Melonjak Korban Meninggal Covid-19, Bolehkah Digabung dalam Satu Kuburan?

Melonjak Korban Meninggal Covid-19, Bolehkah Digabung dalam Satu Kuburan?

Covid-19 tampaknya belum juga usai di Indonesia. Alih-alih berangsur pulih, justru kian hari kian bertambah orang yang terjangkit virus dan meninggal dunia. Pada Jumat (2/7) kemaren tercatat rekor bertambah 25.830 orang positif Covid-19. Di sisi lain, kasus meninggal bertambah 539 orang, sehingga angka totalnya menembus 59.534 orang.

Pada sisi lain, varian varian delta Covid-19, yang proses penularnnya kian  cepat bisa jadi akan menimbulkan tsunami Covid-19. Hal itu mungkin saja akan menimbulkan korban meninggal terus bertambah. Sementara itu, ketersediaan lahan tanah pemakaman kian susut, terutama di daerah perkotaan.

Lantas akibat melonjak korban meninggal Covid-19,—menurut hukum fikih Islam—, bolehkah jenazah tersebut digabung dalam satu kuburan?

Menurut Syek Samsyuddin bin Muhammad bin Muhammad Khotib Asy Syarbini dalam kitab Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’  bahwa para ulama berbeda pendapat dalam persoalan menggabungkan jenazah dalam satu kuburan. Imam Syarkhosi menyebutkan haram. Sementara Imam Mawardi bilang hukumnya makruh. Akan tetapi para ulama mengatakan boleh menggabungka mayat dalam satu lubang kubur ketika darurat. Khatib Syarbini berkata;

.ولا يدفن اثنان في قبر واحد إلا لحاجة) أي الضرورة كما في كلام الشيخين كأن كثر الموتى وعسر إفراد كل ميت بقبر فيجمع بين الاثنين والثلاثة والاكثر في قبر بحسب الضرورة

Artinya:  Jangan dikuburkan dua mayat dalam satu kuburan, Kecuali ada hajat, artinya ada pengecualian kondisi darurat, seperti yang disampaikan oleh Syeikhoini (baca; merujuk pada Imam Rafi’i dan Imam Nawawi), seperti keadaan manakala terdapat banyak mayat, dan sulit untuk mengubur jenazah satu per satu dalam liang kubur, maka hendaknya dikumpulkan atau digabungkan—dua atau tiga mayat atau lebih—dalam satu liang kuburan, tentu dengan mempertimbangkan ukuran kondisi darurat itu.

Sementara itu, dalam Kitab Syarah Ushul I’itiqadu Ahli as Sunati lil Alkai, yang ditulis oleh Syekh Hasan Abu Asybal Az Zahiri, ketika ditanya terkait hukum menggabungkan mayat dalam satu kuburan, beliau menjawab hukumnya boleh. Hal itu pernah diperbuat oleh Nabi Muhammad dalam perang Uhud. Baginda Nabi menguburkan sahabat dalam satu liang kubur.  Ia berkata;

هل يجوز دفن أكثر من ميت في قبر واحد؟
نعم .كما هو واقع في قتلى أحد، فالنبي عليه الصلاة والسلام دفن الجماعة في قبر واحد، ومسألة أن كل ميت له قبر مسألة مستقرة، لكن إذا تعذر الأمر وكثر الموتى وقلت القبور جاز للضرورة دفن أكثر من واحد في قبر واحد، ويقدم أكثرهم قرآناً أو علماً بالسنة.والإمام الشافعي عليه رحمة الله قال: وإن ضاقت المسألة ولا بد من دفن الرجل مع المرأة أو المرأة مع الرجل فلا بأس بذلك للضرورة على أن يكون بينهما ساتر، ساتر من رمال أو تراب أو غير ذلك، مع أنه لا يخاف الفتنة والحالة هذه،

Artinya; Apakah boleh menggabungkan banyak mayat dalam satu liang kubur? (Syekh Hasan Asybal Zahiri menjawab), ya boleh. Sebagaimana pernah terjadi dalam peperangan Uhud. Maka Nabi Muhammad menanam para sahabat dalam satu liang kubur, dan masalah  bahwa setiap satu jenazah, maka hendaknya baginya satu kuburan merupakan ketetapan hukum.

Akan tetapi persoalannya apabila dalam keadaan uzur (ada kesulitan) dan ada banyak yang meninggal , dan sempit tanah lahan makam,  boleh hukumnya (menggabung mayat dalam satu kuburan), dan dikubur lebih dari satu mayat dalamsatu kuburan, dan terlebih dahulu orangyang ditanam yang banyak hafalan Qur’an dan pengetahuannya terhadap ilmu hadis.

Imam Syafi’i berkata, Dan jika masalah semakin komplek, dan mesti ditanam atau dikubur seorang laki-laki digabung dengan seorang wanita, atau seorang perempuan dengan seorang laki-laki, maka tidak mengapa memperbuat demikian. Pasalnya karena ada darurat.

Tetapi hendaknya dibuat di antara laki-laki dan perempuan itu satir (pembatas), pembatas itu dari pasir atau tanah atau selain itu. Dan juga penggabungan itu hendaknya tidak menimbulkan fitnah.

Demikian penjelasan terkait hukum penggabungan jenazah dalam pandangan hukum Islam. Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARIAH