Pengaruh Arah Rumah dalam Islam

ass. wr wb. pak ustadz

semoga pak ustadz selalu dalam lindungan Allah Swt, amin. pak ustadz, saya baru beli rumah, tapi pemiliknya bukan orang muslim, rumah itu sendiri masih ada yang mengontrak. menurut yang mengontrak rumah itu agak “seret” rejekinya. apakah memang benar dalam islam kita percaya bahwa suatu rumah akan mempengaruhi rejeki penghuninya. juga arah rumah yang menghadap ke selatan lebih baik dibanding menghadap ke arah lain. mohon penjelasan dari pak ustadz. terimakasih dan wassalam

Waalaikumusslam Wr Wb

Saudara ds yang dimuliakan Allah swt

Sebagai seorang muslim haruslah meyakini bahwa rezeki seluruh makhluk ada ditangan Allah swt, termasuk rezeki manusia. Dan tak satu makhluk pun yang luput dari pemberian rezeki oleh Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud : 6)

Bahkan Allah swt telah menuliskan bagi setiap bayi yang akan terlahir rezekinya bersamaan dengan ajal, amal serta celaka atau bahagianya sebagaiamana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya tiap-tiap kalian akan dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqoh selama itu juga, kemudian menjadi mudhghoh selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya. Lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : rezekinya, ajalnya, amalnya dan celaka serta bahagianya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Allah pula lah yang menjadikan rezeki sebagian manusia dilebihkan dari sebagian lainnya dengan hikmah dan pengetahuan-Nya.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf : 32)

Sebagai konsekuensi dari persyahadatan seorang muslim yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah adalah meyakini bahwa rezeki yang diterima atau didapat seluruhnya adalah berasal dari Allah swt, tidak diperbolehkan baginya untuk meyakini hal-hal yang berbau khurafat atau kemusyrikan didalam permasalahan rezeki ini, seperti : keyakinan bahwa letak arah rumah mempengaruhi rezeki yang didapatnya.

Akan tetapi apabila letak rumah strategis menjadi bahan pertimbangan seseorang didalam berbisnisnya yang dari situ diharapkan akan banyak pembelinya dan mendapatkan income berlebih maka hal ini dibolehkan, seperti : seorang yang ingin membuka sebuah toko lalu memilih rumah di pinggir jalan yang banyak dilalui orang. Hal demikian termasuk didalam kategori ikhtiyar (usaha) yang dibolehkan dan sebagai sebuah sebab baginya untuk mendapatkan income tambahan namun diharuskan baginya untuk meyakini bahwa rezeki atau pendapatannya itu adalah dari Allah swt dengan tetap bertawakal kepada-Nya.

Sedikitnya rezeki seseorang bisa jadi sebagai sebuah ujian dan cobaan baginya untuk menaikkan derajatnya di sisi Allah swt sebagaimana Dia swt telah menguji manusia-manusia pilihan-Nya yang terdahulu, dari kalangan para Nabi dan salafusshaleh, sebagaimana firman Allah swt :

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٨٣﴾
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ ﴿٨٤﴾

Artinya : “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al Anbiya : 83 – 84)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh kefakiran dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al Baqoroh : 214)

Namun bisa juga kekurangan atau seretnya rezeki yang didapat seseorang adalah dikarenakan dosa atau maksiat yang dilakukannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya seseorang terhalang rezekinya disebabkan dosa yang menimpanya dan tidaklah takdir itu dicegah kecuali dengan doa dan tidaklah umur bertambah kecuali dengan kebaikan.” (HR. Ahmad)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo Lc

‘Kembalikan Semua kepada Allah SWT!’ (Habis-2)

Oleh: KH Hasyim Muzadi

 

Kewajiban kita adalah bersyukur karena memperoleh anugerah kesempatakan menjadi “kepanjangan tangan”  Allah dalam menyampaikan kebaikan dan kebajikan. Jamaknya, Allah akan memilih orang-orang tertentu karena mujahadahnya dalam beribadah agar dapat menjadi perantara datangnya kebaikan dan kebajikan. Sebab, Allah tidak akan turun “tangan” langsung menyuguhkan penganan kepada kita. Ia akan menyiapkan perantara agar kebaikan-Nya sampai kepada yang berhak.

Kebaikan dan kebajikan Allah beragam jenisnya dan sangat tak terhitung jumlahnya. Allah akan terus menambah kebaikan dan kebajikan itu, jika kita pandai bersyukur. Allah mengajari kita bersyukur agar kita menjadi tahu diri bahwa itu bukan milik kita, tetapi sebatas titipan yang kapan saja Allah berkehendak, semua bisa diambil kembali. Maka, para pemimpin yang merasa mendapatkan amanah kepemimpinan mesti menunaikan amanah sesuai tuntunan Allah.

Itulah bentuk kesyukuran bagi para pemimpin. Menyukuri anugerah kepemimpinan adalah dengan bermujahadah semaksimal mungkin demi terciptanya kemaslahatan untuk semua orang. Kepemimpinan berubah menjadi laknat jika tak ditunaikan dengan semestinya, apalagi hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, golongan, dan sekelompok orang. Allah telah menyiapkan azab yang pedih bagi mereka yang tidak mensyukuri nikmat kepemimpinan dengan benar.

Ilmu, harta kekayaan, kekuatan fisik, ketampanan diri, kecakapan, keterampilan, kemahiran, keahlian dalam semua bidang, kesempatan, peluang dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk lain dari anugerah  Allah. Mereka yang memiliki ini semua punya peluang untuk mencapai sukses dan prestasi. Maka, para ilmuwan, hartawan, para ahli, dan pelaku ekonomi yang tak manjalankan amanah keilmuan, kekayaan, serta keahliannya untuk tujuan kemaslahatan umat dincam dengan azab yang pedih.

