Salat Sangat Berpengaruh Terhadap Rezeki

SELAIN kedudukan ibadah salat yang amat tinggi di sisi Allah, efek positif dari salat juga langsung menyentuh kehidupan manusia. Bukankah kita mendengar Firman Allah swt,
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.Al-Ankabut: 45).

Salat yang benar akan membentuk diri manusia untuk antiterhadap perbuatan buruk dan kejam. Tapi di samping itu, salat juga memiliki hubungan erat dengan urusan rezeki. Coba kita perhatikan dua ayat berikut ini,

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah- mudahan mereka bersyukur.” (QS.Ibrahim: 37)

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS.Thaha: 132).

Pada ayat pertama, Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya ditempat yang gersang di sekitar Mekah agar mereka melaksanakan salat. “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat.”

Setelah ungkapan ini ia sampaikan, baru kemudian Ibrahim berdoa agar Allah memberikan rezki kepada keluarganya: Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Pada ayat kedua, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengajak keluarganya melakukan salat: Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.

Setelah berfirman mengenai perintah salat ini, Allah melanjutkan tentang masalah rezki: Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.

Dua ayat ini selalu meletakkan urusan rezeki setelah urusan salat. Seakan ingin menjelaskan bahwa salatlah dengan baik, maka rezki akan datang setelahnya. Sering kita menunda salat karena ada urusan bisnis yang belum selesai. Sering kita mempercepat salat kita karena ada pembeli yang datang. Sering kita melalaikan salat hanya karena ada orang penting yang harus kita temui.

Coba pikirkan, kenapa kita harus mempercepat salat demi pembeli sementara kita sedang menghadap Sang Pengatur Rezki?

Kenapa kita harus menunda salat demi bertemu klien sementara Allah-lah Sang Pemegang urusan itu? Kenapa kita harus bertemu orang penting dan melupakan pertemuan dengan zat yang segala urusan ada ditangan-Nya?

Mari kita perbaiki cara berpikir kita agar tidak lagi mendahulukan sesuatu yang penting dan melalaikan sesuatu yang jauh lebih penting. Semoga Allah menerima salat-salat kita.[]

 

INILAH MOZAIK

Yakinlah! Allah Mencukupimu dengan Tiga Hal ini

AKHI ukhti. Semoga Allah menjagamu. Yakinlah dengan 3 hal:

1. Tiada yang lebih mengasihimu lebih daripada Allah Rabb mu

2. Tiada yang lebih mengetahui dengan kegundahan hatimu melainkan hanya Allah

3. Tiada yang lebih bisa menjauhkan marabahaya lebih dari Tuhanmu

Oleh karena itu.
Minta pertolongan kepada-Nya.
Bersandarlah kepada-Nya dalam semua perkara dan dalam semua kondisi.
Niscaya engkau akan mendapatkan lebih dari yang kau inginkan.

Tapi kau perlu menanamkan keyakinan tersebut di dalam hatimu

Ingatlah dengan Ibrahim tatkala dilemparkan di dalam api.
Ingatlah dengan Yunus ketika di dalam perut ikan paus.
Ingatlah dengan Luth ketika menghadapi kaumnya.
Ingatlah dengan Yaqub ketika dipisahkan dengan Yusuf.
Ingatlah dengan Musa ketika dikejar-kejar Firaun.

Tidak ada yang sulit dan mustahil bagi Allah.
Dia hanya tinggal berkata kun (jadilah) maka akan terjadi yang diinginkan-Nya.
Dan kau tinggal pasrah dan bersandar diri pada-Nya.
Kelak Dia akan mencukupimu.

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At Thalaq: 3)

[Ust. Dr. Syafiq riza Basalamah]

 

INILAH MOZAIK

 

Lima Sikap Seorang Pemimpin

Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian semua adalah pemimpin dan akan di mintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.'” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan memiliki tanggung jawab yang berat. Tidak hanya kepada sesama orang yang dipimpin, ma nusia, tapi juga kepada Allah Yang Ma hakuasa. Begitu besar pahala jika mampu menjadi seorang pemimpin yang diridhai Allah SWT. Hanya saja, dalam praktiknya, tidak semua orang mampu menja lankan peran kepemimpinan dengan baik.

