Usai Sandal, Muncul Permen Ubah Sebutan Allah

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Setelah sandal yang pada bagian alasnya terdapat lafadz Allah, kini muncul lagi bentuk pelecehan baru.

Sebuah tayangan video singkat dalam situs You Tube, yang diunggah oleh Markaz Syariah pada Jum’at (15/10) memancing banyak komentar dari para netizen. Video berdurasi 2 menit 10 detik itu mengungkapkan adanya penghinaan terhadap nama Allah dalam sebuah bungkus permen.

Permen bermerek Rainbow itu menerjemahkan nama Allah berdasarkan kamus gaul kode #008 dengan sebutan Yaowo. Kata tersebut tertulis pada bungkus permen di bagian belakang. Diketahui permen tersebut di produksi ole PT Ultra Prima Abasi-Statsiun Rasa-Orang Tua yang beroperasi di Jalan Raya Panjang Jiwo, Surabaya.

Tak hanya itu, kata lain seperti makan berubah penyebutannya menjadi kemek serta Pikiran jelek (yang dalam penulisan bahasa Arab ditulis Suudzon) menjadi Sujon.

Beberapa netizen pun melemparkan komentar pedas, seperti pemilik akun Firsyan Kinandana yang menilai produsen terinspirasi dari remaja yang mengalami kelabilan secara psikis.

Sementara itu, pihak produsen melalui akun Statsiun Rasa langsung menanggapi isi video tersebut.

Berikut klarifikasi dan ucapan permintaan maaf Statsiun Rasa:

Menanggapi unggahan yang beredar di sosial media terkait kemasan permen Rainbow yang mencantumkan berbagai kata gaul, dimana salah satunya adalah kata Yaowo, dengan ini Permen Rainbow:

1. Mengucapkan terima kasih atas semua masukan yang diterima dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila tanpa sengaja telah menyinggung beberapa pihak

2. Permen Rainbow tidak bermaksud menyinggung pihak manapun terkait dengan pencantuman berbagai kata gaul tersebut. Terkait dengan 2 poin di atas, Permen Rainbow akan segera: 1. Menghentikan produksi. 2. Menarik stock yang ada di pasar dan memusnahkannya.

Untuk Kamu yang Dilema dan Galau Menanti Jodoh

Indahnya ketika akad telah dikumandangkan, limpahan doa membanjiri pasangan pasuntri baru yang sedang dimabuk asmara. Kebahagiaan dalam rumah tangga telah terbayang indah. Ditambah lagi euforia walimatul ‘urs semakin menambah suasana kebahagiaan.

Menikah merupakan dambaan setiap insan. Menikah bukan sekedar sarana menyalurkan cinta dan nafsu tetapi juga sebagai sarana ibadah yang menuai banyak pahala dari Allah Ta’ala. Membentuk keluarga yang harmonis penuh kebahagiaan merupakan impian semua orang. Maka tak heran bila banyak yang ingin mempunyai pasangan dengan kriteria tinggi.

Memiliki kriteria yang tinggi untuk calon pasangan bukanlah hal yang salah, karena setiap orang pasti mengimpikan mendapatkan pasangan yang terbaik. Tetapi, ingatlah bahwa kriteria-kriteria itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Karena di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Seperti matahari dan bulan mereka saling menerangi bumi dari kegelapan.

Memiliki motivasi tinggi untuk menikah merupakan anugerah yang telah diberikan Allah Ta’ala.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum: 21).

Selain itu menikah merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sudah selayaknya sebagai umatnya untuk mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401).

Salah satu hikmah dalam berumah tangga adalah bisa memperbanyak keturunan yang sholeh dan sholehah. Keluarga akan menjadi taman bagi anak-anak dalam belajar syari’at agama pertama.

Oleh karena itu janganlah sampai keinginan menikah di dalam hati sirna karena tidak kunjung mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteria yang telah di tetapkan. Oleh karena itu sebaiknya janganlah mengejar pasangang yang sempurna tetapi jadilah seorang yang bisa menyempurnakan pasanganmu.

“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” (Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi).

Kalimat di atas menyadarkan dan mengajarkan bahwa tidak mungkin seseorang akan mendapatkan pasangan tanpa cela. Oleh karena itu, untuk apa menunda karena terhalang kriteria selangit yang belum kesampaian.

“Apabila Anda tidak memiliki kualitas sebaik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan mendapat istri seperti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Bilamana Anda bukan seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu ‘anha.”

