Inilah Manfaat Gerakan Sujud

TIDAK ada keadaan yang lebih baik ketika seseorang hamba sangat dekat dengan Allah kecuali dalam sujud. Dan dengan sujud menggambarkan betapa kecil dan lemahnya kita di hadapan Allah Yang Mahabesar dan Mahakuasa.

Tidak hanya manusia, bahkan seluruh makhluk, termasuk matahari, bulan, bintang, pepohonan bahkan sel yang sangat kecil dalam tubuh makhluk hidup bersujud kepada Allah. Semua atom di seluruh jagat raya ini semuanya juga bersujud kepada Allah. Sebagaimana Allah menegaskannya dalam firman:

“Tidakkah kau lihat sesungguhnya Allah, bersujud kepada-Nya semua yang ada di langit dan yang ada di bumi, begitu juga matahari, bulan, dan bintang-bintang, juga gunung-gunung, pepohonan, dan semua makhluk yang melata, serta kebanyakan manusia. Dan banyak manusia yang lebih berhak mendapat siksa. Dan barang siapa yang merendahkan Allah, tidak ada kemuliaan padanya. Sesungguhnya Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S Al-Hajj: 18)

Dan tahukah kita sujud sangat berpengaruh untuk kesehatan tubuh kita. Sujud merupakan olahraga, gerakan tubuh sederhana yang berfaedah mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang berlebihan dalam tubuh, serta melancarkan peredaran darah, menambah kekuatan konsentrasi dan pikiran, serta melatih kita untuk bersabar dan tenang. Orang yang suka marah biasanya tidak akan bisa bersujud dalam waktu lama.

Perhatikanlah bagaimana Allah menyejajarkan sujud pada malam hari dengan kesabaran. Ini menjadi dalil bahwa memperbanyak sujud akan menyembuhkan manusia dari sifat-sifat buruk dan akan melekatinya dengan kesabaran.

Sujud menggambarkan ketundukan dan ketaatan kita sebagai manusia yang tidak ada daya dan upaya tanpa bantuan Allah Sang Pencipta. Dan ingatlah, iblis di usir dari surga karena ia tidak mau bersujud. Sikapnya itu menggambarkan kesombongan dan ketakaburan. Kita hanya makhluk ciptaan-Nya, sungguh sangat tidak pantas kita sombong dengan enggan bersujud memohon pada sang pemilik kehidupan. []

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2300307/inilah-manfaat-gerakan-sujud#sthash.oefj6ZeQ.dpuf

Rezeki Sebatas Harta

CINTA adalah rezeki, sehat adalah rezeki, pekerjaan adalah rezeki, amanah adalah rezeki, sebagaimana harta adalah rezeki. Sayangnya, kita terbiasa memandang rezeki itu hanya terbatas pada harta. Kata para ulama: “Orang miskin yang sesungguhnya adalah orang yang permintaannya kepada Zat Pemberi Rezeki melulu masalah harta.”

Sungguh kasihan kepada mereka yang tak memiliki apapun kecuali harta. Lebih kasihan lagi adalah kepada mereka yang tak punya apa-apa sama sekali, termasuk harta. Berbahagialah mereka yang memiliki iman dan Islam dalam kehidupannya. Mereka adalah orang kaya yang sesungguhnya yang akan senantiasa disayang, dilindungi dan dirahmati Allah SWT.

Selalu saja nikmat iman dan islam disebut dalam khutbah dan ceramah. Namun jarang sekali yang bisa memahaminya sebagai nikmat, anugerah dan rezeki yang luar biasa. Karena itulah maka jarang sekali orang yang bersyukur karena telah berbuat kebaikan (ibadah). Jarang sekali kita mendengar orang tua berteriak bangga sebangga mendapat kabar anaknya menjadi juara kelas. Pertanyaannya: mengapa?

Jawabannya adalah karena pendidikan agama kita saat ini masih terbatas pada pengetahuan agama, bukan pada pelatihan rasa atau hati dalam beragama. Pendidikan kita saat ini lebih pada sesuatu yang tampak, berwujud dan nyata, tidak menyentuh sesuatu di atas apa yang bisa dilihat, diraba dan dirasa. Akhirnya, agama hanya apa yang dihapal di kepala dan tidak pernah menyentuh pada apa yang seharusnya ada di hati.

