Kisah Bacaan At-Tahiyat ketika Isra Mi’raj

Benarkah kisah ini,

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Sidratul Muntaha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “at-Tahiyatu lillaah was shalawat wat thayyibat.” kemudian Allah menyatakan, Assalamu alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullah wa barakatuh. Kemudian para malaikat menyahut, “Assalamu alainaa wa ‘ala ibadillahis sholihin.” Apa cerita ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kami tidak pernah menjumpai adanya dalil yang menyebutkan hal ini. Ada satu buku yang berjudul al-Isra wal Mi’raj. Buku ini ditulis oleh ulama ahli hadis, Imam Muhammad Nashiruddin. Di sana beliau mengutip riwayat-riwayat shahih tentang Isra’ Mi’raj. Dan kami tidak menjumpai riwayat tersebut dalam buku itu.

Sababul Wurud at-Tahiyat

Sementara sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan lafadz Tahiyat yang dibaca saat duduk tasyahud, disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, namun tidak ada hubungannya dengan Isra Mi’raj.

Ibnu Mas’ud bercerita,

Ketika kami shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat duduk tasyuhud, kami membaca,

السَّلاَمُ عَلَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ ، السَّلاَمُ عَلَى جِبْرِيلَ ، السَّلاَمُ عَلَى مِيكَائِيلَ ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ

Assalam untuk Allah sebelum para hamba-Nya, assalam untuk Jibril, assalamu ‘ala mikail, assalamu ‘ala Fulan…

Mendengar ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ ، فَإِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَلْيَقُلِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ . فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ ذَلِكَ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . ثُمَّ يَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْكَلاَمِ مَا شَاء

Artinya:

“Sesungguhnya Allah adalah As Salaam. Jika kalian duduk untuk tasyahud dalam sholat kalian maka ucapkanlah,

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

‘Segala ucapan penghormatan, sholat/do’a dan karunia hanya milik Allah. Semoga keselamatan tercurah untukmu wahai Nabi. Bergitu pula rahmat Allah dan karunia Nya serta keselamatan semoga diberikan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh’.

“Jikalau seseorang mengucapkan ini maka akan mencakup seluruh hamba Allah yang sholeh baik di langit maupun di bumi”.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Nya dan utusan Nya’.

Kemudian hendaklah dia berdo’a dengan do’a yang inginkan” (HR. Bukhari 6328 & Muslim 402)

Hadis ini menunjukkan bahwa hadis at-Tahiyat, tidak ada hubungannya dengan peristiwa Isra Mi’raj. Dan sahabat baru diajari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau mendengar tahiyat sahabat yang keliru.

Memang benar, ada beberapa kitab tafsir – seperti tafsir al-Alusi – yang menyebutkan kisah tahiyat kaitanya dengan isra mi’raj di atas, namun tanpa menyebutkan sanad.

Allahu a’lam.

 

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Kisah Isra Miraj

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Isra’ mi’raj, satu peristiwa yang luar biasa. Allah abadikan dalam Al-Quran, di awal surat Al-Isra dan surat An-Najm. Terutama pada surat An-Najm, Allah menceritakan kejadian ini dengan lebih rinci. Kita simak firman Allah berikut,

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? (*) Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha (*) di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (*) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (*) penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (*) Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm: 12 – 18).

 

Hadis Isra’ Mir’aj

Ada sekitar 16 shahabat yang meriwayatkan kisah isra miraj. Diantaranya: Umar bin Khattab, Anas bin Malik, Abu Dzar, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Hudzaifah bin Yaman, Shuhaib, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Ali bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhum. Imam Al-Albani mengumpulkan berbagai riwayat tentang isra mi’raj dan beliau bukukan dalam karya yang berjudul: Al-Isra wal Mi’raj.

Berikut kumpulan riwayat mengenai isra miraj yang kami simpulkan dari buku Al-Isra wal Mi’raj,

“Atap rumahku terbelah ketika saya berada di Mekkah dalam keadaan antara tidur dan terjaga, lalu turunlah Jibril -’alaihis salam- dan membelah dadaku. Kemudian dia mencucinya dengan air zam-zam, lalu dia datang dengan membawa sebuah baskom dari emas yang penuh berisi hikmah dan iman dan menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian dia menutupnya (dadaku). Kemudian didatangkan kepadaku Buroq – hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighol (peranakan keledai dengan kuda), dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya -.

Sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat para nabi mengikat (tunggangan). Kemudian saya masuk ke mesjid dan sholat 2 raka’at (mengimami para nabi dan rasul) kemudian keluar. Kemudian kami (saya dan jibril) naik ke langit (pertama) dan Jibril minta izin untuk masuk, maka dikatakan (kepadanya), “Siapa engkau?” Dia menjawab, “Jibril”. Penjaga itu bertanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dia bertanya lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan pintu langit untuk kami.

Kemudian saya bertemu dengan seseorang yang duduk, sementara di sebelah kanan dan kirinya ada segerombolan bayang-bayang hitam. Jika melihat ke sebelah kanan beliau tertawa dan jika melihat sebelah kiri beliau menangis. Kemudian dia menyambutku dengan mengatakan:

“Selamat datang nabi yang sholeh, anakku yang shaleh”.

Kata Jibril, itu adalah Adam. Gerombolan hitam di sebelah kanannya adalah anak keturunannya ahli surga, dan sebelah kiri adalah keturunannya ahli neraka.

Kemudian kami naik ke langit ke-2, lalu Jibril berkata, “bukalah pintu langit”. Penjaganya menanyakan seperti yang ditanyakan oleh penjaga langit pertama –lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa beliau bertemu dengan Nabi ‘Isa dan Yahya di langit kedua. Mereka menyambut dengan mengatakan:

مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح

“Selamat datang saudaraku yang shaleh, nabi yang sholeh.”

Nabi Yusuf di langit ke-3, Nabi Idris di langit ke-4, Nabi Harun di langit ke-5, Nabi Musa di langit ke-6 dan Nabi Ibrahim di langit ke-7. Beliau bersabda, ”Maka saya bertemu dengan Ibrahim dan dia sedang bersandar ke Baitul Ma’mur, satu bangunan yang dimasuki oleh 70.000 malaikat setiap harinya, dan jika mereka telah keluar, tidak akan kembali lagi.

Lalu dia (Jibril) membawaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya. Juga diperlihatkan kepadaku empat sungai, dua sungai di dalam dan dua sungai di luar, maka saya berkata, “Apa kedua sungai ini, wahai Jibril?”. Dia menjawab, “Adapun dua sungai yang di dalam, maka itu adalah 2 sungai dalam surga. Adapun yang di luar maka dia adalah Nil dan Furoth”.

