Muhammad Yusuf Seran, Hidayah Melalui Mimpi

KisahMuallaf.com – Sejak kecil ia sangat suka mendengar lantunan azan. Gotfridus Goris Seran. Begitulah nama asli pria calon pastor asal Kupang tersebut. Ia mengubah namanya dengan mengambil dua nama Nabi dan Rasul sekitar 20 tahun silam, saat ia memeluk agama Islam.

“Saya ingat betul saat itu 29 November 1992, saat saya sedang kuliah pascasarjana di UI Salemba. Teman-teman saya sudah menjadi pastor di Amerika Latin, Afrika, Australia, Jepang, banyak,” ungkap Seran memulai kisahnya menemukan Islam.

Sejak kecil, Seran rupanya telah dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi pastor Katolik. Tak heran, ia yang kini merupakan salah seorang pejabat di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas di seminarium, sekolah pencetak para pastor. “Seminarium itu dalam bahasa familiar mungkin disebut kaderisasi. Kalau di Islam, mungkin seperti pesantren, madrasah,” jelas Seran.

Layaknya pesantren yang mencetak para dai atau ustadz, pendidikan di seminarium membutuhkan waktu empat tahun dengan setahun persiapan. Mata pelajaran umum tetap diajarkan di sekolah khusus ini.

Setiap tahun harus melalui ujian, baik ujian umum maupun ujian agama. Jika lulus dalam ujian agama, lulusannya dianggap faqih dalam agama dan dapat menjadi juru dakwah. Bagi Seran, ujian umum bukanlah perkara sulit. Tetapi, entah mengapa ia tak lulus ujian agama atau yang disebut ujian seminari.

Seran kecil juga sangat menyukai lantunan azan yang disiarkan di radio ataupun televisi. Di daerah asalnya, Timor Timur, atau tempat tinggalnya, Kupang, azan bukanlah sesuatu yang dapat didengar setiap saat.

Hal itu lantaran tak ada masjid di sana. Maka, lantunan azan hanya bisa ia dengar lewat siaran radio ataupun televisi. Ia merasa ada “sesuatu” di balik panggilan shalat itu.

Di sekolah Katolik, Seran mengambil pelajaran Islamologi. Meski saat itu belum berislam, Seran sudah mengenal Islam dari sisi ilmu budaya. Bisa jadi, inilah langkah kecilnya untuk memulai perjalanan panjangnya menuju agama rahmatan lil alamin tersebut.

Meski tak lulus ujian seminari, yayasan Katolik pemilik sekolah seminari memberikan beasiswa sarjana karena melihat kecerdasan Seran. Ia pun melanjutkan pendidikan, tetapi bukan untuk mendalami teologi, melainkan ilmu pemerintahan.

Meraih gelar sarjana, Seran kembali mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan jenjang magister.

“Saya mendaftar S-2 di UI dan UGM. Dua-duanya diterima, tapi saya memilih UI. Padahal, kebanyakan pemuda dari tempat kita memilih UGM. Entah mengapa saya memilih UI. Jika tidak memilih ke Jakarta, mungkin cerita saya akan berbeda,” kata dia.

Sebuah mimpi
Pindah ke Ibukota membentangkan jalan kehidupan baru bagi Seran. Satu hal yang membuatnya girang, ia dapat mendengar azan, lima kali sehari, secara langsung tanpa melalui radio atau televisi.

“Tak tahu mengapa, saya merasa terhanyut sedih setiap mendengar azan. Bahkan, saya sering kali menangis tersedu-sedu sendiri di kamar kos di Salemba saat mendengar azan,” ujarnya tersipu.

Hingga suatu hari, lewat tengah malam, Seran bermimpi. Ia seakan dibawa ke suatu tempat yang sangat gelap, benar-benar gelap hingga tak mampu melihat apa pun. Kemudian, tiba-tiba muncul sebuah titik cahaya dari sebuah tempat.

Cahaya tersebut lambat laun makin besar. Dari cahaya itu, muncul sesosok tubuh berjubah, tetapi tak terlihat rupa wajahnya. Sosok tersebut kemudian berjalan menghampirinya. Sesaat kemudian, Seran terbangun. Ia terdiam dengan perasaan penuh tanya. Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Seran. Pagi harinya, Seran menemui ibu kos dan menceritakan mimpinya. Ibu kos yang beragama Islam itu pun menjawab, “Kamu sudah dekat, Nak.”

Seran makin bertanya-tanya, pertanda apakah ini? Apanya yang sudah dekat? Sejak itu, Seran terus memikirkan mimpinya. Ia pun mencoba bertanya kepada sejumlah orang terkait mimpi itu. Akhirnya, Seran meyakini, lokasi munculnya cahaya dalam mimpinya adalah Ka’bah, kiblat umat Islam.

Sebulan setelah mimpi itu, ia pun merasa mantap untuk menjadi Muslim. “Pengalaman mimpi itu, entah apa itu hidayah atau apa, tapi dari situ akhirnya masuk Islam. Hari Minggu tanggal 29, pagi-pagi saya ke Masjid Agung Sunda Kelapa, kemudian membaca syahadat,” ungkapnya.

Seran juga mendapatkan sertifikat, sajadah, Al-Quran, dan buku tuntunan shalat. “Saya ingat betul, warna buku itu putih-ungu. Tapi, saat itu saya nggak bisa baca sama sekali. Setelah itu, saya belajar,” tutur pria murah senyum itu.

Setelah menjadi Muslim, Seran giat mempelajari Islam, cara beribadah, dan mengimani seluruh sendi rukun iman. Pada Maret mendatang, ia berniat mengajak keluarganya beribadah umrah.

Ia ingin melihat langsung Ka’bah yang ada dalam mimpinya. Seperti dalam mimpinya, ia pun ingin melihat Ka’bah dari sebuah bukit. “Saya ingin membuktikan mimpi saya.”

