Risiko Memakai Jasa Dorong Mukimin: Mahal, Ditelantarkan dan Berbahaya

Petugas Perlindungan Jemaah (Linjam) menangkap seorang mukimin yang dicurigai gerak-geriknya saat berada di pemondokan jemaah. Pria itu memakai baju ihram, memakai tas jemaah tahun 2016, namun gelang yang dipakai tahun 2012. Saat diperiksa, ada uang jutaan rupiah dan ribuan riyal di tasnya.

Diinterogasi petugas, pria tersebut bersumpah tak melakukan pencurian. Dia mengaku hanya menjadi pendorong bagi jemaah yang membutuhkan kursi roda untuk beribadah ke Masjidil Haram. Uang itu adalah hasilnya bekerja dan tasnya berasal dari teman. Dimintai identitas, pria tadi tak punya surat-surat apa pun di Saudi.

Ini adalah salah satu contoh kasus risiko menggunakan jasa mukimin di Saudi. Jemaah diimbau agar tak menggunakannya karena aktivitas para mukimin di Masjidil Haram sudah diintai petugas keamanan. Mereka juga menerapkan tarif yang mahal, sampai kerap dikeluhkan berbuat jahat pada jemaah.

Kepala Seksi Perlindungan Jemaah Wagirun Topan Tuwinangun menerangkan, kasus tenaga pendorong kursi roda tidak resmi yang ditangkap di Masjidil Haram masih terus terjadi. Akibatnya, jemaah yang menggunakan jasa mereka menjadi terlantar.

“Kami dari perlindungan jemaah merasa peduli dengan kejadian ini. Karenanya kita adakan patroli rutin di lingkungan-lingkungan pemondokan jemaah supaya tidak minta tenaga pendorong dari mukimin,” kata Wagirun.

Foto: Rachmadin Ismail/detikcom

Menurutnya, menggunakan jasa mukimin untuk mendorong kursi roda saat tawaf atau sai risikonya besar. Apalagi, aparat Saudi di Masjidil Haram terus memperketat pengamanan sehingga potensi pendorong kursi roda tidak resmi ditangkap lebih besar. “Saya yakin pasti ditangkap kalau mukimin. Bahkan pendorong wanita, mereka bisa tahu. Karena intel-nya sangat banyak di Haram. CCTV saja ada 2000 an,” tuturnya.

Jika tertangkap, lanjut Wagirun, jemaah tentu menjadi pihak yang dirugikan karena terlantar. Petugas juga harus menangani setidaknya dua persoalan sekaligus, terlebih jika jemaah baru menjalani umrah wajib. Selain mengamankan jemaah secara fisik, petugas juga harus membantu jemaah menyelesaikan umrah wajibnya.

Wagirun mengaku pihaknya akan memperketat pengawasan agar kasus jemaah terlantar karena pendorong kursinya tertangkap aparat Masjidil Haram, tidak terulang. Rencana pengamanan sudah dibuat sejak dari pemondokan, jalanan, dan Masjidil Haram.

“Di pemondokan sudah kita gelar semua. Sekarang sistemnya terpadu, jadi semua petugas merupakan unsur linjam. Kita harapkan seperti itu, makanya di hotel sudah ada yang nempel di situ,” kataya.

“Secara khusus, linjam memperkuat sektor dengan patroli 24 jam, tErutama waktu malam, ketika teman-teman yang nempel di hotel mundur, kita yang aktif melakukan patroli,” tambahnya.

Jemaah juga diminta untuk mewaspadai modus yang digunakan pada pendorong kursi roda tidak resmi. Misalnya, agar tidak diketahui petugas, pelaku sengaja menggunakan kain ihram serta aksesoris gelang dan tas jamaah. Wagimun mengimbau jemaah menggunakan tenaga pendorong resmi yang sudah disiapkan pemerintah Saudi. Selain aman, biayanya juga jauh lebih murah.

Tarif yang biasa dikenakan para mukimin pada jemaah untuk tawaf dan sai berkisar di angka 500-600 riyal. Padahal memakai jasa pendorong resmi hanya 200 riyal untuk dua aktivitas ibadah tersebut.

sumber: Detikcom

Makna Mencium Hajar Aswad, Membersihkan Hati Tanpa Menyakiti

Semua yang datang ke Masjidil Haram punya keinginan mencium hajar aswad. Sebuah ritual yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW dan diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa. Namun, apa sebenarnya makna dari mencium hajar aswad?

Sejauh pantauan detikcom sejak 9 Agustus 2016, hajar aswad selalu menjadi tempat paling padat di sudut kakbah. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit, tak pernah sepi dari jemaah. Sebelum dan selesai tawaf, mereka berdesak-desakan, bahkan tak jarang sampai dorong-dorongan demi mencium batu yang diyakini dari surga tersebut.

Ada yang menggunakan strategi khusus agar bisa mencium hajar aswad. Beberapa jemaah menyusuri sisi kakbah dari rukun Yamani, lalu sedikit demi sedikit meringsek masuk ke depan hajar aswad. Sebagian jemaah lainnya datang dari arah depan, berbaris, berdesakan, sampai ke mulut hajar aswad. Kondisi ini semakin tak beraturan karena ada jemaah juga yang sedang melakukan tawaf. Jemaah yang mengantre hajar aswad menghentikan arus jemaah yang tawaf.

