ISIS dan Apalah Arti Sebuah Nama…

Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

‘’Apalah arti sebuah nama?,’’ kata sastrawan Inggris William Shakespeare. ‘‘Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.’’

Namun, bagi Abu Bakar al Baghdadi, nama adalah sangat penting. Ia seperti merek dagang sebuah produk. Ia adalah alat untuk propaganda atau promosi (ad di’ayah). Karena itu, dua tahun lalu, atau tepatnya pada April 2013,  ia pun merasa perlu mengubah nama kelompoknya menjadiad Daulah al Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah. Ia juga mendeklarasikan dirinya sebagai Sang Khalifah dengan sebutan Amirul Mukminin.

Pers Barat pun ramai-ramai menggunakan nama Islamic State of Iraq and Syria sebagai terjemahan dari nama kelompok teroris al Baghdadi itu, yang kemudian dipendekkan (disingkat) menjadi ISIS. Penggunaan nama ini kemudian diikuti oleh media masa di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Penggunaan nama Negara Islam di Irak dan Suriah oleh media di berbagai negara tentu sesuai dengan keinginan Abu Bakar al Baghdadi. Mereka ingin memanfaatkan media, terutama media sosial, sebagai alat propaganda. Dengan nama itu, mereka seolah-olah merupakan pembela Islam terdepan di seluruh dunia untuk melawan orang-orang kafir, melawan hegemoni Barat, membela Arab Suni melawan Syiah, membela bangsa Arab melawan penguasa lalim, dan seterusnya. Namun, seiring jalannya waktu yang terjadi justru sebaliknya.

Faktanya, yang mereka lawan atau dianggap musuh bukan hanya orang-orang yang dicap sebagai kafir, non-Muslim, dan kelompok Syiah. Banyak orang-orang Islam, bahkan dari kelompok Suni sekalipun, yang mereka perangi dan mereka bunuh. Sejumlah bom bunuh diri yang mereka lakukan di Libia, Tunisia, Mesir, Gaza, dan terakhir di Turki, yang menjadi korban kebanyakan adalah orang-orang Islam Suni.

Karena itulah berbagai media Arab sejak awal menolak menggunakan nama ad Daulah al Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah, Islamic State of Iraq and Syria, atau bahkan ISIS. Menurut mantan Presiden Direktur Stasiun Televisi ‘Al ‘Arabiyah’, Abdurrahman al Rasyid, sejak awal media-media Arab telah menggunakan nama Da’isy untuk menyebut kelompok al Baghdadi, termasuk televisi yang ia pimpin itu.

Da’isy merupakan huruf awal atau singkatan dari ad Daulah al Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah. Namun, karena dalam bahasa Arab tidak dikenal yang namanya singkatan, media Barat pada awalnya menganggap nama itu sebagai ejekan untuk kelompok Abu Bakar al Baghdadi itu, sehingga mereka tidak ikut memakainya.

Al Baghdadi sendiri, menurut stasiun televisi ‘Al ‘Arabiyah’, menolak penggunaan nama Da’isy. ‘’Ia (al Baghdadi) menganggap nama itu sebagai penghinaan, karena tidak ada singkatan dalam bahasa Arab,’’ kata al Rasyid yang juga mantan pemimpin redaksi media al Sharq al Awsat. Saking marahnya al Baghdadi dengan sebutan nama itu, ia pun pernah memerintahkan mencambuk seorang anak yang menyebut negaranya dengan Da’isy.

Dalam sejarah kelompok garis keras, persoalan mengenai nama bukanlah baru sekarang ini terjadi. Sebelum 14 abad lalu, umat Islam juga sudah dipusingkan dengan kelompok seperti ISIS sekarang ini. Yaitu ketika muncul sebuah kelompok yang mengafirkan umat Islam lainnya dan tidak mengakui negara yang sah. Mereka menamakan diri sebagai Jama’atul Mukminin. Namun, umat Islam menyebut mereka sebagai al khawarij, yaitu kelompok radikal yang keluar dari mainstream Islam.

Kini sejarah terulang kembali. Sekarang ini kita dihadapkan pada persoalan ideologi yang tidak mungkin dilawanhanya dengan perang bersenjata. Ideologi harus dihadapi dengan ideologi. Termasuk dalam masalah ideologi ini adalah penggunaan nama. Nama yang baik, seperti nama-nama yang terkait dengan Islam, tidak dibenarkan bagi mereka yang menyandangnya berperilaku dengan yang bertentangan dengan nama itu.

