Dari Dr Zair Naik Mengapa Islam Melarang Yoga

Seorang pemuda bertanya kepada Dr Zakir Naik dalam sebuah forum yang dihadiri ribuan orang, mengapa Lembaga Fatwa Malaysia melarang Muslim melakukan yoga.

“Beberapa tahun lalu lembaga Fatwa Malaysia melarang muslim melakukan yoga, mereka berkata hal itu bertentangan dengan Islam. Apakah itu benar menurut Al Quran? Terima kasih” tanya pemuda tersebut.

Dr Zakir Naik pun kemudian menjawab:”Saudara ini bertanya bahwa Lembaga Fatwa Malaysia melarang Muslim melakukan yoga. Karena hal ini bertentangan dengan Islam. Saudara ini bertanya apakah hal ini bertentangan dengan Quran.

Saudara, yoga adalah jenis olahraga, yang berasal dari berbagai tempat, termasuk dari kitab Wedha. Dan dalam yoga kau kemungkinan harus mengatakan hal-hal seperti aku bukan ahli dalam yoga tapi aku sadar dalam yoga kau harus mengatakan hal-hal seperti “om” dan menyanyikan kata-kata tertentu. Semua hal ini bisa mengarah ke syirik.

Ini kemungkinan mengarah ke syirik, itu artinya kau menyebut makhluk lain sebagai Pencipta selain Allah Subhanahu wa Taala.Dalam Islam, yang kusebutkan dalam ceramahku, menurut surat An Nisa ayat 48.”[ ]

Sumber bersamadakwah

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2259790/dari-dr-zair-naik-mengapa-islam-melarang-yoga#sthash.IsdjaTy7.dpuf

Haji Tukang Sapu

Ibnu Mubarak menceritakan bahwa setelah musim haji, ia bermimpi mendengar dialog antara dua malaikat tentang mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam dialog dua malaikat itu terungkap bahwa tidak satu pun dari ribuan jamaah haji musim ini yang hajinya diterima Allah, kecuali hajinya seorang tukang sapu yang tinggal di Kota Damsyik.

Karena penasaran dengan mimpinya, Ibnu Mubarak pun pergi ke Damsyik untuk mencari keberadaan orang tersebut. Setelah bertemu, ia langsung menanyakan tentang perjalanan hajinya. Maka, tukang sapu yang bernama Muwaffak menceritakan bahwa ia telah lama mengumpulkan uang guna melaksanakan ibadah haji.

Setelah terkumpul dan mulai mempersiapkan diri untuk keberangkatannya, tiba-tiba istrinya yang hamil muda (ngidam) menginginkan masakan daging yang bau lezatnya tercium dari rumah tetangganya.

Akhirnya, Muwaffak terpaksa mendatangi rumah tetangganya untuk meminta. Namun, jawaban yang didengar sangat mengejutkan, ”Daging ini halal untukku, tetapi haram untukmu.” Sebab, daging yang dimasaknya itu adalah bangkai yang ditemukannya dalam perjalanan setelah lama berjalan ke sana ke mari mencari makanan untuk dirinya dan anak yatim yang telah beberapa hari tidak makan.

Mendengar kisah janda tersebut, hatinya terhenyak. Muwaffak segera pulang mengambil seluruh bekal yang telah lama ia persiapkan untuk keberangkatan haji. Dengan penuh keyakinan, ia berucap, ”Hajiku cukup di depan rumah.”

Tidak lama kemudian, Muwaffak dengan ditemani istrinya mendatangi tetangganya yang tengah didera lapar untuk memberikan uang simpanannya ditambah beberapa potong roti. ”Kami telah berbuat zalim, membiarkan tetangga yang tinggalnya tidak seberapa jauh, hidup dalam kelaparan. Maafkan kami,” pintanya dengan penuh rasa bersalah.

Kisah ini jauh dari maksud merendahkan keutamaan pergi berhaji. Ini hanya sebuah renungan sebelum menentukan wajib tidaknya pergi berhaji bagi seseorang, terutama bila mengingat situasi dan kondisi sekitarnya, lebih lagi di tengah masyarakat yang cenderung memaksakan diri untuk pergi berhaji bahkan ada berkali-kali. Kepergiannya tidak benar-benar dalam rangka memenuhi panggilan Allah, melainkan untuk rekreasi, bertujuan politik, berdagang, dan lain-lain.

Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya pernah mensinyalir bahwa kelak di akhir zaman akan muncul empat macam orang-orang yang berhaji dengan berbagai motivasinya. Para pemimpin berhaji untuk rekreasi, orang-orang kaya untuk berdagang, orang-orang miskin untuk meminta-minta, dan para pembaca Alquran untuk mencari popularitas.

Mereka yang berhaji dengan berbagai niatan ini jika dibandingkan dengan tamu-tamu Allah yang ikhlas bagaikan tamu-tamu yang tak diundang. Kehadirannya tidak membawa perubahan apa-apa, kecuali sebutan Pak Haji dan Bu Hajah.

 

Oleh Muhammad Bajuri

Daftar Haji Sekarang, Baru Berangkat 2032

Antrean calon jamaah haji di Provinsi Riau sudah mencapai 85 ribu orang berdasarkan data dari Kantor Wilayah Kementerian Agama daerah setempat. Jamaah reguler yang mendaftar sekarang pun baru bisa berangkat pada 2032.

“Hal ini disebabkan meningkatnya jumlah jamaah haji yang ingin berangkat ke Tanah Suci Makkah setiap tahunnya dari Riau, sementara yang berangkat haji berasal dari seluruh penjuru dunia,” kata Kepala Seksi Pembinaan Haji dan Umrah Asril di Pekanbaru, Kamis (24/3).

Dia menjelaskan bahwa daftar tunggu jamaah haji yang selama 16 tahun itu juga disebabkan kuota keberangkatan setiap tahunnya untuk Riau hanya 4.008 jamaah sehingga dengan antrean yang lebih 85 ribu harus menunggu hingga 2032. “Itu yang kita angsur setiap tahunnya,” katanya.

Selain itu, menurutnya, faktor lainnya karena kuota jamaah haji di Riau sudah berkurang 20 persen. Sebelumnya, kuotanya 5.010 per tahun karena ada perbaikan Masjidil Haram yang dikurangi sekitar 20 persen itu menjadi 4.008 jamaah.

Sementara itu, untuk haji plus daftar tunggunya mencapai enam tahun. Jadi, yang daftar sekarang, akan berangkat sekitar tahun 2022. Kuota untuk haji plus itu sendiri sekitar 1.400 jamaah per tahun. Haji plus ini mempunyai tarif keberangkatan yang berkisar Rp 170 juta, sedangkan untuk haji biasa atau reguler tarifnya hanya Rp 35 juta.

“Berbeda juga dari segi fasilitas,” ungkapnya. Asril menambahkan, kalau untuk umrah pada 2015 lalu ada lebih 5.000 jmaah. Umrah tidak mempunyai daftar tunggu, tapi dia mengingatkan kepada jamaah untuk mendaftar di biro travel penyelenggara yang resmi atau yang memiliki izin dari Kementerian Agama RI.

 

Sumber : Antara / Republika Online

Hukuman Mati Bagi Pengedar Narkoba Sangat Islami

Hukuman mati bagi bandar dan pengedar narkoba yang dilakukan Indonesia beberapa lalu menimbulkan pro dan kontra. Ada baiknya kita mengintip hukum yang diterapkan Arab Saudi kepada para pengedar narkoba.

Berikut keputusan Majelis Ulama Arab Saudi, no. 138 tentang Hukum Pengedar Narkoba:

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Semoga balasan yang baik diperoleh oleh orang yang bertakwa. Shalawat dan salam tercurah kepada nabi dan rasul terbaik, nabi kita Muhammad, serta kepada para keluarganya, dan semua sahabatnya. Amma badu,

Majelis Ulama di pertemuan yang ke-29, yang diadakan di kota Riyadh, tanggal 9 Jumadi Tsaniah 1407 H sampai tanggal 20 Jumadi Tsaniah 1407 H, telah mempelajari telegram yang dikirim oleh Pelayan dua tanah suci, Raja Fahd bin abdul Aziz, dengan nomor: S: 8033, tertanggal 11 Jumadi Tsaniah 1407 H. Dalam surat itu dinyatakan:

“Melihat bahwa narkoba memberikan dampak yang sangat buruk, sementara kita perhatikan saat ini mulai banyak tersebar, serta menimbang tuntutan kemaslahatan bagi umat, maka penting untuk diputuskan hukuman yang membuat jera bagi orang yang berusaha menyebarkan dan memasarkannya, baik ekspor atau impor. Karena itu, kami memohon kepada anda sekalian untuk membahas masalah ini di sidang Majelis Ulama dengan segera. Kami akan menyesuaikan dengan apa yang diputuskan.”

