Hasyim Muzadi: Restoran Asing di Indonesia Jadi Donatur LGBT

Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok dan Malang KH A Hasyim Muzadi kembali mengingatkan masyarakat supaya meningkatkan kewaspadaan terhadap kampanye lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Ternyata yang sangat merusak moral dan martabat bangsa bukan LGBT kodrati, melainkan adalah kampanye yang menggunakan isu LGBT untuk kepentingan komersial,” kata KH Hasyim kepada pers di Jakarta, Ahad (6/3).

Pernyataan itu disampaikan Kiai Hasyim terkait masih maraknya polemik soal LGBT belakangan ini. Menurut mantan ketua umum Nahdlatul Ulama (NU) itu, melihat fakta-fakta di lapangan serta konstelasi kampanye LGBT di seluruh dunia, maka data autentik menunjukkan gerakan kampanye LGBT juga mendapat bantuan dana dari luar negeri.

KH Hasyim mengaku mendapatkan informasi jika sebagian warung kopi dan warung makanan asing yang bertebaran di Indonesia telah menjadi donatur bagi kampanye LGBT. “Oleh karena itu, kesadaran kembali ke warung bangsa sendiri lebih selamat dan terhormat,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu.

Sumber : Antara / Republika Online

Kiai Hasyim: Kampanye LGBT di Indonesia untuk Legalkan Kawin Sejenis

Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok dan Malang KH A Hasyim Muzadi menuturkan, isu hak-hak asasi manusia (HAM), demokrasi, dan kemanusiaan yang selalu diangkat para jurkam sosialisasi LGBT, ternyata hanya merupakan kemasan isu dan sama sekali bukan sebuah keluhuran perjuangan.

Kiai Hasyim menyebutkan ada beberapa orang yang merasa dan mengaku tokoh Islam, namun tidak tahan terhadap godaan dana untuk mendukung LGBT. Sehingga ketika menerima dana tersebut mereka menjadi salah tingkah, bahkan seperti hilang ingatan.

“Fakta-Fakta ini semua menjadi gamblang, mana yang membela agama dan nasionalisme serta mana yang memperjualbelikannya,” katanya di Jakarta, Ahad (6/3).

Anggota Watimpres itu menuturkan, ujung dari kampanye LGBT adalah tuntutan untuk melegalkan kawin sejenis. Masalah LGBT itu sendiri, menurut dia tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan HAM dan demokrasi, karena pada hakikatnya LGBT merupakan kelainan seksual dalam peri kehidupan seseorang.

Pendekatan yang benar untuk menyelesaikan masalah LGBT adalah melalui prevensi dan rehabilitasi, sehingga seseorang bisa kembali menjadi normal secara seksual. Kiai Hasyim juga mengingatkan, serangan terhadap Indonesia bukan hanya kampanye LGBT, melainkan juga peredaran narkoba yang makin meningkat dengan tujuan menghancurkan generasi muda Indonesia.

 

Sumber : Antara/ Republika Online

44 Gay di Sukabumi Terinveksi HIV-AIDS

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), menyebutkan, hingga 2015 jumlah gay atau lelaki suka lelaki (LSL) yang terinveksi HIV dan AIDS mencapai 44 orang. “Pendataan kami terus lakukan terhadap gay yang terinveksi penyakit ini dan diduga jumlahnya bisa lebih banyak karena kasus HIV sulit untuk dideteksi kecuali orang tersebut secara rutin memeriksakan kesehatannya,” kata Wakil Supervisor Pengendalian Penyakit HIV-AIDS dan Inveksi Seksual Menular Dinkes Kabupaten Sukabumi Didi Sukmadi di Sukabumi, Selasa (8/3).

Menurutnya, pada 2015 saja ada 22 gay yang terinfeksi HIV dari 107 kasus baru yang ditemukan pada tahun itu. Walaupun jumlah gayyang terungkap terjangkit HIV dan AIDS masih bisa dikatakan sedikit, penyakit HIV ibarat fenomena gunung es sehingga yang terungkap hanya bagian puncaknya.