Dua ungkapan di atas seharusnya sudah memberikan sebuah pengertian bahwa jodoh itu ibarat sebuah cerminan diri. Oleh karena itu hendaklah tidak terlalu neko-neko dalam menentukan kriteria calon pasangan. Hendaklah mengukur kemampuan diri agar tahu kemampuan dan batasan yang dimiliki. Lalu apa yang harus dilakukan selama dalam penantian jodoh yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala.

1. Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.

Ingatlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).

2. Perbaiki niat

Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan hasrat kondrat manusiawi?

Pasti akan didapat jawaban yang berbeda-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariat: 56).

Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, sudah sepantasnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.

3. Bekali diri dengan ilmu

Ketika bahtera rumah tangga telah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang akan terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat berbagai ritangan dan hambatan. Ombak yang datang menghantam, hujan, angin, dan badai yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang.

Mustahil seorang nahkoda dapat mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menanti pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Agar senantiasa lebih siap dan bijak dalam mempersiapkan rumah tangga yang diidamkan bersama pasangan.

Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang pernikahan, mempertemukan kepada seseorang yang diidam-idamkan. Allahu a’lam

 

 

sumber: Fimadani.com

Menjaga Warisan Rasulullah

Riuh rendah pasar Kota Madinah. Manusia-manusia tenggelam dalam jual beli. Matahari yang semakin meninggi tak menyurutkan aktivitas mereka. Saat itu, lewatlah Abu Hurairah. Sahabat Nabi itu menyaksikan para penduduk kota sibuk dengan perniagaan.

Abu Hurairah pun berseru, “Alangkah ruginya kalian, wahai penduduk Madinah!”
“Ada apa, wahai Abu Hurairah?”

“Warisan Rasulullah SAW sedang dibagi-bagi, mengapa kalian masih di sini? Mengapa kalian tidak pergi mengambil bagian kalian?” Para penduduk saling berpandangan. Mereka antusias mendengar kabar tersebut. “Di mana itu?” tanya mereka. Abu Hurairah menjawab, ” Di masjid”

Mereka bergegas pergi ke masjid. Tetapi, alangkah kecewanya para penduduk Madinah. Mereka tidak menemukan apa pun di sana, kecuali orang yang tengah shalat, mengkaji Alquran, berzikir, dan duduk di majelis-majelis ilmu.
Orang-orang kembali ke pasar sambil melemparkan protes kepada Abu Hurairah. “Wahai Abu Hurairah, di mana harta warisan Rasul yang kamu katakan itu?”

Abu Hurairah bertanya, “Tidakkah kalian melihat ada orang di sana.” Mereka menjawab, “Kami hanya melihat sekelompok orang yang sedang shalat, membaca Alquran, dan sekelompok lain sedang menyebutkan perkara halal- haram. Itu saja.”

Abu Hurairah pun menjawab, “Sesungguhnya, itulah warisan Muhammad SAW.”

Hadis riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi menyebutkan, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa yang telah mengambil ilmu yang banyak, ia telah mengambil bagian yang banyak.”

Kisah ini meneguhkan pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang Muslim. Ulama, bukan umara, yang menjadi pewaris para Nabi. Allah SWT akan mengangkat kedudukan orang yang berilmu beberapa derajat di atas manusia lain. Walau, tak berarti Islam merendahkan kedudukan perniagaan atau harta dunia. Semua tetap mempunyai porsi masing-masing.

Sekarang, marilah kita menyimak kisah Abu Hurairah. Dia tumbuh sebagai seorang yatim, kemudian hijrah sebagai seorang yang miskin.

Dia menjadi seorang buruh dalam keluarga Busrah binti Ghazwan dengan imbalan makanan sekadar mengisi perut. Pada tahun ke-7 H, Abu Hurairah mendatangi Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Ilmu yang mengangkat derajat sahabat Nabi ini.

Abu Hurairah menemani Rasulullah hanya sekitar empat tahun. Akan tetapi, Abu Hurairah adalah periwayat hadis Nabi yang paling banyak dibanding sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Bagi Abu Hurairah, empat tahun bisa menjadi waktu yang panjang, penuh dengan ucapan, amal, dan pendengaran yang bermanfaat. Abu Hurairah sadar ia baru masuk Islam belakangan.

Karena itu, dia bertekad mencari kompensasi atas segala sesuatu yang telah terlewatkan. Tak ada kata terlambat untuk mengejar ilmu. Dia rajin mengikuti Rasulullah dan hadir dalam setiap majelis Beliau SAW. Tekad dan kesungguhan itu didukung oleh kecerdasan yang Allah karuniakan. Abu Hurairah bukan seorang penulis, melainkan penghafal. Ia mampu menghafalkan setiap ucapan Rasulullah dengan tepat.