Majelis Ulama Kibar telah mempelajari masalah ini, dan mendiskusikan dari berbagai macam sisi pada beberapa kali pertemuan. Setelah diskusi yang panjang tentang dampak buruk tersebarnya obat terlarang . maka Majelis Ulama Kibar menetapkan:

Pertama, untuk bandar narkoba, hukumannya adalah dibunuh, karena perbuatanya menjadi bandar pengedaran narkoba, menyebarkannya obat terlarang ke dalam negara, menyebabkan kerusakan yang besar, tidak hanya bagi bandarnya, namun menjadi sebab masalah yang serius bagi seluruh umat. Termasuk bandar narkoba adalah orang yang mendatangkan obat terlarang ini dari luar, kemudian dia distribusikan ke penjual langsung.

Kedua, untuk pengedar obat terlarang, keputusan Majelis Ulama Kibar untuk pelaku telah diterbitkan pada keputusan no. 85, tertanggal 11 Dzulqadah 1401. Di sana dinyatakan:

“Orang yang mengedarkan narkoba, baik dengan membuat sendiri atau impor dari luar, baik dengan jual-beli, atau diberikan cuma-cuma, atau bentuk penyebaran lainnya, maka untuk pelanggaran yang dilakukan pertama, dia dihukum tazir yang keras, baik dipenjara, dihukum cambuk, atau disita hartanya, atau diberikan semua hukuman tersebut, sesuai keputusan mahkamah. Kemudian jika dia mengedarkan lagi, dia diberi hukuman yang bisa menghindarkan masyarakat dari kejahatannya, meskipun harus dengan hukuman mati. Karena perbuatannya ini, dia termasuk orang yang merusak di muka bumi dan potensi berbuat maksiat telah melekat dalam dirinya.”

Para ulama menegaskan bahwa hukuman bunuh termasuk bentuk hukuman tazir yang dibolehkan. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan:

Manusia yang kerusakannya tidak bisa dihentikan kecuali dengan dibunuh boleh dihukum mati, sebagaimana hukum bunuh untuk pemberontak, menyimpang dari persatuan kaum muslimin, atau gembong perbuatan bidah dalam agama. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah memerintahkan untuk membunuh orang yang sengaja berdusta atas nama beliau (dengan membuat hadis palsu). Ibnu Dailami pernah bertanya kepada beliau tentang orang yang tidak mau berhenti dari minum khamr. Beliau menjawab: “Siapa yang tidak mau berhenti dari minum khamr, bunuhlah.” Dalam karya beliau yang lain, Syaikhul Islam mengatakan, tentang alasan bolehnya tazir dengan membunuh:

“Orang yang membuat kerusakan seperti ini seperti orang yang menyerang kita. Jika orang yang menyerang ini tidak bisa dihindarkan kecuali dengan dibunuh maka dia dibunuh.”

Ketiga, Majelis Ulama Kibar berpendapat bahwa sebelum menjatuhkan dua hukuman di atas, hendaknya dilakukan proses pengadilan yang sempurna, untuk membuktikan kebenaran kasus, sesuai dengan proses mahkamah syariyah dan badan reserse kriminal, sebagai bentuk kehati-hatian dalam memberikan hukuman mati kepada seseorang.

Keempat, hendaknya hukuman ini diumumkan melalui media massa, sebelum diterapkan, sebagai bentuk peringatan bagi masyarakat.