Kemudian Jibril – alaihis salam – datang kepadaku dengan membawa sebuah bejana yang berisi khamar dan bejana yang berisi susu, lalu sayapun memilih susu. Maka Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah”. Kemudian kami terus ke atas sampai saya tiba pada jenjang dimana saya bisa mendengar goresan pena. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan atasku 50 sholat sehari semalam.

Kemudian saya turun kepada Musa – alaihis salam –. Lalu dia bertanya, “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?”. Saya menjawab, “50 sholat”. Dia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji Bani Isra`il”.

Sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata, “Wahai Tuhanku, ringankanlah atas umatku”. Maka dikurangi dariku 5 sholat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata, “Allah mengurangi untukku 5 sholat”. Dia berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Hingga terus menerus saya bolak-balik antara Tuhanku – Tabaraka wa Ta’ala – dan Musa. Sampai pada akhirnya, Allah berfirman,

يا محمد هن خمس صلوات في كل يوم وليلة بكل صلاة عشر فتلك خمسون صلاة

“Wahai Muhammad, ini adalah 5 sholat sehari semalam, setiap sholat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 sholat.

Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, namun dia tidak melakukannya maka dicatat untuknya satu pahala, dan jika dia kerjakan maka dicatat untuknya 10 kali kebaikan. Barangsiapa yang berniat kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Dan jika dia mengerjakannya, maka ditulis untuknya satu kejelekan”.

Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa –’alaihis salam– seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata, “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. Kemudian saya dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya ada gunung-gunung dari permata dan debunya adalah Misk.”

Allahu a’lam, Semoga bermanfaat.

 

 

sumber: Konsultasi Syariah

Esensi Isra Mi’raj Dorong Pengembangan Peradaban

Esok hari, tanggal 5 Mei 2016, bertepatan dengan 27 Rajab 1437 H dalam penanggalan Islam,kita memperingatinya sebagai Hari Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Menurut Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, esensi peringatan Isra Miraj adalah mendorong umat untuk terus membangun dan mengembangkan peradaban Islam.

“Peradaban Islam yang mengedepankan perdamaian, kemajuan, keadilan, leseimbangan, dan persamaan,” kata Menag. Pengembangan peradaban itu bertumpu pada konsep Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Menteri juga menyebutkan penyatuan dimensi sosial dan dimensi spiritual pada ibadah salat itu ditegaskan dalam Alquran Surat Al-Maun yang mengecam orang-orang yang mengerjakan salat, tetapi tidak berusaha mengejawantahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut Menag mengatakan, pada era postmodern ini, Islam kembali dihadapkan pada tantangan baru untuk merevitalisasi dimensi kekayaan spiritual yang terdapat dalam ajaran-ajarannya.

“Isra Miraj tidak hanya memiliki dimensi kekayaan spiritual serta pesan-pesan kehidupan, tetapi juga mengandung dimensi ilmu pengetahuan yang cukup menantang di kalangan para ilmuwan,” katanya.

Lukman mengatakan, akan bijaksana jika peringatan Isra Miraj juga dimaknai sebagai wahana transformasi peradaban ilmu pengetahuan.

“Paling kurang, melalui peringatan Isra Miraj, umat Islam tidak hanya diperkenalkan dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari hasil observasi, tetapi juga diperkenalkan tentang ilmu pengetahuan yang bersumber dari kitab suci, yang disebut sebaga ayat-ayat ‘qauliyah’,” katanya.

Dengan pemahaman integralistik, dia berharap melahirkan bentuk dan praktik pendidikan yang tepat sehingga akhirnya melahirkan manusia yang berkepribadian utuh.

“Selain itu, berwawasan iptek dan imtak yang siap memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Lukman Hakim.

Isra Miraj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW suatu malam sekian abad yang lalu yang fantastis dan dramatik.

Ada dua etape perjalanan, yaitu etape horizontal dari Masjidilharam di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Etape kedua adalah etape vertikal dari Masjidilaksa ke sidratulmuntaha di langit ketujuh.

Menag menyebutkan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW merupakan tonggak sejarah penting dari rangkaian perjuangan Nabi dalam membangun masyarakat berkeadaban dan berkeadilan bagi seluruh umat.

“Kewajiban salat tidak hanya ditafsirkan sebagai kewajiban yang sifatnya ritual individual semata, tetapi juga sebagai wahana transformasi sosial untuk mencegah kemungkaran,” kata menag menambahkan.

 

Dikutip dari: Republika Online

Allah Tidak Pernah Terlambat

SYAIKH Ibnu Athoillah, semoga Allah meridhoinya, menerangkan,“Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada-Nya, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu, supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu terhadap Allah, Tuhanmu.”

Jadi saudaraku, jikalau kita mengenal Allah Swt. dengan baik, maka pasti kita tidak akan protes terhadap Allah atas apapun yang Allah tetapkan untuk kita. Karena, Allah adalah pencipta kita, Allah yang memiliki diri kita, dan Allah Maha Tahu segala permasalahan dan keperluan kita.

Tanpa kita jelaskan kepada Allah, sesungguhnya Allah sudah mengetahui setiap persoalan kita dan kebutuhan kita. Karena permasalahan kita pun tidak akan ada kecuali Allah yang mengizinkan. Kita lapar, Allah yang menciptakan lapar. Dan, pada saat yang sama, Allah pula yang menciptakan rezeki berupa makanan.

Kita tidak mengerti mengapa kita harus merasakan haus. Namun, Allah menciptakan haus itu dan sekaligus menciptakan air untuk memenuhinya. Allah menciptakan tubuh kita ini dengan 70%-nya merupakan air. Dan, Allah pun tahu kita tidak akan bisa bertahan lama jika hidup tanpa air. Memang ada kalanya Allah mengizinkan tidak ada air untuk beberapa saat, namun pasti ada hikmahnya.

Ada kalanya pula dalam keadaan lapar, Allah menghendaki agar kita tidak langsung bertemu dengan makanan sehingga beberapa saat kita harus merasakan lapar lebih lama. Namun, pasti ada hikmahnya. Boleh jadi supaya kita bisa lebih mensyukuri nikmat Allah, yang selama ini kita seringkali lupa jika makanan dengan mudah kita temukan.

