Sudahkah Kita Memperolah Nikmatnya Shalat?

Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kita karunia shalat lima waktu. Sungguh, shalat adalah solusi terbaik untuk beristirahat, menenangkan pikiran, menyenangkan hati, dan berhenti dari segala aktifitas didunia ini yang tidak pernah ada hentinya.

Contoh yang paling jelas dalam pemanfaatan fungsi shalat ini adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam(SAW). Dalam malam-malam yang sunyi dan sepi, beliau bangun menghiasinya dengan dzikir dan doa dalam sujud-sujud yang panjang. Air mata berderai-derai diantara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang beliau baca dengan perlahan dan penuh perenungan.

Saat Rasulullah SAW penat dan lelah dari tugasnya sebagai juru dakwah, kepala negara, jenderal perang, kepala rumah tangga dan banyak peran lainnya yang beliau emban, maka pilihan istirahat yang terbaik adalah dengan melaksanakan shalat. Beliau berkata kepada Bilal bin Rabbah radhiyallahu ‘anhu:

أرِحْنَا بِالصَّلاَةِ يَا بِلاَلُ

“Hiburlah kami dengan melaksakan shalat wahai Bilal”.

Maksudnya beliau SAW adalah meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan untuk melaksanakn shalat. Bagi beliau dan para sahabat yang ada di sekitar Rasulullah, shalat menjadi saat-saat terbaik untuk menenangkan kembali jiwa, pikiran dan anggota tubuh dari berbagai kepenatan.

Dengan kita menjalankan ibadah shalat, aliran darah akan menjadi lancar, jiwa dan pikiran kembali rileks dan kembali ke puncak semangat untuk melanjutkan tugas-tugas berikutnya yang sudah ada didepan mata.

Saat shalat adalah saat yang paling tepat tepat untuk menyampaikan segala pinta dan doa. Sang Penguasa alam semesta ini pada saat itu sangat dekat kepada hamba-hamba-Nya, siap mendengarkan segala pinta dan juga permohonan hamba-Nya. Tak perlu ragu untuk menyampaikan permintaan besar dan keinginan yang sulit untuk diwujudkan dalam pandangan manusia.

Sebab Dia, Allah ‘Azza wa Jalla yang menjadi sumber karunia adalah Dzat yang Maha Kuasa dengan kemahakuasaan yang tidak terbatas. Kerajaan dan kekayaannya lebih luas daripada langit dan bumi, dan tidak terbatas oleh apapun juga. Kehendaknya tidak dapat dihalangi oleh siapapun juga.

Maka sungguh berbahagialah dan amat sangat beruntung bagi orang-orang yang dikaruniai kekhusyu’an shalat dalam hidupnya. Ia meraih banyak keutamaan dan lebih banyak ketenangan daripada orang yang tidak pernah merasakannya.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”.(QS. Al-Mu’minuun 23 : 1-2)

Dalam bulan suci Ramadhan 1436 H ini, tentunya kita amat sangat berharap agar bisa diberikan karunia mengecap kekhusyu’an shalat itu, sebagaimana yang dirasakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dan orang-orang yang selalu mendekatkan diri dengan Allah. Sebab orang-orang tersebut telah merasakan kenikmatannya.

Sahabat dan saudaraku, setelah kita hidup sekian tahun, sudahkah kita memperoleh nikmatnya shalat? Mari dibulan yang penuh berkah ini, yakni di bulan Ramadhan, kita perbaiki dan evaluasi shalat kita dan amalan kita diluar ibadah shalat agar hingga akhir hayat nanti, hidup kita tenang dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamin.. [Edt; GA]

Oleh: Ustadz Umar Faruq Lc (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir)

 

sumber: Panji Mas

Ketua Umum PBNU: LGBT Menjijikan!

Maraknya penolakan yang dilakukan masyarakat Indonesia terhadap virus LGBT, ternyata juga dilakukan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hal itu ditegaskan oleh Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj dengan menyatakan, “LGBT menjijikkan dan mengerikan.”

Said Agil menegaskan karena LGBT sangat bertentangan dengan fitrah. “Perbuatan LGBT bukan hanya bertentangan dengan hukum, tetapi bertentangan dengan fitrah,” tegasnya saat diwawancara Panjimas Senin (22/02).

Said menyatakan perilaku LGBT bertentangan dengan fitrah, karena Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.

“Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Kalau sejenis jelas sangat bertentangan,” pungkasnya.

