Berjamaah Menuju Jannah

Setelah serangan mematikan bertubi-tubi dilancarkan musuh-musuh Islam terhadap kedaulatan Islam dan kaum muslimin dimana dinamika internal yang silih berganti bergejolak juga mewarnai perjalanan sejarah Ummat Islam dalam menuntaskan perannya sebagai ummat pilihan Alloh di era akhir zaman, akhirnya khilafah Islamiyah runtuh pada tahun 1924 dengan dihapuskannya kesultanan Turki Utsmani oleh seorang ketururunan Yahudi bernama Musthapa Kemal. Semenjak itu, kaum muslimin memasuki era yang membingungkan karena konsep kehidupan berjama’ah yang dikenal Islam adalah satu bentuk kehidupan yang tertata dibawah seorang Imam Mumakkan (berkuasa penuh memimpin ummat). Akibatnya, jangankan mengemban misi rahmatan lil ‘alamiin sedangkan untuk mempertahankan eksistensi dan menjalankan tugas-tugas internal saja, kaum muslimin sudah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan yang sangat hebat.

Musthapa Kemal tentunya tidak bekerja seorang diri bersama kelompoknya, disamping ia adalah seorang perwira tinggi militer yang amat memahami kerja-kerja tersistem dan terorganisasi dengan baik maka ia juga disokong sepenuhnya oleh gerakan Yahudi Internasional baik yang bergerak tertutup maupun institusi-institusi terbuka yang dimiliki jaringan Zionisme yang telah menguasai dunia ekonomi dan perbankan. Langkah-langkah revolusioner Musthapa Kemal hanyalah menyamakan irama dan derap langkah konspirasi Yahudi bagi terwujudnya impian mereka akan Israel Raya ditanah yang dijanjikan Tuhan versi mereka, yakni negara Yahudi di bumi Syam (khususnya Palestina).

Jadi Musthapa Kemal sebenarnya bekerja dengan sistem yang dalam Islam disebut sebagai Jama’ah. Sedangkan ia hanyalah icon pendobrak dan pemersatu yang menghancurkan sistem kehidupan Islam yang tersisa dari perjalanan sejarah Ummat Islam. Maka sangat disayangkan jika kaum muslimin justru melupakan hakekat ini, sehingga sistem Jama’ah semakin ditinggalkan kecuali pada hal-hal parsial saja atau paling maksimal adalah munculnya klaim berjama’ah namun ekslusif bagi kalangan tertentu saja. Ditambah lagi musibah munculnya fanatisme kelompok (quyyud hizbiyyah) yang semakin menjerat ummat pada posisi saling berhadapan dengan penuh persaingan dan ambisi saling menjatuhkan sesamanya. Dimana fenomena berbahaya ini telah ditangkap oleh seorang da’i dari Jama’ah Islamiyah Libanon (salah satu wilayah Syam) yakni ustadz Fathi Yakan rohimahulloh dengan istilah beliau yakni Aids Haroki. Wallohul Musta’an!

Tragedi keruntuhan Khilafah Islamiyah juga sekaligus menandakan masuknya kaum muslimin dalam kejatuhan kehidupan tanpa Jama’atul Muslimin sementara musuh kemanusiaan, yakni kaum Yahudi justru berhasil membangun kehidupan berjama’ah (sesuai versi mereka). Ketiadaan Jama’atul Muslimin dalam pengertian dan kriteria Syar’i  juga setidaknya telah dibuktikan secara ilmiah dihadapan para Masyaikh di Jamiyyatul Islamiyah Madinah Munawarroh oleh Ustadz Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir ,MA  dalam tesis masternya yang mendapat nilai imtiyyaz (Excellent). Padahal Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Dan aku memerintahkan kepada kalian lima hal yang Alloh memerintahkan aku dengan kelima hal tersebut, yaitu: berjama’ah, mendengarkan, mematuhi, berhijrah dan berjihad di jalan Alloh. Barangsiapa keluar dari jama’ah sejengkal saja maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali lagi…” Mereka bertanya: “ Wahai Rasululloh, sekalipun dia sholat dan puasa ?” Rasululloh menjawab: “ Sekalipun dia puasa, sholat  dan mengaku (dirinya) muslim.”  (HR. Ahmad, 4/202)