Lapang Dada Hadapi Tantangan
Seusai menempuh pendidikan magister, Seran pulang ke Kupang. Ia berkewajiban mengajar sebagai dosen di kampus Katolik yang telah memberinya beasiswa. Betapa tak enak hatinya saat itu. Keluarga dan pemberi beasiswa tentu berharap banyak darinya, tetapi ia justru pulang sebagai Muslim.

Sejak awal, Seran sudah menyadari bakal menghadapi risiko dan tantangan itu. Maka, ia pun tak merasa gamang. Ia siap menghadapi tantangan demi tantangan dengan lapang dada. Tekadnya semakin bulat kala sebuah mimpi kembali mengisi tidur malamnya. Kali ini, Seran melihat bumi terbelah dua.

Ia berada di satu sisi sementara keluarganya berada di sisi lain. Dari mimpi itu, pahamlah ia bahwa jalannya telah berbeda dengan keluarganya.

Sehari, dua hari, Seran merasa terasing di kampung halamannya. Dalam berkarier, ia pun tak mendapat hak ataupun kesempatan yang sama. Tak jarang orang menganggap Seran memeluk Islam hanya karena sang istri yang ia nikahi tak lama setelah berislam.

Seran membantah tudingan itu. Sebab, ia memeluk Islam dengan tulus, sepenuh jiwa dan raga. “Saya bukan karena mau menikah dengan Muslimah. Kalau masuk Islam karena wanita, itu agama jadi bernilai sangat rendah,” ujarnya.

Bertahan beberapa tahun, ia kemudian merasa jalannya semakin berat. Lagi-lagi, Seran mendapat petunjuk dari mimpi. Ia bermimpi berada dalam kondisi yang menakutkan, gelap, hujan lebat, dan petir yang sambar-menyambar.

Bumi seakan sedang mengalami masa akhirnya, Kiamat. Dalam kondisi yang sangat mencekam itu, Seran melihat asma Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bercahaya terang.

Ia pun lalu memutuskan untuk meninggalkan Kupang dan kembali ke Jakarta pada 2001. Ia ingin hijrah ke tempat yang lebih baik. Padahal, saat itu, Seran tak memiliki apa pun, baik pekerjaan maupun tempat tinggal di Ibukota.

Ia akhirnya memilih tinggal di Bogor, kota kelahiran sang istri. Berkat pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , Seran segera mendapat pekerjaan. Sekali melamar menjadi dosen di Universitas Djuanda (Unida) Bogor, ia langsung diterima.

Hingga kini, ia masih mengajar di kampus tersebut, selain menjadi kepala sosialisasi di KPU Kabupaten Bogor. Kini, ia hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya: Ridho Islam Seran, Ilham Islam Seran, dan Riskia Islam Seran.

Mengenai nama anak-anaknya, Seran memang sengaja membubuhkan kata ‘Islam’, lalu diikuti nama keluarga, Seran. “Saya dan istri ingin mereka dikenal sebagai Seran Muslim. Jadi, kalau pergi ke Kupang biar diidentifikasi Islam. Ada Seran yang Muslim,” pungkasnya.

Dua Tanda yang menjadi Ciri Ibadah Haji Anda Mabrur

Terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa ibadah haji yang dikerjakan diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang terdapat di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang berhaji melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tanda yang muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu tumbuhnya keshalihan pada diri orang yang telah berhaji, yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan dan dosa. Dia memulai kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi dengan keshalihan dan istiqamah.

Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Allahta’ala telah menjelaskan kondisi orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”(Al Mukminun: 60).

Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,

“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak, wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak diterima oleh Allah ta’ala.”[4]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.”[5]

Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.

Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.[6] Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya  dengan ucapan“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 127).

Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar sudi menerima amal mereka berdua tersebut.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,   “Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”[7]

Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?

Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin, memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.

Diterjemahkan dari Al Hajju wa Tahdzib an Nufus, Syaikh ‘Abdurrazaq al Badr. Ibnu Baththah dalam kitab beliau Al Ibanah (2/873) berkata, “…demikian pula seorang yang baru saja pulang dari melaksanakan haji dan ‘umrah serta menyelesaikan seluruh kegiatan manasik, apabila dirinya ditanya mengenai haji yang telah dilaksanakannya, maka ia akan mengatakan, “Kami telah berhaji, tidak ada lagi yang tersisa selain harapan agar amal tersebut diterima oleh-Nya.”

Demikian pula, do’a orang-orang bagi diri mereka sendiri atau do’a mereka kepada sesamanya adalah, “Ya Allah, terimalah puasa dan zakat kami.” Tatkala seorang menemui seorang yang telah berhaji, telah menjadi kebiasaan, dia mengucapkan, “Semoga Allah menerima hajimu dan membersihkan amalanmu.” Demikian juga, tatkala manusia saling bertemu ketika penghujung Ramadhan, maka mereka saling mengucapkan, “Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.”

Nasihat Rasulullah SAW Tentang Kematian

Rasulullah SAW bersabda, “Sering-seringlah mengingat sesuatu yang merusak kelezatan-kelezatan.” (HR At-Tirmidzi)
Maksudnya, rusaklah kenikmatan-kenikmatan dengan cara mengingat kematian, sehingga terhentilah kecenderungan kalian padanya, lalu kalian fokus menghadap Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya binatang-binatang ternak tahu seperti yang diketahui oleh anak cucu Adam tentang maut, niscaya kalian tidak akan tega memakan (binatang) yang sangat gemuk daripadanya.” (HR Baihaqi)
Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang akan dikumpulkan bersama para syuhada?” Beliau menjawab, “Ya…Ada. Yaitu orang yang ingat mati sebanyak dua puluh kali sehari semalam.”
Alasannya adalah karena mengingat kematian secara otomatis akan menimbulkan rasa tidak suka terhadap dunia yang sarat dengan tipu daya, dan mendorong seseorang untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya, lalai dari mengingat kematian akan mendorongnya untuk tenggelam dalam kesenangan duniawi.
Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman.” (HR Ibnu Abu Dunya dan Ath-Thabrani)
Beliau mengatakan demikian karena dunia memang merupakan penjara bagi orang yang beriman. Di dunia, ia selalu berada dalam kesulitan karena ia harus mengalami kerasnya siksaan batin, melatih diri untuk menaklukkan keinginan-keinginan nafsunya dan melawan setan. Kematian akan membebaskannya dari siksaan tersebut. Jadi, baginya itu jelas merupakan hadiah yang sangat berharga.
Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah kaffarat (tebusan) bagi setiap Muslim.”
–Imam Al-Ghazali dalam kitab Dzikir al-Maut wa Ba’dahu, Ihya Ulumuddin.

