Sholat Subuh Berjamaah adalah Bukti Suatu Ijazah dari Allah

Saudaraku muslim, di antara keutamaan sholat Subuh adalah Allah SWT telah menjadikannya sebagai suatu syahadah (kesaksian, bukti), khususnya bagi orang yang konsisten menjaganya. Karena, sholat Subuh disaksikan oleh para malaikat yang mulia, selain para malaikat yang turut menyaksikan sholat sholat lainnya , yaitu sholat Subuh dan Ashar.

Rasulullah SAW bersabda :

Malaikat malaikat siang bergantian mendampingi kalian dengan malaikat malaikat malam, dan mereka berkumpul pada waktu sholat Subuh dan Ashar. Setelah itu, malaikat yang semalaman menjaga kalian naik ke langit, lalu Allah bertanya kepada mereka – dan Dia lebih tahu tentang mereka-, “Bagaimana kalian tinggalkan hamba hamba Ku?” Mereka menjawab, “ Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datang kepada mereka ketika mereka sholat” (HR Bukhari)

Qodhi bin Iyadh ra berkata, Hikmah mengapa mereka berkumpul pada sholat Subuh dan Ashar, karena itu termasuk kelembutan dan permuliaan Allah SWT terhadap hamba hambaNya, dengan menjadikan para malaikatNya berada dalam kondisi para hamba sedang beribadah  , sehingga kesaksian malaikat untuk mereka menjadi kesaksian terbaik.

Al Hafizh Ibnu Hajar ra berkata, “ Hikmah mengapa Allah SWT bertanya kepada malaikat, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, adalah meminta kesaksian mereka tentang anak Adam bahwa mereka berbuat baik.

Tidakkah anda melihat, bagaimana Allah mengagungkan orang orang yang konsisten memelihara sholat Subuh dan Ashar di hadapan para MalaikatNya, dan Allah menjawab pertanyaan mereka tentang mengapakah manusia diciptakan dengan kesaksian para malaikat sendiri terhadap makhluk yang bernama manusia itu ? “ Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mereka sholat, dan kami datang kepada mereka dalam keadaan mereka sholat”, begitulah kesaksian malaikat.

Manusia hari ini, rela mengorbankan apapun demi memperoleh syahadah (Sertifikat, ijazah) berisikan nilai, yang dibubuhi tanda tangan seorang pemimpin besar. Mereka memajang sertifikat itu dan meletakkan pada bingkai paling besar dan menempatkannya dalam ruangan rumah atau kantor kerja yang paling terlihat. Mereka memajangnya untuk menunjukkan betapa dirinya adalah ahli dan professional dalam bekerja.

Adapun untuk mendapatkan syahadah (kesaksian) dari Dzat yang segala sesuatu sudah ada nilai di sisiNya, dan timbanganNya berlaku walaupun untuk sebiji dzarroh, maka kami hanya bisa katakan, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, menyedihkan sekali!” Banyak orang tidak ada semangat, tidak ada yang mencarinya selain beberapa gelintir hamba Allah yang beriman. Pada pandangan kami, mereka adalah yang keluar rumah pada waktu hari masih gelap untuk melaksanakan sholat Subuh, setiap malam bagi mereka adalah malam Lailatul Qadr,  maka Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang orang seperti ini.

 

– Imad Husain- Keajaiban Sholat Subuh

 

sumber: Era Muslim

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili Menulis Lebih 200 Kitab

Syeikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang ulama fikih kontemporer yang dikenal luas keilmuannya dikabarkan meninggal dunia. Syeikh Wahbah meninggal pada hari Sabtu (08/08/2015) malam, pada usia 83 tahun.

