Enam Prinsip Mendidik Anak (selesai)

Sambungan artikel PERTAMA

 

Kedua, waktu makan

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah Ra ia berkata: Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Tanganku bergerak kesana kemari di atas nampan makanan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Hai anak kecil….sejak itu begitulah cara makanku.

Anak-anak ketika menghadapi makanan terkadang kita jumpai melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Seperti berebut makanan, duduk dengan kaki diangkat dan sebagainya. Saat itulah pentingnya orang tua mendampingi dan mengarahkan anak untuk berbuat santun dan sopan.

Ketiga, waktu anak sakit

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas ibn Malik Ra berkata: Seorang anak Yahudi pernah dijenguk oleh Rasulullah.

Nabi duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya: Masuk Islamlah kamu. Anak itu melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak berkata: Turutilah Abul Qasim. Maka, dia pun masuk Islam.

Dikatakan, meski sudah lama berinteraksi dengan anak dan keluarga Yahudi itu, tapi Nabi justru mengajaknya masuk Islam ketika sang anak sedang sakit dan dijenguk oleh Nabi.

Keempat: Bersikap adil terhadap semua anak

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir Ra. Bahwa bapaknya membawanya menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan berkata: Sesungguhnya aku memberikan seorang budakku kepada anakku ini.

Rasulullah bertanya: Apakah seluruh anakmu engkau beri pemberian yang sama dengannya? Dia menjawab: tidak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Jangan engkau persaksikan aku dalam kejahatan.

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa memberikan sesuatu ataupun bersikap haruslah adil terhadap semua anak. Karena jika tidak maka orang tua telah berbuat kejahatan.

Disimpulkan bahwa tidak menyamaratakan pemberian (tidak adil) kepada anak-anak hukumnya haram. Karena membedakan pemberian dapat menimbulkan permusuhan, kebencian dan kedengkian di antara mereka.

Agar jiwa mereka tidak terkotori dengan sifat dengki hendaknya orang tua menegakkan keadilan seadil-adilnya. Karena yang biasa terjadi orang tua lebih membela sang adik dan menyalahkan kakak atau sebaliknya.

Subhanallah, inilah solusi yang terang benderang buat para orang tua.

Kelima: Memberikan Hak Anak

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad Ra, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diberi minuman. Nabipun minum dan diapit oleh seorang anak kecil di samping kanan sedang di samping kiri Nabi tampak berjejer beberapa orang dewasa.

Nabi menoleh kepada anak itu, apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka terlebih dahulu?

Anak kecil itu menjawab: tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun. Maka, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam meletakkan cawan itu di tangannya.

Kisah ini mengajarkan penghormatan hak kepada anak kecil, dan bukan justru mengorbankannya untuk kepentingan orang dewasa.

Sebab menunaikan hak anak mengajarkan mereka untuk menerima kebenaran dan menumbuhkan karakter positif tentang memberi dan menerima.

Misalnya saja, ada orang lain ingin meminjam barang milik sang anak, serta merta orang tua biasanya memberikannya tanpa meminta izin lebih dahulu kepada anak, sang pemilik mainan tersebut.

Jika anak protes, tak sedikit si anak malah mendapat teguran keras dan memaksa dia untuk merelakan barangnya dipinjam.

Kira-kira kalau dewasa kelak bagaimana sang anak bisa menghormati hak orang lain?

Keenam: Membantu anak berbakti dan ta’at.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mendoakan orang tua yang memberikan peluang atau mendukung anak-anak untuk berbakti dan ta’at agar mendapatkan rahmat dan ridha Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Raulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Semoga Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.

Juga, diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Barang siapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.

Cara sederhana membantu anak untuk berbakti adalah tidak membebani mereka dengan sesuatu yang sulit.

Mengarahkan untuk mengerjakan kebaikan sesuai dengan porsi umur dan kemampuannya. Tentunya dengan bertambahnya umur dan fisik, beban anak juga akan bertambah.

Hal fatal yang sering terjadi ketika orang tua tidak melatih anak untuk menyelesaikan beban mereka secara bertahap. Akhirnya banyak anak yang tidak dewasa sesuai dengan usianya.*/Maftuhaibu lima orang anak di Balikpapan

 

HIDAYATULLAH