Siapakah yang Menutupi Ka’bah Pertama Kali?

Kiswah, atau kain penutup Ka’bah ternyata mempunyai nilai syi sakralitas dan historikal yang sangat kuat dalam peradaban Islam. Lantas siapakah yang pertama kali menutupi bangunan berbentuk kubus itu?

Keberadaan tradisi kiswah itu, sebetulnya setua Kiswah itu sendiri. Ada banyak riwayat tentang siapakah yang pertama kali menutupi Ka’bah. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa kakek moyang Rasulullah SAW, Adnan, termasuk salah satu tokoh yang ikut menutupi Ka’bah. Ini dilakukan setelah Nabi Ibrahim dan Ismail AS, meninggalkan Makkah menuju Palestina.

Riwayat lain mengungkapkan bahwa Tabi’ al-Humairi, penguasa Yaman, adalah orang yang pertama kali menutupi Ka’bah dengan kiswah pada Masa Jahiliyah. Ini dilakukan selama lawatannya ke Makkah untuk berhaji. Ia juga didaulat sebagai tokoh yang pertama kali membuat pintu dan kunci Ka’bah. Tradisi ini dilakuka turun menurun oleh penguasa Yaman selama masa jahiliyah. Kiswah berbentuk sederhana hanya berupa kain tebal biasa. Jika kain basah atau rusak, biasaya mereka membuang atau menguburnya.

Redaktur : Nasih Nasrullah/Republika Online

Apa Pentingnya Silaturahim?

Apa pentingnya silaturahim? Pertanyaan ini mengawali tausyiah Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif (iHaqi), Erick Yusuf ketika menghadiri acara Reuni di Ruang Paseban Deco, Hotel Grand Royal Panghegar Bandung, Ahad (27/5).

Ustaz Erick menjelaskan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang menyambung silaturahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Jadi, dari apa yang dikatakan Rasulullah dapat kita petik pelajaran bahwa silaturahim mempersatukan atau menyambungkan kembali suatu hubungan yang sudah erat menjadi lebih erat lagi. Karena itu, sambunglah hubungan silaturahim dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh, kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.

“Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala. Takwa yang juga dapat mengantarkan kita kepada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Lebih khusus lagi, yaitu sambunglah tali silaturahmi dengan keluarga dan kerabat yang masih ada,” kata Kang Erick, sapaan akrabnya.

Banyak cara untuk menyambung tali silaturahim. Misalnya dengan cara saling mengunjungi, saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahim ini dengan lemah-lembut, berkasih-sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang mudah dikenal manusia dalam menyambung silaturahim.
“Dengan silaturahim, pahala yang besar akan diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Silaturahim menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.  Amiiin Ya Rabbal Alaamiin,” kata dia.

 

sumber: Republika Online

Menikah Atau Kawin?

NIKAH secara bahasa adalah berkumpul dan bergabung. DalamKifayah al-Akhyar, karya Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini, hlm : 462, dikatakan; nakahat al-asyjar, yaitu pohon-pohon tumbuh saling berdekatan dan berkumpul dalam satu tempat.  Berkata Imam Nawawi : “Nikah secara bahasa adalah bergabung, kadang digunakan untuk menyebut “akad nikah” , kadang digunakan untuk menyebut hubungan seksual.” [“Pengertian Menikah dan Hukumnya”, Dr Ahmad Zain Najah, PUSKAFI, Pusat Kajian Fikih dan Ilmu-ilmu Keislaman (PUSKAFI)]

Dr Ahmad Zain juga mengutip Al-Fara’ seorang ahli bahasa Arab mengatakan bahwa orang Arab menyebutkan kata “Nukah al Mar-atu”  artinya adalah organ kewanitaan. Jika mereka mengatakan “nakaha al-mar-ata”  artinya telah menggauli di organ kewanitaannya..[Perkataan al-Fara’ diatas disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim  juz : 9, hlm : 171]

Secara istilah, nikah adalah : “Akad yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan yang dengannya dihalalkan baginya untuk melakukan hubungan seksual” . [Sofiyurrahman al-Mubarakfuri, Ittihaf al Kiram, hlm. 288, Abu Bakar al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, hlm.349]

Nikah Dalam Al Qur’an

Dalam al-Qur’an dan as-Sunah kata “Nikah” kadang digunakan untuk menyebut akad nikah, tetapi kadang juga dipakai untuk menyebut suatu hubungan seksual. Contoh menikah yang artinya akad nikah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala  :

÷ وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

Maka lakukanlah akad nikah dengan wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [QS: An-Nisa’: 3]

Al-Qur’an menggunakan kata “nikah” yang sudah memiliki makna “perkawinan” atau hubungan seksual.