Sampai jumpa dalam pondok ramadan di pondok pesantren kota Alif Laam Miim Surabaya. InsyaAllah kita akan kaji masalah ini. Berminat? Daftar saja. Salam, AIM, Pengasuh. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2300814/rezeki-sebatas-harta#sthash.Qh0BUku1.dpuf

Suara Imam Tak Terdengar, Batalkah Salat Makmum?

JIKA pada salat jemaah, suara imam terlalu pelan, bahkan tidak terdengar suara sama sekali, apakah salat jemaahnya batal? Bagaimana jika ada sebagian makmum yang membatalkan diri?

Terdapat kaidah yang menyatakan,

“Siapa yang salatnya sah, maka salat berjemaah dengannya juga sah.”

Para ulama menyebutkan bahwa keras dan pelannya bacaan imam, baik dalam takbir maupun tasmi Itidal, hukumnya anjuran. Bukan wajib, bukan pula rukun. Sehingga imam yang pelan suaranya, atau bahkan sama sekali tidak terdengar makmum, salatnya tetap sah. Demikian pula makmum, salatnya sah.

Dalil bahwa imam dianjurkan mengeraskan suaranya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Imam itu ditunjuk untuk diikuti. Apabila dia bertakbir maka ikutlah bertakbir, apabila beliau rukuk, ikutlah rukuk” (HR. Bukhari 733 & Muslim 948).

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bergerak takbir setelah imam takbir, menunjukkan bahwa makmum mendengar suara komando imam. Sehingga dianjurkan bagi imam untuk mengeraskan bacaan takbirnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

Dianjurkan untuk mengeraskan bacaan tasmi (ucapan:: samiallahu liman hamidah), sebagaimana dianjurkan untuk mengeraskan takbir. Karena tasmi adalah bacaan yang disyariatkan untuk dibaca ketika berpindah dari satu rukun, sehingga dianjurkan untuk dikeraskan oleh imam, sebagaimana takbir. (al-Mughni, 1/583)

Keterangan lain disampaikan oleh Musthofa ar-Ruhaibani,

Dianjurkan untuk mengeraskan bacaan takbir, agar memungkinkan bagi makmum untuk mengikuti imam dalam shalat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Jika imam selesai takbir maka bertakbirlah.” Demikian pula dianjurkan untuk mengeraskan tasmi yaitu bacaan samiallahu liman hamidah, dan mengeraskan salam pertama, agar bisa diikuti oleh makmum. (Mathalib Ulin Nuha, 1/420).

Wallahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2300062/suara-imam-tak-terdengar-batalkah-salat-makmum#sthash.V93gg3Pq.dpuf

Tindakan terhadap Anak-anak yang Gaduh saat Salat

PERTAMA, wajib atas para wali anak-anak itu untuk takut kepada Allah `Azza wa Jalla dan janganlah mereka membiarkan anak-anak mereka untuk hadir di masjid selama mereka masih bermain-main.

Jika ditakdirkan anak-anak itu datang tanpa pengetahuan bapak-bapak mereka, sebagaimana yang terjadi kadang-kadang, maka wajib dilaporkan kepada bapaknya jika anaknya ada di masjid: “Ya bapak, ajak anakmu, bawa pulang dia ke rumahmu.”

Jika kita tidak mampu dan kita tidak bisa mencegah gangguan anak-anak kecuali dengan mengeluarkan mereka dari masjid, maka kita mengeluarkan mereka.

Sedangkan memutus salat karena hal itu, maka itu tidak boleh, karena seseorang jika telah masuk dalam satu perkara wajib maka dia wajib menyempurnakannya. Dan kegaduhan anak-anak kecil itu tidak menyebabkan rusaknya salat orang lain.

Kalau sampai menyebabkan rusaknya salat orang lain maka untuk melakukan perkara itu perlu diteliti lagi. Namun kegaduhan anak-anak itu tidak menyebabkan kerusakan salat orang lain, maka hendaklah mereka bersabar sampai salatnya selesai, kemudian kenalilah anak-anak itu, dan hubungilah bapak-bapak mereka.

