Ketika Pasukan Kerajaan Inggris Pertama Kali Berhaji

Ditengah merebaknya isu Islamophobia di Inggris, negara Ratu Elizabeth memberangkatkan 18.500 calon jamaah haji ke Arab Saudi pada musim haji tahun ini.

Namun, yang menarik, dari ribuan calon jamaah haji Inggris tersebut, terdapat beberapa tentara Kerajaan Inggris yang tahun ini pertama kali melakukan rukun Islam kelima tersebut.

Dilansir dari media Saudi, Asharq Al Aswat, Sabtu (10/9), Kantor Luar Negeri Inggris menerbitkan foto ketika beberapa tentara Inggris di Madinah melakukan ritual haji.

Lamin Camara, salah seorang delegasi haji dari pasukan Kerajaan Inggris, Royal Horse Artillery mengatakan, ia merasakan kerendahan hati dan tingkah lakunya selama prosesi haji.

“Ini merupakan perjalanan haji saya yang pertama, dan mengunjungi Masjid Nabawi dan Makam Rasulullah. Bagi saya seperti mimpi,” kata dia.

“Saya berutang budi kepada rantai komando saya atas dukungan mereka dalam hal ini. Pengalaman ini pasti akan membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, dan karena itu seorang prajurit yang baik,” sambungnya.

Delegasi haji dari angkatan bersenjata Inggris mengunjungi dua kota suci, Madinah dan Makkah pada musim haji tahun ini berkat kerja sama dengan angkatan bersenjata Arab Saudi. Konsul Inggris di Jeddah Barry Beach mengatakan, pihaknya senang membantu 18.500 jamaah haji asal Inggris berhaji tahun ini.

Penasehat Islam untuk kepala staf pertahanan Inggris, Imam Asim Hafiz–yang juga memimpin delegasi haji Inggris– mengatakan ini menjadi bukti kemampuan tentara Inggris menjaankan perintah agama. Muslim di angkatan bersenjata Inggris yang beribadah haji telah menunjukkan bahwa tugas kemiliteran mereka harmonis dengan kewajiban Islam.

“Banyak nilai-nilai moral yang dimiliki oleh Angkatan Bersenjata sepenuhnya selaras dengan agama Islam,” ujar dia. Dalam pandangannya, kesempatan sebagai tentara untuk memenuhi rukun Islam kelima tidak diragukan lagi memperkuat nilai-nilai tersebut.

Usai ritual haji, kata Hafidz, para prajurit Muslim ini nilai rohaninya akan kembali direvitalisasi. Ini akan membuat mereka lebih baik pada pekerjaan yang mereka lakukan, dan membuat mereka lebih sadar memenuhi tanggung jawab mereka. Yakni, melakukan yang terbaik bagi negara dan agamanya.

 

sumber: Republika Online

Haji Mengubah Malcom X Melawan Diskriminasi Rasial di AS

Diperkirakan dua juta Muslim berkumpul dari seluruh dunia melaksanakan ritual puncak haji, yaitu wukuf di Padang Arafah. Pada 1964, seorang warga Afro Amerika, Malcom X juga pernah melakukan hal serupa di tempat yang sama.

Perjalanan haji dan wukuf di Arafah saat itu telah mengubah perjalanan hidupnya secara drastis, yakni melawan penindasan warga kulit hitam Amerika oleh warga kulit putih. Hal itu ia tuangkan dalam salah satu surat pribadinya, yang ditujukan kepada asisten setia di Harlem.

Dilansir dari Arysnews.tv, Ahad (11/9), berjudul ‘Historical letter that Malcolm X wrote after Hajj’, Malcom X menulis, “Amerika perlu memahami Islam, karena inilah satu-satunya agama yang menghapus dari masalah rasial dalam komunitas bangsa ini.”

Sepanjang perjalanan ke negara Muslim, Malcolm C mengau bertemu dan berbicara dan makan dengan orang yang mungkin di Amerika dianggap warga putih. Namun, kata dia, sikap rasial itu telah dihapus oleh Islam dari pikiran mereka.

