‘Konser’ Batuk di Masjid Nabawi

Ada keriuhan berbeda di Masjid Nabawi satu pekan belakangan. Bukan soal kajian agama yang selalu digelar bakda shalat Subuh. Bukan pula soal anak-anak yang kerap menangis ketika ibu mereka khusyuk menunaikan shalat.

Kali ini sebuah konser tersaji tiap shalat Subuh. Konser batuk tepatnya. Suara batuk terdengar bersahut-sahutan. Suara jamaah yang terbatuk-batuk berpadu kompak dengan suara hidung yang berusaha sekuat tenaga menjaga lendir tidak jatuh layaknya sebuah kor. Suara itu makin jelas terdengar ketika ruku dan sujud.

Jamaah embarkasi BDJ 12 Kafsah (47 tahun) menjadi salah satu pelaku paduan suara itu. Jamaah gelombang dua ini mengalami batuk dan pilek sejak berada di Makkah.

Flu, batuk dan pilek jamak ditemukan pada jamaah haji gelombang dua. Penyakit ini bahkan sudah biasa hinggap pada jamaah, terutama setelah puncak haji selesai. “Ini (batuk) sejak dari Mina,” kata jamaah asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah tersebut kepada Republika.co.id di halaman Masjid Nabawi, Jumat siang (22/9).

Agar tak berlarut-larut, Kafsah telah memeriksakan diri kepada dokter kloter. Dokter memberinya obat batuk sirup, obat pilek dan obat radang dalam bentuk tablet.

Kafsah tak ambil pusing dengan penyakitnya. Baginya batuk dan flu adalah penyakit biasa. “Biar cepat sembuh saya usahakan cukup istirahat, cukup makan dan banyak minum, makanya selalu bawa air minum kemana pun,” ujar dia.

Kafsah juga mengenakan masker setiap saat. Dia selalu mengganti maskernya tiap waktu shalat.

Dokter Penghubung Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah Nafi Mahfudz mengatakan rata-rata jamaah haji gelombang dua mengalami flu dan pilek. Kelelahan, makanan dan lingkungan adalah di antara faktor risiko yang menjadi pemicu munculnya batuk dan pilek. Apalagi pada jamaah dengan usia di atas 60 tahun. “Faktor risiko ini menurunkan status kekebalan tubuh atau imunitas sehingga jamaah mudah sakit dan lama sembuhnya,” katanya.

Jamaah yang sudah letih karena melaksanakan puncak haji, setelah tiba di Madinah masih melaksanakan shalat Arbain dan ziarah ke berbagai tempat. Kerumunan orang di hotel, di masjid, debu jalanan dan kebiasaan merokok pada sebagian jamaah turut memperberat status imunitas tersebut. “Ketika sudah mau sembuh tapi lingkungannya sakit, jadi seperti lingkaran setan. Banyak yang tertular dan sakit,” katanya.

Nafi mengimbau jamaah menghindari faktor risiko tersebut. Jamaah sebaiknya menggunakan masker, menutup mulut saat batuk, tidak meludah sembarangan, makan bergizi, istirahat cukup dan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dia mengatakan biasanya dokter memberikan obat antiradang, antibiotik sesuai penyakitnya dan obat batuk. Namun, Nafi meminta jamaah tidak hanya mengandalkan obat dokter.

Jamaah harus menghindari gorengan, es dan makanan manis karena secara tidak langsung memicu radang di tenggorokan. Pendingin udara di ruangan juga jangan terlalu dingin dan anginnya jangan langsung terkena tubuh.

Jamaah juga diminta banyak minum agar dahak mudah keluar. Dengan menjalankan gaya hidup sehat dan minum obat teratur, penyakit akan membaik dalam tiga sampai empat hari.

 

IHRAM

Tiga Bentuk Rezeki

ALHAMDULILLAH. Puji dan syukur hanya kepada Allah Swt, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki kepada seluruh makhluk. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Allah, baginda Nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, kita yakin Allah Maha Pemberi Rezeki. Jika kita mentafakuri bagaimana Allah mencukupi rezeki kita, maka rezeki bisa kita klasifikasikan kepada tiga.