Tetapi, jika mereka mampu membantu bangsa keluar dari krisis, jangan lantas merasa berhak mendapat  pujian. Para politisi yang karena kesadarannya sebagai perantara kebaikan Allah, lalu berhenti membuat gaduh dan hanya berjuang untuk kepentingan rakyat, jangan mengaku pantas diguyur dengan kembang puja puji. Segera kembalikan dan pulangkan semua itu kepada Allah. Kalian menjadi politisi, juga karena kebaikan Allah kepada kalian.

Untu kita semua, mari belajar, berlatih, melakukan riyadhah agar biasa hidup tak memiliki apa-apa karena semua hidup dan isinya memang semata milik Allah SWT. Celakalah kita jika hati sudah tertambat pada hal-hal yang bukan milik kita. Kita akan didera oleh perjalanan yang tak pernah ada ujung. Kehidupan yang tak pernah ada akhir. Pencarían yag tak pernah bertemu muara. Semua ini bisa teratasi jika kita menjadikan Allah sebagai tempat kita kembali.

Karena itu, sudahlah! Sudah cukup perjalanan sia-sia ini. Perjalanan yang sudah nyaris di ujung  tetapi kita masih berada di luar garis “permainan”. Segeralah kembali ke jalan yang lurus dan benar. Jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Jalan yang terjal tetapi akan berujung landai di surga  keridhaan-Nya. Maka, kewajiban kita adalah mengembalikan semua bentuk penghormatan, penghargaan, dan pujian hanya kepada pemiliknya, yaitu Allah SWT. Wallaahu a’lamus bish shawaab.

 

sumber: Republika Online

Kembalikan Semua kepada Allah SWT!’ (1)

Oleh: KH Hasyim Muzadi

 

 

“Idzaa Athlaqats Tsanaa-a ‘Alaiyka
Wa Lasta Bi Ahlin
Fatsni Alayhi Bimaa Huwa Ahluh—
Jika Allah membiarkan suatu pujian kepadamu,
padahal engkau tak layak untuk itu
maka pujilah Allah karena Dialah yang berhak atas pujian itu.”

–Ibnu ‘Atho’—

Sudahlah, kembalikan semua kepada Allah SWT. Jangan membiasakan diri mengaku sebagai pemilik semua hal. Jangan merasa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Semua itu milik Allah. Semua alam semesta dan semua yang selain-Nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya. Termasuk kita dan kehidupan kita. Allah yang menciptakan kita sebagai mahluk paling sempurna lalu menganugerahkan kehidupan kepada kita. Kita adalah milik Allah dan pada saatnya akan kembali kepada-Nya.

Sering dalam hidup sehari-hari kita menghadapi beragam masalah. Ada yang menyenangkan ada yang menjengkelkan, mengharukan atau membuat kita tertawa, menenangkan atau membingungkan. Membuat kita bersemangat atau merasa kehilangan harapan. Mendapatkan hinaan atau menangguk pujian. Semua terlahir akibat perbuatan kita. Siapa yang menggerakkan kita? Siapa yang mengatur semua ini? Siapakah sumber segala keteraturan hidup?

Semuanya bersumber dari Allah SWT. Kalau karena sebuah perbuatan, lalu perbuatan itu dianggap sebagai prestasi maka kita mesti belajar mengembalikan semua itu kepada Allah SWT. Penghargaan yang diberikan karena prestasi, pujian yang disajikan karena keluhuran budi, penghormatan yang disampaikan karena ketinggian pencapaian adalah sesuatu yang niscaya. Keniscayaan itu milik Allah. Kita bisa mencapai semua itu karena campur tengan Allah juga.

Allahlah yang menumbuhkan semangat sehingga kita giat bekerja. Allah pula yang menghadirkan wajah ayah-bunda kita sehingga kita selalu berikhtiar agar bisa menjadi anak yang saleh. Allah yang menumbuhkan jalan bagi sukses pekerjaan kita. Allah yang menyingkirkan aral yang melintang sehingga kita bisa sampai di garis finis tugas-tugas kita di kantor. Allah adalah alasan bagi semua kebaikan yang mungkin kita lakukan. Allah adalah segala-galanya dalam kehidupan kita.

Maka, kembalikan semua pujian, penghargaan, dan penghormatan hanya kepada Allah. Jika kita  membiasakan berperilaku seperti ini maka Allah akan melempangkan jalan kita untuk selalu berada di dekat-Nya. Paling kurang, Allah akan selalu setia menemani kita, meluruskan jika polah tingkah kita berbelok, memperbaikinya jika ada yang kurang, menegur kita jika amalan tidak berdasarkan semua tuntunan-Nya, dan memaafkan jika kita memohon ampun karena mengakui kesalahan.

 

REPUBLIKA.CO.ID

Kemenag Diminta Segera Temukaan Jamaah Yang Hilang usai Peristiwa Crane

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Komisi VIII DPR RI mendesak kementerian agama untuk segera mencari kejelasan status jamaah haji Indonesia yang sampai hari ini belum ditemukan pascaperistiwacrane di masjidil Haram Jumat lalu.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengatakan, jamaah yang belum kembali tersebut bernama Janniro binti H Gadumbang berasal dari kloter 9 Embarkasi Kualanamu Medan.

“Saya telah menyampaikan informasi ini kepada PPIH (Petugas Pelaksana Ibadah Haji) daker Mekkah. Saya juga melaporkan hal itu langsung kepada menteri agama. Mereka berjanji akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencari jamaah tersebut,” ujar Saleh kepada Republika.co.id, Selasa (15/9).

