Ajaran Rasulullah tentang Manajemen Emosi

Oleh Hj Lily Musfirah Nurlaily

Dalam kompleksitas kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada suatu masalah yang memaksanya untuk memilih, apakah menghadapinya dengan penuh ketenangan atau menyikapinya dengan amarah dan penuh emosi.

Secara etimologis, kata ’emosi’ adalah terjemahan dari bahasa Arab, al-ghadlab. Dalam Alquran, kata al-ghadlab, dengan perubahan bentuk kata, jumlahnya tak kurang dari 24 kali. Dari sekian banyak ayat tersebut, kata al-ghadlab lebih banyak dikaitkan kepada Allah sebagai Sang Khalik. Hanya sedikit ayat yang mengaitkan al-ghadlab dengan manusia. Itu pun bukan terhadap manusia biasa, tetapi terhadap Nabi Musa AS. “Dan, tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati, ia pun berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku.'” (QS al-A’raf [7]: 150).

Dalam ayat itu, disebutkan pula bahwa Nabi Musa sempat menarik rambut saudaranya sendiri, Nabi Harun, karena saking marah dan emosinya. Tentang sikap marahnya Nabi Musa, juga dibadikan dalam surah Taha [20]: 86 dan tentang redanya emosi tersebut juga diabadikan dalam surah al-A’raf [7]: 154.

Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa seorang sahabat datang tergopoh-gopoh menghadap Nabi SAW untuk meminta nasihat. Nabi menjawab, “La taghdlab”, hindari sikap marah (emosi). Nabi SAW mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali.

Hadis ini cukup menjadi bukti bahwa manusia sering kali terjebak dalam keadaan emosi atau marah yang berkepanjangan hingga tidak ada peluang bagi orang lain untuk meminta maaf. Karena itu, wajar bila Nabi SAW mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali.

Bagaimana menguasai marah atau me-manage emosi? Nabi SAW pernah memberikan petunjuk. “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, berbaringlah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan berbaring, segera bangkit dan ambil air wudu untuk bersuci dan lakukan shalat sunah dua rakaat.”

Betapa bijaknya nasihat Rasul SAW di atas. Sebab, ketika manusia sedang marah, ia mengalami dua hal. Pertama, ketegangan syaraf, terutama syaraf otak. Kedua, dirinya sedang bergelut dengan sebuah kekuatan hawa nafsu yang mahadahsyat. Dalam pandangan agama, hawa nafsu itu dipersonifikasikan dengan kekuatan setan.

Maka, ajaran Nabi SAW tentang perubahan gerakan fisik dari berdiri kepada duduk dan dari duduk kepada berbaring bertujuan untuk melenturkan dan meredakan (relaksasi) ketegangan syaraf otak dan syaraf-syaraf lainnya. Jika gerakan fisik juga tidak mampu meredakan emosi, Nabi SAW berpesan agar segera berwudu dan mendirikan shalat dua rakaat. Tujuannya, segera berlindung kepada kekuatan Allah untuk mengusir kekuatan setan yang terbungkus dalam bentuk sikap marah dan emosi. Wa Allahu A’lam.

 

sumber: Republika Online

Adab Mengendalikan Amarah Menurut Islam

Jangan marah!” begitu sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayat kan Imam Bukhari.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang bisa saja marah. Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Lalu apa makna hadis Nabi SAW itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bani menjelaskan makna hadis itu: “AlKhath thabi berkata, “Arti perkataan Rasu lullah SAW ‘jangan marah’ adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang meng arah kepadanya.” Menurut ‘Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.

Nah, apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika marah? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab alIslamiyah, mengungkapkan hendak nya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut adab-adab yang perlu diperhatikan terkait marah.

Pertama, jangan marah, kecuali karena Allah SWT. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan perbuatan haram merajalela. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah.

“Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia yang tak mendatangkan pahala,” tutur Syekh Sayyid Nada. Rasulullah SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi marah karena Allah SWT. Nabi SAW pun tak pernah dendam, kecuali karena Allah SWT.