Syeikh Wahbah lahir tanggal 6 Maret 1932, daerah Qalmun,  Damaskus, Suriah dari orangtua yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaannya. [Baca: Ulama Kontemporer Dunia, Syeikh Wahbah Zuhaili Berpulang]

Ayahnya, Musthafa az-Zuhaili dikenal seorang penghafal Al-Quran, ibunya Fathimah binti Musthafa Sa`dah,[ dikenal dengan sosok yang kuat berpegang teguh pada ajaran Islam. Syeikh Wahbah belajar Al-Quran dan menghafalnya dalam waktu relatif singkat.

Setelah menamatkan sekolah dasar, ayahnya menganjurkan kepada Wahbah untuk melanjutkan sekolah di Damaskus. Pada tahun 1946, Wahbah pindah ke Damskus untuk melanjutkan sekolah ke tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Setelah itu, ia melanjutkan ke perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana mudanya di jurusan Ilmu-ilmu Syari`ah di Suriah.

Ia pindah ke Mesir, dan kuliah di dua universitas sekaligus, yakni  Universitas Al-Azhar (pada jurusan Syari`ah dan Bahasa Arab) dan Universitas Ain Syams (jurusan hukum).

Setelah menyelesaikan di dua universitas tersebut, ia melanjutkan jenjang  magister Universitas Cairo, (jurusan Hukum Islam). Hanya dalam waktu dua tahun, program magisternya dengan judul tesis adz-Dzara’i` fi as-Siyasah asy-Syar`iyyah wa al-Fiqh al-Islamiysudah diselesaikan.

Syeikh Wahbah kemudian  melanjutkan pendidikannya doctoral dan lulus dengan disertasiAtsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islamiy: Dirasatan Muqaranatan tahun 1963 dengan predikat “Sangat Memuaskan” (Syaraf ula), dan direkomendasikan dicetak dan dikirim ke universitas-universitas luar negri.

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili senantiasa menduduki ranking teratas pada semua jenjang pendidikannya. Menurutnya, rahasia kesuksesannya dalam belajar terletak pada kesungguhannya dalam menekuni pelajaran dan menjauhkan diri dari segala hal yang mengganggu proses belajar.

Syeikh Wahbah dikenal ulama dengan segudang ilmu dan banyak memiliki guru. Di antara gurunya adalah;  Di antara guru-guru beliau Syeikh Muhammad Hasyim al-Khatib asy-Syafi’i, (w. 1958M) seorang khatib di Masjid Umawi. Beliau belajar darinya fikih as Syafi’I, mempelajari ilmu fikih dari Abdul Razaq al-Hamasi (w. 1969M); ilmu Hadits dari Syeikh Mahmud Yassin (w.1948M); ilmu faraid dan wakaf dari Syekh Judat al-Mardini (w. 1957M), Syeikh Hassan aṣ-Sati (w. 1962M, pakar fikih Hanbali, pernah menjabat rektor pertama Universitas Damaskus), ilmu tafsir dari Syeikh Hassan Habnakah al-Midani (w. 1978M); ilmu bahasa Arab dari Syeikh Muhammad Shaleh Farfur (w. 1986M); ilmu usul fikih dan mustalah hadits dari Syeikh Muhammad Lutfi al-Fayumi (w. 1990M, aktifis pendiri Ikatan Ulama di Damaskus, pakar bidang Fikih Hanafi); ilmu akidah dan kalam dari Syeikh Mahmud al-Rankusi.

Belum lagi guru-gurunya dari luar Suriah; antara lain: Syeikh Muhammad Abu Zahrah, ulama terkenal di Mesir, Syeikh Mahmud Syaltut, (tokoh pembaru  dan tokoh Al-Azhar). Mahmud Syaltut sendiri terpengaruh oleh pemikiran Muhammad Abduh.