Dalam Islam pengertian “nikah” memiki makna luas. Sebab dalam Islam,  agar sah, menikah harus memenuhi beberapa syarat; adanya wali, dua orang saksi, ada calon suami atau istri, calon istri tidak diharamkan menikah dengan calon suami, adanya mahar dan adanya ijab qabul, yaitu ucapan wali untuk menikahkan calon mempelai wanita dan jawaban dari calon pria.

Mahar (mas kawin),  yaitu sesuatu yang diberikan seorang suami kepada seorang istri agar halal bersenang-senang dengannya. Memberi mahar ini hukumnya wajib. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS: an-Nisa’: 4)

Sedang contoh ijab qobul seperti ucapan wali, “Aku nikahkan putriku denganmu” (زوّجتك، أو أنكحتك ابنتي). Dan jawaban calon suami akan menjawab, “Saya terima nikahnya” (قبلت نكاحها و تزويجها).

Iijab qobul dalam nikah merupakan runuh nikah yang paling menentukan dan menjadikan pasangan menjadi halal. Sebab tidak sah suatu pernikahan jika di dalamnya tak terjadi ijab qobul.

Syarat-syarat inilah yang membedakan perbedaan antara menikah dengan kawin. Perkawinan adalah kata benda turunan dari kata kerja dasar kawin; kata itu berasal dari kata jawa kunoka-awin atau ka-ahwin yang berarti dibawa, dipikul, dan diboyong; kata ini adalah bentuk pasif dari kata jawa kuno awin atau ahwin; selanjutnya kata itu berasal dari kata vini dalam Bahasa Sanskerta.[ id.wikipedia.org]

Perbedaan mencolok menikah dengan kawin adalah kawin biasanya dipergunakan untuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dalam biologi, kawin adalah proses pemaduan dan penggabungan sifat-sifat genetik untuk mewariskan ciri-ciri suatu spesies agar tetap lestari (reproduksi). Proses ini seringkali menghasilkan dimorfisme dalam suatu spesies sehingga dikenal adanya jenis kelamin jantan dan betina. Karena dalam perkembangan terbentuk pula sel-sel yang terspesialisasi berdasarkan tipe seksual, dikenallah sel kelamin (gametosit, gametocyte), yang untuk jantan biasanya disebut sel sperma (spermatozoid) dan untuk betina disebut sebagai sel telur (ovum).

Reproduksi yang memerlukan tahap perkawinan dikatakan sebagai reproduksi seksual, sedangkan yang tidak memerlukan proses ini disebut sebagai reproduksi aseksual, reproduksi somatik, atau reproduksi vegetatif.Seperti halnya hewan dan tumbuhan, salah satu tujuan pernikahan adalah melestarikan keturunan (gharizah nau’)dan generasi yang baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam al-Quran;

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?.” [QS: An-Nahl : 72].

Hal inilah yang tidak akan terjadi pada pelaku kelainan dan penganut lesbian, homoseksual, biseksual dan transgender. Karena itu, istilah pernikahan tidak layak digunakan untuk pasangan kaum homoseksual (LGBT).*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

sumber: Hidayatullah.com

Lima Hikmah Menikah

Hikmah menikah adalah melahirkan anak-anak dan generasi yang shalih dan berkualitas sehingga menjadi pelanjut risalah dakwah

 

 

Oleh : Ali Akbar bin Aqil

ANJURAN menikah telah banyak disinggung oleh Allah dan Rasul-Nya. Hikmah yang terserak di balik anjuran tersebut bertebaran mewarnai perjalanan hidup manusia. Dari Al Quran, kita peroleh keterangan manfaat menikah;

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur [24]: 32).