Kisah Perempuan Nasihati Khalifah Umar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Imam Al Qurthubi menceritakan pada suatu hari pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, Amirul Mukminin pernah berjumpa dengan seorang perempuan di jalan. Saat itu, Umar diiringi banyak orang yang menunggang kuda. 

Perempuan itu memintanya berhenti. Umar pun berhenti. Dinasihatilah Umar oleh perempuan itu.

Ia berkata, “Hai Umar, dulu kau dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian engkau dipanggil Umar, kemudian engkau dipanggil Amirul Mukminin, maka bertakwalah engkau, hai Umar. Karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barang siapa yang meyakini adanya perhitungan (amal), maka ia pasti takut kepada siksa.” 

Umar bin Khattab menyimak nasihatnya sambil berdiri. Hingga setelah beberapa waktu, ada seorang yang bertanya kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan wanita tua renta ini?”

Umar menjawab, “Demi Allah, kalau sekiranya beliau menahanku  dari permulaan siang hingga akhir siang, aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa perempuan renta ini?” 

“Dia adalah Khaulah binti Tsalabah. Allah mendengar perkataannya dari atas tujuh langit. Apakah Tuhan seluruh alam mendengarkan ucapannya, tetapi lantas Umar tidak mendengarkannya?”

Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram, demikian nama wanita itu. Ia berasal dari kalangan perempuan Anshar. Doa dan gugatannya didengar oleh Allah hingga menjadi sebab turunnya surah Mujadalah ayat 1-4. Kisah ini tidak hanya menunjukkan kemuliaan Khaulah, melainkan juga keindahan adab Umar, sang khalifah.

Misteri doa mustajab di hari Jum’at

(Arrahmah.com) – Allah SWT melebihkan hari Jum`at dari hari-hari lainnya dalam sepekan dengan banyak keutamaan. Di antaranya pada hari Jum`at terdapat suatu waktu yang doa seorang muslim pada waktu tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, selama memenuhi syarat-syarat dan adab-adab berdoa.

Keutamaan terkabulnya doa pada waktu mustajab tersebut disebutkan dalam beberapa hadits. Di antaranya, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum`at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang muslim mendapati waktu tersebut dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan, melainkan Allah akan memenuhi permohonannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Waktu tersebut hanya sebentar.” (HR. Bukhari no. 6400 dan Muslim no. 852, dengan lafal Muslim)

Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan waktu mustajab tersebut. Sebagian ulama menyatakan sejak bakda Shubuh. Sebagian lain menyatakan sejak khatib naik mimbar sampai waktu dilaksanakan shalat Jum`at. Sebagian lain menyatakan waktu khatib duduk sebentar di antara dua khutbah. Dan sejumlah pendapat lainnya.

Pendapat yang paling kuat menyatakan waktu tersebut adalah satu jam terakhir di sore hari, yaitu satu jam sebelum matahari terbenam pertanda waktu shalat maghrib telah masuk. Hal ini berdasarkan sejumlah hadits shahih berikut, Dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu `Anhu berkata, “Saat itu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam sedang duduk, maka saya mengatakan, “Sesungguhnya kami (kaum Yahudi, sebelum ia masuk Islam, pent) mendapati dalam kitab Allah (Taurat, pent) bahwa pada hari Jum`at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang mukmin mendapati waktu tersebut saat ia melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah memohon suatu keperluan, melainkan Allah akan memenuhi keperluannya.”

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam memberi isyarat kepadaku (Abdullah bin Salam) lalu bersabda, “Atau sebagian waktu (tidak satu jam penuh, pent).” Aku (Abdullah bin Salam) berkata: “Anda benar, memang sebagian waktu saja.” Abdullah bin Sallam lalu bertanya, “Waktu apakah ia?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Waktu (satu jam) terakhir dari waktu siang hari.” Abdullah bin Sallam berkata: “Tetapi waktu tersebut bukan waktu untuk shalat.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia adalah waktu shalat. Sebab, jika seorang mukmin menunaikan shalat (Ashar) kemudian duduk di tempatnya menunggu shalat berikutnya (Maghrib), maka sesungguhnya selama itu tengah mengerjakan shalat.” HR. Ibnu Majah no. 1139, Al-hafizh Al-Bushiri berkata: Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah) Dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Hari Jum`at terdiri dari dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada suatu jam tertentu), melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah jam terkabulnya doa tersebut pada satu jam terakhir setelah shalat Ashar!” (HR. Abu Daud no. 1048 dan An-Nasai no. 1389, sanadnya baik, dinyatakan shahih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, An-Nawawi, dan Al-Albani, dan dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar al-Aasqalani)

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Carilah satu jam yang diharapkan pada hari Jum`at pada waktu setelah shalat Ashar sampai waktu terbenamnya matahari!” (HR. Tirmidzi no. 489, di dalamnya terdapat seorang perawi yang lemah bernama Muhammad bin Abi Humaid az-Zuraqi. Namun hadits ini diriwayatkan dari jalur lain oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu`jam al-Awsath dan dikuatkan oleh hadits Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Salam di atas)