Namun, dengan munculnya Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS, nama-nama yang berhubungan dengan Islam pun ikut tercoreng. Misalnya penyebutan Islami, ekonomi Islam, partai Islam, busana Muslim/Muslimah, syariah, halal, sesuai syariat, gaya hidup Muslim, dan seterusnya. Penggunaan nama-nama ini, terutama di negara-negara berpenduduk mayoritas non-Muslim, bisa berkonotasi negatif.

Bagi ISIS, eh, Da’isy, penggunaan Negara Islam jelas mempunyai tujuan. Pertama, dengan membawa nama sebagai Negara Islam, mereka akan lebih mudah mempengaruhi (baca:merekrut) anak-anak muda untuk bergabung dengan mereka. Istilahnya, berjihad fi sabilillah. Bila mati, maka surga dan bidadari akan menanti. Siapa tidak kepincut? Kedua, untuk mumunculkan Islam phobia alias kebencian kepada Islam dan umat Islam di masyarakat  non-Muslim seperti di negara-negara Barat.

Dengan mengaitkan antara Islam dan aktivitas kelompok-kelompok radikal/teroris akan segera memberi kesan  kepada masyarakat non-Muslim di seluruh dunia bahwa Islam dan umat Islam identik dengan teror dan kekerasan. Pelaku kejahatan sungguh mudah untuk diidentikkan dengan agama, suku, warga negara, atau agama tertentu seperti yang terjadi pada Da’isy. Dan, hal inilah yang diinginkan oleh al Baghdadi dan kelompoknya. Tujuannya untuk menebar teror dan ketakutan di tengah masyarakat non-Muslim.

Abu Bakar al Baghdadi dan kelompoknya tampaknya paham betul psikologi umat Islam kebanyakan. Yakni, segala hal yang terkait dengan sebutan Islam akan segera menarik emosi mereka. Mereka – al Baghdadi dan kelompoknya – paham betul bahwa mayoritas umat Islam adalah orang-orang baik. Mereka orang-orang yang sederhana, namun kurang pengetahuan dan wawasan. Mereka anak-anak muda yang sedang mencari identitas dan eksistensi. Bisa saja mereka percaya bahwa ISIS berjuang untuk Islam karena menamakan diri sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah serta menggunakan bendera bertuliskan ‘Allahu Akbar’.

Orang-orang yang terlibat dengan Da’isy adalah sangat pandai. Mereka telah dan terus bekerja keras untuk membangun imej di seluruh dunia, bahwa mereka mewakili Islam dan umat Islam. Mereka paham betul psikologi masyarakat yang menjadi sasaran. Degan mendeklarasikan kolompok mereka sebagai negara atau khilafah Islamiyah akan mudah mendapatkan respon positif dari umat Islam.

Karena itulah al Baghdadi dan kelompoknya selalu menyebut negara mereka secara lengkap sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS. Dan, pada gilirannya, tanpa susah payah, media akan ikut menyebarkan serta mempromosikan Negara Islam mereka ke seluruh dunia, ketika menyebut negara mereka adalah negara Islam.

Inilah yang tampaknya membedakan Da’isy dengan organisasi-organisasi teroris lainnya. Alqaida misalnya, tidak pernah memikirkan dampak dari psikologi simbol. Tidak juga peduli dengan brand atau merek.

Jadi, apakah kita akan ikut mempromosikan organisasi teroris al Baghdadi dan kelompoknya dengan menyebut Negara Islam di Irak dan Suriah alias Daulah Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah atawa Islamic State of Irak and Syria atau ISIS?

 

Republika Online

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (2-habis)

Carolyn Erazo terbangun sangat awal untuk menemukan sebuah masjid yang telah ia cari sejak malam sebelumnya. Ia harus menuntaskan rasa ingin tahunya. Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam.

Perempuan itu mulai mengemudikan mobilnya di sekitar lokasi, tapi tak bisa menemukan masjid itu, padahal ia sudah memegang alamatnya. Singkat cerita, Carolyn sampai di masjid yang dia tuju. Jauh di lubuk hati, ia merasa agak ketakutan.

