Nikmat Hanya Titipan, Bersikaplah Sebagai Peminjam

Bila dunia ini sementara maka suka dan duka pun sama, hanya sementara. Namun ada hal yang harus diperhatikan, yakni bersyukur akan suka dan bersabar akan duka tak boleh sementara, semoga langgeng selamanya, hingga tutup usia.

Sebab telah kita pahami bahwa ujian tak selamanya berupa musibah dan hal-hal yang mengakibatkan kedukaan dalam diri. Hilangnya rasa syukur ketika diberi kenikmatan termasuk salah satu dari ujian itu sendiri. Perhatikanlah apa-apa yang ada di sekeliling kita saat ini, keluarga harmonis, lingkungan aman, rumah yang layak, kendaraan yang nyaman dan tentunya kesehatan. Semua hal itu seolah milik kita, meski hakikat sesungguhnya hanyalah titipan semata.

Semoga rasa syukur tetap terpatri ketika diberi dan rasa sabar tetap di dada ketika ditunda. Jangan sampai kita hanya mendekat pada Allah di saat terpuruk saja dan lari menjauh ketika dikaruniai kesempatan menggapai puncak, sebagaimana untaian kalimat hikmah dari Ibnu Atha’illah Al Iskandari:

“Siapa yang tidak mendekat kepada Allah, padahal sudah dihadiahi berbagai kenikmatan, akan diseret (agar mendekat) kepada-Nya dengan rantai cobaan.”

Sebagai penutup, saya teringat sepenggal kalimat dari seorang sahabat, ia pernah berpesan, “Semuanya hanyalah titipan. Jadi, tolong bersikaplah sebagai peminjam.” (DOS)

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2285913/nikmat-hanya-titipan-bersikaplah-sebagai-peminjam#sthash.XWLohX3s.dpuf

Doa dan Kesehatan

DALAM satire X dari puisi Romawi “Juneval” ada kalimat mutiara yang potongannya diabadikan dunia, yaitu: “mens sana in corpore sano” yang biasa diterjemahkan dengan “di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat.”

Dengan motto inilah maka olahraga menjadi kegiatan lazim di mana-mana. Banyak yang tidak tahu bahwa bunyi satire lengkapnya adalah: “orandum est ut sit mens sana in corpore sano” yang artinya adalah “Anda harus berdoa untuk memperoleh jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat.” Titik tekannya ternyata bukan pada olahraganya melainkan pada doanya.

Kalau dalam teks agama, kita temukan perintah berdoa berulang kali seberulangkali janji Allah untuk mengabulkan, dan dalam hadits Nabi juga jelas dinyatakan bahwa doa adalah otak ibadah dan bahwa doa adalah senjata orang beriman, harusnya doa merupakan sesuatu yang paling vital dalam kehidupan kita. Faktanya adalah bahwa doa selalu saja dilupakan, doa selalu ditinggalkan, dan kita senantiasa sibuk dengan pikiran kita sendiri dengan mengandalkan tips, strategi dan kemampuan kita sendiri.

Kalau Allah yang memerintahkan kita untuk berdoa dan berjanji untuk mengabulkan, maka sesungguhnya itu bermakna bahwa tak ada masalah yang tak memiliki solusi, tak ada penyakit yang tak punya titik akhir sekaligus tak ada gembok kehidupan yang tak memiliki kunci. Lalu, alasan apa lagi yang bisa membenarkan kita untuk tidak berdoa? Inilah alasan mengapa Rasulullah mengajarkan dan mewariskan banyak doa keseharian untuk umatnya.

Yakinlah bahwa dengan doa maka kesehatan badan, kesehatan jiwa, kesehatan kehidupan sungguh akan lebih mudah diwujudkan. Badan yang sakit, jiwa yang sakit dan kehidupan yang sakit sungguh berada dalam posisi sangat butuh akan doa.