Sebagai objek paling dicari saat di Masjidil Haram, tak heran banyak jemaah yang rela bersikut-sikutan, bahkan sampai menyakiti orang lain untuk mencapai tujuannya. Di beberapa kasus, ada juga yang memanfaatkan keinginan jemaah dengan menjadi ‘calo’ hajar aswad. Mereka menawarkan kekuatan untuk memberi jalan pada siapa pun yang berani membayar mahal untuk mencapai hajar aswad. Namun aksi para calo ini tentu saja terlarang kerap jadi incaran para petugas keamanan.

Untuk lebih memahami makna hajar aswad, detikcom mewawancarai Koordinator Konsultan Pembimbing Ibadah Daker Makkah Profesor Aswadi. Guru besar UIN Sunan Ampel itu bercerita, soal makna terdalam dari mencium hajar aswad.

Dijelaskan oleh Aswadi, hajar aswad dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga menjadi ibadah sunah. Namun ibadah tersebut bisa menjadi negatif bila dilakukan dengan cara-cara tidak benar, seperti menganiaya orang lain, apalagi sampai menyakiti orang lain. Aswadi menyarankan, tidak perlu memaksakan diri untuk mencium hajar aswad, toh sudah diberi ketentuan cukup dengan takbir dan terus berjalan.

“Dulu Makkah atau kakbah itu dikenal juga dengan nama bakkah. Artinya menangis atau curhat atas beban hidup yang berat. Sehingga setelah dari situ, menjadi tenang. Itu awal fungsinya,” kata Aswadi.

Foto: Rachmadin Ismail/detikcom

Rasulullah SAW melakukan itu di depan batu hajar aswad. Beliau mencium batu dan menangis karena di situlah tempat menumpahkan air mata. Namun Rasulullah juga menggariskan, bila tidak mampu mencium hajar aswad, tidak perlu melakukannya.

“Mencium itu sesungguhnya sinkronisasi antara kesucian jiwa dan kesucian kakbah. Walaupun tidak mencium kita bisa mencari hubungan spiritual itu dengan menumpahkan semua permasalahan dan dosa-dosa kita. Sinkronisasi spiritual kakbah dengan spirit kita,” paparnya.

Hajar aswad adalah simbol kekuatan yang didatangkan dari surga. Batu tersebut aslinya berwarna putih. Batu itu menggambarkan bahwa mahluk ciptaan Allah sesungguhnya berasal dari kesucian. Namun dalam perjalanannya, manusia tak luput dari dosa. Maka mencium hajar aswad itu sesungguhnya adalah mencium dan mengakui semua dosa kita untuk menjadi kembali bersih dan suci.

“Ini masalah kepatuhan. Memang tidak bisa dirasionalkan,” tambahnya.

Di samping hajar aswad ada multazam, atau pintu kakbah. Sesungguhnya, makna berdoa di dekat pintu tersebut juga untuk mencapai pintu kebebasan. Di saat manusia sudah sinkron dengan kakbah dan menyesali perbuatannya, maka akan terbuka pintu keluasan, selama permintaan itu dalam konteks kebaikan.

Kepada para jemaah haji, Aswadi kemudian berpesan agar jangan pernah berniat mencium hajar aswad agar bisa disanjung orang. Apalagi jadi kebanggaan tersendiri sehingga membuat makna terdalam dari ibadah tersebut tidak tercapai.

“Karena perintah Allah itu butuh ketulusan, bukan kebanggaan. Jangan melakukan kebaikan kalau tidak menghasilkan manfaat,” pesannya.
(mad/imk)

 

sumber: Detikcom

Kisah Calon Haji yang Tertahan di Filipina: Jual Sawah untuk Bayar Rp 250 Juta

Makassar – Pasangan suami istri La Marola (70) dan Icoma (70), asal Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, terpaksa menjual 1 hektar sawahnya untuk bisa menunaikan ibadah haji via jalur internasional yang ditawarkan Travel Aulad Amin.

“Ambo dan Indo saya jual sawahnya 1 hektar di Desa Mojong, dia daftar Rp 250 juta di travel Aulad Amin di Kota Sengkang, kami tidak tahu bagaimana prosesnya sampai dia terdaftar, tiba-tiba saja kami diinformasikan bahwa Ambo dan Indo akan berangkat haji,” ujar Nurhaedah, ponakan La Marola saat ditemui di terminal kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Minggu (4/9/2016).

Menurut Nurhaedah, keluarganya berharap uang yang telah disetorkan oleh La Marola dan Icoma dapat dikembalikan oleh Travel Aulad Amin.

Selain La Marola dan Istrinya, Pudding (60) dan istrinya, Amma (50), petani asal Towuti, Kabupaten Luwu Timur juga menjadi korban pemberangkatan haji bodong. Uang tabungannya yang selama ini dikumpulkan selama bertahun-tahun juga lenyap dalam sekejap, gara-gara tergiur iming-iming naik haji jalur cepat.