Di samping itu, beliau amat terkesan dengan buku-buku tulisan Abdu ar-Rahman Azam seperti al-Risalah al-Khalidah dan buku karangan Syeikh Abu Hassan an-Nadwi berjudul Ma ża Khasira al-‘alam bi Inkhitat al-Muslimin.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily mengarang lebih dari 200 kitab. Mulai dari buku yang terdiri dari 16 jilid, sampai artikel-artikel melebihi 500 buah. Salah satu bukunya yang banyak dikenal di Indonesia adalah; al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu dan Tafsir al-MunirAl-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, adalah kitab fikih kontemporer yang sangat penting dalam pengkajian fikih komparatif. Buku ini untuk pertama kalinya dicetak oleh Dar al-Fikr di Damaskus pada tahun 1984, terdiri dari 9 jilid besar.

Mayoritas kitab yang ditulisnya menyangkut fikih dan ushul fikih. Namun, ia juga menulis kitab tafsir sampai enam belas jilid.

Karena keseriusannya dalam ilmu, Dr.Badi` As Sayyid Al Lahham dalam biografi Syeikh Wahbah dalam buku yang berjudul, Wahbah Az Zuhaili al -`Alim, Al Faqih, Al  Mufassirmengumpamakannya seperti Imam As Suyuthi (w. 1505 M) yang menulis 300 judul buku di masa lampau.*

 

sumber: Hidayatullah.com

Ulama Kontemporer Dunia Syeikh Wahbah Zuhaili Berpulang

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Syeikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, ulama fikih kontemporer  dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala hari Sabtu (08/08/2015) sore waktu setempat.

Kabar ini menyebar setelah beberapa media lokal Suriah,www.freesyrianews.com dan www.waledalqatrawi.commerilisnya pertama kali.

“Beliau meninggal pada malam Sabtu, 8 Agustus, di usia 83 tahun,” demikian dikutip an www.waledalqatrawi.com.

Kabar ini rupanya cepat menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

“Dunia Islam Moderat kehilangan Tokoh Ulama yg sangat otoritatif, Prof Dr Wahbah Zuhaili tlah wafat. InnalilLahi …walbaqaa liLlah. AlFatihah,” ujar Dr Hidayat Nurwahid dalam akun twitter-nya.

Doa juga datang dari Prof. Madya Dato’ Dr. Mohd Asri Zainul Abidin, profesor pengajian Islam di Universiti Sains Malaysia yang juga dikenal mantan Mufti Perlis.

“Berita kewafatan al-Syeikh Dr Wahbah al-Zuhaili mendukacitakan umat Islam. Suatu kehilangan besar. kehilangan besar. Sumbangan ilmunya kepada umat di zaman kini amatlah bermakna. Beliau guru kita semua. Semoga Allah menerima segala sumbangan dan jasanya kepada agama dan umat ini. إنا لله وإنا إليه راجعون,” ujar pria yang dikenal dengan panggilan Dr Maza  ini.

Sebagaimana diketahui, Syeikh Wahbah adalah seorang ulama produktif, telah mengarang lebih dari 200 kitab. Mulai dari buku yang terdiri dari 16 jilid, sampai artikel-artikel melebihi 500 buah.

Salah satu bukunya yang banyak dikenal di Indonesia adalah; al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhudan Tafsir al-Munir.  Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, adalah kitab fikih kontemporer yang sangat penting dalam pengkajian fikih komparatif. Buku ini untuk pertama kalinya dicetak oleh Dar al-Fikr di Damaskus pada tahun 1984, terdiri dari 9 jilid besar. [Baca: Syeikh Wahbah Az-Zuhaili Menulis Lebih 200 Kitab]

Mayoritas kitab yang ditulisnya menyangkut fikih dan ushul fikih. Namun, ia juga menulis kitab tafsir sampai enam belas jilid.*

 

sumber: Hidayatullah.com

Dulu mau gabung tentara perangi Islam, kini jadi mualaf

Merdeka.com – Tragedi 9/11 atau 11 September telah memberikan andil besar atas tumbuhnya Islamophobia di dunia Barat, utamanya Amerika Serikat. Namun, peristiwa itu juga memberikan hidayah bagi sebagian besar orang betapa agungnya Islam lalu memeluknya.