Sedangkan menoleh (dalam salat) untuk sebuah kebutuhan tidak apa-apa. Namun menoleh dengan wajah saja, tidak boleh dengan badan keseluruhannya. Dan anak-anak itu kadang bisa diperbaiki dengan menenangkan mereka, dikatakan:

“Wahai anak-anakku, ini tidak boleh. Ini adalah rumah Allah. Sedang mereka itu bapak-bapak kalian dan saudara-saudara kalian, kalian jangan membuat mereka gelisah dan janganlah kalian merusak salat mereka.”

[Liqa al-Bab al-Maftuh: Pertemuan 94 ke No. 17, al-Maktabah asy-Syamilah/Abu Abdirrahman Muhammad Dahler]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2300358/tindakan-terhadap-anak-anak-yang-gaduh-saat-salat#sthash.jW4nusJe.dpuf

Anjuran Letak Rumah Seorang Muslim

PERTAMA, dianjurkan bagi seorang muslim untuk mencari rumah atau membangun rumah yang dekat dengan masjid.

Hal ini dimaksudkan agar memudahkan baginya untuk menunaikan shalat berjamaah dan ibadah yang lainnya di masjid.

Walaupun yang lebih utama adalah jauh dari masjid, karena setiap langkahnya akan dihitung pahala. Tapi, karena mengingat lemahnya iman pada umat Islam dan pengaruh lingkungan yang banyak sekali kemaksiatan pada zaman sekarang, dekat dengan masjid lebih utama untuk menjaga diri dan keimanan seseorang. Wallahu alam bisshawab.

Kedua, mencari rumah atau membangun rumah yang jauh dari lingkungan maksiat atau tetangga yang buruk.

Lingkungan yang dekat dengan kemaksiatan atau tetangga yang buruk memiliki pengaruh yang luar biasa pada sebuah keluarga. Sebagaimana kisah yang panjang, yaitu kisah perjalanan taubatnya seseorang yang telah membunuh 100 orang, padanya disebutkan:

“Pergilah engkau ke sebuah negeri seperti ini dan seperti ini (yang disifatkan padanya negeri tersebut), karena sesungguhnya di dalamnya terdapat kaum yang beribadah kepada Allah Taala, beribadahlah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negri yang jelek (banyak kemaksiatannya). (HR. Muttafaqun alaih No : 2766 dari Abu Said Al-Khudri radhiallahuanhu)

Ketiga, memperhatikan hal-hal yang mendukung kesehatan pada sebuah rumah.

Di antaranya dengan menjauhi membangun rumah di tempat-tempat yang kotor, seperti dekat tempat-tempat pembuangan sampah, dekat genangan-genangan air, dll.

Karena kebersihan dan kesucian adalah sebagian dari iman, maka wajib bagi seorang muslim untuk memperhatikan kebersihan dan kesucian tempat tinggalnya, lingkungannya, serta dirinya, karena lingkungan juga menunjukkan pribadi si penghuninya. Zhahir dari sesuatu adalah cerminan bagi batinnya.

Dari Abu Malik Al-Asyariy radhiallahuanhu bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Kesucian adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)

Sebagaimana makanan, lingkunganpun bisa mempengaruhi tabiat manusia, dimana disyariatkan untuk tidak makan daging hewan yang kebiasaannya memakan kotoran sebelum dikurung/dikarantina tiga hari atau lebih.

Atau kita dilarang untuk memakan hewan yang bertaring karena ditakutkan tabiat hewan tersebut akan ditiru oleh pemakannya, karena daging yang tumbuh pada manusia itu dari binatang tadi.

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Keangkuhan dan kesombongan ada pada penggembala unta, ketenangan dan kewibawaan ada pada penggembala kambing”. (HR. Muslim)

Dalam hadits ini memberikan faidah bahwasanya kebersamaan akan saling mempengaruhi sebagaimana penggembala unta yang setiap hari bersamanya, jadilah dia seorang yang sombong dan keras kepala dan tinggi hati seperti keadaan unta yang mencari makan pada ujung-ujung pohon.

Begitu pula keadaan penggembala kambing, ketenangan yang dimiliki kambing mempengaruhi penggembalanya tanpa perlu berteriak-teriak, tidak seperti halnya penggembala unta.