“Aku belum pernah melihat persaudaraan yang tulus dan benar-benar dipraktikkan oleh semua warna bersama-sama, terlepas dari warna kulit mereka,” ujar Malcolm X.

“Anda mungkin terkejut dengan kata-kata saya ini, tapi perjalanan ziarah haji ini, apa yang saya lihat, rasakan telah memberikan kekuatan kepada saya untuk menyusun kembali dari pola pikir yang ada pada diri saya sebelumnya.”

“Selama 11 hari terakhir haji di negara Muslim, aku sudah makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di karpet yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama, dengan sesama Muslim. Dari mata yang berwarna paling biru, rambut yang paling pirang, dan kulit yang paling putih. Aku merasakan ketulusan yang sama bahwa aku merasa di antara muslim Afrika, Nigeria dan Ghana. Kami benar-benar sama bersaudara,” tulis dia dalam salah satu bagian suratnya.

Inilah yang ia yakini, pesan yang sama disampaikan Rasulullah 14 abad yang lalu. Saat wukuf di Arafah dalam Haji Wada (Haji perpisahan), beberapa pesan Rasulullah berisi ajaran kemanusiaan dan persaudaraan universal.

Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang kulit berwarna dengan orang kulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dengan orang kulit berwarna, kecuali karena takwanya.”

“Wahai manusia! Sesungguhnya darah, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, pada bulan ini, di negeri ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya, tidak boleh dirampas hartanya dan tidak boleh dicemarkan kehormatannya. Dengan demikian kamu tidak menganiaya dan tidak teraniaya,” sabda Rasulullah Dan dalam khutbah Wukufnya yang lain.

 

sumber: Republika Online

Beli Facebook

Haji Dullah betul-betul dibuat jengkel. Untuk kesekian kali seorang penguasaha warnet mengejek para santrinya sebagai gerombolan orang masa kini yang gaptek alias gagap teknologi. Cepat-cepat ia paksakan kaki tuanya itu bertandang ke warnet.

“Saya memang melarang santri saya main di warnet sampean. Tapi jangan seenaknya sendiri dong menghina santri-santri saya,” sergah Haji Dullah.

“Maksudnya, Yai?” pengusaha warnet belum paham.

“Kenapa santri saya dibilang gaptek?” Haji Dullah tak terima.

“Gimana enggak gaptek, Yai, kalau facebook saja tidak punya. Hari gini…”

“Memang berapa sih harganya facebook, saya beli semua.”

Pengusaha warnet: ????

 

 

 

Sumber: NU Online

Syarat-Syarat Hewan Layak Kurban

SYAIKH Sayyid Sabiq Rahimahullah menuliskan ada dua syarat:

Pertama, hendaknya yang sudah besar, jika selain jenis Adh Dhanu (benggala, biri-biri, kibasy, dan domba). Jika termasuk Adh Dhanu maka cukup jadza atau lebih. Jadza adalah enam bulan penuh dan gemuk badannya. Unta dikatakan besar jika sudah mencapai umur lima tahun. Sapi jika sudah dua tahun. Kambing jika sudah setahun penuh.

Bila hewan-hewan ini telah mencapai umurnya masing-masing maka sudah boleh dijadikan hewan kurban.

Kedua, hendaklah sehat dan tidak cacat. Maka tidak boleh ada pincang, buta sebelah, kurap (penyakit kulit), dan kurus. Dari Al Hasan: bahwa mereka berkata jika seorang membeli Unta atau hewan kurban lainnya dan kondisinya sehat-sehat saja, namun sehari sebelum hari H mengalami pincang, buta sebelah, atau kurus kering, maka hendaklah diteruskan penyembelihannya, karena yang demikian telah cukup memadai. (HR. Said bin Manshur).[6] Demikian dari Syaikh Sayyid Sabiq.