Sebagai seorang fakir, Abu Hurairah juga memiliki waktu teramat lapang untuk menuntut ilmu. Ia tidak memiliki tanah yang bisa ditanami atau perniagaan yang menyibukkan. Karena itu, Abu Hurairah bisa mendedikasikan waktu untuk menghafal hadis-hadis Rasulullah.

“Ingatlah bahwa para sahabat Muhajirin itu sibuk untuk berdagang di pasar, sementara para sahabat Anshar sibuk mengurus tanah. Adapun aku adalah seorang laki-laki miskin yang paling banyak hadir di majelis Rasulullah. Aku hadir ketika mereka tidak hadir dan aku menghafal ketika mereka lupa,” jelasnya.

Kemampuan Abu Hurairah tak ayal mengusik rasa ingin tahu beberapa orang. Dikisahkan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Biografi 60 Sahabat Rasulullah, Khalifah Marwan bin al-Hakam pernah menguji kemampuan hafalan Abu Hurairah.
Dia mengundang Abu Hurairah dan mengajaknya duduk bersama.

Khalifah Marwan meminta sahabat Nabi itu meriwayatkan hadis dari Rasulullah, sementara dia telah menempatkan seorang sekretaris di balik tirai. Ia perintahkan sekretaris itu untuk mencatat segala yang diucapkan Abu Hurairah.

Selang beberapa tahun, Khalifah Marwan kembali mengundang Abu Hurairah dan memintanya membacakan hadis-hadis yang telah dicatat sekretarisnya. Ternyata, Abu Hurairah tidak lupa satu kata pun. Kisah serupa juga kita dapati dalam pribadi Imam al-Bukhari. Imam al-Bukhari mampu menghafal 100 ribu hadis shahih dan 200 ribu hadis yang tidak shahih.

Madrasah Abu Hurairah ditakdirkan menjadi madrasah umat yang kekal dan abadi. Sahabat yang satu ini pernah mengatakan tentang dirinya sendiri, “Tidak ada seorang pun sahabat Rasulullah yang lebih banyak hafal hadis daripada aku, kecuali (hadis) yang berasal dari Abdullah bin Amr bin Ash karena dia mencatat, sedangkan aku tidak.”

Imam Syafi’i meneguhkan, “Sekitar 800 atau lebih dari sahabat, tabi’in, dan ahli ilmu telah meriwayatkan dari Abu Hurairah.”

Semangat menuntut ilmu banyak diteladani oleh para tabi’in dan ulama terdahulu. Seorang ilmuwan Muslim, al- Biruni, konon menjelang kematiannya masih mendiskusikan sebuah persoalan fikih yang belum dia ketahui jawabannya.
Seorang sahabat yang menjenguknya bertanya, mengapa dia masih mempersoalkan hal itu, padahal sedang sakit berat.

Apa jawabnya? “Aku tidak ingin meninggal dalam keadaan jahil mengenai hal ini.”

Setelah kaum Muslim mengakrabi aksara, kemampuan menulis para ulama tidak ada bandingan. Konon, ath-Thabari menulis sebanyak 40 halaman setiap hari selama 40 tahun.

Imam al-Ghazali menulis sekitar 500 buku, sedangkan Ibnu Hazm menulis sekitar 400 buku. Rekor itu tak tertan dingi, padahal sekarang kita tinggal menarikan jemari di atas tuts- tuts keyboard. Sejarah tentu tak banyak bermakna apabila sekadar dijadikan nostalgia.

 

sumber: Republika Online

Kehidupan Rasulullah Sebelum Menikah

Di masa mudanya, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun banyak riwayat menyebutkan bahwa beliau bekerja sebagai penggembala kambing di perkampungan Bani Saad.

Selain itu terdapat pula riwayat bahwa beliau menggembalakan kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath (salah satu bentuk dinar). Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Nabi Shallallahualaihi Wasallam bahwa beliau bersabda:

. : :

“Tidaklah seorang Nabi diutus melainkan ia menggembala kambing”. para sahabat bertanya, “apakah engkau juga?”. Beliau menjawab, “iya, dahulu aku menggembala kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath” (HR. Al Bukhari, no. 2262)

Selain itu disebutkan juga bahwa ketika berusia 25 tahun, beliau pergi berdagang ke negeri Syam dengan membawa modal dari Khadijah radhiallahuanha yang ketika itu belum menjadi istri beliau.

