Kesaksian Putra Syeikh Jibrin dalam Musibah di Mina 2015 (1)

Saat mendekat ke jalan 233, kepanikan dan kerumunan manusia kian menjadi-jadi. Manusia semakin banyak yang jatuh menjadi korban.

Musibah Mina pada haji tahun 2015 akibat berdesak-desakan masih menyisahkan kesedihan mendalam. Selain itu, sumber utama kejadian masih belum didapatkan karena pihak pemerintah Arab Saudi masih melakukan investigasi.

Meski demikian, sejumlah analisis dan kemungkinan datangnya musibah disampaikan berbagai kalangan. Salah satunya, adalah kesaksian Dr Abdurrahman Ibn Abdullah Al Jibrin, salah seorang putra Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, mantan anggota Hai’ah Kibar Ulama Arab Saudi.

Dr Abdurrahman adalah pengajar di Jurusan Syariah, Universitas Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh, Saudi, yang tahun ini melaksanakan ibadah haji di mana rombongannya, bertepatan di lokasi kejadian. Dr Abdurrahman juga pembina di Yayasan Sosial Abdullah Ibn Jibrin.

Kisah ini merupakan penuturannya yang sampai ke teman terdekatnya, Doktor Abdullah az-Zaidi, dan secara viral sampai ke mahasiswa Indonesia di Saudi hingga sampai ke Indonesia. Inilah kisahnya:

****

Saudara-saudaraku tercinta, segala puji bagi Allah atas keselamatanku. Ibadah haji taun 2015 ini bukanlah yang pertama aku laksanakan, tapi ia nyaris menjadi yang terakhir bagiku.

Aku berada di tengah-tengah kerumunan manusia yang menyebabkan kematian ratusan orang jamaah haji dan ratusan lainnya yang terluka.

Tulisan ini bukanlah berita pernyataan layaknya yang dipublish oleh media-media. sebab aku bukanlah wartawan seperti mereka.

Ia bukan pula aduan, sebab aku tahu persis bagaimana kesungguhan para pemimpin negeri ini dalam menjaga keselamatan jamaah haji. Sebagaimana aku sangat tahu tentang usaha luar biasa yang dikerahkan oleh petugas keamanan di setiap lokasi-lokasi haji.

Namun ia adalah kesaksian langsung di tengah peristiwa menyedihkan tersebut, semoga bisa bermanfaat bagi para penanggung jawab dalam meretas persoalan dan menjelaskan kejadian sebenarnya.

Insiden terjadi di jalan 204, titik saling dorong dan desak-desakan jamaah haji dimulai dari persimpangannya dengan jalan 219 hingga ke jembatan (jalan layang) Raja Khalid. Aku tinggalkan supir bis di atas jembatan Raja Abdullah, lalu menyusuri jalan Raja Fahd di Mina ke arah jamarat (lokasi pelontaran). Awalnya aku ingin melempar jumrah dari lantai dasar, untuk itu aku memilih jalan yang terletak di tengah-tengah Mina dan mulai menyusurinya, karena jalan Raja Fahd berada di dekat gunung.

Saya tiba di jalan 204 melalui jalan 225, sebelum tiba di sana, saya saksikan lautan manusia di sana menghampiri layaknya sebuah gelombang besar. Seketika, ada dorongan untuk mundur saja, namun aku juga tahu tabiat jalan-jalan di hari raya.

Akhirnya aku putuskan melanjutkan perjalanan, dengan segala resiko dan kesulitan yang kutemui sejak awal. Satu persatu jamaah haji mulai terlihat tumbang, terutama yang sudah lanjut usia. Selain karena faktor desak-desakan, korban juga banyak berasal dari jamaah pengguna kursi roda.

Saat mendekat ke jalan 233, kepanikan dan kerumunan manusia kian menjadi-jadi. Manusia semakin banyak yang jatuh menjadi korban. Aku sempat melihat ada sebuah mobil di tengah kerumunan manusia, (menurutku) inilah salah satu penyebab keadaan bertambah padat dan melelahkan.

Sebagian jamaah haji yang masuk memotong dari jalan 233 ke jalan 204, ini pula yang menjadikan perkara kian rumit dari masalah yang sudah ada. Di titik tersebut aku melihat para jamaah haji semakin banyak yang jatuh.

Saling dorong dan saling injak antar jamaah haji tak bisa terelakkan lagi. Suara teriakan minta tolong terdengar dari segala penjuru, terutama dari jamaah yang lanjut usia dan para wanita.

Di antara mereka mencoba bergelantungan di dinding-dinding kemah yang ada. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat ke atas kemah. Akupun mencoba sekuat tenaga untuk keluar dari kerumunan manusia, tak terasa kain atasku (rida) sampai terjatuh.

Akhirnya aku keluar menuju jalan 204 tetapi keramaian kian menjadi. Pemandangan ratusan manusia saling injak, saling dorong terus berlangsung. Aku sendiri berkali-kali hampir terjatuh karenanya.