Tauhid dan Jama’ah adalah Kesatuan

Pembicaraan tentang Jama’ah membutuhkan kajian yang serius dan mobilisasi umum (keterlibatan semua unsur), oleh karena persoalan Jama’ah merupakan batu pondasi pertama untuk mewujudkan suatu ide (wacana) pikiran menjadi nyata dan kongkrit. Tanpa jama’ah, maka ide pikiran apapun tak akan pernah bisa menjadi eksis dan bertahan kekal. Barangkali kita masih ingat dengan perkataan Imam besar Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rohimahulloh saat beliau melihat kefaqihan Laits bin Sa’ad, ilmunya dan periwayatan haditsnya. Lalu beliau mengucapkan perkataannya yang amat masyhur: “ Laits bin Sa’ad lebih faqih dari Malik, hanya saja para shahabatnya tidak ada yang menjadi penerusnya.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa jama’ah, perkumpulan dan tanzhim sangat besar pengaruhnya terhadap eksistensi suatu ide pemikiran serta kelangsungannya. Tanpa jama’ah, perkumpulan dan tanzhim, maka suatu ide pemikirian tidak akan bisa eksis dan bertahan. Maka jika kita memahami hal ini, kemudian berpikir sejenak mengenai prikehidupan nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dan kita mengkaji secara seksama dari permulaan dakwah beliau hingga kemenangan diinnyaserta apa yang diserukan beliau kepada manusia, niscaya kita akan melihat dengan sejelas-jelasnya bahwa yang pertama diserukan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah Tauhid dan Jama’ah.

Dahulu, apabila seseorang menjawab seruan nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam dan masuk menjadi muslim muwahhid maka dia memutuskan segala pertaliannya yang sebelumnya. Dia keluar secara psychis maupun phisiknya dari segala ikatan lama, baik ikatan keluargaatau kabilah atau ikatan apapun selainnya dan bergabug pada jama’ah yang baru (yakni jama’atul muslimin) dan terikat dengannya secara total dalam hal loyalitas, pembelaan, menjalankan perintah, empati maupun simpatinya. Gambaran ini tercermin pada sabda nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam:

Permisalan seorang mukmin dalam berkasih sayang dan berlemah lembut serta kecintaan diantara mereka adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tak dapat tidur.”

Jika prikehidupan orangorang Islam adalah demikian maka tidaklah aneh syiar seorang muslim yang benar (dalam aqidah dan manhajnya) adalah intima’ dibawah syiar (Firqoh An Naajiyah) Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Banyak kisah generasi pertama yang berkaitan dengan konsepsi pemikiran kaum Sunni dalam permasalahan aqidah. Mereka menulis didalamnya apa yang disebut Kitaabul Aqoo’id. Dimana kitab-kitab tersebut disusun dengan satu maksud dan tujuan untuk menjelaskan konsep pemikiran Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana seharusnya dan untuk menolak i’tiqod-i’tiqod yang menyelisihinya dari berbagai aliran pemikiran, yang oleh sebagian orang jsutru dianggap sebagai bagian dari Diinulloh (padahal samasekali bukan), yakni aqidah golongan Mu’tazilah, golongan jabariyah, golongan Syia’ah, golongan Khawarij dan golongan-golongan yang beraqidah sesat lainnya.

Namun demikian, masalah jama’ah masih belum diterangkan secara terperinci dalam kitab-kitab tersebut, oleh karena jama’ah yang perlu mendapatkan penjelasan pada era kehidupan mereka adalah masalah Imam Mumakkan dan sejauh mana kesyar’ian pembrontakan yang dilakukan sekelompok orang terhadap Imam Mumakkan itu yang didorong sikap baghyun (sikap aniaya dan durhaka) dan fasik. Demikian pula sejauh mana kesyar’ian Imam Mafdhul (Imam yang kalah keutamaannya) dengan adanya Imam Afdhol (yang ebih unggul keutamaannya). [1] jadi wajar kalau kaum muslimin sekarang mengalami kebingungan dalam mengimplementasikan konsep Jama’ah dalam kehidupan yang nyata-nyata dikalahkan oleh musuh-musuh Islam, baik dari kalangan Kuffar Internasional maupun penguasa lokal yang murtad.

Tsauroh Suriah menjanjikan Kembalinya Jama’atul Muslimin

Jika bahasan diatas cukup mengerenyutkan dahi dan menyesakkan dada hingga mampu meneteskan air mata, fenomena yang kita tangkap dari apa sedang terjadi di Suriah saat ini insya Alloh akan mampu memberi harapan baru bagi kembalinya kehidupan berjama’ah yang hakiki dan syar’i bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Namun semua cita-cita butuh biaya dan pengorbanan maksimal serta dedikasi total. Hanya orang malas dan tolol saja yang terus-menerus berteriak tentang apa yang diinginkannya namun tidak mau beranjak dari kenyataan pahit yang melingkupinya.