Kendati gemetar, Carolyn mendekati pintu dan membukanya. Seorang pria mendekati Carolyn lantaran ia berdiri di pintu masuk dan menanyakan imam masjid.

Ia diberitahu bahwa imam tidak ada di tempat, tapi ia meyakinkan bahwa mereka akan menghubunginya setelah imam datang. Carolyn menuliskan nomor dan bergegas keluar. Jujur, ia tidak yakin akan ditelepon.

Sebelum pergi, orang yang berbicara padanya sempat memperkenalkan nama sang imam. Abdul Lateef, namanya. Sejak keluar dari masjid itu, Carolyn harap-harap cemas, antara ingin ditelepon dan takut ditelepon. Kurang dari dua jam kemudian, ia tidak bisa percaya bahwa Imam Abdul Lateef benar-benar menelepon.

Ketakutannya segera terhapus mendengar suara di ujung telepon. Imam Abdul Lateef mengundangnya untuk datang dan bertemu dengan dia malam itu.

Carolyn kembali datang ke masjid. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang imam dan memperkenalkan diri. Tapi, dengan cepat imam itu menolak uluran tangannya, meminta maaf, sambil menjelaskan alasan.

“Saya ingat dengan jelas. Saya kira itu benar-benar hal pertama yang membuat saya terkesan,” kenang Carolyn. Kendati, ia merasa malu. Sampai-sampai, ia ingin marah pada bosnya lantaran tidak memberi tahu ada aturan itu sebelumnya.

Imam Abdul Lateef mengajaknya duduk dan menanyakan semua persoalan yang ia alami. Carolyn mulai menjelaskan bahwa ia sedang dalam masa pencarian. Ia sudah menjelajahi kekristenan dan mengungkapkan argumen mengapa ia gagal menemukan kebenaran dalam ajaran Kristen.

Imam Abdul Lateef tak banyak berkomentar. Ia membiarkan Carolyn mencurahkan segenap kerisauannya. Setelah usai, barulah Imam Abdul Lateef menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan runtut. Apa yang menjadi kegelisahan Carolyn selama ini mulai menemukan jawaban.

Saat ia perhatikan, apa yang dikatakan Imam tampaknya benar. Tak kurang dari dua jam, Carolyn terus membombardir Imam dengan berbagai pertanyaan. Ia ingin benar-benar meyakinkan diri atas pilihannya.

Ketika ia merasa cukup dan beranjak menuju pintu, Abdul Lateef berkata, “Terima kasih sudah mengizinkan saya menjadi bagian dari perjalanan Anda. Saya berharap, ketika Anda meninggalkan tempat ini, Anda tahu apakah Anda Muslim atau non-Muslim.”

Carolyn memikirkan kata-kata itu setiap  malam, selama lebih dari seminggu. Ucapan itu terngiang-ngiang dan membebani otaknya. Tiga hari berlalu, Imam Abdul Lateef kembali menelepon. Ia seolah tahu bahwa Carolyn sedang membutuhkan lebih banyak jawaban. Mereka berbicara panjang lebar hingga satu jam lewat telepon.

Selama beberapa bulan kemudian, Carolyn melahap berbagai literatur yang berkaitan dengan Islam. Ia harus tahu lebih banyak sebelum memutuskan. Agama ini masuk akal, kata Carolyn, tidak ada yang membuat perempuan itu meragukan kebenaran Islam.

Muslim juga tidak mengerikan, sebagaimana anggapan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka lebih baik daripada orang-orang Amerika. Kendati, ada Muslim yang pernah melakukan aksi-aksi teroris seperti yang diklaim Barat dan Amerika, Alquran tidak mengajarkan itu.

“Bagaimana saya menjelaskannya? Tidak ada yang mengerti. Mayoritas di lingkungan saya mengatakan, Islam tidak sesuai dengan identitas kami,” kata Carolyn, yang berkulit putih dan asli Amerika.

Seandainya ia cocok dengan kekristenan, barangkali tidak masalah. Pasalnya, Carolyn merasa tidak cocok. Ia tidak bisa menolak takdir dan iman dia. Hati dan pikirannya terbuka untuk Islam, tapi ia masih belum memutuskan tekad. Ia membuat seribu satu alasan mengapa ia tak bisa. Termasuk, Ramadhan. Ia takut akan kewajiban puasa itu.