Aku mencoba memasuki beberapa kemah yang ada, tetapi para petugas keamanan melarang jamaah haji untuk masuk, lagi-lagi (menurutku) hal ini kian memperburuk keadaan. Usahaku memasuki kemah sudah klimaks, aku berjalan menuju ke sebuah kemah terdekat.

Qaddarallah, saat itu petugas keamanan sedang lalai dan tidak memperhatikan. Akupun berhasil lolos masuk ke dalam kemah tersebut.*/Masykur Abu Jaulah

Idul Ghadir dalam Pandangan Sejarah [1]

Oleh: Alwi Alatas

IDUL GHADIR yang dirayakan oleh Syiah itu mengacu pada peristiwa Ghadir Khum yang terjadi saat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan para Sahabat pulang haji dari Makkah ke Madinah pada pertengahan Dzulhijjah tahun terakhir kenabian.

Ketika itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan para sahabat berhenti di sebuah tempat bernama Khum (Ghadir Khum). Di situ Nabi berkhutbah dan antara lain mengatakan, “Barangsiapa yang menganggap saya sebagai mawla-nya, maka Ali adalahmawla-nya.”

Kalangan Syiah menganggap peristiwa tersebut sebagai penunjukkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam kepada Ali sebagai penggantinya kelak sebagai pemimpin sepeningalnya (setelah wafat,red). Karena itulah, kalangan Syiah merayakannya setiap tahun dan menganggap para sahabat telah khianat terhadap pengangkatan Ali sebagai khalifah. Sebab, selepas wafatnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam mereka memilih Abu Bakar sebagai khalifah.

Pandangan Syiah ini memiliki beberapa masalah mendasar dan karenanya tidak bisa diterima oleh kalangan Ahlus Sunnah.

Pertama, kata ‘mawla’ dalam bahasa Arab memang antara lain bermakna ‘pemimpin’. Tapi itu bukan satu-satunya arti kata tersebut. Kata mawla juga bisa berarti ‘sahabat’ atau ‘kekasih’. Jadi, kata tersebut tidak hanya memiliki satu arti seperti ‘pemimpin’

Kedua, jika saat itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam memang bermaksud menunjuk Ali sebagai pemimpin, tentu beliau akan menggunakan kata yang lebih tegas dan jelas, seperti‘khalifah’, ‘amir’, atau ‘imam’. Tetapi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak menggunakan kata-kata tersebut, melainkan menggunakan kata ‘mawla’. Ini yang terdapat di dalam riwayat-riwayat yang sahih.

Mungkin ada versi riwayat lain, tetapi kita mesti ingat tidak semua riwayat yang ada bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, terlebih yang berasal dari kalangan Syiah.

Jika khutbah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam ketika itu adalah berkenaan kepemimpinan dan merupakan hal yang sangat penting sebagaimana yang diinginkan Syiah, sehingga mereka menjadikannya sebagai hari raya, tentu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam akan memilih kata-kata yang lebih tegas dan tidak menimbulkan interpretasi.

Ketiga, jika yang dimaksud oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dengan kata ‘mawla’ adalah pemimpin, dalam arti pemimpin tertinggi yang harus ditaati. Maka, berarti sejak saat itu ada dua pemimpin yang di tengah umat yang harus ditaati. Padahal, peristiwa tersebut berlaku sekitar tiga bulan sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam wafat.

Jadi, selama masa-masa itu, siapa yang sejatinya harus ditaati oleh umat? Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam atau Ali bin Abi Thalib.

Dalam Islam tidak dikenal adanya dua pemimpin (kenegaraan,red) di satu wilayah pada waktu bersamaan. Dalam khutbahnya itu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak mengatakan “Siapa yang mengganggap saya sebagai mawla, maka Ali adalah mawla-nya SETELAH SAYA WAFAT.”

Kalimat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam itu bersifat umum, tidak mengacu pada proses suksesi kepemimpinan atau konteks waktu tertentu. Karena itu, memaknainya sebagai pemimpin (kenegaraan,red) dan yang semakna dengan itu akan menimbulkan problem dan ketidaksesuaian.* (Bersambug…)

 

sumber: Hidayahtullah

MUI: Umat Islam Ahlus Sunnah Harus Menolak Idul Ghadir

Menghina sahabat sama saja dengan menafikan ayat al-Quran. Dan menafikan ayat al-Quran bisa jatuhnya menjadi murtad,” demikian tandasnya.

Sejarah Idul Ghodir merupakan penistaan terhadap 114 ribu shahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Di mana mereka semua dikatakan telah berkhianat terhadap titah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bahwa sepeninggal beliau wajib mengangkat Sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah.

“Ini dikatakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam di Ghodir Khum,” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Dr. KH. Tengku Zulkarnain, MA kepadahidayatullah.com, Rabu (07/10/2015).