Kedua, berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Ia mengingatkan, kemarahan kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan bisa pula memutuskan silaturahim.

Ketiga, mengingat keagungan dan kekuasaan Allah SWT. “Ingatlah kekuasaan, perlindungan, keagungan, dan keperkasaan Sang Khalik ketika sedang marah,” ungkap Syekh Sayyid Nada. Menurut dia, ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan akan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Sesungguhnya, papar Syekh Sayyid Nada, itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun (sabar).

Keempat, menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul. Allah SWT berfirman, ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran:134).

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bahri, ketika kemarahan tengah me muncak, hendaknya segera menahan dan meredamnya untuk tindakan keji. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad).

Kelima, berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT, niscaya akan reda kemarahannya.” (HR Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)

Keenam, diam. Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.

Ketujuh, mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan perintah Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

Kedelapan, berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. “Maka dari itu, wudhu, mandi atau semisalnya, apalagi mengunakan air dingin dapat menghilangkan amarah serta gejolak darah,” tuturnya, Kesembilan, memeberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah SWT memuji para hamba-Nya “… dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS Asy-Syuura:37).

Sesungguhnya Nabi SAW adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah. “… dan ia tak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun ia memaafkan dan memberikan ampunan… ” begitu sifat Rasulullah SAW yang tertuang dalam Taurat, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS.

sumber: Republika Online

Rahasia di Balik Amarah

oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Suatu waktu Ibnu Umar radhiya Allahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah ‘Azza wa Jalla?” Rasul langsung menjawab, ”Jangan marah!” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka.

Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau. ”Jangan marah!” Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah. ”Dan bagimu adalah surga!” Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.

Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ”Saya lebih baik darinya (Adam–Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.

Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana. Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah. Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.

Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.

Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok. Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk).  Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji).  Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).

Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang. Nah, kira-kira di mana posisi kita saat marah?  Wa Allahu a’lam.

sumber: Republika Online

Jamah Wafat di Mina Lebih dari 1.100 Orang

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI — Menurut perhitungan kantor berita Associated Press, jumlah jamaah haji yang wafat dalam bencana di Mina, Arab Saudi mencapai lebih dari 1.100 orang, Senin (5/10). Sementara jumlah resmi yang disebutkan otoritas Arab Saudi adalah 769 korban wafat dan 934 korban luka.

Penyelidikan terkait tragedi 24 September tersebut masih berlangsung. AP mensurvei 16 dari 180 negara yang mengirim jamaahnya untuk melakukan ibadah haji 2015. Total jamaah diperkirakan mencapai dua juta orang.

Pemerintah Arab Saudi mengatakan bencana di Mina terjadi ketika dua gelombang jamaah tersendat di jalan sempit menyebabkan ratusan orang terjatuh dan terinjak-injak hingga wafat. Tahun-tahun sebelumnya, haji diikuti tiga juta jamaah tanpa insiden besar.

AP menghitung jumlah korban wafat berdasarkan pernyataan formal dari komisi haji negara-negara terkait. Misalnya, Iran dengan 465 orang, Mesir 146 orang dan Indonesia sekitar 100 orang.

Selain itu, negara-negara lain yang telah memberikan jumlah korban wafat mereka di antaranya Pakistan dengan 75, Nigeria 64, Mali 60, India 58, Kamerun 42, Bangladesh 41, Aljazair 18, Ethiopia 13, Chad 11, Kenya delapan, Senegal lima serta Maroko dan Turki masing-masing tiga orang. Ratusan jamaah masih hilang.

Bencana paling mematikan saat pelaksanaan haji terjadi pada 1990, ketika tragedi serupa menewaskan 1.426 orang di sebuah terowongan pejalan kaki yang penuh sesak menuju tempat suci di Makkah.