Carolyn ingat dengan jelas apa yang dikatakan Imam Abdul Lateef ketika ia mengungkapkan kekhawatirannya.

“Saudariku, Ramadhan seharusnya tidak menakut-nakutimu. Saya jamin, Anda akan bersyahadat sebelum Ramadhan berakhir,” kata dia.

Tebakan Imam Abdul Lateef benar! Dua minggu selepas Ramadhan, Carolyn Erazo bersyahadat.

Ia begitu gugup saat memasuki masjid untuk bersyahadat. Perasaannya tidak terlukiskan. Malam itu juga, ia menelepon Abdul Lateef. Imam itu hanya tertawa kecil. Ia percaya Carolyn tinggal menunggu momentum.

Kebahagiaan Carolyn menuai masalah saat orang-orang di lingkungan sekitarnya mengetahui keislaman perempuan itu. Ia mendapat banyak penentangan. Setiap ejekan seolah sengaja dilontarkan untuk membuat dia marah. Sepanjang waktu, Carolyn mencoba bertahan.

Juni 2015 ini, tepat tiga tahun Carolyn masuk Islam. Perempuan itu mengakui, seseorang tidak mungkin bisa hidup tanpa keyakinan dan iman. Ia mulai aktif di berbagai forum mualaf.

“Saya akan terus belajar memberikan respon-respon cerdas terhadap semua sentimen anti-Muslim yang dilemparkan pada saya,” ucapnya yakin.

 

 

sumber: Republika Online

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (1)

Sedari kecil, Carolyn Erazo sering berharap supaya tidak perlu pergi ke gereja meski  dididik dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen.

“Saya adalah tipikal gadis Amerika tulen,” katanya memulai cerita padaMuslim Village, Kamis (20/8).
Carolyn mengaku tidak senang dengan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Ahad itu. Ia tidak pernah percaya dengan apa yang diajarkan.

Ada banyak inkonsistensi tampak di hadapannya, tapi tidak sedikitpun terbersit keinginan di hati Carolyn untuk mencari tahu. Ia hanya sekadar berpikir, bagaimana kita bisa mempercayai apa yang tidak kita ketahui?

Apakah semua peristiwa benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan Alkitab, atau jangan-jangan Alkitab itu hanya sebuah buku cerita yang terselip di antara deretan rak buku.

Beberapa tahun kemudian, Carolyn menghadiri sebuah retret gereja. Dari sanalah, awalnya Carolyn memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan spiritual.

Ia merefleksi kejadian-kejadian yang telah lampau. Di satu sisi, ia bersyukur, semenjak kecil telah menerima banyak kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang ia dapatkan.

Pada hari terakhir retret, Carolyn berjalan menyusuri bukit besar hingga ke pantai dan terduduk memandangi lautan.

Perempuan itu sendirian. Ia begitu berharap Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan penuh kasih. Sore itu, ia merasa telah datang kepada-Nya dengan segenap keyakinan bahwa Dialah satu-satunya penolong.

Carolyn menyatakan, peristiwa itu begitu membekas dan mengubah jalan berpikirnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari iman, yang menurut dia, tidak akan pernah dia temukan.

Saat itulah, mendadak air mata hangat mengalir di wajah Carolyn. Ia menyerah pada Tuhan. “Baik, kalau Dia melupakanku, aku juga akan melupakannya,” ujar Carolyn saat itu.

Selama tahun-tahun berikutnya, ia hidup tanpa iman. Ia belum menemukan jawaban apapun atas kegelisahannya. Setiap pertanyaan yang muncul malahan membuat Carolyn semakin marah lantaran tidak pernah ada jawaban.

Sampai kira-kira empat tahun lalu, hatinya terbuka kembali. Akhir Februari, ia tengah menghadiri sebuah upacara pemakaman. Carolyn takjub melihat sikap si ibu yang baru saja kehilangan anak di pemakaman itu.

Perempuan yang tengah berduka cita itu sanggup berbicara pada Tuhan dengan lapang dada, tanpa jerit tangis kesedihan.

Carolyn heran. Perempuan itu memahami kenyataan bahwa anaknya kini tenang bersama Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat ia pahami. Ia menatap perempuan itu dengan iri. Si ibu itu pasti memiliki keimanan yang kuat pada Tuhan. Kesan itu tidak pernah pudar hingga beberapa hari kemudian.