Kehidupan kita dalam berbangsa pun, yang sedang sakit ini, ditandai dengan hilangnya etis dan terpinggirkannya “Tuhan” dalam banyak urusannya, sungguh dalam kebutuhan yang sangat akan doa ini. Mari kita berdoa. Salam, AIM@Ponpes Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2286460/doa-dan-kesehatan#sthash.l9Uca6YW.dpuf

Inilah Keampuhan Baca Bismillah Sebelum Makan

Di antara manfaat membaca basmalah sebelum makan adalah menghalangi setan untuk ikut bergabung makan bersama manusia.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan akan ikut menyantap makanan yang tidak diawali dengan membaca bismillah sebelum makan.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Sebab Turunnya Hadits. Hudzaifah radhiyallahu anhu menceritakan,

Apabila kami makan satu nampan bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kami tidak berani mengambil makanan, hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mengawali mengambilnya. Suatu ketika, kami makan satu nampan bersama Nabishallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba ada anak kecil nyeruduk untuk mengambil makanan, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian datang lagi orang badui nyeruduk untuk mengambil makanan, dan tangannya langsung dipegang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan akan ikut menyantap makanan yang tidak diawali dengan membaca bismillah sebelum makan. Setan datang dengan memanfaatkan anak kecil ini agar bisa ikut menyantap makanan. Lalu akupun memegang tangannya. Kemudian setan datang lagi dengan memanfaatkan orang badui itu agar bisa ikut menyantap makanan, lalu aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan itu sedang saya pegang bersamaan saya memegang tangan kedua orang ini.” (HR. Ahmad 23249 dan Muslim 2017)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan anak kecil agar ketika makan, diawali dengan membaca basmalah.

Dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai anakku, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu. Selanjutnya seperti itul cara makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Bagaimana Jika Lupa? Jika lupa, anda bisa membaca kalimat berikut ketika ingat, “Dengan nama Allah di awal dan di akhir”

Dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang kamu makan hendaklah mengucapkan bismillah, maka jika lupa mengucapkan bismillah di awalnya, ucapkanlah, (dengan nama Allah di awal dan dia akhir)
dengan demikain dia seperti makan dari awal lagi, dan setan terhalangi untuk ikut makan bersamanya, yang mana sebelumnya dia telah mendapat bagian dari makanan tersebut.” (HR Ibnu Hibban 5213, Ibnu Sunni no. 461 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Betapa pentingnya bacaan bismillah sebelum makan, sehingga tidak selayaknya kaum muslimin melalaikannya. Karena ini senjata kita untuk menghindari gangguan setan, dengan izin Allah. Allahu alam.

 

sumber: Mozaik Inilah.com

 

Ini Perbedaan Cara Menyucikan Bekas Kencing Anak

Anak merupakan karunia sekaligus ujian dari Allah. Mengurus mereka sedari kecil bukanlah hal yang mudah. Salah satu hal yang kerap dialami para orangtua yakni anak-anak khususnya bayi mengencingi pakaian para orang tuanya. Terdapat perbedaan cara bersuci antara air kencing akibat anak laki-laki dan perempuan.

Lubabah binti Al-Harits berkata, “Husain bin ‘Ali pernah ketika sedang berada dalam pangkuan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam tiba-tiba kencing. Aku berkata kepada Rasulullah, ‘Pakailah pakaian baru, dan berikan kainmu kepadaku agar kucuci.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya yang dicuci itu hanyalah air kencing anak perempuan, sedangkan air kencing anak laki-laki cukup diperciki.'” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, dan Ahmad)

Adapun beberapa kaidah kebersihan yang harus kita kenali dan praktikkan diantaranya:

1. Apabila bayi itu laki-laki, masih menyusu, dan belum makan apa-apa, cukuplah Anda memerciki pakaian Anda, yaitu memercikinya hingga membasahi semuanya

2. Apabila bayi itu perempuan, baik masih menyusu atau sudah tidak lagi menyusu, Anda harus menyucikan tempat yang dikencinginya dan tidak cukup hanya memerciki dengan air

3. Anak laki-laki setelah melewati masa menyusu (sudah makan), maka bekas air kencingnya harus dicuci sebagaimana bekas air kencing anak perempuan

Demikianlah baginda kita Rasulullah mengajarkan kita sebagian dari kaidah Islam bahkan dalam hal mensucikan air kencing seorang anak sekalipun. Betapa agung dan sempurnanya Islam. Dan terpujilah Tuhan semesta alam sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri. (DOS)

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2286439/ini-perbedaan-cara-menyucikan-bekas-kencing-anak#sthash.AE1cNL48.dpuf

Ini Komentar San Suu Kyi Soal Muslim

Aung San Suu Kyi bicara menyoal penderitaan Muslim di Burma. Pemimpin Liga Nasional Birma untuk Demokrasi itu berkomentar dalam sesi wawancara bersama seorang wartawan Muslim BBC, Mishal Husain.