Inilah yang terjadi terhadap Ibrahim Killington. Saat tragedi itu berlangsung, dia menganggap Muslim sebagai penjahat kemanusiaan dan berniat untuk memerangi Islam.

Namun, di tengah upaya untuk bergabung dengan tentara AS, dia malah mendapatkan hidayah dari sebuah siaran radio. Pikirannya pun tertarik untuk mempelajari Islam lebih jauh dari apa yang dipahaminya.

Sejak itu, ia terus mendalami Islam dan akhirnya memeluk agama ini. Masa lalunya yang hanya untuk mabuk-mabukan dan bersenang-senang tak lagi dilakoninya, aktivitasnya kini hanya untuk beribadah di masjid.

Berikut videonya:

Setelah debat terbuka, satu desa di Filipina putuskan menjadi mualaf

Dua bulan lalu hidayah turun kepada warga desa di Hagonoy Bulacan, Filipina. Tepatnya pada 24 Mei 2015, ratusan orang, dari orang dewasa samapi anak-anak mengucapkan kalimat syahadat.

Mereka semua bersumpah bahwa Allah adalah tuhan yang esa dan Muhammad adalah utusan Allah. Dibimbing ustaz Mohammed Yousef Pamintuan, warga desa yang mayoritas pemeluk agama Nasrani itu juga berikrar bahwa Isa adalah utusan Allah semata.

Sebelum penduduk di desa tersebut memutuskan memeluk Islam, Komunitas Mualaf Dakwah Symposium di Hagonoy Bulacan berdialog kepada mereka. “Di dalamnya banyak mantan pendeta dan misionaris mengadakan dialog terbuka yang membukakan pintu hidayah satu desa mayoritas Kristiani untuk kembali kepada fitrahnya yaitu mengimani Diinul Islam,” kutip laman resmi mualaf center, Selasa (14/7).

Dalam video berdurasi kurang dari 1 menit tersebut, tampak Ustaz Mohammed Yousef Pamintuan berdiri di atas panggung memimpin warga desa untuk bersama-sama bersyahadat. Warga desa berdiri dan megikuti apa yang disampaikan ustaz tersebut lalu kemudian duduk kembali untuk menerima nasehat dari sang ustaz.

 

sumber: Merdeka.com

Satu pleton anggota polisi & jenderalnya masuk Islam di Filipina

Allhuakbar! adalah kata yang didengungkan berkali-kali oleh puluhan polisi Filipina yang berbaris rapi. Mereka mengumandangkan takbir setelah resmi bersyahadat pada bulan lalu.

“Kesatuan Police trainees sa Cabanatuan Nueva Ecija Filipin, satu peleton polisi mengikrarkan syahadat di bimbing Ustaz Mohammed Kamar Sabdulla,” tulis mualaf center dalam akun resminya, Selasa (14/7).

Dalam video yang berdurasi lebih dari satu menit tersebut, tampak Ustaz Mohammed Kamar Sabdulla memerintahkan para polisi untuk bersaksi dengan mengacungkan telunjuk mereka.

Para polisi ini kemudian diminta mengikuti ucapan syahadat, “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Warosuluh, Wa Asyhadu Anna Isa Ibnu Maryam Rosulullah.”.

Selain itu ditambahkan pula, mereka diminta bersaksi bahwa Isa putera Maryam adalah rasul utusan Allah. Beberapa hari setelah para polisi ini berucap syahadat, pada 24 Juni 2015 Abdulrahman Cruz seorang kapten dari dinas kepolisian Filipin juga ikut bersyahadat.

“Dia juga pakar kristologi setempat menjadi wasilah datangnya hidayah kepada atasannya yang seorang jenderal berbintang satu,” kutip sumber yang sama.

Abdurahman Cruz bersyahadat dibimbing dengan ustaz yang sama dan dia resmi melepas agama asalnya dan beralih ke agama Islam.

sumber: Merdeka.com

 

Kisah haru Rasulullah dan anak yatim di hari raya Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri tidak hanya dirayakan dengan bersenang-senang namun bisa juga dirayakan dengan berbagi. Seperti yang dilakukan Rasulullah di hari lebaran kepada seorang anak yatim.