Jadi, bisa diringkas, jika hewan kurbannya adalah jenis kibas, biri-biri, dan domba, maka minimal adalah setengah tahun penuh. Jika selain itu maka hendaknya yang sudah cukup besar, biasanya ukuran besar bagi kambing biasa adalah setahun penuh. Sapi adalah dua tahun penuh, dan Unta adalah lima tahun.

Jantan dan Betina Sama Saja. Tidak sedikit yang bingung tentang ini, padahal keduanya boleh dan sah sebagai qurban.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

Syarat pertama, dan ini disepakati mazhab-mazhab, bahwa hewan qurban adalah dari golongan hewan ternak. Yaitu Unta, Sapi peliharaan termasuk jawamis (sejenis banteng), dan juga kambing baik yang benggala atau biasa. Dan semua itu sah baik jantan dan betina. (Al Mausu’ah, 5/81-82)

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2323105/syarat-syarat-hewan-layak-kurban#sthash.na2f9Htm.dpuf

Sebab Merpati-Merpati Kabah

Jamaah haji di Makkah dan Madinah pasti menyaksikan pemandangan kota yang sering diwarnai oleh ribuan burung merpati yang berkumpul dan beterbangan di udara. Tak ada seorang pun penduduk di sana yang memburunya.

Burung-burung merpati di sana, khususnya di Ka’bah, dibiarkan bebas dan berkembang biak. Ada satu kisah yang dikutip dari al-Ustaz Muhammad Rusli Amin yang mengutip Doston Ye Az Khudha oleh Ahmad Mir Khalaf Zadeh dan QWasim Mir Khlaf Zadeh tentang merpati ini.

Kisah ini diawali dari Imam Ali Zainal Abidin Al Sajjad yang bertanya kepada para sahabatnya, ”Apakah kalian tahu sebab keberadaan merpati-merpati di Ka’bah?” Para sahabatnya menjawab, ”Kami tidak mengetahuinya. Jelaskanlah kepada kami.”

Beliau berkata, ”Di zaman dahulu, hiduplah seorang laki-laki yang memiliki sebuah rumah. Di tengah rumah itu, tumbuhlah sebatang pohon kurma. Seekor burung merpati membuat sarangnya di atas pohon kurma itu. Setiap kali merpati itu menetaskan anak-anaknya, lelaki itu memanjat pohon kurma tersebut, lalu mengambil anak-anak merpati itu dan menyembelihnya.”

Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa waktu. Akhirnya, burung merpati itu mengadukan perbuatan laki-laki tersebut kepada Allah. Kemudian, kepada merpati itu diilhamkan bahwa pada kali berikutnya, saat laki-laki itu memanjat pohon untuk mengambil anak-anak sang merpati, ia akan terjatuh dari atas pohon kurma dan meninggal dunia.

Burung merpati itu kembali menetaskan anak-anaknya. Suatu hari, ia melihat laki-laki itu memanjat pohon kurma. Sang induk merpati pun bertengger di atas sebuah dahan dan memperhatikan apa yang akan terjadi. Ketika laki-laki itu memanjat pohon, terdengarlah suara pengemis dari balik pintu rumah, meminta bantuan.

Lelaki itu pun segera turun dari pohon dan memberikan bantuan kepada sang pengemis. Lalu, ia kembali memanjat pohon, mengambil anak-anak merpati itu dan menyembelihnya. Tidak ada bahaya yang menimpanya.

Induk merpati pun mengadu kepada Allah, ”Ya Allah, mana janji-Mu yang telah Engkau sampaikan padaku?” Maka Allah mengilhamkan kepada induk merpati itu, ”Karena sedekah kepada pengemis yang dilakukan lelaki tersebut, maka ia terhindar dari bencana. Akan tetapi, dengan cepat Aku akan memperbanyak keturunanmu. Dan Aku akan memberikan kepadamu sebuah tempat tinggal yang aman, sehingga engkau tidak akan diganggu hingga hari kiamat.”