Carolyn butuh waktu seminggu sampai ia memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia tidak bisa hanya terus-menerus mencari pembenaran. Ia harus menemukan Tuhan dan menjawab pertanyaan yang berkelindan di benaknya.

“Tentu saja, saya memulai perjalanan dari Kristen. Agama tempat saya dibesarkan,” kata Carolyn. Ia pun duduk di gereja selama berminggu-minggu untuk mendengarkan ceramah.

Tapi, nyatanya ia hanya mendapat sedikit percikan iman. Setelah beberapa bulan, Carolyn pun memperluas skala pencarian.

 

sumber: Republika Online

Makkah Terik Suhu 44-45 Derajat, Alhamdulillah Zam-zam Melimpah

Jemaah haji Indonesia gelombang pertama baru akan memasuki Makkah pada tanggal 30 Agustus 2015. Kondisi suhu dan cuaca di Makkah tidak berbeda jauh dengan di Jeddah dan Madinah.

Jumat (22/8/2015), pukul 10-11 pagi, angka penunjuk suhu di dinding salah satu pintu masjidil haram tertulis 45 derajat celcius. Pancaran sinar matahari yang terik dipantulkan dengan baik oleh lantai putih komplek Masjidil Haram sehingga membuat orang-orang memicingkan matanya.

Dahaga langsung sirna saat air zam-zam segar mengguyur deras kerongkongan yang kering. Tak cuma untuk minum, beberapa orang juga terlihat menggunakan air zam-zamu untuk membahasi wajah dan kepalanya.

Tak usah bingung mencari air zam-zam. Pengurus masjidil haram menyediakan air zam-zam hampir di semua pojok komplek,  baik berupa pancuran maupun dispenser yang biasanya berada di dalam bangunan.

Jemaah tidak perlu takut kehabisan. Entah bagaimana caranya suplai air zam-zam seperti mengalir tanpa hentinya. Padahal tak sedikit pula jemaah yang mengambil air zam-zam untuk mengisi botol minum ukuran besar.

Beranjak siang usai Salat Jumat, suhu turun menjadi 44 derajat celcius. Kipas-kipas raksasa di luar pintu masuk Masjidil Haram dinyalakan. Selain meniupkan angin, kipas itu juga menyemburkan bulir-bulir air penyejuk kulit

Sedikit tips untuk jemaah haji Indonesia kelak untuk selalu membawa botol minuman. Karena panas terik akan membuat orang cepat haus. Daripada harus bolak balik, lebih baik menampung zam -zam di botol air ketimbang meminumnya dari gelas kertas.

Selain lebih praktis, jemaah bisa lebih fokus menunaikan ibadah. Beribadah untuk menjadi haji yang mabrur.

sumber: Detik.com

Menag Jamin Konflik Yaman Tak Pengaruhi Jamaah Haji Indonesia

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin memastikan konflik yang terjadi di Yaman tak akan memengaruhi jamaah haji Indonesia.

Hal itu didasarkan pada jaminan yang diutarakan oleh pemerintah Arab Saudi kepada seluruh negara muslim yang mengirimkan jamaah haji.

“Pemerintah Arab sudah menjamin bahwa tahun ini jamaah haji akan mendapat pengamanan maksimal, konflik di Yaman sama sekali tidak akan pengaruhi mereka, jaraknya jauh dan sudah dijamin ya,” terangnya saat jumpa pers di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Jumat (21/8/2015).

Menurut Lukman, saat ini Indonesia akan memberangkatkan sekira 371 kloter seluruh Indonesia. “Total kloter 371, 210 kloter di angkut pakai Garuda, sisanya Saudi Airlines, untuk yang berangkat hari ini dari Jakarta ada 435 jamaah,” terangnya.

Sementara itu, Lukman mengatakan penginapan bagi jamaah haji tahun ini untuk di Madinah lebih dekat dibanding dengan tahun sebelumnya.

“Di Madinah paling jauh radius 1 km wilayah Markaziyah, sementara di Makkah awalnya karena ada rehab Masjidil Haram, maka banyak hotel yang di bongkar, jadi paling jauh 4 km,” tandasnya.

(fid)

 

sumber: OkeZone.com

Dimanakah Firaun Ditenggelamkan?

Dimanakah lokasi Firaun ditenggelamkan? Pendapat terkuat, lokasi tersebut berada di Laut Merah.