Untuk itu, Said Agil Siradj meminta warga NU untuk menjaga anak-anak dari bahaya LGBT. Nasihat itu diberikan Said Agil karena bahayanya virus homoseks bagi perkembangan anak.

Said Agil menjelaskan bagaimana anak dapat meniru perbuatan artis kebancian dan bahaya bagi perkembangan anak.

“Artis yang kebancian di televisi itu bahaya. Karena tingkah laku mereka dapat ditiru dengan anak kita,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Said Agil mengharapkan artis yang kebancian tidak tayang di televisi. Said berharap pelaku homoseks dapat kembali ke jalan yang benar.

“Buat yang sudah terhanyut di sana (homoseks, -read) tolong kembali ke jalan yang benar,” tegasnya. [AW/Tommy]

 

sumber: Panji Masyarakat

Lengkap, Fatwa MUI tentang Operasi Alat Kelamin

Isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) kembali memunculkan perbincangan tentang bagaimana struktur fisik seorang transgender. Beberapa kalangan transgender pernah melakukan operasi alat kelamin demi “menuntaskan” perubahan bentuk fisiknya.

Pertanyaannya adalah, apakah seseorang diperbolehkan mengubah alat kelamin? Ada dua hal yang harus dibedakan dalam soal ini. Pertama, jika dia seorang lelaki kemudian ingin mengubah alat kelamin menjadi perempuan atau sebaliknya, hal ini disebut penggantian alat kelamin.

Kedua, jika hal ini dilakukan seorang khunsa atau orang yang berkelamin ganda, disebut penyempurnaan alat kelamin. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat membedakan hukum keduanya.

Berdasarkan fatwa MUI, penggantian kelamin dari perempuan menjadi alat kelamin laki-laki dan sebaliknya ditetapkan hukumnya haram. Penetapan hukum haram juga dilakukan untuk perbuatan yang membantu orang tersebut mengganti kelaminnya.

Hal ini sesuai dengan kaidah fikih, larangan terhadap sesuatu juga merupakan larangan terhadap sarana-sarananya. Kedudukan hukumsyara jenis kelamin orang yang telah melakukan operasi ganti kelamin adalah dinilai sama dengan jenis kelamin sebelum operasi. Meskipun, misalnya, penggantian tersebut sudah mendapat penetapan pengadilan.

MUI mendasarkan keputusan ini sesuai dengan firman Allah SWT, “(Tetapkanlah atas) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada pengubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS ar-Rum [30]: 30).

Intinya manusia dilarang untuk mengubah apa yang diciptakan oleh Allah SWT. Fitrah manusia sebagai lelaki, maka ia tidak bisa mengubahnya menjadi perempuan.

Secara lebih perinci dan tegas, hadis dari  Abdullah Ibnu Mas’ud RA ia berkata, “Allah SWT melaknat orang perempuan yang memakai tato dan yang meminta membuat tato, memendekkan rambut, serta yang berupaya merenggangkan gigi supaya kelihatan bagus yang mengubah ciptaan Allah.” (HR Bukhari)

Dalam hadis lain dari Abdullah bin Abbas RA ia berkata, “Rasulullah SAW melaknat kaum laki-laki yang menyerupakan diri dengan perempuan dan perempuan yang menyerupakan diri dengan laki-laki.” (HR Bukhari).

Makna dari hadis di atas sudah sangat jelas. Perbuatan meniru dan menyerupakan saja dilarang, apalagi sampai mengubah total menjadi alat kelamin yang berbeda.

 

Begini Islam Mengatur Jenis Kelamin yang Diragukan

Islam menetapkan hukum bagi khunsa secara berbeda. Khunsa secara istilah adalah seseorang yang diragukan  jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Penyebabnya, ia memiliki dua alat kelamin, yakni laki-laki dan perempuan, atau tidak memiliki alat kelamin sama sekali.

Para ulama fikih memberi penjelasan, jika pada seorang khunsa tampak tanda keluarnya mani, ada tanda kemampuan menghamili, atau keluarnya kencing dari alat kelamin laki-laki, maka ia digolongkan laki-laki dan hukum yang dijatuhkan kepadanya seperti laki-laki.

(Baca: Lengkap, Fatwa MUI Soal Operasi Alat Kelamin).

