naik haji layaknya orang-orang berduit. “Memang penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Mbok Karyati saat berbincang dengan detikcom di rumahnya, Rabu (18/9/2013).

Mbok Karyati bercerita, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2001 lalu. Saat itu ia masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di 2005. Untuk menyambung hidup, Mbok Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-cita menunaikan ibadah haji.

“Ketika uang sudah terkumpul Rp 40 juta, ada seseorang yang meminjam dan tidak dikembalikan. Padahal saat itu sudah mau didaftarkan. Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa,” terang Mbok Karyati.

Bermodal sepeda buntut, Mbok Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji.

“Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp 10 ribu. Yang Rp 5 ribu ditabung dan yang Rp 5 ribu untuk makan,” ujar Mbok Karyati.

Dan selama mengejar impiannya, Mbok Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucu, namun nenek bercucu 12 orang ini tak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya.

Mbok Karyati lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di mesjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.

Usaha Mbok Karyati tak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keihklasan hatinya membawa Mbok Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Mbok Karyati direncanakan akan berangkat tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 embarkasi Juanda.

 

sumber: Detik.com/M Rofiq 

Konsumsi Makanan Sehat untuk Jamaah Haji

Jakarta– Ibadah haji merupakan ibadah dalam rangka memenuhi rukun islam yang kelima, yang pada hakekatnya berupa ibadah fisik—spiritual yang terencana dan terprogram. Oleh karena itu, dalam melakukan ibadah haji, kita sebaiknya mempersiapkan segala sesuatu sedini mungkin, baik terkait fisik, mental, sosial sejak di tanah air, di perjalanan, ketika melaksanakan ibadah haji, hingga kembali ke tanah air.

Nah, mitra haji dan umrah. Agar mampu menjalankan setiap kegiatan manasik haji tanpa kelelahan yang berarti, jamaah haji perlu menjaga asupan makanan yang sehat dan bermutu baik, sesuai kaidah gizi yang seimbang. 

Menjaga kesehatan merupakan hal yang utama bagi jamaah haji. Apalagi jika jamaah haji datang dari negara yang berbeda iklim dan suhu udaranya serta menempuh penerbangan panjang. Oleh karena itu, kesehatan tubuh harus dijaga dan berikut beberapa saran yang bisa dijalankan. 

1. Sebelum meninggalkan tanah air, jamaah haji hendaknya memperhatikan asupan nutrisi dengan lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. 

2. Menjaga agar menu makanan seimbang antara asupan protein dan karbohidrat. 

3. Buah dan sayur akan memasok tubuh dengan antioksidan dan bioflonoid. 

4. Konsumsi rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, pala, dan lada yang bisa meningkatkan sistem imunitas tubuh terhadap penyakit. 

5. Sebagai camilan, jamaah haji disarankan memakan buah-buahan, baik buah segar mauupun buah yang telah dikeringkan. 

6. Minumlah air dan cairan yang matang dan bersih, kecuali air zam-zam yang memang sudah terjamin kesehatannya. 

7. Minumlah teh herbal yang dibubuhi cengkeh, mint, rosemary, sereh, jahe, dan kamomila karena bisa menawar racun dan menghindari infeksi. 

8. Minumlah racikan teh dengan madu yang berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi flu babi dan influenza (sebagaimana dikatakan Dr. Hani Yusuf dari Palestina). 

9. Konsumsui sup berbumbu bawang putih, bawang merah, atau bubuk cayenne (semacam bubuk ketumbar) yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh. 

10. Konsumsi multivitamin, vitamin C dosis tinggi dengan Biofolvonoid, serta suplemen mineral dan selenium. 

Makanan yang perlu dihindari jamaah haji 

Selain itu jamaah haji juga sebaiknya menghindari hal-hal yang membuat kesehatan terganggu seperti beberapa jenis makanan berikut. 

1. Gorengan serta makanan yang menggunakan zat warna dan pengawet yang bisa melemahkan imunitas tubuh. 

2. Pemanis buatan, seperti aspartam yang bisa merusak jaringan saraf dan berbahaya terhadap jaringan otak serta organ tubuh. Apalagi jika dipanaskan di atas suhu 30 derajat celcius. 

3. Minum soda dengan pemanis karena dapat melemahkan kemampuan tubuh terhadap infeksi bakteri virus. 

Pedoman makanan sehat untuk jamaah haji di tanah air 

Selain menghindari makanan tersebut di atas, jamaah haji juga perlu mengaplikasikan pedoman makanan sehat, baik di tanah air atau di tanah suci. Berikut makanan yang perlu diperhatikan konsumsinya bagi jamaah haji ketika masih di tanah air. 

1. Konsumsi makanan yang beraneka ragam, terdiri dari makanan seperti makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, dan buah-buahan secukupnya. Jangan terlalu membatasi diri dengan diet jenis makanan tertentu. Hal ini disebabkan tubuh kita sudah didesain untuk mengonsumsi beragam bentuk makanan yang telah disediakan Allah swt. 