Contoh hadits lainnya adalah sebagaimana sabda nabi shalallahu alaihi wasallam yang melarang duduk di atas kulit macan agar tidak tertular memiliki tabiat macan yang buas. Disebutkan dalam sebuah hadits:

“Beliau shalallahu alaihi wasallam melarang untuk duduk di atas kulit macan”. (Shahih. Lihat Jami Ash-shahih no. 6881, Asy-Syaikh Al-Bani)

Perkara lainnya yang mendukung kesehatan pada sebuah rumah adalah memperhatikan fisik dari bangunan rumah, di antaranya menjadikan rumahnya segar dengan memasang jendela, lubang-lubang ventilasi angin, serta tempat masuknya sinar matahari ke dalam rumah untuk kesegaran dan sirkulasi udara, dll.

[Baitiy Jannatiy (Rumahku Surgaku) halaman 30-39, Penulis al-Ustadz Abul Hasan]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2300393/anjuran-letak-rumah-seorang-muslim#sthash.DUo8nLhy.dpuf

Mengaji 1 Juz Dapat 2 Liter Pertamax Gratis

Memasuki bulan Ramadan, umat muslim semakin giat beribadah demi mendapatkan pahala. Berbagai cara dilaksanakan, seperti salat tarawih sampai membaca Al Quran.

Ada cara unik yang dilakukan PT Pertamina (Persero) untuk mendorong umat Islam makin getol beribadah. Caranya dengan memberikan BBM jenisPertamax sebanyak 2 liter untuk warga yang mau membaca 1 juz Al-Quran.

Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, program tersebut dilakukan di Ngawi terkait dengan imbauan Pemda setempat yang meminta kegiatan mengaji ditingkatkan selama bulan Ramadan.

“Hal tersebut terkait dengan imbauan Pemda setempat selama bulan suci Ramadan dengan kegiatan Ngawi Mengaji, di mana semua elemen masyarakat diminta berpartisipasi,” katanya kepada detikFinance, Senin (6/6/2016).

Sebelumnya sudah beredar foto di media sosial mengenai poster program dariPertamina tersebut. Dalam poster tersebut ditulis “Membaca 1 Juz Al-Quran gratis 2 liter Pertamax (berlaku kelipatannya). Mulai pukul 06.00 sampai 18.00 WIB selama bulan Ramadan.”

“Sejauh pantauan kami di Ngawi ada 3 SPBU yang berpartisipasi. sebagai inisiatif pengusaha SPBU terkait guna mendukung kegiatan Ngawi Mengaji dan bersifat terlokalisir di area terkait,” kata Wianda.

 

sumber: Detikcom

Menanti Pembeli Sambil Baca Alquran di Bulan Ramadhan

Selama bulan Ramadan, kawasan Jatinegara, Jakarta Timur terbilang ramai pedagang kaki lima. Sepanjang jalan dari Pasar Mester hingga Stasiun Jatinegara, pedagang kaki lima berjejeran dengan kios atau ruko.

Pengunjung bisa menemukan aneka barang di sini. Sebut saja di Jalan Matraman Raya, tepatnya di seberang Polres Jakarta Timur, para penjual menjajakan aneka barang. Ada yang menjual ponsel bekas, helm, perabotan dapur dan hewan peliharaan.

Kemudian terdapat pula Pasar Burung menuju ke arah Stasiun Jatinegara. Sepanjang jalan itu juga berjejer para pedagang batu akik, penjual buku dan kitab suci juga penjual baju baru atau bekas. Di selasar ruko juga bisa ditemui penyedia jasa urut, gambar tato juga servis jam.

Seperti hari lain, di bulan Ramadan mereka memilih untuk tetap berdagang. Menahan lapar dan dahaga bukan menjadi alasan untuk tidak bersemangat meladeni para pengunjung yang mampir.

Sambil mengisi waktu senggang, beberapa diantaranya ada yang terlihat sibuk merapikan barang dagangannya. Ada pula yang memainkan ponselnya sembari bercanda dengan pedagang lainnya.

“Ya ini cuma ngobrol-ngobrol aja. Sembari nunggu ada yang beli,” ujar Junaidi yang menjual kacamata, Senin (6/6/2016).