Dari pendataan yang dilakukan pihaknya dengan Lembaga Peneliti Sosial dan Agama (Lensa) Sukabumi, jumlah gay di Kabupaten Sukabumi hingga saat ini mencapai sekitar dua ribu orang. Diduga jumlah tersebut bisa saja bertambah karena gaya hidup seperti sekarang ini. “Penyakit kelainan seksual tersebut dapat menyebar ke orang lain. Ada kemungkinan jumlah gay yang menderita HIV/AIDS bertambah karena dari awal tahun ini sudah mulai banyak laporan terkait penemuan baru,” tambah Didi.

Sementara, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sukabumi, Asep Suherman, mengatakan temuan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan data pihaknya dan Lensa sehingga dapat ditemukan data pasti jumlah penderita HIV/AIDS dari kalangan gay.

“Dalam waktu dekat, kami akan melakukan rapat koordinasi dengan berbagai pihak terkait kasus penyebaran HIV, khususnya gay,” katanya.

Sumber : Antara / Republika Online

Poster Gay di Puskesmas, MUI Minta Pemerintah Bertindak

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnaen curiga ada oknum pemerintah yang menjadi dalang dibalik poster pasangan gay yang terpampang di salah satu ruangan di Puskesmas Kecamatan Senen.

Poster yang menggambarkan pasangan gay dan pria bertelanjang dada dengan background pelangi tersebut, sebenarnya telah beredar lama di dunia maya dan di beberapa puskesmas di Ibukota.

“Pemerintah harus tegas, katanya pemerintah menolak LGBT tapi kok pemerintah membiarkan saja, pecat menterinya (menteri kesehatan),” kata Tengku kepada Republika.co.id, Rabu (9/3).

Sebab, Puskesmas merupakan salah satu fasilitas negara yang diperuntukkan bagi masyarakat. Sehingga, jika ada poster yang mempromosikan LGBT terpampang di sana, maka pemerintah harus meminta Kementerian Kesehatan RI bertanggung jawab.

“Jika iklan LGBT ada di puskesmas-puskesmas negara. Sedangkan presiden dan wakil presiden jelas menolak LGBT, maka sudah waktunya Presiden Jokowi memecat menteri kesehatan,” ujar dia.

Tengku menilai, poster promosi LGBT yang mendompleng kampanye HIV AIDS bukan hanya cara lain propaganda kaum yang mempunyai penyimpangan seksual tersebut. Ia juga curiga ada oknum-oknum LGBT di Departemen Kesehatan dan Kementerian Kesehatan.

“Kalau terbukti memang ada iklan LGBT seperti ini, maka patut diduga dengan keras dan tegas, banyak oknum Kemenkes yang menerima suap dari perusak moral bangsa yang punya dana besar mendukung LGBT,” tuturnya.

Tengku meminta pemerintah segera turun tangan membersihkan oknum-oknum di Kemenkes yang menerima suap dana asing untuk mendanai promosi dan kampanye LGBT tersebut.

Sebelumnya beredar di media sosial soal poster yang menggambarkan pasangan gay di beberapa Puskesmas, salah satunya Puskesmas Kecamatan Senen, pada Ahad (6/3). Poster tersebut menggambarkan pasangan gay, bertuliskan ‘Aku Bisa Jalani, Aku Bisa Jaga Diri’.

 

sumber: Republika Online

MUI Minta Polisi Bergerak Sita Poster Gay di Puskesmas

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnaen meminta Kepolisian Republik Indonesia menyita poster yang menggambarkan pasangan gay dan pria bertelanjang dada yang mendompleng kampanye HIV AIDS di seluruh Indonesia.

“(Libatkan kepolisian) perlu. Kalau memang pemerintah benar menolak LGBT maka kepolisian harus bergerak, kan dia abdi negara, tidak usah menunggu perintah,” kata dia kepada Republika.co.id, Rabu (9/3).

Tengku menilai, polisi sebagai abdi negara seharusnya tidak menunggu perintah pemerintah untuk menghentikan propaganda kaum LGBT. “Apa polisi harus menunggu moral anak bangsa hancur dulu baru bergerak,” lanjutnya.