Ia menjelaskan, Selasa (15/9) sore waktu Arab Saudi, rombongan pengawas Komisi VIII akan bertolak ke Makkah untuk melakukan rapat koordinasi sekaligus mendengar laporan dari PPIH daker Makkah. Rapat koordinasi tersebut juga akan dihadiri oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah beserta jajaran kementerian agama lainnya.

Komisi VIII juga akan mengunjungi rumah sakit tempat jamaah haji Indonesia dirawat. Selain itu, tim pengawas DPR RI juga akan mencari jamaah yang belum diketahui keberadaannya tersebut.

Redaktur : Didi Purwadi
Reporter : Marniati

Berbicara Saat Berwudhu

Assalamualaikum Ustadz yang insya Alloh dimuliakan Allah..

Saya mau menanyakan hukum berbicara di saat kita sedang berwudhu. Apakah wudhu kita batal atau tidak? Mohon penjelasannya ustadz,jazakallah.

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Maulana yang dimuliakan Allah swt

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa berbicara dengan orang tanpa adanya suatu keperluan disaat berwudhu adalah bertentangan dengan keutamaan. Akan tetapi jika terdapat suatu keperluan untuk dibicarakan karena jika tidak dibicarakan —saat berwudhu— dikhawatirkan hilang kesempatannya maka hal itu tidaklah termasuk kedalam meninggalkan adab.

Sementara itu para ulama Maliki berpendapat makruh berbicara disaat berwudhu selain daripada dzikrullah. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 12756)

Namun demikian berbicara disaat berwudhu tidaklah membatalkan wudhu orang tersebut meskipun perbuatan itu termasuk yang dimakruhkan karena bertentangan dengan keutamaan.

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo

 

sumber: EraMuslim.com

 

Tanggung Jawab Seorang Muslimah

Pada dasarnya tanggung jawab seorang wanita muslimah dan laki-laki muslim semuanya sama di hadapan Allah yaitu beribadah kepada-Nya, menjalankan fungsi kekhalifahan di atas muka bumi, menyeru pada yang haq dan berusaha menghindar pada yang munkar. Seperti yang telah dicantumkan dalam QS. An-Nisa: 124 yang artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.

Pada waktu tertentu, tanggung jawab wanita muslimah tidak kalah sedikit dibanding kaum laki-laki. Bahkan adakalanya lebih besar, karena jika dirinci secara mendetail terdapat jauh lebih banyak tugas wanita dibanding laki-laki, meski begitu keduanya memiliki porsinya masing-masing.

Di zaman sekarang ini banyak wanita merasa bangga ketika menjadi sosok yang hebat dan berhasil di dunia karirnya, di negeri barat sana bahkan banyak wanita yang menyengaja untuk memilih tidak mempunyai anak karena dianggap merepotkan dan mengganggu rutinitasnya. Na’udzubillah

Sebagai seorang muslimah tentu kita patut merenungi hakikat sosok seorang wanita itu sendiri. Mengapa Allah menciptakan hawa dengan segenap kekurangan dan kelebihannya? Mengapa wanita ditakdirkan mempunyai rahim dan sifat kasih sayang? Mengapa pula Allah memerintah agar kaum hawa senantiasa menjaga dirinya? Tentu semua itu karena wanita mempunyai peran yang cukup penting dalam sebuah kehidupan. Hal ini dapat dilihat dalam pembagian periode kehidupan wanita muslimah beserta tanggung jawab yang patut diikhtiarkan dalam memenuhinya.

Dua Periode Kehidupan Wanita Muslimah

Pertama, Sebelum Menikah

Saat seorang wanita muslimah belum menikah, maka ia mempunyai tanggung jawab untuk menunaikan hak-hak kedua orang tuanya. Beberapa tanggung jawab wanita muslimah terhadap kedua orang tuanya antara lain:

1. Birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua)

Allah azza wa Jalla memberikan kedudukan tinggi dan mulia kepada orang tua. Allah meletakkan kedudukan tersebut setelah kedudukan iman dan tunduk patuh pada-Nya. Seorang muslimah yang menyadari akan petunjuk Illahinya itu tentu akan berusaha untuk selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Tanggung jawab ini tidak akan berhenti sampai berumah tangga nanti, akan tetapi terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Meski setelah menikah sosok terpenting untuk dihormati adalah suaminya sendiri.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam menempatkan birrul walidain di antara dua amalan terbesar dalam Islam, yaitu shalat pada waktunya dan jihad di jalan Allah, karena shalat merupakan tiang agama, sedangkan jihad di jalan Allah adalah puncak perjuangan tertinggi dalam Islam. Di sisi lain ada pula hal penting yang perlu menjadi perhatian yaitu berusaha berbuat baik kepada kedua orang tua meski keduanya bukan muslim. Seperti yang dikisahkan dalam hadits berikut ini:
Asma binti abu Bakar RA berkata: “Ibuku pernah mendatangiku, sedang dia seorang musyrik pada masa Rasulullah, lalu aku meminta petunjuk kepada Rasul: “Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu?” Beliau menjawab: “Benar, sambunglah hubungan dengan ibumu!” (Muttafaq ‘alaih).

2. Menghormati dan menjalin hubungan yang baik terhadap kerabat-kerabatnya

Menghormati kerabat orang tua berarti menjalin silaturahim yang baik dan memelihara hubungan kekeluargaan dengan kerabat mereka baik dari jalur ibu dan bapak seperti paman, tante, sepupu, dan kerabat yang lainnya.