Jika seorang khunsa ada tanda-tanda haid atau tanda kehamilan, maka ia dikatakan sebagai perempuan dan hukum yang dibebankan padanya seperti seorang perempuan. Kedua ciri ini adalah golongan khunsa ghairu musykil. Sementara, jika tidak tampak ciri-ciri keduanya, maka ia dimaksudkan sebagai khunsa musykil.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), penyempurnaan alat kelamin bagi seorang khunsa yang fungsi salah satu alat kelamin lebih dominan daripada yang lain hukumnya boleh. Proses membantu penyempurnaan alat kelamin bagi seorang khunsa juga diperbolehkan.

Namun MUI memberi catatan, proses penyempurnaan alat kelamin seorang khunsa selain harus mendapatkan pertimbangan dari sisi psikis juga harus mendapatkan pertimbangan dari sisi medis. Mana alat kelamin yang dominan secara psikis maupun fungsi tubuh itu yang dijadikan acuan operasi.

Secara hukum syara, MUI menetapkan seorang khunsa yang melakukan penyempurnaan alat kelamin dinilai berkelamin sesuai kondisi pascapenyempurnaan. Meskipun penyempurnaan itu belum mendapat pengesahan dari pengadilan.

Soal penggantian dan penyempurnaan alat kelamin ini, MUI memberikan rekomendasi agar Kementerian Kesehatan RI membuat aturan pelarangan terhadap operasi penggantian alat kelamin. Selain itu diperlukan pengaturan pelaksanaan operasi penyempurnaan alat kelamin dengan menjadikan fatwa MUI di atas sebagai pedoman.

Selain itu organisasi profesi kedokteran diminta membuat kode etik kedokteran terkait larangan praktik operasi penggantian alat kelamin serta pengaturan operasi penyempurnaan alat kelamin.

Mahkamah Agung juga diminta agar memberikan edaran kepada para hakim agar tidak mengesahkan pergantian alat kelamin dengan cara yang dilarang dalam agama. Ulama dan psikiater juga diminta aktif melakukan pendampingan terhadap seseorang yang memiliki kelainan psikis agar memiliki perilaku seksual yang normal.

 

Belajar Ilmu Dunia dari Keahlian Para Nabi

Ilmu dunia dan akhirat sangat penting untuk dikuasai, seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “bukan baik kalau kamu tinggalkan dunia, sedangkan akhirat saja yang kamu kejar”. Atau sebaliknya, dunia terus dikejar, sedangkan akhirat ditinggalkan.

Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Ustazah Tutty Alawiyah mengatakan, terdapat tiga ilmu yang harus dikuasai umat Islam saat ini, yaitu ilmu agama, ilmu dunia dan segala macamnya, serta ilmu akhirat.

“Perbaiki itu tiga-tiganya. Agama, dunia, dan akhirat,” katanya, Selasa (23/2)

Terkait hal ini, umat Islam bisa mencontoh keahlian-keahlian para Nabi Allah yang berbeda-beda. Dia mengatakan Nabi Muhammad adalah ahli dalam perdagangan, Nabi Isa ahli di bidang kesehatan, Nabi Musa ahli di bidang pembangunan, Nabi Sulaiman ahli di bidang pemerintahan, dan Nabi Daud ahli di bidang besi atau teknologi.

Kendati demikian, lanjutnya, keahlian para nabi tersebut tidak ada yang diserahkan begitu saja. Mereka juga belajar sehingga dapat menguasainya.

“Begitu juga Nabi Nuh ahli dalam perkapalan, Nabi Yusuf di bidang ekonomi. Jadi kalau kita dilihat, mereka itu tidak menjauhkan tugas-tugasnya dari kehidupan dunia,” katanya.

 

sumber: Republika Online

Menjaga Agama Allah

Ibnu Abbas berkata, “Pada suatu hari, aku di belakang (dibonceng) Nabi SAW. Beliau bersabda, ‘Hai anak muda, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Allah selalu bersamamu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.

Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu, kecuali sesuatu yang telah ditulis Allah untukmu. Jika mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan mudharat, kecuali yang telah ditulis Allah untukmu. Pena telah diangkat dan lembarannya telah kering” (HR Tirmidzi)

Rasulullah SAW adalah rahmat bagi seluruh alam. Ajaran yang beliau sampaikan meliputi semua manusia, termasuk kelompok pemuda di dalamnya. Dalam berbagai kesempatan beliau mendampingi dan sering memberi arahan kepada para pemuda. Seperti terungkap dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas tersebut. Ketika itu, Ibnu Abbas masih kecil. Ia adalah putra paman Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Muthalib.