Sebab, ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh di media, pemerintah telah menyatakan menolak kampaye dan promosi kaum LGBT di Indonesia. Selain itu, Ketua Umum Mathla’ul Anwar itu juga mengimbau kepada seluruh jajaran anak negeri agar memboikot dan mengawasi seluruh produk yang mendukung LGBT.

Kan pemerintah menolak LGBT, polisi harus bergerak cepat. Buat apa polisi terima gaji dari negara kalau bergerak lambat. Kita curiga di seluruh Indonesia dan ini sudah ada skenario dari asing,” tuturnya menambahkan.

Sebelumnya beredar di media sosial soal poster yang menggambarkan pasangan gay di beberapa Puskesmas, salah satunya Puskesmas Kecamatan Senen, pada Ahad (6/3). Poster tersebut menggambarkan pasangan gay, bertuliskan ‘Aku Bisa Jalani, Aku Bisa Jaga Diri’.

 

sumber: Republika Online

Gerhana Matahari, Allahu Akbar Jadi Trending Topic

Allah Akbar jadi  trending topic atau topik paling tren di Twitter. Tak sedikit para netizen menggunakan kata itu untuk mengungkapkan kebesaran Allah menyusul gerhana matahari yang terjadi di Indonesia.

“Allahu Akbar, Maha Besar Engkau yang Allah atas segala kuasa-Mu untuk alam semesta dan hambamu yang kecil ini,” kicau aku @narrayudha dari Bandung yang juga mengunggah gambar gerhana matahari.

Akun @tausiyahku juga menuliskan cicitan “Allah Akbar” dan mengunggah hadist tentang gerhana matahari. “Jika kalian melihat peristiwa gerhana perbanyak berdoa’a kepada Allah, perbanyak takbir, kerjakan salat, dan perbanyak sedekah.” Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.

Sementara akun @bobbytonggos mengatakan, “the eclipse is so beautiful Allahu Akbar.”

 

sumber: Republika Online

Begini Reaksi Lumba-Lumba Ketika Gerhana di Jakarta

Perwakilan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Hagi Yulia Sugeha mengatakan perilaku hewan laut tergolong mengalami perubahan saat terjadi gerhana matahari total (GMT), termasuk pula lumba-lumba yang berada di penangkaran Osean Dream Samudra, Ancol. Hewan mamalia itu pun memberikan reaksinya atas peristiwa gerhana pagi tadi, (9/3) di Jakarta.

Hagi menyebut perairan Indonesia sangat terkenal dengan keragaman hewan-hewan laut, terutama lumba-lumba jenis hidung botol. Meski ia mengatakan pengamatan lebih baik dilakukan di alam bebas, namun kendala biaya masih menghantui. Sehingga ia merasa pengamatan lumba-lumba yang ada di penangkaran pun bisa dilakukan.

“Hewan miliki insting, ada suatu yang salah (saat gerhana). Sudah pagi kok tapi kenapa gelap lagi. Ada yang senang, ada juga yang takut. Anaknya (lumba-lumba) lari-lari ke indung nggak, tapi di sininggak ada anaknya,” ujarnya kepada wartawan.

Ahli biodiversitas dan konservasi sumber daya laut tersebut menyebut tingkat laku khas lumba-lumba yang biasanya diamati yaitu berkelompok, bernafas dengan semburan udara, bersiul, bergulung-gulung dan melompat-lompat. Menurutnnya aktifitas sepert itu paling mudah dilihat dari lumba-lumba

“Aktivitas bernapas sering dilakukan, tapi saat GMT tidak sering. Frekuensi tidak seperti normal. Selain itu juga malu-malu (pada pengunjung kolam lumba-lumba). Setelah selesai (GMT) mereka napas seperti biasa lagi,” ujarnya.

 

sumber: Republika Online

Gubernur NTB Pimpin Langsung Shalat Gerhana

Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi memimpin shalat gerhana di Masjid Raya At Taqwa Kota Mataram, Rabu (9/3). Selain gubernur, shalat gerhana (matahari) tersebut juga dihadiri forum komunikasi pimpinan daerah dan ribuan warga yang datang dari sejumlah wilayah di kota Mataram.

Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi mengatakan daerah itu tidak dilintasi gerhana matahari. Meski demikian,sebagai manusia, ia mengingatkan fenomena alam yang terjadi di bumi itu, tidak terlepas dari pengaturan dan takdir Allah SWT.

“Kalau diletakkan dalam membangun daerah, fenomena seperti ini dapat mengokohkan persaudaraan. Karena, iktiar manusia itu harus ditopang dengan keyakinan, iman dan keberserahan diri kepada Allah,” katanya.

Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) menyatakan sebagai manusia dan masyarakat NTB, baik secara personal maupun kolektif, harus memiliki rasa tanggung jawab, keinginan baik dan dapat menghasilkan sesuatu yang baik bagi daerah. Tentunya melalui keberserahan diri kepada yang maha pencipta.

Di samping itu, ujar gubernur, fenomena gerhana matahari ini juga menjadi pengingat bahwa terjaganya keamanan, terhindarnya NTB dari musibah, tidak lain juga berkat rahmat Allah SWT. “Alhamdulillahdaerah kita meski relatif sangat rawan, namun sampai sekarang musibah jarang terjadi di daerah ini. Kalaupun ada skalanya relatif kecil dan itu semua berkat perlindungan Allah SWT,” ujarnya.

Sebab, kata gubernur, segala musibah seperti tsunami, gunung meletus, banjir dan segala macam bisa terlindungi bukan karena manusia, melainkan sang maha pencipta. Oleh karena itu, gubernur mengajak masyarakat jika ingin melihat daerah baik maka perbanyak doa kepada Allah.

“Kalau kita semua melaksanakan tuntunan dengan baik pasti semuanya akan baik. Tetapi kalau hanya sekelompok kecil yang melaksanakan shalat dan banyak yang tidak melaksanakan atau sebagian besar tidak peduli, tentu efeknya akan besar bagi daerah. Kalau daerah ingin semuanya baik, maka semua kita juga harus bergerak ke arah kebaikan,” katanya.

Sumber : Antara

Gerhana Dalam Tinjauan Syariat Islam

Matahari dan bulan merupakan dua makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala yang sangat akrab dalam pandangan. Peredaran dan silih bergantinya yang sangat yeratur merupakan ketetapan aturan Penguasa Jagad Semesta ini. Allah Subhanahu wa ta’alaberfirman (yang artinya) :

”Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.”
(Ar-Rahman : 5)

Maka semua yang menakjubkan dan luar biasa pada matahari dan bulan menunjukkan akan keagungan dan kebesaran serta kesempurnaan Penciptanya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala membantah fenomena penyembahan terhadap matahari dan bulan. Yang sangat disayangkan ternyata keyakinan kufur tersebut banyak dianut oleh ”bangsa-bangsa besar” di dunia sejak berabad-abad lalu, seperti di sebagian bangsa Cina, Jepang, Yunani, dan masih banyak lagi. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kaliann sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Syariat Islam yang diturunkan oleh Penguasa Alam Semesta ini memberikan bimbingan dan pencerahan terhadap akal-akal manusia yang sempit dan terbatas. Membuktikan bahwa akal para filosof, rohaniawan, para wikan, paranormal dan lain-lain adalah akal yang keliru dan sesat. Kebenaran dan hidayah hanya ada pada syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul’alaihimussalam.

Diantaranya ajaran yang digagas oleh para filosof, rohaniawan dan lain-lain tentang antariksa, semuanya berbau mistis dan kesyirikan. Termasuk dalam memahami hakekat sebenarnya tentang gerhana matahari dan gerhana bulan. Dua fenomena tersebut oleh banyak kalangan dihubung-hubungkan dengan akan terjadinya peristiwa luar biasa di bumi tempat manusia tinggal. Misalnya saja selang beberapa hari atau beberapa minggu dari gerhana, di daerah tertentu akan terjadi bencana alam, wabah penyakit, keributan atau bentrok antar massa dan sebagainya. Biasanya, untuk mengantisipasinya berbagai ritual (baca: kesyirikan) digelar. Di samping adanya mitos bahwa gerhana terjadi karena raksasa menelan matahari atau bulan, dengan berbagai macam versi ceritanya. Sementara di kubu lain, masyrakat modern yang mengalami kemajuan tekhnologi dan ilmu antariksa ini, menganggap hal itu sebagai fenomena alam biasa. Karena melalui berbagai riset ilmiah, mereka bisa mengetahui sebab terjadinya gerhana tersebut secara pasti.

