Inilah Ciri-ciri Hadis Palsu ( Bag 1)

Maudhu’  atau palsu berasal dari kata ata wadha’a – yadha’u – wadh’an wa maudhu’an yang berarti merendahkan, menjatuhkan, mengada-ngada,  menyandarkan atau menempelkan, serta menghinakan. Maka, hadis maudhu’  itu memiliki makna, rendah dalam kedudukannya, jatuh  tidak bisa diambil dasar hukum, diada-adakan oleh perawinya, serta disandarkan pada Nabi SAW, sedangkan beliau tidak mengatakannya.

Para ulama hadis mendefinisikan hadis palsu  sebagai apa-apa yang tidak pernah keluar dari Nabi SAW baik dalam bentuk perkataan, perbuatan ataupun taqrir, tetapi disandarkan kepada Rasulullah SAW secara sengaja. Menurut Ensiklopedi Islam, hadis maudu’  memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Pertama, matan (teks) hadis tak sesuai dengan kefasihan bahasa, kebaikan, kelayakan, dan kesopanan bahasa Nabi SAW. Kedua, bertentangan dengan Alquran, akal, dan kenyataan. Ketiga, rawinya dikenal sebagai pendusta, Keempat, pengakuan sendiri dari pembuat hadis palsu tersebut. Kelima ada petunjuk bahwa di antara perawinya ada yang berdusta. Keenam, rawi menyangkal dirinya pernah memberi riwayat kepada orang yang membuat hadis palsu tersebut.

Menurut ahli Ilmu Hadis, Prof KH Mustafa Ali Ya’kub, sebuah hadis dikatakan palsu apabila, dalam sanad-nya terdapat rawi (periwayat), yang dengan terus terang dia mengaku memalsu hadis. ‘’Maka hadisnya menjadi palsu,’’ tutur guru besar Ilmu Hadis pada Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta itu.

Selain itu, kata dia, jika perawinya pun berdusta, tapi tidak diketahui ketika menyampaikan hadisnya apakah palsu atau tidakm, namun jelas dia pembohong. Maka, menjadi hadis makruh  atau semipalsu. ‘’Kedudukan dan kualitasnya sama, yakni harus dibuang.’’

Hadis palsu dibagi menjadi tiga macam. Pertama, perkataan itu berasal dari pemalsu yang disandarkan pada Rasulullah SAW. Kedua, perkataan itu dari ahli hikmah atau orang zuhud atau israiliyyat dan pemalsu yang menjadikannya hadis. Ketiga, perkataan yang tidak diinginkan rawi pemalsuannya, cuma dia keliru. Menurut para ahli hadis, jenis ketiga itupun termasuk hadis maudhu, apabila perawi mengetahuinya tapi membiarkannya.

Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadis (2)

Guru Besar Ilmu Alquran dan Hadis Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dan Uni
versitas Ummul Quro Makkah, Arab Saudi, Prof Dr Muhammad Ibn Muhammad Abu syahbah mengungkapkan, salah satu yang menyedihkan dari perilaku Ibn Saba’ adalah dia mendapatkan pengikut-pengikut yang patuh dari sebagian umat, terutama penduduk Mesir.

Si Yahudi yang penuh tipu daya ini berhasil membangkitkan huru-hara yang berakibat kepada khalifah ketiga, Utsman bin Affan terpenggal dari tubuhnya. Sayyidina Ali tidak memangku khilafah kecuali mendapatkan warisan yang dipenuhi dengan pertikaian.

Menurut Prof Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah dalam bukunya Israiliyyat & Hadits-hadits Palu Tafsir Alquran, sejak hari pertama penobatan khalifah Ali bin Abi Thalib, para pendukung Utsman bin Affan telah mengumumkan permusuhan terhadapnya.

”Huru-hara pun bergolak dan terjadilan berbagai perang sengit dan banyak di antara orang-orang terbaik dari kaum Muslimin yang gugur dalam peperangan tersebut,” ungkap Prof Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah.

Akibat dari itu, sambung Prof Muhammad, lalu muncullah kelompok lain, Khawarij yang tidak ridha menerima dasar hukum antara Ali dan Muawiyah. ”Akhirnya, huru-hara menghancurkan sendi lain di antara sendi-sendi Islam, yaitu wafatnya khalifah keempat,” jelasnya.

Menurut Prof Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, umat Islam terpecah belah menjadi beberapa sekte dan golongan. Penyakit umat-umat terdahulu pun mulai kembali menjangkit.

”Huru-hara bersumber dari beberapa golongan, seperti Syiah yang membela Sayyidina Ali, Utsmaniyah yang membela Sayydina Utsman, Khawarij yang memusuhi Syiah dan lainnya, serta Marwaniah yang membela Muawiyah dan Bani Umayyah.”

Sebagian mereka, kata Prof Muhammad, membolehkan diri untuk mendukung hawa nafsu dan mazhab mereka dengan hal-hal yang dapat menguatkan golongan mereka. Dan, itu tidak lain ada dalam hadis dengan berbagai jenisnya yang memuat hukum-hukum, tafsir, sejarah, dan lainnya.