3. Mendoakan dan Memohonkan Ampun

Dalam sebuah hadits pernah diceritakan, bahwa ada orang tua yang bertanya-bertanya kepada Allah pada hari pembalasan karena mendapatkan nikmat surga, lalu Allah menjawab bahwa itu karena doa anaknya yang shalih (Muttafaq ‘alaih).
Dalam Al-Quran surah Al Israa: 24 juga difirmankan bahwasanya Allah memberikan tuntunan bagaimana seharusnya seorang anak tidak melupakan orang tuanya dalam doa.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”. (Al Israa: 24)

Mendoakan kedua orang tua berarti berbakti kepada mereka, bentuk amal kebajikan yang tidak akan terhalang hingga di hari pembalasan. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa salah satu di antara 3 amal manusia yang tidak putus salah satunya adalah doa anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya.

Mendoakan juga merupakan bentuk ikhtiar untuk mempererat hubungan ruhiyah antara anak dan orang tua kepada Allah. Bagi wanita muslimah ini sangat utama karena pada akhirnya ia juga akan menjadi seorang ibu. Sehingga ia akan menghayati betapa berartinya sebuah doa dari anak-anaknya. Dalam mendoakan tidak hanya meminta kebaikan bagi mereka saja tetapi memohonkan ampun atas dosa-dosanya. Tentu kita ingat ketika kita masih kecil, kedua orang tua kita lah yang selalu merawat dan mendoakan agar kita tumbuh besar, sehat, cerdas, dan beriman, bahkan hingga kita dewasa dan sering berbuat kekhilafan, seringkali mereka memaafkan dan memohonkan ampunan bagi kita. Setiap doa dari mereka bahkan senantiasa diucapkan dengan penuh ketulusan tanpa putus.

4. Menunaikan Janjinya

Meski seorang wanita kita juga mempunyai tanggung jawab untuk menunaikan janji kedua orang tua kita meski keduanya telah meninggal. Pernah dikisahkan seorang wanita dari suku Juhainah datang menghadap Nabi SAW, selanjutnya wanita itu bertutur:

“Ibuku pernah bernadzar untuk menunaikan ibadah haji tapi ia meninggal sebelum sempat menunaikannya. Apakah aku harus berhaji untuknya?” Nabi menjawab, “Ya, berhajilah untuknya, bukankah engkau mengetahui bahwa apabila ibumu mempunyai uang engkau akan membayarnya, karena itu tunaikanlah haji, karena hak Allah itu lebih wajib untuk dipenuhi.” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu penting bagi wanita muslimah mengetahui dan berusaha menunaikan janji termasuk utang kedua orang tuanya. Sehingga dapat membebaskan kedua orang tuanya ketika ditanya tentang utang-utangnya ketika akhirat nanti.

Kedua, setelah menikah

Periode berikutnya adalah periode baru dalam kehidupan seorang wanita muslimah, karena setelah menikah berarti ia memasuki kehidupan berkeluarga untuk membentuk rumah tangga Islami. Pada periode ini, ada beberapa tahap yang perlu dipelajari, karena ketiganya merupakan bagian tanggung jawab yang besar:

1. Tanggung Jawab Terhadap Suami

Taat pada suami
Ketaatan seorang wanita muslimah pada suaminya adalah perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung. Di balik perintah Allah ini terkandung berbagai keutamaan, antara lain:

Masuk pintu surga dari pintu surga mana saja yang dikehendaki. Rasulullah Sallalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, shaum di Bulan Ramadhan, dan taat kepada suaminya maka ia berhak masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki” (HR Ahmad dan Thabrani).

Mendapat ampunan
“Burung-burung di udara, hewan di lautan, dan para Malaikat akan memohon ampunan kepada Allah bagi seorang wanita yang taat pada suaminya dan suaminya ridha kepadanya” (Muttafaqun ‘alaih). Perlu kita perhatikan bahwasanya ketaatan seorang istri kepada suaminya tentulah selama suaminya mengajak kepada kebaikan dan tidak mengajak bermaksiat kepada Allah.

Menjaga kehormatan suami

Amanah yang sungguh berat, karena kehormatan suami juga merupakan kehormatan istrinya. Dalam menjalankan tanggung jawab tersebut memang tidak mudah, sehingga pantaslah seorang suami ditakdirkan menjadi imam dalam sebuah rumah tangga, karena seorang suami berhak membimbing istrinya agar juga menjaga kehormatan suami dan keluarganya. Dalam hal ini keduanya mempunyai peran untuk saling mengingatkan agar kehormatan keluarga tetap terjaga dan tidak terjerumus dalam fitnah.

2. Tanggung jawab terhadap anak-anak

Selain menjaga kehormatan pada suami ada pula tanggung jawab seorang muslimah sebagai seorang ibu. Dalam hal ini peran dan tanggung jawab seorang ibu untuk mendidik anak-anak mereka jauh lebih utama dari pekerjaan kantornya sekalipun (bila mereka bekerja), karena pada hakikatnya yang bertanggung jawab mencari nafkah adalah seorang suami, sedang wanita berkewajiban untuk taat selama diperintah dalam kebaikan, ketaatan itu salah satunya dengan menjaga dan mendidik anak-anaknya.