Rencananya, sekitar 110 calon jamaah haji gagal berangkat asal Sulawesi Selatan akan tiba di Bandara Sultan Hasanuddin sekitar pukul 11.00 Wita, menggunakan pesawat Air Asia XT 983 yang berangkat langsung dari Manila, Filipina.
(mna/Hbb)

 

sumber: Detikcom

Hukum Uang Korupsi Dipakai Berhaji

SAAT ini tengah musim haji. Ratusan ribu umat Islam Indonesia setiapnya tahun pergi ke tanah suci Mekah untuk melaksanakan rukun Islam kelima tersebut.

Dalam sebuah pengajian, ada seorang birokrat yang bertanya hukum ibadah haji yang menggunakan uang hasil pungli dan korupsi. Ia beralasan, di tempatnya bekerja mustahil tidak terlibat korupsi bila tak ingin terkucil.

Untuk itu, ustaz menjawab sbb:

Korupsi didefinisikan sebagai penggelapan atau penyelewengan uang negara atau perusahaan tempat seseorang bekerja untuk menumpuk keuntungan pribadi atau orang lain. (Sudarsono, Kamus Hukum, hlm. 231). Definisi lain menyebutkan korupsi adalah penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh pejabat atau pegawai demi keuntungan pribadi, keluarga, teman, atau kelompoknya. (Erika Revida, Korupsi di Indonesia : Masalah dan Solusinya, USU Digital Library, 2003, hlm. 1).

Tidak ada istilah khusus untuk korupsi dalam fiqih Islam. Modus korupsi berupa penggelapan atau penyelewengan uang negara dapat dikategorikan perbuatan khianat, orangnya disebut khaa`in. (Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul Uqubat, hlm. 31). Modus lainnya, yakni suap menyuap, dikategorikan sebagai risywah, yakni pemberian harta kepada penguasa untuk mencapai suatu kepentingan tertentu yang semestinya tidak perlu ada pembayaran. Modus lainnya yang disebut fee proyek, termasuk kategori hadiah atau hibah yang tidak sah. Semua modus korupsi tersebut adalah harta yang hukumnya haram dalam Islam, karena diperoleh melalui jalan yang tidak sesuai syariah (ghairu al masyru). (Abdul Qadim Zallum, Al Amwal fi Daulah Al Khilafah, hlm. 117-119).

Adapun hukum haji yang menggunakan harta haram, seperti harta dari korupsi, suap dan sebagainya, sedang orang yang berhaji mengetahuinya, terdapat khilafiyah di kalangan ulama menjadi dua pendapat. (Abbas Ahmad Muhammad Al Baz,Ahkam Al Mal Al Haram, hlm. 291-294).

Pertama, hajinya sah dan menggugurkan kewajiban haji, namun orang yang berhaji berdosa dan tak mendapat pahala haji. Inilah pendapat jumhur ulama, yaitu pendapat ulama Hanafiyah dan Syafiiyah, juga satu versi pendapat dalam mazhab Maliki dan Hambali. (Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd Al Muhtar, 3/453; Al Qarafi, Al Furuq, 2/85; Al Wansyarisi, Al Miyar, 1/440; Al Hithab, Mawahib Al Jalil, 3/498; An Nawawi, Al Majmu, 7/51; Ibnu Rajab, Al Qawaid, hlm. 13).

Dalilnya, karena sahnya haji bergantung pada rukun dan syarat haji, bukan pada halal haramnya harta yang digunakan. Imam Ibnu Abidin mengatakan berhaji dengan harta haram sama halnya dengan orang yang sholat di tanah rampasan (maghshubah), yakni sholatnya sah selama memenuhi rukun dan syaratnya, tapi dia berdosa dan tak mendapat pahala (bi-laa tsawab).” (Ibnu Abidin, Hasyiyah Radd Al Muhtar, 3/453).

Kedua, hajinya tak sah, berdosa, dan tak mengugurkan kewajiban haji. Inilah versi pendapat lainnya dalam mazhab Maliki dan Hambali. Dalilnya antara lain sabda Rasulullah SAW (artinya),”Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahabaik (thayyib) dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR Muslim, no 1015). (Al Wansyarisi, Al Miyar, 1/439; Al Hithab,Mawahib Al Jalil, 3/498; Ibnu Rajab, Al Qawaid, hlm. 13).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur, yaitu hajinya sah dan mengugurkan kewajiban haji, namun tetap dosa dan tak mendapat pahala haji. Sebab meski memanfaatkan harta haram itu dosa, namun keharaman harta tidak mempengaruhi keabsahan haji karena kehalalan harta tidak termasuk syarat sah haji. Jadi hajinya sah selama memenuhi rukun dan syarat haji, walaupun harta yang digunakan haram. Imam Nawawi berkata,”Jika seseorang berhaji dengan harta yang haram, atau naik kendaraan rampasan, maka dia berdosa namun hajinya sah dalil kami karena haji adalah perbuatan-perbuatan yang khusus, sedang keharaman harta yang digunakan adalah hal lain di luar perbuatan-perbuatan haji itu.” (An Nawawi, Al Majmu, 7/51). Adapun hadis riwayat Muslim di atas, yang dimaksud Allah “tidak menerima” bukanlah “tidak sah”, melainkan “tidak memberi pahala.”