Redaktur : Ani Nursalikah
Reporter : Lida Puspaningtyas
Sumber : AP

Kuota Diduga Dipenuhi Jamaah Sudah Berhaji, Ini Jawaban Kemenag

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Kementerian Agama membantah tudingan 40 persen kuota haji tahun ini dipenuhi oleh jamaah yang sudah berhaji.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Abdul Djamil mengatakan dari jumlah jamaah sebanyak 154.454, hanya 1,55 persen atau 2.400 orang yang tercatat sudah pernah berhaji.

“Sementara lebih dari 98.45 persen atau 152.054 orang berstatus belum berhaji,” ujar Abdul Djamil dalam keterangan persnya kepada Republika.co.id, Ahad (4/10).

Ia menjelaskan, akurasi data ini dapat dicek melalui sistem komputerisasi haji terpadu (Siskohat) kementerian agama. Menurutnya, kementerian agama memprioritaskan orang yang belum pernah haji dalam pengisian kuota haji.

Komitmen ini dipagari dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Perubahan PMA Nomor 14 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler. Bahkan, pengisian sisa kuota dilakukan secara ketat.

Jika ada usulan pengisian sisa kuota yang tak sesuai aturan, maka pasti ditolak oleh sistem.

Ia melanjutkan, berdasarkan kebijakan tersebut maka prioritas kuota diberikan kepada calon jamaah yang belum berhaji sampai batas waktu pelunasan. Hingga waktu pelunasan habis, jumlah jamaah yang melakukan pelunasan mencapai 98 persen. Sisanya, diberikan kepada yang sudah berhaji, lansia, dan penggabungan suami istri.

Keluarga Korban Tragedi Mina Sesalkan Telatnya Informasi

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA — Keluarga korban tragedi jamaah haji di Mina menyesalkan terlambatnya informasi mengenai kondisi keluarga mereka di Mina. Hal tersebut membuat keluarga cemas menanti kepastian informasi dari pihak berwenang. Sementara pemberitaan di sejumlah media ramai memberitakan banyaknya jamaah haji yang hilang.

Warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Riri (35 tahun) mengatakan, kakak kandungnya bernama Asep Ukanda Saputra (36) dan istrinya Debi Merlinda Yani (35) menjadi korban tragedi Mina. Mereka menjadi jamaah haji kloter 61 JKS dari KBIH Persatuan Islam Kabupaten Bandung.

Riri mengaku, pihak keluarga baru mendapat pengumuman kemarin. Dalam pengumuman tersebut saudara Debi sudah teridentifikasi dan dinyatakan meninggal dunia di Mina. “Sementara untuk kakak Asep sampai hari ini belum teridentifikasi dan dinyatakan masih hilang,” kata Riri, Senin (28/9).

Rini bersama keluarga dan kerabatnya berukumpul di rumah orang tua mereka di Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya pada Senin (28/9). Sambil menangis Rini menyesalkan telatnya informasi dari pihak berwenang di Arab Saudi dan pemerintah Indonesia.

Rini mengungkapkan, pihak KBIH rombongan kakaknya sudah mendapatkan informasi jumlah korban dan yang hilang kontak. Waktu itu ada sekitar 17 belas orang korban tragedi Mina yang diinformasikan KBIH rombongan kakaknya. Namun pihak pemerintah baru menyatakan ada tiga orang yang teridentifikasi meninggal dunia. Menurutnya, hal tersebut membuat keluarga korban cemas dan menanti-nanti informasi yang sebenarnya.

Riri bersama keluarga berharap korban tragedi Mina segera dapat ditemukan oleh pihak yang berwenang. Agar keluarga korban segera mendapat kabar dan kepastian. “Pihak pemerintah jangan menutup-nutupi dan berikan informasi kepada keluarga korban secepatnya,” ujar Rini.

Riri menjelaskan, kendati kakak kandungnya masih dinyatakan hilang, KBIH rombongan kakaknya telah mengatakan kemungkinan besar jamaah haji yang hilang kontak telah meninggal.

Riri menceritakan, pada Jumat (25/9) pukul 23.00 wib, pihak keluarga mencoba menghubung handphone (Hp) Asep. Saat ditelepon sempat tersambung. Kemudian ada yang menjawab dengan bahasa Arab. Selanjutnya diajak berbicara bahasa Inggris oleh pihak keluarga.

