Ini Latarbelakang Terbentuknya Program Pesantren For Peace

Center For The Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad Adenauer Stiftung Uni Eropa meluncurkan program Pesantren for Peace (PFP).

“Program ini sebagai bentuk pertahanan pesantren dalam memerangi paham-paham yang menitikberatkan Islam identik dengan kekerasan,” ujar Direktur CSRC Irfan Abu Bakar dalam sambutannya pembukaan program PFP di Jakarta, Selasa (30/6).

Menurutnya, program ini akan berlangsung selama tiga tahun atau selama 50 bulan. Program ini sudah dimulai sejak bulan januari di lima propinsi di pulau jawa. Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. “Program ini akan melibatkan 600 ustad dan ustadzah, serta 300 santri putra dan putri,” ujar Irfan

Dalam pandangan Irfan, para santri dan ustaz memiliki peran penting dalam menyampaikan dakwah dan pendekatan pada masyarakat. Sehingga kemudian, mereka akan dilatih terlebih dahulu dalam PFP ini.

Program tersebut meliputi riset pemetaan analisis konflik, penyusunan modul pelatihan, pelatihan toleransi dan resolusi konflik, studi lapangan kasus konflik, pertukaran santri, pemberian dana hibah untuk kegiatan pesantren, seminar dan workshop, dan pembentukan jaringan PFP se-Pulau Jawa.

Program ini melatarbelakangi kesalapahaman konflik dan kekerasan yang bernuansa agama. Padahal, akar-akar penyebab permaslahan ini sangatlah komplek. Mulai dari aspek teologis hingga ke persoalan ekonomi, pokitik, dan sosial budaya.

Konflik dan kekerasan itu menurut Irfan dipicu oleh sikap diskriminatif, kurangnya toleransi, rendahnya rasa kebersamaan, dan kentalnya prasangka negatif antarkelompok agama maupun intra agama. “Kondisi ini yang tidak boleh kita biarkan begitu saja,” ujar Irfan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora.

Melihat Kondisi negara-negara Islam di Timur Tengah yang rentan konflik, Irfan tidak ingin Indonesia menjadi seperti itu. Maka dengan program PFP, pendekatan pada masyarakt sangatlah penting.

Melalui program PFP, Irfan juga berharap dapat menghapus paradigma radikalisme yang berasal dari pesantren. Menurutnya, justru pesantrenlah yang masih mengajarkan kemurnian ajaran islam. Justru pesantren-lah yang mampu menangkal radikalisme menjalar di kalangan masyarakat.

“Program PFP diharapkan dapat meningkatkan peran penting pesantren sebagai lokomotif moderasi islam di Indonesia,” ujar Irfan

Peran pesantren ini yang akan menegakkan dan memajukan hak asasi manusia, demokrasi dan toleransi. Hingga akan terwujud islam yang penuh perdamaian dan kelembutan dalam menyelesaikan konflik dan permasalahan yang datang.

 

sumber: Republika Online