Di Balik Keputusan Singapura tak Kirimkan Jamaah Haji 2020

Singapura memutuskan menunda pelaksanaan ibadah haji 2020 sampai tahun depan akibat pandemi wabah virus Covid-19. Hal ini disampaikan Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) sebagaimana dilansir dari Straitstimes, Sabtu (16/5).

“Dalam konsultasi dengan Kementerian Kesehatan, (MUIS) telah memutuskan bahwa, sebagai pemangku kepentingan yang bertanggung jawab, Singapura sebaiknya menunda rencana Haji 2020 untuk semua 900 peziarah kami ke tahun berikutnya,” bunyi pernyataan MUIS, dikutip dari Anadolu Agency.

Komite Fatwa Singapura, kumpulan cendekiawan agama senior yang mengeluarkan peraturan dan pedoman agama, juga telah melakukan pertemuan membahas persoalan ini. Komite tersebut mendukung penundaan pelaksanaan ibadah haji di tengah pandemi dengan alasan kesehatan dan keselamatan.

“Komite berpendapat bahwa dalam konteks saat ini, tidak semua prasyarat untuk haji yang aman terpenuhi. Karena itu, mereka merekomendasikan agar delegasi (para peziarah) Singapura menunda rencana haji untuk menghindari potensi bahaya,” demikian pernyataan MUIS.

MUIS memiliki kepercayaan penuh pada manajemen pandemi Arab Saudi. Tetapi Singapura memiliki pertimbangan sendiri untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan peziarah. Menteri Urusan Muslim Masagos Zulkifli mengatakan, keputusan untuk menunda haji dibuat secara independen dari otoritas Saudi.

“Ini karena pertimbangan untuk kebutuhan para calon jamaah kami, dan keselamatan mereka, dalam konteks memberi pelayanan terbaik,” kata Zulkifli.

Dengan sumber daya perawatan kesehatan Singapura yang sepenuhnya berkomitmen untuk mengelola Covid-19 dan persyaratan rumah sakit mendesak lainnya, Singapura tidak dapat mengumpulkan tim dokter dan perawat untuk mendukung pengiriman calon jamaah haji pada tahun ini.

“Sementara kami ingin membantu komunitas Muslim kami untuk memenuhi ziarah mereka, kami juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi para peziarah dan keluarga mereka, serta komunitas yang lebih luas di Singapura, dari risiko infeksi,” demikian pernyataan MUIS.

MUIS juga mencatat, ada lebih dari 80 persen warga Singapura yang dijadwalkan melakukan haji tahun ini berusia di atas 50 tahun. Ini menempatkan mereka pada risiko komplikasi yang lebih besar dan meninggal jika mereka terkena virus corona.

Direktur pelayanan medis Kementerian Kesehatan, Kenneth Mak mengatakan, di Arab Saudi, risiko yang ditimbulkan oleh Covid-19 dianggap tinggi dalam menularkan secara luas dan berkelanjutan. Saudi sendiri telah melaporkan lebih dari 46.000 kasus Covid-19. Apalagi, orang-orang yang melakukan haji berasal dari banyak negara yang berbeda. Beberapa negara yang mengirim jamaah haji saat ini merupakan daerah berisiko tinggi untuk Covid-19.

Mufti Nazirudin Mohd Nasir, otoritas Islam tertinggi Singapura mengatakan, para peziarah Singapura perlu bersabar dan menunggu waktu yang lebih aman untuk naik haji. Ini adalah bentuk ibadah yang justru sangat penting dalam Islam. “Ketika kita telah melakukan niat untuk melakukan haji, tetapi tidak dapat melakukannya, khususnya karena keadaan di luar kendali mereka, seperti penyebaran virus, niat mulia mereka dicatat sebagai suatu tindakan,” ujarnya.

Untuk diketahui, ibadah haji ke kota suci Makkah, yang dijadwalkan akan dimulai pada akhir Juli, adalah salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia. Tahun lalu, sekitar 2,5 juta Muslim dari seluruh dunia melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk itu.

Sementara ada 900 orang dari Singapura yang telah mendaftar untuk melakukan haji tahun ini, tetapi mereka sekarang akan dijadwalkan ulang secara otomatis pada tahun depan. Masih belum jelas apakah pemerintah Saudi akan mengizinkan haji berlangsung tahun ini. Arab Saudi belum membuat pengumuman resmi.

REPUBLIKA