Kesimpulannya, berhaji dengan uang hasil korupsi hukumnya sah dan menggugurkan kewajiban haji, selama memenuhi segala rukun dan syarat haji. Namun tetap menyebabkan dosa dan tidak ada pahalanya, termasuk pahala haji mabrur. Wallahu alam. []

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2320803/hukum-uang-korupsi-dipakai-berhaji#sthash.22tkA3ZB.dpuf

 

 

Waspadai Yahudi & Invasinya Lewat Perang Pemikiran

INVASI yahudi ke dunia Islam sebenarnya tidak terbatas pada bentuk serangan militer saja. Namun yang lebih parah adalah serangan dalam bentuk pemikiran. Para ulama sering menyebut dengan istilah Perang Pemikiran (Al-Ghazw Al-Fikri).

Negara yang diserang oleh Yahudi secara militer sangat terbatas jumlahnya. Mungkin hanya Palestina saja. Selebihnya, yahudi menggunakan kekuatan angkatan bersenjata lain, misalnya Inggris, Amerika atau bahkan atas nama pasukan perdamaian PBB.

Toh, semua negara adidaya dan lembaga internesional itu juga di bawah pengaruh dan kemauan yahudi. Negara-negara seperti Irak, Iran, Afghanistan, Libanon, Sudan, dan beberapa negeri lain adalah contoh invasi yahudi yang meminjam tangan sekutunya.

Dan sebenarnya, kekacauan dan terorisme dunia yang selama ini dituduhkan kepada umat Islam, tidak lain adalah skenario yahudi. Fakta di lapangan semakin hari semakin tidak bisa dipungkiri. Bahkan pengeboman WTC di Amerika, justru didalangi oleh yahudi.

Meski pemerintah AS tidak pernah mau mengakuinya. Termasuk bom-bom yang meledak di negeri ini, meski dilakukan oleh orang yang agamanya kebetulan Islam, tetapi tokoh cerdas di belakangnya sulit untuk ditepis bahwa mereka adalah agen-agen yahudi.

Maka boleh dibilang bahwa nyaris semua negara di dunia ini telah menjadi korban invasi yahudi. Tidak terkecuali Amerika dan negara adidaya yang lain.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2321183/waspadai-yahudi-invasinya-lewat-perang-pemikiran#sthash.Vte5YFLO.dpuf

Ketika Niat Selalu Diuji

Ada sebuah dorongan yang membuat kami dari Media Center Haji (MCH) Daker Makkah akhirnya memutuskan hal ini. Malam itu kami memilih untuk menyisihkan barang satu dua jam waktu kami untuk mengabdikan diri di Masjidil Haram. Dasarnya keikhlasan dan kelonggaran waktu.

Hari-hari pertama kami di Makkah memang tidak ada aktivitas signifikan terkait jamaah haji Indonesia di Masjidil Haram. Maklum, berangkat dari Jakarta bersama jamaah kloter pertama pada 9 Agustus, kami tiba di Makkah ketika belum ada satu pun jamaah haji Indonesia di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut. Liputannya pun baru sebatas persiapan Daker Makkah menyambut jamaah haji Indonesia dari Madinah.

Jamaah kloter pertama dari Madinah pun akhirnya tiba di Makkah Rabu (16/8) malam waktu setempat setelah mereka selama delapan hari melakukan shalat Arbain di Masjid Nabawi. Dan sejak itu Masjidil Haram mulai menggeliat oleh berbagai cerita jamaah haji Indonesia.

Ada jamaah yang harus pulang dari Masjidil Haram dengan telanjang kaki karena sandalnya hilang atau lupa di mana ia meletakkannya. Cerita jamaah tersasar hampir tiap hari ada. Begitu pula jamaah yang terlepas dari rombongan dan akhirnya bingung mencari jalan pulang ke pemondokan.

Dorongan itu yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk mengabdikan diri di Masjidil Haram. Kami malam itu akhirnya memutuskan untuk menyisihkan barang satu dua jam waktu kami untuk membantu jamaah haji Indonesia yang tersasar di Masjidil Haram.

Tapi, niat memang selalu diuji. Seusai menunaikan shalat Jumat di Masjidil Haram, kami mendapati tiga kasus jamaah tersasar di pintu Marwah. Kami pun berbagi-bagi tugas. Saya menuju terminal Syib Amir untuk mengantarkan dua jamaah wanita yang tersasar akibat terpisah dari rombongan. Satu wanita muda kira-kira berusia 40-an dan satu lagi kira-kira berusia 60-an lebih.

Keduanya hanya mengenakan kaos kaki. Sandalnya tertinggal di dalam Masjidil Haram. Dengan jarak pintu Marwah ke Syib Amir yang lumayan jauh, berjalan tanpa alas kaki di siang hari bolong sungguh sangat panas sekali.

Beberapa kali saya mencoba memberikan bantuan untuk mengguyurkan kaki si ibu agar tidak kepanasan, berulang kali pula ditolaknya. Mereka hanya ingin segera sampai di pemondokan.

Uniknya, kedua jamaah wanita ini ternyata tidak saling kenal. Si ibu muda mengaku terlepas dari rombongan gara-gara tangannya tiba-tiba dipegang erat oleh si nenek. Tapi, si nenek berkeras memegang tangan si ibu karena dia rombongannya.

Ketika beberapa puluh meter lagi akan sampai di Terminal Syib Amir, kejadian lainnya terjadi. Ada jamaah kakek-kakek asal Indonesia yang mengalami kejang-kejang. Sungguh bingung ketika kita tak terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Niat benar-benar diuji saat itu.