“Namun setelah itu sampai hari ini hilang kontak dan tidak bisa tersambung lagi semoga segera dapat ditemukan,” ujar Riri sambil menangis.

Redaktur : Indira Rezkisari
Reporter : C10

Tiga Bukti Jejak Islam di Amerika (2-habis)

Kedua, Tulisan Bilali Muhammad. Bangsa Afrika yang tercatat menjadi ulama dan cendikiawan muslim Amerika pertama. Saat ini terjadi kesalahpahaman tentang Islam di tengah masyarakat Amerika dan komunitas muslim Amerika.

Mereka memandang Islam di Amerika saat ini hanya dikembangkan oleh ulama dan cendikiawan terdidik dari kelompok imigran asal Timur Tengah pada abad modern.

Pemahaman yang keliru tersebut terbantahkan dengan sebuah dokumentasi sejarah oleh seorang ulama dan cendikiawan muslim terdidik dari Afrika Barat bernama Bilali Muhammad.

Ia berasal dari suku Fulbe dan lahir sekitar 1770 Masehi di kota Timbo, sekarang bagian dari negara Guinea. Ia fasih berbahasa Arab dan memaham ilmu Hadist, Syariah dan Tafsir sangat tinggi.

Bilali dibawa ke perkebunan di pulau Karibia pada 1802 dan terus dipekerjakan di Georgia, AS. Sebagai seorang Muslim terdidik dari Afrika Barat, Bilali tidak diragukan lagi membawa pendidikan Islam dengan dia ke Amerika.

Hal ini dibuktikan dengan naskah 13 halaman yang ia tulis dan ia berikan kepada seorang penulis, Francis Robert Goulding, sebelum ia meninggal pada tahun 1857.

Ketgia,  Sumbangan Hukum. Meski kontroversial, Sebuah dekorasi, yang dirancang oleh Adolph Weinman, di dinding utara dari Mahkamah Agung Amerika menggambarkan pembuat hukum besar Abad Pertengahan.

Nabi Muhammad SAW ditampilkan memegang Quran dan pedang. Nabi Muhammad SAW Diakui sebagai Penyumbang Hukum Konstitusi di Mahkamah Agung.

Sebuah dekorasi dinding terpahat di salah satu area Mahkamah Agung Amerika Serikat. Dekorasi tersebut berupa patung dari 18 orang yang dianggap memberi inspirasi besar dalam peletakan hukum konstitusi Amerika Serikat.

Salah satu yang menarik adalah terdapat patung yang disebutkan sebagai Nabi Muhammad SAW yang sedang membawa Al Qur’an.

Walaupun dalam Islam pembuatan patung Nabi Muhammad SAW dilarang, namun kehadiran patung membuktikan bahwa Islam telah memiliki akar kuat dalam sejarah negara ini.

Patung tersebut juga menjelaskan kepastian hukum dalam masyarakat Amerika yang bersumber dari sejarah panjang peradaban dunia.

Ke-18 patung yang dianggap berjasa tersebut adalah Menes, Hammurabi, Musa, Raja Solomon, Lycurgus, Solon, Draco, Konfusius, Oktavianus, Justinian, Nabi Muhammad SAW, Raja Charlemagne, Raja John, Louis IX, Hugo Grotius, William Blackstone, John Marshall, Napoleon Bonaparte.

 

sumber: Republika Online

Tiga Bukti Jejak Islam di Amerika (1)

Banyak bukti sejarah mengungkap jejak-jejak Islam yang telah lebih dahulu hadir di benua Amerika sebelum bangsa Eropa.

Namun relasi sejarah Islam di benua Amerika tersebut sengaja ditutupi untuk menghilangkan eksistensi agama Islam pernah berkontribusi besar bagi ‘Dunia Baru’ hingga dikenal sebagai benua Amerika saat ini.