Dinul Islam yang asas utamanya adalah kemurnian tauhid dan kelurusan aqidah, menjelaskan hakekat sebenarnya gerhana. Tentu saja penjelasan yang bersumber dari Pencipta dan Pengatur matahari-bulan dan pergerakannya, bahkan seluruh alam semesta. Jauh dari kebatilan mitos, takhayul, dan kesyirikan para penyembah alam, jauh pula dari kelalaian kaum rasionalis. Apabila kita membuka kitab-kitab para ulama dan fuqaha Islam dari kalangan Ahlus Sunnah akan kita dapati penjelasan tentang gerhana dalam tinjauan Syariat Islam dengan pembahasan lengkap dan mencukupi.

 

Definisi Gerhana

Gerhana matahari ( Khusufusy Syams ) adalah hilangnya cahaya matahari sebagian atau total pada waktu siang. Adapun gerhana bulan ( Khusuful Qamar ) adalah hilangnya cahaya bulan sebagian atau total pada waktu malam.

 

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam tentang Gerhana

Dari sahabat al-Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam  bersabda,

{إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ}

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

Sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ’anhu mengatakan, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam  bersabda, ”Tanda-tanda ini, yang Allah tampakkan, bukanlah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun dengannya Allah memberikan rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat salah satu darinya, bersegeralah untuk berdzikir, berdoa kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 1059)

Hadits baginda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam di atas menunjukkan kepada kita bahwa gerhana bukanlah sekedar fenomena alam biasa. Gerhana merupakan fenomena alam yang memang Allah kehendaki sebagai salah satu ayat (tanda) kebesaran-Nya. Hadits di atas memberikan pelajaran dan tuntunan kepada kaum mukminin terkait gerhana sebagai berikut:

  1. Sebab, gerhana adalah Allah menjadikannya sebagai perimgatan agar hamba-hamba-Nya takut kepada-Nya. Maka tatkala terjadi gerhana hendaklah umat manusia segera ingat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan segera menyadari bahwa AllahSubhanahu wa ta’ala sedang mengingatkan kelalaian mereka dengan ancaman adzab-Nya. Dari sini, jelaslah bagi kita kesalahan kebanyakan kebanyakan orang yang justru menjadikan fenomena gerhana tersebut sebagai hiburan bagi mereka. Ketika ada informasi bahwa gerhana akan terjadi pada hari tertentu pada jam tertentu, maka mereka bersiap dengan kamera dan teropong masing-masing, mencari tempat-tempat strategis untuk menyaksikan peristiwa ”indah” tersebut. Sungguh sangat jauh dari mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala, apalagi menyadari itu sebagai peringatan dari-Nya. Kesalahan ini akibatmenganggap gerhana sebagai kejadian antariksa biasa, yang bersumber dari sikap mengandalkan sains, tanpa mau mengundahkan berita dari Allah Subhanahu wa ta’ala, Pencipta dan Penguasa seluruh  alam dengan segenap galaksi dan langit yang ada didalamnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Ini bantahan terhadap ahli astronomi yang mengira bahwa gerhana merupakan peristiwa biasa, tidak akan maju atau mundur.”
  2. Bantahan terhadap keyakinan-keyakinan/ mitos-mitos batil, atau legenda-legenda kosong. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam membantah keyakinan yang ada dikalangan musyrikin arab saat itu dengan sabdanya, ”Bukanlah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang.” islam memberantas segala keyakinan/ aqidah batil, diantaranya yang bersumber dari astrologi (ahli nujum) yang meyakini bahwa pergerakan/ peredaran bintang, planet dan benda-benda langit lainnya memberikan pengaruh/ ada kaitannya dengan kejadian-kejadian di bumi. Yang dikenal sebagai zodiak, shio, atau nama yang lainnya sesuai dengan agama asal masing-masing yang digagas oleh para filosof, rohaniawan atau paranormal. Termasuk kejadian gerhana yang diyakini sebagai tanda atau sebab (bakal) terjadi peristiwa atau bencana besar di muka bumi. Ini semua adalah batil. Seorang mikmin yang berpegang pada kemurnian tauhid harus meninggalkan keyakinan-keyakinan tersebut. Sangat disayangkan, ada sebagian di antara kaum muslimin yang masih percaya dengan ramalan-ramalan bintang, termasuk pula mitos/ legenda seputar gerhana, atau meyakini peristiwa gerhana ada hubungan dengan bencana alam atau lainnya. Al-Imam al-Khaththabi Rahimahullahberkata, ”Dulu mereka pada masa jahiliyyah berkeyakinan bahwa gerhana menyebabkan terjadinya perubahan di muka bumi, berupa kematian, bencana dan lain-lain. Maka Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan bahwa itu adalah keyakinan batil. Sungguh matahari dan bulan itu adalah dua makhluk yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Keduanya tidak memiliki kekuatan mempengaruhi sesuatu yang lainnya, tidak pula memiliki kemampuan membela diri.” ( lihat Fathul Bari hadits no. 1040)
  3. Tuntutan Islam ketika terjadi gerhana. Baginda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita tuntunan syariat yang mulia ketika terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, yaitu ada tujuh hal (sebagaimana dalam hadits-hadits tentang gerhana):
    1. Shalat gerhana
    2. Berdoa
    3. Beristighfar
    4. Bertakbir
    5. Berdzikir
    6. Bershadaqah
    7. Memerdekakan budak

(Lihat HR. Al-Bukhari no. 1040, 1044, 1059, 2519; Muslim no. 901, 912, 914)

            Ini dilakukan sejak awal terjadinya gerhana, hingga berakhirnya yang ditandai dengan kembalinya cahaya matahari atau bulan seperti sedia kala. Di antara doa yang beliau perintahkan adalah berlindung dari adzab kubur. Karena gerhana mengakibatkan suasana gelap meskipun pada siang hari, dan dalam suasana tersebut hati manusia pasti dihinggapi rasa takut. Suasana yang demikian mengingatkan kita akan suasana di alam kubur kelak. (Lihat Fathul Bari hadits no.2519).

Karena gerhana merupakan peringatan akan adzab, maka sangat tepat dianjurkan pada kesempatan tersebut untuk memerdekakan budak, sebab amal tersebut bisa memerdekakan seseorang dari api neraka. (Lihat Fathul Bari hadits no. 2519).

            Gerhana merupakan peristiwa penting dalam Islam. Islam bernar-benar mengajak hamba untuk menyikapi gerhana yang sedang terjadi sebagai peringatan dari Rabbul ’Alamin Subhanahu wa ta’ala. Hikmah ini tidak bisa diketahui dengan ilmu sains, namun hanya bisa diketahui melalui wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam.