Ada lima sikap yang harus ditanamkan dalam diri seorang pemimpin. Pertama, ikhlas menjalankan amanah kepemimpinan, hanya mengharap keridhaan Allah SWT semata. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS an-Nisa: 125).

Seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Yang Mahakuasa, artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah SWT serta mengikuti Rasulullah SAW dan sunahnya. Kedua, sabar saat ikhlas sudah tertanam dalam hati. “Dan Kami jadi kan di antara mereka itu pemimpinpemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah: 24).

Ketiga, istiqamah berkaitan dengan perkataan, perbuatan, keadaan, dan niat. Umar bin Khatab berkata, “Istiqamah artinya engkau teguh hati pada perintah dan larangan serta tidak menyimpang seperti jalannya rubah.” Sementara, Utsman bin Affan berkata, “Istiqamah artinya amal yang ikhlas karena Allah.”

Keempat, ikhtiar yang maksimal. Berusaha sekuat tenaga memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik dengan cara-cara yang diridhai Allah SWT. Yakinilah bahwa sekecil apa pun ikhtiar kita, jika dimaksudkan untuk kemaslahatan, Allah akan hadirkan pertolongan-Nya.

Kelima, tawakal secara total. Bertawakal kepada Allah SWT adalah cara terbaik menghadirkan ketenangan dan kasih sayang-Nya. Allah SWT berfirman, “Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 159)

Demikianlah lima modal penting dalam proses kepemimpinan. Semua upaya itu adalah ikhtiar terbaik dengan kesadaran bahwa tiada daya dan kekuatan melainkan semuanya berasal dari kemahakuasaan Allah SWT. Oleh karena itu, sudah sepatut nya seorang pemimpin memiliki lima sikap tadi sebagai bekal menjalankan amanah. Wallahu a’lam.

Oleh: Mahmud

KHAZANAH REPUBLIKA

Hidup Sehat Cara Nabi

Pola hidup yang dipraktikkan Rasulullah SAW adalah pola hidup sehat yang menyeluruh dan sangat didambakan oleh manusia modern. Dengan demikian, sesungguhnya pola hidup Nabi SAW adalah pola hidup yang sangat cocok dijadikan panduan dan teladan oleh manusia modern, atau siapa saja yang menginginkan hidup sehat secara holistik.

Artinya, bukan hanya umat Islam, melainkan semua manusia di sepanjang zaman karena Nabi SAW diutus oleh Allah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS al-Anbiyaa’ [21]: 107).

Pola hidup Rasul sangat seimbang antara fisik, akal (intelektual), jiwa (psikis, emosional), dan rohani (spiritual). Pola hidup seperti inilah yang melahirkan ketenangan lahir batin dan menghadirkan kebahagiaan dunia akhirat. Sesungguhnya, salah satu mukjizat Rasulullah SAW adalah pola hidup, perilaku, dan akhlak beliau yang sangat agung.

Rasanya tidak ada seorang manusia pun di sepanjang sejarah yang ‘abjad” hidupnya begitu lengkap diperhatikan, diingat, dihafal, dituturkan, dipraktikkan, dan disebarluaskan oleh para pengikutnya, kecuali Rasulullah Muhammad SAW.

Meneladani perilaku Rasulullah SAW berarti menyambut datangnya kebahagiaan lahir dan batin karena kebahagiaan lahir batinlah yang membuat kita mudah mencapai taraf sehat secara holistik. Jasmani kita sehat karena pola asupan makanan yang tertib dan terjaga.

Akal dan psikis kita menjadi tenang karena tidak terbebani oleh keinginan mengejar dan memuaskan nafsu duniawi yang bersifat temporer dan spiritualitas kita tidak terganggu karena mendapatkan hak-haknya sebagaimana mestinya.

Ekspresi cinta kaum Muslim kepada Rasulullah SAW yang paling tepat adalah dengan meneladani perilaku beliau. Dan sesungguhnya kehormatan seorang Muslim adalah ketika dia menaruh hormat dan kepercayaan yang tinggi kepada Rasulullah SAW tanpa sedikit pun menyiratkan keraguan. Bahwa apa saja yang beliau sabdakan adalah kebenaran yang datang dari Allah dan apa saja yang beliau lakukan semua mengandung hikmah dan pelajaran bagi umat manusia. Tidak mungkin Allah mengutus seorang yang cacat moral atau serbakekurangan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dan menjadi teladan bagi manusia.