Dengan ditundanya makanan, maka ketika kita akhirnya bertemu dengan makanan meski sedikit saja, rasanya akan lebih nikmat. Kalau kita terbiasa dengan makanan yang berlimpah, maka akan kurang rasa syukurnya. Maka, untuk melatih kita pandai bersyukur, ditahanlah makanan oleh Allah Swt.

Oleh karena itu sahabatku, janganlah berburuk sangka kepada Allah jikalau suatu saat ada permohonan kita atau ada kebutuhan kita yang kita rasa terlambat terpenuhi. Jangan kita buruk sangka kepada Allah jika suatu saat kita berdoa dan berusaha sekuat tenaga, namun harapan kita masih belum juga terwujud.

Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadits qudsi,“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.”(Muttafaqunalaih).

Jangan fokus pada permohonan, keinginan, yang belum dipenuhi oleh Allah Swt, namun fokuslah pada kekurangan kita, pada keterlambatan kita untuk menunaikan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Perhatikanlah organ tubuh kita. Mata kita berkedip secara spontan tanpa ada keterlambatan. Jantung kita berdegup memompa darah, juga tanpa keterlambatan. Paru-paru kita berfungsi memompa udara juga tanpa keterlambatan. Semuanya tepat pada waktunya dan teratur. Kita seringkali lupa pada hal-hal seperti ini. Padahal kita tidak pernah meminta kepada Allah supaya mata kita berkedip, jantung berdegup dan paru-paru bekerja tepat pada waktunya, namun semuanya beres karena Allah Maha Tahu keperluan kita. Subhaanallah.

Saudaraku, ketimbang kita fokus memikirkan mengapa Allah terlambat memberikan jodoh kepada kita, atau mengapa Allah terlambat memberikan keturunan kepada kita. Atau ketimbang kita sibuk memikirkan mengapa Allah belum juga mengabulkan doa kita agar dimudahkan rezeki, dilunaskan utang-utang. Lebih baik kita sibuk memikirkan mengapa kita masih saja kesiangan sholat subuh, mengapa kita masih saja lupa mensyukuri berbagai nikmat yang selama ini sudah Allah berikan kepada kita; nikmat udara yang melimpah, nikmat jantung yang mashi terus berdegup dan lain sebagainya.

Tidak masalah doa kita terlambat dikabulkan. Toh keterlambatan pun hanyalah pada penilaian kita saja sebagai makhluk. Yang menjadi masalah adalah jikalau kita terlambat sholat di awal waktu, terlambat sedekah, terlambat tilawah Al Quran, terlambat menolong orang lain, berbuat dosanya banyak namun istighfarnya terlambat. Lebih baik ketika kita merasa ada yang telat dari Allah, segera kita periksa apa yang telat dari diri kita.

Demikianlah saudaraku, jangan pernah berburuk sangka kepada Allah. Yakinilah bahwa ketika terlintas di dalam pikiran kita bahwa Allah terlambat menolong kita, sesungguhnya pada saat yang sama kita sedang melupakan berbagai nikmat Allah yang sudah dan sedang kita rasakan. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2291672/allah-tidak-pernah-terlambat#sthash.geukZ6SS.dpuf

Isra Miraj dan Penjelasan Teori Relativitas

Sejarah Islam mencatat peristiwa unik dan sulit dicerna akal, Isra dan Miraj. Secara istilah, Isra berjalan di waktu malam hari, sedangkan Miraj adalah alat (tangga) untuk naik. Isra mempunyai pengertian perjalanan Nabi Muhammad saw pada waktu malam hari dari Malsjid Al Haram Mekkah ke Masjid Al Aqsha Palestina. Miraj adalah kelanjutan perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjid Al Aqsha ke langit sampai di Sidratul Muntaha dan langit tertinggi tenpat Nabi Muhammad saw bertemu dengan Allah swt. Isra’ Miraj adalah kisah perjalanan Nabi Muhammad ke langit ke tujuh dalam waktu semalam. Prosesi sejarah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad termaktub dalam QS. 17.Al-Isra’ :1 yang berbunyi

“Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS. 17.Al-Isra’ :1)

Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:

“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm:13-18)

Rasulullah SAW melihat secara langsung.

Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Rasulullah SAW. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 13 diatas, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida”, yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung.

Mengenai pemahaman tentang Isra’ Mi’raj banyak kaum muslim yang masih memiliki perbedaan pandangan secara mendasar, yang terbagi dalam:

  • Pemahaman dgn beranggapan peristiwa isra’ Mi’raj hanyalah sekedar perjalanan ruh, spiritual atau metaphor journey Nabi Muhammad SAW tidak dengan jasad fisik. Pemahaman ini berpegang kepada surah Al Quran :

QS. 17 Al-Isra’ : 60 “…Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu adalah sebagai ujian bagi manusia…”

  • Sebaliknya ada yang berpendapat, bahwa isra’ dari Mekah ke Bait’l-Maqdis itu dengan jasad atau physical journey. Sedang mi’raj ke langit adalah dengan ruh atau metaphor journey.
  • Pemahaman lain menyatakan bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan dengan jasad (fisik) dan dapat dijelaskan dalam ilmu yang dipahami manusia karena merupakan peristiwa nyata.

Pemahaman secara fisik (physical journey).

ISRA`MI`RAJ, sebagai sebuah peristiwa metafisika (gaib), barangkali bukan sesuatu yang istimewa. Kebenarannya bukanlah sesuatu yang luarbiasa. Kebenaran metafisika adalah kebenaran naqliyah (: dogmatis) yang tidak harus dibuktikan secara akal, namun lebih bersifat imani. Valid tidaknya kebenaran peristiwa metafisika—secara akal, bukanlah soal selagi ia diimani.

Didalam pemahan secara fisika banyak orang mempertanyakan ke-shahih-an Isra` Mi`raj;  “ apakah mungkin manusia melakukan perjalanan sejauh itu hanya dalam waktu kurang dari semalam?” . Kaum kafirpun telah menantang Rasulullah seperti  diberitakan dalam Al Quran dalam surat  Al-Israa: 93.

“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”

Dan  didalam Hadith

“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

dan banyak Hadith hadith lainnya.

Peristiwa perjalanan Isra’ Mi’raj dan  teori relativitas.

Diantara keduanya terdapat faktor persamaan dan perbedaan didalam proses kejadian,

persamaan kedua kisah antara lain:
•    Keduanya  membahas  perihal  perjalanan atau journey dari Bumi ke luar angkasa lalu kembali ke Bumi.
•    Keduanya  membahas  penggunaan  faktor “Speed” atau “kecepatan”  tinggi  didalam  pemberitaannya
•    Konsep mengenai perpisahan antara  dua manusia (atau lebih) digunakan sebagai bahan pokok  atau object pembahasan didalam kedua cerita.