Menurut Junaidi, tidak ada perbedaan yang signifikan di bulan Ramadan dan biasanya. Ada saja yang mampir secara silih berganti, baik sekadar melihat-lihat saja maupun membeli dagangannya.

“Kalau bulan puasa, yang beli juga enggak jauh beda dengan hari biasa. Kecuali saya dagang makanan, jumlah yang beli di siang atau sore pasti beda,” tuturnya.

Tak jauh dari Junaidi berdagang, ada Sulistiyo yang menawarkan jasa duplikat kunci. Khusus di bulan Ramadan, Sulistyo tidak hanya duduk diam saat menanti datangnya pembeli.

Dia memilih untuk mengisi waktunya dengan membaca Alquran. Sulistyo memiliki target bisa khatam baca Alquran selama satu bulan ini.

“Setiap tahun, saya usahain khatam Alquran di bulan puasa. Sehingga bulan puasa jadi tambah semangat untuk bekerja. Buka usaha kalau tidak ditambah dengan doa ya, kurang,” ujar Sulistiyo.

Baginya, hal itu lebih manfaat dibanding mengobrol yang tidak benar. Dengan membaca Alquran selama bulan puasa, Sulistyo merasa menadapat nilai tambah.

Sulistiyo sudah buka usaha di Jatinegara sejak tahun 1984. Da juga sempat membuka usaha duplikat kunci di Pasar Senen, Jakarta Pusat selama 5 tahun.
(aws/aws)

 

 

sumber:Detik.com

Niat Puasa Cukup di Awal Ramadhan atau Setiap Hari?

Niat adalah termasuk syarat sahnya puasa. Seorang yang tidak berniat, maka puasanya tidak sah. Niat puasa ini harus dilakukan untuk membedakan dengan menahan lapar biasa. Menahan lapar bisa jadi hanya sekadar kebiasaan, dalam rangka diet, atau karena sakit sehingga harus dibedakan dengan puasa yang merupakan ibadah.

Namun, satu hal yang perlu ketahui bahwasanya niat tersebut bukanlah diucapkan (dilafadzkan). Karena yang dimaksud niat adalah kehendak untuk melakukan sesuatu dan niat letaknya di hati [1]. Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam An-Nawawi Rahimahullah, ulama besar Syafi’iyah yang mengatakan, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama”[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama” [3].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan pula, “Siapa saja yang menginginkan melakukan sesuatu, maka secara pasti ia telah berniat. Semisal di hadapannya disodorkan makanan, lalu ia punya keinginan untuk menyantapnya, maka ketika itu pasti ia telah berniat. Demikian ketika ia ingin berkendaraan atau melakukan perbuatan lainnya. Bahkan jika seseorang dibebani suatu amalan lantas dikatakan tidak berniat, maka sungguh ini adalah pembebanan yang mustahil dilakukan. Karena setiap orang yang hendak melakukan suatu amalan yang disyariatkan atau tidak disyariatkan pasti ilmunya telah mendahuluinya dalam hatinya, inilah yang namanya niat.”[4]

Wajib Berniat sebelum Fajar

Dalilnya adalah hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Hafshah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah.”[5]

Syarat ini adalah syarat puasa wajib menurut ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambali. Yang dimaksud dengan berniat di setiap malam adalah mulai dari tenggelam matahari hingga terbit fajar. [6]

Adapun dalam puasa sunnah boleh berniat setelah terbit fajar menurut mayoritas ulama. Hal ini dapat dilihat dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalil masalah ini adalah hadits ‘Aisyah ketika beliau berkata, “Pada suatu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?”, kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa hais (makanan yang terbuat dari kurma, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya sejak pagi aku berpuasa.”[7]

Imam An-Nawawi r mengatakan, “Ini adalah dalil bagi mayoritas ulama, bahwa boleh berniat di siang hari sebelum waktu zawal (matahari bergeser ke barat) pada puasa sunnah”[8].

Di sini disyaratkan bolehnya niat di siang hari yaitu sebelum melakukan pembatal puasa. Jika ia sudah melakukan pembatal sebelum niat (di siang hari), maka puasanya tidak sah. Hal ini tidak ada perselisihan di dalamnya [9].