Pendidikan anak sangat disarankan untuk memulainya sejak dini, bahkan sedari dalam kandungan. Oleh karena itu para muslimah harus mencari sosok imam yang baik bagi anak-anak mereka nanti, yaitu laki-laki shalih yang berilmu dan cukup finansialnya, sehingga ia akan bertanggung jawab sepenuhnya kepada istri dan generasi keturunannya di dunia dan insya Allah di akhirat kelak. Hal ini juga tercantum dalam QS. An-Nisa: 9 yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” 

3. Tanggung jawab terhadap masyarakat

Wanita muslimah yang sudah berumah tangga bukan berarti mereka hanya berdiam diri di dalam rumah dan enggan bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Baiknya mereka tetap beramar ma’ruf di lingkungan masyarakat, bahkan berusaha menjadi teladan yang baik, seperti tidak tamak dan sombong. Meski hal itu merupakan kewajiban, tentulah dalam prakteknya harus mendapat izin dari imam di keluarga tersebut, karena sejatinya seorang istri adalah makmum dari suami yang sama-sama tinggal dalam sebuah lingkup masyarakat dan masyarakat sendiri merupakan lahan dakwah yang utama bagi mereka.

Allahu a’lam bisshawab.

Astaghfirullahal ‘adzim.

Redaktur: Ardne

Sumber: Dakwatuna

Manfaat Shalat Dhuha

Ass Ustad,,,,

saya mau bertanya apa manfaat sholat dhuha & apa saja makna dari sholat dhuha tersebut???

oya satu lagi ustad,,,apakah di perbolehkan jika kita jarang untuk sholat subuh tapi untuk sholat dhuha kita sering melakukannya….(hampir tiap hari sholat dhuha )

sekian dulu pertanyaan dari saya ustad,,,

Ass…

Hamba Allah

Waalaikumussalam Wr Wb

 

 

Jawab:

Ada yang mengatakan bahwa shalat dhuha juga disebut shalat awwabin. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa keduanya berbeda karena shalat awwabin waktunya adalah antara maghrib dan isya.

Waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan berakhir hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik.

Adapun diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Juga apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya,”Siapakah yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau saw menjawab,”Dahak yang ada di masjid, lalu pendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Didalam riwayat lain oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh berkata,”Nabi saw kekasihku telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat dhuha dan mengerjakan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah bahkan para ulama Maliki dan Syafi’i menyatakan bahwa ia adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits-hadits diatas. Dan dibolehkan bagi seseorang untuk tidak mengerjakannya.

Berbeda dengan shalat shubuh maka tidak ada perbedaan dikalangan ulama bahwa ia adalah wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya dan berdosa jika ditinggalkan. (baca : Cara Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan).

Dengan demikian tidak dibenarkan bagi seorang yang hanya mengerjakan shalat dhuha yang kedudukannya sunnah sementara dirinya meninggalkan shalat shubuh yang kedudukannya lebih tinggi darinya yaitu wajib.

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo Lc-

 

 

sumber: EraMuslim.com

Penjajah Zionis Serbu Masjid Al-Aqsha, 110 Orang Korban

Pasukan penjajah Israel hari Ahad (13/09/2015) pagi, mengepung Kota Tua (Baldah Qadimah) di al Quds dan mendirikan pos-pos pemeriksaan militer di gerbang-gerbangnya.

Pasukan dalam jumlah besar menyerbu area masjid al Aqsha dan Mushala al Kibli. Mereka menghujani para jamaah di dalam masjid al Aqsha dengan tembakan meriam suara, gas dan peluru karet. Sehingga sejumlah jamaah mengalami luka.

Menurut sumber-sumber di al Quds dikutip PIC, jumlah korban yang terluka akibat penyerbuan ini mencapai 110 orang.

Sejak pagi pasukan penjajah Zionis melarang semua kaum perempuan dan laki-laki di bawah usia 50 tahun, semua pelajar sekolah syariat, para penjaga dan pegawai wakaf untuk masuk ke masjid al Aqsha.

Menurut Pusat Informasi Urusan al Quds dan al Aqsha, pasukan penjajah Zionis menyerbu mushalat al Kibli hingga berjarak beberapa meter.

Mereka menghujani para jamaah yang beri’tikaf di dalamnya dengan gas beracun dan peluru karet. Sehingga mengkibatkan banyak jamaah mengalami sesak nafas dan terluka. Anggota pasukan Zionis juga menyerang para penjaga masjid al Aqsha dengan brutal dan menangkap salah seorang dari mereka.

Asap membumbung di sisi selatan mushalat al Kibli. Kebakaran meletus di sisi selatan mushala al Kibli. Kaum laki-laki dan anak-anak yang ada di dalam masjid al Aqsha segera memadamkannya.

Sejak pagi, sejumlah warga Palestina dari al Quds dan wilayah Palestina terjajah tahun 1948 telah bersiaga di sekitar masjid al Aqsha di depan puluhan pos militer yang didirikan pasukan penjajah Zionis di sekitar masjid al Aqsha, di samping para jamaah yang sudah beri’tikaf di dalam masjid sejak Sabtu malam.

Di area masjid al Aqsha saat ini sedang terjadi konfrotnasi sengit antara pasukan penjajah Zionis dan para jamaah. Pasukan penjajah zionis mengeluarkan mereka dengan paksa dari dalam masjid al Aqsha.

Menteri Pertanian Zionis Ory Ariel bersama sekitar 40 pemukim Yahudi menyerbu masjid al Aqsha dengan mendapatkan penjagaan dan perlindungan ketat dari pasukan penjajah Zionis.

“Kami tidak bisa menggambarkan kehancuran yang terjadi pada mushalat al Kibli. Dan kami tegaskan bahwa kehancuran saat ini belum pernah terjadi sejak pembakaran yang dilakukan teroris Yahudi pada 21 Agustus 1969,” ujar seorang jamaah di dalam masjid al Aqsha dikutip PIC.