Pandangan ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai kereta kuda dan tulang-belulang manusia di Laut Merah yang diduga merupakan pasukan dan pengawal Firaun.

”Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS Albaqarah [2]: 50).

”Dan, Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Maka, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, Bani Israil berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya, kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)’.” (QS Al-A’raf [7]: 138).

”Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka, terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS Asysyuara [26]: 63).

Ayat-ayat di atas adalah sebagian dari kisah yang diterangkan dalam Alquran tentang pengejaran Firaun terhadap Nabi Musa AS, Nabi Harun, dan kaum Bani Israil, pengikut Musa.

Ketika mereka (Musa dan kaumnya) meninggalkan Mesir, Firaun tampak sangat marah. Ia merasa Bani Israil sudah tidak mempercayainya lagi. Karena itu, ketika Musa dan kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Firaun memerintahkan pasukannya untuk mengejar dan menangkap Musa dan kaumnya.

Dalam perjalanan pengejaran tersebut, saat Musa dan kaumnya berada di pinggir pantai, Bani Israil merasa khawatir kalau mereka akan terkejar oleh Firaun dan pasukannya. Nabi Musa AS mengingatkan kaumnya bahwa mereka tidak akan terkejar karena Allah pasti akan menolongnya.

Hingga akhirnya, Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke lautan dan atas izin Allah. Maka, terbelahlah lautan tersebut, yang tiap-tiap sisi belahan laut itu setinggi gunung (QS 26: 63).

Maka, Musa dan kaumnya menyeberangi lautan tersebut hingga tiba di seberangnya. Sementara itu, Firaun dan pasukannya sedang berada di tengah-tengah lautan. Ketika itu pula, Allah memerintahkan Musa supaya memukulkan kembali tongkatnya hingga akhirnya tertutuplah lautan tersebut dan menenggelamkan Firaun beserta pasukannya.

Sampai kemudian, jasadnya berhasil ditemukan oleh orang-orang Mesir dan kemudian tubuhnya diawetkan (QS Yunus [10]:92). Jasadnya hingga kini masih dapat disaksikan di Museum Tahrir, Mesir.

sumber: Republika Online

Inilah Suasana Awal Musim Haji di Masjidil Haram

Jemaah haji dari berbagai bangsa mulai memadati kawasan Masjidil Haram, Makkah. Dengan pakaian ihram mereka menunaikan ibadah umroh seperti thawaf dan sa’i yang merupakan rangkaian dari haji.
Pada Jumat (21/8/2015), Bangladesh, Pakistan, Mesir dan China merupakan asal jemaah yang mendominasi ibadah umroh. Mereka dapat dengan mudah dikenali dari atributnya seperti jahitan bendera di kain ihram atau tas.
Masih terlihat ruang cukup terbuka di tempat thawaf sekeliling kakbah maupun lintasan sa’i. Jemaah masih terlihat nyaman melakukan rangkaian ritual ibadah dengan cukup leluasa.
Walau tetap rebutan, jemaah relatif mudah untuk mengecup langsung Hajar Aswad yang dijaga seorang askar. Pun berdoa di multazam dan salat sunnah di Hijir Ismail
Orang-orang, baik yang sedang thawaf wajib atau tidak, bisa dengan mudah salat di sekeliling arena thawaf. Selain salat, mereka ada yang mengaji, berdoa, ataupun berbaring istirahat.
Di tengah-tengah suasana ibadah, proyek renovasi dan perluasan di Masjidil Haram masih terus berlangsung. Tempat thawaf di lantai satu dan dua sudah bisa dilintasi, rencananya proyek ini akan selesai pada tahun 2016 sehingga kuota haji Indonesia sebanyak 211.00 orang akan kembali normal.
Panas di Makkah berkisar antara 44-45 derajat celcius pada siang hari. Jemaah haji Indonesia yang akan bergerak dari Madinah ke Makkah pada tanggal 30 Agustus 2015 nanti diharapkan mengantisipasi hal ini agar ibadahnya tetap terjaga.
Sekali lagi diingatkan kepada para jemaah haji Indonesia jika kelak beribadah di Masjidil Haram agar membawa botol air. Cuaca yang panas berpotensi menyebabkan heat stroke dan dehidrasi. Jika air botol di habis bisa mengisinya dengan zam-zam yang tersedia hampir di seluruh sudut Masjidil Haram.