Demikian,

Wa billahittaufiiq, was shallallahu ala nabiyyinaa Muhammadin, wa aalihii wa shahbihii wa sallam. [Alifta.net]

Catatan:

Hukuman untuk tindak kriminal dalam islam ada 2:

a. Hukuman hudud : bentuk hukuman yang telah ditentukan syariat. Misal, hukum cambuk 100 kali untuk pelaku zina yang belum menikah.

b. Hukuman tazir : bentuk hukuman kriminal yang tidak ditentukan oleh syariat. Dalam posisi ini, hukuman diserahkan kepada keputusan pemerintah. Semua tindakan kriminal yang tidak ada ketentuan hukum khusus dalam syariat, dikembalikan kepada keputusan pemerintah. Salah satu contohnya adalah hukuman untuk pengedar nark

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283080/hukuman-mati-bagi-pengedar-narkoba-sangat-islami#sthash.bllkHqLx.dpuf

Tiga Pesan Alquran Buat Wanita Salehah

Wanita memiliki peranan yang sangat penting. Kesuksesan dalam membangun bangsa, termasuk keluarga, ternyata tidak lepas dari peranannya.

Sehingga, tidak salah jika dikatakan wanita (ibu) merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebab, wanita adalah sebagai pemimpin di rumah suaminya (HR Bukhari).

Karena strategis dan pentingnya peranan wanita bagi kehidupan, Islam memberikan pesan-pesan khusus untuk kaum wanita melalui Alquran dan hadis Nabi SAW.

Pertama, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menahan pandangan, memelihara kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak daripadanya, menutupkan kain kudung ke dadanya, dan tidak menampakkan perhiasan (QS an-Nur [24]: 31).

Kedua, Alquran memerintahkan kepada para sahabat Nabi SAW, apabila meminta suatu keperluan kepada istri-istri Nabi SAW, hendaknya memintanya dari belakang tabir. Dan, cara seperti itu yang akan dapat menjaga suasana hati (QS al-Ahzab [33]: 53).

Ketiga, Alquran memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat. Allah SWT berfirman, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzab [33]: 59).

Selain Alquran, Nabi Muhammad SAW juga memberikan pesan khusus kepada kaum wanita melalui sabdanya. Pertama, wanita sebagai perhiasan terbaik. Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita yang salehah.” (HR Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Kedua, wanita (yang salehah) memiliki ciri-ciri khusus. Sabda Nabi SAW, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, ”(Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suaminya) jika ia melihatnya, menaati (suaminya) jika ia memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi (suaminya) dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya.“ (HR Ahmad, Hakim, Nasa’i, dan Thabrani).

Ketiga, pemahaman agama sebagai ukuran dalam kesalehahan wanita. Nabi SAW bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya; maka pilihlah yang memiliki agama maka engkau akan beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, wanita sebagai mitra kaum laki-laki dalam berbagai hal, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya kaum wanita adalah mitra bagi kaum laki-laki.” (HR Tirmidzi).

Kelima, wanita sebagai seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya. Hal ini ditegaskan melalui sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya seorang wanita akan menjadi lebih dekat kepada Allah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR Thabrani).

Itulah sebagian pesan Islam terhadap kaum wanita. Semoga Allah membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan pesan mulia tersebut dan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin.

 

Oleh: Hj Siti Mahmudah

sumber: Republika Online

Sebagaimana Adanya Kalian, Itulah Pemimpin Kalian

Ada gubernur korupsi, ada menteri korupsi, ada wakil rakyat selingkuh dan yang terakhir ada bupati narkoba. Semua itu menambah daftar panjang keruwetan di negeri ini. Ada yang telah berhasil diungkap, tapi jangan-jangan ada lebih banyak lagi yang belum terungkap.

Pemimpin itu teladan dan inspirasi bagi masyarakatnya. Apa yang terjadi ketika justru merekalah yang menjadi aktor utama keburukan yang melanda luas di negeri ini. Pada masyarakat yg kuat secara nilai dan budaya akan terjadi kemarahan masif, pengingkaran sekaligus penolakan terhadap eksistensi kepemimpinannya. Tapi bagi masyarakat yang lemah mereka akan melihat hal seperti itu biasa saja. Kalaupun ada kemarahan itu hanya reaksi sesaat saja. Selanjutnya akan tergerus dengan toleransi terhadap kesalahan secara luas.

Selain meyakini bahwa mereka salah dan kita tidak mentoleransi apologi yang mereka ungkapkan, ada satu pertanyaan besar yang menggelitik kita. Kenapa kita bisa dipimpin oleh orang seperti itu? Siapakah mereka itu? Bukankah kita yang telah mengamanahkan urusan bangsa ini kepada mereka? Bukankah kita yang kemarin berduyun-duyun dengan bangga mengusung simbol-simbol mereka?