Ibnu Ishaq berkata: “Khadijah binti Khuwailid ketika itu adalah pengusaha wanita yang memiliki banyak harta dan juga kedudukan terhormat. Ia mempekerjakan orang-orang untuk menjalankan usahanya dengan sistem mudharabah (bagi hasil) sehingga para pekerjanya pun mendapat keuntungan.

Ketika itu pula, kaum Quraisy dikenal sebagai kaum pedagang. Tatkala Khadijah mendengar tentang Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam (yang ketika itu belum diutus menjadi Rasul, pent.) mengenai kejujuran lisannya, sifat amanahnya dan kemuliaan akhlaknya, maka ia pun mengutus orang untuk menemui Rasulullah. Khadijah menawarkan beliau untuk menjual barang-barangnya ke negeri Syam, didampingi seorang pemuda budaknya Khadijah yang bernama Maisarah. Khadijah pun memberi imbalan istimewa kepada beliau yang tidak diberikan kepada para pedagangnya yang lain.

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam pun menerima tawaran itu dan lalu berangkat dengan barang dagangan Khadijah bersama budaknya yaitu Maisarah sampai ke negeri Syam” (Sirah Ibnu Hisyam, 187 188, dinukil dari Ar Rahiqul Makhtum, 1/51). [ ]

Sumber:Ar Rahiqul Makhtum, 1/50-51, Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri

Shahih As Sirah An Nabawiyah, hal. 38, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani

sumber: Inilah.com

Jangan Berlebihan Mencintai Pasangan

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

SAUDARAKU. Rasulullah saw menyebut istri beliau, Aisyah RA, dengan sebutan Humaira. Karena warna kulit Aisyah memang agak kemerah-merahan, atau mungkin tepatnya berkulit putih.

Kita sering kali suka berlebihan. Misalkan ada suami yang memuji istrinya: “Duhai rembulan.” Si suami tidak tahu jika istrinya baru membaca tentang bentuk permukaan bulan. Sehingga istri tersinggung dan membalas: “Suamiku, engkaulah jantung hati. Rempelo persisnya.” Maksud memuji malah jadi bertengkar.

Jadi, meskipun sudah menikah tetap tidak boleh berlebihan dalam memuji pasangan. Apalagi menunjukkan kemesraan kepada setiap orang. Karena biasanya cenderung akting. Sedangkan sakinah datang dari Allah bagi orang yang hatinya bersih. Bukan dari rayuan, pujian, maupun penampilan dan kosmetik.

Kita harus berhati-hati, jangan sampai suami atau istri begitu mendominasi di hati. Seperti bisa membuat serba takut, cemburu dan gelisah, yang justru menjauhkan bahagia. Misalkan istri selalu ingin sms: “Bapak di kantor di sebelah mana?” Suami menjawab: “Di kursi paling depan.” Istri SMSlagi: “Yang di samping bapak siapa?” “Supir,” kata suaminya yang berkantor di dalam angkot. “Saya dengar ada suara akhwat?” si istri masih curiga. “Jelas bu, itu penumpang mau ke pasar.”

Tidak ada bahagianya kalau begitu. Kita memiliki pasangan bukan untuk mencuri hati. Hati ini untuk Allah. Kalau hati kita bisa penuh dengan Allah, maka Allah akan menempatkan makhluk di hati kita dengan pas. Cinta kepada Allah artinya mencintai sesuatu dengan kadar yang disukai Allah. Sehingga pasangan atau siapa dan apa pun selain-Nya, tidak boleh mengalahkan Allah di hati kita.

Bukan sebaliknya. Jarang ingat kepada Allah dikarenakan pasangan. Seperti bacaan al-Quran terpotong gara-gara ada telpon atau SMSdari suami. Sempurnakan dulu membaca al-Quran, baru dibalas. Kecuali darurat. Atau, ada suami yang ditanya: “Mengapa tadi tidak ke masjid?” “Karena tadi istri saya sedang ngambek.”

Saudaraku. Memangnya pasangan kita itu siapa? Pasangan hidup kita hanya manusia yang tidak punya apa-apa. Bukan yang memberi rezeki, bukan yang menyelamatkan, bukan pula yang mendatangkan kebahagiaan. Tetapi Allah yang memiliki semuanya.