Dikisahkan saat semua orang bergembira menyambut lebaran, terdapat lah seorang gadis kecil di sudut jalan Kota Madinah dengan pakaian lusuh. Seorang diri, dia tampak menangis tersedu-sedu.

Rasulullah melihat gadis itu, lantas menghampirinya. “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”, kata Rasulullah dikutip dari laman Rumah Yatim dan Dhuafa, Rabu (15/7).

Dengan suara lirih, gadis itu bercerita kepada Rasulullah SAW. “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia.”

“Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah. Ia berjuang bersama Rasulullah Saw bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”.

Hati Nabi langsung terenyuh, sambil membelai rambut anak itu, Nabi berkata, “Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu. dan Aisyah menjadi ibumu. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Dia tatap lekat-lekat Rasulullah dan memastikan bahwa di hadapannya adalah seorang utusan Allah. Anak yatim itu kaget sekaligus bahagia sampai bibirnya tidak bisa berucap dan hanya menganggukan kepala.

Rasulullah pun menggandeng tangan mungilnya ke rumah Aisyah. Sesampai di rumah Rasulullah sendiri yang menyisirnya dan membersihkan badannya dengan penuh kasih sayang.

Dibantu Fatimah, gadis itu dipakaikan baju bagus dan diberi makanan serta uang saku. Dia lalu dipersilakan untuk bermain dengan teman sebayanya.

Teman-teman gadis itu bertanya, “Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Dengan senyum mengembang, gadis kecil itu menjawab, “Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.

Wanita cantik Belanda ini jadikan syahadat uji kelulusan universitas

Merdeka.com – Siti Malikah Feer (29) belajar mengenal Islam dari berbagai sumber, baik buku maupun bertanya dengan teman sekampusnya yang dianggap mempunyai suri tauladan baik.

Siti Malikah yang dulu bernama Marlou Feer terkejut saat dia mendapati surat Al Mukminun ayat 12-14 dalam Alquran. Di situ diceritakan proses penciptaan manusia mulai dari segumpal darah sampai akhirnya menjadi manusia.

“Sudah ada di Alquran walaupun waktu itu scientist (ilmuwan) tidak tahu gimana. Masya Allah banyak miracle (keajaiban) di dalam Alquran,” takjub Malikah kepada merdeka.com di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (11/6).

Meski sudah merasa ada kebenaran dan keajaiban di dalam Alquran, Malika masih bergeming dan menutup hati dari Islam. Bahkan dengan enteng dia bertaruh akan memeluk Islam jika dia lulus ujian universitas.

“Waktu saya masih tunggu keajaiban dan jawaban dari Allah. Saya berjanji jika saya tidak lulus maka jawabannya saya tidak akan masuk Islam,” tambah dia.

Namun ujian belum juga dimulai, Malikah sudah berjabat tangan dengan rekan muslimnya sembari mengucapkan syahadat dengan mantap.

“Waktu mau ujian saya sudah percaya sudah ada tuhan dan muhammad. Waktu ujian saya sudah bersyahadat. saksinya dua teman saya dari Irak dan Afghanistan ketika berkata syahadat saya belum tahu akan lulus tapi lulus,” ucap dia sumringah.

Akhirnya di tahun 2003, Marlour Feer resmi mengganti namanya menjadi Siti Malikah. Selanjutnya di tahun 2006 gadis cantik bermata abu-abu ini mulai mengenakan jilbab.

 

Mualaf Belanda temukan hakikat tuhan dalam agama Islam

Merdeka.com – Perjalanan spritual mualaf asal Belanda Siti Malikah Feer bak cerita Ibrahim saat mencari hakikat tuhan. Malikah yang dulu bernama Marlou Feer sejak kecil tidak pernah dikenalkan kepada tuhan. Malikah tumbuh dalam keluarga ateis.