Tragedi yang dilanjutkan dengan perlawanan total kaum muslimin di Suriah telah memperlihatkan kwalitas Ahlus Syam yang gagah perwira sebagaimana yang disebutkan berbagai keutamaan mereka dalam hadits-hadits nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Ratusan ribu orang dari berbagai strata sosial dan usia yang telah dibantai rezim Basyar Asad an Nushoiry dengan dibantu Republik Syiah Iran, Negara Komunis China dan Rusia serta milisi-milisi bersenjata Syiah dari berbagai negara seperti Irak, Libanon, Yaman bahkan kaum Syiah di Indonesia ikut membuka pendafataran Relawan Combatan (tempur) dan non Combatan untuk berperang membela rezim jahat dimana kejahatannya melampui kekejian yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina. Namun jihad kaum muslimin Syam semakin menampakkan ketahanan dan daya juang yang amat luar biasa sehingga Alloh Azza wa Jalla berkenan menggerakkan hati-hati kaum Mujahidin dari kurang lebih 29 negara di dunia padahal mereka juga sedang sibuk berjihad melawan para thughyaan di negri mereka sendiri. Mereka kini hadir di Suriah dengan seluruh dedikasi dan kemampuan tempurnya dalam mengokohkan Jihad di bumi Syam.

Dan yang paling menggembirakan hati setiap orang mukmin, seruan revolusi Suriah telah bermetamorfose pada penegakkan Khilafah Islamiyah bagi dunia Islam. Hal inilah kemudian yang diantispasi kaum Kuffar sedunia dengan gembong-gembongnya dari kalangan munafik dan zindiq di seluruh negri kaum muslimin, mereka bukan saja mendatangkan segala kekuatan bersenjatanya ke Suriah dan sekitarnya namun juga membrangus segenap potensi dan kekuatan Jihad di negri-negri mereka dengan issu terorisme. Mereka meratifikasi konvensi PBB dalam bentuk undang-undang anti terorisme yang pada asal dan muaranya adalah menghancurkan kekuatan Islam.

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfaal: 30)

Wallohu Ta’ala A’lamu bis showwab.

Ngruki,  Sya’ban 1434

Abu Fatih Abdurrahman S.

Red : Abdul Aziz Al Makassary

[1] Syekh Abu Qotadah Al Filisthiny fakkalohu asroh, Al Jihad wal Ijtihad.

 

 

sumber: BumiSyam,com

Dua Kalimat Pamungkas Agar Doa Lekas Diijabah

Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita menyandarkan dan mengadukan setiap permasalah yang kita hadapi kepada Allah azza wa jalla. Bahkan dalam urusan sandal putus sekalipun Nabi Muhammad sahallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk mengadukannya kepada Allah. Berdoa kepada Allah.

Lalu bagaimana jika kita ingin agar doa kita segera diijabah oleh Allah? Dalam kajian tadabbur bulanan yang rutin diadakan di masjid Baitul Ihsan, komplek Bank Indonesia setiap minggu ketiga pada Sabtu (15/03), ustadz Bachtiar Nasir memberikan dua kalimat pamungkas agar doa diijabah oleh Alloh.

“Wa Ilaahukum ilaahum Waahidum laa ilaaha illaa huwar rahmaanurrahiim,” kata ustadz yang akrab disapa UBN. “Dalam kalimat pamungkas pertama tersebut terdapat kata Arrahmaan yang bermakna maha pengasih dan Arrahim yang bermakna Maha Penyayang.”

UBN pun sempat meminta para jamaah untuk menghafal kalimat pertama tersebut dengan waktu lima menit, karena kalimat tersebut beliau nilai akan sangat membantu para jamaah menghadapi kesulitan hidup. Para jamaah yang hampir memenuhi masjid Baitul Ihsan pun tak sungkan mengikuti perintah UBN untuk menghafal kalimat pertama tersebut.

Setelah para jamaah sudah hafal dengan kalimat pertama tersebut, UBN pun melanjutkan dengan kalimat pamungkas terakhir sebagai pengawal doa.

“Alif laam miim, allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum,” ungkap ustadz yang juga menjabat sebagai ketua  Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) tersebut.

Dalam acara yang bertemakan ‘Merasakan Kasih Sayang Allah (Tadabbur Arrahman-Arrahim) dia menjelaskan kalimat kedua tersebut merupakan awalan Surat Ali Imran. Di akhir kajian, UBN meminta para jamaah untuk yakin atas pertolongan Allah dalam membaca dua kalimat pengawal doa tersebut.