Kendati demikian, kata Zulkarnain, kenyataannya para shahabat kemudian mengangkat Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq menjadi khalifah sepeninggal Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Dan ini sama dengan menuduh seluruh shahabat telah khianat atas titah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.

“Ada pernyataan Syiah hanya 3 shahabat saja yang selamat dari khianat itu yakni Abu Dzar, Miqdad, dan Salman al Parsi,” tutur Zulkarnain.

Dengan demikian, lanjut Zulkarnain serupa juga mengatakan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam gagal mendidik shahabat beliau supaya tetap setia. Padahal tidak ada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam mengeluarkan titah seperti yang diyakini Syi’ah itu.

“Sangat mustahil seluruh shahabat termasuk Sayyidina Ali dan ahlul bait Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam yang lain seperti Abbas dan anak-anak beliau tidak melawan jika benar demikian kejadiannya,” jelas Zulkarnain.

Karena itu, Zulkarnain menyimpulkan bahwa Idul Ghodir adalah buatan Syiah untuk mengatakan shahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam adalah manusia-manusia yang pengkhianat semuanya.

“Umat Islam Indonesia itu adalah Islam yang berfaham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) maka wajib menolak perayaan Ghodir Khum yang jelas-jelas menghina Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam sebagai manusia yang gagal dan menghina para sahabat beliau yang setia,” tegasnya.

Lebih lanjut lagi, Zulkarnai mengingatkan bahwa Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq dan Sayyidina Umar bin Khathab adalah mertua Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Sedangkan Sayyidina Ustman bin Affan adalah menantu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Sayyidina Muawiyah adalah adik ipar Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Dan Sayyidina Zubeir adalah paman Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.

“Serta shahabat yang lainnya awwalin dari Muhajirin dan Anshor adalah manusia yang dijamin sebagai radhiyallau anhum dan telah dijanjikan utk mendapatkan surga dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 100. Menghina sahabat sama saja dengan menafikan ayat al-Quran. Dan menafikan ayat al-Quran bisa jatuhnya menjadi murtad,” demikian tandasnya.*

 

sumber: Hidayatullah

Siksa Kubur Itu Nyata

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

“Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah Swt. (perkataan) yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.S. al-Anam [6]:93).

Andaikata Allah Swt. yang Maha Perkasa menakdirkan pendengaran manusia mampu menangkap betapa dahsyat dan menyayatnya jeritan dan rintihan para ahli kubur yang sedang didera siksaan karena perbuatan durjananya ketika di dunia, tentulah segenap manusia yang masih hidup ini akan sangat meyakini bahwa siksa kubur itu memang nyata adanya. Hanya karena kasih sayang-Nya juga, ternyata yang mampu mendengarkan azab kubur itu hanyalah semua binatang di bumi ini, serta tentunya Rasulullah sendiri.

Betapa Rasul sendiri yang mendapat karunia Allah Swt. berupa kemampuan mendengarkan siksa kubur tersebut, tatkala memperingatkan kaumnya. Kedua mata beliau sampai memerah. Aisyah Ra. bercerita,: “Pada suatu siang Rasulullah Saw. keluar dari rumahnya dengan menyingsingkan bajunya sementara kedua matanya memerah dan beliau memanggil para sahabatnya dengan suara lantang. “Wahai manusia, kalian telah diingkari dengan beberapa fitnah seperti malam yang kelam. Wahai manusia, jika kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Wahai manusia, memohonlah perlindungan kepada Allah Swt, dari siksa kubur. Sungguh siksa kubur itu benar!.” (H.R. Muslim).

Sungguh siksa kubur itu benar! Masih adakah yang meragukan perkataan Rasulullah sementara beliau sendiri memang ditakdirkan mampu mendengarkan siksa kubur? “Suatu ketika Rasulullah bersama para sahabatnya sedang berada di kebun milik Bani an-Najr, sementara beliau sendiri tengah mengendarai bighal-nya. Tiba-tiba bighal yang tengah ditungganginya berlari, sehingga hampir saja beliau terjatuh karenanya. Ternyata di kebun tersebut terdapat lima atau enam buah makam.

“Siapakah yang mengetahui mereka yang berada dalam kubur itu? Tanya Rasul. “Saya”, jawab seseorang, “Kapan mereka meninggal? “Mereka meninggal pada masa jahilliyah dalam keadaan musyrik”.

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. kemudian bersabda, “Sesungguhnya umat ini dicoba dengan siksa di dalam kuburnya. Dan seandainya bukan karena aku kuatir kepada umat untuk tidak berani lagi menguburkan mayat, maka aku (akan) berdoa kepada Allah Swt. agar Dia memberikan kamu kemampuan mendengar siksa kubur, yang aku sendiri mendengarnya.” (H.R. Muslim).