Pertama,rezeki yang dijamin oleh Allah Swt. Misalnya adalah rezeki penguat tubuh. Rumusnya, ada nafas ada rezeki. Jadi sepanjang kita masih bernafas, maka sepanjang itu pula rezeki kita terjamin. Minimal adalah udara. Sewaktu kita masih berada di dalam rahim ibu, rezeki kita terjamin. Rezeki yang mendatangi kita, bukan sebaliknya.Maasyaa Allah!

Setelah kita dewasa, rezeki itu tersebar di berbagai tepat di bumi ini. Tinggal kita memilih, mau yang halal atau yang haram. Mau memilih susu atau memilih minuman keras. Mau memilih daging sapi atau daging babi.Insyaa Allah,kita adalah orang-orang yang hanya memilih yang halal sebagaimana petunjuk Allah Swt.

Kedua,rezeki yang digantungkan. Rezeki Allah itu sudah pasti ada, tinggal kita ikhtiar menjemputnya. Nah, kalau ikhtiar kita sesuai dengan jalan Allah, maka Allah akan memberi petunjuk untuk sampai kepadanya. Dalam ikhtiar kita, Allah akan berikan rasa tenang dan semua proses yang kita jalani menjadi amal sholeh.

Sedangkan ikhtiar yang menyalahi jalan Allah, seperti mencuri atau menipu, maka sejak prosesnya sudah diliputi dengan kegelisahan, tidak menjadi amal sholeh, dan jika bertemu dengan rezeki maka jatuhnya menjadi haram. Oleh karena itu, tinggal kita memilih apakah mau mengambil cara yang halal atau cara yang haram.

Ketiga,rezeki yang dijanjikan. Ada orang yang khawatir jika rezekinya sedikit. Tidak apa-apa rezeki sedikit, yang terpenting adalah berkah dan senantiasa dicukupkan oleh Allah Swt, tidak pernah kekurangan, bahkan masih bisa berbagi kepada sesama. Inilah rezeki orang yang pandai bersyukur. Allah Swt menjanjikan bahwa rezeki orang yang bersyukur akan dilipatgandakan, sebagai mana firman-Nya,“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..”(QS. Ibrohim [14] : 7)

Ketika mendapatkan rezeki, ada rasa senang. Disisihkan sebagian untuk bersedekah. Mungkin rumah tidak besar, harta tidak banyak, tapi membantu orang lain tidak pernah berhenti. Inilah yang membuat rezeki yang sedikit namun mengalir terus beserta manfaat dan keberkahannya. Karena rezeki itu ada tiga; yang dimakan menjadi kotoran, yang dipakai menjadi usang, dan yang disedekahkan di jalan Allah Swt.

Demikianlah, Allah Swt. melimpahkan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur atas setiap rezeki yang kita peroleh.Aamiin yaa Robbal aalamin.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

MOZAIK

Perbedaan Kisah Adam-Hawa di Islam dan di Kristen

Kisah Adam dan Hawa terdapat pada tiga agama yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Adam dan Hawa diberikan tempat yang mulia yaitu surga Adn. Kemudian, mereka diperdaya oleh Iblis sehingga terusir dari tempat indah itu. Adam dan Hawa disuruh turun ke bumi untuk hidup, berketurunan hingga meninggal.

Di dalam ajaran Kristen, dalam Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) Pasal III dijelaskan bahwa iblis yang memperdaya Adam dan Hawa menumpang di dalam mulut ular dan dikatakan bahwa ular adalah binatang yang cerdik dan penipu. Dikatakan pula bahwasanya yang tertipu lebih dahulu ialah si istri karena perempuan adalah jenis manusia yang lemah dan lekas terpedaya.

“Maka, dilihat oleh perempuan itu bahwa buah pohon itu baik akan dimakan dan sedap kepada pemandangan mata yaitu sebatang pokok asyik akan mendatangkan budi, maka diambilnya daripada buah, lalu dimakannya serta diberikannya pula pada lakinya, maka ia pun makanlah.” (Kejadian 3:6)

“Dan jawab Adam seketika Tuhan bertanya mengapa dia bertelanjang apakah telah dimakannya buah itu?