Imam Sa`id bin Manshur meriwayatkan sebuah riwayat sampai kepada Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul dan saling berdiskusi tentang satu jam terkabulnya doa pada hari Jum`at. Mereka kemudian bubar dan tiada seorang pun di antara mereka yang berbeda pendapat bahwa satu jam tersebut adalah satu jam terakhir pada hari Jum`at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menyatakan riwayat imam Sa`id bin Manshur ini shahih. Beliau lalu berkata, “Pendapat ini juga dianggap paling kuat oleh banyak ulama seperti imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawaih, dan dari kalangan madzhab Maliki adalah imam ath-Tharthusyi. Imam Al-‘Allai menceritakan bahwa gurunya, imam Ibnu Zamlikani yang merupakan pemimpin ulama madzhab Syafi`i pada zamannya memilih pendapat ini dan menyatakannya sebagai pendapat tegas imam Syafi`i.”

Wallahu a`lam bish-shawab.

Ingin Berhaji Lagi? Harus Sabar Menunggu 10 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA– Kementerian Agama telah membuat regulasi terkait kebijakan haji satu kali. Bagi jamaah yang sudah melaksanakan ibadah haji, maka dapat mendaftar haji kembali setelah 10 tahun kemudian.

“Jadi aturan ini mulai diberlakukan tahun ini. Mulai sekarang bagi yang mendaftar awal bukan yang punya nomor porsi. PMA (Peraturan Menteri Agama) sudah saya tanda tangani” ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat ditemui di kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (28/5).

Ia menjelaskan, kebijakan ini diterapkan karena panjangnya antrian calon jamah haji di seluruh provinsi di Indonesia. Pemerintah akan memprioritaskan pemberangkatan bagi calon jamaah haji yang belum pernah berangkat sama sekali.

Namun, Kemenag juga tidak ingin membatasi atau melarang masyarakat yang sudah berhaji  untuk menunaikan ibadah haji kembali. Untuk itu, pemerintah membuat regulasi dengan mempersilakan masyarakat yang sudah berhaji untuk mendaftar kembali pada 10 tahun kemudian.

Interval waktu 10 tahun, menurut Menag, dinilai sudah memadai untuk mempriotaskan calon jamah haji yang belum pernah berhaji sama sekali.

Takjubnya Kosmonot Rusia Saat Potret Mekkah dan Madinah Dari Luar Angkasa

Eramuslim.com – Kosmonot Anton Shkaplerov memfoto dua kota suci umat muslim dunia, Mekah dan Madinah, Arab Saudi. Foto yang diambil pada malam hari dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) itu sungguh menakjubkan. Kota Mekah dan Madinah terlihat benderang. Cahaya lampu berkilau bak hamparan emas. Sementara pada salah satu titik di tengah, terlihat cahaya putih yang sangat jelas.

Shkaplerov mengunggah foto-foto itu ke Twitter dan Instagram. Dia mengaku sangat kagum dengan pemandangan yang dia tangkap melalui kamera itu.

“Amazing night view of #Mecca and #Medina from the #ISS,” demikian tulis Shkaplerov dalam akun Twitter, @AntonAstrey, sebagaimana dikutip Dream Senin 14 April 2015. Sejak diunggah 26 Januari 2015 hinga 14 April, foto itu telah di-retweet oleh 7.200 pengguna Twitter.

Tak hanya Mekah dan Madinah, Shkaplerov juga memotret pemandangan di sejumlah tempat di Bumi dari luar angkasa. Pemandangan-pemandangan tempat-tempat itu juga mengagumkan.(rz)

Andre Willey, Menjemput Hidayah di Balik Jeruji

Kisahmuallaf.com – Di masa lalu, pemuda berandalan itu kerap terlibat aksi kekerasan antargeng. Tuhan rupanya memberikan kesempatan kedua baginya, setelah ia ditangkap alam satu bentrokan berdarah antar geng yang menewaskan satu orang dan lainnya luka-luka.

Di penjara tahun 1989, Andre akhirnya bebas setelah menjalani masa hukuman selama 23 tahun. Usianya kini 42 tahun. Namun, ada yang berbeda dengan perangainya saat ini.
Sikapnya begitu santun dan hangat. Mimik wajahnya menampakan wajah simpatik. Ya, dia telah memeluk Islam selama menjalani masa hukuman.

Tren memeluk Islam tengah menjangkiti penjara California, Amerika Serikat (AS). Andre merupakan satu dari sekian tahanan California, sebagian besar Afrika-Amerika, yang memeluk Islam.

Yang membanggakan, Andre — kini bernama Yusuf Willey — menjadi contoh dari keberhasilan dakwah Islam di penjara California.

Tidak lagi mejadi rahasia publik bahwa penjara California merupakan penjara di AS yang memiliki catatan buruk dalam rehabilitasi para tahanan. Sekitar 65 persen dari mantan tahanan California kembali ke hotel prodeo dalam waktu tiga tahun.

Tapi Andre menjadi pengecualian. Selama satu dekade terakhir, Andre merupakan tokoh kunci dari dakwah Islam di Penjara California.

“Saya memiliki motivasi yang luas, mengikuti terapi, konseling dan diskusi antar tahanan yang tidak pernah dijalankan dengan baik oleh negara. Para tahananlah yang menjalankan dan membuat terapi,” kata dia.

Dua pekan setelah bebas, Andre, tak berhenti untuk melanjutkan apa yang ia lakukan di penjara. Ia dalami Alquran, dan memberikan pengajara kepada muslim di masjid Bay Area.

Pemimpin Yayasan Tayba, kelompok pendidikan agama Islam di Bay Area, Syaikh Rami Nsour mengatakan Andre memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Islam begitu baik. Ia sudah layak untuk memimpin jamaah.