Niat Cukup Sekali di Awal atau Tiap Hari?

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama kita.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa niat cukup sekali di awal bulan. Ini adalah pendapat ulama Malikiyah. Pendapat ini juga dipilih Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Beliau berkata, “Cukup dalam seluruh bulan Ramadhan kita berniat sekali di awal bulan, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadhan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya” [10].

Pendapat kedua, niat ini harus diperbaharui setiap harinya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Alasannya, karena puasa setiap hari di bulan Ramadhan masing-masing hari berdiri sendiri, tidak berkaitan satu dan lainnya, dan tidak pula puasa di satu hari merusak puasa hari lainnya. Hal ini berbeda dengan rakaat dalam shalat.[11]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah berkata, “Puasa bulan Ramadhan wajib di lakukan dengan berniat pada malam harinya, yaitu seseorang harus telah berniat puasa untuk hari itu sebelum terbit fajar. Bangunnya seseorang pada akhir malam kemudian makan sahur menunjukkan telah ada niat pada dirinya (untuk berpuasa). Seseorang tidaklah di tuntut melafadzkan niatnya dengan berucap: “Aku berniat puasa (hari ini)”, karena yang seperti ini adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan! Berniat puasa selama bulan Ramadhan haruslah dilakukan setiap hari, karena (puasa pada) tiap-tiap hari (di bulan itu) adalah ibadah yang berdiri sendiri yang membutuhkan niat. Jadi, orang yang berpuasa harus berniat dalam hatinya pada masing-masing hari (dalam bulan itu) sejak malam harinya. Kalau misalnya dia telah berniat puasa pada malam harinya kemudian dia tertidur pulas hingga baru terbangun setelah terbitnya fajar, maka puasanya sah, karena dia telah berniat sebelumnya. Wallahu a’lam”[12]. [AW/Tutorial Ramadhan]

 

sumber: PanjiMas

Menipu Jamaah dari Atas Mimbar Masjid

Peristiwa berikut terjadi di Kuwait. Bukan di Indonesia. Salah satu negara kaya di Teluk itu beberapa waktu lalu ramai memperbincangkan tentang seseorang — media al Sharq al Awsat tidak menyebutkan namanya — yang memanfaatkan mimbar masjid untuk mengumpulkan infaq dan sedekah.

Sampai di sini tentu tidak ada persoalan. Bukankah mimbar masjid memang diperuntukkan bagi para ulama, kiai, ustad atau siapa saja, untuk menyampaikan dakwah? Menyerukan pada kebaikan dan menyampaikan larangan untuk berbuat kemungkaran? Termasuk menghimbau kepada umat untuk berinfak, berwakaf, dan bersedekah di jalan Allah SWT?

Yang jadi masalah, orang tersebut memanfaatkan mimbar masjid untuk menipu jamaah. Caranya, dengan mengatasnamakan sebuah lembaga ia lalu mengumpulkan dana dari para jamaah masjid, yang ia katakan untuk menyantuni para fakir-miskin, yatim piato atau untuk membantu pihak mana saja yang membutuhkan. Namun, dana bantuan yang telah terkumpul ternyata untuk kepentingan diri sendiri. Untung saja kedoknya terbongkar. Orang ini pun ditangkap yang berwajib.

Yang lebih gila dari orang ini, penipuan dengan memanfaatkan mimbar masjid ini bukan hanya dilakukan terhadap satu kelompok atau komunitas. Di komunitas sufi ia mengaku sebagai mursyid. Lalu mengumpulkan dana bantuan dari kolompok ini. Kali ini ia katakan untuk membantu para pengungsi Suriah dan Irak.

Setelah itu ia pindah ke komunitas Suni lainnya. Ia sempat memberikan ceramah di tiga mimbar masjid Suni ini. Tentu saja diakhiri dengan pengumpulan dana dari para jamaah yang ia katakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kali  ini untuk para fakir miskin di Afghanistan.

Terakhir ia sempat berpakaian jubah hitam dan mengaku sebagai imam Syiah. Ia pun memberikan ceramah di komonitas-komunitas Syiah di Kuwait. Ujungnya, sekali lagi, ia pun mengumpulkan dana dari para jamaah. Kali ini, ia mengaku untuk membantu para pejuang al Khouthi di Yaman.