Maka sahut Adam, ‘Adapun perempuan yang telah Tuhan karuniakan kepadaku itu, ia itu memberikan daku buah itu lalu dimakan.”(Kejadian 3:12)

Di dalam Perjanjian Baru ditegaskan pula bahwa Adam tidak bersalah, yang salah ialah perempuan itu sebab dia yang terlebih dahulu terpedaya.

Hal tersebut yang dijadikan dasar dalam ajaran Kristen yang dinamai dasar pertama bahwasanya manusia dilahirkan dalam dosa sehingga mereka diusir ke dalam dunia ini. Yang menjadi pangkal timbulnya dosa ialah karena perempuan tersebut yang lebih dahulu terpedaya oleh setan iblis dan perempuan tersebut turut pula memakan buah terlarang.

Perhatikan susunan ayat dalam Kitab Kejadian tersebut tampaklah lemahnya laki-laki yang mudah saja diperdaya oleh perempuan dan perempuan dapat diperdaya oleh lilitan ular iblis. Saat Tuhan bertanya, Adam dengan segera menyatakan diri bahwa dia tidak bersalah, yang salah ialah istrinya sebab dia yang merayu. Lantaran itu, terhimpunlah segala kutukan kepada perempuan.

Lalu, bagaimana kata Alquran tentang kejadian ini? Apakah Alquran menimpakan kesalahan pada perempuan? Apakah Alquran mengatakan bahwa laki-laki berlepas diri?

1. Di dalam surat al-Baqarah ayat 36 jelas benar dinyatakan bahwa keduanya sama-sama digelincirkan oleh setan sehingga keduanya sama-sama dikeluarkan dari surga.

2. Di dalam surat al-A’raaf ayat 20 dijelaskan bahwa yang diperdaya dan diberi waswas oleh setan sehingga memakan buah yang terlarang itu ialah keduanya, artinya sama-sama bertanggung jawab dan sama-sama bersalah.

Di dalam surat Thaahaa lebih dijelaskan lagi bahwa orang pertama di antara keduanya, yang bertanggung jawab atas kesalahannya ialah Adam, tegasnya adalah laki-laki.

Pada ayat 15 surat Thaahaa disebutkan, “Dan sungguh, telah kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa dan Kami tidak dapati kemauan kuat padanya.”

Dalam ayat tersebut jelas terlihat tanggung jawab seorang laki-laki dan kepada orang yang bertanggung jawab tersebut dijatuhkan perintah dan diambil janji bahwa tidak akan dimakannya buah yang terlarang. Namun dia lupa akan tersebut. Lalai.

Lalu, datang lagi ayat 120 yang demikian bunyinya, “Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya dengan berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?’”

Dilanjutkan oleh ayat 21, “Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.”

Lanjut di ayat 122, “Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”

Dari kedua susunan ayat tersebut yaitu terdapat pada Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) pegangan orang Yahudi dan Kristen, serta di dalam Surat Thaahaa, dapat kita bandingkan dua gambaran watak pribadi dari seorang yang tengah dikisahkan. Pribadi yang bernama Adam, yang tersebut dalam Kitab Kejadian ialah sosok yang lemah, lekas jatuh dirayu istri. Akan tetapi, ketika ditanya tentang mengapa apa sebab dia salah, dilemparkan tanggung jawab kepada istrinya, yang dituduh memperdayainya. Tampaklah di situ bahwa ketika istri merayu, ia tidak berusaha membela sama sekali.

Dalam Alquran memperlihatkan pribadi dari seorang laki-laki berakal yang telah menerima janji atau mengikat janji dengan Allah SWT, yang karena tipu daya hawa nafsu dan keinginan yang dirayu oleh setan dia lupa akan janjinya. Ia menjadi lemah, tak kuat bertahan ketika menghadapi tipu muslihat.