Pasangan tidak boleh mendominasi hati, karena hanya akan membuat hidup menjadi tegang. “Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. li Imrn [3]: 31)

Untuk para suami, jangan terlalu cinta terhadap istri. Cintailah istri dengan kadar yang pas, yang dibenarkan oleh syari. Sehingga siang dan malam tidak memikirkannya, dan tidak terbawa ke dalam salat dan zikir. Jangan sampai membuat istri menjadi sesuatu yang merusak hubungan kita dengan Allah.

Begitu juga dengan para istri. Tetaplah ingat kalau suami hanyalah manusia, dan bukan segala-galanya. Jika mencintainya melampaui kadar, pasti tidak bahagia. Penuhilah hati dengan mengingat Allah. Misalkan saat teringat suami yang sedang dalam perjalanan mencari nafkah di kejauhan, segeralah ingat Allah dan serahkan segala urusan kita kepada-Nya.

Berbuatlah dengan selalu menghadirkan Allah. Sebagaimana saya pernah membaca sebuah tulisan tentang seseorang yang suaminya tuna netra. Si istri tetap menjaga penampilan dan berdandan di rumahnya. walaupun suaminya tidak bisa melihat. Ketika ada yang bertanya: “Mengapa kamu tetap berdandan, padahal suamimu tidak melihat?” Maka si istri pun menjawab: “Allah pasti melihat. Mudah-mudahan Allah senang kepada saya, dan Allah yang akan menjelaskan kepada suami saya.”

Pun halnya dalam rezeki. Pernah ada seorang ibu bercerita bahwa suaminya mulai menderita suatu penyakit menahun sejak umurnya yang mendekati 40 tahun, sehingga menghabiskan banyak biaya untuk berobat. Lalu, setelah tujuh tahun sakit, dalam usia yang ke-45, suami pun wafat. Padahal mereka memiliki delapan anak. Sekarang ibu tersebut sudah mencapai usia keemasan, 71 tahun, dan mempunyai lebih dari 20 orang cucu. Hampir 30 tahun ditinggal mati suami, rezekinya tetap beres.

Maka tidak salah, ketika ada seorang suami meninggal, istrinya bersedih tapi tetap tenang. Para tetangganya yang berbela sungkawa menyampaikan: “Kami tidak tega melihat nasib ibu. Pekerjaan ibu gajinya kecil, sedangkan anak ibu banyak.” Si istri menanggapi: “Suami saya bukan pemberi rezeki. Tapi sama-sama pemakan rezeki seperti saya. Takdirnya sampai tadi malam kami bisa bersama. Allah Pencipta dan Pemiliknya sudah membawanya pulang. Saya dan anak-anak juga ciptaan Allah. Dia-lah Penjamin kami. Setelah suami tiada, Allah pasti akan selalu ada.”

Jadi, saudaraku. Pasangan kita hanya manusia, jangan berlebihan. Jangan terlalu cinta atau menganggapnya segala-galanya. Jangan mengejar cinta pasangan, tapi carilah cinta Allah. Jika tidak, waktu dan ibadah bisa terkuras oleh pasangan hidup, yang membuat kita diliputi gelisah dan ketidaknyamanan. Gapailah sakinah dan bahagia dengan cinta yang penuh kepada Allah SWT. “Ada pun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah [2]: 165)

Hukum Pacaran dan LDR dalam Islam

Kita tahu bahwa banyak sekali anak jaman sekarang tentunya yang menginjak usia remaja yang sudah bisa mempalingkan hatinya dari keluarga dan Allah ke lawan jenis, misalnya saja ada anak perempuan jatuh cinta ke teman cowo satu kelasnya.

Sebenarnya pacaran dalam remaja sekarang di bagi 2 yaitu pacaran Kopdar atau Kopi Darat yang berarti ketemuan dan sebagainya, terus LDR (Long Distance Relationship) yang artinya hubungan jarak jauh. Lalu bagaimana Islam sendiri memandang keduanya?

Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang mendekati.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra, 17 : 32)

Lalu apa saja perbuatan dan sikap yang tergolong mendekati zina itu ? Diantaranya adalah; Saling memandang,merajuk atau manja baik langsung atau dalam text/chat,bersentuhan,berpelukan,teleponan hanya untuk memecah rasa kangen. Karena unsur tersebut sangat di larang dalam Islam, maka dari itulah Pacaran dalam bentuk apapun itu Haram hukumnya.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: “Tidak ada yang ku perhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil dari pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia
lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan (pemenuhan nafsu syahwat), maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Imam
Muslim)
Dalil di atas kemudian juga diperkuat lagi oleh beberapa hadits dan ayat Al-Qur’an berikut:
Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.
(HR. Al-Bukhari dan Imam Muslim)

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Imam Ahmad)

Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadist Hasan, Thabrani dalam Mu’jam Kabir 20/174/386)

Demi Allah, tangan Rasulallah SAW tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) sama sekali meskipun dalam keadaan memba’iat. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” (HR. Al-Bukhari)

Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Telah berkata Aisyah
r.a. “Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.
(HR. Al-Bukhari dan Ibnu
Majah).

Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain.
Karena pandangan yang pertama mubah untukmu.
Namun yang kedua adalah haram.” (HR. Abu Dawud, Ath-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani)

Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan (menundukan) pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari Kiamat.” (HR. Imam Ahmad)

Dari Jarir bin Abdullah
r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulallah SAW tentang memandang (lawan-jenis) yang (membangkitkan syahwat) tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan (menundukan) pandanganku.” (HR. Imam Muslim)

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidak-lah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (merendahkan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab, 33 : 32)

Dalam bahasa mudahnya, kami menyempurnakan dengan fase berikut; Pacaran dan LDR itu sama sama dosa karena apa ? karena bisa menimbulkan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu berlebihan seperti manja,mengandalkan seseorang,marah,cemburu,kesal,dll. Dan dari sebab itu pula kita tidak bisa menjamin apa kita bisa menjaga semua aurat kita dalam pacaran dan LDR termasuk suara di telepon, suara ketawa, dan sebagainya. Ada baiknya jika ada orang yang menyukai Anda, bisa di kasih pencerahan dengan artikel ini.

Lalu bagaimana cara terbaik kalau kita suka sama seseorang ?

Kalau kita masih muda dan masih disibukan dengan aktifitas pribadi, sebaiknya rasa cinta kasih sayang kita hanya kita persembahkan ke Allah dan Orang Tua serta Keluarga kita, jangan pernah yang namanya mencoba jaga hati karena kita tidaklah tau apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk ucapan jaga hati takutnya kita tak sesuai dengan ucapan kita, rujuknya ke dosa . Adapun jika kita sudah mantap untuk nikah tetapi misal terganjal harus nunggu wisuda atau sejenisnya, maka yang benar caranya bukan pacaran akan tetapi Ta’aruf.

 

sumber dan selengkapnya: Dakwahmu.com

Jangan Menggantungkan Diri pada Mahkluk

LIHATLAH burung, tak pernah khawatir ketika hinggap di ranting atau dahan pohon betapapun ranting dan dahan itu kecil, rapuh dan kemungkinan patah ketika diterpa angin. Mengapa burung tidak khawatir dan mengapa tak ada berita ada burung terjatuh ke atas tanah gara-gara ranting pohon yang tak kuat dihinggapinya?

Jawabannya adalah karena burung tak menggantungkan dirinya pada ranting dan dahan yang dihinggapinya. Burung begitu percaya pada kemampuan sayapnya untuk mengepak terbang kapanpun ia mau. Ketika ada ancaman, burung itu terbang meninggalkan dahan dan ranting yang dihinggapi, bebas pergi entah kemana.

Percaya dirilah dan jangan biasa menggantungkan diri sepenuhnya kepada sesama makhluk. Siapa yang menggantungkan diri pada makhluk, maka dia tak akan bisa bebas bergerak dan akan ikut terjatuh ketika yang dijadikan tempat tergantung itu jatuh dan hancur. Self-confidence atau al-tsiqah bi al-nafs yang dimaknai sebagai percaya diri menjadi sesuatu yang penting untuk kita miliki.

Satu-satunya yang bisa dan wajib kita jadikan tempat bergantung adalah Dzat Yang Maha Kekal dan Abadi dalam kehendak dan kekuasaanNya, yakni Allah SWT. Inilah urgensi dari tawakkal, tafwid dan taslim yang selalu saya jadikan tema kajian. Salam, AIM@Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

 

sumber: Inilah.com

Rahasia Ilmiah Mengapa Pacaran Dilarang Dalam Islam

Berpacaran, berpelukan dan bersentuhan dengan lawan jenis sebelum menikah melahirkan gerakan otak, kemaluan dan nafsu.

Dua tahun lalu, tepatnya tahun 2012, peneliti University of St. Andrews di Inggris mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa ketika fisik perempuan tersentuh oleh pria, suhu kulit tubuh perempuan akan meningkat, khususnya di bagian wajah dan dada.