 

 

sumber: Republika Online

Sejarah Munculnya Pemalsuan Hadis (1)

Prof Dr Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, Guru Besar Ilmu Alquran dan Hadis Universitas Al Azhari Kairo, Mesir, dan Universitas Ummul Quro Makkah, Arab Saudi dalam bukunya berjudul Israiliyyat & Hadits-Hadits Palsu, Tafsir Alquranmenjelaskan, salah satu akibat dari meluasnya wilayah Islam adalah banyaknya generasi umat yang terkalahkan dalam Islam.

Prof Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah kemudian mencontohkan negara-negara yang terkalahkan, seperti Persia, Romawi, dan Mesir. ”Di antara mereka ada yang tulus menerima Islam. Ada orang munafik yang sengaja menyembunyikan dalam dirinya kebencian terhadap Islam dan berpura-pura mencintainya,” ungkap Prof Muhammad ibn Muhammad.

Selain itu, sambung Prof Muhammad, ada pula orang Zindik yang berusaha dengan berbagai cara untuk menghancurkan Islam dan menimbulkan keraguan pada diri manusia terhadapnya. ”Ada juga orang Yahudi yang masih terikat dengan ke-Yahudiannya serta ada pula orang Nasrani yang masih merindukan ke-Nasraniannya.”

Para musuh Islam, seperti orang-orang munafik, zindik dan Yahudi, jelas Prof Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, telah memanfaatkan toleransi dan kehalusan budi yang dimiliki Sayyidina Utsman bin Affan ra, yang sangat pemalu, dan akibatnya benih-benih bencana pun tersebar.

”Ibn Saba’, si Yahudi yang tercela, berkeliling ke berbagai negeri dan mengumpulkan manusia di sekitarnya. Dia menyembunyikan racun-racun yang dia tiupkan di bawah tabir ajaran Syiah serta kecintaan kepada Sayydina Ali dan Ahli Bait yang mulia. Dia mengklaim, Ali ra adalah penerima wasiat Nabi SAW dan orang yang paling berhak untuk memangku kekhalifahan, bahkan jika dibandingkan dengan Abu Bakar dan Umar ra sekalipun,” ungkap Prof Muhammad.

Menurut Prof Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, Ibn Saba’ memalsukan sebuah hadits atas Nabi Muhammad SAW yang artinya, ”Setiap Nabi memiliki penerima wasiat, dan penerima wasiatku adalah Ali.” Bahkan, jelas Prof Muhammad, permasalahan tidak berhenti pada klaim ini saja, tapi dia juga mengklaim ketuhanan Ali.

Sayyidina Utsman memburu Ibn Saba’. Sehingga dia pun kabur. Pada masa Sayyidina Ali, beliau juga memburu dan menghalalkan darah Ibn Saba’. Tidaklah pantas bagi Ali untuk menerima seruan keji yang diteriakkan oleh orang yang sangat membenci dan mendendam kepada Islam dan kaum Muslimin.

 

sumber: Republika Online

Soal Syiah, Habib Zein: Minyak tidak Bisa Disatukan dengan Air

Semakin gencarnya kemunculan ajaran Syiah di Indonesia, semakin meningkatkan kewaspadaan umat Islam. Perbedaan keyakinan menjadi penegas jika Syiah berbeda dengan Islam.

Ketua Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti-Syiah, Habib Zein Al-Kaff, mengungkapkan rukun Islam dan rukun Iman yang merupakan dasar dari Islam sangatlah berbeda dengan apa yang diyakini sebagai rukun oleh Syiah.

Hal itu dikatakan menjadi perbedaan mendasar, yang langsung bisa menegaskan ajaran-ajaran yang dimiliki Syiah tidak dapat disatukan, apalagi disamakan dengan Islam.

“Tidak akan bersatu, minyak tidak bisa disatukan dengan air,” ungkap Habib Zein ketika mengunjungi Kantor Republika, Senin (9/11).

Menanggapi taqrib yang banyak didengungkan untuk menyatukan ajaran Sunni dan Syiah, Habib Zein menyatakan itu sebagai proyek yang dicanangkan para pemuka Syiah, termasuk di Indonesia.

Menurutnya, langkah itu dilakukan lantaran para pemuka Syiah menyadari posisi mereka sebagai minoritas dan menggunakan taqribsebagai cara mematahkan fakta minoritas tersebut.

Padahal, lanjut Habib Zein, acara-acara Ahlussunnah wal Jamaah sering kali dilarang di sejumlah daerah yang pelarangan itu didengungkan para pemuka dari kelompok-kelompok Syiah.

Taqrib juga diyakini sebagai kesadaran dari pemuka-pemuka Syiah di Iran yang merasa gagal menyebarkan alirannya di Indonesia yang akhirnya berusaha masuk melaluitaqrib.

Habib Zein mengungkapkan, ulama-ulama Islam dunia sendiri secara terbuka sudah menyatakan Syiah merupakan ajaran sendiri dan sama sekali tidak dapat disamakan dengan Islam.

Dengan perbedaan keyakinan tersebut, pengkafiran dikatakan terjadi di antara keduanya, baik umat Islam kepada ajaran Syiah maupun oleh Syiah kepada umat Islam yang semakin memperjelas perbedaan.

 

sumber: Republika Online