Perubahan drastis Andre, dimulai setelah bertengkar dengan sesama penghuni penjara pada tahun 1993. Saat itulah, ia ditempatkan dalam sebuah sel khusus, dengan tingkat pengamanan yang lebih ketat. Ia sendirian di sana. Di sel itulah, ia menemukan sebuah buku tentang Islam.

“Aku berkenalan dengan Islam di sel itu,” kenang dia.

Dalam buku itu, Andre menemukan ilmu Ihsan yang berarti kebajikan, niat atau melakukan hal yang baik. “Ini tentang bagaimana anda mengenal hati anda yang sakit oleh virus iri hati, arogansi, dan kebencian. Ilmu ihsan menuntun saya untuk membersihkan diri dari viru-virus tersebut,” katanya.

Andre pun mulai berkomitmen untuk melakukan perubahan besar. Sebuah komitmen yang terucap saat bibir dan hatinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tak perlu lama bagi Andre untuk menjaga komitmen yang ia buat. Ia shalat lima kali sehari, puasa ketika hari libur tertentu dan tradisi lain dalam Islam.

Saat ia mulai mempelajari Islam, ia dengarkan ceramah yang direkan dari Syekh Hamza Yusuf, pendiri Zaytuna Institue, perguruan tinggi agama Islam di Berkeley. Ia pun menulis surat kepada Syekh tentang apa yang dialaminya, namun tidak mendapat respon. Bertahun-tahun kemudian, ia menulis surat tentang bagaimana aturan fikih, kode moral dan etika beribadah dalam kehidupan penjara.

Andre Willey

“Itu menarik perhatiannya,” kata Andre. “Saat itulah, mereka mulai mengirimkan saya buklet kecil.”

Tak hanya dari Syekh, pendidikan Islam juga diperoleh Andre dalam komunikasi bersama Nsour lewat surat dan telepon. “Saya melihat dia sangat, sangat termotivasi,” kata Nsour.

“Apa pun teks-teks saya dikirim kepadanya, ia akan mengajukan pertanyaan spesifik. Saya pun berkewajiban untuk menjelaskannya,” kenang Nsour.

Serasa memiliki pemahaman yang baik tentang Islam, giliran Andre menyebarkannya kepada sesama tahanan. “Setiap orang mungkin tidak percaya bahwa ada niatan tulus dari para tahanan untuk berubah. Mereka melihat harapan. Dan saya mencoba menghidupan harapan itu,” kata Andre.

Bebas setelah dua dasawarsa mendekam di penjara, membuat Andre begitu bahagia. Kebahagian itu seolah menjadi magnet bagi para tahanan yang berada di dekatnya. Mereka yang mengenal Andre, merasakan kenyamanan yang begitu langka dalam kehidupan dalam penjara.

“Pertobatan adalah pemimpin perubahan,” kata Andre. “Saya harus bertobat dan istighfar. Setiap orang yang pernah saya sakiti dan khianati, saya kunjungi, dan saya meminta maaf kepada mereka,” kata dia.

Andre sendiri telah meminta maaf kepada keluarga korban, dan mengatakan ia tidak menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Amira Ibrahim, Hidayah Allah SWT Menerangi Kalbuku

KisahMuallaf.com – Mosman merupakan sebuah kota kecil di pinggiran utara Sidney, di negara bagian New South Wales, Australia. Populasi Muslim di kota itu terbilang tak terlalu banyak. Mayoritas penduduk kota itu adalah penganut Yahudi dan Kristen.

Pada 2005 lalu, sempat umat Islam di Kota Mosman berniat membeli gedung bekas gereja untuk dijadikan masjid, seperti diberitakan laman ABC Newsonline. Namun, rencana itu sempat ditentang anggota dewan Kota Mosman bernama Dominic Lopez.

”Mosman adalah wilayah Yahudi-Kristen dan tak akan mengizinkan orang-orang dengan keyakinan lain tinggal di sini,” ujar Lopez seperti dikutip ABC Newsonline. Namun, Wali Kota Mosman, Denise Wilton, tak sependapat dengan pemikiran Lopez.

Wali Kota Wilton menilai pendapat yang dilontarkan Lopez sangat mengerikan. Menurutnya, sangat tak berdasar jika seseorang didiskriminasi hanya karena alasan agama. ”Dalam demokrasi, Anda bisa berbeda pendapat. Saya sangat tak setuju dengan pendapatnya,” papar Wilton.

Masih banyaknya kesalahpahaman tentang Islam di Kota Mosman, tidak menyurutkan niat Amirah Ibrahim untuk menegakkan ajaran agama yang paling benar, yakni Islam. Sejatinya, Amirah merupakan warga asli Mosman. Ia terlahir dan dibesarkan di kota itu.

Keluarganya adalah pemeluk Kristen. Amirah Ibrahim bukanlah nama pemberian dari orang tuanya. Nama itu disandangnya setelah ia resmi memeluk Islam pada Agustus 2003 silam. Sejatinya, kedua orang tuanya memberi nama Lucie Thomson.

Amirah mulai mengenal dan mempelajari Islam pada 2001. Hidayah Allah SWT menerangi kalbu wanita yang awalnya bernama Lucie Thomson itu. Ia mengaku mulai tertarik untuk mengenal Islam. Keputusannya untuk mempelajari Islam diakuinya sebagai sebuah pilihan yang sangat bertentangan dengan orang-orang di sekelilingnya.

Hingga akhirnya, pada 2003, Lucie Thomson mengucap dua kalimat syahadat. Ia resmi memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Setelah memeluk Islam, Amirah mengaku tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan secara langsung perihal keyakinan barunya itu kepada kedua orang tuanya.

”Ketika itu, saya tidak berani untuk bertatap muka dengan mereka dan mengatakan langsung bahwa saya telah menjadi seorang Muslim. Yang bisa saya lakukan saat itu adalah menyampaikan kabar tersebut melalui surat,” ungkap Amirah seperti dilansir harian Sidney Morning Herald.