Dijelaskan pada ayat 120 bahwa yang memperdaya adalah setan sendiri, langsung dari setan bukan dari rayuan istri. Di ayat tersebut tegas disebutkan seruan setan, “Ya Adam!”

Setelah suami terpesona, istri pun menurut, keduanya sama-sama melakukan kesalahan. Pada ayat 121 dijelaskan bahwa keduanya sama-sama memakan buah tersebut dan keduanya sama-sama terbuka kemaluannya, sama-sama tanggal pakaian surganya dan sama-sama terpaksa mencari daun kayu alam surga untuk menutupi auratnya.

Jalan keluar pun ditunjukkan Allah SWT sebab di samping menghukum siapa yang bersalah, Allah pun kasih sayang kepada hambaNya. Allah pun menunjukkan jalan keluar dari kemurungan perasaan merasa bersalah. Hal itu diabadikan dalam al-Baqarah ayat 37, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.

Ayat 122 surat Thaahaa dijelaskan bahwa setelah Adam terlanjur bersalah lalu taubat, Allah menerima taubatnya. Lalu diturunkan insan atau basyar yang menerima tugas berat yakni menjadi wakil Allah dan Khalifatullah di muka bumi.

Dari perbandingan ayat-ayat dalam Bible dan Alquran dapat dipahami bahwa bagaimana penghargaan Kristen perempuan dan bagaimana pula dalam kacamata Islam. Wallahu A’lam.

 

BERSAMA DAKWAH

Mualaf Center Indonesia tak Tahu Kabar John Kei Masuk Islam

Kabar masuk Islam seorang narapidana, John Kei, masih harus dipastikan lagi kebenarannya. Pasalnya, pihak Mualaf Center Indonesia sendiri belum mendengar kabar tersebut, serta tidak mengetahui apakah kabar tersebut benar.

Ketua Mualaf Center Indonesia, Steven Indra Wibowo menyatakan, tidak tahu-menahu mengenai kabar masuk Islam-nya John Kei seperti yang viral di media sosial. “Kami tidak tahu dan kami tidak terafiliasi dengan Mualaf Center Masjid Darussalam Cibubur,” ujar dia saat dihubungi Republika.co.id, via telepon, Senin (18/9) sore.

Sebelumnya, narapidana kelas kakap itu dikabarkan berniat masuk Islam. John Kei merupakan tersangka dalam perkara pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Steel, yang ditemukan tewas di Swis-Belhotel Jakarta akhir Januari 2012 lalu.

Terkait kabar itu, pihak Mualaf Center Indonesia pun tidak bisa membenarkan apakah itu hoax atau bukan, tetapi yang mereka jelaskan, tidak ada kabar yang mereka dapat dengan tegas mengatakan John Kei masuk Islam.

 

REPUBLIKA

 

———————————————

Dapatkan artikel keislaman tiap hari dr HP Android Anda, undu Aplikasi Porsi Haji ini!  Anda juga dapat cek porsi haji/umrah.

Hijrah, Momentum Persatuan dan Sirit Peradaban

Dominasi kaum Yahudi yang menyingkirkan bangsa Arab secara politik dan ekonomi di Yastrib, menimbulkan pertikaian di sana. Klan Aus dan Khazraj, sebagai penduduk pribumi Yatsrib mencari sosok pemimpin Arab yang mampu mengangkat martabat dan membebaskan mereka dari belenggu penindasan Yahudi.

Memang sudah lama ada desas desus di kalangan Yahudi, berdasarkan informasi dalam Kitab Taurat, bahwa akan datang seorang mesias dan Nabi akhir zaman yang akan memimpin dan menyelamatkan umat manusia dengan ciri-ciri yang juga disebutkan dalam Taurat. Namun kalangan Yahudi kecewa, karena sosok tersebut adalah seorang Arab, bukan Yahudi dan tinggal di Makkah. Informasi ini kemudian disimpan rapat-rapat oleh kalangan Yahudi.