Bagi orang-orang kafir kepada Allah Azza wa Jalla, saat-saat menghadapi kematian adalah saat-saat yang teramat sangat menakutkan. Sakitnya diderita yang dirasakan ketika nyawa tercabut dari badan sungguh tak terperkirakan. Tatkala meregang nyawa, ia akan merasakan seperti kawat-kawat berduri itu yang menghujam di sekujur tubuh, lalu kawat itu ditarik, sehingga mengelupaskan daging dari seluruh tubuh tersebut.

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, dimana para Malaikat memukul (mereka) dengan tangannya (sambil berkata). “Keluarkanlah nyawamu. “Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah Swt. (perkataan) yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Nya.” (Q.S. al-Anam [6]:93).

Saat ajal menjelang kepadanya akan datang malaikat yang sangat keras dan hitam wajahnya dengan membawa kain yang kasar dari neraka. Malaikat itu lalu duduk di depannya. Tak lama kemudian datang pula malaikat pencabut nyawa dan duduk disamping kepalanya. Malaikat berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah kamu menuju murka Allah Swt.”

Malaikat itu lalu mencabik-cabik tubuhnya dan mencabut nyawanya seperti mencabut kain dari duri, sehingga keluarlah keringat dingin dan uratnya. Semua Malaikat yang berada di antara bumi dan langit pun ramai-ramai mengutuknya, tak terkecuali Malaikat yang berada di langit. Semua pintu langit ditutup baginya, sedangkan setiap Malaikat yang berada di dekat pintu-pintu tersebut berdoa agar ruh manusia durjana itu tidak melintas di samping mereka.

Selanjutnya sang Malaikat pencabut nyawa itu mengambil nyawa orang tersebut dan melemparkannya ke kain kasar dari neraka itu. Dibawanya nyawa tersebut, yang baunya begitu menjijikan dan tercium sampai di muka bumi.

Ketika Malaikat membawa naik nyawa itu ke langit, para Malaikat yang terlewati olehnya bertanya, “Ruh siapakah yang buruk ini?” malaikat yang membawa ruh menjawab, “Si fulan bin fulan (dengan menyebut namanya yang buruk ketika di dunia).” Manakala sampai di pintu langit dan meminta dibukakan untuknya, ternyata pintu itu tidak dibuka.

Allah Azza wa jalla berfirman; “Tidak dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak masuk surga, sehingga unta masuk ke lubang jarum.” (Q.S. al-Muthaffifiin [83]:7-11).

Kemudian, diperintahkan-Nya, “Kembalikanlah hamba-Ku ini ke bumi Aku menjanjikan mereka, bahwa Aku menciptakan mereka dari bumi dan ke bumi mereka Aku kembalikan. Kemudian, akan Ku keluarkan mereka dari bumi untuk yang kedua kalinya.”

Maka, ruh itu pun terlemparkanlah dari langit sampai jatuh ke jasadnya, “Barangsiapa mempersekutukan Allah Swt, maka seolah-olah ia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Q.S. al-Hajj [22] :31).

Sungguh, sabda Rasul Saw, dia (orang yang meninggal itu) mendengar gesekan suara sandal kawan-kawannya ketika mereka meninggalkannya. Tak lama kemudian dia didatangi oleh dua Malaikat yang membentak seraya mendudukkannya, “Siapa Tuhanmu?”

“Saya tidak mengerti,” jawab si ahli kubur.

Apa agamamu?”

Saya tidak tahu”.

“Apa yang kamu katakana kepada seorang lelaki yang ditus kepadamu?” Ahli kubur itu ternyata tidak mengetahui namanya, sehingga diapun diberi tahu, “Muhammad

“Ah..ah saya tidak mengerti. Saya telah mendengar manusia mengatakan itu.

Kamu tidak mengerti dan kamu tidak membaca al-Quran, “hardik kedua Malaikat.

Datanglah seruan dari langit, “Dia hamba yang pendusta. Karenanya, hamparkanlah baginya hamparan dari api dan bukakanlah kepadanya pintu neraka!.” Orang tersebut merasakan panas dan racun api neraka, sementara kuburnya menjadi sempit hingga memutuskan tulangtulang iganya.

Selanjutnya datanglah kepadanya seorang lelaki sangat buruk wajah dan perangainya, buruk pula pakaiannya, serta sangat busuk baunya. Orang tersebut berkata, “Rasakanlah (balasan atas) kejahatan yang kamu lakukan. Ini adalah hari yang dulu dijanjikan kepadamu!.”

“Dan kamu, orang yang dijadikan Allah buruk sementara wajahmu pun sangat buruk, siapakah kamu ini?” Tanya si kafir ahli kubur.

“Aku adalah amalmu yang buruk. Demi Allah., aku tidak melihatmu, melainkan sangat lamban untuk taat kepada Allah dan sangat cepat melakukan maksiat kepada-Nya. Karenanya semoga Allah membalasmu dengan keburukan.”