Dalam Isra Miraj, Rasulullah meninggalkan kaumnya di bumi untuk bepergian ke ke Majidil Aqsha  lalu ke Langit ketujuh, dalam kasus teori relativitas menceritakan tentang dua saudara kembar A dan B, dimana saudara kembar B bepergian keluar angkasa.

Sampai disini dari hal hal tersebut diatas, kita  sudah dapat mengambil kesimpulan secara gamblang,  bahwa peristiwa Isra Miraj adalah benar. Bagaimana mungkin seorang  manusia  yang ummi  14 Abad yang silam dapat membuat sebuah cerita atau teori yang dapat dibuktikan didalam abad ke 20 dengan sedemikian detailnya. Dengan kata lain tidak mungkin Rasulullah  SAW mencontoh teori Albert Einstein yang lahir sesudahnya (?).

Teori Relativitas.

Theori Relativitas membahas mengenai Struktur Ruang dan Waktu serta mengenai hal hal yang berhubungan dengan Gravitasi. Theori relativtas terdiri dari dua teori fisika, relativitas umum dan relativitas khusus. Theori relativitas khusus menggambarkan perilaku ruang dan waktu dari perspektif pengamat yang bergerak relatif terhadap satu sama lain, dan fenomena terkait. Artikel ini hanya dibahas theori relativitas khusus dan Efek yg  disebut dilatasi waktu (dari bahasa Latin: dilatare “tersebar”, “delay”).

Einstein merumuskan teorinya dalam sebuah persamaan mathematik:
t’ = waktu benda yang bergerak

t = waktu benda yang diam

v = kecepatan benda

c = kecepatan cahaya

Diterangkan bahwa perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Semakin dekat nilai kecepatan suatu benda (v) dengan kecepatan cahaya (c), semakin besar pula efek yang dialaminya (t`): perlambatan waktu. Hingga ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya (v=c), benda itu pun sampai pada satu keadaan nol. Demikian, namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya (v>c), keadaan pun berubah. Efek yang dialami bukan lagi perlambatan waktu, namun sebaliknya waktu menjadi mundur (-t’).

Kisah perjalanan Si Kembar atau  dilatasi waktu.

Twin Paradox adalah suatu theori hasil pemikiran (Gedankenexperiment atau thought experiment) oleh Albert Einstein berbasis theori relativitas khusus yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan para pakar fisika. Theori tersebut secara keseluruhan menggambarkan kisah perjalanan dua saudara kembar yang berpisah. Salah seorang dari saudara kembar (A) tersebut tinggal di Bumi dan saudara kembar lainnya (si traveler(B)) terbang keluar angkasa kesebuah planet di tata surya yang jauh dengan kecepatan cahaya dan kembali kebumi dengan kecepatan yang sama. Setelah mereka bertemu kembali dibumi mereka menemukan fakta bahwa umur si kembar yang mengadakan perjalanan (si traveler) lebih muda daripada umur saudaranya (A) yang tetap tinggal dibumi, disebabkan si traveler mengalami phenomenon time dilation atau fenomena dilatasi waktu  dalam perjalanannya.
Time dilation (dilatasi waktu) adalah fenomena, dimana seorang Observer disatu titik melihat, bahwa jam dari orang yang bergerak dengan cepat menjadi lebih lambat (atau cepat), sebenarnya hal tersebut tergantung dari frame of reference dimana dia berada. Time dilation dapat di ketahui hanya apabila kecepatan mengarah kepada kecepatan cahaya dan sudah dibuktin secara akurat dengan unstable subatomic particle dan precise timing of atomic clocks.

Pembuktian teori relativitas.

Studi tentang sinar kosmis merupakan satu pembuktian teori ini. Didapati bahwa di antara partikel-partikel yang dihasilkan dari persingungan partikel-partikel sinar kosmis yang utama dengan inti-inti atom Nitrogen dan Oksigen di lapisan Atmosfer atas, jauh ribuan meter di atas permukaan bumi, yaitu partikel Mu Meson (Muon), itu dapat mencapai permukaan bumi. Padahal partikel Muon ini mempunyai paruh waktu (half-life) sebesar dua mikro detik yang artinya dalam dua perjuta detik, setengah dari massa Muon tersebut akan meleleh menjadi elektron. Dan dalam jangka waktu dua perjuta detik, satu partikel yang bergerak dengan kecepatan cahaya (± 300.000 km/dt) sekalipun paling-paling hanya dapat mencapai jarak 600 m. padahal jarak ketinggian Atmosfer di mana Muon terbentuk, dari permukaan bumi, adalah 20.000 m yang mana dengan kecepatan cahaya hanya dapat dicapai dalam jangka minimal 66 mikro-detik. Lalu, bagaimana Muon dapat melewati kemustahilan itu? Ternyata, selama bergerak dengan kecepatannya yang tinggi—mendekati kecepatan cahaya, partikel Muon mengalami efek sebagaimana diterangkan teori Relativitas, yaitu perlambatan waktu.

Pembuktian selanjutnya terjadi pada tahun 1971,  perbedaan waktu (time dilation) di twin paradox theori tersebut telah dibuktikan melalui “Hafele-Keating-Experiment” dengan menggunakan 2 buah jam yang berketepatan tinggi (High precision Cesium Atom clocks) yang di set awal pada waktu yang sama.
Experiment tersebut menghasilkan perbedaan waktu pada kedua jam tersebut, antara jam yang diletakkan di pesawat Intercontinental yang bergerak terbang kearah timur / barat dengan jam referensi yang diletakkan di U.S. Naval Observatory di Washington, waktu jam di pesawat berkurang/bertambah tergantung dari arah penerbangan.

Twin paradox experiment
Relativ terhadap jam di Naval Observatory, jam dipesawat berkurang waktu 59+/-10 nanoseconds dalam penerbangan ketimur, dan mengalami pertambahan waktu 273+/-7 nanosecond pada penerbangan ke barat. Hasil empiris tersebut membuktikan theori twin paradox dalam tingkatan jam macroskopik.