“Karena intinya kita berdoa adalah yakin bahwa Allah itu mendengar dan akan mengabulkan doa kita. Sebelum kita berdoa kepada Allah, harus kita awali dengan dua kalimat tersebut,” tutupnya. (TOM/UL/bumisyam)

 

sumber: BumiSyam.com

Pentingnya Menerapkan Al-Muhaimin di Kehidupan Sehari-hari

Pimpinan Arrahman Qur’anic Learning Center (AQL) Ustadz Bachtiar Nasir pada kajian Tadabbur Asmaul Husna Sabtu (20/09) pagi tadi di masjid Baitul Ihsan, kompleks Bank Indonesia menyatakan pentingnya menerapkan Al-Muhaimin di kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian rutin tadabbur Asma ul-Husna yang dilaksanakan minggu ketiga setiap bulannya tersebut, kali ini bertemakan “Tadabbur Asma Al-Muhaimin”.

“Banyak orang yang ingin usahanya lancar, mereka lebih memilih menggunakan tata cara yang musyrik dan sangat jauh dari ajaran Islam, seperti melempar beras dan lainnya,” ucap ustadz yang juga merupakan Sekjen Majelis Intelek dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Ustadz yang akrab disapa UBN tersebut menambahkan, “Padahal ada cara yang sesuai dengan syariat agama Islam seperti doa Masya Allah, la quwwata illa billah, yang terdapat di surat Al-Kahf ayat 39.”

Secara garis besar, kata UBN, ada empat poin yang harus diperhatikan umat manusia dalam menerapkan Al Muhaimin di keseharian, yaitu:

  1. Dalam kehidupan sehari-hari kita akan merasa dalam penguasaan, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan Allah.Tid
  2. Selalu percaya kepada Allah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, sehingga tidak ada perasaan takut kepada apapun dan siapapun, kecuali kepada-Nya.
  3. Memberikan kekuatan kepada jiwa seseorang mukmin, untuk dapat menghadapi segala cobaan dan tantangan hidup.
  4. Meningkatkan rasa mendekatkan diri dan rasa malu terhadap Allah SWT dalam diri seorang mukmin, karena mengetahui Allah maha mengetahui dan mengawasi. (TOM/UL/bumisyam)

 

sumber: BumiSyam.com

Buah Manis bagi Sesiapa yang Beriman kepada Al ‘Aziz

Orang-orang yang beriman kepada Allah Al ‘Aziz akan selalu mendapatkan kemenangan. Meski demikian, ukuran kemenangan bagi orang yang beriman tidaklah mesti di dunia.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Bachtiar Nasir dalam kajian Tadabbur Al Quran Asma Al ‘Aziz “Allah Maha Perkasa Tak Terkalahkan” di Masjid Baitul Ihsan, Jakarta, Sabtu (18/10).

“Seperti kisah orang-orang beriman yang oleh Ashabul Ukhdud dibakar di dalam parit demi mempertahankan keimanan mereka kepada Allah Al ‘Aziz,” kata UBN di hadapan jamaah yang memadati ruang utama Masjid Baitul Ihsan.

Kisah tersebut Allah abadikan dalam Al Quran Surat Al Buruuj ayat 9 yang artinya:

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

UBN, demikian sapaan akrabnya, menjelaskan ada empat makna Al ‘Aziz secara bahasa, yaitu yang pertama berarti tidak mempunyai tandingan, tidak ada yang menyerupai-Nya. Kedua, Al ‘Aziz berarti yang selalu menang tidak akan pernah dikalahkan. Dan, Allah adalah Dzat yang Maha menang dan tidak terkalahkan sebagaimana dalam firman Allah dalam Al Quran Surat Yusuf ayat 21 yang artinya:

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

Kemudian makna yang ketiga, Al ‘Aziz berarti yang maha kuat. Makna ini ditunjukkan dalam firman Allah dalam Al Quran Surat Yaasin ayat 14, yang artinya:

“(yaitu ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.””

Sedangkan yang keempat Al ‘Aziz dalam artian Al Mu’iz yang artinya Yang Maha memuliakan dan menguatkan. Dengan makna ini, Al ‘Aziz adalah nama Allah Subhanallahu ta’alau yang menunjukkan nama perbuatan. Dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 26 Allah berfirman yang artinya:

“Katakanlah: wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Buah Keimanan Kepada Al ‘Aziz

UBN mengatakan, jika seorang hamba mengenal dan meyakini Allah sebagai Al ‘Aziz, Yang Maha Perkasa dan Tidak Terkalahkan, maka dia tidak akan pernah mengagungkan selain Allah Subhanallahu ta’ala. Orang yang beriman kepada Al ‘Aziz akan memiliki ‘izzah yang berarti kekuatan diri di dunia.