Kepada surat kabar Australia itu, Amirah mengisahkan pengalamannya dalam menemukan hidayah. Sebelum memeluk Islam, Amirah tergolong umat Kristiani yang taat. Dia tidak pernah meninggalkan acara keagamaan yang diselenggarakan oleh Gereja Anglikan di sekitar tempat tinggalnya. Ia adalah jemaat yang rajin.

”Saya selalu percaya, Tuhan itu ada, tetapi tidak pernah yakin mana iman agama yang tepat untuk saya, ujar Amirah. Terdorong oleh keinginan kuat untuk mencari keyakinan yang dirasakan sesuai dengan hatinya, Amirah pun memutuskan mempelajari kitab suci umat Islam, Alquran.

Keinginan untuk mempelajari Alquran juga dikarenakan pacarnya pada waktu itu mengikuti ajaran Druze, sebuah keyakinan agama yang banyak dianut oleh sejumlah kalangan di beberapa negara di Timur Tengah.

Para pengikut ajaran ini kebanyakan tinggal di Lebanon meskipun ada pula komunitas mereka dalam jumlah yang kecil di Israel, Suriah, dan Yordania.

Menurut laman Wikipedia, kelompok itu muncul dari Islam dan mendapat pengaruh dari agama-agama dan filsafat-filsafat lain, termasuk filsafat Yunani. Kaum Druze menganggap dirinya sebagai sebuah sekte di dalam Islam meskipun mereka tidak dianggap Muslim oleh kebanyakan Muslim di wilayah tersebut.

Seperti halnya pemeluk Islam, kaum Druze ini juga menggunakan Alquran sebagai sumber ajaran mereka. Bahkan, mereka juga berbicara dalam bahasa Arab, papar Amirah berkisah. Di tengah perjalanan membina hubungan, Amirah dan sang pacar memutuskan untuk berpisah.

Namun, berakhirnya hubungan asmara tersebut tidak membuat keinginan perempuan kelahiran 27 tahun silam itu untuk mempelajari Alquran dan Islam surut.

Berkat bantuan dari salah seorang kenalan Muslimnya, ia kemudian dipertemukan dengan seorang guru agama Islam. Dari guru tersebut, Amirah kemudian banyak mempelajari tentang Islam.

”Setelah banyak berdiskusi dengan orang ini, saya merasa ini (Islam–Red) adalah keimanan yang selama ini diinginkannya. Apa yang diajarkan di dalamnya rasanya benar. Saya pikir, saya tidak dapat menyangkalnya (lagi),” tutur Amirah.

Dengan bantuan seorang kenalannya di Asosiasi Muslim Australia (Australian New Muslims Association) cabang Lakemba, Amirah kemudian mengucapkan syahadat. Saat itu usianya masih terbilang remaja, 18 tahun. Setelahnya, kehidupanku menjadi lebih baik, ungkapnya.

Amirah yang dulu dikenal sangat pemarah dan kurang agresif ini kini mengaku memiliki tujuan hidup setelah menjadi seorang Muslimah. Saya ingin menjadi Muslimah yang lebih baik yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjadi pelayan-Nya.

Keputusan Amirah menjadi seorang Muslimah begitu kokoh dan bulat. Pencariannya telah menemukan sebuah jawaban Islam adalah agama yang paling benar. Ia mencoba menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya, salah satunya mengenakan jilbab.

”Mungkin aku satu-satunya perempuan di Mosman yang mengenakan jilbab pada saat itu. Sebab, aku sendiri belum pernah melihat satu orang perempuan pun di Mosman yang mengenakannya,” ujar Amirah berkisah.

Tak hanya mengenakan jilbab. Amirah juga mengubah cara berpakaiannya dari yang sebelumnya serbaterbuka dan menampilkan lekuk tubuh berganti dengan mengenakan gamis longgar dan panjang. Penampilan barunya tersebut, menurutnya, sempat membuat adik laki-lakinya merasa malu di hadapan teman-temannya.

”Sementara sahabatku, pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa aku mengenakan penutup kepala,” paparnya. Namun, tantangan itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap menutup aurat. Tak mudah memang menjalankan syariat di tengah masyarakat non-Muslim.

Amirah mengaku merasakan orang-orang di sekitarnya melihatnya dengan tatapan aneh dengan gaya berbusananya. ”Orang-orang banyak yang mengangguk dan tersenyum saat saya lewat di hadapan mereka. Bahkan, tak jarang anak-anak kecil tertawa ke arahku,” ungkap Amirah.

Kendati mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang-orang di sekelilingnya, namun diakui Amirah, dirinya tidak pernah memiliki keinginan untuk membalas semua tindakan buruk tersebut. Ia menyadari betul bahwa sulit untuk hidup sebagai seorang muslim di tengah-tengah masyarakat yang sudah memberikan cap buruk terhadap Islam dan umat Islam.

Komunitas Muslim memang kerap menjadi korban dan mendapat perlakuan tidak adil. ”Tapi, perlakuan buruk mereka kepada kami tentunya akan dinilai oleh Allah, dan hanya Allah yang pantas memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka,” ucapnya.

Banyak Jalan Menuju Kabah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, pengamat haji

Sekelompok orang yang mendiami sebuah hotel di tepi Laut Merah, Jeddah, terlihat gelisah. Saat itu adalah dua hari menjelang wukuf di Arafah pada musim haji 2013 M (1434 H). Mereka hilir mudik dan sibuk berbincang di ruangan tengah hotel. Wajah mereka terlihat tegang. Apalagi setelah menyimak berbagai selebaran yang ada di lobby hotel dan membaca langsung banyak plakat yang ditempel di jalanan dan pusat keramaian kota Jeddah.