Menurut keterangan para saksi mata, pasukan penjajah Zionis mencegah bantuan medis mendekati lokasi dan mengevakuasi korban. Pasukan Zionis menyita alat pemadam kebakaran yang ada. Mereka menghancurkan semua jendela mushala al Kibli. Sebagian serdadu berusaha naik ke atas mushalat al Kibli dan menguasai para jamaah yang ada di dalamnya.

Lebih serius, pasukan polisi penjajah Zionis mencegah para pegawai dan penjaga masjid al Aqsha masuk ke dalam masjid. Mereka mengusir siapa saja yang ada di dalamnya dan menyerang Direktur Wakaf di al Aqsha, Syaikh Umat Kiswani, dan penjaga utama.

Di sekitar masjid al Aqsha, konfrotnasi meletus sengit, tempatnya di pintu Hitah, antara anggota kepolisian penjajah Zionis dan para pemuda yang dicegah masuk masjid al Aqsha.

Sebaliknya, polisi penjajah Zionis mengizinkan puluhan pemukim pendatang Yahudi untuk masuk masjid al Aqsha melalui pintu barak masjid (al Magharibah) dengan mendapatkan penjagaan dan perlindungan ketat, di antara mereka ada Menteri Pertanian Zionis Ory Ariel.

Kecaman Meluas

Sejumlah tokoh dan lembaga Islam Arab dan Palestina mengecam kejahatan terakhir penajajh Israel terbaru di Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.

 

Esesco, organisasi pendidikan, pengajaran dan kebudayaan Islam mengutuk penyerbuan tentara Zionis ke Masjid Al-Aqsha.

Dalam keteranganya, Esesco menganggap tindakan tentara Zionis tersebut sebagai sebuah kejahatan teroris yang harus dikecam oleh Negara manapun atau organisasi apapun di dunia, disamping memberikan sangsi kepada para pelaku.

Sementara itu, Kepala Urusan Agama Turki, Muhammad Cormakh mengecam penyerbuan pemukim dan serdadu ke pelataran Al-Aqsha dan melakukan penodaan terhadap Masjid Kiblati.

Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas Izet Rasyq mengatakan bahwa penyerbuan dan penodaan yang dilakukan Menteri Pertanian Zionis dan para gerombongan pemukim Yahudi ke masjid al Aqsha hari Ahad (13/09/2015), adalah kejahatan perang, yang bertujuan mengukuhkan rencana penjajah membagi masjid menjadi dua; antara kaum Muslimin dan orang Yahudi secara waktu dan tempat.

“Kebrutalan dan kejahatan penjajah Zionis terhadap masjid al Aqsha dan pembakaran mushala al Kibli pada hari ini (Ahad, red), merupakan eskalasi berbahaya dalam serangkaian kejahatan penjajah Zionis terhadap masjid al Aqsha dan tempat-tempat suci di Palestina,” ujar Rasyq.

“Penyerbuan Mushala al Kibli dan pengusiran penjaganya, serta laragan bagi para penuntut ilmu untuk masuk ke dalamnya, merupakan kejahatan yang melanggar semua garis merah. Kami tidak akan membiarkan pembagian al Aqsha terjadi, apapun yang harus ditanggung,” tambahnya.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

sumber: Hidayatullah.com

Sering Merasa Dengki? Inilah Cara Mengatasinya

Oleh Nashih Nashrullah

Hasad atau iri-dengki merupakan satu dari sekian penyakit yang mematikan. Bagaimana tidak, penyakit tersebut, seperti diidentifikasikan oleh Ibnu Hajar, sebagaimana dinukilkan dari kitab Fath al-Bari, seseorang tidak ingin nikmat yang diimiliki orang lain itu bertahan lama. Bila perlu, segera hilang dari tangannnya. Bahkan, ganti berpindah ke pangkuan pelaku hasad tersebut.

Apa dan bagaimana hal ihwal hasud? Topik ini dibahas oleh Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad. Sekalipun uraiannya tidak selengkap layaknya sebuah eknsiklopedi, tetapi besutan sosok yang akrab dipanggil dengan sapaan Abu Abdullah itu cukup lengkap dengan bahasa yang renyah dan menyentuh semua lapisan masyarakat. Ini penting lantaran dengki menyerang siapa pun, tak peduli latar belakangnya.

Syekh Musthafa mengemukakan, dengki bisa saja muncul akibat beberapa faktor. Pemicu yang paling banyak mendominasi adalah permusuhan dan kebencian, yang barangkali termanifestasikan dalam perilaku ataupun tidak. Faktor ini juga mungkin timbul akibat perlakuan lalim terhadap si pelaku dengki.

Sumpah serapah pun dengan mudah menyeruak, entah celaka, binasa hartanya, atau dampak tak mengenakkan lainnya. Kecintaan terhadap harta dan jabatan juga bisa mendorong dengki diri seseorang. Ambisi meraih itu semua terkadang membutakan nurani. Bahkan, tak jarang pula menempuh berbagai cara agar orang lain sulit mencapai pangkat tersebut.

Teguran agar menjauhi pemicu dengki ini pernah disebutkan dalam surah an-Nisaa’ ayat 54. “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”

Rasa dengki juga bisa datang akibat berebut popularitas. Dan, kesemua faktor tersebut bermuara pada satu pangkal sebab, yakni lemahnya spiritualitas. Frekuensi iri yang ada dalam diri seseorang terkadang melintas ruang dan waktu. Namun, kadarnya akan semakin akut bila jarak antarkedua belah tak jauh. Misal, sesama karyawan dalam satu perusahaan, antartetangga kompleks perumahan, atau teman bisnis.