  1. Tidak melakukan shalat gerhana kecuali bila gerhananya terlihat. Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam di atas, ”Apabila kalian melihat (gerhana) matahari atau bulan, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah.” Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallammengaitkan pelaksanaan shalat gerhana dengan ”melihat (ru’yah)”. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan, ”… karena pelaksanaan shalat (gerhana) dikaitkan dengan ru’yah.” (Lihat Fathul Bari hadits no. 1041). Artinya, apabila telah diperkirakan dengan hisab astronomis terjadi gerhana namun terhalangi oleh langit yang mendung, maka tidak dilakukan shalat gerhana. Atau gerhana terjadi di wilayah lain/ belahan bumi lainnya, sehingga tidak terlihat. Misalnya gerhana terjadi di Eropa, tidak terjadi di Indonesia, maka orang Indonesia tidak disyariatkan untuk melaksanakan shalat gerhana. Atau terjadinya gerhana matahari setelah tenggelamnya matahari, atau gerhana bulan setelah terbitnya matahari sehingga tidak bisa teramati, maka tidak ada shalat gerhana pula.
  2. Gerhana bisa diketahui dengan hisab. Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Kuasa telah menjadikan pergerakan matahari dan bulan berjalan dengan rapi dan teratur, sehingga bisa diamati dan dihitung oleh manusia. Termasuk gerhana bisa diketahui dengan hisab astronomis kapan terjadinya, di belahan bumi mana sajakah terjadinya, serta jenis gerhananya, apakah gerhana total, sebagian, cincin dan lain-lain. Namun tidak diambil darinya konsekuensi hukum apapun terkait dengan shalat gerhana atau lainnya. Meskipun gerhana bisa diketahui kapan waktu terjadinya berdasarkan hisab astronomis yang sangat akurat, namun apabila ternyata pada hari-H dan jam-J nya gerhana tidak teramati atau tidak terjadi di wilayah tersebut, maka shalat gerhana tidak bisa dilaksanakan. Hal ini mirip dengan hilal di awal bulan, khususnya ketika menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawwal. Meskipun diketahui secara pasti berdasarkan hisab astronomi yang akurat posisi hilal sekian derajat dan dinyatakan memungkinkan untuk diru’yah, namun apabila fakta di lapangan hilal tidak bisa diamati, maka berarti belum masuk Ramadhan atau Idul Fitri.

Kemudian, fakta bahwa gerhana bisa diketahui dengan hisab astronomis, tidak menghilangkan sebab dan fungsi gerhana yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu ”Dengannya, Allah memberikan rasa takut kepada hamba-hamba-Nya.” sekali lagi, gerhana bukan peristiwa biasa seperti halnya pasang-surutnya ombak di lautan. Namun ada hikmah besar di balik itu. Oleh karena itu –sebagaimana pada hadits-hadits di atas- sampai-sampai Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berdiri ketakutan, khawatir itu sebagai tanda datangnya Kiamat, dan beliau memerintahkan dengan 7 hal.

Bersambung Insya Allah…

Wallahu a’lam bish shawab.

 Penulis : Ustadz Ahmad Alfian hafizhahullah.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Ilmu edisi 21 (Fikih) tahun 1434 H / Darussalaf.or.id

 

Gerhana Matahari dalam Riwayat Rasulullah SAW

Gerhana Matahari sudah muncul sejak zaman dahulu kala, tak terkecuali pada zaman Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu tercatat sebagai hari monumental dalam sejarah Islam.

Seperti dikutip situs Bibalex, Senin (29/2/2016), peristiwa gerhana Matahari terjadi pada 27 Januari 632, hari itu bertepatan dengan meninggalnya putra Rasulullah, Ibrahim. Peristiwa gerhana sontak dikaitkan dengan kematian tersebut.

Pada saat itu, Rasulullah menjelaskan bahwa peristiwa gerhana matahari dan Bulan bukan pertanda buruk, melainkan fenomena kosmik yang menunjukkan kebesaran Allah.

Setiap muslim melakukan salat lima waktu setiap hari, namun selama fenomena gerhana, umat muslim dapat melakukan salat sunah khusus gerhana. Ini dilakukan untuk mengingat Allah Sang Maha Pencipta.

Sekadar informasi, pengurus Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumatera Selatan, menyiapkan pelaksanaan Salat Gerhana menyambut terjadinyagerhana matahari total pada 9 Maret.

“Dalam rangka menyambut kebesaran Allah SWT fenomena alam Gerhana Matahari Total (GMT), dilakukan persiapan dan dijadwalkan salat gerhana matahari pada Rabu pagi 9 Maret 2016,” kata pengurus masjid Syukri Mascik di Palembang.

Gerhana matahari total merupakan fenomena alam yang cukup langka dan hanya bisa dilihat di sejumlah daerah wilayah Indonesia. (ahl)

 

 

 

 

sumber: Oke Zone