Dengan adanya pembuktian pembukatian tersebut, berarti  Albert Einstein dengan teori relativitasnya secara langsung atau tidak langsung telah membuktikan bahwa kisah Al Quran tentang kisah  “perjalanan  Rasulullah SAW kelangit ketujuh dan kembali dalam satu malam” adalah benar.   Terutama dalam segi dimensi WAKTU,  dalam perhitungannya memungkinkan.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana dengan Nabi Isa AS, ummat Islam mempercayai bahwa Nabi Isa, yang diakui sebagai Yesus oleh penganut Kristen, memang tidak dibunuh oleh orang-orang yang mengejarnya ketika itu. Bahkan beliau belum wafat. Nabi Isa akan kembali diakhir jaman, Apakah Nabi Isa juga mengalami perjalanan dan dilatasi waktu serupa? Wallahu ‘alam bish shawwab.

Applikasi Teori Relativitas.

Salah satu aplikasi teori tersebut adalah alat GPS – Global Postioning System di Handphone anda merupakan applikasi hasil dari  theory relativitas umum dan relativitas khusus. Dalam hal ini jam satellite di orbit di bandingkan dengan jam di darat sebagai faktor koreksi pengiriman signal.

Akhirul kalam, saya menganggap bahwa pengetahuan akan adanya dilatasi waktu antar galaksi adalah suatu fenomena menarik bagi kaum muslimin. Fenomena inipun banyak terjadi pada peristiwa sehari-hari dan bahkan dipelajari oleh ilmuwan barat untuk mempelajari peristiwa di alam raya. Dan mestinya bukanlah sesuatu yang dilarang atau berlebihan untuk lebih memahami fenomena di alam. Untuk selanjutnya yang kita tunggu adalah adanya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan untuk dapat mengungkapkan desain dari black hole dan wormhole yang gabungan keduanya mirip bentuk teratai (Sidrah atau Sidratul, dan bentuk otak pada tubuh manusia. Sehingga semua ini mudah-mudahan dapat meningkatkan ketakwaan kita dihadapan sang Pencipta.

Pustaka:

Assalamulaikum warochmatullahi wabarokatu.

 

sumber: Bambies.wordpress.com

Hikmah dari Perjalanan Isra dan Mi’raj

Perjalanan isra dan mi’raj merupakan perjalanan yang penuh berkah yang menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana seorang hamba –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak ribuan bahkan jutaan kilometer hanya dalam satu malam saja. Dan dalam perjalanan yang sedemikian cepat tersebut, Allah kuasakan Nabi Muhammad mampu melihat keadaan sekitar yang beliau lewati, baik kejadian atau keadaan saat isra maupun mi’raj.

Imam as-Suyuthi adalah di antara ulama yang menjelaskan beberapa hikmah perjalanan isra mi’raj. Beliau mengatakan tentang hikmah perjalanan isra dilakukan di malam hari karena malam hari adalah waktu yang tenang menyendiri dan waktu yang khusus. Itulah waktu shalat yang diwajibkan atas Nabi, sebagaimana dalam firman-Nya, “Berdirilah shalat di malam hari” (QS. Al-Muzammil: 2) (as-Suyuthi, al-Khasha-is an-Nabawiyah al-Kubra, Hal: 391-392).

Abu Muhammad bin Abi Hamzah mengatakan, “Hikmah perjalanan isra menuju Baitul Maqdis sebelum naik ke langit adalah untuk menampakkan kebenaran terjadinya peristiwa ini dan membantah orang-orang yang ingin mendustakannya. Apabila perjalanan isra dari Mekah langsung menuju langit, maka sulit dilakukan penjelasan dan pembuktian kepada orang-orang yang mengingkari peristiwa ini. Ketika dikatakan bahwa Nabi Muhammad memulai perjalanan isra ke Baitul Maqdis, orang-orang yang hendak mengingkari pun bertanya tentang ciri-ciri Baitul Maqdis sebagaimana yang pernah mereka lihat, dan mereka pun tahu bahwa Nabi Muhammad belum pernah melihatnya. Saat Rasulullah mengabarkan ciri-cirinya, mereka sadar bahwa peristiwa isra di malam itu benar-benar terjadi. Kalau mereka membenarkan apa yang beliau katakan tentang isra konsekuensinya mereka juga harus membenarkan kabar-kabar yang datang sebelumnya (risalah kenabian). Peristiwa itu menambah iman orang-orang yang beriman dan membuat orang-orang yang celaka bertambah keras bantahannya (Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7: 200-201).

Dan termasuk hikmah perjalanan isra mi’raj Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah isyarat bagi umat Islam agar menjaga bumi al-Quds dari para penyusup dan orang-orang yang tidak senang terhadap Islam. Khususnya bagi kaum muslimin saat ini, agar tidak merasa rendah, takut, dan lemah dalam memperjuangkan al-Quds dari tangan orang-orang Yahudi (al-Buthi, Fiqh ash-Shirah an-Nabawiyah, Hal: 113)

Adapun hikmah dari peristiwa mi’raj dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih susu daripada khamr menunjukkan fitrah dan murninya ajaran Islam yang sesuai dengan tabiat manusia. Sedangkan peristiwa terbukanya pintu langit yang sebelumnya terkunci, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan, yang demikian agar alam semesta mengetahui bahwa sebelum kedatangan Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam hal ini belum pernah dilakukan. Sekiranya tidak demikian, mungkin orang akan menyangka bahwa pintu langit senantiasa terbuka. Dan Allah Ta’ala juga hendak mengabarkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal oleh penduduk langit. Oleh karena itu, ketika pintu langit dibukakan, lalu Malaikat Jibril mengatakan kepada penjaga langit bahwa ia bersama Muhammad, malaikat penjaga tersebut bertanya, “Apakah dia telah diutus?” Bukan bertanya, “Siapa Muhammad?” (as-Suyuthi, al-Khasha-is an-Nabawiyah al-Kubra, 391-392).

As-Suyuthi melanjutkan, hikmah beliau dipertemukan dengan Nabi Adam ‘alaihissalam pada langit pertama karena Nabi Adam adalah nabi dan manusia pertama. Di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa‘alaihissalam karena Nabi Isa adalah yang paling dekat masanya dengan Nabi Muhammad ‘alahima shalatu wa salam. Kemudian di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf, karena umat Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk ke dalam surga dengan penampilan serupawan Nabi Yusuf. Berikutnya Nabi Idris, dikatakan bahwa beliaulah yang pertama kali diangkat ke langit sebelum Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Kemudian bertemu dengan Nabi Harun karena dia adalah saudara Nabi Musa yang mendapinginya dalam berjuang. Setelah itu berjumpa Nabi Musa karena keutamaan beliau pernah diajak berbicara oleh Allah. Dan terakhir adalah Nabi Ibrahim karena beliau adalah bapak pilihan yakni bapak para nabi.