“Saat itu saya bermain dengan teman saya, saat itu banyak awan, tapi matahari menyinari menembus ke awan mungkin di sana ada tuhan, dia melihat kita,” kata Malikah mengawali ceritanya kepadamerdeka.com di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (11/6).

Lalu Malikah mulai mencari jati dirinya dan agamanya dengan ikut kelas agama Kristen. Dia pun banyak membaca berbagai literatur tentang manusia, salah satunya teroi evolusi Darwin.

“Saya tertarik dengan agama Kristen tapi saya tidak bisa menerima Isa, tuhan atau anak tuhan karena waktu itu saya berpikir bagaimana tuhan bisa disalib kalau dia memang tuhan,” tanya dia.

Pencarian Malikah sempat terhenti, sampai akhirnya dia bertemu teman-temannya yang berasal dari Turki dan Irak. Malikah mulai tertarik dengan agama teman-temannya karena mereka menunjukkan akhlak mulia.

“Mereka memperlihatkan hormat, baik hati, berbagi makanan waktu istirahat dan tempat kerja, saya tertarik dengan mereka. Masya Allah, karena orang Belanda tidak berbagi daripada mereka saya tertarik dengan budaya mereka dan Islam,” ungkap dia sembari menyebut asam Allah berkali-kali.

Rasa ingin tahunya makin membara karena teman-temannya asal Turki dan Irak tersebut tampak ‘berbeda’ dari mayoritas mahasiswa di sana. “Tahun 2002 waktu mereka puasa saja juga ingin tahu bagaimana puasa dan saya suka dan senang dengan mereka. Mereka lebih dekat dengan orang miskin saya ingin mengerti mereka lebih baik,” tutur wanita berjilbab ini.

Hidayah pun datang, Malikah dengan mantap bersyahadat atau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Syahadat itu disaksikan teman-temannya dan dilakukan di tengah Malikah menghadapi ujian universitas. “Waktu itu umur saya 18 tahun, saya memeluk Islam tahun 2003,”tutup wanita berumur 29 tersebut.

Cerita Rasulullah tolak makamnya jadi tempat ibadah

Beberapa hari sebelum Rasulullah meninggal, beliau sudah mempersiapkan diri termasuk membicarakan soal makam beliau. Dalam tradisi Habasyah atau Etopia, masyarakat membangun rumah ibadah di makam tokoh masyarakat atau orang terpandang.

Tradisi ini disampaikan Ummu Habibah kepada anak Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, kalau-kalau Rasulullah ingin juga didirikan tempat ibadah di makam beliau.

“Ketika orang terkasih meninggal dunia, orang-orang di Habasyah akan mendirikan bangunan di atas makamnya dan kemudian membangun masjid,”kata Ummu Habibah dikutip dari buku Sibel Eraslan, Rabu (26/6).

Rasulullah yang tengah terbaring lemah, langsung membuka matanya dan berkata,”Iya benar apa yang dikatakannya itu. Ketika orang terkasih meninggal, mereka akan membangun tempat ibadah di atas makamnya. Sebagian orang sebelum kalian juga telah membangun tempat ibadah di atas makam hamba yang saleh. Namun, aku melarang kalian semua melakukan hal seperti itu,” seru Nabi.

Menurut sejarah dahulu makam Rasulullah hanya berupa gudukan tanah yang berada di dekat kediaman Aisyah. Namun karena hendak dipelihara, Khalifah Abdul Malik ibnu Marwan memasukkan makam Rasulullah ke dalam kompleks masjid Nabawi saat itu juga masjid Nabawi mengalami perluasan.

Di areal makam Rasulullah yang sekarang dikenal sebagai Raudah, terdapat juga makam Abu Bakar dan makam Umar. Areal makam tersebut dipagari guna menghindari penyembahan terhadap Nabi.

 

sumber: Merdeka.com