 

 

Sumber: Koran Republika

Maka, Allah SWT menempatkan merpati-merpati itu di Ka’bah, sebuah tempat yang aman dan tenteram. Tak seorang pun mampu memburu dan menangkap mereka. Wallahu a’lam.

Subhanallah, Faedah Salat Duha Sangat Menakjubkan

SALAT Duha memiliki keutamaan yang luar biasa.

Berikut ini 6 keutamaan salat Duha sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis sahih:

1. Diwasiatkan Rasulullah agar dikerjakan setiap hari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata: “Kekasihku (Muhammad) shallallahu alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan (ayyamul bidh), salat Duha dua rakaat dan salat witir sebelum tidur” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

“Kekasihku mewasiatkan tiga hal yang tidak akan kutinggalkan hingga mati yakni berpuasa tiga hari setiap bulan, salat Duha dan salat witir sebelum tidur” (HR. Al Bukhari)

2. Salat Duha adalah salat Awwabin, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata:

“Kekasihku (Muhammad) mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang aku tidak meninggalkannya: agar aku tidak tidur kecuali setelah melakukan salat witir, agar aku tidak meninggalkan dua rakaat salat Duha karena ia adalah salat Awwabin serta agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan” (HR. Ibnu Khuzaimah; shahih) Awwabin adalah orang-orang yang taat. Merutinkan salat dhuha, dengan demikian, berarti menjadikan seseorang dicatat sebagai orang-orang yang taat.

3. Salat Duha 2 rakaat senilai 360 sedekah

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang berbuat munkar adalah sedekah. Semua itu dapat diganti dengan salat Duha dua rakaat.” (HR. Muslim).

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

4. Salat Duha 4 rakaat membawa kecukupan sepanjang hari. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

5. Salat Duha merupakan ghanimah terbanyak. Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar para sahabatnya membicarakan tentang ghanimah (harta rampasan perang), maka beliau menunjukkan amal yang lebih banyak dari pada ghanimah-ghanimah itu.

“Barangsiapa berwudhu kemudian pergi pada waktu pagi ke masjid untuk melaksanakan salat Duha, maka hal itu adalah peperangan yang paling dekat, ghanimah yang paling banyak, dan kembalinya lebih cepat” (HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan shahih).

Penjelasan hadis ini mengisyaratkan dengan keutamaan salat Duha dan hubungannya dengan rezeki. Bahwa siapa yang mengamalkan salat Duha, ia mendapatkan lebih banyak dari harta rampasan perang; baik dalam hal kuantitas harta atau keberkahannya.

6. Pahala salat Duha senilai dengan pahala umrah untuk keutamaan keenam ini, penjelasannya bisa dibaca di “Salat Duha Berpahala Umrah”.

Demikian enam keutamaan salat Duha, semoga semakin memotivasi kita dalam mengamalkan sunah Nabi ini, serta menjadikan salat Duha sebagai salah satu kebiasaan rutin.

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2323318/subhanallah-faedah-salat-duha-sangat-menakjubkan#sthash.8qIVBaEy.dpuf

Aneh, Menurunkan Gaji, Hidup Malah Semakin Berkah

SESEORANG datang kepada Imam Syafii mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafii justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafii sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafii mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafii memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafii dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafii dan berterima kasih atas nasihatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafii menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercampur dengannya. Lalu Imam Syafii membacakan sebuah syair:

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.

Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak.

Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk salat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat

Semoga menjadi nasihat terutama buat diri saya dan kita semua. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2322452/aneh-menurunkan-gaji-hidup-malah-semakin-berkah#sthash.9rit9IUC.dpuf

Terbiasa Mandi Telanjang, Bolehkah dalam Islam?

apabila mandi di dalam ruangan tertutup rapat seperti kamar mandi. Karena pada hakikatnya dinding kamar mandi sudah cukup sebagai penutup aurat.

Namun ada sebagian pendapat yang tetap bersikeras bahwa mandi telanjang di dalam kamar mandi tidak dibenarkan, karena dianggap tetap membuka aurat juga. Pendapat ini termasuk pendapat yang berhati-hati dan kita bisa maklum.