Dilansir dari Independent, Husain meminta Suu Kyi berkomentar ihwal sikap anti-Islam dan kekerasan terhadap Muslim di negara yang mayoritasnya beragama Buddha.

Husain meminta Suu Kyi menjelaskan tentang penderitaan Muslim yang hanya empat persen dari total populasi di Birma yang mencuat pada 2013 lalu. “Itu sebuah permasalahan baru dan tidak terkait dengan permasalahan lama,” kata Suu Kyi, Sabtu (26/3).

Ia berkukuh, penderitaan Muslim di Burma yang mengemuka pada 2013 lalu tidak berhubungan dengan isu “pembersihan etnis”.

Suu Kyi mengklaim, sudah banyak Muslim moderat di Burma yang menyatu dengan baik bersama masyarakat. Menurutnya, masalah yang muncul tahun lalu itu merupakan bentuk ketakutan dari kedua sisi masyarakat.

“Dunia perlu memahami, ketakutan tidak hanya terjadi pada Muslim, tadi umat Buddha juga,” ujarnya.

Husain menekan pada Suu Kyi, sesungguhnya sebagian besar korban kekerasan adalah Muslim yang hanya berjumlah empat persen di Burma. Berdasarkan buku dari Peter Popham yang berjudul, The Lady And The Generals: Aung San Suu Kyi And Burma’s Struggle For Freedom, Suu Kyi merasa tidak nyaman membicarakan tentang Muslim di negaranya.

Bahkan saat off-air, Suu Kyi terdengar berbicara, “Tidak ada satupun yang mengatakan pada saya akan diwawancarai oleh seorang Muslim.”

 

sumber:Republika Online

Saudi Selesai Cetak 8.000 Visa Jamaah RI

Sekjen Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) Muharom Ahmad mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan Kedutaan Besar Arab Saudi membahas visa yang sempat tertunda pencetakannya. Kedubes Saudi pun telah memastikan bahwa 8.000 visa yang tertunda sudah selesai cetak pada Rabu (6/4) sore.

“Wakil Ketua Himpuh Ali Muhammad Amin telah bertemu kedubes Arab Saudi dan mengatakan seluruh staf lokal bekerja lembur untuk menyelesaikan visa yang tertunda hingga Rabu sore,” ujar dia kepada Republika.co.id, Rabu (6/4).

Muharom mengaku, pihaknya tidak terlalu mengalami kerugian terkait tertundanya visa tersebut. Seluruh travel telah mengantisipasi dengan penjadwalan ulang pada Jumat (8/4). Arab Saudi mengumumkan visa untuk pemberangkatan Kamis (7/4) sudah tersedia. Untuk lebih aman mereka memundurkan jadwal hingga Jumat.

Pihak Saudi pun telah berkirim surat kepada maskapai penerbangan yang biasanya memberangkatkan jamaah umrah. Karena itu, Muharom berharap maskapai penerbangan dapat mengerti mengenai kendala teknis yang dihadapi Kedubes Arab Saudi.

“Kerugian tidak terlalu dirasakan, karena jadwal penerbangan bisa dimundurkan, kerugian hanya di hotel saja, karena untuk hari senin hingga selasa hangus, karena sudah lebih dulu dipesan,” jelas dia.

Terkait visa elektronik, pihaknya mengapresiasi jika Kedubes Arab Saudi bisa lebih menyederhanakan dalam proses pengajuan umrah. Sehingga mempermudah dan mempercepat pencetakan visa.

 

sumber: Republika Online

Kemenkes Imbau Calon Jamaah Haji Siapkan Kesehatan Sejak Dini

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, menganjurkan para jamaah haji untuk menyiapkan kondisi kesehatan sejak dini.

“Kita menganjurkan para calon jemaah untuk menyiapkan beberapa bulan sebelumnya. Karena kita akan menghadapi masalah luar biasa dengan lingkungan yang sangat beda,” kata Untung kepada Republika, di Hotel Horison Bekasi, Rabu (6/4) malam.

Untung menyampaikan, suhu udara di Arab Saudi pada bulan September 2016 mendatang bisa mencapai 41-50 derajat Celcius. Kondisi itu jauh berbeda dengan tanah air, yang rata-rata hanya 30 derajat Celcius. Tingginya selisih suhu udara ditambah kondisi lingkungan yang sangat berbeda mengharuskan jamaah haji mempersiapkan kondisi fisik yang prima.