Akhlak mulia Rasulullah SAW akan terus juga menjadi daya tarik bagi mereka yang mau sedikit saja menggunakan akal dan pikirannya, bukan nafsu duniawinya untuk menerima cahaya kebenaran. Manusia pada akhirnya akan memilih Rasulullah SAW menjadi teladan perilaku mereka sehari-hari baik secara sadar maupun tanpa mereka sadari. Hanya dengan meneladani pola hidup dan perilaku Rasulullah SAW, kita semua akan mendapatkan kesehatan secara menyeluruh. Insya Allah.

 

Oleh: Briliantono MS

KHAZANAH REPUBLIKA

Anak Muda Ini Sering Dianggap Kristen dan “China”, Ini Pengalamannya

Orang bermata sipit di negeri ini kerap dipanggil dengan panggilan “China” atau jika dalam makian dengan kalimat “Dasar China!”. Merujuk kepada sebuah negara di kawasan Asia Timur di mana penduduknya mayoritas bermata sipit atau ras tionghoa. Meski sesungguhnya pemilik mata dan kulit khas ini tak hanya China, melainkan ada Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong dan lainnya.

Padahal Allah tak melihat fisik kita, melainkan ketakwaan kita. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Menghina secara fisik atau body shaming pernah dialami oleh seorang sahabat Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang memiliki betis yang kecil. Suatu kali ia mengambil ranting untuk dijadikan siwak, angin berembus dan menyingkap betisnya yang kecil, lalu para sahabat tertawa karena melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil.

Rasulullah SAW pun menegur para sahabat dan berkata, “Apa yang membuat kalian tertawa?”

Mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus.”

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud.”.

Cerita body shaming pernah dialami Evan Permana. Mahasiswa ilmu politik Universitas Indonesia itu memiliki ras tionghoa dan tentu saja bernama sipit. Karena bermata sipit itu ia kerap di-body shaming-i sebagai “China” atau “Sipit”.

Di luar itu, ia memiliki pengalaman yang tak biasa. Ia dianggap beragama Kristen, padahal Islam sejak lahir. Pengalamannya ia reka ulang dalam tayangan youtube

BERSAMADAKWAH

Apa Bekal Menghafal Alquran?

Alquran mudah dibaca dan dihafal, itu adalah garansi dari Allah SWT. Sehingga, tak ada alasan seseorang untuk mangkir dan berpaling dari belajar membaca Alquran. Terlebih, berdalih susah lalu tidak menghafalnya. “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar [54]: 17).

Mari kita kalkulasikan bersama. Jika Anda menghafal satu hari satu ayat secara konsisten maka Anda akan bisa rampung menghafalnya selama 17 tahun, tujuh bulan, dan sembilan hari. Ini bila dengan asumsi jumlah ayat mengikuti pendapat mayoritas ulama Makkah, yaitu lebih dari 6.220 ayat.

Perinciannya sebagai berikut, 17x 360 hari = 6120 hari. Jumlah itu ditambah tujuh bulan sembilan hari. Totalnya 6.339 hari. Jika dua hari dua ayat maka hafalan tersebut akan kelar selam delapan tahun, sembilan bulan, dan 18 hari. Jika proses itu dijalani, tak akan terasa.

Ketahuilah, para penghafal Alquran mengemban misi dan tugas yang mulia. Mereka akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat kelak. Secara tegas, Allah memuliakan para hafiz itu melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad SAW.

Penghafal Kitab Suci itu, seperti dinukilkan oleh Imam Tirmidzi dalam riwayatnya, akan berhias dengan mahkota kemuliaan. Ini karena Sang Khaliq memberikan keridhaan pada yang bersangkutan. Kebaikannya pun akan bertambah, tiap kali melantunkan satu ayat.

Para penghafal Alquran, seperti ditegaskan pula di hadis riwayat Ahmad, adalah ‘keluarga’ Allah di muka bumi. Keutamaan inilah yang mendorong Rasul memuliakan para sahabat penghafal Alquran. Ketika Perang Uhud meletus, tak sedikit sahabat yang gugur dalam pertarungan itu.

Rasul selalu mendahulukan para penghafal Alquran untuk dimakamkan lebih dulu. “Manakah di antara mereka yang hafal Alquran?” demikian  jawaban Rasul atas pertanyaan sahabat.

