Meminum Air Zamzam Sebagai Sarana Kebaikan

Meminum Air Zamzam Sebagai Sarana Kebaikan (2)

Abdullah bin Mubarak

Abdullah bin Mubarak adalah ulama salaf shalih yang wafat pada tahun 181 H. Diriwayatkan, Abdullah bin Mubarak datang ke sumur zamzam, mengambil airnya, kemudian menghadap kiblat, lalu berdoa, “Ibnu Mawali telah menyampaikan hadist dari Muhammad bin Al-Munkadar dari Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bahwa beliau bersabda, `Air zamzam tergantung untuk apa ia diminum’, maka kini aku meminumnya untuk menghilangkan rasa haus pada hari kiamat”. Kemudian beliau meminumnya.

Imam Syafi’i

Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri Madzhab Syafi’i, merupakan ulama yang memiliki kecerdasan dan keluasan ilmu tinggi. Ibnu Hajar berkata, “Di antara perkara yang sangat masyhur tentang Imam Syafi’i adalah beliau minum air zamzam untuk melempar lembing. Sembilan dan sepuluh lemparan beliau tepat mengenai sasaran.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Syafi’i berkata, “Aku pernah minum air zamzam untuk 3 perkara: untuk melempar lembing di mana 10 dari 10 lemparan itu tepat mengenai sasarannya, dan 9 dari 10 juga mengenai sasarannya, selain itu untuk ilmu sebagai mana yang kamu lihat, kemudian untuk masuk surga. Aku berharap permohonan ini juga dikabulkan.”

Imam Ahmad bin Hanbal

Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah imam keempat dari ulama fikih Islam termasyhur, selain Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i. Beliau memiliki sifat-sifat luhur yang tinggi, seorang mufti di Irak, zahid, dan shalih, serta sabar menghadapi musuh-musuhnya. Diriwayatkan dari Abdullah, putra Imam Ahmad bin Hanbal, ia berkata, “Aku pernah melihat ayah minum air zamzam dan meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar disembuhkan dari sakitnya, serta membasuh kedua tangan dan wajahnya.”

Imam Ibnu Khuzaimah

Imam Al-Hafidz Ibnu Khuzaimah bin Ishaq adalah pengarang kitab Shahih. Beliau wafat pada tahun 311 H. Diriwayatkan, ketika Imam Ibnu Khuzaimah ditanya dari mana beliau memperoleh ilmu, beliau menjawab, “Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, air zamzam tergantung untuk apa ia diminum, dan ketika aku meminumnya, aku memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat.”

Imam Al-Hakim

Imam Al-Hakim adalah ulama shalih yang wafat pada tahun 405 H. Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hakim meminum air zamzam dengan permohonan agar tulisannya menarik perhatian, maka jadilah ia seorang pengarang besar.

Al-Khatib Al-Baghdadi

Al-Khatib Al-Baghdadi adalah ulama shalih dan penulis kitab Tarikh Baghdad. Beliau wafat tahun 463 H.
Diriwayatkan, ketika menunaikan ibadah haji beliau minum air zamzam tiga kali dan memohon tiga hajat: Pertama, niat menyelesaikan penulisan kitab “Tarikh Baghdad“. Kedua, niat untuk mendiktekannya di Universitas Al-Mansyur. Ketiga, niat agar dimakamkan berdekatan dengan kubur Bisyr Al-Hafi, seorang ahli zuhud dan merupakan syaikul Islam.

Dari ketiga niat atau hajat itu, semua dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ibnu Al-Arabi Al-Maliki

Imam Ibnu Al-Arabi Al-Maliki adalah seorang ulama, pengarang kitab Ahkamul Qur’an. Beliau wafat tahun 543 H.

Diriwayatkan, bahwa beliau berkata, “Aku pernah bermukim di Makkah pada bulan Dzulhijjah 482 H. Aku banyak minum air zamzam. Setiap kali minum, aku berniat memohon bertambahnya ilmu dan iman sehingga Allah membukakan untukku berkah dari zamzam banyaknya kemudahan dalam menuntut ilmu.”

Ayah Imam Ibnu Al-Jazari

As-Sakhawi, dalam biografi Imam Hafidz Ibnu Al-Jazari (wafat tahun 833 H), berkata, “Ayah beliau adalah seorang pedagang dan selama 40 tahun masih belum dikaruniai anak. Lalu ia menunaikan haji dan minum air zamzam dengan niat supaya Allah memberikannya anak yang alim. Maka lahirlah Ibnu Al-Jazari setelah shalat tarawih tahun 751 H.”

Ahmad bin Abdullah Asy-Syarifi

Imam Taqiyyudin Abdurrahman bin Abil Khair Al-Fasi (wafat tahun 832) menyebutkan bahwa Ahmad bin Abdullah Asy-Syarifi Al-Farassiy ketika di Masjidil Haram meminum air zamzam untuk memohon kesembuhan dari matanya yang mengalami kebutaan, dan terbukti sembuh.*

Dari buku Mukjizat Penyembuhan Air Zamzam karya Badiatul Muchlisin Asti.

HIDAYATULLAH