Ketika bingung harus melakukan apa, Allah SWT hadir memberikan bantuan lewat seorang perawat dari Turki. Perawat paruh baya itu langsung mengguyurkan air ke sekujur tubuh jamaah kakek-kakek yang rupanya mengalami dehidrasi tersebut.

Beberapa jamaah dari negara lain ikut membantu dengan memberikan air minum perbekalan mereka. Ada juga yang membantu mengipasi si kakek. Alhamdulillah, si kakek akhirnya kesehatannya membaik sebelum akhirnya dibantu petugas kesehatan dilarikan ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Khalidiyah.

Kami mendapat kabar Jumat itu ternyata ada jamaah haji Indonesia lainnya yang wafat di Syib Amir. Jamaah atas nama Suhaimi bin Kadir Abdillah (62) meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari Masjidil Haram ke pemondokan akibat gangguan jantung.

Sehari setelah peristiwa Jumat yang luar biasa itu, PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Daerah Kerja Makkah memutuskan untuk menempatkan tim kesehatan dan ambulans di wilayah Syib Amir. Alasannya terkait dengan semakin banyaknya jamaah haji Indonesia yang melewati rute Syib Amir tersebut.

Jumlah jamaah haji Indonesia yang memadati kota Makkah kini terus bertambah. Kasus jamaah tersasar atau kasus lainnya pastinya akan bertambah pula. Dan, niat sekali lagi akan kembali diuji. Wallahu a’lam Bish-shawab.

 

Oleh: Didi Purwadi dari Tanah Suci

sumber: Republika Online

‘Waspadai Suhu 52 Derajat di Armina’

Jamaah haji Indonesia diimbau selalu membawa air minum dan bergerak dalam kelompoknya selama menjalani kegiatan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), sebagai bentuk antisipasi suhu tinggi yang secara teori dapat mencapai 52 derajat celcius.

Imbauan tersebut disampaikan kepada para calon jamaah haji Indonesia oleh Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Subhan Cholid, di Kantor Daerah Kerja Makkah, Jumat (2/9).

Subhan mengungkapkan, mengingat cuaca sangat panas, dalam setiap perpindahan, jamaah agar tidak lupa membawa minuman. “Dari Makkah menuju Arafah, bawa minuman, dari Arafah ke Mudzalifah bawa minuman, dan Dari Mudzalifah ke Mina juga membawa minuman. Meski satu botol, itu untuk menghilangkan haus dan panas,” katanya.

Jamaah haji Indonesia juga diimbau untuk tertib dan menaati jadwal yang sudah disepakati, karena kepatuhan akan jadwal sangat penting untuk membantu kelancaran angkutan. Pada saat yang sama, seluruh jamaah haji dari berbagai dunia yang jumlahnya jutaan orang juga bergerak menuju tempat yang sama.

“Kalau saling berebut dan tidak taat jadwal, angkutan justru tidak lancar dan tidak sampai ke tujuan,” katanya. Subhan mengingatkan selaku penanggung jawab perpindahan jamaah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Subhan juga meminta jamaah haji Indonesia tetap berada di regu dan rombongan, tidak mengambil inisiatif sendiri. “Jadi (bergerak) sesuai yang disepakati bersama sesuai dengan regu dan rombongan,” ujarnya.

Jamaah haji Indonesia akan mulai diberangkatkan ke Arafah dari pemondokan masing-masing mulai Jumat (9/9) pagi menggunakan bus. Setiap maktab atau pemondokan disiapkan 21 bus yang akan mengangkut jamaah ke Arafah dalam tiga tahapan. Tahap pertama, jamaah diberangkatkan pada pukul 07.00-11.30 waktu Arab Saudi.

Karena hari Jumat, tahap kedua baru akan dimulai setelah Shalat Jumat, kira-kira pukul 13.00 sampai 16.00 waktu Arab Saudi. Adapun tahap terakhir, dari jam 16.00 sampai 12.00 malam waktu Arab Saudi atau sampai selesainya jamaah terangkut semua ke Arafah.

 

sumber: Republika Online

Pemerintah Diminta Prioritaskan Antrean Calhaj Berdasarkan Usia

Pemerintah diminta untuk memprioritaskan antrean calon haji (calhaj) berdasarkan usia. Mengingat jamaah haji yang telah berusia lanjut memiliki risiko tinggi dalam menghadapi penyakit degeneratif dan kematian.

“Saya melihat semakin panjang dan lamanya antrean mengakibatkan usia jamaah haji akan semakin lanjut sehingga menyebabkan semakin tingginya prosentase jamaah yang beresiko tinggi menghadapi kematian,” kata anggota Komisi IX DPR RI Adang Sudrajat dalam rilis, Sabtu (3/8).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tingkat kematian jamaah haji Indonesia di tahun 2015 mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan tahun 2014, yaitu dari 297 jamaah haji Indonesia (2014) menjadi 605 jamaah haji Indonesia (2015).

Politisi PKS itu menyatakan, Komisi IX DPR RI tidak menginginkan semakin tingginya angka kematian jamaah haji Indonesia di Tanah Suci pada masa yang akan datang.”Kinerja kementerian kesehatan akan dipertaruhkan sebagai kementerian yang paling bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan jamaah haji,” ucap Adang.