”Wah bagaimana ini?” rungut Bambang Tri, salah seorang warga Indonesia yang ada dalam rombongan tersebut. Dia membaca dengan jelas isi selebaran bahwa pemerintah kerajaan Arab Saudi melarang keras siapa pun orangnya yang tak punya ‘tasreh’ (visa haji) untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Sanksinya serius, mereka yang nekad masuk ke Makkah tanpa tasreh akan ditangkap dan ditahan sebagai pendatang ilegal. Setelah itu dideportasi ke tanah air.

”Ya juga bagaimana ini?,” tukas anggota rombongan yang lain. Semua telah paham akan risikonya bila menjalani ibadah haji tanpi ‘tasreh’ itu. Istilahnya ‘apa kata dunia’ bila ternyata tak bisa masuk Makkah dan tak bisa mengerjakan wukuf. Bila ini sampai terjadi maka hajinya akan gagal. Dan kalau nanti tak bisa ikut wukuf di Arafah, maka meski sempat mengerjakan tawaf dan sai di Masjidil Haram, posisi nilai ibadahnya hanyalah sebatas melakukan umrah saja.

Dan setelah di musyawarahkan dengan anggota rombongan yang lain, akhirya mereka memutuskan apa pun jadinya mereka harus bisa ke Makkah untuk menunaikan rangkaian ibadah haji. Maka mereka pun segera menghubungi sebuah perusahaan biro haji Arab Saudi yang beberapa hari terakhir sudah mendatangi penginapan untuk menawarkan jasa ‘membimbing’ mereka berhaji.

”Kami sengaja pilih paket travel haji yang termahal. Kami tak bisa main-main. Bayangkan lalu gagal berhaji, padahal ketika berangkat kemarin semua sudah pakai selamatan dan membikin walimatul safar dengan mengundang banyak orang. Malu lah kalau sampai nggak bisa wukuf,” kata Bambang lagi.

Setelah itu Bambang bersama sekitar lima puluhan rekan ‘profesional’ lainnya merogoh kocek hingga 3.500 Real. Tawaran bisa pergi haji dari travel lain yang lebih murah ditolaknya mentah-mentah. Alasan penolakan karena travel itu punya pengalaman dan tak berani menjamin mereka bisa menjalankan ibadah haji dengan aman dan nyaman.

*****
Nah, setelah uang biaya haji dibayar, para calon haji yang datang ke Arab Saudi atas undangan perusahaan BUMN penerbangan ini segera bersiap. Selepas shalat Ashar mereka segera melakukan ‘prosesi’ mengenakan ihram seperti mandi besar maupun berniat dan melaksanakan shalat dua rakaat. Karena mereka sudah berada di Jeddah, maka memutsukan langsung mengambil ‘miqat’ di tempat itu dengan mendatangi sebuah masjid yang letaknya tak jauh dari hotel.

”Ternyata yang berangkat bersama kami jumlahnya puluhan orang. Sekitar pukul 17.00 Waktu Arab Saudi (WAS) kami berangkat dengan menumpang dua buah bus. Tujuannya adalah masuk ke Makkah dengan langsung menuju Arafah,” ujar Bambang lagi.

Sesampainay bus di jalan besar, ternyata jalanan kota Jeddah sudah dipenuhi orang yang berpakaian ihram. Semua juga ingin ke Makkah. Sopir bus pun segera mengarahkan perjalannya ke sana. Bus berjalan dengan beringsut karena jalanan sudah begitu penuh. Meski berjalan kayak kura-kura dan beberapakali harus menempuh jalan melingkar, bus terus berjalan dan mengarahkan tujuannya ke Makkah!

Setelah berjalan beberapa lama,sekitar pukul 22.30 WIB rombongan berada tak jauh dari ‘chek point’ (pintu pemeriksaan) masuk Makkah yang pertama. Saat hendak diperiksa pemimpin rombongan yang sebelumnya sudah meminta agar rekan-rekannya bisa tertib atau berulah macam-macam, melakukan negosiasi kecil-kecilan. Upaya ini berhasil, rombongan tak diperiksa serius. Ini mungkin karena berkah doa yang semenjak awal keberangkatkan diserukan untuk dibaca oleh seluruh anggota rombongan.

”Saya terkejut ketika diminta agar membaca doa yang dibagikan melalui selebaran sebelum sampai di pos pemeriksaan pertama pintu masuk Makkah. Sebab, isinya ternyata bukan doa ‘safar'(bepergian) atau doa manasik ketika tawaf, lempar jumrah, sa’i. Doa yan bagikan itu ternyata doa agar rombongan tak terlihat sebagai haji tanpa tasreh. Di situ doanya meminta agar para penjaga itu terbuka hatinya sehingga kami pun selamat masuk ke Makkah,” kataYoghi Ardi, anggota rombongan yang lain.

Alhasil, doa itu ternyata makbul. Pemeriksaan di chek point pertama bisa lolos. Mereka yang ada dalam mobil sangat lega ketika bus bisa melewati pos permiksaan tersebut. Sopir bus pun semakin mantap menjalankan busnya ke Makkah. Suasana di luar yang sudah beranjak semakin malam menjadi tak terasa suram, malah semakin ceria penuh cahaya kegembiraan.

Situasi yang sama terjadi pada proses pemeriksaan bagi jamaah haji di pintu chek point  kedua yang hendak ke Makkah. Memang, setelah bus berhenti, beberapa petugas keamanan kemudian naik ke atas bus untuk melakukan pengecekan. Namun, kali ini mereka hanya memeriksa secara sekilas dan tak menanyakan soal ‘tasreh’ haji. Alhasil,rombongan dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Semuanya merasa lega dan serentak bersahutan mengucapkan alhamdulillah,takbir,dan talbiyah.