Menurut Untung, kondisi cuaca yang panas dan kurangnya pengenalan medan baru sering memperburuk kondisi fisik jamaah haji. Tidak jarang ditemui jamaah haji yang terkesan linglung akibat kekurangan cairan. “Ciri khas orang kekurangan cairan itu kan meracau. Nanti disangka stress atau gila, padahal bukan. Hanya karena kekurangan cairan,” jelas dia.

Terkait standar kesehatan tersebut, Untung menambahkan, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama mengeluarkan istitha’ah atau kriteria kemampuan seseorang berhak naik haji. Kriteria ini juga mempertimbangkan aspek kesehatan. Seseorang yang telah diketahui menderita penyakit jiwa tidak diizinkan menunaikan haji ke tanah suci.

Kemenkes mewajibkan semua jamaah untuk melakukan vaksin meningitis minimal dua pekan sebelum keberangkatan. Menurut Untung, saat ini pihaknya tengah menyiapkan vaksin baru dengan jaminan sertifikasi halal dari MUI. “Diharapkan Mei nanti sudah siap,” kata dia.

 

sumber:Republika Online

Ketentuan Baik dari Allah

SEGOLONGAN orang bertanya kepada Rasul Shalallaahu ‘Alahi Wasallam ketika beliau bersabda: “Allah Subhanahu Wa Ta’alatidak akan menetapkan suatu ketentuan kepada seorang mukmin kecuali hal itu menjadi kebaikan bagi orang mukmin tersebut.” Padahal Allah juga telah menetapkan ketentuan yang buruk baginya, yang menyebabkan adanya sanksi. Lalu bagaimana hal itu menjadi kebaikan?

Jika seseorang memperoleh kebaikan, kemudian bersyukur maka itu baik baginya. Jika ditimpa keburukan, kemudian bersabar maka itu baik baginya.

Mengenai hal itu, ada dua jawaban:

Pertama, bahwa perbuatan hamba tidak termasuk ke dalam makna hadist tersebut. Yang termasuk ke dalam makna hadist tersebut adalah sesuatu yang menimpa manusia, berupa kenikmatan dan musibah. Sebagaimana firman-Nya: “Apa pun kebaikan yang menimpamu maka itu berasal dari Allah dan apa pun keburukan yang menimpamu maka itu berasal dari dirinya sendiri.” (An-Nisaa’: 79). Oleh karena itu, Rasulullah bersabda: “Jika dia memperoleh kebaikan, dia bersyukur maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa keburukan, dia bersabar maka itu baik baginya.”

Dengan demikian, Allah menjadikan ketentuan itu adalah sesuatu yang menimpa manusia berupa kesenangan dan kesusahan. Ini adalah lafaz perkataan yang sangat jelas dan tidak ada kontradiksi dengan firman Allah tersebut.

Kedua, jika Allah menetapkan bahwa perbuatan itu termasuk ke dalam hadist tersebut, maka Rasulullah telah bersabda: “Siapa saja yang perbuatan baiknya membuat dia gembira dan perbuatan buruknya membuat dia cemas, maka dia mukmin.”

Jika ditetapkan baginya untuk berbuat baik dan itu membuatnya gembira, maka dia bersyukur kepada Allah atas hal itu.

Jika ditetapkan baginya keburukan, maka keburukan itu hanya mengakibatkan sanksi jika dia tidak bertobat. Jika dia bertobat maka keburukan itu akan diganti dengan kebaikan sehingga dia akan bersyukur kepada Allah.

Jika dia tidak bertobat maka dia akan ditimpa bencana. Bencana itu adalah kafarat (penebus) perbuatan buruk tersebut. Apabila dia bersabar atas bencana itu maka itu baik baginya.

Rasulullah bersabda: “Allah tidak akan menetapkan ketentuan untuk seorang mukmin, yang dimaksud mukmin itu adalah orang yang tidak terus-menerus dalam dosanya dan bertobat dari dosa tersebut, maka itu menjadi kebaikan, sebagaimana terdapat dalam sejumlah ayat bahwa seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa ternyata dia dimasukkan ke dalam surga karena perbuatannya itu. Hal itu karena dia terus menerus bertobat dari perbuatan dosanya itu hingga dia dimasukkan ke dalam surga karena tobatnya itu.”