Dan bukankah mereka itu juga lahir dari kita, dan mendapat pendidikan dari rumah-rumah dan sekolah sekolah kita? Dan bukankah berarti, ada andil kita melahirkan pemimpin-pemimpin seperti mereka? Bahkan tidak mustahil, keberadaan kitalah, juga nilai-nilai kitalah yang membuat kita pantas dipimpin oleh orang-orang seperti mereka.

Benarlah orang yang mengatakan tegakkan kebenaran dalam hatimu, maka akan tegak di bangsamu. Ya Allah karuniai dari istri-istri dan keturunan kami anak-anak yang menyenangkan hati kami, dan jadikan kami pemimpin orang-orang bertakwa.[]

Porkas Halomoan, Ketua Yayasan Wihdatul Ummah

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283144/sebagaimana-adanya-kalian-itulah-pemimpin-kalian#sthash.44txAqsr.dpuf

Amal Baik yang Dikecam Allah

Tidak semua perbuatan baik dengan sendirinya menjadi baik. Perbuatan baik terlihat baik dilihat dari dhohirnya (perbuatan luar) saja, akan tetapi dari sisi bathin si pelaku tidak ada yang tahu kecuali si pelaku sendiri dan Pemilik nyawanya.

Ada pondasi dasar yang harus menjadi acuan dalam perbuatan baik tersebut, yaitu niat dan keihlasan.

Ketika seseorang memberi sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan, maka secara dhohir perbuatan tersebut adalah baik, namun siapa yang mengetahui motif dari perbuatan tersebut atau niat si pelaku?

Inilah nilai berat dari sebuah perbuatan baik; tidak semua orang memiliki keinginan berbuat baik, tidak semua orang bisa melaksanakan niat baiknya, terlebih lagi, tidak semua niat baik bisa terlaksana dengan keikhlasan, demi mengharap kerelaan Allah Swt semata.

Al Quran menyebutkan, ada perbuatan-perbuatan baik namun Allah Swt sendiri mengecam perbuatan tersebut dan amal baiknya menjadi tidak berarti.

Pertama, Perbuatan baik yang disertai niat buruk. Seperti ada unsur riya maupun ujub.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya”. QS. Al Maun: 4-7

Kedua, Perbuatan baik namun disertai perbuatan buruk. Seperti sedekah yang disertai dengan senantiasa menyebut-nyebutnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” QS. Al Baqarah: 264

Ketiga, perbuatan baik yang dilakukan dengan cara yang salah. Seperti orang yang melakukan jihad berperang di jalan Allah namun di bulan-bulan yang diharamkna untuk berperang di dalamnya. Merubah-rubah aturan Allah dengan seenaknya.

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” QS. At Taubah: 37

Keempat, perbuatan yang berakibat buruk dan pelaku merasa sudah berbuat baik, sedang Al Quran sendiri mengecam perbuatan sia-sia mereka.

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” QS. Al Kahf: 104

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2276400/amal-baik-yang-dikecam-allah#sthash.uFdxGK16.dpuf

Dua Jenis Suara yang Dilarang Rasulullah

Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan sesuatu, pastilah sesuatu itu baik bagi umatnya. Sebaliknya, jika beliau melarang sesuatu, pastilah sesuatu itu buruk bagi umatnya.

Namun, sering kali manusia tidak mengindahkan petunjuk dan larangan yang telah digariskan beliau. Banyak perintah yang tidak ditaati dan banyak larangan yang dilanggar. Di antaranya, dua larangan berikut ini.

“Sesungguhnya aku melarang dua suara yang paling bodoh dan keji, yakni suara seruling ketika sedang mendapat nikmat dan suara tangis yang keras ketika mendapat musibah” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi; hasan)

Suara seruling ketika sedang mendapat nikmat

Alangkah sering hal ini dilanggar oleh umat Islam. Seakan-akan dianggap hal yang biasa dan boleh-boleh saja. Padahal sesungguhnya ini dilarang Rasulullah dan digelari dengan paling bodoh dan keji.

Kita lihat saat keluarga muslim mendapatkan nikmat pernikahan. Walimah yang seharusnya menjadi wujud rasa syukur dan bentuk pengumuman kepada khalayak bahwa si Fulan dan Fulanah menikah, berubah menjadi ajang hiburan yang di dalamnya ada hal terlarang.

