Insiprasi Kaum Muda

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengungkapkan, “Saya menggambarkan masa muda itu seperti sesuatu yang ada di lengan bajuku, lalu jatuh.” (Manaqibul Imam Ahmad, karya Ibnu Jauzi, hlm. 195).

Masa muda merupakan fase penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia pada hakikatnya sebentar dan perlahan beranjak tua. Ketika badan masih sehat, pikiran masih cemerlang, dan semangat masih menggebu-gebu, maka seorang pemuda-pemudi harus mengisi hari-harinya dengan amal ketakwaan, antusias menuntut ilmu, berkiprah dalam memberikan kontribusi positif kepada orang lain dan teguh membela kebenaran.
Hafshah binti Sirrin berkata, “Wahai para pemuda, kerahkanlah potensi kalian selagi kalian masih muda, karena saya tidak melihat adanya kemungkinan beramal kecuali di masa muda.” (Dikutip dari buku Manajemen Waktu Para Ulama, Syaikh Abdul Fattah, hlm. 194).

Dalam mukadimah kitabnya yang monumental, Al-Majmu‘ (I/169), Imam Nawawi pernah mengatakan, “Hendaklah seorang pelajar menggunakan kesempatan guna menghimpun ilmu ketika masa luang, masih bersemangat, masa muda, badan masih kuat, ide masih cermerlang, dan kesibukan masih minim, sebelum ia terhalangi oleh masa-masa mengganggu”.

Generasi muda kaum muslimin hendaknya menjadikan pendahulunya, generasi didikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai inspirasi sekaligus teladan terdepan dalam keimanan serta ketakwaan. Keberanian ‘Ali bin Abi Thalib, kedalaman lautan ilmu ‘Aisyah, kesederhanaan Mus’ab bin Umair, kefakihan Ibnu ‘Abbas, dan lainnya adalah contoh keberhasilan generasi salaf yang seharusnya menjadi spirit generasi muda saat ini.
Dan ketika remaja muslim tidak disibukkan dengan amal kebaikan, maka ia akan tersibukkan dengan kebalikannya -keburukan-, atau minimalnya sesuatu yang sia-sia tanpa faedah. Celah inilah yang digunakan para musuh Islam untuk melumpuhkan generasi ini, dengan berbagai makar dan propaganda menyesatkan agar mereka menjauh dari petunjuk Islam.

William Edward Gladstone, mantan perdana menteri Inggris pernah mengatakan, “… percuma kita memerangi umat Islam dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada para pemuda Islam itu bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada 1000 meriam. Oleh karena itu, tanamkan dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.” (dikutip dari Elfata, edisi 02, vol. 14, 2014)

Jelaslah bahwa salah satu target para pendengki Islam adalah merusak generasi mudanya. Oleh karena itu, para pemuda haruslah waspada dan jangan mudah terprovokasi dengan berbagai gaya hidup kaum kuffar dan pemikiran menyimpang. Maka, marilah kita kembali kepada Islam, dalam hal keyakinan, pemikiran, ibadah, akhlak, dan muamalah sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh generasi salaful ummah.

Sebagai akhir risalah ini, perlu direnungkan sebuah nasihat dari Muhammad bin ‘Ali rahimahullah kepada anak lelakinya, “Wahai anakku, berhati-hatilah kamu dari sikap malas dan bosan. Sesungguhnya keduanya adalah kunci dari setiap keburukan. Sesungguhnya jika kamu malas, maka engkau tidak akan mampu melaksanakan kebenaran dan jika kamu bosan, maka engkau tidak akan bersabar di atas kebenaran.” (Tahdzibul Hilyah Auliya’, I/507)

Yang muda yang bertakwa, ialah profil generasi muda yang menghiasi hidupya dengan iman dan senantiasa meniti jalan yang lurus dalam rangka beribadah semata kepada-Nya.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi: Manajemen Waktu Para Ulama, Syaikh Abdul Fattah, Zam-zam, Solo, 2012. Elfata, edisi 02, vol. 14, 2014.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11089-insiprasi-kaum-muda.html