Tapi, Informasi tersebut bocor juga kepada kaum Arab Yatsrib. Mereka mendengar di Makkah ada sosok yang ciri-cirinya persis yang digambarkan oleh Taurat. Sosok itu bernama Muhammad putera Abdullah dari klan Hasyim.

Berangkatlah perwakilan Aus dan Khazraj ke Makkah. Sesampainya di Makkah, mereka memohon kepada Muhammad SAW agar berkenan menjadi pemimpin mereka, serta bersumpah setia untuk mematuhi dan membelanya. Peristiwa ini dikenal dengan Bai’at Aqabah I. Setelah itu datanglah lagi gelombang kedua dari Yatsrib dengan jumlah yang lebih besar. Peristiwa ini dikenal dengan Bai’at Aqabah II.

Muhammad SAW kemudian hijrah menuju Yatsrib bersama pengikut-pengikutnya. Beliau berangkat paling akhir bersama Abu Bakar pada malam hari. Kedatangan Muhammad SAW disambut gegap gempita oleh penduduk Yatsrib.

Langkah pertama yang dilakukan Muhammad SAW adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan Kaum Ansor penduduk asli Yatsrib. Kedua, mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah Al Munawwarah yang bermakna Kota yang terang benderang. Ketiga membentuk konstitusi Madinah dengan kesepakatan seluruh suku-suku di Madinah, yakni Suku Quraisy, Aus, Khazraj, dan empat suku Yahudi: Bani Nadhir, Musthaliq, Quraizhah, dan Qainuqa. Perjanjian ini dikenal dengan Piagam Madinah. Sebuah konstitusi pertama yang terbentuk dari masyarakat yang plural.

Di antara isi Piagam Madinah adalah:

1. Kaum Yahudi bersama kaum muslimin wajib turut serta dalam peperangan.
2. Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama kaum muslimin.
3. Kaum Yahudi tetap dengan Agama Yahudi mereka, dan demikian pula dengan kaum muslimin.
4. Semua kaum Yahudi dari semua suku dan kabilah di Madinah diberlakukan sama dengan kaum Yahudi Bani Auf.

5. Kaum Yahudi dan muslimin harus saling tolong menolong dalam memerangi atau menhadapi musuh.
6. Kaum Yahudi dan muslimin harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kedhaliman.
7. Kota Madinah dipertahankan bersama dari serangan pihak luar.
8. Semua penduduk Madinah dijamin keselamatanya kecuali bagi yang berbuat jahat.

Dari perjanjian ini tampak bahwa Rasulullah SAW tidaklah mendirikan negara Islam, melainkan sebuah negara yang berdasarkan kesepakatan unsur-unsur yang menghuni negara Madinah. Dari sinilah kemudian lahir istilah masyarakat madani. Masyarakat yang berperadaban.

*****

1.300 tahun tahun kemudian di Jakarta, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945, panitia 9 yang terdiri dari: Ir Sukarno, Drs Muhammad Hatta, KH Wahid Hasyim, H Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, AA Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Mr Ahmad Subarjo, Mr Muhammad Yamin menyepakati dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara serta menetapkan UUD 1945.

Memang, sempat ada ketegangan perihal sila pertama dalam piagam Jakarta. Pihak Indonesia Timur yang diwakili oleh AA Maramis menuntut penghapusan 7 kata pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” hanya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja. Jika tidak dihapus, maka Indonesia Timur akan memisahkan diri dari republik yang baru saja kemerdekaannya diproklamasikan itu. Namun, pada akhirnya pihak Islam, demi persatuan, lapang dada untuk menerima penghapusan 7 kata tersebut.

Toh secara dalam pandangan para ulama, walaupun tidak dituliskan 7 kata tersebut, kenyataannya umat Islam tetap wajib menjalankan syariat Islam. Meski dalam beberapa hukum tertentu seperti hudud dan jinayat tidak bisa diterapkan oleh negara, namun hal ini mengikuti kaidah fiqh yang berbunyi “menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kebaikan”. Implementasinya, persatuan lebih diutamakan daripada perpecahan. Selain itu, pada saat itu bangsa yang baru saja merdeka ini, masih terancam oleh keinginan Belanda untuk menguasai Indonesia kembali.