Semasa Rasul hidup, gairah menghafal Alquran di kalangan sahabat sangatlah tinggi. Tak terkecuali para pemuda. Ada sederet nama kawula muda ketika itu yang menghafal Alquran, seperti Amar bin Salamah, al-Barra’ bin ‘Azib, dan Zaid bin Haritsah. Sahabat Zaid bin Tsabit yang berusia belia saat itu bahkan masuk ke dalam daftar sahabat pencatat wahyu. Pada masa Khalifah Abu Bakar, Zaid dilibatkan pula dalam kodifikasi Alquran.

Akan tetapi, terdapat poin penting yang mesti ditekankan oleh para penghafal Alquran. Mereka mesti mengikuti sejumlah aturan dan etika agar proses menghafal mendapatkan keberkahan dari-Nya. Syekh Qahthan Birqadar memaparkan sejumlah fondasi dasar yang harus diperkokoh oleh para penghafal Alquran.

Paling utama ialah meluruskan niat. Jadikan motivasi satu-satunya menghafal Alquran, yakni mendapatkan keridhaan-Nya. Bukan berorientasi pada ketenaran, popularitas, yang berkelindan dengan melimpah ruahnya materi.

“Niat duniawi tak akan berbuah manis,” tulisnya. Lihatlah, kisah yang tertuang di hadis riwayat Muslim. Mereka yang belajar dan mengajarkan Kitab Samawi itu harus menerima siksa lantaran tujuannya hanya ingin dielu-elukan manusia.

Syekh Qahthan mengingatkan agar menyempurnakan proyek hafalan itu dengan praktik dan pengalaman Alquran. Amalkan ajaran, nilai, dan etika yang terkandung di dalamnya. Jadilah hafiz yang pionir dan selalu terdepan soal akhlak dan moralitas. Tetap tawadhu dan tidak sombong di hadapan orang  lain. Ingatlah, Alquran akan menjadi saksi kita kelak di akhirat. “Alquran adalah saksi atas kebaikan atau keburukanmu,” sabda Rasul dalam hadis Muslim.

Dan, tetaplah konsisten mengulang-ulang hafalan (muraja’ah). Ini agar anugerah berupa hafalan yang diberikan oleh Allah tidak sirna begitu saja. Proses mengulang dan menjaga hafalan justru lebih berat dibandingkan menghafal. Sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim menyatakan hal itu. Rasul pernah menyerukan agar tetap menjaga hafalan Alquran.

“Memelihara hafalan lebih berat ketimbang mengikat seekor unta,” titah Nabi.

Ada banyak media yang bisa dilakukan untuk proses muraja’ah. Mulai dari menjadi imam shalat, mendengarkan tilawah melalui MP3, saling bertukar bacaan, dan sebagainya. Tentu, ini akan lebih utama dan ditekankan dengan bimbingan guru yang berkompeten.

 

Cinta Harta dan Kududukan Mengikis Agama

HUSEIN bin Ishak, seorang saudagar kaya, tidak sanggup lagi membendung perasaannya. Ia jatuh cinta pada Fauziah binti Abdullah. Namun wanita tersebut sudah memiliki suami bernama Salam bin Sufyan. Mereka pun pasangan yang bahagia meskipun hidup dengan kondisi seadanya.

Husein pun menceritakan kegelisahannya kepada sahabatnya Ismail bin Sholeh. “Dia adalah wanita bersuami. Apakah tidak ada perempuan lain?” Tanya Ismail yang sempat terkejut mendengar cerita Husein.

Saudagar tersebut pun menjawab dengan yakin, “Aku begitu mencintai Fauziah. Aku bahkan rela menukar apapun untuk bisa mendapatkannya.” Ismail sepakat untuk membantu Husein. Keduanya pun membuat sebuah rencana.

Beberapa hari kemudian, Ismail datang mengunjungi rumah Salam dan Fauziah. Ismail berkata bahwa saudagar Husein mengundang Salam untuk datang ke rumahnya. Salam pun terkejut, namun juga merasa tersanjung. Ia pun datang ke rumah Salam, “Selamat datang, Sahabatku.”