Bila dengki ini dibiarkan, ungkap Syekh Musthafa, bisa berakibat fatal. Pendengki sejatinya telah menafikan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Setiap makhluk memiliki nasib dan rezeki yang berbeda-beda. Ketetapan tersebut, seperti penegasan hadis riwayat Muslim dari Amr bin al-Ash, telah ditentukan sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, sekitar 50 ribu tahun.

Kedengkian yang berlarut-larut pula, perlahan tanpa disadari, akan mengikis kebaikan pendengki itu sendiri. Dan, para pendengki itu kelak akan mempertanggungjawabkan kelakuannya tersebut di akhirat. Efek negatif dengki tak terhenti pada sanksi di akhirat, tetapi juga akan dirasakan dampaknya di kehidupan dunia.

Perasaan gundah gulana, khawatir, dan sakit hati akan selalu menghantui hari demi hari si pendengki. Dalam titik tertentu, terkadang ironsinya, ia malah mengharapkan petaka bagi dirinya sendiri. Dan, rasa dengki itu hanya akan menyebabkan yang bersangkutan terkucil dari lingkungannya. Karena itulah, rasa dengki dengan kriteria di atas sangat dikecam dalam agama. “Ini bukti keluhuran tuntunan Islam,” kata Syekh Musthafa.

Syekh Musthafa pun memaparkan beberapa solusi dan cara sederhana guna mengikis kedengkian dalam diri seseorang. Ingat, bertawakallah selalu. Karena, ungkap Ibnu al-Qayyim, hanya dengan bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian akan seseorang. Jika memosisikan Allah sebagai satu-satunya pelindung, sejauh itu pula penjagaan akan selalu ada. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS at-Thalaq [65]: 3).

Sebagai langkah antisipasi, jangan sesekali menceritakan apalagi sengaja memanas-manasi ‘si pendengki’ dengan kisah-kisah tentang nikmat dan anugerah yang Anda peroleh.

Memang, ada anjuran untuk menceritakan nikmat, tetapi tak selamanya niat baik itu tepat sasaran. Inilah mengapa Nabi Ya’qub AS melarang putranya, Yusuf AS, mengisahkan mimpi yang dialami putra kesayangannya tersebut kepada segenap saudaranya. (QS Yusuf [12]: 5).

Larangan ini juga seperti ditegaskan dalam hadis Abu Qatadah riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW melarang menceritakan mimpi baik, kecuali kepada orang yang ia percayai.

Resep membendung rasa dengki selanjutnya, menukil dari pernyataan Ibn al-Qayyim, bersikap cuek dan berusaha membersihkan pikiran dari tingkah laku pendengki. Biarkan seperti angin lalu saja. Bahkan, akan sangat baik bila Anda membalas perlakuan buruk itu dengan tindakan baik. Memadamkan api kedengkian itu dengan balasan berupa perbuatan terpuji. “Tetapi, ini sangat sulit,” kata Ibn al-Qayyim.

Dan terakhir, selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki, entah mereka yang berada jauh dari Anda, ataupun yang dekat dengan Anda sekalipun. “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS al-Falaq [113]: 2)

 

 

sumber: Republika Online

Terdapat Tujuh Faktor Kenapa Penyakit Hasad Dengki Menguasai Diri Manusia

Oleh: Ustaz Abu Basyer

 

Sahabat yang dirahmati Allah,

Hasad dengki adalah satu sifat mazmumah yang  dibenci oleh Allah S.W.T. Sesiapa yang ada sifat ini sebenarnya ia tidak meredai ketentuan Allah S.W.T  yang telah dikurniakan sesuatu kelebihan atau nikmat kepada seseorang dikalangan hamba-hamba-Nya.

 

Terdapat tiga ciri  sekiranya ada pada diri seseorang ia mempunyai penyakit hasad dengki.

 

1. Yaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.

 

2. Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.

 

3. Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerosakan.

 

 

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali ada disimpulkan tujuh faktor  yang menimbulkan perasaan hasad dengki tersebut.

 

Antara lain :-

 

1) Perasaan Permusuhan dan Kebencian

 

2) Merasa Diri Mulia

 

3) Takabbur

 

4) Ujub

 

5) Takut Terlepas Sesuatu Tujuan dan Habuan

 

6) Ghairah Menjadi Ketua dan Mencari Populariti

 

7) Busuk Hati.

 

Huraian faktor-faktor tersebuat adalah seperti berikut.

 

Pertama : Perasaan Permusuhan dan Kebencian

 

Ini adalah sebab yang paling banyak menimbulkan kedengkian. Kerana sesiapa yang disakiti oleh seseorang lain atas sebab-sebab tertentu atau menyangkalnya dalam tujuan-tujuan tertentu lantaran alasan-alasan tertentu, hatinya pasti marah lalu membenci orang yang menyakitinya itu, maka tertanamlah bibit dengki dalam dirinya. Dengki mengundang perlakuan yang agresif untuk memuaskan hatinya.

 

Pendekkata perasaan hasad dengki sentiasa bergandingan dengan perasaan marah dan permusuhan. Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat marah, kerana marah adalah salah satu tabiat manusia. maka agama tidak melarang marah, tetapi kita diperintahkan untuk dapat mengendalikan marah dan senantiasa menjadi pema’af.

