Kisah Sedekah Mbah Asrori yang Menggetarkan Hati

Kakek berusia 92 tahun itu setiap Jumat menyediakan minimal 70 nasi bungkus untuk kaum duafa di sekitarnya.

Dream – Ini kisah inspiratif dari seorang kakek asal Semarang, Jawa Tengah. Mbah Asrori. Begitu dia disapa. Pria yang kini berusia 92 tahun tersebut selalu bersedekah untuk kaum duafa di sekitarnya.

“Seperti biasa setiap hari Jum’at beliau selalu membagikan nasi bungkus beruapa nasi kuning komplit dengan lauk-pauk yang lezat kepada tukang becak, pemulung, atau siapapun yang membutuhkan makan hari Jum’at itu minimal 70 bungkus,” demikian tulis tetangga Mbah Asrori, Fajar Ali Imron Rosyid, dalam akun Facebook.

Untuk bersedekah, kakek yang masih bersemangat di usia senja ini menyisihkan sebagian dari penghasilannya. “Setiap bulan beliau menyisihkan minimal Rp400 ribu untuk sedekah setiap Jum’at itu walaupun saya tahu penghasilan beliau tidak menentu,” tambah Fajar.

Menurut Fajar, Mbah Asrori telah menunaikan ibadah haji enam tahun lalu. Meskipun, menurut Fajar, jika dihitung-hitung penghasilan Mbah Asrori kala itu tak akan cukup untuk pergi ke Tanah Suci. “Namun Allah memampukan beliau.”

Mbah Asrori memiliki kebiasaan mengayuh sepeda ke manapun pergi. Selain itu, dia selalu membawa radio kecil. “Dia selalu menyetel saluran radio Masjid Agung Semarang,” tulis Fajar.

“Benar sabda Rasulullah, barangsiapa senang bersedekah dan silaturahim maka Allah akan panjangkan umurnya dengan barokah rejeki tiada disangka-sangka,” tambah dia.

sumber: Dream.co.id

Calon Jamaah Haji Jangan Lupa Bawa Spray Air

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Calon jamaah haji asal Indonesia diingatkan untuk tidak lupa membawa spray atau pemercik air ketika puncak haji, yaitu wukuf di Armina. Sebab, cuaca di Arab Saudi diperkirakan mencapai 50 derajat celcius.

“Selama manasik sudah disebarkan diimbau bawa semprotam air kurangi panas. Petugas non-kloter juga menyiapkan banyak air ketika prosesi armina,” kata Kepala Satuan Operasional Arafah-Mudzalifah-Mina (Armina) Abu Haris Mutohar di Jakarta, Selasa (9/6).

Namun, panas bukan menjadi hambatan bagi penyelenggaraan ibadah di Armina. Abu Haris menyatakan ada dua persoalan utama yang selalu muncul pada penyelenggaran prosesi Armina, yaitu jamaah tersesat dan kendaraan yang terhambat.

Abu Haris menjelaskan prosesi Armina merupakan sesuatu yang baru bagi semua jamaah.  Jamaah memang sudah manasik tapi ini berhadapan dengan medan sesungguhnya.

Prosesi Armina mengkonsentrasikan jamaah haji dari seluruh dunia di satu lokasi sehingga tidak mudah bagi setiap orang untuk keluar dan masuk tenda. Perbedaan lainnya,jalan yang berkelok dan ribuan tenda dengan bentuk serupa.

“Kenyataan berbeda, akan ada kebingungan. Masalah yang sudah pasti ada adalah jamaah tersesat,” kata Abu Haris.

Masalah lain yang krusial, kendaraan yang beroperasi dengan sistem taraddudi, yaitu angkut jalan, dan turunkan ketika berputar. Abu Haris menyatakan perpindahan Mudzalifah ke Arafah tidak masalah.

Tapi, perpindahan dari Arafah ke Mina karena akan bersamaan dengan jamaah yang jalan kaki. Kendaraan akan terhambat karena putarannya terhambat sehingga batas waktunya melewati. “Ini yang kita mohon doanya agar pelaksanaan tahun ini lebih baik,” kata Abu Haris.

