Tasbih Bagi Lelaki, Tepukan Tangan Bagi Perempuan

RASULULLAH Saw ketika bersabda: “Tasbih bagi para lelaki, dan tepukan tangan bagi perempuan.” (Hr. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzy dan Nasay).

Hadis mulia ini mengandung motivasi beramal dengan maksimal, dan meleburkan gerak dan diam pada Allah Taala.

Engkau telah banyak melihat dari komunitas kaum arifin, membuat isyarat mengenai kondisi rohani, dan ketika hadir dihadapan-Nya, mereka menempelkan telapak tangannya. Jangan sampai anda menyangka bahwa isyarat mereka itu termasuk bertepuk tangan. Anda salah. Namun isyarat itu adalah bentuk kesirnaan gerakannya hanya bagi Allah, dan pada gerakan lain, hanya bagi Allah, karena mereka mati bersama Allah ketika mereka masih hidup. Karena itu Allah menghidupkan mereka, ketika mereka sedang mati.

Ketahuilah bahwa Allah Swt mempunyai para hamba yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah Swt, yang merindukan maut karena rindu kepada Kekasihnya, disamping ia sudah sangat tidak suka dengan kehidupan yang lama di dunia. Tak ada keindahan bagi mereka karena belum keluar dari dunia. Mereka tergelisahkan oleh lamanya di dunia, dan rindunya untuk cepat keluar dari dunia, lebih dahsyat dibandingkan orang yang kehausan air.

Jika ajalnya tiba, malaikat maut dengan tujuh puluh ribu malaikat datang diutus Allah dengan penghormatan dan salam, sebagaimana firman Allah Taala:

“Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat yang menyambut dengan penuh kebajikan sembari mereka berkata, “Salam kepadamu, masuklah kamu sekalian ke surga, dengan amal-amal yang kamu sekalian lakukan.”

Begitu pula malaikat mendatangi orang beriman dengan aroma paling harum dan wajah paling tampan, lalu sang mukmin berkata: “Selamat datang, untuk apa kedatanganmu?”

“Untuk mengambil rohmu, dengan cara mengambil roh yang bagaimanakah yang paling kau senangi?” Tanya balik malaikat.

“Apabila aku sedang sujud,” jawabnya.

Lalu malaikat itu melakukan sesuai permintaannya, lalu kedua penjaganya datang dalam salah satu mengatakan pada yang lain: “Kita punya sahabat dan saudara, telah tiba waktunya berpisah.”

Lantas keduanya berkata bersamaan, “Semoga Allah membalas kebajikan padamu, dan mengampunimu. Engkaulah sebaik-baik saudara, dan engkau benar-benar orang beriman paling mudah, dan sebaik-baik langkah bagi dirimu.”

“Wahai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh kerelaan dan mendapatkan rida,” dengan penuh riang dan santai gembira.

Lalu rohnya bicara pada jasadnya, “Semoga Allah membalas padamu kebaikan dariku, engkau mencintai kebaikan dan orang yang berbuat baik. Dan engkau membeci keburukan dan mereka yang bebruat buruk, aku menitipkan dirimu pada Allah.”

Sosok jenazah sedang lewat bertemu Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah ra, lalu beliau berkata, “Orang yang sedang istirahat, atau sedang menjadi beban.”

“Siapa yang disebut orang yang istirahat?” beliau ditanya seseorang.

“Orang beriman bila mati istirahat dari beban dunia, dan kesengsaraan penghuninya, lalu ia berjumpa dengan rahmat Allah Taala. Sedangkan orang yang menjadi beban adalah orang yang menentang Allah Taala, dan apabila ia mati, para hamba dan negara bisa istirahat.”

Mamun as-Sulami ra, menegaskan, “Ketika Abdullah bin Muqatil ra, wafat kami turut memandikan, mengkafani, dan menguburnya. Tiba-tiba ada suara lembut dari langit, “Segala puji bagi Allah yang telah menyinambungkan pecinta dengan Kekasihnya, dengan hati rela dan mendapatkan kerelaan-Nya.”

Santri dari Abu Abdullah mengatakan, “Aku bermimpi bertemu Abu Abdullah setelah wafatnya, dimana ia sedang membakar dupa di surga. Lalu aku bertanya, “Hai Abu Abdullah, bukankah ini dilarang bagi kita?”

“Inilah perjalanan pelayan di Darussalam, di hadapan Yang Diraja Semesta..”

Dzun Nuun Al-Mishry ra, dimimpikan setelah beliau wafat, lalu ditanyakan padanya, “Bagaimana kondisimu?”

“Aku mohon pada Allah empat masalah, lalu Allah Swt memberikan dua saja, dan aku sedang menunggu yang dua itu.”

“Apa semua itu?”

“Kukatakan: Ilahi, bila Engkau mengambil ruhku jangan Engkau pasrahkan pada Malaikat maut. Bila Engkau bertanya padaku, jangan engkau serahkan pada malaikat Mungkar dan Nakir. Dan jika Engkau merendahkan aku jangan Engkau serahkan pada Malaikat Malik. Dan bila Engkau memuliakan aku janganlah Engkau serahkan pada Malaikat Ridhwan.”