Amal buruk tersebut sengaja dibentuk oleh Allah berwujud manusia yang buta, tuli dan bisu sementara di tangannya tergengam martil yang kalau digunakan untuk memukul gunung niscaya gunung itu akan hancur lebur menjadi debu, Allah kemudian mengembalikan jasadnya yang sudah hancur lebur itu, sehingga menjadi seperti semula. Setelah itu dipukul lagi dengan martil, sehingga ia menjerit keras sekali yang jeritannya bisa didengar oleh segala sesuatu, kecuali oleh jin dan manusia.

Pintu neraka pun dibukakan untuknya dan diberinya hamparan dari api neraka. Si kafir durjana itupun berteriak, “Ya Rabbi, janganlah sampai terjadi hari kiamat.”

Demikianlah rangkaian perjalanan yang pasti dialami manusia yang ingkar tatkala memasuki alam kubur. Sebagian uraian di atas merupakan rangkaian hadits shahih yang dikumpulkan oleh syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang ulama ahli fiqih, sebagaimana termaktub dalam kitabnya, Ahkam al-Janaiz.

Itulah berita yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Siapapun yang ketika hidup di dunia ini senantiasa bergelimang maksiat, ingkar kepada Allah Swt., maka tunggulah akibat yang akan menjemputnya kelak.

Karenanya, tidaklah heran kalau Allah memperlihatkan kepada kita suatu kejadian tentang jenazah yang wajahnya selalu berpaling dengan sendirinya ketika ke liang lahat wajahnya dihadapkan kea rah kiblat. Adapula yang ukuran panjang kuburnya sepeti terus menerus menyempit dan tidak cukup untuk dimasuki jenazah yang siap diturunkan ke liang lahat.

Kejadian-kejadian yang seperti itu seakan-akan pemberitahuan kepada manusia yang masih hidup, bahwa lubang kuburpun seperti enggan menerima jasad durjana yang penuh berlumur dosa. Naudzu billahi min dzaalik!.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah dalam hidup dan mati, serta dari finah dajjal.” (H.R. Bukhari-Muslim).

 

sumber: Inilah.com

Pendidikan Bagi Wanita Dalam Islam untuk Menguatkan, Bukan untuk Bersaing

Kepala Unit Pengelola Jurnal dan Publikasi Karya Ilmiah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dr. Erma Pawitasari mengatakan perlunya merevisi kembali konsep pendidikan perempuan di sekolah-sekolah dan kampus yang ada.

Pernyataan itu Erma sampaikan menanggapi adanya kecenderungan lembaga pendidikan di negeri ini mengadopsi seluruh konsep pendidikan Barat.

“Ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan Islam, khususnya pendidikan Muslimah,  di tengah arus liberalisasi pendidikan yang ada,” ucap Erma bersemangat.

Erma menjadi pembicara panelis dalam Seminar Nasional Pendidikan yang bertajuk “Liberalisasi Pendidikan di Indonesia” di kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, belum lama ini. Seminar yang digagas oleh Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini juga menghadirkan Teuku Ramli Zakaria, Ph.D (Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan) selaku keynote speaker dan pembicara lainnya yaitu Dr. Adian Husaini (Ketua Prodi Pendidikan Islam Pascasarjana UIKA).

Acara juga dihadiri oleh Dr. Hendri Tanjung (Wakil Dekan Pascasarjana UIKA) dan Dr. Ending Baharudin (Rektor UIKA). Nama yang disebut terakhir sekaligus membuka kegiatan seminar tersebut.

Menurut Erma, ada hal yang menggelitik jika umat Islam masih saja doyan meniru seluruh model pendidikan di Barat. Sebab menurutnya, Barat sendiri mulai merasakan kegelisahan dan meninggalkan pemikirannya sendiri.

“Ini yang aneh, karena kita tak sadar mengidolakan budaya dan pemikiran Barat, tapi Barat sendiri mulai gelisah dengan pemikirannya,” papar Erma, lulusan Master Pendidikan dari Boston University, Amerika Serikat tersebut.

Sebagai contoh misalnya, masih menurut Erma, di beberapa sekolah di wilayah Florida Amerika, justru muncul trend kelas model (single school). Yaitu pemisahan sekolah antar anak laki-laki dan perempuan. Disebutkan, sebuah penelitian ilmiah membuktikan konsep tersebut. Ternyata, sekolah yang di dalamnya masih bercampur antar laki-laki dan perempuan, keberhasilan siswa laki-laki disebut mencapai 30%, sedang ketika mereka dipisah dalam kelas model, justru meningkat menjadi 86%.

Hal yang sama terjadi pada siswa perempuan, yang ketika mereka bercampur di sekolah, keberhasilan siswa perempuan itu mencapai 59%, dan ketika dipisah dari laki-laki, kesuksesan siswa perempuan itu naik menjadi 75%.

“Rupanya, dalam penelitian tersebut tidak hanya membuktikan akan prestasi akademik yang meningkat, tetapi juga menjadikan siswa lebih konsentrasi dan percaya diri,” ungkap Erma, yang juga penulis buku “Muslimah Sukses Tanpa Stress”.

Dalam kegiatan yang digelar di Aula Prof. Abdullah Shiddiq, UIKA Bogor, Erma mengingatkan bahwa apa yang disuarakan oleh kaum liberalis dengan memajukan pendidikan wanita sepintas tampak sejalan dengan agama Islam. Namun sesungguhnya tidak demikian sebab ada niat dan motivasi berbeda di sana.

“Apa yang dijual oleh kaum liberalis itu agar tidak membedakan peran perempuan dan laki-laki. Mereka ingin perempuan bisa bersaing dengan laki-laki dengan konsep kesetaraan gender,” terang Erma.

“Sedang pendidikan bagi wanita dalam Islam, untuk menguatkan dan saling bekerjasama, bukan untuk menyaingi laki-laki,”  pungkasnya tegas.*/Masykur Abu Jaulah

 

sumber: Hidayatullah

Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah

Hari ini, 14 Oktober 2015, berteatan juga dengan tanggal 1 Muharram 1437 H. Seperti kita ketahui bahwa perhitungan awal tahun hijriyah dimulai dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”[1]

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[2]

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.  Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[3]

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”[4]

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[5]

Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.[6]

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullahmengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Muharram. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.”[7]

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”

Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).[8]

Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.”[9]Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[10]

Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah

Amalan Pertama: Do’a awal dan akhir tahun

Amalan seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Amalan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan ini juga tidak kita temui pada kitab-kitab hadits atau musnad. Bahkan amalan do’a ini hanyalah karangan para ahli ibadah yang tidak mengerti hadits.

Yang lebih parah lagi, fadhilah atau keutamaan do’a ini sebenarnya tidak berasal dari wahyu sama sekali, bahkan yang membuat-buat hadits tersebut telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Jadi mana mungkin amalan seperti ini diamalkan.[11]

Amalan kedua: Puasa awal dan akhir tahun

Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”

Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:

  1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
  2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
  3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]

Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Amalan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah

Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau  membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[13]

Penutup

Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.[14]

Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”[15]

Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

 

 

Sumber: Rumaysho

Rahmat Allah SWT Bagi Wanita Berjilbab

Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend` dan biasa kita dengar adalah “Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka `ngerumpi` berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya.

Syubhat lainnya lagi adalah “Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??

Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta`ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini.

Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana.

Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zDahir) dalam diri orang itu.

Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah` artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.

Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 :

Surat An-Nur ayat 31

Artinya : “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” ( Surat An-Nur Ayat 31 )

dan QS: 33 ayat 59

Surat Al-Ahzab ayat 59

Artinya :” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta`ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya. ” ( Surat Al-Ahzab ayar 59 ).

Tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Taala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya.

Jangan Bersedih, Allah Bersamamu

Janganlah bersedih.

Hadapkanlah dirimu kepada Allah sembari berdoa kepada-Nya, baik dalam kemudahan atau kesulitan. Dalam kebahagiaan atau kesedihan. Kembalilah kepada-Nya. Memohon kemudahan dari setiap musibah, tunduk kepada-Nya ketika tertimpa bencana. Dia-lah yang menyelamatkan dari tenggelam, mengembalikan yang hilang, memudahkan yang tertimpa musibah, menolong yang didzalimi, memberi petunjuk orang yang tersesat, menyembuhkan orang yang sakit, dan menyelamatkan manusia dari bencana.

Janganlah bersedih selama Allah bersamamu.

Ketahuilah bahwa dalam kesulitan ada kemudahan. Setelah kesempitan ada keluasan. Setelah kesedihan ada kebahagiaan. Setelah takut ada aman. Setelah khawatir ada ketentraman.

Lihatlah laut tidak menenggelamkan Nabi Musa, karena ada suara jujur berdoa, “Sekali-kali tidak akan tersusul : sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. As Syu`araa [26]: 30).

Lihatlah ketika api tidak dapat membakar nabi Ibrahim karena ia bertawakkal kepada Allah, maka terbukalah perlindungan Allah, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al Anbiyaa`[21]: 69).

Lihatlah Nabi Muhammad Saw. ketika kaum musyrikin tidak menemukannya karena lisannya berdoa, “Janganlah bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”

***


Sumber: Buku La Tahzan for Women, Penulis: Nabil bin Muhammad Mahmud

 

sumber: Abatasa

La Tahzan, Jangan Bersedih Menghadapi Masa Sulit

Larut dalam kesedihan tidak akan membawa perubahan apa pun. Kesedihan tak bisa mengubah keadaan. Kegelisahan tidak akan menaikkan nilai tukar rupiah. Duka tidak akan mampu mengurangi jumlah PHK.