Beberapa bukti sejarah tersebut ada yang masih bisa ditelusuri secara literatur, bahkan beberapa diantaranya terukir dengan jelas di bangunan bersejarah negara Amerika Serikat.

Dari jejak literasi dan fisik tersebut menjadi bukti bahwa Islam tetap mengakar kuat walaupun berbagai upaya dilakukan untuk menghilangkannya.

Jejak ini bisa dilihat mulai dari Peran penjelajah Muslim yang melakukan penyebrangan ke Dunia Baru, benua Amerika sebelum Columbus hingga Sosok Nabi Muhammad SAW dan Al Qur’an yang menjadi salah satu inspirasi hukum konstitusi di Mahkamah Agung AS.

Berikut ini tiga hal diantara bukti sejarah Islam yang terlupakan di Amerika. Pertama, Peta al-Masudi. Peta dunia al-Masudi dari 956 Masehi, menunjukkan “Tanah tidak Diketahui” melintasi Atlantik dari di Afrika.

Abu al-Hasan al-Masudi sejarawan muslim dari Andalusia mencatat pada 956 Masehi, terjadi sebuah pelayaran oleh beberapa pelaut Andalusia pada 889 Masehi. Pelayaran berbulan dari Andalusia ke arah barat, mereka akhirnya menemukan sebuah daratan besar di laut.

Penemuan daratan tersebut dilanjutkan dengan perdagangan dengan penduduk asli hingga kemudian mereka kembali ke Andalusia. Al-Masudi mencatat lengkap dengan peta bahwa tanah ini berada di seberang lautan, dan menyebutnya sebagai ‘Tanah tidak diketahui’.

Dengan demikian, jelas teori bahwa yang menemukan Dunia Baru, benua Amerika bukanlah Columbus. Cerita penemuan Columbus tersebut hanya untuk mempertahankan superioritas bangsa Eropa dalam penguasaan pelayaran ke wilayah Dunia Baru.

Bahkan setelah pelayaran yang tercatat oleh al-Masudi tersebut terdapat banyak bukti literasi sejarah, bahwa bangsa Arab, Afrika Barat dan Ottoman telah mengarungi samudra atlantik sebelum Columbus dan bangsa Eropa masuk ke benua Amerika.

 

sumber: Republika Online

Bocah Ini Hafal Alquran di Umur 4,5 Tahun Meski Derita Lumpuh Otak

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan berkesempatan untuk bertemu dengan Fajar Abdurokhim Wahyudiono (11 tahun). Ia merupakan bocah yang menjadi Hafiz Al-Qur’an 30 Juz pada usia 4,5 tahun meski menderita Cerebral Palsy atau lumpuh otak.

“Maafkan saya ya nak… maafkan pak Gubernur ya nak… Maafkan selama ini luput dari perhatian saya,” kata Aher saat menjumpai Fajar di sela-sela menunaikan ibadah haji ke tanah suci, seperti dituliskan Hanny Kristianto di Facebook (01/10).

Fajar diketahui adalah putra kelahiran kota Bandung 11 tahun yang lalu. Namun sejak 4 tahun terakhir harus berpindah ke Solo untuk menjalani terapi. Pulang ke tanah air, Fajar diundang ke Pakuan, kediaman Gubernur Jawa Barat bersama orang tua dan beberapa muallaf.

Keberadaan Fajar mulanya diketahui oleh Ustadz Yusuf Mansur pada Ramadhan lalu. Ustadz YM sangat menyesal karena baru mengetahui keberadaan Fajar Abdurokhim, bocah penghafal Al-Qur’an dalam keadaan yang tidak normal.

“Kalau begini ceritanya, maka Fajar adalah penghafal Al Qur’an terkecil (termuda) di dunia, Masya Allah,” ungkap Ustadz Yusuf, saat mengisi acara Tabligh Akbar pada Juli lalu.

Sebelumnya diberitakan, pada musim haji tahun 2015 ini Fajar mendapat undangan khusus dari kerajaan Arab Saudi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Pemerintah Arab Saudi memberikan undangan untuk Fajar, kedua orang tuanya dan dua orang pengasuh. Tidak hanya itu, Fajar diberi hadiah uang sebesar 200 dolar AS perbulan selama satu tahun.