Dosa itu menyebabkan seorang hamba untuk merendahkan dan menundukkan dirinya kepada Allah, berdoa kepada-Nya, memohon ampun hanya kepada-Nya, mengakui kefakiran dirinya dan mengakui kebutuhannya kepada Allah. Tidak ada yang akan mengampuni dosa kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Berkaitan dengan dosa-dosanya itu, manusia mempunyai dua pilihan: pertama, bisa jadi dia bertobat maka Allah akan mengampuninya sehingga dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertobat yang akan dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua, bisa saja dosa itu terhapus dengan adanya musibah. Dia ditimpa kesusahan, maka dia bersabar atas musibah itu. Dengan demikian, keburukan itu akan terhapus oleh musibah tersebut. Dan dengan kesabaran itu, derajatnya menjadi naik.

Dalam beberapa hadist qudsi terdapat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Orang yang suka mengingat-Ku adalah orang-orang yang suka hadir di majelis-Ku. Orang yang bersyukur kepada-Ku adalah orang yang suka mengunjungi-Ku. Orang yang taat kepada-Ku adalah orang yang memuliakan-Ku. Orang-orang yang senang bermaksiat kepada-Ku, tidak akan menghentikan rahmat-Ku untuk mereka. Jika mereka bertobat maka Aku akan mencintai mereka.” Maksudnya, akan menjadi kekasih mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang membersihkan diri. “Jika mereka tidak bertobat maka Aku adalah dokter bagi mereka. Aku akan menimpakan musibah kepada mereka agar Aku jadikan musibah itu sebagai penebus dosa mereka.“*/Syaikh Ibn Taimiyyah, terangkum dalam bukunya Misteri Kebaikan & Keburukan.

 

sumber: Hidayatullah

Manusia Butuh Petunjuk Setiap Saat

DALAM firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “min nafsika” (“Berasal dari dirimu sendiri”) terdapat beberapa faedah, yaitu seorang hamba tidak akan merasa cenderung kepada hawa nafsunya dan tidak akan merasa tenteram terhadapnya. Sesungguhnya keburukan itu tidak datang kecuali berasal dari nafsunya itu.

Seseorang tidak akan bersibuk diri mencaci dan mengecam manusia jika mereka berbuat keburukan kepadanya. Karena hal itu merupakan keburukan yang menimpanya. Dan itu hanya menimpanya karena dosa-dosanya. Maka dia akan mengembalikan keburukan itu kepada dosa-dosanya dan bertobat atas dosa-dosanya tersebut.

Dia juga akan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan dirinya dan dari keburukan tingkah lakunya. Dia akan berdoa kepada Allah agar Allah menolongnya untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Melalui semua itu akan dihasilkan segala kebaikan baginya dan akan menghindarkannya dari segala keburukan.

Oleh karena itu, doa yang paling bermanfaat, paling agung, dan paling bijaksana adalah doa dalam Surah Al-Fatihah: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalannya orang-orang yang dibenci dan juga bukan jalannya orang-orang yang sesat.

Jika Allah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus tersebut, maka berarti Allah telah menolongnya untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya. Dengan demikian, keburukan tidak akan menimpanya, baik di dunia maupun di akhirat.

Dosa-dosa tersebut merupakan tuntutan nafsu manusia sehingga dia membutuhkan petunjuk setiap saat. Kebutuhan manusia kepada petunjuk lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman.

Hal itu tidaklah sebagaimana dikatakan oleh segolongan mufasir bahwa sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia, lalu mengapa manusia memohon petunjuk lagi?

Dan bahwa yang dimaksud dengan memohon petunjuk adalah keteguhan atau tambahan petunjuk.

Yang sebenarnya adalah bahwa seorang hamba membutuhkan Allah untuk mengajarkannya apa yang harus dilakukannya, secara detail. Manusia juga membutuhkan-Nya untuk mengajarkan perkara yang akan dilakukannya setiap hari, secara detail. Manusia juga membutuhkan-Nya untuk memberikan ilham kepadanya agar dia dapat menjalankan hal itu.

Semata-mata ilmu juga tidak cukup, jika tidak menjadikan Allah sebagai tujuan dari perbuatannya itu. Jika tidak demikian, maka ilmu itu hanya dijadikan argumentasi saja dan tidak menjadi petunjuk. Seorang hamba membutuhkan Allah agar Allah menjadikan dirinya mampu merealisasikan tujuan baik tersebut.