Apakah hari ini kaidah itu masih berlaku? Menurut saya jelas masih berlaku. Karena hingga kini, bayang-bayang perpecahan bangsa masih menghantui. Ingat, sepanjang sejarah bangsa ini masih banyak terjadi konflik yang berlatarbekalang agama. Apalagi akhir-akhir ini jurang perpecahan semakin menganga akibat perbedaan pandangan politik dan pemahaman ekstrem dan radikal.

Pancasila adalah konsensus nasional para pendiri bangsa ini, yang setengahnya adalah para ulama. Lalu ketika ada kelompok yang ingin mengganti dasar negara ini dengan ideologi lain, maka hal itu merupakan pengkhianatan terhadap bapak-bapak bangsa kita. Pengkhiatan kepada para ulama dan santri serta para pejuang yang telah memerdekakan bangsa ini.

*****

Walhasil hijrah merupakan momentum persatuan, sebagaimana Rasulullah saw mempersatukan masyarakat Madinah yang berbeda etnik dan agama dalam sebuah konsensus yang disebut Piagam Madinah. Rasul SAW berhasil membangun masyarakat Madinah yang berbeda-beda dalam sebuah negara untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam bahasa kita kini: Bhineka Tunggal Ika.

Semangat hijrah juga merupakan semangat membangun peradaban. Peradaban dalam bahasa Arab diungkapkan dengan “tamaddun”, “madaniyah”. Istilah ini berasal dari kata madinah. Ketika Rasulullah SAW mengganti nama Yatsrib dengan Madinah, tentu beliau memiliki maksud, yakni bahwa Rasulullah SAW ingin membangun sebuah peradaban.

Dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Dan Rasulullah SAW telah memulai itu. Di Madinah Beliau SAW meletakkan dasar-dasar pemerintahan, sistem ekonomi, dan ilmu pengetahuan melalui ajaran Islam yang dibawa Beliau SAW. Dari sinilah Islam kemudian menyebar ke Afrika, Asia, dan Eropa.

Islam adalah agama peradaban. Artinya agama yang membangun peradaban. Islam berkembang dan tersebar luas bukan oleh ekspedisi militer, bukan juga oleh gerakan politik. Islam maju dan berkembang karena Islam membangun peradaban. Karena itulah hijrah dijadikan sebagai awal dari kalender Islam.

Perdaban barat yang maju hingga menemukan bentuknya seperti saat ini karena bersentuhan dengan peradaban Islam dalam perang salib. Jika tak ada perang salib, mustahil barat mampu mencapai kemajuan seperti saat ini.

Selamat tahun baru Hijriah 1439 H.
Mari jadikan hijrah sebagai momentum persatuan dan spirit membangun peradaban.

 

Oleh: M Imaduddin, Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

 

REPUBLIKA

Anda Pernah Wudu Telanjang di Kamar Mandi?

SESEORANG yang melakukan wudhu sambil telanjang di kamar mandi dan tidak ada seorang pun bersamanya, hukumnya boleh dan wudhunya sah.

Hanya saja, yang lebih afdhal dia tidak melakukan hal itu. Karena melepas pakaian tidak selayaknya dilakukan kecuali dalam keadaan dibutuhkan. Seperti ketika mandi.

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Haidah radhiallahu anhu, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang auratnya, kapan wajib ditutup dan kapan boleh ditampakkan. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jaga auratmu, kecuali untuk istrimu atau budakmu.”

Orang itu bertanya lagi: Bagaimana jika seorang lelaki bersama lelaki yang lain? Beliau menjawab: “Jika engkau mampu agar auratmu tidak dilihat orang lain, lakukanlah!” Orang itu bertanya lagi: Ketika seseorang itu sendirian? Beliau menjawab: “Allah lebih layak seseorang itu malu kepada-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibn Majah, dan dihasankan Al-Albani)

Disadur dari: Fatwa Syabakah islamiyah, no. 3762

Hal yang sama juga difatwakan Komite Fatwa Arab Saudi. Ketika ditanya masalah wudhu dalam kondisi telanjang atau hanya memakai celana pendek, tim fatwa menjawab: Wudhunya sah, karena membuka aurat maupun hanya memakai celana pendek, tidaklah menghalangi sahnya wudhu. (Fatwa Lajnah Daimah, 5:235)

 

Ustadz Ammi Nur Baits

MOZAIK

Adakah Bacaan Tertentu saat Salat Duha?