Apabila pemerintah mampu menerapkan sistem antrean berdasar usia, lanjutnya, maka diperkirakan pada kurun waktu lima tahun mendatang, 70 persen usia jamaah haji berada pada wilayah aman akan risiko kematian akibat usia terlalu lanjut.

Untuk itu, ujar dia, diharapkan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama dapat melakukan simulasi bersama untuk mengukur risiko berdasar usia.”Pemerintah harus sudah mulai memikirkan keberangkatan haji tidak hanya sekedar lunas ONH, namun ada porsi minimal 50 persen dari kuota haji diurut berdasar usia,” papar Adang.

 

sumber: Republika Online


Ini Daftar 60 Jamaah Haji yang Meninggal di Tanah Suci

Penyelenggaraan haji di Arab Saudi memasuki hari ke-25 sejak jamaah haji Indonesia kloter pertama diberangkatkan pada 9 Agustus, lalu. Per Sabtu (3/9) pukul 08.00 waktu setempat, jumlah jamaah haji asal Indonesia yang meninggal dunia mencapai 60 orang.

Dilaporkan wartawan Republika.co.id, Didi Purwadi di Makkah, sebanyak 31 jamaah haji Indonesia meninggal dunia di rumah sakit Arab Saudi. “Sebagian besar memang jamaah risiko tinggi yang sudah ada bawaan penyakit dari Tanah Air,’’ kata Penghubung Instansi Kesehatan Daker Makkah, dr Ramon Andreas, di Syisyah, Arab Saudi, Sabtu (3/9).

Data Siskohat TUH (Teknis Urusan Haji) mencatat sebanyak 15 jamaah wafat di rumah sakit Saudi di Makkah, sementara selebihnya menghembuskan hafas terakhir di rumah sakit Saudi di Madinah. Pada Jumat (2/9) lalu, tiga jamaah wafat di rumah sakit Arab Saudi. Ketiganya atas nama Nipi bin Mad Ambri Mungkar (69), Hawang binti Bungku ilham (59), dan Boniatun binti Dulkahir Kartak (60).

Ramon mengatakan, pasien dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi karena Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Makkah tidak mampu menanganinya. Karena KKHI tidak memiliki peralatan medis yang selengkap dan sedetail milik rumah sakit.

“KKHI memang punya ruang ICU, tapi standarnya beda dengan standar ICU rumah sakit,’’ katanya. “KKHI memang bisa memantau pasien terus menerus, tapi peralatan medisnya terbatas.’’

Ramon mengatakan, tim dokter rumah sakit pastinya sudah berupaya membantu pasien semampu mungkin. Jika meninggal di rumah sakit, itu berarti pasien sudah mendapat pertolongan maksimal. “Tapi, memang tidak bisa ditolong lagi karena sudah waktunya,’’ katanya.

Data Siskohat juga mencatat hampir sembilan puluh enam persen lebih jamaah wafat merupakan jamaah usia lanjut. Dari total 54 jamaah wafat, hanya dua jamaah yang usianya kepala empat. Selebihnya wafat dalam usia 50an dan 60an tahun.

Berikut daftar jamaah haji wafat hingga tanggal 2 September:

  1. Senen bin Dono Medjo (79). Laki-laki. Kloter 007 Embarkasi Surabaya
  2. Siti Nurhayati binti Muhammad Saib (68). Perempuan. Kloter 002 Embarkasi Aceh.
  3. Martina binti Sabri Hasan (47). Perempuan. Kloter 006 Embarkasi Batam.
  4. Khadijah Nur binti Imam Nurdin (66). Perempuan. Kloter 004 Embarkasi Aceh.
  5. Dijem Djoyo Kromo (53). Perempuan. Kloter 18 Embarkasi Solo.
  6. Sarjono Bin Muhammad (60). Laki-laki. Kloter 006 Embarkasi Batam.
  7. Oom Eli Asik (66). Perempuan. Kloter 003 Embarkasi Jakarta-Bekasi.
  8. Nazar Bakhtiar bin Batiar (82). Kloter 001 Embarkasi Padang.
  9. Juani bin Mubin Ben (61). Kloter 006 Embarkasi Aceh.
  10. Asma binti Mian (78). Kloter 001 Embarkasi Padang.
  11. Tasniah binti Durakim Datem (73). Kloter 003 Embarkasi Padang.
  12. Jamaludin bin Badri Kar (58). Kloter 005 embarkasi Palembang.
  13. Abdullah bin Umar Gamyah (68). Embarkasi Aceh kloter 001.
  14. Rubiyah binti Mukiyat Muntari (71). Embarkasi Surabaya kloter 020.
  15. Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68). Embarkasi Batam kloter 011.
  16. Siti Maryam binti Ismail (60). Embarkasi Solo kloter 001.
  17. Misnawar bin Kasimo Kamujo (76). Embakarsi Surabaya kloter 015
  18. Din Azhari Nurina bin Sadid (73). Embarkasi Padang kloter 005.
  19. Noorsi Fatimah binti M Saleh Mardiwiyono (60). Embarkasi Balikpapan kloter 009.
  20. Muhammad Nasir bin Abdul Hamid (64). Jemaah asal embarkasi Batam kloter 010.
  21. Manih binti Siyan Muhammad (71). Jemaah asal embarkasi Jakarta Pondok Gede kloter 006.
  22. Joko Pramono bin H Ali Pramono (41). Jemaah asal embarkasi Surabaya kloter 26.
  23. Wahono Wilik bin Walijo Kartodimejo (65) dari embarkasi Batam kloter 002.
  24. Udju Sumiati binti Marhati (62) dari kloter Jakarta Bekasi kloter 038.
  25. Siti Fatonah Binti Supangat Kasmungin (68) dari embarkasi Surabaya kloter 028.
  26. Imam Rifai bin Ngali (60) dari embarkasi Palembang kloter 005
  27. Suhaimi bin kadir Abdillah (62) dari embarkasi Medan kloter 005
  28. Siti Maskanah binti Djumri (66) dari kloter Banjarmasin kloter 013
  29. Zainabon binti Umar Muhammad (71) dari embarkasi Aceh kloter 008.
  30. Awaludin bin Abu Sahar Tanjung (58). Embarkasi Medan kloter 0111
  31. Kadiran bin Molyadi Sokaryo (71). Embarkasi Surabaya kloter 022.
  32. Yudha Arifin bin Kasah (55). Jemaah haji khusus.
  33. Abdul Hamid bin Lapewa Palewa (53). Jemaah haji khusus.
  34. Roman bin H. Maeji Suhaedi (58). Embarkasi Jakarta kloter 020.
  35. Mochamad Subarjah bin Sumawinata R (64). Embarkasi Jakarta kloter 048.
  36. Taggi bin Haseng Maggu (57). Embarkasi Surabaya kloter 048
  37. Saifuddin bin Buchori Abdullah (64). Embarkasi Solo (SOC) kloter 003.
  38. Semi Parsinah binti Wamu Adam (65). Embarkasi Aceh (BTJ) loter 002.
  39. Siti Maryam binti Haram (79). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 020.
  40. Aceng bin Nuroddin Hasyim (58). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 018.
  41. Adisman Rasidin Salin bin St. Salam (63). Jamaah haji khusus dengan nomor paspor  B4513393.
  42. Warniti binti Samadi Rimin (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 051.
  43. Sukardi As Haryanto bin Abu Bakar (78). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 009.
  44. Rukiyah bt Muhammad Arif Pane (62). Embarkasi Medan (MES) kloter 011.
  45. Sumin Adinoto bn Suto Karso (73). Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG) kloter 028.
  46. Zahadi bin Muhayadin Asir (58). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 007.
  47. Imo binti Ahmad Umar (73). Embarkasi Lombok (LOP) kloter 006.
  48. Carwit binti Karjani Sarip (51). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 037.
  49. Mukijan bin Sodimejoh Muhammad (62). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 032
  50. Siti Sarah binti Abdul Kapi (53). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 014.
  51. Abdul Sani bin Hayani (59). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 026.
  52. Emuh Sutrisna Atmadja bin Wiardi (79). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 008.
  53. Ali bin Lapantje Lakoro (77). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 011.
  54. Cholik bin Aguscik Usman (65). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 005.
  55. Nipi binti Mad Ambri Mungkar (69). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 034.
  56. Marfuah Aminah Toyib binti Mustofa (76). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 034.
  57. Hawang binti Bungku Ilham (59). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 007.
  58. Boniatun binti Dulkahir Kartak (60). Embarkasi Batam (BTH) kloter 017.
  59. Hariri bin Mustofa Soleh (73). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 037.
  60. Dain Nariya bin Satimin (69). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 029.

 

sumber: Republika Online

Ini Surat Rasulullah Bagi Umat Kristen

DI bawah ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di manapun mereka berada, kami bersama mereka.

Di tengah kekacauan yang melanda seluruh rakyat Afrika, baik Tengah-Timur maupun Utara, sejak pemberontakan Musim Semi Arab melawan kediktatoran seakan membuka jalan bagi militansi dan perang sipil di wilayah tersebut. Kristen dan Islam pun semakin mengungkapkan keprihatinanya atas kondisi hidup para penganutnya.

Meskipun secara keseluruhan Kristen termasuk kaum minoritas, namun tampaknya peningkatan populasi Kristen semakin signifikan, tak terkecuali di negara-negara seperti Suriah, Turki, Irak, Lebanon, Palestina dan Mesir.

World Bulletin melansir, setelah jatuhnya presiden terpilih Mesir Mohamed Morsi dalam kudeta militer pada 3 Juli yang dipimpin oleh Field Marshal Abdel-Fattah al-Sisi, serta penganiayaan terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin dimana Morsi berasal, banyak Muslim mulai mencurigai bahwa komunitas Kristen naik 10% dari populasi, memainkan peran dalam mengusir gerakan tersebut. Hal ini cukup meningkatkan ketegangan antara Muslim dan Kristen di Mesir, dengan disertai bentrokan dan merusak berbagai fasilitas umum.

Kekhawatiran serupa pula dirasakan Kristen Suriah, terutama setelah al-Qaeda kelompok oposisi berafiliasi mengambil alih kota-kota Kristen Maaloola dan Kessab. Maaloola kemudian dikuasi kembali rezim Suriah, tapi Kessab, yang terletak di sepanjang perbatasan Turki, masih di bawah kendali pejuang oposisi.