Hikayat orang saleh pascamaut

Dikisahkan bahwa Dawud al-Ujly ra, ketika mati ia dibawa ke kuburnya. Tiba-tiba ia menyemburkan aroma wangi. Lalu tukang kuburnya mengambilnya sebagai minyak aroma wewangian. Sedangkan orang-orang sangat takjub melihatnya. Selama tujuh puluh hari, tetap saja bau wangi. Lalu penguasa wilayah itu berusaha mengambilnya dari orang tersebut, tiba-tiba hilang begitu saja entah kemana sirnanya.

Ammar bin IBrahim ra mengatakan, “Aku bermimpi melihat perempuan miskin setelah kematiannya. Wanita ini sangat senang dengan majlis dzikir, kusapa ia. “Selamat datang wahai wanita miskin”

“Jauh sekali wahai Ammar. Wanita miskin sudah pergi, dan datanglah si kaya raya,” jawabnya.

“Kemarilah” kataku.

“Apa yang kau minta pada orang yang diberi kewenangan surga dan segala isinya?” katanya.

“Dengan apa?” tanyaku.

“Dengan majelis-majelis zikir.”

“Lalu apa yang dianugerahkan Allah Taala pada Ali bin Zadan?”

Ia malah tertawa, dan berujar, “Allah memberinya pakaian yang sangat kharismatik, dan dikatakan padanya, “Hai qori, bacalah, dan naiklah!”.

Ibnu Abil Hiwary ra, mengatakan, “Aku bermimpi bertemu Al-Washily, seakan ia berdiri di angkasa, padahal seluruh langit penuh dengan cahayanya, lalu aku bertanya, “Apa yang diberikan Allah Taala padamu?”

“Sebaik-sebaik Tuhan adalah Tuhan kami. Dia mengampuni kami dan memuliakan kami, dan kami dijadikan sebagai keluarga-Nya.”

“Kalau begitu beri aku wasiat,” kataku.

“Hendaknya engkau tetap di majelis orang-orang yang berzikir, sebab mereka menurut kami berada di derajat yang luhur.”

Saat Muadz ra, mendekati maut, ia pingsan, lalu sadar, kemudian berkata, “Temukan aku dengan orang-orang yang telah diberi nikmat Allah Taala dari kalangan Nabi, Shiddiqin dan syuhada,” Lalu ia tersenyum dan berucap Laailaaha Illalloh Muhammadurrosulullah. Alhamdulillah.” Lalu beliau wafat.

Jafar adh-Dhobby ra mengatakan, “Aku menghadiri ziarah kubur Malik bin Dinar ra, lalu aku berkata dalam benakku, “Apa ya, yang dianugerahkan Allah pada Malik?”

Lalu kudengar suara dari atas Malik, “Malik selamat dari kehancuran, selamat dari buruknya penempuhan Jalan, dan ia telah berada di rumah kebahagiaan, bertetangga dengan Tuhan Maha Pengampun..”

“Alhamdulillah” kataku.

Ibnu Bikar mengisahkan, “Suatu hari aku sedang sholat di Mashishoh (nama sebuah kota). Ketika imam salam, seseorang tiba-tiba berdiri dan berkata, “Wahai manusia, aku adalah seorang ahli syurga, dan aku telah mati hari ini. Kalau ada yang butuh, datanglah kemari..”

Ketika kami sholat ashar, orang tersebut meninggal.

Harits bin Umar ath-Thai ra sedang sakit di Arminia. Suatu hari ia menghadap kiblat dan sholat dua rekaat, lalu ia berkata di akhir sujudnya, “Ya Allah! Aku memohon dengan NamaMu yang dengannya menjadi pengokoh agama, dan dengan NamaMu yang dengannya alam semesta mendapatkan rizki, dan dengan namaMu Engkau hidupkan tulang-tulang yang remuk. Bila ada kebaikan padaku di sisi-Mu, segerakan matiku.”

Lalu ia terdiam, dan orang-orang menggerak-gerakkannya, ternyata ia sudah mati.

Seseorang pernah melihat Malik bin Dinar ra, seakan-akan ia ada di istana di cakrawala, yang tidak bias digambarkan keindahannya. “Apa yang dianugerahkan Allah Taala padamu hai Malik?” tanya seseorang.

Ia menjawab, “Tuhanku menempatkan aku di istana ini seperti kau lihat dan Dia memperkenankan diriku untuk memandangNya manakala aku rindu padaNya, tanpa bagaimana atau tanpa padanan. Walhamdulillaahi robbil alamin.”

Ketika guruku Syeikh Manshur ra, hendak wafat, kami menangis di dekatnya. Lalu beliau siuman dari pingsannya, dan berkata: “Kematian pecinta adalah kehidupan tiada putus-putusnya.

Suatu kaum mati, namun mereka hidup di tengah manusia.”