Lewat lisan Nabi Muhammad kita dapati sabdanya: “Nikah itu sunnahku, siapa yang tidak suka sunnahku dia bukan dari golonganku.” (HR. Abu Ya`la)

Dari Imam Ahmad bin Hanbal, kita peroleh kisah yang membawa semangat untuk menikah. Dua hari lepas kemangkatan sang istri, beliau melangsungkan pernikahan yang berikutnya. Oleh orang-orang di sekitarnya beliau ditanya tentang hal tersebut. Dengan tenang beliau memberikan jawaban sederhana, “Aku tidak ingin dikatakan duda tanpa istri karena hal itu berarti telah meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.”

Secara sederhana, setidaknya ada 5 (lima) hikmah di balik perintah menikah dalam Islam.

Pertama, sebagai wadah birahi manusia yang halal

Allah ciptakan manusia dengan menyisipkan hawa nafsu dalam dirinya. Ada kalanya nafsu bereaksi positif dan ada kalanya negatif. Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu birahi dan menempatakannya sesuai wadah yang telah ditentukan, akan sangat mudah terjebak pada ajang baku syahwat terlarang. Pintu pernikahan adalah sarana yang tepat nan jitu dalam mewadahi aspirasi nulari normal seorang anak keturunan Adam.

Hubungan biologis antara laki dan perempuan dalam ikatan suci pernikahan terhitung sebagai sedekah. Seperti diungkap oleh Rasul dalam haditsnya, “Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah.” “Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim)

Kedua, meneguhkan moralitas yang luhur

Dengan menikah dua anak manusia yang berlawanan jenis tengah berusaha dan selalu berupaya membentengi serta menjaga harkat dan martabatnya sebagai hamba Allah. Akhlak dalam Islam sangatlah penting. Lenyapnya akhlak dari diri seseorang merupakan lonceng kebinasaan, bukan saja bagi dirinya bahkan bagi suatu bangsa.

Kenyataan yang ada selama ini menunjukkkan gejala tidak baik, ditandai merosotnya moral sebagian kawula muda dalam pergaulan. Percintaan berujung pada hubungan intim di luar pernikahan, melahirkan bayi-bayi yang tidak berdosa tanpa diinginkan oleh mereka yang melahirkannya. Angka aborsi semakin tinggi. Akibatnya, kerusakan para pemuda dewasa ini semakin parah.

Jauh sebelumnya, Nabi telah memberikan suntikan motivasi kepada para pemuda untuk menikah, “Wahai para pemuda, barangsiapa sudah memiliki kemampuan untuk menafkahi, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat meredam keliaran pandangan, pemelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa adalah sebaik-baik benteng diri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketiga, membangun rumah tangga Islami

Slogan “sakinah, mawaddah, wa rahmah” tidak akan menjadi kenyataan jika tanpa dilalui proses menikah. Tidak ada kisah menawan dari insan-insan terdahulu mapun sekarang, hingga mereka sukses mendidik putra-putri dan keturunan bila tanpa menikah yang diteruskan dengan membangun biduk rumah tangga Islami.

Layaknya perahu, rumah tangga kadang terombang-ambing oleh ombak di lautan. Ada aral melintang. Ada kesulitan yang datang menghadang. Semuanya adalah tantangan dan riak-riak yang berbanding lurus dengan keteguhan sikap dan komitmen membangun rumah tangga ala Rasul dan sahabatnya. Sabar dan syukur adalah kunci meraih hikmah ketiga ini.

Diriwayatkan, Sayidina Umar pernah memperoleh cobaan dalam membangun rumah tangga. Suatu hari, seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah, tak tahan dengan kecerewetan istrinya.

Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah.

Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Beliau berkata, “Wahai saudaraku, istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepada kita, janganlah kita hanya mengingat keburukannya dan melupakan kebaikannya.” Oleh karena itu, pasangan yang ingin membangun rumah tangga islami mesti menyertakan prinsip kesalehan dalam hari-harinya.