2. Pilih makanan pokok seperti beras, jagung, kentang, ubi talas, singkong, roti, mi, dan sebaginya. Perhatikan cara penyajiannya secara sehat, terutama konsumsi mi. 

3. Konsumsi lauk-pauk yang bergizi tinggi seperti daging, telur, ikan,daging ayam, kacang-kacangan, dan hasil olahan seperti tahu dan tempe. 

4. Konsumsi sayur-sayuran berwarna seperti bayam, kangkung, wortel, labu, sawi, daun singkong, dan sebagainya. 

5. Konsumsi buah-buahan berwarna kuning atau kemerahan yang banyak mengandung vitamin, misalnya buah pepaya, pisang, jeruk, nanas, apel, semangka, dan melon. 

6. Minum air secukupnya. 

Jenis makanan untuk jamaah haji saat di tanah suci 

Pada saat berada di tanah suci, kemungkinan besar jamaah haji akan menghadapi kebiasaan makan yang berbeda. Keadaan seperti inilah yang perlu disadari sejak jamaah haji masih berada di tanah air. Dengan niat dan tekad yang mantap, jamaah haji siap menerima perubahan yang dihadapinya, termasuk menghadapi jenis hidangan atau bahan makanan baru di tanah suci. Adapun contoh jenis makanan yang bisa dipilih, yang sudah dihidangkan di tempat tersebut di antaranya sebagai berikut. 

1. Makanan pokok tercampur dari nasi, nasi birjani ,chapattis, nasi turki, kentang goreng, mie, nasi buhari, nasi kari, dan sebagainya. 

2. Lauk-pauk, dapat berupa: ayam goreng, empal daging, sate ayam, kari, gulai kambing, shih kebab, ikan goreng, dan sebagainya. 

3. Sayuran, dapat berupa: pecel, gado-gado, sayur asem, sayur sop, dan oseng-oseng buncis. 

4. Buah-buahan yang dapat disediakan: apel, jeruk, semangka, dan sebagainya. 

5. Minuman. Pada umumnya, cuaca di tanah suci bersuhu tinggi (panas) dengan kelembapan sangat rendah. Oleh karena itu, biasakan minum air 1 gelas setiap jam selama berada di tanah suci walaupun tidak merasa haus. Air minum bisa berupa air matang, air zam-zam, minuman dalam kemasan, dan bermacam-macam sari buah. 

Makanan yang bergizi dan minuman yang megandung vitamin tersebut dapat membantu para jamaah haji mempertahankan kondisi tubuh agar tetap sehat dan fit. Semoga tips sehat dalam memilih makanan ini bisa mengantarkan kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah. Selamat berhaji.

 

sumber: Pusat Kesehatan Haji Depkes RI

Film Haji Backpacker, Seorang yang Murtad Menemukan Jalan Pulang

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willem Jonata

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cintanya yang kandas membuat Mada (Abimana Aryasatya), pria berusia 27 tahun itu, meluapkan kemarahannya pada Tuhan. Ia marah karena merasa Tuhan telah mengabaikan doa sekaligus harapannya untuk bersatu bersama Sophia (Dewi Sandra), dalam ikatan pernikahan.

Hatinya hancur. Pernikahan di depan mata terpaksa dibatalkan. Ia tak sanggup menanggung malu di hadapan penghulu dan tamu undangan, setelah mengetahui Sophia kabur menjelang acara ijab kabul. Ia merasa Tuhan mempermainkannya. Iman dan keyakinannya goncang.

Mada kemudian memutuskan pergi sejauh mungkin dari rumahnya. Ia berkelana ke negeri orang tanpa ada tujuan jelas. Sejak saat itu pula, ia berhenti menjalankan salat. Bahkan, ketika mendengar ayahnya meninggal dunia di tanah suci Mekkah saat menunaikan ibadah haji, ia menolak ajakan sang kakak untuk melakukan salat ghaib.

Sebagai Muslim yang taat, Mada berubah 180 derajat. Ia berusaha melupakan masa lalunya dengan bersenang-senang di Thailand. Ia mabuk-mabukan. Bahkan ia tak takut mati ketika seorang preman pasar dengan pisau di tangannya menantangnya duel supaya mendapatkan dompetnya kembali.

Ia memenangkan duel dengan mematahkan leher lawannya. Keesokan harinya, ia jadi buronan kawanan preman dan pihak kepolisian. Hidupnya diliputi kecemasan. Atas saran seseorang ia lantas melarikan diri ke Vietnam dengan membawa dengan luka di perutnya akibat sayatan pisau sang preman.

Lepas dari kejaran tak membuatnya merasa tenang. Ia dihantui mimpi buruk setiap memejamkan mata: ia jatuh dari atas balon udara yang robek karena ujung kubah.

 

sumber: TribunNews.com