Lalu beliau berucap, “Asyhadu al-Laailaaha Illalloh, wa-Asyhadu Anna Muhammadar-Rasulullah, Shollallaahu alaihi wa-Alihi wasallam. Lalu takdir menjemputnya dan ruhnya yang suci membubung ke hadirat Ilahi Sang Pencipta.

Semoga Allah memberkahi Al-Qutub Agung Sayyid Ahmad Rifay dan keluarga tercintanya dan seluruh muslimin. Salam semoga kepada para Rasul. Walhamdulillahi Rabbilalamin.

INILAH MOZAIK

Mana yang Didahulukan, Qada Ramadan atau Syawal?

PERTAMA, terkait dengan puasa wajib Ramadan, puasa sunah ada dua:

[1] Puasa sunah yang berkaitan dengan puasa Ramadan. Contoh puasa sunah semacam ini adalah puasa sunah Syawal. Berdasarkan hadis,

“Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun.” (HR. Ahmad 23533, Muslim 1164, Turmudzi 759, dan yang lainnya)

[2] Puasa sunah yang tidak ada kaitannya dengan puasa Ramadan. Seperti: puasa Arafah, puasa Asyura, dan lain-lain.

Kedua, untuk puasa sunah yang dikaitkan dengan puasa Ramadan, puasa sunah ini hanya boleh dikerjakan jika puasa Ramadan telah dilakukan dengan sempurna, karena hadis di atas menyatakan, “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian ,”

Sementara orang yang memiliki utang puasa Ramadan tidak dikatakan telah melaksanakan puasa Ramadan. Karena itu, orang yang memiliki utang puasa Ramadan dan ingin melaksanakan puasa Syawal harus meng-qadha utang puasa Ramadan-nya terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa Syawal.

Fatwa Imam Ibnu Utsaimin tentang wanita yang memiliki utang puasa ramadhan, sementara dia ingin puasa syawal,

Jika seorang wanita memiliki utang puasa ramadhan, maka dia tidak boleh puasa syawal kecuali setelah selesai qadha. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal”. Sementara orang yang masih memiliki utang puasa ramadhan belum disebut telah berpuasa ramadhan. Sehingga dia tidak mendapatkan pahala puasa 6 hari di bulan syawal, kecuali setelah selesai qadha. (Majmu Fatawa, 19/20).

Ketiga, untuk puasa sunah yang tidak terkait dengan puasa Ramadan, boleh dikerjakan, selama waktu pelaksanaan qadha puasa Ramadan masih panjang. Akan tetapi, jika masa pelaksanaan qadha hanya cukup untuk melaksanakan qadha puasanya dan tidak memungkinkan lagi untuk melaksanakan puasa sunah lainnya maka pada kesempatan itu dia tidak boleh melaksanakan puasa sunah.

Contoh: Ada orang yang memiliki utang enam hari puasa Ramadan, sedangkan bulan Syaban hanya tersisa enam hari. Selama enam hari ini, dia hanya boleh melaksanakan qadha Ramadhan dan tidak boleh melaksanakan puasa sunah.

Keempat, makna tekstual (tertulis) hadis di atas menunjukkan bahwa niat puasa Syawal dan niat qadha puasa Ramadan itu tidak digabungkan, karena puasa Syawal baru boleh dilaksanakan setelah puasa Ramadhan telah dilakukan secara sempurna. Bagaimana mungkin bisa digabungkan?

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Gabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Sunah Lainnya?

KITA sudah mengetahui mengenai keutamaan puasa Syawal, yaitu bagi siapa yang menunaikan puasa Ramadan diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seakan mendapatkan pahala puasa setahun penuh.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Tetapi barangkali ada yang punya kebiasaan puasa Senin Kamis atau puasa Daud. Lalu apakah diperbolehkan ia niatkan dua puasa sekaligus?

Berikut ada keterangan dari Syaikh Muhammad bin Rosyid Al Ghofili. Beliau hafizhohullah berkata,

“Ada sebagian orang yang melakukan puasa enam hari di bulan Syawal sekaligus berniat puasa senin kamis karena itulah hari kebiasaan puasanya. Yang ia harapkan adalah pahala kedua puasa tersebut. Dan ini adalah pendapat sebagian ulama yang dianggap sebagai ijtihad mereka. Namun yang jelas ijtihad ini adalah ijtihad yang keliru. Yang benar, tidak bisa diperoleh pahala puasa Syawal dan puasa senin kamis sekaligus. Karena puasa enam hari di bulan Syawal punya keutamaan tersendiri dan puasa senin kamis punya keutamaan tersendiri.

Begitu pula contoh lainnya, siapa yang menjadikan puasa enam hari di bulan Syawal satu niat dengan puasa ayyamul biid (puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 hijriyah). Penggabungan niat seperti ini adalah pendapat yang tidak benar dan tidak ada dasarnya karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam urusan agama kami yang tidak ada dasarnya, maka amalan tersebut tertolak” (Muttafaqun alaih). Ibadah itu sudah paten baik ibadah yang sunnah maupun yang wajib. Ibadah itu masuk dalam hukum syari, artinya harus ada dalil yang membenarkannya. Sehingga tidak boleh bagi seseorang beribadah kepada Allah Taala kecuali dengan dalil yang benar-benar tegas, yang tidak ada keraguan di dalamnya.”