Keempat, memotivasi semangat dalam beribadah

Risalah Islam tegas memberikan keterangan pada umat manusia, bahwa tidaklah mereka diciptakan oleh Allah kecuali untuk bersembah sujud, beribadah kepada-Nya. Dengan menikah, diharapkan pasangan saling mengingatkan kesalahan dan kealpaan masing-masing. Dengan menikah satu sama lain memberi nasihat untuk menunaikan hak Allah dan Rasul-Nya, shalat, mengajarkan Al Quran, dan sebagainya.

Kelima, melahirkan keturunan/generasi yang baik

Hikmah menikah adalah melahirkan anak-anak yang shalih, berkualitas dalam iman dan takwa, cerdas secara spiritual, emosianal, maupun intelektual. Sehingga dengan menikah, orangtua bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi yang bertakwa dan beriman kepada Allah. Tanpa pendidikan yang baik tentulah tak akan mampu melahirkan generasi yang baik.

Lima hikmah menikah di atas merupakan satu sisi dari sekian banyak aspek di balik titah menikah yang digaungkan Islam. Saatnya, muda-mudi berpikir keras, mencari jodoh yang baik, bermusyawarah dengan Allah dan keluarga, cari dan temukan pasangan yang beriman, berperangai mulia, lalu menikahlah dan nikmati hikmah-hikmahnya. Wallahu A`lam.*

Penulis pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang

Rep: Admin Hidcom

Editor: Huda Ridwan

sumber: Hidayatullah

Musibah, Kurang Rezeki Jangan Bersedih

Keadaan manusia seperti roda berputar, kadang senang kadang sedih. Ada kala bahagia, ada kala sengsara. Hari ini sehat, besok sakit, minggu kemarin musibah datang, minggu ini keceriaan yang ada. Bulan kemarin rezeki banyak, bulan ini rezeki berkurang. Itulah kehidupan yang dirasakan manusia.

Seorang mukmin, mengetahui bahwasanya kehidupan dunia hanya sementara, kehidupan yang kekal adalah di akhirat. Oleh karena itu seorang mukmin tentunya harus mengetahui, hidup di dunia penuh berbagai ujian guna untuk mengetahui siapakah manusia yang paling baik amalannya diantara kita.
Hal tersebut telah Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an yang artinya “Maha suci Allah yang menguasai (segala kerajaan) dan Dia kuasa atas segala sesuatu yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun.” (Al Mulk : 1-2)
Dengan kita mengetahui arti ujian kehidupan di dunia, maka jiwa akan lapang, badan akan bersemangat. Pikiran pun cemerlang dan bertindak dengan tenang dan pasti, disertai memohon pertolongan kepada Allah.
Sehingga ketika datang berbagai macam musibah berupa ketakutan, adanya kesenggangan dalam keluarga, kurangnya rezeki maka dihadapi dengan sabar, lapang dada dan terus mencari jalan keluar disertai mengharap pahala dengan kesabaran tersebut dan balasan-balasan lainnya, tanpa adanya putus asa, keluh kesah atau menuduh Allah dengan tuduhan-tuduhan yang buruk.
Para pembaca yang semoga Allah berkahi, dalam agama Islam telah dijelaskan tentang musibah yang menimpa manusia, solusinya dan balasan/buahnya, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah, yang artinya :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

 Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”(sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah : 155-157)
Berkata syaikh as-Sa’di, Allah mengabarkan bahwasanya hamba-hamba-Nya pasti diuji. Agar jelas antara orang yang jujur dengan orang yang dusta. Dan orang yang sabar dengan orang yang putus asa.
Dan ini sudah menjadi ketetapan yang Allah tetapkan kepada hamba-hamba-Nya, dikarenakan kebahagiaan kalau terus dirasakan oleh orang yang beriman dan tidak adanya ujian maka akan terjadi ketidakteraturan, yang itu merupakan kerusakan. Dan hikmah Allah yang terwujud adalah terbedakannya orang-orang yang baik dengan orang-orang yang buruk. Dan inilah faedah ujian. Bukan untuk menghilangkan sesuatu yang ada pada orang-orang yang beriman berupa keimanan dan bukan pula Allah ingin memalingkan mereka dari agama mereka. Maka Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan orang-orang yang beriman.
Kandungan/tafsir surat al-Baqarah ayat 155-157

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ

Maksudnya Allah akan menguji kalian.

بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ

Maksudnya dengan sedikit rasa takut, bukan takut yang sepenuhnya (berkepanjangan-pen). Dan takut adalah hilangnya rasa aman dan perkara ini lebih besar dari pada rasa lapar. Oleh karena itu Allah sebutkan pada ayat ini terlebih dahulu.

وَالْجُوعِ

 Maksudnya kami uji dengan kelaparan.
Dan maknanya ada 2 :
1. Allah menciptakan wabah kepada hamba berupa wabah kelaparan. Dimana seseorang walaupun sudah makan tidak merasakan kenyang dikarenakan dia tertimpa penyakit, kalaupun dia sudah makan sebanyak-banyaknya, dia tetap masih merasa lapar.
2. Masa paceklik dan tidak tumbuh tanaman.

وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ

 Yaitu kurangnya harta. Disebabkan pembinasaan dari langit, tenggelam, kehilangan, diambil oleh penguasa dzolim, perampok dan selainnya.

وَالْأَنْفُسِ

 Yaitu hilangnya atau meninggalnya yang dicintai berupa anak-anak, kerabat, teman-teman dan berbagai macam penyakit yang menimpa badan hamba atau orang yang dicintai.

وَالثَّمَرَاتِ

 Maksudnya tidak ada hasil dari kebun-kebun, berupa biji-bijian, buah-buahan, kurma, sayur-sayuran dan pohon-pohon seluruhnya karena terbakar atau rusak karena belalang dan sejenisnya. (diringkas dari Tafsir as Sa’di, Tafsir Ibnu Katsir danSyarh Riyadus Shalihin).
Berkata asy-syaikh as Sa’di
Perkara-perkara tersebut pasti terjadi (yang disebutkan dalam ayat – pen) dikarenakan Dzat yang Maha Tahu mengabarkan hal tersebut. Maka terjadinya (musibah) tersebut sebagaimana yang Allah khabarkan.
Dalam hal ini manusia terbagi menjadi 2 macam :
  1. Orang yang putus asa
  2. Orang yang sabar
Orang yang berputus asa akan memperoleh 2 musibah, yaitu hilangnya (sesuatu yang dia cintai) berupa musibah yang menimpanya dan hilangnya sesuatu yang paling besar, yaitu pahala, karena tidak melakukan perintah Allah berupa sabar. Sehingga dia memperoleh kerugian, kurangnya iman, hilangnya kesabaran, ridho dan syukur. Dan yang ada pada dirinya hanya kemarahan.
Adapun orang yang Allah beri taufiq untuk bersabar ketika ditimpa musibah maka dia menahan dirinya dari marah, baik secara ucapan dan perbuatan, dan dia mengharapkan pahala disisi Allah. Dan dia mengetahui akan mendapatkan pahala dengan kesabarannya.
Dan dia mengetahui pahala tersebut lebih besar daripada musibah yang dia rasakan. Bahkan musibah tersebut menjadi sesuatu kenikmatan baginya, karena dengan musibah yang dirasa akan menjadikan suatu jalan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi dirinya. Dikarenakan dia melaksanakan perintah Allah yaitu bersabar ketika ditimpa musibah dan dia memperoleh pahala.
Para pembaca yang semoga Allah berkahi, sehingga pada akhir ayat Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Maksudnya sebagaimana dijelaskan oleh asy-syaikh as-Sa’di: “kabarkan kepada mereka karena mereka mendapatkan pahala tanpa terbatas” (Lihat tafsir as-Sa’di)
Berkata Ibnu KatsirMereka (orang-orang yang sabar-pen) menghibur diri mereka dengan ucapan mereka ini ketika ditimpa musibah. Dan mereka mengetahui bahwasanya mereka adalah milik Allah. Allah berkuasa pada hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki.
Dan mereka (orang-orang yang sabar-pen) mengetahui bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan agamanya walaupun sebesar kulit ari pada hari kiamat. Maka Allah menjelaskan kepada mereka agar mereka mengetahui bahwasanya mereka adalah hamba-hamba Allah dan mereka akan kembali pada-Nya pada hari akhir.

 أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

 Maksudnya mereka mendapatkan pujian dan rahmat dari Rabb mereka, karena kesabaran mereka dan mereka mengetahui kebenaran. (diringkas dari tafsir Ibnu Katsir, dan tafsir as-Sa’di).
Para pembaca yang semoga Allah berkahi, demikianlah penjelasan surat al-Baqarah ayat 155-157. Semoga Allah membimbing kita dalam setiap keadaan dan memudahkan kita untuk beramal dengan ilmu. aamiin.
Referensi / Maraji’
1. Taisirul Karimirrahman Fittafsiiril Kalaamil Mannan, ditulis oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di. Cetakan dar Ibnu Hazm, Beirut, Libanon.
2. Tafsir al-Qur’anul Adzim ditulis oleh Imaduddiin Abu Fidaa Ismail bin Katsir ad Dimasyqii. Cetakan Maktabah at taufiqiyah al-Qohiroh, Mesir,
3. Syarh Riyadhus Sholihin min Kalaamisaidil Mursalin, ditulis oleh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi. Cetakan dar Ibnu Jauzi al Qohiroh, Mesir.Penulis : Ustadzah Ummu Rufaidah

 

Ini Jumlah Santunan Diberikan Raja Salman untuk Korban Crane Jatuh

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH — Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menginstruksikan pada Selasa (15/9) untuk memberikan bantuan pada korban musibah crane roboh. Tak tanggung-tanggung, Raja Salman memberikan santunan sebesar satu juta riyal Saudi (Rp 3,8 miliar) untuk korban syahid dari peristiwa tersebut.

Seperti dikabarkan Akhbaar 24, penjaga dua tanah suci itu telah menyiapkan bantuan berupa satu juta riyal untuk korban meninggal dunia. Jumlah yang sama juga akan diberikan pada korban yang menderita luka berat hingga jatuh cacat.

Sementara untuk korban lain, Raja Salman akan memberi santunan sebesar 500 ribu riyal Saudi per orang. Dua anggota keluarga dari korban meninggal akan menjadi tamu khusus Raja dan berhaji pada musim haji 1437 Hijriah atau 2016 nanti.

Redaktur : Bilal Ramadhan
Reporter : Ahmad Fikri Noor

Waktu dan Tempat Mustajab untuk Berdoa

Kala sesesorang memanjatkan doa dengan penuh harap, tentu ia ingin agar doanya diijabah oleh Allah SWT. Doa juga memiliki adab-adab. Selain harus bersih dari hal yang haram, ada pula waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat khusus yang bisa mempercepat dikabulkannya doa.

Ketua IKADI Prof Dr Ahmad Satori Ismail mengatakan saat shalat adalah saat terbaik untuk doa. Karena hakikatnya seluruh bagian shalat yang dikerjakan umat Muslim merupakan doa. “Saat berpuasa juga dianjurkan banyak berdoa, dalam haji selain ibadah secara fisik juga harus berdoa, zakat pun tak hanya niat, dalam niat ada doa,” ujar dia.

Kiai Satori menjelaskan ada tempat dan waktu yang lebih mustajab untuk berdoa. Waktu khusus tersebut Allah SWT janjikan diijabahnya doa seperti setelah shalat fardhu, tengah malam, ketika bepergian, hari Jumat, bulan Ramadhan, saat berpuasa, menjelang berbuka, malam lailatul qadr, sedang mendapatkan kenikmatan, saat shalat ied, dan setelah lebaran.

“Sedangkan dari sisi tempat, sebagian besar tempat yang mustajab berada di Arab Saudi, seperti di Raudhah, Masjidil Haram, Makkah, depan Multazam, belakang Makam Nabi Ibrahim, Hijr Ismail, Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan masjid-masjid yang selalu dijadikan tempat iktikaf,”ujar dia.

Orang mukmin harus berdoa dengan hati dan kekhusyuan. Dalam meminta harus sungguh-sungguh dan lebih bagus diulang sampai tiga kali.“Allah tidak menerima dari mulut yang hatinya lengah, lalai dan lupa,”jelas dia.