Kesedihan hanya membuat jiwa merana. Gelisah hanya membuat pikiran tertekan. Kekhawatiran yang tak beralasan hanya mengundang sakit dan kelemahan.

La tahzan. Jangan bersedih. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di setiap masa sulit, Allah pasti menyediakan pertolongan; bagi hambaNya yang senantiasa berdoa dan giat berusaha.

Daripada waktu tersita untuk bersedih, hamparkan sajadah dan tunaikan shalat sunnah. Ikhlaskan niat menghambakan diri kepadaNya dan akan kau rasakan lapangnya dada dan luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla. Hayati setiap takbir yang terucap, bahwa Allah Maha Besar. Segala masalah di dunia tak ada yang besar bagiNya. Bahkan dunia itu sendiri bukan sesuatu yang besar di hadapan kekuasaan-Nya.

Bawa seluruh jiwa berdialog melalui ayat-ayatNya. Hadirkan rasa ketika melafalkan seluruh tasbih, tahmid dan lafadz-lafadz doa. Nikmati ketundukan dalam ruku’ tanpa keterpaksaan. Pasrahkan diri dalam sujud dan letakkan segala beban yang kau rasakan. Seperti bumi yang mampu menyerap air hujan, penyerahan diri akan mengosongkanmu dari segala jerih-letih.

Duduklah bersimpuh menghadapNya, tundukkan hati dan kepala, tengadahkan tangan dan panjatkan doa. Kau tidak sedang memberitahu Yang Maha Tahu, namun kau mengadukan segala yang tak kau mampu. Bermunajatlah memohon pertolongan-Nya, bisikkan segala yang kau pinta.

La tahzan. Jangan bersedih. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di setiap masa sulit, Allah pasti menyediakan pertolongan; bagi hambaNya yang senantiasa berdoa dan giat berusaha.

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kau nyalakan sebuah pelita. Daripada bersedih, lebih baik kau berusaha. Tatap dunia bahwa dengan izinNya mereka akan mendatangimu. Sebab rezeki telah digariskan dan takkan pernah tertukar. Takkan berakhir usia seorang hamba sebelum seluruh rezekiNya tunai terdistribusikan. Jika demikian, mengapa harus bersedih soal rezeki dan nasib diri?

Tumbuhkan rasa optimis dalam dada. Kembangkan bibir membentuk senyuman. Buka sorot mata penuh harapan. Berbahagialah… menyongsong masa depan.

Lihat setiap peluang, amati setiap kesempatan. Allah takkan membiarkan masalah tanpa memberikan solusinya. Sebagaimana Dia tidak membiarkan ada penyakit melainkan menurunkan obatnya. Allah takkan membiarkan hambaNya yang telah beriman mengadu-meminta lalu bermujahadah dalam ikhtiar, melainkan akan memberinya pertolongan dan kemudahan; dengan cara yang tampak biasa-biasa saja hingga dari arah yang tak pernah disangka-sangka.

 

[Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Janganlah Bersedih

Allah yang menciptakan kebahagiaan dan Kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi

Kehidupan ini tak selamanya indah. Senang dan duka datang silih berganti. Hal ini semakin memantapkan hati untuk menilai kehidupan dunia ini adalah semu. Kebahagiaannya semu. Kesedihannya semu.

Ada kehidupan selanjutnya di hadapan kita. Itulah negeri akhirat. Abadi dan hakiki. Di sanalah tempat istirahat dan bersenang-senang yang hakiki, yakni di surga-Nya yang penuh limpahan rahmad dan kenikmatan. Atau kesengsaraan hakiki, di nereka yang panas membara. Tempat kembali orang-orang durhaka kepada Sang Pencipta.

Teringat olehku perkataan yang tersimpan dalam kalbu. Di mana seorang pernah menasehatkan, “Ketahulilah yang selamat hanyalah sedikit. Sesungguhnya tipuan dunia akan hilang. Semua kenikmatan selain surga akan sirna. Dan semua kesusahan selain neraka adalah keselamatan.”

Pembaca yang kami muliakan. Perlu kita sadari bahwa kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Tuhan semesta alam. Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan). Allah ‘azzawajalla berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).

Ikrimah –rahimahullah– pernah mengatakan,

ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر

“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”

Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan Kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun pernah dirundung kesedihan. Allah menceritakan keadaan mereka saat kekalahan yang mereka alami dalam perang uhud.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140).

Allah yang menciptakan kebahagiaan dan Kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya Kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia mengadu harap di hadapan Allah. Merendah merengek di hadapan Allah. Bersimpuh pasrah kepada Tuhan yang maha penyayang. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).

Ada saja hikmah dalam ketetapan Allah yang maha hakim (bijaksana) itu.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43).

Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Terlebih bila sebab-sebab kesedihan itu suatu hal yang terpuji. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman.