Imam al-Qurthubi menyatakan, pengkhususkan Nabi Musa dalam peristiwa shalat. Ada yang mengatakan karena Nabi Musa adalah nabi yang paling dekat posisinya saat Nabi Muhmmad turun. Ada juga yang mengatakan umatnya lebih banyak dari umat nabi selainnya. Ada lagi yang berpendapat karena kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Musa adalah kitab yang paling mulia kedudukan dan hukum syariatnya sebelum Alquran diturunkan. Atau juga karena umat Nabi Musa dibebankan amalan shalat sebagaimana umat nabi lainnya, lalu mereka merasa berat dengan syariat tersebut, maka Nabi Musa kasihan dengan umat Nabi Muhammad. Pendapat terakhir ini dikuatkan dengan riwayat tentang perkataan Nabi Musa,

أنا أعلم بالناس منك

“Saya lebih mengetahui karakter manusia dibanding Anda.”

Tidak heran Alquran banyak sekali memuat kisah Nabi Musa, tujuannya adalah agar kita banyak-banyak mengambil hikmah dari perjalanan hidup beliau, perjalanan dakwahnya, dll.

Pengkhususan syariat shalat melalui perjalanan mi’raj karena ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mi’raj di malam itu, para malaikat sedang beribadah. Di antara mereka ada yang berdiri dan tidak duduk, ada yang terus rukuk dan tidak sujud, ada yang terus sujud dan tidak duduk, maka AllahSubhanahu wa Ta’ala mengumpulkan semua ibadah ini untuk umat Nabi Muhammad. Seorang hamba menggabungkan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk dalam satu rakaat saja (Muhammad Amin bin Ahmad Janki, ash-Shirah an-Nabawiyah min al-Fathi al-Bari, 1: 239-240).

Dengan perjalanan isra mi’raj ini, Allah menginginkan agar hamba dan Rasul-Nya merasakan periode baru dalam berdakwah, sebagaimana Nabi Musa juga mengalami periode baru dengan berangkat langsung mendakwahi Firaun dan diangkatnya saudaranya Harun untuk mendampingi dakwahnya. Nabi Musa sebelum diperintahkan untuk menemui Firaun telah Allah siapkan dengan berbagai macam mukjizat dan keutamaan agar beliau siap. Allah berfirman kepada Nabi Musa,

لِنُرِيَكَ مِنْ آَيَاتِنَا الْكُبْرَى اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

“untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar, Pergilah kepada Fir´aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.” (QS. Thaha: 23-24)

Sama halnya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah persiapkan perjalanan dakwah beliau yang panjang dengan membawanya ke suatu fase dimana dipertemukan dengan Jibril, para nabi, surga dan neraka, agar kesabaran beliau kian tertempa dalam menghadapi lika-liku perjalanan dakwah. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad,

لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 18)

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diistimewakan dengan mengimami para nabi dan dinaikkan menuju sidratul muntaha, suatu keistimewaan yang tidak didapat oleh seoranng pun selain beliau.

Dan sebesar-besar hikmah dari perjalanan isra mi’raj adalah disyariatkannya shalat. Dengan melaksanankan shalat wajib tersebut seorang hamba menegakkan sebuah kewajiban ubudiyah yang mampu meredam hawa nafsu, menanamkan akhlak-akhlak mulia di dalam hati, menyucikan jiwa dari sifat penakut, pelit, keluh kesah, dan putus asa. Dengan shalat kita bisa memohon pertolongan kepada Allah dari permasalahan yang kita hadapi. Allah Ta’ala berfiman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

إِنَّ الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا إِلاَّ الْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ دَائِمُونَ

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 19-23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang senantiasa berdiri (shalat) bermunajat kepada Rabbnya, sampai-sampai beliau menemukan kenikmatan dalam mengerjakan shalat. Beliau bersabda,

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ

“Dan dijadikan penyejuk hatiku di dalam shalat.”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersemangat dalam mengerjakan shalat dan tidak lalai dalam mengerjakannya. Semoga shalat menjadi penyejuk hati kita dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Rabb kita.

Amin.

 

 

Sumber: Islamstory.com

Oleh nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Dua Lelaki yang Dicintai Allah

Banyak cara agar kita dicinta oleh Sang Maha Pencinta dari segala cinta. Salah satu caranya adalah dengan meneguhkan ketakwaan kepada Allah. Bagaimana caranya agar ketakwaan itu teguh dan tidak goyah?

Tentu dengan menjaga ketaatan dan menanamkan rasa takut di dalam hati (hanya) kepada Allah saja. Sehingga, rasa takut dan sadar untuk taat itulah yang mendorong diri kita mampu beribadah dan mengerjakan amalan-amalanahlus sa’adah (ahli surga) dengan mudah dan dipermudah oleh-Nya. Hadits di bawah ini menggambarkan bahwa betapa Allah merasa sangat kagum dan berbahagia perihal dua orang hamba (lelakinya). Siapa sajakah mereka? Mari kita simak hadits di bawah ini:

Dari Ibnu Mas’ud ra, dari Rasulullah Saw bersabda, “Rabb kita Azza Wajalla sangat kagum terhadap dua orang laki-laki  yaitu seorang laki-laki yang meninggalkan tempat tidur, selimut dan keluarganya untuk melaksanakan shalat, lalu Rabb kita berfirman, wahai para Malaikat-Ku lihatlah hamba-Ku ini dia meninggalkan kasur dan selimutnya juga keluarganya untuk melaksanakan shalat karena mengharap balasan di sisi-Ku dn takut adzab di sisi-Ku.

Dan seorang yang berperang di jalan Allah Azza Wajalla lalu pasukannya mendapat kekalahan—yang meski dalam keadaan kalah, ia mengetahui besarnya dosa jika ia lari dari medan perang dan pahala yang ia peroleh jika ia kembali berperang. Lalu ia pun kembali ke medan perang hingga tumpah darahnya karena mengharap balasan di sisi-Ku dan takut adzab di sisi-Ku, lalu Allah Swt berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah hamba-Ku ini dia kembali berperang karena mengharap balasan di sisi-Ku dan takut akan azab-Ku hingga ia tumpah darahnya (syahid),” (HR Ahmad)

Maha Suci Allah, dua lelaki di atas ialah lelaki yang dengan perbuatan mereka Allah kagum dan ridha. Tiada balasan atas perbuatan mereka kecuali rahmat Allah yang akan membawa mereka masuk ke dalam surga-Nya. Adapun rahasia yang telah membuat Allah kagum kepada mereka ialah ketaatan mereka kepada Allah dan rasa takut (khauf) yang kuat di dalam hati mereka. Rasa takut yang mendorong mereka untuk mau bersusah payah, berjuang melawan kantuk yang teramat kuat hanya untuk menghadap Allah (shalat) demi mengharap keridhaan-Nya.