Walaupun disampaikan kepada Ibnu Abbas, akan tetapi pesan yang disampaikannya berlaku universal. Pesan inti beliau sampaikan adalah menjaga agama Allah. Berada di jalan agama Allah adalah nikmat terbesar. Orang yang konsisten di dalamnya akan meraih cita-cita mulia, yaitu bahagia di dunia dan akhirat.

 

Penjagaan yang dimaksud bisa berarti menjaga dan memelihara akidah Islam dalam diri. Tidak bisa disangkal, selalu ada upaya untuk menghilangkan Islam dari dalam diri seorang Mukmin. Upaya itu bisa berasal dari hawa nafsunya, atau berasal dari orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan agama Allah (lihat QS Al-Baqarah [2]: 120).

Perbuatan-perbuatan yang bisa mendorong kepada rusaknya akidah harus dijauhi, seperti mendatangi dukun, melakukan sihir, meminta bantuan kepada jin, memakai jimat, menduakan Allah dalam ibadah, dan lainnya. Menjaga agama Allah bisa berarti pula menjaga amal saleh yang telah dan sedang dilakukan. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam beribadah, walaupun sedikit.

Rasulullah mencela orang yang tidak konsisten menjalankan ibadah. Abdullah bin Amru bin Ash ra berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu, dia pernah shalat tahajud. Namun setelah itu ia tidak lagi melakukannya” (HR Muttafaq ‘alaih).

Menjaga agama Allah bisa juga berarti menjaga Islam agar tidak tercabut dari hati kaum Muslimin. Ini bisa dilakukan dengan bergaul dengan mereka, kemudian memberi teladan dan akhirnya mengajak mereka agar tetap bersabar dalam agama Allah.

Memelihara dan menjaga agama Allah akan mendapat tantangan. Namun Allah berjanji akan senantiasa menyertai dan menjaga kita. Apabila ada yang mencibir atau menghalangi, patut diingat bahwa, segala keputusan berada di tangan Allah, apabila Allah sudah memutuskan, tidak ada yang bisa menghalangi. Wallahu a’lam.

 

Sumber : Pusat Data Republika

Nikmatnya Menjaga Agama Allah

Ibnu Abbas berkata, “Pada suatu hari, aku di belakang (dibonceng) Nabi SAW. Beliau bersabda, ‘Hai anak muda, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, niscaya Allah selalu bersamamu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah.

Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu, kecuali sesuatu yang telah ditulis Allah untukmu. Jika mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikan mudharat, kecuali yang telah ditulis Allah untukmu. Pena telah diangkat dan lembarannya telah kering” (HR Tirmidzi)

Rasulullah SAW adalah rahmat bagi seluruh alam. Ajaran yang beliau sampaikan meliputi semua manusia, termasuk kelompok pemuda di dalamnya. Dalam berbagai kesempatan beliau mendampingi dan sering memberi arahan kepada para pemuda.

Seperti terungkap dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas tersebut. Ketika itu, Ibnu Abbas masih kecil. Ia adalah putra paman Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Muthalib.

Walaupun disampaikan kepada Ibnu Abbas, akan tetapi pesan yang disampaikannya berlaku universal. Pesan inti beliau sampaikan adalah menjaga agama Allah. Berada di jalan agama Allah adalah nikmat terbesar. Orang yang konsisten di dalamnya akan meraih cita-cita mulia, yaitu bahagia di dunia dan akhirat.

 

Penjagaan yang dimaksud bisa berarti menjaga dan memelihara akidah Islam dalam diri. Tidak bisa disangkal, selalu ada upaya untuk menghilangkan Islam dari dalam diri seorang Mukmin. Upaya itu bisa berasal dari hawa nafsunya, atau berasal dari orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan agama Allah (lihat QS Al-Baqarah [2]: 120).

Perbuatan-perbuatan yang bisa mendorong kepada rusaknya akidah harus dijauhi, seperti mendatangi dukun, melakukan sihir, meminta bantuan kepada jin, memakai jimat, menduakan Allah dalam ibadah, dan lainnya. Menjaga agama Allah bisa berarti pula menjaga amal saleh yang telah dan sedang dilakukan. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam beribadah, walaupun sedikit.

Rasulullah mencela orang yang tidak konsisten menjalankan ibadah. Abdullah bin Amru bin Ash ra berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu, dia pernah shalat tahajud. Namun setelah itu ia tidak lagi melakukannya” (HR Muttafaq ‘alaih).