SALAT dhuha mempunyai keutamaan yang sangat banyak sekali. Di antaranya terdapat dalam hadits riwayat Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,

“Pada setiap pagi hari wajib atas setiap ruas salah seorang di antara kalian dikeluarkan sedekahnya, maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, tahmid sedekah, tahlil sedekah, takbir sedekah, amar makruf sedekah, nahi mungkar sedekah, dan sesuatu yang mencukupi itu semua adalah dua rekaat yang dia kerjakan pada waktu dhuha.” (Hr. Muslim: 720)

Setahu kami pula, tidak ada bacaan tertentu yang wajib dibaca saat salat tersebut, kecuali bacaan yang dibaca seperti salat lainnya. Wallahu alam.

[Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 12, tahun ke-7, 1430 H]

 

MOZAIK

Jabatan Hanya Ujian

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala kejadian, Maha Melihat segala urusan, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang ikhlas. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman, “Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.”(QS. Ali Imron [3] : 109)

Ada orang yang karena baru saja pensiun dari jabatannya, ia tidak lagi pergi ke masjid karena malu sudah bukan pejabat tinggi lagi. Ada orang yang baru saja naik jabatan menjadi direktur, tiba-tiba berubah gaya bicaranya, dibuat-buat agar berwibawa.

Saudaraku, jabatan, kedudukan itu memang melenakan. Bagaimana tidak, seorang jenderal akan disambut dengan penghormatan yang sigap dari bawahannya, seorang presiden akan disambut, diberi pengawalan dan perlakuan yang sangat istimewa, seorang direktur akan disegani dan diikuti perintah-perintahnya dengan patuh. Akan tetapi, sesungguhnya semua itu hanyalah sementara dan hanya sebentar saja.

Apalagi ketika musim mutasi tiba, ada orang yang begitu berat melepas jabatannya untuk ditempatkan di posisi yang baru disebabkan merasa sudah enak duduk di posisinya yang sekarang. Padahal bagi orang yang ikhlas dalam bekerja, penuh syukur dalam mengemban amanah, dia akan siap ditempatkan dimanapun karena baginya jabatan adalah ladang untuk beramal sholeh.

Saudaraku, tidak perlu takut kehilangan wibawa setelah jabatan lepas, tidak perlu takut tidak lagi dihormati setelah masa pensiun tiba. Pangkat dan jabatan hanyalah episode kecil dari hidup kita yang pasti datang dan pergi, pangkat dan jabatan hanyalah tugas yang singkat saja. Takutlah tidak amanah dalam mengemban jabatan, takutlah berbuat tak adil saat memikul jabatan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan masa jabatan yang singkat itu untuk beramal sholeh, menegakkan agama Allah Swt., sehingga saat hari penghitungan tiba, kita tidak menyesali hari-hari yang telah berlalu.Aamiin yaa Robbalaalamiin.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

MOZAIK

Cerdasnya Syekh Abdul Qadir Lihat Perangkap Iblis

WALI Allah Syekh Abdul Qadir al Jaelani dan beberapa muridnya, suatu hari di bulan Ramadan sedang dalam perjalanan di padang pasir yang panas dengan bertelanjang kaki. Syekh Abdul Qadir kehausan.

Beliau mengungkapkan kepada murid-muridnya, “Aku sangat haus dan luar biasa lelahnya.”

Murid-murid beliau berjalan di depannya. Tiba-tiba awan muncul di atas mereka seperti sebuah payung yang melindungi dari panasnya matahari. Dan di depan mereka muncul mata air yang memancar dan sebuah pohon kurma yang sarat dengan buah yang masak. Akhirnya datanglah sinar berbentuk bulat, lebih terang dari matahari dan berdiri berlawanan dengan arah matahari.