Demikian penjelasan Syaikh Muhammad bin Rosyid dalam kitabnya Ahkam Maa Bada Shiyam, hal. 169.

Catatan:

Bedakan antara menggabungkan shalat sunnah wudhu dan shalat tahiyyatul masjid dengan shalat sunnah rawatib, ini boleh. Karena shalat sunnah wudhu dan tahiyyatul masjid bukan dimaksud zatnya, namun siapa saja yang melakukan shalat dua rakaat setelah wudhu dan shalat dua rakaat ketika masuk masjid, itulah yang dimaksudkan. Artinya ketika itu masih boleh digabungkan dengan shalat sunnah rawatib.

Adapun bahasan kita, puasa syawal itu punya maksud sendiri, puasa senin kamis punya maksud sendiri. Sehingga tidak boleh digabungkan. Namun boleh berniat puasa Syawal pada hari Senin Kamis, dan berharap dapat keutamaan puasa Senin Kamisnya pula namun tetap dengan niatan puasa Syawal.

Wallahu waliyyut taufiq. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. [rumaysho]

INILAH MOZAIK

Kisah Cucu Rasulullah Mendapatkan Kado Lebaran dari Malaikat Ridwan

Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran,  sedangkan hari raya sebentar lagi datang.

Mereka bertanya kepada ibunya : “Wahai ummah, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”

Sayyidah Fathimah as menjawab: “Sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit”.

Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yang sama.

Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu.

Ketika malam tiba, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya: “Siapa?”

Orang itu menjawab: “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu.”

Maka Beliau pun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah,

lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, dan ternyata di dalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban, serta 2 pasang sepatu hitam yang semuanya sangat indah.

Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya dan memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.

Rasulullah Saw datang dan melihat kedua cucunya sudah dihiasi dengan semua hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut.

Kemudian Rasulullah Saw menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Rasulullah Saw bertanya kepada Sayyidah Fathimah : “Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”

Sayyidah Fathimah menjawab: “Iya, aku melihatnya …”.

Lalu Rasulullah Saw bersabda : “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga”

Para penghuni langit dan bumi bersedih jika kedua cucu Rasululullah Saw bersedih, malaikat pun bersedih….

 

ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَلِّ ﻋَلى ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪٍ ﻭَ ﻋَلى ﺁﻝِ ﺳَﻴّﺪِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ وَعَلى آله

 

“ Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad ﷺ ”

Ya Rabb jadikanlah kami sebagai orang-oran yang mencintai para cucu Nabi Saw serta jadikanlah kami sebagai pembantu perjuangan para cucu Nabi Saw serta kumpulkanlah kami bersama para cucu Nabi Saw kelak di akhirat.

BANGKIT MEDIA

Yuk, Nikah di Bulan Syawal!

SETELAH bulan suci Ramadan ada bulan Syawal, di mana masyarakat sudah mengenal sunah puasa 6 hari di bulan Syawal. Akan tetapi ada juga sunah lainnya di bulan Syawal yaitu anjuran menikah di bulan Syawal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunah ini.

Dalil sunnah menikah di bulan Syawal, Aisyah radiallahu anha istri Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR Muslim).

Sebab Nabi Shalallahu alaihi Wassalam menikahi Aisyah di bulan Syawwal adalah untuk menepis anggapan bahwa menikah di bulan Syawal adalah kesialan dan tidak membawa berkah. Ini adalah keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah. Ini tidak benar, karena yang menentukan beruntung atau rugi hanya Allah Taala.

Bulan Syawal dianggap bulan sial menikah karena anggapan di bulan Syawal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha). Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para walipun enggan menikahkan putri mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ied (bulan Syawwal termasuk di antara ied fitri dan idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 3/253).

Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafiiyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini.

Dan Aisyah Radiyallahu anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawal.

Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang ber-tathayyur (menganggap sial) hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-rafu (menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka)” (Syarh Shahih Muslim 9/209).

Demikian, semoga bermanfaat. [dr. Raehanul Bahraen]

 

INILAH MOZAIK

Bulan Syawal, Bulan Pembuktian Takwa, Apa Artinya?

TERDAPAT banyak kemuliaan dan keistimewaan bulan Syawal, yakni:

5. Bulan Nikah

Syawal adalah bulan yang baik untuk menikah. Hal ini sekaligus mendobrak khurafat, yakni pemikiran dan tradisi jahiliyah yang tidak mau melakukan pernikahan pada bulan Syawal karena takut terjadi malapetaka. Budaya jahiliyah itu muncul disebabkan pada suatu tahun, tepatnya bulan Syawal, Allah Ta’ala menurunkan wabah penyakit, sehingga banyak orang mati termasuk beberapa pasangan pengantin.

Maka sejak itulah kaum jahiliah tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal. Khurafat itu didobrak oleh Islam. Rasulullah menunjukkan sendiri bahwa bulan Syawal baik untuk menikah. Siti Aisyah menegaskan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi saya pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari istri beliau yang lebih beruntung daripada saya?”.