Seandainya di Kuwait ada gereja pun, kata pengamat Timur Tengah, Abdul Rahman al Rasyid, yang menulis cerita ini, orang seperti itu pun akan berlagak laiknya pendeta. Ia akan berbicara di depan jemaat dan mengumpulkan dana yang ia katakan untuk membantu orang-orang miskin padahal untuk diri sendiri.

Ya, menipu dengan mengatasnamakan agama adalah hal yang mudah dan ‘barang dagangan’ yang sangat menguntungkan. Bukan hanya terbatas pada penipuan dana, tapi juga ‘mencuri atau mencuci’ otak umat Islam dan anak-anak mereka.

Saksikanlah berapa banyak pemuda dari seluruh dunia yang telah menyabung nyawa mereka atas nama jihad. Mereka rela meninggalkan rumah dan orang tua demi berperang di Irak, Suriah, Afghanistan, Libia, Yaman, Filipina, dan seterusnya. Mereka kemudian bergabung dengan ISIS, Alqaida, dan kelompok-kelompok teroris lainnya. Semua itu bukti nyata betapa mudahnya mereka tertipu oleh propaganda orang-orang yang mengatasnamakan jihad. Mengatasnakamakan agama. Sementara itu mereka kini tidak tahu apa yang harus diperbuat ketika terjebak dalam perang yang tidak ada ujung-pangkalnya.

Cerita paling terkenal adalah apa yang diperankan oleh seorang dai Suriah yang dikenal dengan nama alias Abu al Qaqa. Selama bertahun-tahun ia menjadi semacam agen pencari calon ‘pejuang’ dari berbagai negara untuk dikirim berperang di Irak. Ia pula yang mengatur perjalanan mereka, mengawasi keberadaan selama di Irak, dan melatih perang sebelum mereka diterjunkan dalam perang beneran. Namun, peran yang paling penting dari Abu al Qaqa adalah bagaimana mencuci otak para pemuda itu untuk dijadikan martir di Irak.

Pada 2007 Abu al Qaqa terbunuh. Di mata pengikutnya mungkin ia dianggap sebagai pahlawan. Namun, sebenarnya ia hanyalah perwira menengah interjen Suriah. Namanya Mahmoud Agassi.

Ya, agama memang menyangkut kepercayaan, keimanan, dan keyakinan hidup seseorang. Apalagi ia juga terkait dengan surga dan neraka. Karena itu agama sangat rawan untuk disalah-gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Ia sangat berpotensi untuk dimanfaatkan para penipu berkedok agama, para petualang perang, dan para politisi haus kekuasaan.

Apa yang terjadi di negara-negara Timur Tengah sana tentu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita di sini. Penyalahgunaan dan penipuan dengan kedok agama juga sangat rawan terjadi. Saksikanlah orang-orang Indonesia yang telah bergabung dengan kelompok yang mengklaim sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah sana. Juga mereka yang menjadi anggota kelompok-kelompok teroris. Mereka menghalalkan segara cara, termasuk membunuh sekali pun.

Lalu, negara Islam macam apa yang akan mereka dirikan? Apa yang dilakukan oleh kelompok teroris jelas tidak ada hubungannya dengan Islam. Saya yakin mereka yang bergabung dengan kelompok teroris sebagian besar hanya tertipu oleh propaganda orang-orang yang berkedok jihad/agama. Namun, kepentingan sebenarnya adalah kekuasaan. Tidak ada hubungannya dengan agama.

Lalu bagaimana dengan zakat, infaq, sedekah, wakaf, dan amalan derma lainnya? Agama memerintahkan kita untuk berjihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa. Bahkan banyak ayat Alquran yang menyandingkan keimanan dengan infak (termasuk sedekah dan wakaf) dan zakat.

‘‘Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19). ‘’Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah/nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.’’ (QS. Al-Baqarah: 267).

Kerelaan umat untuk berjuang dengan harta — dan bahkan jiwa — adalah salah satu kunci kemajuan umat Islam dari dulu hingga sekarang. Banyak masjid yang dibangun dengan swadaya masyarakat. Juga perguruan tinggi, sekolah-sekolah, pesantren, rumah sakit, dan sebagainya. Bahkan Al Azhar di Mesir yang sangat terkenal itu merupakan hasil dari wakaf. Begitu pula Pondok Modern Gontor di Jawa Timur itu.