“Orang yang punya ‘izzah di dunia adalah orang yang dimuliakan Allah Subhanallahu ta’ala,” kata UBN. Dia melanjutkan, hal ini berkaitan dengan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga hanya Allah Ta’ala semata yang disembah dan tidak dipersekutukan dengan-Nya sesuatupun, dan telah dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Dan barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka.” (Hadits Riwayat Ahmad, Thabrani dan Baihaqi).

Terkait masalah ‘izzah, lanjut UBN, Al Quran menjelaskan bahwa seluruh kekuatan kepunyaan Allah dan tiada guna manusia mencari kekuatan di sisi orang-orang yang kafir, seperti dalam An Nisa ayat 139 yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

Buah keimanan kepada nama Allah Al ‘Aziz adalah menjadi sebab ditinggikan dan dimuliakannya seseorang oleh Allah Subhanallahu ta’ala dengan sifat pemaaf dan rendah hati, sesuai hadits riwayat Muslim yaitu:

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah tidaklah akan mengurangi harta sedikitpun, dan tidaklah seorang hamba memberi maaf, melainkan Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan kehormataan, dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri di hadapan Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (Hadits Riwayat Muslim).

Dengan nama Allah Al ‘Aziz pun kita bisa berdoa memohon perlindungan saat sedang dirundung kegelisahan, ketakutan, sakit bahkan ketika susah tidur, yaitu:

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kau merasakan sakit maka taruhlah tanganmu di bagian tubuh yang terasa sakit dan ucapkan, “bismillaahi a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu min waja’iy hadzaa (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sakit yang aku derita ini), kemudian angkat kedua tanganmu lalu ulangi lagi seperti itu dengan bilangan ganjil.” (Hadits Riwayat Tirmidzi).

Maka, kelemahan, kehinaan dan keterbelakangan yang menimpa umat Islam sekarang ini adalah akibat maksiat dan dosa yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri dan akibat mereka jauh dari agama Allah Subhanallahu ta’ala. Wallahu a’lam bish shawab. (UL/bs)

 

sumber: Bumi Syam

Inilah Pentingnya Azan di Telinga Kanan Bayi yang Baru Lahir

Abu Rafi’ berkata, “Aku melihat Rasulullah mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin Ali saat baru dilahirkan oleh Fathimah [HR. Abu Dawud, Kitabul Adab, 5105].

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa hikmah azan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir adalah agar suara pertama yang didengar oleh sang bayi adalah seruan azan. Seruan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang yang baru masuk Islam. Jadi, tuntunan pengajaran ini menjadi perlambang Islam bagi seseorang saat dilahirkan ke dunia.

Kita tahu bahwa setan akan lari terbirit-birit manakala mendengar suara azan. Karena itu setan berupaya mengganggunya akan mendengar kalimat yang paling dibenci olehnya saat sang bayi memasuki permulaan kehidupannya di dunia.

Hal ini menjelaskan kepedulian Nabi Muhammad terhadap akidah tauhid yang harus ditanamkan sejak dini dalam jiwa sang anak dan sekaligus untuk mengusir setan yang selalu berupaya mengganggu bayi sejak kelahirannya dan memulai kehidupam barunya.

Setan juga selalu memukul bayi saat baru dilahirkan, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah.

Abu Hurairah berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda: ‘Tiada seorang pun dari anak Adam yang baru dilahirkan kecuali setan menyentuhnya ketika ia dilahirkan, sehingga ia menangis karena sentuhan setan itu. Kecuali Maryam dan putranya’,” Kemudian Abu Hurairah berkata, “Jika kalian tidak keberatan, bacalah firman-Nya : ‘wa inni u idzu haa bika wadzurriyyatahaa minassyaithonirrajim (Ali Imran:36)’ [HR. Al Bukhari, Kitab Ahaditsul Anbiya, 3177].”

Ibnu Abbas berkata, “Setiap bayi yang baru dilahirkan pasti menangis, kecuali Isa putra Maryam. Bayi itu menangis karena perutnya diperas oleh setan, sehingga si bayi menjerit,” [HR. Ad-Darimi, no.2999].

Dengan demikian, azan yang diserukan di telinga sang bayi akan menjadi pukulan balasan terhadap setan yang selalu berupaya dengan sekuat tenaganya untuk merusak keturunan Adam dan menghancurkan generasinya. [sumber: Islamic parenting/aqwam]

 

 

sumber: Bumi Syam

Peliharah Iman, Bersahabatlah dengan Orang Shalih

Dalam kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa berkawan dengan orang baik karena Allah adalah salah satu pilar memperkuat agama (Kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, hal. 63).

Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba jika mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 41).

Pergaulan merupakan faktor yang mempengaruhi pemikiran, lebih-lebih keimanannya. Seseorang dapat menjual iman, karena tergiur tipuan kawannya. Sebaliknya, seseorang bisa menjadi orang shalih karena selalu dinasihati teman dekatnya.

Maka dari itu, Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang dapat dinilai dari agama kawan setianya, maka hendaklah di antara kalian melihat seseorang dari siapa mereka bergaul.” (HR. al Hakim).

Yang harus diutamakan kawan adalah orang yang berilmu. Sebab sedikit atau banyak akan mempengaruhi pemikiran kita.

Dituturkan oleh Rasulullah SAW bahwa, lebih baik bersendiri dari pada bergaul dengan orang-orang yang rusak. Dan lebih baik bergaul dengan orang-orang baik daripada menyendiri (HR. Al Hakim).

Orang baik (ahl al-khoir) adalah orang yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Individu yang baik ini adalah orang yang beradab. Bukan sekedar beretika, tapi juga bertauhid.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan orang baik sebagai orang yang mengamalkan adab secara menyeluruh.

Pengamalan adab ini meliputi adab kepada Allah SWT, sebagai tingkatan adab tertinggi. Kemudian adab dengan sesama manusia, kepada ilmu, kepada alam dan sebagainya. Adab-adab ini dipandang dengan kacamata tauhid.

Karena orang baik (insan adabi) memberi pencerahan dalam segala aspek bidang kehidupan, makanya Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk mempergaulinya.

Orang yang demikian akan melihat realitas secara konstan dari kacamata ketuhanan – sebagai fondasi utamanya. Orang yang demikianlah yang dimaksud Rasulullah SAW untuk kita pergauli. Tidak memberi faedah kecuali faedah agama.

Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang dzalim dan lalai bisa membutakan hati. Allah SWT bersabda: “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah SWT, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (HR. QS. Hud: 113).

Condong dalam ayat tersebut di atas maksudnya, mendukung, melapangkan jalan, memuji-muji dan bersekutu bersama mereka. Tujuannya tidak lebih untuk kepentingan materialistik.

Setiap kita bergaul secara akrab dengan orang-orang lalai maka, saat itu iman kita mengalami pelemahan (Kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, hal. 61).  Duduk bersama orang-orang fasik oleh Rasulullah SAW dikaitkan dengan kadar keimanannya. Tidak mungkin orang beriman bergaul akrab bersama mereka dalam bersekutu melakukan aktifitas tidak baik.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia duduk (di suatu majelis) yang dihidangkan padanya minuman keras.” (HR. Abdu Dawud dan Ibn Majah).

Ketika kita memiliki kecondongan kepada mereka, maka cepat-cepatlah memutus kecondongan itu. Sebab dikhawatirkan akan mendapatkan kemungkaran. Karena mereka sangat pandai dalam tipu daya dan penipuan. Terkecuali jika kita memiliki misi khusus, berbekal ilmu akan mendakwahi mereka. Sikap ini bukan dinamakan memiliki kecondongan sebab tujuannya adalah dakwah.

Pernah Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz mendapat laporan tentang adanya suatu kaum yang sedang meminum khamr. Beliaupun memerintahkan agar mereka semua dicambuk. Kemudian seseorang berkata kepada beliau; “Sesungguhnya di antara mereka ada orang yang sedang berpuasa.”

‘Umar bin Abdul ‘Aziz menjawab: “Mulailah darinya (dalam mencambuk). Tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT: “Dan sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepada kalian di dalam al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah SWT diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka. Sehingga mereka pindah kepada pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (jika kalian berbuat demikian), maka tentulah kalian serupa dengan mereka.” (QS. Al-Nisa’ : 140).

Hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah, sebenarnya bergaul dengan siapa pun kita mesti memiliki cara pandang Islam yang kokoh. Semua harus atas dasar berukhuwah karena Allah SWT. Jika kita ingin memasuki majelis orang-orang fasik, maka pertama-tama yang harus dipertanyakan dalam hati adalah, atas dasar apa kita masuk dalam majelis itu?

Jika dasarnya adalah karena Allah SWT dengan maksud berdakwah, maka itu adalah langkah baik. Memberi nasihat, meluruskan pandangan orang-orang fasik dan mengajak bertaubat. Jika kita mendapati sebuah majelis di dalamnya ajaran Islam dihina, maka jika kita mampu maka luruskan mereka atau janganlah duduk-duduk bersama. Jika kita diam, berarti kita setuju dengan mereka.