Menjaga agama Allah bisa juga berarti menjaga Islam agar tidak tercabut dari hati kaum Muslimin. Ini bisa dilakukan dengan bergaul dengan mereka, kemudian memberi teladan dan akhirnya mengajak mereka agar tetap bersabar dalam agama Allah.

Memelihara dan menjaga agama Allah akan mendapat tantangan. Namun Allah berjanji akan senantiasa menyertai dan menjaga kita. Apabila ada yang mencibir atau menghalangi, patut diingat bahwa, segala keputusan berada di tangan Allah, apabila Allah sudah memutuskan, tidak ada yang bisa menghalangi. Wallahu a’lam.

 

Sumber : Pusat Data Republika

Wudhu Rasulullah tak Hanya untuk Shalat

Sungguh indah Islam. Betapa tidak, awal mula yang diajarkan dalam ibadah adalah tentang kesucian (thaharah), meliputi kesucian badan, pakaian, maupun tempat untuk ibadah. Baik kesucian dari hadats, maupun dari segala najis. Kesemuanya ini sebagai ritual seorang hamba ketika akan menghadap Rabb-nya yaitu dengan keadaan yang benar-benar suci.

Wudhu adalah satu cara seorang hamba menyucikan diri dari hadats kecil. Berwudhu wajib dilakukan bagi orang yang hendak menunaikan shalat karena termasuk syarat sahnya.

Rasul berkata melalui riwayat Tirmidzi, ”Kuncinya surga adalah shalat dan kuncinya shalat adalah wudhu,” dan riwayat Imam Ahmad, ”Tidaklah dianggap shalat bagi orang yang tidak berwudhu.”

Namun, Rasulullah melakukan wudhu tidaklah hanya ketika akan melaksanakan shalat. Beliau selalu mendawamkan wudhu dalam kesehariannya, yaitu senantiasa menjaga kesucian dengan cara selalu memperbarui wudhu ketika beliau hadats.

Kesunahan ini sangat dianjurkan. Sebuah pesan ajakan ittiba’ ini terekam dari perkataannya, ”Sesungguhnya umatku akan datang pada hari kiamat dengan tanda ghurra yang bersinar (di wajahnya) karena atsar (bekas) dari wudhu. Barang siapa yang mampu untuk memperpanjang ghurra tersebut, maka lakukanlah.” (HR Muslim dari Abu Huraiah).

 

Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan bahwa asal kata ghurra adalah bintik-bintik putih yang berada di dahi kuda. Dan, dimaksudkan dalam hadis ini sebagai cahaya yang bersinar di wajah umat Muhammad.

Mendawamkan wudhu berarti menjadikan diri senantiasa dalam keadaan suci, suatu perbuatan yang amat dipuji oleh Zat Yang Mahasuci. Sebuah tanda ghurra di dahi umat akan segera menjelma dalam aura wajah setiap hamba Muslim di dunia ini, selain sebagai tanda keumatan di hari kiamat nanti ketika menghadap Allah SWT sesuai sabda Rasul di atas.

Berwudhu ini selain untuk menjaga kebersihan anggota badan dan kesucian dari hadats juga sebagai kesucian dari dosa-dosa yang kita lakukan.

Rasul berkata melalui riwayat Muslim, ”Jika seorang hamba Muslim atau Mukmin melakukan wudhu, kemudian membasuh wajahnya, maka dosa-dosa yang dilakukan oleh mata akan keluar bersama air yang mengalir hingga tetesan terakhirnya. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosa yang dikerjakan oleh tangan akan keluar bersama air yang mengalir hingga tetesan terakhirnya. Jika membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa yang dilakukan oleh kaki akan keluar bersama air yang mengalir hingga tetesan terakhirnya. Sehingga, keluarlah semua noda dosa sang hamba.”

Sebagai umat Muhammad, marilah kita mendawamkan wudhu sebagai ittiba’ kepadanya, sekaligus untuk menjaga kesucian diri serta penghapus dosa. Juga diharapkan akan menjelma menjadi mental kehidupan Muslim dan Mukmin dalam kehidupan kesehariannya yang senantiasa menjaga kesucian pergaulannya berupa akhlak karimah. Wallahu a’lam.