Selain dengan Siti Aisyah, Rasulullah juga menikahi Ummu Salamah pada bulan Syawal. Menurut Imam An-Nawawi, hadis tersebut berisi anjuran menikah pada bulan Syawal. Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik.

6. Bulan peningkatan

Inilah keistimewaan bulan Syawal yang paling utama. Syawal adalah bulan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Kata Syawal, secara harfiyah, artinya “peningkatan”, yakni peningkatan ibadah sebagai hasil latihan selama bulan Ramadan. Umat Islam diharapkan mampu meningkatkan amal kebaikannya pada bulan ini, bukannya malah menurun atau kembali ke “watak” semula yang jauh dari Islam. Naudzubillah.

7. Bulan pembuktian takwa

Inilah makna terpenting bulan Syawal. Setelah Ramadan berlalu, pada bulan Syawal merupakan bulan pembuktian berhasil atau tidaknya ibadah Ramadan, terutama ibadah puasa, yang bertujuan meraih derajat takwa.

Jika tujuan itu tercapai, sudah tentu seorang muslim akan menjadi lebih baik kehidupannya, lebih saleh perbuatannya, lebih dermawan, lebih bermanfaat bagi sesama, lebih khusyu ibadahnya, dan seterusnya. Paling tidak, semangat beribadah dan dakwah tidak menurun setelah Ramadan. Wallahu alam. [abatasa]

 

INILAH MOZAIK

Bulan Syawal, Bulan Silaturahmi

TERDAPAT banyak kemuliaan dan keistimewaan bulan Syawal, yakni:

1. Bulan Kembali ke Fitrah

Syawal adalah bulan kembalinya umat Islam kepada fitrahnya, diampuni semua dosanya, setelah melakukan ibadah Ramadan selama sebulan penuh. Paling tidak, tanggal 1 Syawal umat Islam “kembali makan pagi” dan diharamkan berpuasa pada hari itu.

Tibanya bulan Syawal membawa kemenangan bagi mereka yang berhasil menjalani ibadah puasa sepanjang Ramadan. la merupakan lambang kemenangan umat Islam hasil dari peperangan menentang musuh dalam jiwa yang terbesar, yaitu hawa nafsu.

2. Bulan Takbir

Tanggal 1 Syawal adalah Hari Raya Idul Fitri, seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia mengumandangkan takbir. Maka, bulan Syawal pun merupakan bulan dikumandangkannya takbir oleh seluruh umat Islam secara serentak, paling tidak selama satu malam, yakni begitu malam memasuki tanggal 1 Syawal alias malam takbiran hingga menjelang salat Idul Fitri.

Kumandang takbir merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan dalam melaksanakan ibadah Ramadan selama sebulan penuh. Kemenangan yang diraih itu tidak akan tercapai, kecuali dengan pertolongan-Nya. Maka umat Islam pun memperbanyakkan dzikir, takbir, tahmid, dan tasbih.

“Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah la memberi petunjuk kepada kamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan” (QS al-Baqarah: 185).

3. Bulan Silaturahmi

Dibandingkan bulan-bulan lainnya, pada bulan inilah umat Islam sangat banyak melakukan amaliah silaturahmi, mulai mudik ke kampung halaman, saling bermaafan dengan teman atau tetangga, halal bi halal. Betapa Syawal pun menjadi bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah karena umat Islam menguatkan tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah.

4. Puasa Satu Tahun

Amaliah yang ditentukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Syawal adalah puasa sunah selama enam hari, sebagai kelanjutan puasa Ramadan.

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Dalam hadis yang lain disebutkan “Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun.” (HR An-Nasai dan Ibnu Majah). [bersambung]

 

INILAH MOZAIK

Kisah-kisah Khusnul Khotimah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

[1] Wudhu Terakhir

Dari Ummu Hisyam at-Thaiyah

رأيت عبد الله بن بسر يتوضأ، فبينما هو يتوضأ خرجت نفسه

Aku melihat Abdullah bin Busr berwudhu. Di tengah beliau wudhu, ruhnya keluar (meninggal). (Tarikh Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, 1/255)

[2] Meninggal ketika membaca al-Quran

Ketika Misrah bin Muslim mendekati kematian, beliau mulai membuka al-Quran, dan tepat di surat Thaha. Hingga ketika sampai di firman Allah,

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

“Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).”

Lalu beliau meninggal dunia. (Tartib al-Madarik, al-Qadhi Iyadh, 6/217)

[3] Dari Abul Husain bin Fadhl al-Qatthan, beliau bercerita,

Saya menemui Abu Bakr an-Naqqasy – ketika itu bertepatan hari selasa tanggal 3 Syawal tahun 351 H. Abu Bakr sangat memperhatikan untuk beramal baik. Beliau bergumam sesuatu, saya tidak tahu apa yang beliau baca. Tiba-tiba beliau membaca ayat ini dengan keras,

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61)

Beliau baca sebanyak 3 kali, lalu beliau meninggal.. (Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 2/607).