Dia tidak akan tertunjuki ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dari kalangan para Nabi, orang-orang memegang teguh kebenaran, para syuhada dan orang-orang salih, kecuali dengan adanya ilmu, serta adanya keinginan dan kemampuan untuk merealisasikan hal tersebut.

Manusia memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan dirinya dan dari keburukan tingkah lakunya.

Termasuk ke dalam hal itu juga berbagai jenis kebutuhan yang tidak mungkin dapat dihitung.

Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk selalu membaca doa tersebut dalam setiap shalatnya untuk menyampaikan kebutuhan mereka kepada-Nya.

Tidak ada kebutuhan yang melebihi kebutuhan mereka kepada doa tersebut.

Allah hanya memberitahu sebagian kadar doa tersebut kepada orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Yaitu orang yang mau mengambil pelajaran dari keadaan dirinya, dari keadaan jiwa manusia dan jin, serta dari keadaan orang-orang yang diperintahkan untuk membaca doa tersebut.

Dia akan memperhatikan apa yang terdapat dalam dirinya, yaitu kebodohan dan kezaliman yang menyebabkan kesengsaraan, baik di dunia maupun akhirat. Dia juga akan mengetahui bahwa Allah dengan karunia dan rahmat-Nya telah menjadikan doa ini sebagai sebesar-besarnya penyebab kebaikan dan pencegah keburukan.*/Syaikh Ibn Taimiyyah, dari bukunya Misteri Kebaikan & Keburukan.

 

sumber:Hidayatullah

Jangan Mengejar Sukses Dunia, Lupa Akhirat

Setiap manusia pasti mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Kita juga sebagai orang Islam tentunya ingin sukses baik di kehidupan dunia maupun akhirat sebagaimana digambarkan dalam doa kita “Rabbana atina fiddun ‘ya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina aza bannar“.

Islam adalah agama yang menuntun umatnya untuk menjadi orang-orang yang sukses. Untuk meraih kesuksesan dunia akhirat itu, Allah Swt juga telah memberikan petunjuk yang fenomenal yaitu Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang kesuksesan dan orang-orang sukses. Ternyata sukses menurut manusia berbeda total dengan sukses menurut Allah Subhanahu Wata’ala.

Demikian disampaikan oleh  Hajarul Akbar Alhafiz, MA (Pimpinan Pesantren Darul Qur’an Mulia, Bogor)‎‎ saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (23/3/2016) malam.

‎”‎Sungguh rugi orang yang mengira dirinya telah sukses dan dianggap manusia sebagai orang sukses dalam kehidupan di dunia, tapi ternyata ia termasuk orang yang gagal total. Sukses yang sebenarnya, sejati, hakiki dan abadi adalah sukses menurut Allah Subhanahu Wata’aladalam kitab-Nya, Al-Qur’an,” ujar  Hajarul Akbar.

Pada pengajian yang dimoderatori Tgk. Badaruddin dari Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh tersebut,  az Hajarul menyebutkan, ada yang menyebut sukses ketika orang berhasil meraih apa pun yang dia inginkan, ada pula yang menyebut sukses ketika kita mampu menjadi orang yang bernilai di mata manusia.

‎Tak jarang pula yang menyebut sukses dalam hidup ketika banyak uang dan lancar dalam bisnis dan pekerjaan. Apa pun pandangan orang tentang kesuksesan patut diapresiasi, selama terarah untuk meraih kedekatan dengan Sang Pencipta.

‎Al-Quran sendiri mempunyai standar dan indikator kesuksesan seseorang dalam hidup. Sukses menurut Al-Quran tak terletak pada banyaknya properti, uang, lahan bisnis, kekuasaan atau popularitas.

“Kesuksesan di dunia bukanlah hal yang mutlak untuk diupayakan. J ru kesuksesan tersebut haruslah menjadi dasar pencapaian kehidupan sukses di akhirat. Seorang mukmin sebaiknya menjaga dirinya dari bahaya fitnah yang disebabkan harta dan kedudukan. Ia harus tetap mempertahankan agama dan keimanannya agar memperoleh kesuksesan yang sama di akhirat,” tegas  Hajarul yang sudah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia 17 tahun.

Ditambahkannya, Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa yang obsesinya akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja.”