Riset berjudul “The Touch of a Man Makes Women Hot” dan dipublikasikan di LiveScience, 29 Mei 2012 itu menunjukkan, sentuhan dari pria terbukti mampu membakar gairah seks wanita.

“Perempuan menunjukkan peningkatan suhu ketika mereka terlibat dalam kontak sosial dengan laki-laki,” ungkap salah satu peneliti dari University of St. Andrews, Amanda Hahn.

Hasil riset menemukan, wajah biasanya akan memanas ketika kita sedang mengalami tekanan (stres), takut, atau marah. Emosi lain juga memengaruhi perubahan suhu tubuh.

Peneliti, melakukan eksperimen terhadap sejumlah laki-laki dan perempuan di Inggris. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberi rangsangan dengan memperlihatkan foto perempuan heteroseksual, sambil diberi sentuhan pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, telapak tangan, wajah, dan dada, dengan menggunakan sinar probe. Sedangkan pada kelompok lain, responden mendapat sentuhan nyata dari pasangan (sebagai experimenter) pada bagian tubuh yang sama.

Ketika merasakan sentuhan tersebut, perempuan akan mengalami peningkatan suhu kulit sampai 10 derajat Celcius. Efeknya dianggap tidak cukup besar, karena bagian tubuh yang disentuh hanya lengan atau telapak tangan (bagian dada dan wajah paling banyak mengalami perubahan). Lonjakan suhu menjadi tiga kali lebih besar ketika experimenter-nya pria.

Namun ketika pria menyentuh bagian dada dan wajah wanita, suhu tubuhnya meningkat lebih panas 0,3 derajat Celsius. Perubahan suhu terbesar terjadi pada wajah.

Namun, tim peneliti tidak dapat mengatakan apakah perubahan tersebut dapat ditangkap dengan jelas oleh mata telanjang, atau apakah hal itu dapat terdeteksi dengan sentuhan.

Bagi pasangan lelaki dan perempuan yang sedang pacaran atau bertunangan, inilah alasan dan sebab mengapa Anda tak perlu bersentuhan dengan bukan mahram.

Islam melarang berpacaran, berpelukan dan bersentuhan dengan lawan jenis sebelum menikah karena sentuhan melahirkan gerakan otak, kemaluan dan nafsu. Ini sesuai dengan pesan agama Islam dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada fitnah para wanita.[HR Al-Bukhari no 5096]

Setelah tahu bahaya bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, sebaiknya memilih menikah saja, bukan pacaran.*

 

sumber:Hidayatullah

Hal-hal Kecil yang Mendatangkan Siksa Kubur

Dari sekian banyak sebab yang dapat mendatangkan kita kepada siksa kubur, salah satunya adalah tidak beristinja setelah kencing, ghibah dan namimah. Berikut ini penjelasannya berdasarkan riwayat yang telah banyak disampaikan.

a. Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda saat melewati dua buah kuburan,”Kedua mayat ini sedang disiksa. Keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Salah satunya disiksa karena tidak beristinja setelah kencing dan yang lain disiksa karena selalu mengadu domba (namimah).”

Kemudian Rasulullah mengambil sebuah pelepah kurma basah dan membaginya menjadi dua, masing-masing ditancapkan pada dua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya, “Kenapa engkau berbuat begitu?” Rasulullah menjawab, “Barangkali bisa meringankan siksa keduanya selama belum kering,” (HR. Nasai).

Hadits tersebut diriwayatkan dengan berbagai sanad, di antaranya dikutip al Khallal dari Abu Hurairah RA, “Sementara yang lain selalu menjelekkan orang lain dengan lisannya dan mengadu domba.”

Juga yang dikutip Thabrani dari Aisyah, Anas bin Malik dan Ibnu Umar serta dikutip Abu Yula dari Jabir, “Salah satunya selalu mengghibah orang lain.”

Al-Astram juga mengutip riwayat Abu Umamah, “Orang-orang mengatakan, Wahai nabi, hingga kapan mereka akan disiksa? Rasulullah menjawab, Ini adalah hal ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Kalau hati kalian tidak berbeda-beda dan kalau bukan karena pembicaraan kalian yang bermacam-macam, kalian pasti akan mendengar seperti yang sedang aku dengar.”

b. Aisyah RA pernah bercerita, “Ada seorang wanita Yahudi yang menemuiku seraya berkata, Siksa kubur itu karena air kencing. Aku pun menanggapinya, Bohong engkau. Dia berkata kembali, Aku tidak berbohong, nanti kita pun akan menarik kulit dan pakaian karena siksa tersebut. Tiba-tiba Rasulullah keluar untuk menunaikan shalat, sementara pembicaraan kami terdengar semakin keras.