[4] Dari Abu Bakr bin Ziyad

Saya ikut menyaksikan proses kematian Ibrahim bin Hani’. Ketika itu beliau puasa, lalu berkata kepada anaknya,

“Aku haus sekali.”

Datanglah putranya dengan membawa air.

Lalu Ibrahim bertanya, “Apakah matahari sudah tenggelam?”

“Belum.” Jawab anaknya.

Beliaupun menolak untuk minum air itu. Lalu beliau membaca,

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

“Yang kemenangan seperti inilah seharusnya dijadikan tujuan orang-orang yang beramal.” (QS. as-Shaffat: 61)

Kemudian beliau meninggal.. rahimahullah..

(Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi, 7/163).

[5] Dikisahkan bahwa Abdullah bin Ibrahim al-Khabari meninggal ketika menulis mushaf.

Beliau sedang duduk menulis mushaf. Lalu beliau letakkan pena dari tangannya, dan bersandar. Lalu beliau mengatakan,

واللّه هذا موت طيّب هيّن

“Demi Allah, ini kematian yang baik, mudah..”

Lalu beliau meninggal. (Thabaqat as-Syafi’iyah, al-Husaini, hlm. 173).

[6] Kisah wafatnya Ismail an-Naisaburi

Menjelang wafat, ibunya bertanya kepadanya.

‘Apa yang terjadi denganmu?’

Ismail tidak bisa bicara. Lalu beliau tuliskan di tangan ibunya,

رَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ

“Ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan..”

Kemudian beliau meninggal. (Siyar A’lam an-Nubala’, 20/161).

[7] Wafatnya Abu Zur’ah ar-Razi – ulama ahli hadis –

Abu Ja’far, Muhammad bin Ali bercerita,

Kami hadir ketika peristiwa wafatnya Abu Zur’ah. Ketika beliau sakit parah, ada banyak ahli hadis yang menjenguk. Ada Abu Hatim, Ibnu Warah, al-Mundzir bin Syadzan, dan para ulama hadis lainnya.

Merekapun saling mengingatkan untuk mentalqin Abu Zur’ah. Namun mereka semua segan dengan Abu Zur’ah.

“Coba kita bacakan hadis.” Usulan salah satu diantara mereka.

Ibnu Warah, “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…”

Abu Hatim, “Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far telah menceritakan kepada kami…”

Sementara yang lain terdiam.

Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka matanya dalam kondisi mendekati kematian, sambil menyebut hadis,

حدثنا بندار، حدثنا أبو عاصم، حدثنا عبد الحميد، عن صالح بن أبي عريب، عن كثير بن مرة، عن معاذ بن جبل، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من كان آخر كلامه: لا إله إلا الله، دخل الجنة)

“Telah menceritakan kepada kami Imam Bundar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, bahwa Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami, dari Soleh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang kalimat terakhirnya, ‘Laa ilaaha illallah’ maka dia akan masuk surga.”

Lalu beliau meninggal. Rahimahullah…

Kematian itu pasti dan hanya sekali…

Ya Rab.. jadikan kematian kami adalah kematian yang baik.. anugerahkanlah untuk kami husnul khatimah..

Amiin…

Dinukil dari WA grup Syaikh al-Walid Saifun Nashr dan diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Read more https://konsultasisyariah.com/31896-kisah-kisah-khusnul-khotimah.html

Telat Bayar SPP Sekolah

Apa hukumnya jika wali murid telat bayar SPP sekolah? Apakah wali murid berdosa? Ini banyak terjadi d kota kami..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ketika seorang wali murid memasukkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan, dan dia diwajibkan untuk membayar, maka status akadnya adalah ijarah (transaksi jasa). Dimana lembaga pendidikan berstatus sebagai penyedia jasa belajar, sementara wali murid sebagai klien yang berhak mendapat layanan jasa pembelajaran dengan membayar senilai tertentu.

Karena itulah, aturan yang berlaku dalam akad ini, dikembalikan kepada kesepakatan semua pihak. Seperti berapa nilai uang gedung (biaya sewa gedung), nilai SPP, waktu pembayarannya, atau lainnya. Termasuk rincian layanan yang diberikan, seperti berapa hari masuk sekolah, fasilitas apa saja yang diberikan, dst.

Ini semua kembali kepada kesepakatan, yang selanjutnya mengikat kedua pihak.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

“Setiap muslim harus memenuhi kesepatan mereka.” (HR. Abu Daud 3594 dan dihasankan al-Albani).

Bagaimana jika telat bayar SPP?

Jika telah disepakati SPP dibayar setiap awal bulan, maka telat bayar SPP berarti menyalahi kesepakatan. Bagi yang melakukannya karena ada kesengajaan, jelas ini pelanggaran.

Idealnya SPP dibayar sebelum jatuh tempo. Agar kita bisa mengamalkan hadis berikut,

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ، قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Berikan upah kepada karyawan sebelum dia kering keringatnya. (HR. Ibnu Majah 2443 dan dishahihkan al-Albani)

Hati-hati dengan Kedzaliman

Yang sangat disayangkan, terkadang ada diantara wali murid yang nunggak bayar SPP sampai berbulan-bulan. Bagi wali murid yang belum bayar SPP beberapa bulan, sejatinya dia berutang kepada sekolah. Dan orang mampu yang sengaja menunda pembayaran utang, termasuk pelaku kedzaliman.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Menunda pelunasan utang yang dilakukan orang yang mampu adalah kedzaliman. (HR. Bukhari 2287, Ahmad 5395 dan yang lainnya).