Sapaan sahabat membuat Salam sedikit canggung. Namun sikap ramah Husein membuat suasana menjadi cair dan hangat. “Sebenarnya ada apa saudagar mengundangku? Jika engkau sedang membutuhan bantuanku, aku akan sangat senang membantumu,” kata Salam.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Husein. “Meskipun kami dalam kondisi kemiskinan, kondisi aku dan istriku baik-baik saja.” Ada harapan dari nada ucapan Salam. Mungkin saja Husein akan memberikan sesuatu.

“Sebenarnya itulah kenapa aku mengundangmu kemari.” Tanggapan Husein membuat Salam terkejut. Apakah harapannya akan terwujud? Apa yang akan saudagar kaya ini lakukan? “Bagaimana keadaan istrimu?” lanjut Husein.

Salam menjawab dengan antusias, “Istriku adalah perempuan yang shalihah. Ia sangat sabar dengan kondisi kami. Ia juga tidak pernah mengeluh dan tetap menjadi istri yang berbakti padaku. Kecantikannya juga tidak pernah memudar meski kesulitan melilit.

“Kira-kira apa yang terjadi jika kalian bercerai?” Pertanyaan Husein membuat Salam sangat terperanjat. “Pertanyaanmu ada-ada saja. Aku sangat mencintai istriku. Hanya Allah yang akan memisahkan kami.”

“Sebenarnya” ujar Husein dengan nada suara bergetar. “Sudah lama aku mencintai istrimu. Dia benar-benar membuatku sangat gelisah, sampai-sampai aku tidak bersemangat menjalani hari-hariku. Karena itu aku memanggilmu. Aku ingin menyampaikan bahwa aku rela memberikan separuh hartaku untuk mendapatkan istrimu.”

Kekagetan membuat Salam membisu. Namun pikirannya pun berkecamuk, jika ia mempertahankan Fauziah hidupnya akan tetap miskin. Jika ia melepas Fauziah, ia akan menjadi kaya raya dalam hitungan detik. Akhirnya Salam pulang dan menceritakan perbincangan tersebut kepada Fauziah.

Istrinya tersebut sangat terkejut sekaligus cemas. Dan benar saja. Salam suaminya kemudian memilih untuk menceraikannya. Ia benar-benar sangat sedih karena tidak menyangka suaminya rela menukarnya dirinya dengan harta.

Husein pun memenuhi janjinya pada Salam. Setelah masa idah Fauziah lewat, ia segera meminang wanita tersebut. Jawaban shalat istikharah Fauziah pun berpihak padanya. Keduanya menikah dan hidup bahagia.

Di tempat lain, Salam yang hidup bergelimang harta mulai sakit-sakitan karena terbakar oleh api cemburu. Ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa mantan istrinya yang cantik dan shalihah kini telah dimiliki oleh orang lain. Lambat laun hartanya pun habis untuk biaya pengobatan.

Seperti kehidupan lamanya, Salam kembali jatuh miskin. “Cinta yang sangat terhadap harta dan kududukan dapat mengikis agama seseorang.” (HR Aththusi)

[An Nisaa Gettar]

INILAH MOZAIK

Membangun Ukhuwah dengan Kelembutan

KAUM muslim dan mukmin itu bersaudara, kelembutan hati adalah buah dari ketauhiidan, yang akan membuat kita bisa bersama-sama membangun indahnya ukhuwah islamiyah.

Sahabat yang baik, salah satu pilar yang paling penting setelah membangun ketauhiidan dan memperbaiki akhlak adalah membangun ukhuwah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan ukhuwah lah setiap kekurangan kita bisa diperbaiki, dan kelebihan kita bisa lebih bermanfaat. Jika tanpa ukhuwah kita akan langgeng di dalam kekurangan dan kelebihan kita tidak akan bisa bermanfaat.

Marilah kita sikapi perbedaan dengan sikap penuh kemuliaan, sehingga perbedaan itu bisa menjadi energi bukan menjadi sarana perpecahan.

Hanya dengan kebeningan hatilah kita bisa menyikapi semua ini dengan baik, dan hanya dengan hidayah dan taufik Alloh Subhanahu Wa Ta’ala lah kita akan menjadi bagian dari bersatunya ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Aamiin Yaa Robbal aalamin. [*]

 

 

KH Abdullah Gymnastiar

Ya, Aku Memang Mencintainya

YA, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?

Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan jiwaku menjadi tentram.