‎Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta ini menambahkan, untuk mendapatkan pesona dunia tersebut manusia menghabiskan demikian banyak waktu bekerja keras menumpuk harta mengejar kebahagiaan duniawi. Pencinta dunia bahkan tidak atau sedikit saja menyisakan waktunya untuk amal akhirat di sela-sela kesibukan kerjanya atau di waktu luangnya dan dikala ia sehat.

Mereka bahkan melupakan shalat atau minimal menunda shalat berjamaah karena lebih penting waktu untuk urusan dunia yang lebih jelas terlihat di depan mata mereka. Sebagian bahkan siap korupsi, merampok, mencuri, menganiaya, menipu, memperkosa, membodohi orang lain untuk mendapatkan tiket membeli pesona dunia.

Disisi lain, sebagian manusia meluangkan demikian banyak waktunya untuk menikmati pesona dunia, bahkan tanpa mau bekerja dengan keras apalagi beribadah kepada pemilik dunia ini, Allah Swt. Merekalah para pemilik harta berlebih yang menggunakannya untuk bersantai dan menikmati fasilitas dunia, termasuk para pemilik waktu yang menggunakannya untuk bermalas-malas di rumahnya yang nyaman, bermaksiat atau menikmati narkoba, termasuk juga para pemilik kekuasaan yang menggunakan kelebihannya untuk mendengar kekaguman orang lain pada dirinya atau memamerkan pengaruhnya atau fisiknya yang indah.

‎‎‎”Hari ini banyak orang yang tidak percaya lagi pada umat Islam, sampai-sampai ada anggapan lebih baik pemimpin kafir dari pada muslim. Ini musibah besar bagi umat ini. Kenapa sampai tidak dipercaya, karena sudah rendah sekali moralnya, akhlaknya, ketaatannya kepada Allah semakin berkurang dengan munculnya penyakit wahn yaitu cinta dunia takut mati,” jelasnya.

‎Para pecinta dunia hanya berpikir bahwa tak mungkin Tuhan menciptakan dunia yang sangat sempurna, luas dan lengkap ini kalau tidak untuk dinikmati. Bahkan mereka berpikir tak mungkin Tuhan akan menghancurkan dunia ciptaan-Nya sendiri yang demikian menakjubkan ini melalui suatu bencana kiamat. Pencinta dunia hanya takjub kepada dunia yang luar biasa ini dan tidak pada akhirat karena mereka tidak tahu gambaran mengenai akhirat.

‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah bersabda: “Seandainya dunia itu ada nilainya di sisi Allah Swt bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi memberi makan dan minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR Tirmidzi, shahih).

Hadits ini juga memberi makna, rezeki dan kebahagiaan dunia juga diberikan Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih banyak dibanding yang Ia berikan kepada orang-orang yang shaleh, ini karena nilai dunia yang sangat tidak ada artinya dibanding akhirat.

Karenanya, setiap muslim diingatkan harus mempertimbangkan kepentingan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam (tempat melakukan amal ibadah dan amal kebajikan) yang hasilnya dipanen kelak di negeri akhirat.

Pada pengajian tersebut,  az Hajarul Akbar yang mewakili Indonesia pada MTQ Internasional Cabang Hafiz dan Tafsir Quran di Yordania tahun 2015 ini juga menjelaskan, sering membacakan Al quran merupakan salah satu cara agar kehidupan berkualitas, menjadi tertata dan berkah. Namun jika jarang membaca ayat suci Al quran, maka berbagai masalah akan muncul, karena Al Quran itu sendiri obat dan solusi untuk mengatasi semua persoalan umat manusia.

Dalam mempelajari dan interaksi dengan Al Quran ada tiga tingkatan. Pertama, tingkatkan kuantitasnya baca Al Quran minimal khatam Al Quran 40 hari sekali bagi orang selemah-lemahnya iman.

“Jika Al Quran jauh dari bacaan seorang muslim, maka setan masuk. Jika sampai malas baca quran, pertanda banyak penyakit dalam tubuh. Baru lima menit saja pegang dan baca al-Quran sudah ngantuk.

Jangan seolah-olah Al Quran hanya untuk anak-anak TPA. Ketika usia anak-anak ngaji, sudah tua tidak ngaji-ngaji lagi,” ungkap Da’i asal Aceh yang kerap berceramah di Pulau Jawa‎ ini.

Kemudian juga, kualitas bacaan Al-Quran perlu jugaditingkatkan, serta intensitas atau seringnya membaca Al quran setiap saat.*/ T Zulhairi (Aceh)

 

sumber: Hidayatullah