Meskipun anggota komunitas etnis Armenia Kessab, yang sebagian besar melarikan diri ke Turki untuk menghindar dari pemboman pemberontakyang ditargetkan oleh rezim Suriah, telah berusaha mengadakan perdamaian dan para pejuang oposisi telah mempertaruhkan hidup mereka untuk mengantar mereka ke tempat yang aman, kecemasan dan kekhawatiran tetap saja menghantui kehidupan para penganut Kristen.

Dalam konteks ini, tidak ada salahnya jika kita sejenak menilik isi surat Rasulallah Saw. yang dikirim beliau kepada para biarawan Kristen di salah satu biara tertua di dunia, St. Catherine, Semenanjung Sinai, Mesir, pada tahun 628 M.

Surat yang juga dikenal dunia sebagai Muhammads Testamentum ini merupakan dokumen sejarah yang berisi tentang sikap Muhammad Saw terhadap kaum Kristen, dimana beliau memberikan jaminan perlindungan dan hak-hak hidup tanpa syarat apa pun. Surat tersebut bermaterai gambar telapak tangan Rasulullah Saw.

Meski banyak kalangan meragukan keautentikan surat tersebut dikarenakan naskah asli sudah tidak ada lagi dan hanya terdapat salinannya, namun surat tersebut sudah diverifikasi oleh banyak cendekiawan Muslim dan non-Muslim untuk meneliti keautentikannya.

Di antara peneliti itu adalah Aziz Suryal Atiya dengan buku The Monastery of St. Catherine and the Mount Sinai Expedition (1952), J. Hobbs dengan buku Mount Sinai (1995), K.A. Manaphis dengan buku Sinai: Treasures of the Monastery of Saint Catherine (1990), dan Dr. Muqtader Khan, Direktur Program Studi Islam di University of Delaware, yang juga pernah dimuat di Washington Post (1 Desember 2012), dengan judul Muhammads Promise to Christians.

Seperti dikutip dari Wikipedia, dengan berdasarkan paparan sejarah, hilangnya naskah asli Muhammads Testamentum terjadi saat Kekaisaran Ottoman yang dipimpin Sultan Selim I melakukan ekspansi ke Mesir tahun 1517. Naskah asli lalu diambil dari biara tersebut oleh tentara Ottoman dan diserahkan kepada Sultan Selim I. Sultan Selim I kemudian membuat salinannya untuk disimpan kembali di biara tersebut.

Sejarah pun mencatat betapa tingginya sikap toleransi yang ditunjukkan para penguasa Islam selama kekuasaan Ottoman (1517-1798).

Begitu pula pada tahun 1630, Gabriel Sionita menerbitkan edisi pertama naskah perjanjian tersebut dalam bahasa Arab, dengan judul “Al-Ahd wal Surut allati Sarrataha Muhammad Rasulullah li Ahlil Millah al-Nashraniyyah” (Perjanjian dan Surat yang Dituliskan oleh Muhammad Rasulullah kepada Kaum Kristen).

Dan sejak abad 19, dokumen perjanjian tersebut diteliti oleh banyak akademisi kontemporer, Timur dan Barat, dengan terutama berfokus pada daftar para saksi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat kemiripan antara dokumen perjanjian yang disimpan di Biara St. Chaterine dengan dokumen-dokumen sejenis yang pernah diberikan oleh Rasulullah kepada kelompok-kelompok agama lain di Timur Dekat. Di antaranya adalah surat Rasul kepada kaum Kristen yang menetap di Najran, yang pertama kali ditemukan pada 878 di sebuah biara di Irak dan diawetkan di Chronicle of Seert.

Berikut bunyi surat tersebut, yang dikutip secara utuh dari Dr. Muqtader Khan;

“Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di manapun mereka berada, kami bersama mereka.

Sesungguhnya aku, para pembantuku, dan para pengikutku sungguh membela mereka, karena orang Kristen juga rakyatku. Demi Allah, aku akan menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka.

Tidak boleh ada paksaan atas mereka. Tidak boleh ada hakim Kristen yang dicopot dari jabatannya, demikian juga pendeta dan biaranya.

Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau memindahkan apa pun darinya ke rumah kaum Muslim. Bila ada yang melakukan hal-hal tersebut, maka ia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya mereka adalah sekutuku dan mereka aku jamin untuk tidak mengalami yang tidak mereka sukai. Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Muslimlah yang harus berperang untuk mereka.

Bila seorang perempuan Kristen menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja dan berdoa.

Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini.

Tidak boleh ada umat Muslim yang melanggar perjanjian ini hingga hari penghabisan (kiamat).”

Ya, begitulah isi perjanjian yang diduga telah dikirim Rasul kepada para penganut Kristen. Terlepas benar atau salah, ada atau tidaknya surat tersebut, bukankah sikap saling menghormati, menghargai, toleran antar pemeluk agama merupakan bagian penting yang kerap Rasulullah ajarkan kepada umatnya? Wallahu Alam Bishowab.[islamindonesia]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2321410/ini-surat-rasulullah-bagi-umat-kristen#sthash.34rOQWT9.dpuf