Aku mecintaimu duhai perkataan yang baik. Aku mencintaimu duhai perkataan yang lembut. Aku mencintaimu duhai perkataan yang santun.

Alangkah indahnya ketika seorang anak mencium tangan ibunya seraya berkata, “Semoga Allah menjagamu ibu”.

Alangkah eloknya ketika seorang ayah senantiasa mendoakan anaknya, “Ya Allah ridailah mereka dan bahagiakan mereka di dunia dan akhirat”.

Alangkah bagusnya ketika seorang istri menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman seraya berkata, “Semoga Allah tidak menjauhkan kami darimu, rumah ini serasa gelap tanpa dirimu”.

Alangkah baiknya ketika istri melepaskan kepergian suami bekerja di pagi hari, ia berkata, “Jangan beri kami makan dari yang haram, kami tidak sanggup memakannya”.

Kalimat dan ungkapan yang indah, bukankah begitu? Bukankah kita berharap kalimat dan ungkapan seperti ini dikatakan kepada kita? Bukankah setiap kita berangan-angan mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kepada orang-orang yang dicintainya? Akan tetapi kenapa kita tidak atau jarang mendengarnya?

Penyebabnya adalah kebiasaan. Barangsiapa yang membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yang lembut, berat baginya untuk meninggalkannya, begitu pula sebaliknya.

Orang yang terbiasa memanggil istrinya dengan kata “kekasihku” sulit baginya memanggil istrinya seperti sebagian orang memanggil istrinya, Hei ..hai ..”. atau “Kau ..” & lain sebagainya.

Barangsiapa yang terbiasa memulai ucapannya kepada anaknya, “Ananda, Anakku, Putriku” tidak seperti sebagian lain yang mengatakan, “Bongak .. jahat ..setan!” maka ia berat mengucapkan selain itu.

Kenapa kita tidak bisa mengucapkan satu ungkapan cinta saja kepada anak-anak kita, ibu kita, dan keluarga kita? Jika adapun kalimat tersebut keluar dengan malu-malu. Kenapa lisanmu terkunci di dekat istrimu atau dihadapan ayah dan ibumu, sedangkan di hadapan temanmu, kata-katamu begitu mesra?

Biasakanlah, misalnya mengucapkan kepada ibumu, “Ibu, doakan kami. Apakah ibu ingin titip sesuatu agar ananda beli sebelum ananda berangkat?”

Biasakanlah mengucapkan kepada anakmu kata-kata (sayangku, anakku) dan apabila ia mengambilkan sesuatu untukmu seperti segelas air katakana kepadanya Jazakallah atau ungkapan terima kasih.

Jika putra atau putrimu meminta sesuatu darimu dan engkau sanggup memberikannya serta itu baik untuknya katakanlah kepada mereka dengan tulus, “Dengan sepenuh hati, ayah akan bawakan untukmu”.

Cobalah kata-kata dan kalimat yang lembut dan senyuman yang manis, lalu lihatlah hasilnya!

Lihatlah bagaimana Nabi kita shollallahu alaihi wa sallama berbicara kepada anak istrinya. Perhatikanlah kelembutan hatinya, serta keindahan tutur katanya. Beliaulah sebaik-baik suri teladan. [Ust. Abu Zubair Hawaary]

Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama Allah

Saudaraku, Hendaknya kita MEMBIASAKAN dan benar-benar MENGUPAYAKAN agar bisa bahagia ketika sendiri yaitu ber-khalwat bersama Allah. Artinya sendiri tanpa ada manusia di sekitar kita. Memang kita akan senang atau bahagia ketika bersama manusia, atau berbahagia ketika melakukan kegiatan tertentu misalnya bekerja, membaca, melakukan hobi sendiri, akan tetapi kita ahrus bisa berbahagia ketika sedang ber-khwalwat bersama Allah

Saudaraku, inilah yang kita lupakan atau bahkan tidak pernah terbesit dalam benak kita, yaitu berbahagia ketika sedang berkhalwat dengan Allah saja. Baik itu ketika sedang shalat malam, shalat dhuha, i’tikaf, sebelum tidur, sendirian di motor atau mobil. Hal ini akan melatih kita untuk tetap bahagia di saat-saat sendiri yaitu saat sendiri di alam kubur, tanpa anak-istri, tanpa saudara dan tanpa teman. Hanya ditemani amal dengan rahmat dari Allah.