Fajar adalah putra pasangan Heny Sulistiowati dan Joko Wahyudiono yang lahir pada tahun 2004 yang lalu. Dia lahir prematur pada usia kandungan 7,5 bulan dengan berat badan hanya 1,6 kilogram.

Sejak lahir kondisi Fajar sudah memprihatinkan. Katup jantungnya ada yang bocor dan menderita Cerebral Palsy, yaitu suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir. Penyakit ini menyebabkan seorang anak akan mengalami keterlambatan perkembangan.

Namun Heni dan suaminya bertekad memberikan yang terbaik untuk putranya. Dengan sabar ayahnya selalu membacakan Al Qur’an setengah juz pada pagi hari dan setengah juz pada malam hari sejak masih berada di inkubator.

“Kami berusaha untuk memberikan lingkungan yang terbaik untuknya. Di rumah saya dan suami sepakat memutarkan tilawah 24 jam agar dia selalu mendengar yang baik-baik saja tanpa terpikir dia akan hafal Al Quran” cerita Heni.

Di usianya yang ketiga, Fajar baru dapat berbicara namun yang keluar dari bibirnya seringkali berupa potongan-potongan ayat Al Qur’an. Pasangan tersebut lalu memanggil seorang guru untuk mengajarkan dan membimbing Fajar. Hasilnya Fajar hafal 30 juz Al Qura’n di usia 4,5 tahun dengan hafalan yang sangat kuat.

“Aku ingin menjadi Imam Masjidil Haram,” jawab Fajar ketika ditanya apa cita-citanya.

Khalid bin Walid, Panglima yang Sempurna

Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam.

Adanya Khalid di barisan Kaum Muslimin meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima yang memimpin sebanyak 46.000 pasukan, Khalid tak gentar menghadapi tentara Byzantium dengan jumlah pasukan mencapai 240.000.

Uniknya, Khalid malah khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatannya dalam peperangan yang dikenal dengan Perang Yarmuk itu.

Dalam Perang Yarmuk, jumlah pasukan Islam yang dipimpin Khalid bukan saja tidak seimbang dengan musuh. Khalid memimpin pasukan  tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih plus kualitas yang rendah.

Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Hanya, bukan Khalid namanya jika tidak mempunyai strategi perang.

Khalid membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukan Islam untuk memberi kesan seolah-olah pasukan Islam terkesan lebih besar dari musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian; depan, belakang, kanan, kiri dan tengah.

Heraklius telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan.

Kegigihan Khalid dalam memimpin pasukannya membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Perang yang dipimpin Khalid lainnya adalah perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad). Perang  ni terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap, perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah batal setelah Rasulullah wafat.

Mereka pun menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan. Maka Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menjadi jenderal pasukan perang Islam untuk melawan kaum murtad tersebut. Khalid berhasil memberikan kemenangan.

Masih pada pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hirah pada 634 M. kemudian Khalid bin Walid diperintahkan oleh Abu Bakar meninggalkan Irak untuk membantu pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid.

Diantara peperangan, terselip kisah  menarik dari Khalid bin Walid.  Meski dikenal sebagai ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya, Khalid bukan orang sombong. Dia pun berlapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinan Khalid bin Walid tanpa ada kesalahan apa pun. Menariknya, ia menuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah.

Khalid tidak mempunyai obsesi dengan ketokohannya. Dia tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai sebuah perjuangan dan semata-mata mengharapkan ridha Sang Maha Pencipta. Itulah yang ia katakan menanggapi pergantiannya, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!”

Jadi, di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap prima. Itulah nilai ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasulullah seperti Khalid bin Walid.

Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil oleh Sang Khaliq. Umar bin Khathab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya “Si Pedang Allah” menempati posisi khusus di sisi Allah SWT.

 

sumber: Republika Online