 

Oleh M Wakhid Hidayat

Manusia yang Paling Cerdas

Pimpinan lembaga dakwah kreatif Ustadz Erick Yusuf berkesempatan  memberikan tausiyah di perbatasan Malaysia, Tarakan, Kalimantan Utara. Sebelum keinti pembahasan tausiyah, Ustaz mengiingatkan Islam melarang hubungan sejenis.

Ustaz Erick Yusuf membahas sakarotul maut atau kematian, Dalam Al-Quran surat Al-Jumu’ah ayat 8 Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

“Jelas sekali dalam ayat tersebut bahwa kematian akan menjemput kita menjemput semua makhluk yang hidup dan sesungguhnya kebanyakan manusia enggan bahkan seandainya bisa lari dari kematian  pasti dia akan melakukannya,” kata Kang Erick, Sapaan akrabnya, Jumat (8/5).

Ibnu Umar r.a pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah SAW sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling cerdas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani, disahihkan al-Munziri)

Sesungguhnya kematian itu ada dua pintu, Husnul Khootimah ( Baik akhir hidupnya ) dan Su’ul Khotimah ( Jelek akhir hidupnya) ,Orang yang husnul khotimah adalah orang yang meninggal dalam keadaan islam dan dalam melaksanakan ketaatan pada Allah,semasa hidupnya menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah dan banyak mengingat Allah.

Sedangkan orang yang su’ul khotimah adalah orang yang mati dalam keadaan maksiat kepada Allah dalam keadaan lupa pada Allah dan dia tidak melaksanakan perintah Allah dan melanggar larangan Allah, pasti akan sangat berat apa yang akan dihadapinya nanti.

Rasulullah bersabda “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallaah’, maka dia akan masuk surga.” ( HR. Abu Daud . Yaa Allah wafatkan lah kami dan orang tua kami dalam keadaan husnul khootimah, jangan wafatkan kami dalam keadaan su’ul khotimah Aamiin…

 

 

sumber: Republika Online

Kisah Umar bin Abdul Aziz dan Putranya, Abdul Malik Dua Pemimpin Kaum Muslimin di Bumi Syam

“Tahukah engkau bahwa setiap kaum terdapat bintang yang istimewa. Dan bintang Bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya ia di bangkitkan pada hari kiamat bagaikan satu ummat”

(Muhammad bin Ali bin Husain)

Sungguh Umar bin Abdul Aziz adalah seorang tabi’in yang mulia. Dikisahkan bahwa ketika ia di angkat menjadi khalifah ia sangat menolaknya. Padahal masyarakat begitu berharap pada kepemimpinannya.

Mereka terus membujuknya untuk menjadi khalifah, melihat dari sifat amanahnya, zuhud serta waro’nya. Sampai akhirnya Allah melapangkan dadanya untuk menerima amanah tersebut. Kemudian ia berkhutbah,

“Wahai sekalian manusia, Barang siapa yang taat pada Allah maka wajib pula bagi kita untuk mentaatinya. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada ketaatan baginya. Wahai manusia, taatlah kepadaku selama aku berbuat taat kepada Alloh. Namun tiada ketaatan bagiku jika telah bermaksiat kepada Alloh”

Sepulang dari khutbah tersebut, ia menuju rumahnya untuk beristirahat. Setelah ia di sibuk kan dengan urusan kaum muslimin sejak wafatnya khalifah sebelumnya.

Namun ketika ia hendak beristirahat, datanglah putranya, Abdul Malik. Saat itu usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Kemudian Abdul Malik berkata,

“Apa yang hendak engkau lakukan wahai amirul mukminin?”

“Duhai anakku, aku ingin beristirahat sejenak. Ayahmu ini sungguh sangat letih”

“Engkau ingin beristirahat padahal engkau belum mengembalikan hak-hak orang yang didzolimi kepada pemiliknya?”

“Sungguh aku telah begadang semalaman di tempat pamanmu, Sulaiman. Jika tiba waktu dzuhur maka aku akan sholat berjamaah lalu akan aku kembalikan hak-hak tersebut”

“Siapa yang menjaminmu bisa hidup sampai waktu dzuhur?”

Mendengar jawaban tersebut, Umar pun terbangun dari tempat tidurnya. Lalu berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dari tulang sulbiku sesorang yang menolongku menegakkan agamaku”

Kemudian ia pergi dan mengumpulkan manusia. Lalu berkata,

“Barang siapa yang merasa didzolimi maka ambillah haknya!”

Lalu siapakah Abdul Malik?