Diputarnya musik-musik yang diiringi seruling merupakan hal yang sering terjadi di masyarakat kita saat walimah atau acara lainnya. Bahkan sebagian orang bukan hanya memutar musik melalui kaset namun mengundang band atau elektone dan sejenisnya yang secara live menghadirkan suguhan musik termasuk seruling.

Banyak acara-acara lain yang juga masuk dalam kerangka “nikmat Allah” tetapi diisi oleh pemutaran musik dengan seruling di dalamnya. Misalnya khitanan dan syukuran. Persis seperti yang dilarang Rasulullah dalam hadits tersebut.

Suara tangis keras saat musibah

Siapapun yang terkena musibah, manusiawi jika ia bersedih dan berduka. Bahkan menangis sekalipun. Namun yang dilarang oleh Rasulullah adalah menangis dengan suara keras. Meraung-raung. Meratap.

Umat Islam dituntun untuk bersabar saat menghadapi musibah. Baik ketika kehilangan anggota keluarga, ada bencana maupun bentuk-bentuk musibah lainnya. Menangis meraung-raung merupakan tanda bahwa kesabaran masih belum muncul saat menghadapi musibah.Wallahu alam bish shawab.

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2276142/dua-jenis-suara-yang-dilarang-rasulullah#sthash.w3CIDWjB.dpuf

Mengejar Akhirat dan Dunia dengan Takwa

Rasulullah berkhutbah saat Jumat pertama hijrah ke Madinah. Inilah isi khutbahnya:

“Alhamdulillah. Aku memuji-Mu, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan meminta hidayah-Nya. Aku beriman kepada-Nya, tidak kafir kepada-Nya. Aku memusuhi orang yang mengingkari-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya, dan mauizhah setelah lama tidak diutus para rasul, di tengah sedikitnya ilmu dan kesesatan manusia serta kedekatan dengan kiamat. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah lurus. Dan barangsiapa mendurhakai mereka, maka ia telah melampui batas dan sesat dengan jelas.”

“Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Hal terbaik yang aku wasiatkan kepada seorang Muslim adalah mendorongnya agar beramal demi akhirat dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada hal yang telah diperingatkan-Nya kepada kalian. Tidak ada nasihat yang lebih afdhal daripada itu. Tidak ada peringatan yang lebih baik daripada itu. Itu adalah ketakwaan bagi orang yang mengamalkannya dengan perasaan takut dan gentar.

Merupakan penyokong yang kuat atas pahala akhirat yang kalian dambakan. Barang siapa memperbaiki perkara rahasia dan terang-terangan antara ia dan Allah dengan tidak meniatkannya kecuali untuk Allah, maka hal itu akan menjadi pengingat baginya pada kehidupan dunianya dan bekal setelah mati ketika seorang manusia membutuhkan apa yang telah ia kerjakan”.

“.. Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu (kiamat) ada masa yang jauh, dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksanya. Dan, Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya”. (Ali Imran: 30).

Zat yang firman-Nya benar dan Dia mewujudkan janji-Nya. Dia berfirman: “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (Qaaf: 29).

“Bertakwalah kepada Allah dalam masalah dunia dan akhirat kalian, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan karena: “.. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (ath-Thalaaq: 5).

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya ia telah mendapat untung yang sangat besar. Sesungguhnya, takwa kepada Allah akan melindungi kalian dari murka-Nya, hukuman-Nya, dan amarah-Nya. Takwa kepada Allah akan mencerahkan wajah, membuat Tuhan ridho, dan meninggikan derajat. Carilah keberuntungan kalian, jangan melalaikan hak Allah. Allah mengajarkan Kitab-Nya kepada kalian dan menjelaskan jalan-Nya agar mengetahui mana orang-orang yang benar, dan mana yang berbohong. Oleh karena itu, berbuatlah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian. Musuhilah musuh-musuh-Nya dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.

Dia telah memilih kalian dan menamai kalian muslimin, ” agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (al Anfal :42).