Lagi pula, keharusan itu hanya dari bab keutamaan saja, bukan dosa kalau dilanggar. Sebab hakikat larangannya adalah tidak boleh terlihat aurat oleh orang lain. Dan mandi di dalam kamar mandi yang tertutup sudah mencukupi ketentuan itu.

Wallahu a’lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2322771/terbiasa-mandi-telanjang-bolehkah-dalam-islam#sthash.57AjVurE.dpuf

Sudah Mampu Secara Harta, Berdosakah Menunda Haji?

SEBAGIAN ulama lain menyebutkan bahwa kewajiban melaksanakan ibadah haji boleh diakhirkan atau ditunda pelaksanaannya sampai waktu tertentu, meski sesungguhnya telah terpenuhi semua syarat wajib. Istilah lainnya yang juga sering dipakai untuk menyebutkan hal ini adalah al-wujubuala at-tarakhi.

Kalau segera dikerjakan hukumnya sunah dan lebih utama, sedangkan mengakhirkannya asalkan dengan azam (tekad kuat) untuk melaksanakan haji pada saat tertentu nanti, hukumnya boleh dan tidak berdosa. Dan bila sangat tidak yakin apakah nanti masih bisa berangkat haji, entah karena takut hartanya hilang atau takut nanti terlanjur sakit dan sebagainya, maka menundanya haram.

Di antara yang berpendapat demikian adalah Mazhab As-Syafi’iyah serta Imam Muhammad bin Al-Hasan. Dalil yang digunakan oleh pendapat ini bukan dalil sembarang dalil, namun sebuah dalil yang sulit untuk ditolak.

a. Semua Hadis di Atas Lemah

Meski hadis-hadis yang disodorkan para ulama pendukung kewajiban menyegerakan haji itu kelihatan sangat mengancam, namun jawaban para ulama yang mendukung mazhab ini tidak kalah kuatnya. Mereka bilang bahwa semua hadis di atas itu tidak ada satu pun yang sahih. Semua hadis itu bermasalah, sebagiannya ada yang lemah dan sebagian lagi malah hadis palsu.

Maka kita tidak perlu repot dengan dalil-dalil yang nilai derajat hadisnya masih bermasalah. Karena hadis lemah apalagi palsu, jelas tidak bisa dijadikan sandaran dalam berdalil.

b. Praktek Rasulullah & 124 ribu Sahabat

Sementara di sisi lain justru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mencontohkan dan juga diikuti oleh 124 ribu sahabat untuk menunda pelaksanan ibadah haji. Sekadar untuk diketahui, ayat tentang kewajiban melaksanakan ibadah sudah turun sejak tahun keenam Hijriah. Sedangkan beliau bersama 124 ribu sahabat baru melakukannya di tahun kesepuluh Hijriah.

Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Siapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)

Itu berarti telah terjadi penundaan selama empat tahun, dan empat tahun itu bukan waktu yang pendek. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak peristiwa Fathu Mekkah di tahun kedelapan hijriyah sudah sangat mampu untuk melaksanakannya.

Seandainya orang yang menunda ibadah haji itu berdosa bahkan diancam akan mati menjadi Yahudi atau Nasrani, tentu Rasulullah dan 124 ribu sahabat beliau adalah orang yang paling berdosa dan harusnya mati menjadi Yahudi atau Nasrani. Sebab mereka itu menjadi panutan umat Islam sepanjang zaman.

Namun karena haji bukan ibadah yang sifat kewajibannya fauri (harus segera dikerjakan), maka beliau mencontohkan langsung bagaimana haji memang boleh ditunda pelaksanaannya, bahkan sampai empat tahun lamanya.

Wallahu a’lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2322517/sudah-mampu-secara-harta-berdosakah-menunda-haji#sthash.IY9GInR2.dpuf

Menunda Haji, Diancam Mati Sebagai Yahudi/Nasrani?