Setelah itu bus berjalan lagi. Kini kondisi jalanan sudah semakin sesak. Beberapa orang malah terlihat berjalan kaki. Rupanya kini rombongan tak lama lagi akan memasuki pos pemeriksaan terakhir. Dari jauh, kerlip lampu menara Masjidil Haram sudah terlihat jelas. Bayangnya menyembul diantara perbukitan yang ada disekitar Makkah.

Entah mengapa, tiba-tiba ketika sampai di sebuah ruas jalan yang sedikit gelap, bus kemudian berhenti dan minggir. Tak cukup dengan itu, para pembimbing haji yang ada dalam rombongan itu, meminta jamaah untuk segera turun dari bus dan berjalan kaki beriringan mengikutinya. Setelah ditanya, rupanya mereka tak yakin kali ini bisa lolos dalam pemeriksaan ketiga. Dan dari pada nanti disuruh balik dan kemudian dideportasi karena tak punya ‘tasreh’ rombongan diajak jalan kaki agar bis ‘menyelundup’ masuk ke Makkah tanpa melalui gerbang terakhir pemeriksaan.

******
Alhasil, tanpa sempat protes rombongan semuanya turun dari bus untuk berjalan kaki. Mereka segera ke luar dari jalanan aspal dan berpindah dengan berjalan kaki menyusuri jalanan biasa. Mereka kini harus melintasi kawasan padang pasir di pinggir kota Makkah di tengah malam gelap yang hanya diterangi bulan yang masih agak menyabit.

Tapi mungkin karena semuanya tak ingin gagal berhaji, mereka hanya bisa pasrah. Bahkan, semuanya tampak berjalan kaki dengan bersemangat. Kini semuanya malah antusias menyusuri kawasan padang pasir di tengah gelapnya malam. Sesekali mereka menemukan peternakan onta. Uniknya ketika sampai di kawasan itu,para penjaga peternakan malah membagi-bagikan makanan dan minuman. Mereka menyambut kedatangan jamaah haji ‘gelap’ ini dengan antusias. ”Fisabilillah, (orang yang sedang berjihad di jalan Allah), fisabilillah, fisabilillah…!” begitu teriakan mereka ketika menyambut kedatangan rombongan.

Tak cukup dengan itu ketika membagikan makanan dan minuman mereka berkelakar dengan cara unik, yakni dengan menghitung dengan cara orang Sunda: ‘‘Hiji, dua, tilu, opat, lima, genep!” Rupanya mereka mengaku pernah punya teman orang Indonesia yang berasal dari Garut. Jadi pertemuan ‘gelap-gelapan’ kawasan padang pasir malam itu berlangsung dengan akrab dan hangat. Ini makin menarik karena rupanya baik yang datang menyambut maupun rombongan ternyata baru ketahuan berasal dari banyak negara: Indonesia, Malaysia, Yordania, Pakistan, hingga negara di kawasan utara Afrika.

Dan tak hanya disuguhi makanan pengganjal perut dan air pengusir rasa haus, para penjaga peternakan onta juga antusias menunjukan arah jalan ke Makkah yang aman dari sergapan petugas keamanan. Mereka menyarankan agar tetap mengarahkan ke arah sinar lampu menara Masjidil Haram. Selain itu mereka juga meminta agar berhati-hati terhadap anjing liar, serigala, tumbuhan duri, ular gurun, hingga kawat berduri. Kata mereka bila sudah sampai ke pagar berkawat duri, maka itu menjadi pertanda bahwa perjalanan sudah hampir sampai di Makkah alias sudah melewati pos pemeriksaan jamaah haji terakhir.

Benar saja, setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka menemukan pagar kawat berduri. Setelah menerobos melewatinya, kini jalanan besar terhampar  di depan mata. Di sana sopir bus yang tadi mengantarkannya sudah menunggu. Rombongan pun kemudian naik ke bus kembali. Jalanan Makkah yang sibuk kini mereka nikmati. Raungan anjing dan serigala gurun yang tadi mereka dengarkan sepanjang jalan, kini berganti dengan bunyi mesin mobil dan klakson para pengguna jalan. Ketegangan menyusuri kawasan padang pasir yang mereka lakuan selama hampir empat jam itu telah berhasil dilewati.

Bus pun berlari menembus kerumunan orang dan langsung menuju ke kawasan Arafah. Menjelang subuh sampailah mereka. Karena tak punya ‘tasreh’ mereka menempati kawasan ‘tak bertuan’ yang tersisa di pinggiran padang Arafah. Setelah tenda didirikan rombongan kemudian shalat Subuh berjamaah. Dan, setelah shalat Subuh ditunaikan tiba-tiba saja semua  anggota rombongan orang dicekam keharuan. Mereka tersadar kini sudah berada di Arafah dan bersiap menjalankan rukun haji, yakni wukuf di Arafah.

”Ketika saya wukuf, saya menangis lama sekali. Bersyukur luar bisa diberi kesempatan berhaji. Seluruh doa saya bacakan. Juga seluruh pesanan titipan doa dari handai taulan dan sahabat tak ada yang terlewat ikut dibacakan. Wukuf di Arafah adalah hadiah terindah sepanjang hidup,” kata Bambang ketika menceritakan suasana hati saat dia wukuf. Dia mengaku semakin terharu ketika mengenang sang isteri yang baru meninggal 20 hari sebelum dia sampai di Arafah.

”Ya, benar-benar tak terbayangkan. Kami tak mudah sampai ke sini (Arafah). Tapi kami sangat puas sekali. Apalagi dibenak kami semput muncul kekhawatiran mengingat ada rekan kami yang bercerita bahwa dia baru sampaike Makkah setelah Magrib tiba. Kalau sampai ini terjadi,maka saya jelas tak berhaji atau hanya umrah saja. Dan dahaga batin saya semakin terpuaskan ketika kemudian bisa melihat Ka’bah,” ujarnya.

Ya itulah, ternyata memang banyak jalan menuju Makkah yang di sana ada padang Arafah dan Ka’bah!