Tiada kekuatan selain dengan-Nya. Perbanyaklah zikir mengingat Allah. Beramallah untuk bekal setelah mati. Barangsiapa yang menjaga hubungan dirinya dengan Allah, maka Dia yang akan menjaga hubungannya dengan sesama manusia karen Allah menetapkan keputusan atas diri manusia dan mereka tidak dapat menetapkan keputusan atas-Nya. Dia memiliki dari-Nya. Allah Mahabesar. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Hendaknya kita mengingat ini semua. Mari kita manfaatkan baik-baik setiap dari hidup kita ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bahwa Rasulullah Saw, bersabda : “Bersegeralah melakukan amal-amal shaleh, karena akan datang fitnah seperti malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang msih mukmin, tapi sorenya sudah menjadi kafir, atau pada sore hari ia mukmin dan pada keesokan harinya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapat harta dunia”. (HR.Muslim)

Addy bin ZHatim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bersabda: “Lindungilah diri kalian dari neraka, meski dengan sebiji kurma. Jika ada yang tidak punya,ia dapat melakukannya dengan menyampaikan perkataan yang benar”. (HR.Buchori dan Muslim).

Khotbah Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam penuh dengan makna. Marilah kita memperhatikan dan menghayati khotbah beliau. Sebagai bekal hidup. Jangan sampai kita semakin jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam. Agar manusia terbebas dari beratnya siksa neraka kelak di akhirat.

Tak ada manusia yang bebas dari janji Allah Azza Wa Jalla, bagi mereka yang berbuat baik di dunia, ia akan mendapatkan ganjaran pahala, dan akan kekal di surga-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang menegakkan kebathilan dalam hidupnya, maka ia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, neraka jahanam, dan kekal di dalamnya.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2279527/mengejar-akhirat-dan-dunia-dengan-takwa#sthash.DpHAsphT.dpuf

Kenali Langkahmu, Tinggalkan Kebaikan di Jejakmu

“Berhati-hatilah dengan perbuatan kalian. Ingatlah bahwa di atas bumi yang kalian pijak, ada jejak Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menegakkan kebaikan”.

Terngiang terus kalimat sederhana tersebut yang diucapkan oleh salah seorang ustadz ketika penulis berkesempatan umroh. Ya, benar sekali. Di atas tanah yang penulis injak ini mungkin Rasulullah pernah bersedekah, mungkin juga ketika itu beliau sedang memberi pelajaran kepada para sahabatnya, atau mungkin juga beliau ketika itu sedang memberikan arahan dakwah kepada sahabatnya.

Atau jangan-jangan Abu bakar, Umar, Utsman atau Ali pernah melakukan kebaikan di tempat yang sama. Dan ada banyak kemungkinan-kemungkinan lain peristiwa atau pun amalan kebaikan dilakukan oleh orang-orang besar atau orang-orang kecil di atas setiap tanah yang kita pijak. Semua itu mungkin saja tercatat dalam sejarah tapi jauh lebih banyak lagi yang tidak tercatat. Satu yang pasti, sekecil apapun itu pasti tercatat di sisi Allah.

Di mana kita melangkahkan kaki kita kemarin? Dan jejak apa yang telah kita tinggalkan? Ke tempat maksiatkah kita melangkah? Tersesat dalam kubangan nafsu yang terus menerus memasung kebersihan nurani kita? Ataukah ke tempat di mana diri kita menjadi semakin baik di hadapan manusia dan di hadapanNya?

Inspirasi dalam menegakkan perjuangan dan keadilan. Kecintaan yang besar dari orang-orang yang merasa kita perhatikan. Kasih sayang dan kerinduan dari keluarga anak cucu kita. Lantunan doa yang terus dikumandangkan untuk pengajaran yang kita berikan. Semua itukah jejak kita? Ataukah kebencian, sumpah serapah, laknat manusia terhadap kejahatan yang pernah kita lakukan. Aduan doa dari orang-orang yang pernah kita ambil haknya. Atau penyesalan dari orang-orang yang mencintai kita, atas penyimpangan yang kita lakukan?

Apa jejak yang telah kita tinggalkan? dan kemana kita akan langkahkan kaki kita? Semua itu hanya kita yang bisa menjawabnya. Ya Allah. Jadikan hari esokku lebih baik dari kemarin dan jadikan kami bagian dari hamba-hambaMu yang senantiasa berbuat baik. []

Porkas Halomoan, Ketua Yayasan Wihdatul Ummah

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2283034/kenali-langkahmu-tinggalkan-kebaikan-di-jejakmu#sthash.Hf6tJgTH.dpuf