Rasulullah bertanya, Ada apa ini? Akupun memberitahukan apa yang telah dikatakan wanita Yahudi tersebut. Rasulullah berkata, Wanita tersebut memang benar. Sejak itu Rasulullah tidak pernah shalat lagi kecuali selalu membaca doa usai shalat berikut, Ya Tuhan, Jibril, Mikail dan israfil, lindungilah aku dari panasnya neraka dan siksa kubur,” (HR. Nasai).

c. Dari Abdurrahman bin Hasanah bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, “Apakah kalian tahu apa yang dialami orang bani Israil? Jika mereka sampai terkena air kencing, mereka memotong bagian tubuh yang terkena air kencing tersebut. Kemudian mereka dilarang dan dia pun disiksa di kuburannya,” (HR. Abu Daud).

d. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda, “Hal yang paling banyak menyebabkan siksa kubur adalah air kencing,” (HR. Ibnu Majah).

e. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah, “Kebanyakan orang yang disiksa di alam kubur adalah karena air kencing. Jadi, bersihkanlah diri kalian dari air kencing,” (HR. Hakim).

f. Dari Anas RA, Rasulullah pernah berkata; “Bertaqwalah kepada Allah dalam hal air kencing karena air kencing adalah hal pertama yang akan dihisab di alam kubur.”

g. Rasulullah pernah bersabda, “Maimunah, berlindunglah kepada Allah dari siksa kubur!

Aku bertanya, Rasulullah, apakah siksa kubur benar-benar ada? Rasulullah menjawab, Ya Maimunah, dan siksaan yang paling pedih adalah karena ghibah dan namimah.

Siksaan terhadap ketiga hal tersebut terjadi di alam kubur karena alam kubur merupakan tempat kehidupan akhirat yang pertama kali.” [ ]

Sumber: Inilah.com

 

 

Mata, Telinga, Hidung Terbuka, Kenapa Hati Tidak?

MIMPI bukanlah apa yang kita lihat dalam nyenyaknya tidur. Mimpi yang sesungguhnya adalah keinginan yang tak membuat kita nyenyak tidur. Ketika tak nyenyak tidur karena kita punya mimpi, cobalah ketuk langit untuk membisikkan mimpi itu melalui telinga bumi, yakni melalui sujud kita.

Kalau orang lain bisa menaiki tangga-tangga kesuksesan, yakinlah bahwa kita juga bisa menaikinya. Mungkin dengan cara yang lain dan pada waktu yang lain. Satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa tidak ada orang yang menaiki tangga dengan meletakkan kedua tangannya di saku celananya dengan santai. Mereka yang menaiki tangga senantiasa berpegang kuat memegang tangga sambil melihat ke atas dengan penuh keyakinan.

Tangga-tangga kesuksesan itu memiliki banyak anak tangga. Salah satunya adalah menghargai orang lain, mau belajar pada kelebihan orang lain, mau mendengarkan pengalaman orang lain untuk kemudian diambil sari patinya untuk menjadi suatu prinsip. Yakinlah bahwa setiap orang punya pengalaman. Dan yakinlah bahwa pengalaman orang lain, sesederhana apapun, pasti memiliki makna; menjadi pelajaran dalam sekolah kehidupan kita.

Masalahnya tinggal satu, yaitu maukah kita membuka hati kita lebar-lebar untuk menyerap berbagai pelajaran itu? Mata kita gampang untuk melek terbuka, telinga kita mudah untuk mekar mendengar, hidung kita tak sulit untuk menghirup dan membau, namun hati kita begitu sulit terbuka untuk melihat, mendengar dan membau hanya karena satu penyakit bernama SOMBONG. Kebenaran dan kebijaksanaan disebarkan Allah tidak melalui satu lidah, namun dari berbagai mulut.

Seorang anak kecil di Quba, badannya kurus dan bajunya sangat sederhana, menjajakan barang dagangannya berupa tasbih dan parfum. Karena kasihan, saya ulurkan tangan memberikan sejumlah uang yang tak banyak.

Anak kecil itu berkata dalam bahasa Arab pasaran yang fasih: “Om, maaf, saya masih punya bapak dan ibu.” Saya dapat pelajaran dari anak kecil ini: “Jangan biasakan menggantungkan hidup pada pemberian orang.” Mantap bukan? Salam.

 

sumber: Inilah.com