Kedepankan prinsip nasehat, memberikan sikap yang terbaik kepada orang lain, sebagaimana kita ingin disikapi yang sama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Kalian tidak akan beriman, sampai kalian mencintai sikap untuk saudara kalian sesama mukmin, sebagimana dia suka jika itu diberikan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari 13 & Muslim 45)

Hadis ini mengajarkan prinsip sederhana yang luar biasa. Jika anda ingin disikapi baik oleh orang lain, maka sikapilah orang lain dengan sikap yang sama. Jika anda tidak ingin disikapi buruk oleh orang lain, maka jangan sikapi orang lain dengan sikap yang sama.

Karena itu, cara yang paling mudah untuk bisa melakukan nasehat ketika berinteraksi dengan sesama adalah bayangkan bahwa anda menjadi lawan interaksi anda. Jika anda seorang penjual, bayangkan anda menjadi pembeli, atau sebaliknya. Sikap seperti apa yang anda harapkan dari lawan transaksi anda, berikan sikap itu kepadanya.

Ketika anda di posisi sebagai wali murid, bayangkan anda sebagai guru atau pihak sekolah. Karena anda karyawan, anda berharap, upah anda dibayar penuh dan tepat waktu. Berikan sikap ini kepada sekolah, bayar SPP secara penuh dan tepat waktu.

Waspada Sikap Tathfif

Terkait hak dan kewajiban dalam berinteraksi dengan orang lain, terkadang ada model manusia yang hanya semangat dalam menuntut hak, tapi malas dalam menunaikan kewajiban. Perbuatan ini diistilahkan dengan tathfif, orangnya disebut muthaffif.

Model manusia semacam ini telah Allah singgung dalam Alquran, melalui firman-Nya:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Celakalah para muthaffif. Merekalah orang yang ketika membeli barang yang ditakar, mereka minta dipenuhi. tapi apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin: 1 – 3).

Cerita ayat tidak sampai di sini. Setelah Allah menyebutkan sifat mereka, selanjutnya Allah memberi ancaman keras kepada mereka. Allah ingatkan bahwa mereka akan dibangkitkan di hari kiamat, dan dilakukan pembalasan setiap kezaliman.

Para ulama ahli tafsir menegaskan bahwa makna ayat ini bersifat muta’adi. Artinya, hukum yang berlaku di ayat ini tidak hanya terbatas untuk kasus jual beli. Tapi mencakup umum, untuk semua kasus yang melibatkan hak dan kewajiban. Setiap orang yang hanya bersemangat dalam menuntut hak, namun melalaikan kewajibannya, maka dia terkena ancaman tathfif di ayat ini. (Simak Tafsir As-Sa’di, hal. 915).

Seorang wali murid yang hanya bisa menuntut kewajiban pihak sekolah, sementara malas dalam memberikan hak mereka, maka dia terkena ancaman tathfif. Sebaliknya, pihak sekolah yang hanya semangat menuntut haknya, sementara malas dalam menunaikan kewajibannya, juga terancam dengan ayat ini.

Memang ketika kita berinteraksi kita saling mengawasi. Namun yang lebih penting kita awasi adalah diri kita sendiri, jangan sampai melakukan kedzaliman atau pelanggaran hak orang lain.

Bisa Menjadi Musuh Allah di Hari Kiamat

Jika sampai ada keinginan tidak bayar, dan langsung keluar dari sekolah, sementara pihak sekolah telah memberikan layanan pembelajaran sesuai yang dijanjikan, maka pihak wali murid bisa jadi masuk dalam ancaman dalam hadis berikut,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: … وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُوَفِّهِ أَجْرَهُ “

Allah berfirman, “Tiga orang, Aku akan menjadi musuhnya pada hari kiamat, … (diantaranya) Orang yang mempekerjakan orang lain, namun setelah orang tersebut bekerja dengan baik upahnya tidak dibayarkan” (HR. Bukhari 2227).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/31867-telat-bayar-spp-sekolah.html

Penggalian Khandaq dan Spirit Ramadhan

RAMADHAN selalu  menjadi spirit para pejuang. Dalam sirah nabawiyah dikisahkan bahwa sebelum Pertempuran Khndaq atau Perang Ahzab meletus (tahun 5 Hijriah di bulan Syawal), Nabi dan para sahabat menyiapkannya dengan sangat baik pada bulan Ramadhan. Sayyid bin Husain al-‘Affani dalam buku Nidâ`u al-Rayyân fî Fiqhi al-Shaum wa Fadhli Ramadhân (1417: 314) menukil pendapat Ibnu Qayyim mengenai persiapan monumental sebelum terjadinya perang dahsyat ini.