Namun, yang perlu terus kita ingatkan — wa tawashou bil haq wa tawashou bi al sobr — adalah jangan sampai kita tidak amanat dengan dana umat yang telah berhasil kita kumpulkan. Entah itu dari infak, sedekah, zakat, wakaf ataupun CSR dan sumbangan lainnya.

Kita sudah sering menyaksikan berapa banyak aset-aset yayasan — berupa institusi sosial, pendidikan dan agama — yang didapat dari sumbangan masyarakat, kemudian jadi rebutan antar-anggota keluarga atau antar-pengurus yayasan sendiri. Juga tidak sedikit aset-aset yayasan yang mustinya berstatus wakaf yang kemudian diantasnamakan sebagai milik pribadi, keluarga, saudara, dan anak-anak.

Selain itu ada pula lembaga-lembaga sosial yang bangga dengan apa yang telah mereka kumpulkan. Namun, tidak jelas berapa orang yang telah berhasil mereka entaskan dari kemiskinan? Tak ada data berapa murid dan mahasiswa miskin yang telah sukses mereka antarkan menjadi sarjana. Berapa orang sakit yang telah mereka bantu? Berapa banyak pengusaha kecil yang telah mereka bantu agar berputar roda perekonomiannya?

Karena itu, demi menghindari su-u al dzonn atau buruk sangka, dan apalagi penipuan, sebaiknya setiap lembaga sosial yang mengumpulkan dana dari masyarakat harus dilakukan audit. Hasil audit ini lalu dilaporkan kepada masyarakat secara berkala, persis seperti yang dilakukan takmir masjid yang melaporkan keuangannya sebelum khutbah Jumat.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan!

 

Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri

sumber: Republika Online

Amalan Rasulullah pada Bulan Ramadhan

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Anwar Abbas mengatakan, begitu banyak amalan yang dicontohkan Rasulullah dalam mengisi hari-hari di bulan Ramadhan. Amalan yang paling utama adalah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sementara amalan-amalan lainnya adalah tadzarus, i’tiqaf, memperbanyak sedekah, memperbanyak berdzikir dan berdoa, mengejar laillatul qadar dan yang paling utama adalah shalat malam yang salah satunya adalah shalat Teraweh.

“Bahkan kalau kita mempunyai uang ya lebih bagus pergi ke Makkah sana. Shalat di depan Ka’bah sana karena shalat di sana kan sama dengan 1000 kali shalat di tempat lain,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain berpendapat, Rasulullah pada hari-hari terakhir di bulan Ramadhan membiasakan diri beri’tikaf di masjid. Beliau tidak pulang ke rumah selama 10 hari terakhir. Rasul juga meningkatkan Membaca Alquran.

“Biasanya nabi menamatkan tadarus bersama Jibril AS pada malam-malam terakhir ramadhan. Beliau juga memperbanyak dzikir dan doa yang di antara doa yang dianjurkan nabi untuk banyak dibaca pd 10 malam terakhir ramadhan adalah dua, yakni, ‘Allahumma inni as-aluka ridhoka waljannata wa a’dzubika min sakhotika wa annaru’ serta ‘Allahumma innaka ‘afuwun Karim tuhibbu al afwa fa’fu ‘Anna ya Karim,’” kata Tengku.

Lebih jauh Tengku memaparkan, ada beberapa cara yang mesti dijalankan agar semangat ibadah kita tetap terjaga hingga akhir Ramadhan. Cara yang pertama adalah ibadah mesti didasarkan pada Iman sebab jika didasarkan pada nafsu, maka semakin akhir Ramadhan semakin lemah.

“Karen nafsu hancur jika ditempa degan ibadah. Lain halnya jika ibadah didasarkan pada Iman, semakin akhir Ramadhan, Iman akan semakin kokoh dan amal akan semakin banyak. Sebab, iman semakin ditempa degan ibadah maka akan semakin kuat dan kokoh,” tambah dia.

 

sumber: Republika Online