Umar bin Abdul Aziz di dikaruniai 15 putra. Mereka semua terdidik dalam tarbiyah yang luar biasa. Sedang Abdul Malik bagaikan bintang bersinar di antara saudara saudara yang lain.

‘Ashim, sepupunya pernah berkisah tentangnya,

“Suatu hari ketika kami berada di Damaskus kami mendirikan sholat berjamaah. Kemudian kami pergi tidur. Sedang Abdul Aziz tetap bangun, bahkan ketika aku bangun ditengah malam aku masih melihat Abdul Malik shalat. Ia terus mengulang-ulang ayat yang ia baca. Melihat ia terus menangis seolah-olah ia akan terbunuh karna tangisannya. Namun ketika ia melihatku terbangun, sesegera ia hentikan tangisannya, dan aku tak lagi mendengar apapun.”

Maimun bin Mahron, salah satu mentri Umar bin Abdul Aziz pernah bercerita,

“Aku mendatangi Umar bin Abdul Aziz, ku dapati ia sedang menulis surat untuk anaknya. Ia pun merangkai nasehat untuk sang putra,

“Duhai putraku, sungguh orang yang paling memahami perkataanku adalah engkau.

“Sungguh Allah telah memperbaiki urusan kita baik yang kecil maupun yang besar.

“Ingatlah nikmat Allah bagimu dan Ayahmu ini.

“Jauhilah sikap sombong, karena sombong adalah sifat setan. Dan ia adalah musuh yang nyata bagi kaum muslimin.

“Ketahuilah, aku tak menulis surat ini karena sebuah perkara yang aku dengar tentangmu. Aku tak mengenal sifatmu kecuali kebaikan.

“Hanya aku mendengar sikap ujubmu, sungguh sikap ini sikap yang aku benci.”

Kemudian Umar memandangku dan berkata,

“Wahai Maimun, sungguh anakku Abdul Malik terlihat begitu baik di mataku. Sungguh aku takut jika rasa cintaku kepadanya membuatku menutupi aibnya. Sebagaimana seorang bapak yang terbutakan dari aib putra nya. Maka pergilah kepadanya bersama surat ini! Dan jika kamu mendapati sikap sombong atau bermegah-megahan darinya, perbaikilah. Karena ia masih begitu muda, ia masih mudah untuk tergoda setan.”

“Lalu aku pun pergi menemui Abdul Malik, lalu mulai menanyainya tentang kehidupannya sehari-hari. Namun tak ku dapati kecuali kebaikan. Sampai pada sore hari datang seorang pemuda menemuinya. Lalu berkata,

“Kami sudah selesai”

Ia hanya terdiam, lalu aku pun bertanya,

“Selesai dari apa?”

“Kamar mandi”

“Maksudnya?”

“Para penduduk mengosongkan kamar kamar mandinya untukku”

“Sungguh engkau telah berbuat sombong.”

“Aku memberikan upah bagi pemilik kamar mandi.”

“Kenapa kau tak masuk kamar mandi bersama mereka?”

“Karena aku tak ingin melihat aurat mereka. Jika aku memerintahkan mereka untuk memakai kain maka seolah olah aku meminta penghormatan dari mereka. Nasehatilah aku!”

“Tunggulah sampai para penduduk masuk ke rumah mereka, lalu pergilah pada malam hari!”

“Baiklah. Aku tak akan masuk ke sana pada siang hari selamanya. Dan aku mohon agar engkau tidak mengadukan ini kepada ayahku, aku takut dia akan marah. Bagaimana jika aku meninggal dan ia belum ridho kepadaku?”

“Kau ingin aku membohonginya?”

“Tidak, tapi katakan jika aku telah berbuat salah, dan engkau telah menasehatiku. Lantas akupun menerimanya. Ia tidak akan menanyakan apa apa yang engkau tak sampaikan kepadanya. Bukankah Allah melarang untuk mencari tahu hal yang di sembunyikan orang lain.”

“Sungguh aku tak pernah melihat ada sosok bapak dan anak seperti kalian berdua, semoga Allah merahmati keduanya.”

Sungguh Allah telah ridho kepada khalifah yang kelima ini, dan ia pun ridho padaNya.

Keselamtan atas keduanya sampai Allah bangkitkan pada hari kiamat bersama orang orang terbaik/

Disarikan dari kitab Shuwar min hayati Tabi’in, DR Abdurrahman Rafat Basya

 

Oleh: Reny Istiqomah

sumber: Bumi Syam