Namun, jika iman kita masih lemah. Terlalu mudah terbuai godaan, maka lebih baik tidak memasukinya, dan sebaliknya bergabunglah bersama orang-orang shalih.
Faedah bergaul dengan orang shalih ada dua, yaitu mengambil ilmu dan menjaga keimanan agar tetap konstan. Iman itu diperkuat dengan ilmu, maka hendaklah kita mengambil faedah ilmu dari orang shalih agar keimanan selalu terjaga.

Oleh : Kholili Hasib – Anggota MIUMI Jawa Timur dan Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya

 

 

sumber: Bumi Syam

Komunikasi Nyaman, Bentengi Anak dari Perilaku LGBT

Orang tua disarankan menjalin komunikasi yang terbuka dan nyaman dengan anak. Kebiasaan tersebut diyakini dapat membantu anak menyampaikan apapun yang mereka temui di luar sana, termasuk hal yang menyangkut perilaku lesbian, ga, biseksual, dan transgender (LGBT).

Komunikasi nyaman akan membuat orang tua menjadi pihak pertama yang tahu ketika terjadi sesuatu pada anak. Saat menemukan sesuatu hal yang tidak lazim di media sosial misalnya akun penyuka sejenis yang beberapa waktu lalu sempat ramai, anak dapat langsung menanyakan dan berdiskusi ke orang tua tanpa takut dimarahi atau disalahkan.

“Cara melindungi anak adalah dengan membangun komunikasi,” ujar psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo kepada Republika.co.id, Selasa (26/1).

Ketika anak memiliki teman LGBT, setiap orang tua mempunyai cara tersendiri dalam menghadapinya. Vera mengatakan setiap orang tua berhak memiliki nilai dan aturan yang mereka terapkan ke buah hati. Termasuk menunjukkan sikap yang berbeda

Vera namun tidak dapat menyarankan langkah terbaik apa yang mestinya dilakukan orang tua. Masing-masing keluarga mempunyai latar belakang, budaya, dan agama berbeda sehingga sikap dan solusinya penanganannya pun berbeda.

“Ada keluarga yang ekstrim menyuruh anak menjauhi temannya itu. Tapi ada juga orang tua yang meminta anaknya tidak menjauhi temannya, asal jangan ikut-ikutan perlaku tersebut,”  kata dia.

Yang terpenting, kata Vera, orang tua jangan terlalu menutup anak dari informasi mengenai perilaku LGBT. Pasalnya akses informasi saat ini sangat luas. Jika orang tua menutup rapat-rapat informasi ini, dikhawatirkan anak bisa mendapatkannya dari mana saja. “Kalau tidak ada pengetahuan dan benteng yang cukup, bisa saja anak mempunyai persepsi salah,” ujar Vera.

 

sumber: Republika Online

Cerdas Pilih Mainan Hindari Anak dari Kecenderungan LGBT

Orang tua berperan penting untuk membentuk karakter anak sejak kecil dan menghindarkannya dari kecenderungan seksual yang menyimpang. Psikolog pendidikan Alfa Restu Mardhika mengatakan, salah satu contohnya adalah memilihkan anak usia dini dengan mainan sesuai gendernya.

“Seperti kalau anak laki-laki jangan diberikan boneka, namun mobil-mobilan. Dan, kalau anak perempuan, dipilihkan boneka,” ujar dia saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (26/1).

Restu mengatakan, membentuk karakter anak dapat dimulai sejak umur dua tahun sampai lima tahun. Dia mengaku, sebagian individu yang memiliki kelainan saat remaja, terjadi karena pola asuh yang salah. Sebab, anak lahir bagaikan kertas kosong dan murni.

Selain itu, ada anak laki-laki yang lebih suka bermain dengan anak perempuan. Kemudian, anak perempuan lebih suka bermain dengan anak laki-laki saat masih kecil. Padahal, saat usia anak masih berumur dua hingga lima tahun, kecenderungan anak menjadi penyuka sesama jenis dapat dihindari, terutama kalau orang tua jeli melihat pertumbuhan si anak.

“Atau orang tua juga bisa menceritakan, kalau laki-laki itu nanti akan menjadi seorang ayah. Sedangkan, kalau perempuan nantinya akan menjadi ibu,” tutur dia.

