Ini Rahasia Al-Rahman

Alquran konsisten selalu mendahulukan kata al-Rahman baru al-Rahim sesungguhnya untuk mengisyaratkan kita bahwa perjuangan menuju puncak harus melalui anak tangga pertama. Untuk mencapai makam ma’rifah lebih tinggi tidak bisa meninggalkan fikih dan syariah.

Orang yang berusaha mencapai puncak makam spiritual tanpa mengindahkan aspek fikih dan syariah sulit dibayangkan akan mencapai tujuan tersebut. Kalangan sufi menunjukkan tiga jalan menuju puncak, yaitu syariah, tarekat, dan hakikat. Ketiga jalan ini harus terintegrasi satu sama lain, sebagaimana diuraikan dalam artikel terdahulu tentang “Makna Spiritual Thaharah.”

Sehubungan dengan ini, Ibn ‘Athaillah pernah mengingatkan kita: Man tashawwafa wa lam yatafaqah faqad tazandaq, wa man tafaqqaha walam yatashawwaf faqad tafassak, wa man jama’a bainahuma faqad tashaddaqah (Barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindik, barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasik, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka itulah yang akan mencapai puncak kebenaran).

Al-Rahman adalah simbol kemahapengasihan Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Warahmati wasi’at kulli syai’in (Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu). Sifat al-Rahman menunjukkan betapa Allah SWT dan seluruh makhluk-Nya tidak bisa dipisahkan. Siapa pun dan apa pun makhluk-Nya pasti merasakan efek kasih sayang Allah SWT. Apakah benda mati atau benda hidup, alam gaib dan alam syahadah, semuanya mendapatkan rahmat-Nya.

Sungguhpun makhluk-Nya kafir dan menghina diri-Nya seperti iblis dan para pengikutnya tetap ia mendapatkan rahmat-Nya. Dari segi inilah Ibnu Arabi pernah menyatakan di dalam kitab Futuhat al-Makkiyah, semua orang pada saatnya akan masuk ke dalam surga, sungguhpun mereka tidak pernah melakukan kebaikan. Allah SWT menciptakan seluruh makhluk-Nya dengan cinta dan karenanya segenap makhluk-Nya pasti akan mendapatkan kasih-Nya.

 

Oleh: Nasarudin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

 

sumber: Republika Online