Chung Sin Yin

Indahnya Shalat Mengetuk Hati Chung Sin Yin

Sejak mengagumi gerakan dan bacaan shalat, ia akhirnya memeluk Islam.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang keutamaan berteman yang baik. Sebab, seorang teman dapat berpengaruh kepada hal-hal yang positif ataupun negatif.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk,” sabda beliau, “ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi. Engkau pun bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim).

Seorang mualaf, Sari Sukma Dewi, merasakan betapa besarnya pengaruh pertemanan. Menurut perempuan yang menjadi Muslimah sejak 1994 itu, hidayah Ilahi diterimanya melalui perantaraan teman. Pemilik nama Tionghoa Chung Sin Yin ini pun bersyukur ke hadirat Allah SWT karena Dia telah menakdirkannya untuk berislam.

Wanita yang kini berusia 59 tahun itu mengenang kisah hidupnya. Kepada Republika, ia menuturkan bahwa dahulu dirinya pertama kali tertarik untuk mengenal Islam. Itu terjadi setelah beberapa waktu lamanya ia berpisah dengan suaminya.

Dewi pada mulanya menetap di Jakarta, tetapi kemudian kembali pulang ke daerah tempat kelahirannya, Karawang, Jawa Barat. Di sana, ia memilih pekerjaan sebagai seorang instruktur senam.

Dewi mengenang, saat itu kehidupan religinya tidaklah terlalu menonjol. Baginya, agama yang dianutnya ketika itu hanyalah sekadar identitas. Hampir-hampir tidak pernah dirinya beribadah.

Sebagai seorang yang berdarah Tionghoa, Dewi menjalani ritual budaya dari tradisinya itu. Misalnya, ketika datang hari-hari besar ia pun berkunjung ke rumah orang tuanya. Singkatnya, ia merasas tak memiliki pengalaman spiritual apa pun sebelum memutuskan untuk berislam.

Karena itu, lanjutnya, hidayah Ilahi yang menyentuh hatinya adalah salah satu bukti kemahakuasaan Allah SWT. Cahaya petunjuk Ilahi datang tanpa sebelumnya ia mengetahui. Hidayah diterimanya dari arah yang tak pernah disangka. 

Cahaya petunjuk Ilahi datang tanpa sebelumnya ia mengetahui. Hidayah diterimanya dari arah yang tak pernah disangka.

Sebagai seorang instruktur senam, Dewi sering mendapatkan panggilan privat. Pada 1994, sekelompok ibu-ibu muda memintanya untuk menjadi guru senam bagi mereka. Permintaan itu disanggupinya.

Di antara mereka, terdapat seorang yang terlihat lebih taat beribadah. Ibu muda itu merupakan seorang Muslimah. Beberapa kali Dewi mendapati, murid-senamnya itu pamit sebentar ketika masuk waktu shalat. Bahkan, pada akhirnya seluruh ibu-ibu itu rehat sejenak dari latihan senam setiap azan berkumandang. Semuanya shalat berjamaah.

Dewi yang saat itu masih menganut agama non-Islam sering memperhatikan mereka diam-diam. Para ibu muda itu berwudhu, lalu shalat bersama-sama. Entah mengapa, terpancar rasa damai dari mereka semua, terlebih ketika para perempuan itu bersujud ke arah yang sama.

“Apalagi saat saya melihat mereka bersujud, terasa sekali penghambaan diri manusia kepada Tuhan Yang Maha Tinggi,” ujar dia kepada Republika, baru-baru ini.

Selama beberapa waktu Dewi memperhatikan cara mereka beribadah. Ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang dari mereka. Sebut saja namanya Teti.

Karena sering menyaksikan ibu-ibu muda itu beribadah, Dewi akhirnya hafal gerakan-gerakan shalat. Akan tetapi, dia belum memahami bacaan yang diucapkan mereka saat shalat itu. Apa makna dan maksud doa-doa itu?

Teti tidak langsung menjelaskan secara panjang lebar. Beberapa hari kemudian, barulah dia meminjamkan sebuah buku tuntunan shalat kepada Dewi. Instruktur senam itu menerimanya dengan senang hati. Tiap waktu luang, buku itu dibacanya dengan saksama.

Dewi sempat terkejut karena begitu banyak doa yang harus dihafalkan seseorang ketika melaksanakan shalat. Selain banyak, bacaannya ternyata sangat sulit. Inilah untuk pertama kalinya ia mengenal tulisan Arab. Jikapun hanya membaca tulisan Latin, itu pun masih terasa sukar. Sebab, pelafalannya sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. 

Pelatih senam bernama asli Chung Sin Yin ini semakin giat menghafal bacaan-bacaan shalat yang ditulis dengan aksara Latin.

Karena penasaran, Dewi lantas meminta Teti untuk meminjamkan buku panduan shalat itu lebih lama kepadanya. Teti mengaku tidak masalah. Maka pelatih senam itu semakin giat menghafal bacaan-bacaan shalat yang ditulis dengan aksara Latin. Selain itu, terjemahannya pun juga selalu dibacanya berulang-ulang. Meskipun pada akhirnya Dewi “hanya” mampu menghafalkan tiga bacaan shalat, hal itu sudah membuatnya senang.

Dewi kemudian mengembalikan buku tersebut. Rekan-rekannya heran karena begitu cepat ia mengingat sebagian isi buku ini. Teti pun seperti tidak percaya. Maka beberapa kawan kemudian menguji Dewi. Ternyata, perempuan yang saat itu non-Muslim ini hafal urutan-urutan shalat, mulai dari takbiratul ihram hingga salam.

Namun, Dewi ketika itu sekadar memperhatikan rekan-rekannya shalat. Belum sampai mempraktikan ritual Islam itu. Dalam hatinya, tersimpan keinginan untuk segera mencari seorang guru mengaji yang bisa mengajarkannya.

Dewi pulang ke rumah. Kepada asisten rumah tangganya, ia meminta untuk dicarikan seorang ustaz yang bisa mengajarkannya shalat. Beberapa hari kemudian, ustaz yang dimaksud datang ke rumahnya. Tidak perlu waktu lama baginya untuk lancar melaksanakan shalat. Bahkan, semakin banyak bacaan doa yang berhasil dihafalkannya.

Sang ustaz pun menyarankannya untuk belajar lebih lanjut, yakni mengaji Alquran. Untuk itu, dirinya harus mulai dari menamatkan enam jilid buku Iqra. Dewi setuju, untuk kemudian melanjutkan pelajarannya.

Memeluk Islam

Sejak melihat sekelompok ibu-ibu shalat, Dewi pun tertarik mempelajari dan bahkan menghafalkan bacaan doa ibadah itu. Pada akhirnya, ia senang belajar membaca Alquran. Semua itu mengantarkan hatinya untuk mantap memeluk Islam.

Ya, niatnya sudah bulat untuk berislam. Maka pada April 1994, ia untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Rukun Islam pertama itu dilakukannya di hadapan seorang ustaz dan beberapa orang saksi yang diundangnya ke rumah. 

Setelah peristiwa mengharukan itu, ia semakin bersemangat untuk mendalami ajaran Islam.

Setelah peristiwa mengharukan itu, ia semakin bersemangat untuk mendalami ajaran Islam. Atas saran beberapa temannya, Dewi pun memilih untuk mengganti pengajarnya dengan seorang ustazah. Itu untuk menghindari fitnah karena dia mengaji secara privat. Selama setahun, mualaf ini lancar mengaji. Membaca Alquran pun dilakukannya sesuai dengan kaidah tajwid.

Kemudian Dewi mulai belajar mengaji ke beberapa taklim. Hingga satu ketika, ia tertarik untuk menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren, Manbaul Ulum, di Bogor, Jawa Barat. Ia juga mengikuti kajian tasawuf, seperti yang diadakan Tarekat Naqshabandiyah di Tasikmalaya setiap tanggal 11 bulan Hijriyah.

“Tarekat mengajarkan kita salah satunya adalah pentingnya berzikir. Saya merasa lebih tawadhu dan tak lagi begitu terlalu berpikir hal-hal duniawi,”ujar dia.

Bersyukur

Pertama kali berpuasa, Dewi merasa berat. Karena khawatir tidak sanggup berpuasa hingga maghrib, dia pun sahur sekenyang-kenyangnya.

“Satu hari pernah kesiangan bangun dan tidak sahur. Karena sudah niat sejak malam, saya tetap lanjut berpuasa. Alhamdulillah saya kuat puasa hingga maghrib,” katanya.

Setelah Dewi menjadi Muslim tentu hal itu diketahui keluarga. Namun anak dan orang tuanya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia bersyukur, ayah dan ibunya memiliki pemikiran yang terbuka.

Tidak pernah memaksakan bahwa dalam satu rumah haruslah seagama semua. Menurut mereka, agama apa pun silakan diikuti asalkan dirinya bertanggung jawab dengan pilihan sendiri.

Bahkan, ayahnya mengoleksi kaligrafi ayat-ayat Alquran atau Asmaul Husna walau tidak bisa membaca tulisan berbahasa Arab. Setelah bapaknya wafat, karya-karya seni itu diwariskan kepada Dewi.

Hidayah Ilahi memang tidak sempat menerangi hingga sang ayah meninggal. Tidak demikian halnya dengan seorang putra Dewi. Bersyukur, anaknya itu kini telah menjadi Muslim. Hanya tiga anak lainnya yang tetap mengikut agama lamanya.

“Anak laki-laki saya dengan kesadaran sendiri memeluk Islam, itu sejak dirinya masih kelas SD. Dia meminta dikhitan dan bersyahadat usai dikhitan,” terangnya.

Meski berbeda agama, hubungan dengan orang tua, saudara dan anak-anak tetap terjalin dengan baik dan hangat. Ketika hari besar, misalnya, Dewi tetap berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk mempererat rasa kekeluargaan.

Ketika datang berkunjung, biasanya Dewi bertanya terlebih dahulu makanan yang dihidangkan. Meski daging biasa, Dewi tetap khawatir sehingga Dewi biasanya memilih untuk membawa makanan sendiri atau membelinya di luar.

Tak hanya hari besar keluarga Tionghoa, ketika Idul Fitri, dirinya menerima kunjungan keluarga besar. Mereka semua datang berkumpul dengan suka cita, ikut senang di hari Lebaran.

Memeluk Islam membuat Dewi hidup lebih tenang. Dia pun lebih fokus untuk ibadah dan terus memperbaiki diri.

Salah satunya ibadah haji, namun karena antrian begitu panjang, Dewi memutuskan untuk umrah. Umrah pertama diikutinya pada 2005. Setelah itu, dirinya kian mantap berhijab.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

KHAZANAH REPUBLIKA