Tiba-tiba ada suara mengatakan, “Wahai para murid Abdul Qadir, aku adalah Tuhan kalian. Makan dan minumlah karena telah aku halalkan bagi kalian apa yang aku haramkan bagi orang lain!”

Murid-murid syekh yang berada di depan beliau berlari ke arah mata air itu untuk meminumnya, dan ke arah pohon kurma untuk dimakannya. Beliau pun berteriak kepada murid-muridnya untuk berhenti, dan memutar kepalanya ke arah suara itu. “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk!” teriak Syek Abdul Qadir.

“Awan, sinar, mata air dan pohon kurma semuanya hilang. Iblis berdiri di hadapan beliau dalam rupanya yang paling buruk.

Iblis lalu bertanya, “Bagaimana kamu tahu bahwa itu aku?” Beliau katakan kepada Iblis yang terkutuk yang telah dikeluarkan Allah dari rahmatNya bahwa, firman Allah bukan dalam bentuk suara yang dapat didengar oleh telinga ataupun datang dari luar. Lebih lagi aku tahu bahwa hukum Allah tetap dan ditujukan kepada semua. Allah tidak akan mengubahnya ataupun membuat yang haram menjadi halal bagi siapa yang dikasihiNya.

Mendengar hal ini, Iblis berusaha menggodanya lagi dengan memujinya. “Wahai Abdul Qadir,” katanya, “Aku telah membodohi tujuh puluh nabi dengan tipuan ini. Pengetahuanmu begitu luar dan kebijakanmu lebih besar daripada nabi-nabi itu!”

Kemudian menunjuk kepada murid-murid beliau, Iblis melanjutkan, “Hanya sekian banyak orang-orang bodoh saja yang menjadi pengikutmu? Seluruh dunia harusnya mengikutimu, karena kamu sebaik seorang nabi.”

Syekh Abdul Qadir al Jaelani Aku mengatakan, “Aku berlindung darimu kepada Tuhanku yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Karena bukanlah pengetahuanku ataupun kebijakanku yang menyelematkan aku darimu, tetapi hanya dengan rahmat dari Tuhanku.”

 

MOZAIK

Tahun Baru Islam, MUI Serukan Persatuan Umat

Majelis Uama Indonesia (MUI) menyerukan kepada Umat Islam untuk meningkatkan persatuan. Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid mengimbau kepada kaum muslimin untuk menjadikan tahun baru Hijriyah 1 Muharam 1439 H sebagai momentum kebangkitan spiritual berdasarkan iman, ilmu dan amal saleh guna mewujudkan kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial demi terwujudnya kemaslahatan umat dan bangsa.

“MUI menyerukan kepada kaum muslimin agar memasuki Tahun Baru 1439 H dengan penuh keimanan, ketakwaan dan keikhlasan serta senantiasa mengharap ridho Allah SWT dalam suasana hati yang sejuk, tenang dan damai seraya berdoa semoga di tahun 1439 H ini dapat meningkatkan amal kebajikan agar dapat memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Kamis (21/9)

Zainut Tauhid melanjutkan, MUI juga menyerukan kepada kaum muslimin untuk mengembangkan sikap toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun) dan bersikap adil (i’tidal) dalam menjalankan ajaran agama agar tidak terjebak pada pertentangan dan perselisihan sempit (furu’iyyat) dalam menjalankan ajaran agama. Hal tersebut harus bisa dilakukan, demi mewujudkan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyyah), yang hakiki untuk menuju persatuan umat dan bangsa.

MUI juga mengajak kepada seluruh komponen bangsa untuk mengembangkan toleransi dan wawasan kebhinnekaan sejati. Menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, lanjut dia, dan harmonis, saling menghormati, saling mencintai dan saling menolong dalam semangat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah).

“Hal ini dilakukan dalam rangka memelihara keamanan negara dan kerukunan bangsa,” kata dia.

 

REPUBLIKA