Kemudian, kalau memiliki seorang anak laki-laki dan lebih banyak anak perempuan di rumah, tetap saja sebagai orang tua harus bijak memilihkan mainan untuk sang anak. Meskipun saudaranya perempuan dan dia sendiri laki-laki, bermain dan berkumpul di rumah bersama.

Karena dari hal sederhana, juga termasuk sesuatu yang dapat membentuk karakter anak ke depannya nanti. Jika tidak ditangani sejak kecil, sang anak yang salah asuh dapat salah pergaulan dan menjurus ke pelaku LGBT saat remaja.

 

sumber: Republika Online

Cegah LGBT Anak, Orang Tua Harus Lakukan Pendampingan Penuh

TERSEBARNYA fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di kalangan anak-anak semakin memprihatinkan dan menyedihkan. Pada masa itu, anak-anak sebenarnya tengah mencari jati diri dan perlu mendapatkan arahan dari orang tua.

Demikian dikatakan Widianingsih, M.Pd Pengasuh Rubrik Me and The Children Islampos pada hari Selasa (26/01/2015).

“Persoalan LGBT pada anak ini memang kompleks, tapi salah satu faktor yang sangat mempengaruhinya adalah orang tua kurang memperhatikan mereka,” ujar penggagas Komunitas Sekolah Orang Tua Smart ini kepada Islampos.

Widia menilai, baik orang tua yang bekerja maupun tidak bekerja, harus memperhatikan bagaimana tahap perkembangan anaknya.

“Kita mengenal yang namanya fitrah seksualitas di mana anak-anak itu sudah mengenal gender yang seharusnya sudah dikenalkan sedini mungkin,” tuturnya.

Lebih lanjut Widia menyatakan, penyimpangan itu muncul biasanya pada saat anak sudah mengenal kasih sayang. Sebenarnya, lanjut Widia, dari usia SD, anak sudah mulai terlihat tentang penyimpangan ini.

Widia menilai apabila orang tua dekat dengan anak dan paham tentang perkembangan anak, akan lebih mudah terdeteksi sedini mungkin.

“Orang tua harus serta merta melakukan pendampingan penuh dengan memberikan arahan dan bimbingan kepada anaknya,” tambahnya.

Dalam Al Quran, Allah berfirman, anak sesungguhnya terlahir dalam keadaan fitrah tergantung orang tuanya yang menjadikan anak tersebut yahudi atau nasrani.

“Berarti dalam hal ini, tergantung bagaimana orang tua mendidik anaknya. Harusnya sejak usia dini, anak sudah dibangun mengenai pendidikan akidah dan bagaimana menerapkan nilai-nilai dalam kehidupan,” tegasnya.

Lebih lanjut Widia menjelaskan, jika anak-anak mengalami masa labil, mereka tidak diterima di rumah maka mereka akan mencari pelarian.

“Pelarian yang mereka lakukan bisa dengan teman sebaya, mendapatkan sesuatu dari internet, sinetron ataupun bacaan yang masih dapat menerima mereka,” lanjutnya.

 

Widia menambahkan, mengatasi hal ini diperlukan kerja keras, kerja cerdas, dan perlu kerja sama dari semua pihak.

“Semua komponen yang berhubungan dengan anak-anak seperti guru, orang tua dan lingkungan harus benar-benar membangun kecerdasan spiritual,” terangnya.

Semua komponen ini bisa saling menguatkan pondasi akidah, menanamkan nilai-nilai islami sejak dini kepada anak. [ry/islampos]

 

sumber: Islam Pos

Muhammadiyah: Cegah LGBT, Tanamkan Pendidikan Agama kepada Anak

Fenomena lesbian dan gay telah merambah dunia kampus. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta para orang tua agar berhati-hati dan senantiasa memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

“Ini pelajaran dan peringatan penting bagi para orang tua dan institusi keluarga agar lebih perhatian terhadap anak-anaknya,” ujar Haedar saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (26/1).

Haedar menyampaikan, orang tua berkewajiban memberikan pendidikan kepada anak agar mereka tidak salah memilih jalan hidup. Terutama, orang tua harus bisa memberikan pendidikan agama, akhlak, dan nilai-nilai hidup yang luhur terhadap anak.

Penanaman nilai agama, pengawasan yang positif, dan pola asuh terhadap anak harus ditingkatkan. Haedar mengingatkan agar orang tua selalu mendampingi anak dalam seriap pertumbuhannya. Ia mengatakan, akan tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri, apalagi di tengah gempuran media elektronik dan media sosial yang serbabebas seperti sekarang ini.

“Jangan mengurusi anak sekadar lahir dan materi belaka,” katanya menegaskan.

 

sumber: Republika Online