Beberapa hadits telah menggambarkan keutamaan shalat malam, dikatakan utama karena Rasulullah senantiasa mengerjakannya. Dari Aisyah ra, berkata, bahwa Nabi Saw tidur di awal malam dan bangun di akhir malam kemudian shalat,” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits lain yang diriwayatkan dari Al-Aswad, ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah tentang cara Nabi Saw melaksanakan shalat malam.” Aisyah ra menjawab, “Beliau tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam lalu shalat. Kemudian, beliau kembali ke tempat tidurnya. Bila muadzin sudah mengumandangkan adzan, maka beliau bergegas. Dan bila saat itu beliau punya hajat kepada isterinya, maka beliau mandi junub. Tetapi bila tidak, maka beliau hanya berwudhu lalu keluar rumah untuk shalat berjama’ah,” (HR Bukhari, Shahih Bukhari, Juz 1, No Hadits 1146)

Satu lagi adalah lelaki yang kembali ke dalam medan peperangan sebab ia tahu besarnya dosa jika saja ia kabur atau lari dari peperangan. Hingga akhirnya ia kembali turut berperang (meski ia tahu pasukannya telah kalah), hingga akhirnya ia wafat di medan perang. Tiada balasan yang lebih baik selain surga untuk para syuhada yang berjuang di jalan Allah.

Demikian, Allahu a’lam

Oleh: Ina Salma Febriany

sumber: Republika Online

Bukan Ibadah yang Mengantar Kita ke Sorga

Hampir sebagian besar kita menduga bahwa, kita dapat memasuki surga-Nya lantaran amal baik yang setumpuk. Dengan meyakini Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa, mengakui Muhammad utusan-Nya, mendirikan shalat lima waktu sehari, berpuasa Ramadhan sebulan penuh, membayar zakat, dan melakukan ibadah haji ke Makkah jika kita mampu.

Bahkan, ada pula yang menambahkannya dengan berbagai amalan atau ibadah sunnah lainnya, dengan harapan bisa memenuhi target terbesar hidup kita, yakni masuk surga. Kita merasa bahwa sederet amal itu sebanding dengan harga surga. Dan, karenanya pantaslah bila kita kemudian dipersilakan memasukinya.

Namun, Ibn Atoilah, dalam hampir setiap aforismenya, mengatakan, manusia perlu waspada bila sudah mulai memuji dirinya, memuji amalnya, bahkan merasa kebenaran itu milik dirinya. Manusia patut menilik kembali keyakinan dalam hatinya, apakah ia benar-benar mengimani Allah dengan segenap keberserahan dirinya, atau hanya ingin menukar semua yang dilakukan dengan surga.

Jika seseorang percaya bahwa melalui tindakan ini mereka akan mendapatkan kebahagiaan mereka di akhirat, ia patut memberikan penilaian ulang terhadap dirinya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak akan ada di antara kalian yang masuk surga lantaran amal ibadah kalian.”Para sahabat bertanya, “Tidak ada, bahkan itu berlaku untukmu, Ya Rasulullah?”

Rasul menjawab, “Bahkan aku pun tidak, kecuali jika Allah meliputiku dengan kasih dan sayang-Nya.”

Cerita dalam hadis di atas bukan berarti kita harus berhenti melakukan kewajiban dan kemudian melakukan tindakan seenaknya tanpa melihat rambu-rambu-Nya. Hadis tersebut menunjukkan apalah artinya kita, yang bahkan sudah melakukan amal sedemikin banyak pun, jika dihitung, tak akan pernah mencukupi segala karunia-Nya.

Betapa sombongnya kita jika berusaha tawar menawar dan menghitung-hitung tiap detail yang kita lakukan guna ditukar dengan surga. Padahal, apa yang dilakukan tidak akan cukup untuk menunjukkan terima kasih kepada Allah atas segala kasih sayang-Nya yang diberikan tanpa henti.

Ada sebuah kisah, yang menceritakan tentang seorang pria petapa memilih hidup di pegunungan untuk menjauhi orang-orang. Hal ini ia lakukan dengan maksud agar tidak melakukan dosa pada makhluk yang lain.

Selama 500 tahun ia menghabiskan waktunya hanya untuk berdoa dan beribadah. Ia hanya makan buah delima yang tumbuh di sekitar tempat petapanya itu. Ia juga hanya meminum mata air di dekatnya, dan tidak melakukan kontak dengan siapa pun. Ia nyaris bebas dari dosa.

Ketika meninggal, Allah berkata kepadanya, “Masukkan ia ke dalam surga karena kasih sayang-Ku”. Pria itu berteriak dan berkata, “Dengan amalku, Tuhan”.

Ia mengira bahwa amalnya selama 500 tahun, dengan tanpa melakukan dosa sedikit pun mampu ditukar dengan surga, dan mendapatkan pahala yang paling besar.

Allah menjawab dengan mengatakan, “Benarkah kamu ingin diadili?” Kemudian Allah memerintahkan para malaikat, “Perlihatkan buku amalnya, dan hitunglah!”

Para malaikat segera rembukan, membahas setiap detail amal yang pernah dilakukan sang rahib tersebut. Usai menghitung, salah satu malaikat pun melaporkan dan menimbangnya dengan besarnya kasih sayang Allah. “500 tahun ibadah dengan tanpa dosa ditimbang dengan kasih sayang Robbul Izzat.” Ujar sang malaikat.

Pada titik ini, pria itu panik dan menangis seraya berkata, “Ya, Robb. Sungguh karena rahmat-Mu lah aku bisa memasuki surga.”

Ibn Atoilah menjelaskan sederet kisah di atas untuk membimbing kita, agar tidak merasa berhak atas reward sebagai akibat dari amal kita. Bahkan, Allah memberitahu kita dalam Quran bahwa semua yang kita lakukan sesungguhnya karena kita dipandu dan diarahkan Dia, sehingga kita mampu melakukan amal-amal yang baik.

Oleh karena itu, Ibn Atoilah menekankan pada kita akan pentingnya sikap keberserahan diri hanya pada-Nya. Harapan kita bisa berjumpa dengan Allah bukan karena kita melakukan amal ibadah. Melainkan, karena kita diperintahkan untuk melakukannya, dan kita akan terus melakukannya bahkan jika tidak ada surga atau neraka.