 

Fiirman Allah s.w.t  yang bermaksud : “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”

(Surah Al-A’raaf ayat 199)

 

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud : ”Orang yang terkuat di kalangan kamu semua ialah orang yang dapat  mengalahkan hawa nafsunya di ketika dia marah dan orang yang tersabar ialah orang yang suka memberikan pengampunan di saat dia  berkuasa memberikan balasan (kejahatan orang yang menyakitinya)”

(Hadis Riwayat Baihaqi)

 

Kedua : Merasa Diri Mulia

 

Perasaan ini manifestasinya ialah seseorang itu merasa keberatan kalau ada sesiapa yang dianggapnya mengatasi dirinya. Dia tidak rela kalau ada orang lain melebihinya. Kalau ada orang –orang sepertinya yang mendapat lebih pangkat, kuasa, ilmu dan harta, dia bimbang kalau-kalau orang tersebut akan bersikap sombong terhadapnya. Dia tidak boleh tahan dengan sikap mengatasi yang ditunjukkan oleh saingannya itu. Malah dia tidak boleh menerima apa yang dirasakannya sebagai sikap mengatasinya.

 

Ketiga : Takabbur

 

Jelasnya seorang itu mempunyai watak membesarkan diri terhadap orang lain, selalu memperkecilkan dan mempergunakan seseorang untuk kepentingan dirinya. Ia menganggarkan seseorang itu mematuhinya. Apabila orang berkenaan menerima atau memperolehi sesuatu kurnia ia khuatir kalau-kalau orang itu tidak lagi merelakan diri untuk mengikut arahannya. Akhirnya orang yang telah mendapat kurnia tersebut akan enggan mengikutinya, atau boleh jadi ia menganggap orang tersebut akan cuba pula menyainginya.

 

Allah S.W.T. berfirman (di dalam Hadis Qudsi) : “Kesombongan adalah selendangKu dan kebesaran adalah sarungKu. Maka barang siapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasti Kulemparkan ia ke dalam Jahannam dan tidak akan Kupedulikan lagi.” 

Apabila kita meneliti maksud hadis ini, ia dengan jelas menyatakan bahawa kesombongan dan kebesaran itu hanya milik Allah s.w.t. semata-mata, tetapi bagaimanakah perasaan ini masih boleh timbul di dalam hati manusia?

Sebenarnya, perasaan sombong atau takabbur boleh berlaku apabila timbulnya suatu pandangan terhadap orang lain dengan pandangan yang kecil dan hina.

 

Keempat : Ujub (bangga diri)

 

Terdapat tiga ciri-ciri ujub iaitu :

 

a. Iaitu merasai atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.

 

b. Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahawa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahawa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.

 

c. Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahawa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.

 

Pernah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan kepada kita perihal umat-umat di zaman silam. Mereka merasa takjub dengan diri mereka sendiri. Hal ini menghalang mereka menurut kebenaran. Hujjah mereka selalunya ialah seperti yang tertera di dalam Al-Quran :-

 

“Bukankah kamu tak lebih dari manusia(biasa) seperti kami juga?”

 

Dan ungkapan yang berbunyi: “Dan mereka berkata adakah wajar kami mempercayai manusia yang seperti kami juga?”

 

Golongan tersebut merasa aneh melihat orang yang berjaya mendapat pangkat kerasulan, menerima wahyu dan martabat yang dekat di sisi Allah Subhanuahu Wata’ala ialah manusia seperti mereka. Sebab itu mereka menaruh rasa dengki kepada Rasul-Rasul tersebut.

 

Kelima : Takut Terlepas Sesuatu Tujuan dan Habuan

 

Biasanya perasaan ini wujud dalam kalangan orang yang saling berlumba-lumba merebut sesuatu habuan. Tiap orang akan merasa dengki kepada saingannya apabila saingannya mendapat suatu kelebihan yang boleh membantu dirinya sahaja membolot habuan yang menjadi tujuan mereka tadi.

 

Keenam : Ghairah Menjadi Ketua dan Mencari Populariti

 

Umpamanya seseorang yang bercita-cita untuk menjadi manusia pertama yang tidak ada tolok bandingnya dalam salah satu cabang seni. Apabila keghairahan terhadap pujian dan jolokan – bahawa dialah satu-satunya pakar yang tidak ada taranya di zaman itu – telah menguasai dirinya, tiba-tiba dia mendengar ada orang lain yang dapat menandinginya di tempat lain. Hal ini nescaya akan menyusahkan hati perutnya. Ia bercita-cita kalau tandinganya itu mati sahaja atau kemahirannya menurun dan pupus.

 

Ketujuh : Busuk Hati

 

Keadaan ini kalau ada pada seseorang maka ia akan bersikap tidak suka sesuatu kebaikan diperolehi oleh hamba Allah yang lain. Apabila disebutkan dihadapannya tentang kesenangan mana-mana hamba Allah, sempit hatinya mendengar perihal tersebut. Akan tetapi apabila dinyatakan pula sebaliknya, umpama tentang kesusahan, kegagalan dan nasib malang menimpa orang lain maka ia merasa gembira dan suka hati.

 

Sahabat yang dimuliakan,

Marilah sama-sama kita buangkan sifat hasad dengki ini samaada di dalam hati  atau di dalam tindakkan dan amalan kita. Sifat yang keji ini bukan saja mendapat kebencian manusia tetapi yang paling penting sifat ini di benci oleh Allah S.W.T. Hidup di dunia ini adalah sementara dan kehidupan di hari akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi maka tinggalkanlah sifat hasad dengki ini kerana sesiapa yang menuruti sifat ini dia sedang mengikut hawa nafsunya dan mengikut bisikan syaiatan dan akan mendapat azab seksaan dihari akhirat nanti.

 

Diambil dari: http://abubasyer.blogspot.com/2011_01_02_archive.html

 

[Penulis adalah Ahli Teras Pertubuhan IKRAM Malaysia]