 

Perhatikan hadits di mana seseorang merasa bahagia tatkala sendiri (berkhalwat dengan Allah), dia menangis bahagia karena terharu akan kasih sayang dan rahmat Allah yang begitu luas padanya, padahal ia adalah seorang pendosa. Atau dia menangis takut kepada Allah, takut Allah tidak memperhatikannya di dunia dan lebih-lebih di akhirat yang kita sangat butuh ampunan dan kasih sayang Allah.

Terdapat tujuh kelompok orang yang luar biasa, salah satunya adalah yang mengingat Allah dalam keadaan sendiri, kemudian ia menangis karena Allah.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلا ظلُّهُ ….، ورَجُلٌ ذَكَرَ اللَّه خالِياً فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; …. dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

Para orang-orang shalih dahulunya sangat berbahagia dan sangat suka apabila, mata mereka bisa menangis karena Allah, karena itu adalah salah satu kabar gembira dan bukti keimanan. Seseorang tidak akan bisa sengaja atau menangis karena Allah, tetapi itu karena sentuhan iman ke hati.

Ka’ab Al-Ahbar berkata,

لأن أبكى من خشية الله فتسيل دموعي على وجنتي أحب إلى من أن أتصدق بوزني ذهباً

Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.” [Fashul Khitab 5/501]

Bagaimana tidak bahagia, ketika memangis, ia ingat bahwa mata yang memangis karena Allah tidak akan tersentuh api neraka.

Dan sabda beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam

عينان لا تمسهما النار ، عين بكت من خشية الله ، وعين باتت تحرس في سبيل الله

Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam (jihad) di jalan Allah.” [HR. Tirmidzi, shahih]

 

Dengan latihan merasa bahagia ketika menyendiri dengan berkhalwat bersama Allah, kita akan terlatih juga saat-saat sendiri kelak di hari kiamat. Misalnya saat-saat sendiri di kubur, tidak ada yang menemani kecuali amalnya dan tentunya dengan rahmat dan kasih sayang Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻳَﺘْﺒَﻊُ ﺍﻟﻤَﻴِّﺖَ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺍﺛْﻨَﺎﻥِ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻳَﺘْﺒَﻌُﻪُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻋَﻤَﻠُﻪُ ﻓَﻴَﺮْﺟِﻊُ ﺃَﻫْﻠُﻪُ ﻭَﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻳَﺒْﻘَﻰ ﻋَﻤَﻠُﻪُ

“Yang mengikuti mayit ke kuburnya ada tiga, lalu dua kembali dan yang tinggal bersamanya hanya satu; yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya, lalu kembali keluarga dan hartanya, dan yang tinggal hanya amalnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian juga seseorang akan sendiri saja memikirkan nasibnya di hari kiamat. Tidak ada tempat berbagi, curhat, musyawarah dan bercerita kepada keluarga dan manusia yang lainnya, karena manusia sibuk memikirkan urusannya masing-masing, bahkan seseorang akan lari dari keluarga dan anak-istrinya karena takut diminta pertangungjawaban.

Allah berfirman,

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya [Abasa/80:34-35]

 

Salah satu waktu bahagia adalah ketika sendiri dan melakukan muhasabah terhadap diri sendiri ketika di saat sepi dan berkhalwat bersama Allah. Hendaknya kita punya waktu-waktu khusus yang kita jadwal untuk melakukan muhasabah, bukan waktu-waktu sisa dari urusan dunia kita.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

ﻻﺑﺪ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﻣﻦ ﺃﻭﻗﺎﺕ ﻳﻨﻔﺮﺩ ﺑﻬﺎ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻓﻲ ﺩﻋﺎﺋﻪ ﻭﺫﻛﺮﻩ ﻭﺻﻼﺗﻪ ﻭﺗﻔﻜﺮﻩ ﻭﻣﺤﺎﺳﺒﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺇﺻﻼﺡ ﻗﻠﺒﻪ

“Hendaklah seorang hamba memiliki waktu-waktu khusus menyendiri untuk berdoa, shalat, merenung, muhasabah dan memperbaiki hatinya”. (Majmu’ Fatawa 10/637)

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/44073-merasakan-bahagia-ketika-ber-khalwat-bersama-allah.html