Menunda Haid

Diasuh oleh Ustaz HM Rizal Fadillah

Assalamualaikum wr wb.
Ustaz, bolehkah meminum pil penunda haid sebelum berangkat ke Tanah Suci?

Erna – Jakarta

 
Waalaikumussalam wr wb.
Pada zaman Rasulullah tidak dikenal pil penunda haid karenanya menjadi masuk lapangan ijtihadiyah. Berdasarkan Fatwa Ulama Saudi Arabia, seperti Syekh bin Baz, meminum pil penunda haid itu dibolehkan karena menurutnya hal tersebut manfaat dan mashlahat.

Perempuan dapat thawaf bersama-sama dengan yang lain dan tidak kesulitan dalam menemaninya. Meskipun demikian, sebenarnya kita bisa menghitung waktu mengenai perlu atau tidaknya meminum pil penunda haid.

Jika waktu cukup untuk menunggu sampai suci, lalu ada waktu untuk mengerjakan umrah maka itu lebih baik. Begitu juga untuk thawaf ifadhah. Jika hitungannya menjadi mendesak, maka meminum pil penunda menjadi upaya solusi.

Sedangkan, thawaf wada tidak terlalu berpengaruh karena bagi yang haid tidak diwajibkan untuk melaksanakan thawaf wada. “Manusia diperintahkan agar akhir dari pelaksanaan hajinya dengan thawaf di Baitullah. Kecuali bagi wanita haid diberi keringanan untuk tidak melaksanakannya.” (HR Muslim).

 

sumber: Republika Online

Delapan Bersaudara ini Berebut Layani Ibunya di Tanah Suci

Kisah unik dan mengharukan mengiringi perjalanan tamu Allah di tanah suci. Delapan anak asal Nigeria misalnya, berebut ingin melayani dan membantu ibu mereka guna melaksanakan ritual haji dengan nyaman.Niatan mulia itu merupakan wujud rasa cinta dan komitmen mereka terhadap Alquran dan Hadist yang memerintahkan setiap Muslim melayani dan membantu orang tua.Aysha, 70 tahun, berangkat haji dengan delapan anaknya. Masing-masing anak ingin memberikan layanan yang maksimal untuk dirinya. Yang menarik, guna menghindari konflik, yang termuda dari delapan bersaudara itu, Mustafa Al Faisal, mengusulkan setiap hari ada dua orang yang melayani dan membantu ibunya.

“Itu saran yang baik,” kata kakak tertua Moussa.

“Selama 20 tahun terakhir kami menabung uang untuk melakukan haji dengan ibu kami,” katanya, berharap bahwa Allah akan menerima haji dan doa-doa mereka.

Barokah Cium Tangan Pak Haji (Bagian 2-Habis)

Medio tahun 1947, Kiai Nuril Huda meyakini bahwa mencium tangan sesorang yang baru menunaikan ibadah haji bisa membawanya kelak ke Tanah Suci pula.

Usai salaman, Nuril muda langsung kembali ke pondoknya di Langitan. Dia merasa lega telah bersalaman dan meminta doa kepada orang yang baru datang dari Tanah Suci sesuai pesan ayahnya.

Setibanya di pesantren, dia ditertawakan oleh temannya. Karena telah berjalan kaki sejauh total 26 km hanya untuk minta doa dari orang yang bahkan tidak dikenal.

“Ya lah, nggak apa-apa, barangkali doanya pak haji itu, makbul,” kata dia enteng.

Saat ini, tepatnya 67 tahun setelah kejadian itu. Nuril telah melasanakan ibadah haji lebih dari yang diwajibkan oleh Allah SWT. Dia bersyukur, di usianya yang menginjak 76 tahun dia telah mekasanakan 13 kali ibadah haji dan puluhan kaliibadah umroh.

Terlebih, hampir sebagian besar dari keberangkatannya ke rumah Allah SWT tanpa biaya sendiri. Nuriol mengaku, dia kerap dipercaya untuk melaksanakan tugas membimbing jamaah haji, atau tugas lain yang membebaskan dirinya dari pembiayaan haji yang begitu mahal.

“Saya tidak tahu gimana, mungkin ini berkah dari pak haji yang medoakan saya dulu itu,” katanya sambil tersenyum.

 

sumber: Republika Online