Penggalian parit (persiapan pra Ahzab) –yang diinisiasi oleh Salman Al-Farisi- di depan gunung Sala’, menurut Ibnu Qayyim, menghabiskan waktu sebulan penuh. Sedangkan menurut Dr. Ragib As-Sirjani malah hanya dua minggu. Panjang parit mencapai lima ribu hasta. Sedangkan kedalamannya mencapai tujuh hasta dan lebarnya sekitar tujuh hasta juga. Dengan pertolongan Allah, perjuangan gigih dan mental yang tak pernah putus asa mereka sanggup melampau tantangan ini dan ini terjadi di bulan Ramadhan.

Dr. Syauqi Abu Khalil dalam buku Athlas al-Târikh al-‘Arabi al-Islâmi (2005: 33) memberikan gambaran secara rinci mengenai kondisi parit. Menurut hitungan beliau, panjanga parit: 5544 Meter. Lebar standarnya: 4, 62 Meter. Sedangkan kedalamannya: 3,234 Meter.

Di samping itu, medan parit yang digali tidak semuanya mudah. Ada juga yang berisi batu-batu yang sulit untuk digali. Umat Islam berjumlah 3000 banding 10.000 orang. Dalam kondisi tidak berpuasa saja, tiga ribu orang mengerjakan proyek besar ini begitu berat, apalagi jika pada momentum puasa?

Pada akhirnya, Perang Khandaq yang meletus pada 5 Hijriah di bulan Syawal antara tiga ribu pasukan muslim melawan sepuluh ribu pasukan koalisi Yahudi-Kafir Qurays dimenangkan oleh umat Islam. Namun, kalau mau menelaah kembali sejarah, yang menjadi catatan menarik justru bagaimana persiapan mereka dalam menggali parit di bulan Ramadhan. Kemenangan gemilang yang dianugerahkan Allah kepada mereka –setelah rahmat-Nya- tidak bisa dilepas dari persiapan begitu matang dan mengharukan ini yang lahir dari spirit Ramadhan.

 

Bayangkan! Dalam momen bulan Ramadhan, musim dingin, kondisi pangan lagi susah, diembargo secara ekonomi, jumlah pasukan ala kadarnya (3000 orang), harus menghadapi koalisi adikuasa Yahudi-Kafir Qurays.

Bagi yang lemah iman, hati berpenyakit seperti orang-orang munafik mungkin persiapan ini dianggap gila. Komentar mereka digambarkan secara gamblang dalam al-Qur`an, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 12). Sedangkan orang beriman dengan lantang dan yakin menyatakan, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. (QS. Al-Ahzab [33]: 22). Justru tantangan ini menambah keimanan dan ketundukan mereka.

Persiapan mereka ketika menggali Khandaq sungguh mengharukan. Mereka begitu kompak mematuhi perintah Rasul. Setiap empat puluh hasta dibagi 10 orang untuk menggalinya. Dalam momen ini tak jarang di antara mereka yang kelaparan hingga menahan perutnya dengan satu batu. Rupanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sendiri tak kalah susah. Dua batu ditindih diperutnya untuk menahan lapar. Hebatnya, beliau juga turun langsung menggali, karena pemimpin harus menjadi teladan terdepan dalam perjuangan.

 

Pertanyaannya, apakah mereka kalut dan sedih dalam kondisi demikian? Sama sekali tidak. Meski alat yang digunakan untuk menggali begitu ala kadarnya dan tentu saja kalah canggi dibanding dengan alat sekarang, tidak menghalangi mereka untuk tetap manggali. Mereka sangat kompak, solidaritasnya tinggi, taat kepada pimpinan, tidak keluar tanpa izin. Sesekali, mereka bersama Rasul menyenandungkan syair untuk memperkuat spirit. Misalnya kalangan Anshar bersenandung:

نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا … عَلَى الجِهَادِ مَا حَيِينَا أَبَدَا

Kami adalah orang-orang yang membaiat Muhammad

          Selama kami masih hidup untuk berjihad

Kemudian oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dibalas:

          «اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الآخِرَهْ … فَأَكْرِمِ الأَنْصَارَ وَالمُهَاجِرَهْ»

Ya Allah tiada kehidupan selain akhirah

          Maka muliakanlah Anshar dan Muhajirah (HR. Bukhari)

 

Bahkan, dalam momen yang sangat mencekam ini, Rasulullah memberi kabar gembira, bahwa kelak Syam (basis Romawi Timur), Persia dan Yaman akan dikuasai orang-orang Islam (HR. Ahmad). Optimisme selalu ditanamkan nabi dalam momen seperti ini. Sehingga mereka tetap semangat, meski kondisi begitu susah sangat.

Dengan demikian maka tidak salah jika momentum Ramadhan selalu melahirkan spirit baru bagi para pejuang yang senantiasa semangat dalam gelanggang perjuangan. Tidak mengherankan jika orang yang memiliki karakter dan ketangguhan jiwa seperti ini, atas izin Allah, akan mendapatkan kemenangan gemilang.*/Mahmud Budi Setiawan

HIDAYATULLAH