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ

“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Atau seorang merasa sedih saat tertinggal shalat jamaah di masjid, menyia-nyiakan waktu, tertidur di sepertiga malam terakhir hingga luput dari sholat tahajud, ini suatu hal yang terpuji. Ini tanda adanya cahaya iman dalam hatinya.

Yang tercela adalah saat seorang larut dalam sedihnya. Hingga membuat hatinya lemah, tekadnya meredup, rasa optimisnya menghilang, kesedihan yang menghancurkan harapan. Sampai membuatnya tidak mau bergerak, tidak ada ikhtiyar untuk mengubah keadaannya untuk menjadi insan yang bahagia.

Yang tercela kesedihan yang membuatnya lemah untuk meraih ridha Allah, bahkan membawanya pada keputusasaan dan membenci takdir Allah. Karena seringkali setan memanfaatkan kesedihan untuk menjerumuskan manusia. Betapa banyak orang-orang yang tergelincir dari jalan Allah karena larut dalam kesedihan. Oleh karenanya, Nabishallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah,

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ..

// Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…//

“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak perlu berlama-lama memendam kesedihan dalam hatimu. Banyak yang tak menyadari, ternyata setan senang melihat seorang mukmin bersedih. Ia amat menginginkan kesedihan itu ada pada orang-orang beriman. Allah ‘azzawajalla mengabarkan dalam firmanNya,

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu hanyalah dorongan dari setan. Supaya menjadikan hati orang-orang beriman sedih. Padahal pembicaraan rahasia untuk menggunjing tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikitpun, kecuali dengan kehendak Allah. Hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal” (QS. Al-Mujadilah: 10).

Tahukah anda wahai pembaca sekalian. Ternyata bila kita amati, kata-kata sedih dalam Al-Qurán tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikiin.

Dalam konteks larangan, misalnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139).

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ

“Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka” (QS. An-Nahl: 127). Beberapa ayat juga berbunyi senada.

Kemudian firman Allah ta’ala,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)

Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah ta’ala,

لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Mereka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38)

Apa rahasia dari semua ini? Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan,

وسر ذلك أن الحزن موقف غير مسير، ولا مصلحة فيه للقلب، وأحب شيء إلى الشيطان :أن يحزن العبد ليقطعه عن سيره ويوقفه عن سلوكه، قال الله تعالى : {إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا }

Rahasianya adalah, karena kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا

“Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10].  Madaarijus Saalikiin hal: 1285).

Islam Menginginkanmu Bahagia

Bersyukurlah anda atas nikmat Islam. Karena Islam adalah agama yang menginginkan anda untuk senantiasa bahagia. Allah ‘azza wa jalla. Sang Pembuat Syariat ini tak ingin melihat hamba-Nya bersedih hati. Oleh karenanya, Islam diturunkan untuk membawa kebahagiaan bagi segenap makhluk, bukan untuk menyusahkan. Dalam surat Thaha Allah berfirman,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidaklah menurunkan Al Quran ini kepadamu untuk membuatmu susah” (QS. Thaha: 2). Artinya, Islam diturunkan untuk membuatmu bahagia.

Bahkan, saat seorang jauh dari Islam, saat Itulah kesedihan hakiki akan menghampirinya, dia memang pantas untuk mendapat kesedihan,

Bila kita perhatikan sebuah hadis Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka kita bisa memyimpulkan sebuah kesimpulan yang indah. Di mana Nabi shallallahu’alaihi wa sallampernah bersabda,

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ

“Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih” (HR. Bukhori no. 6290 dan Muslim no. 2184).

Sekedar berbisik bila membuat saudaranya sedih saja dilarang. Ini menunjukkan bahwa Islam begitu menjaga perasaan penganutnya dan amat menginginkan kebahagiaan dalam hati setiap insan. Bahkan Allah senang melihat tanda-tanda bahagia, itu tampak dalam diri kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada seorang hamba” (HR. Tirmidzi dan An Nasai).

Maka betapa indahnya Islam, agama yang mencintai kebahagiaan pada dirimu, dan mengenyahkanmu dari duka cita, di dunia dan di akhirat. Wahai saudara ku usirlah kesedihan dari hatimu. Jangan biarkan setan memanfaatkannya. Karena setan selalu mengintai setiap gerak-gerik kita. Sebagaimana Rasulullah kabarkan,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ، حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ

“Sesungguhnya setan mendatangi kalian dalam setiap keadaan kalian. Sampai setan ikut hadir di makanan kalian” (HR. Muslim).

Terakhir sebagai penutup tulisan ini, kami ingin katakan, “Anda seorang muslim? Berbahagialah!”

Wallahu ta’ala a’laa wa a’lam.

________

Kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, 9 Dzulqo’dah 1436 / 24-08-2015

Ditulis Oleh : Ahmad Anshori

Artikel : Muslim. Or.id