Orang yang dalam keadaan terdesak dan dizalimi pun dapat diijabah doanya.Begitu juga dengan doa orang tua terhadap anak dan sebaliknya serta guru pada murid-muridnya.

 

sumber: Republika Online

Alasan Hari Kiamat Dirahasiakan

Tiada satu makhluk Allah pun yang mengetahui waktu datangnya hari kiamat, bahkan nabi atau malaikat yang paling dekat dengan Allah sekalipun. Hanya Al¬lah yang mengetahui datangnya hari kiamat.

Demikian penggalan materi tausyiah bertajuk ‘Yaumul Akhir’ Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif (iHaqi), Erick Yusuf  ketika menghadiri acara Buka Bersama di Hotel Harris Festival City Link Bandung. “Hari Akhir itu adalah hari berakhir dan hancurnya alam semesta. Segala yang masih hidup akan mati, langit dan bumi akan diganti, bukan lagi langit dan bumi yang seperti sekarang,” kata Ustaz.

“Seperti ada dalam Qur’an :“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui“. (QS. Al-A’raf : 187).”

Meskipun demikian, Allah SWT memberitahukan kita melalui Rasulullah SAW mengenai tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Allah sengaja merahasiakan waktu tibanya hari kiamat karena adanya hikmah syariat. maksudnya adalah agar manusia lebih memperhatikan ketaatan terhadap Allah dan lebih menghindari diri dari perbuatan maksiat.

“Dengan demikian, saksi amalan bagi manusia di alam akhirat nanti bukan saja anggota tubuhnya. Namun, alam (bumi) pun akan bersaksi terhadap segala yang dilakukan oleh seseorang semasa hidupnya. Oleh karena itu, berbuatlah kebajikan selama kita hidup di dunia. Bertakwalah dengan sesungguh-sungguhnya takwa kepada Allah SWT,” kata dia.

 

sumber: Republika Online

Kemenlu Belum Bisa Konfirmasi Santunan Raja Salman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Luar Negeri, Kamis (17/9), mengaku belum menerima konfirmasi uang diyat atau santunan yang dikabarkan akan diberikan Raja Saudi Salman kepada para korban jatuhnya crane.

Kemenlu mengatakan, telah meminta Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah untuk meminta kebenaran tersebut.

“Mereka mendapatkan angka itu namun bukan pernyataan resmi. Kami akan meminta konfirmasi lagi,” ujar juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir atau yang akrab disapa Tata itu.

Sebelumnya media-media Arab mengabarkan, Raja Salman akan memberikan uang santunan sebesar 1 juta riyal Saudi atau sekitar Rp 3,8 miliar bagi keluar korban tewas crane.

Sedikitnya, 107 calon haji menjadi korban tewas jatuhnya crane di Masjidil Haram, Jumat (11/9) lalu. Sementara 10 di antaranya teridentifikasi calon haji dari Indonesia.

Insiden jatuhnya crane diduga karena cuaca buruk yang belakangan terjadi di Arab Saudi. Namun pemerintah Arab Saudi terus melakukan penyelidikan terkait jatuhnya crane terberat kedua di dunia itu.

Bahkan, seperti diberitakan Reuters, Raja Salman menghentikan menjatuhkan sanksi ke perusahaan Bin Ladin Grup yang melakukan pembangunan di Masjidil Haram.

Kebakaran di Hotel Makkah, 1.000 Jamaah Asia Dievakuasi

Sekitar 1.000 jamaah asal Asia dievakuasi pada Kamis (17/9), setelah hotel mereka terbakar di Makkah. Kantor pertahanan sipil mengatakan, insiden melukai dua orang jamaah.

The National melaporkan, petugas pemadam kebakaran telah menyelamatkan dua jamaah yang terluka. Kantor pertahanan sipil tak memberikan keterangan kewarganegaraan korban. Mereka juga tak mengumumkan apa yang menjadi penyebab kebakaran.

Insiden terjadi tak lama setelah insiden jatuhnya crane yang menewaskan 107 orang, termasuk beberapa jamaah Asia. Pada 2006, lebih dari 360 jamaah meninggal akibat berdesakan di dataran gurun Mina, dekat Makkah.

 

sumber: Republika Online