BILA seseorang telah dapat memenuhi syarat kemampuan dalam arti dia punya uang untuk berangkat haji, tentu sangat diutamakan agar menyegerakan berangkat haji.

Namun muncul perbedaan pendapat di kalangan para ulama, apakah hukum menyegerakan berangkat haji, apakah wajib sehingga kalau tidak segera berangkat maka dia berdosa? Ataukah dibolehkan baginya untuk menunda keberangkatannya sampai tahun-tahun mendatang?

Para ulama berbeda pandangan tentang apakah sifat dari kewajiban itu harus segera dilaksanakan, ataukah boleh untuk ditunda.

1. Harus Segera

Jumhur ulama di antaranya Mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan A-Hanabilah menegaskan bahwa ibadah haji langsung wajib dikerjakan begitu seseorang dianggap telah memenuhi syarat wajib, tidak boleh ditunda-tunda. Dalam istilah yang sering dipakai oleh para ulama, kewajiban yang sifatnya seperti ini disebut dengan al-wujubu ala al- fauri.

Menunda berangkat haji padahal sudah mampu termasuk dosa yang harus dihindari menurut pendapat mereka. Dan bila pada akhirnya dilaksanakan, maka hukumnya menjadi haji qadha’, namun dosanya menjadi terangkat.

Ada banyak dalil yang dikemukakan oleh mereka yang mewajibkan, antara lain:

a. Diancam Mati Sebagai Yahudi atau Nasrani

Orang yang punya harta dan mampu pergi haji, kalau dia menunda-nunda keberangkatannya, maka diancam kalau mati bisa mati sebagai Yahudi atau Nasrani. Hal itu didasarkan pada hadis berikut ini:

“Orang yang punya bekal dan kendaraan yang bisa membawanya melaksanakan ibadah haji ke Baitullah tapi dia tidak melaksanakannya, maka jangan menyesal kalau mati dalam keadaan yahudi atau nasrani.” (HR. Tirmizy)

b. Berhajilah Sebelum Tidak Bisa Haji

Ada sebuah hadis yang dijadikan dasar oleh banyak ulama tentang kewajiban untuk menyegerakan ibadah haji begitu seseorang sudah mampu, dalam arti sudah memiliki harta yang cukup, yaitu:

“Laksanakan ibadah haji sebelum kamu tidak bisa haji.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Keadaan tidak bisa haji bisa saja dengan sakit, kematian atau tidak ada keamanan dalam perjalanan haji. Maka mumpung ada jalan, diwajibkan segera mengerjakannya.

c. Tidak Tahu Apa Yang Akan Terjadi

Seorang yang sudah mampu dan punya kesempatan, wajib segera mengerjakan ibadah haji. Alasannya karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi kemudian, sebagaimana bunyi hadis berikut ini:

“Bersegeralah kamu mengerjakan haji yang fardu, karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.” (HR. Ahmad)

Banyak orang yang kurang pandai memelihara kekayaan. Kecenderungan banyak orang akan segera menghabiskan hartanya, kalau tidak segera dipakai untuk sesuatu yang berarti. Ada orang yang kalau punya harta di tangannya, terasa amat panas, jadi rasanya ingin segera membelanjakan. Dan kalau tidak segera berangkat haji, hartanya cepat menguap entah kemana.

Selain itu menurut pendapat ini, menunda pekerjaan yang memang sudah sanggup dilakukan adalah perbuatan terlarang, sebab khawatir nanti malah tidak mampu dikerjakan.

Namun sebagian ulama lain menyebutkan bahwa kewajiban melaksanakan ibadah haji boleh diakhirkan atau ditunda pelaksanaannya sampai waktu tertentu, meski sesungguhnya telah terpenuhi semua syarat wajib. Istilah lainnya yang juga sering dipakai untuk menyebutkan hal ini adalah al-wujubuala at-tarakhi.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2322516/menunda-haji-diancam-mati-sebagai-yahudinasrani#sthash.ShuRiROF.dpuf