Jika pun merasa telah melakukan pelanggaran, yang sekiranya membuat Allah murka, maka bukankah Dia, sang maha pengasih (juga) maha pemaaf?

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertobat dan menyucikan diri.” (Qs. Al Baqarah: 222)

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ada tiga tipe alasan mengapa manusia menyembah Allah. Pertama, ketaatan para budak. Mereka beribadah dan menyembah Allah hanya karena takut hukuman-Nya, ia takut masuk neraka akibat perbuatannya.

Kedua, ketaatan para pedagang. Mereka beribadah dan menghitung-hitung setiap detail perbuatannya dan kemudian berusaha menimbang, seberapa banyak reward yang mereka dapatkan untuk setiap perbuatannya.

Kedua jenis tipe ketaatan ini banyak terdapat di tengah-tengah kita. Beberapa orang di antara mereka takut meninggalkan kewajiban hanya karena takut mendapat balasan neraka. Beberapa di antaranya lagi butuh motivasi yang dapat membuatnya semangat beribadah, kaitannya dengan besarnya nilai pahala. Jika pahalanya besar, maka ia akan bergegas segera melakukannya. Sebaliknya, jika pahalanya dinilai kecil, tak sungkan-sungkan ia pun berleha-leha terhadapnya.

Tidak ada yang salah dan buruk dari kedua tipe ketaatan ini. Namun, Rasul Saw. merekomendasikan tipe ibadah bentuk ketiga, dan ini merupakan bentuk ketaatan tingkat tertinggi seorang hamba Tuhan. Yakni, ketaatan para pecinta yang berdasarkan rasa syukur.

Segala hal yang dilakukan para pecinta ini diniatkan hanya karena alasan mencintai-Nya, dan karenanya ia ingin mendapatkan ridha-Nya. Mereka benar-benar percaya, apa pun yang dilakukannya didasarkan atas dasar keyakinannya akan Dia yang maha pengasih. Mereka tidak takut apakah yang dilakukan itu mengantarkannya ke surga, atau bahkan ke neraka. Ia hanya yakin bahwa hanya Allah lah yang memang layak untuk disembah.

Hal ini dicontohkan Muhammad Saw. Meski sudah dijamin masuk surga, dan bahkan Allah menjanjikan kenikmatan langsung berjumpa dengan Sang Maha Rahman, namun beliau tetap saja melakukan ibadah. Beliau tidak sekali pun meninggalkan kewajibannya sebagai Muslim. Beliau berdoa, shalat, bangun di tengah malam tahajud, hingga kakinya bengkak.

Ketika Aisyah ra bertanya mengapa dia shalat sunnah begitu banyak, padahal Rasul tahu bahwa Allah telah mengampuni masa lalu dan masa depannya, ia menjawab, “Tidak pantaskah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Inilah yang dimaksud Ibn Atoilah, “Amal kita bukan alasan bagi keselamatan kita. Kasih dan sayang-Nya lah satu-satunya alasan mengapa kita mendapat keselamatan.”

Kita menyembah karena Allah memerintahkan kita untuk melakukannya dan Dia Maha Tinggi, sehingga memang layak disembah. Ketika kita berdosa atau lalai akan kewajiban di suatu waktu, maka bukankah kembali, bertaubat, merintih pada-Nya merupakan satu-satunya jalan yang amat mulia untuk menggapai rahmat-Nya?[ ]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2276216/bukan-ibadah-yang-mengantar-kita-ke-sorga#sthash.fxGUXDHX.dpuf

Hadits Ini Cukup Bagi Anda

RASULULLAH saw berkata, “Para malaikat merasa terganggu mendapati sesuatu yang manusia juga merasa terganggu dengan sesuatu itu.”

Hadits itu cukup bagi Anda. Jika Anda memahaminya dan berusaha menerapkannya, hadis ini cukup sebagai petunjuk Anda.

Rokok, misalnya, pasti mengganggu orang lain. Artinya, rokok juga mengganggu para malaikat. Seseorang yang meludah di jalan juga mengganggu orang banyak, begitu juga dengan para malaikat.

Inilah pemahaman baru yang menunjukkan dan mengarahkan kita. Kita bisa mengetahui apakah kita termasuk orang-orang yang beretika dalam berinteraksi dengan orang lain atau tidak. Etika ini penting; etika berhubungan dengan para malaikat! Betapa luar biasanya kepekaan emosi ini! Betapa hebatnya etika ini! Inilah ajaran Islam! [amru muhammad khalid]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2291907/hadits-ini-cukup-bagi-anda#sthash.jte4tjd8.dpuf

Bukan Kemiskinan yang Aku Khawatirkan atas Kalian

KETIKA kemenangan demi kemenangan dan penaklukkan demi penaklukkan berhasil diraih hingga akhirnya cinta dunia menguasai hati banyak kaum muslimin. Cinta dunia melalaikan mereka dari Allah dan dari jihad di jalan-Nya, sehingga akhirnya keadaan menjadi sangat menyedihkan dan sangat disayangkan.

Hal itu terjadi karena kebanyakan negeri Islam yang dahulu bendera Islam berkibar di sana dan dari menara-menara masjidnya dikumandangkan azan, sekarang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam dan kaum muslimin. Misalnya seperti Andalusia dan negeri-negeri lain yang pernah dikuasai oleh kaum muslimin.

Hal yang disayangkan juga bahwa musuh-musuh Islam berusaha dan merancang strategi untuk menyerbu negeri-negeri kaum muslimin atau mengendalikan pemerintahannya, sebagaimana kini terjadi di banyak belahan bumi.

Semua ini tidak terjadi kecuali karena cinta dunia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda,

“Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Yang aku khawatirkan adalah kalau dunia dilimpahkan kepada orang-orang yang sebelum kalian sebagaimana dilimpahkan kepada orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian bersaing memperebutkannya sebagaimana mereka dahulu memperebutkannya, dan akhirnya dunia itu membuat kalian hancur sebagaimana telah membuat mereka hancur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Marilah kita memperhatikan semua ini. Saya berdoa semoga Allah mengembalikan kejayaan Islam dan menjadikan kaum muslimin layak menerima kejayaan itu. [Syekh Thaha Al-Afifi]

 

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2291956/bukan-kemiskinan-yang-aku-khawatirkan-atas-kalian#sthash.pm1N2lb2.dpuf