Sebanyak 168 ribu jamaah akan beribadah haji tahun ini. Kloter pertama berangkat pada 21 Agustus 2015 dan puncak haji atau wukuf pada 22 September 2015.

Ketika wukuf, jamaah haji akan berada dalam tenda berukuran 4×4 meter persegi. Abu Haris menyebutkan, tenda-tenda untuk jamaah Indonesia menempati area seluas 105 hektare di Arafah.

Abu Haris juga menyatakan, kontrak untuk layanan katering, transportasi, dan pemondokan sudah diselesaikan. “Termasuk bus shalawat, bus yang melayani pemondokan-Masjidil Haram,” kata dia.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Ratna Puspita

sumber: Repubika Online

Hal yang Ditakutkan Rasulullah Menimpa Umatnya

Oleh: M Sinwani   

Suatu kali, Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan hal yang paling beliau takutkan dengan berkata, ”Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat langsung bertanya, ”Apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, ”Riya.”

Riya adalah harapan untuk mendapatkan sanjungan, kemuliaan, atau kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan tindakan yang baik dalam ibadah ataupun kegiatan sehari-hari. Seseorang yang memperturutkan riya dalam ibadah mahdhah, seperti shalat maka tiada sedikitpun balasan pahala yang ia terima. (QS al-Ma’un [107]: 4-6)

Dalam ibadah ghairu mahdhah pun seperti itu. Berinfak di jalan Allah dengan maksud bisa mendapat julukan dermawan atau menuntut ilmu dengan niat mendapat gelar seorang alim maka segala usaha tersebut akan sia-sia.

Selain itu, pelaku riya juga akan mendapat laknat dari Allah SWT karena ia telah menyandingkan Sang Khalik dengan makhluk ciptaan-Nya. Dalam Hadis qudsi disebutkan bahwa Allah SWT menantang kala hari perhitungan kepada manusia dengan berkata, ”Pergilah kalian kepada orang-orang yang kala di dunia kalian mengedepankan riya atas mereka dan lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka.” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Demikian betapa besarnya laknat Allah terhadap pelaku riya. Riya hukumnya haram. Ia merupakan penyakit hati yang bersumber dari sifat rububiyyah dalam diri manusia, yakni sifat yang menganggap diri lebih mulia ketimbang orang lain sehingga senantiasa ingin mendapatkan pujian dan menampakkan perilaku baik dalam tutur kata dan perbuatan.

Sifat ini sejatinya ada dalam hati setiap pribadi manusia, meski takarannya berbeda-beda, bergantung iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Barang siapa yang imannya kuat maka ia akan mampu menekan penyakit riya tidak sampai tampak ke permukaan, tapi sebaliknya, manakala lemah maka ia akan terseret oleh arus penyakit ini.

Lantas, bagaimana usaha kita untuk menghindari syirik kecil ini? Pertama, dengan mengetahui akar pemicu timbulnya riya. Penyakit akan tumbuh kembali manakala penderita sekadar mengobati titik sakitnya bukan pada akarnya. Adapun secara terperinci ada tiga akar riya, yakni perasaan senang mendapatkan pujian,  takut akan hinaan dan celaan, serta tamak atas apa yang dimiliki oleh orang lain. Ketiga akar ini akan tercerabut dari dalam hati kita dengan mengingat bahwa keagungan hanya mutlak milik Allah SWT dan tiada kemuliaan yang abadi di dunia.

Namun, apabila riya masih terketuk dalam hati meski kita sudah mengetahui akar pemicunya maka cara yang kedua adalah dengan mengucap taawuz dan terus beristighfar kepada Allah SWT agar setan yang kala itu membuhulkan bisikan dapat menjauh dari kita karena sejatinya setan menjauh dari orang-orang yang hatinya bersih dan ikhlas.

Dari itu semua, apalah arti sebuah sanjungan kalau ia putus ditelan kematian. Sebab, sanjungan yang abadi hanya datang dari Allah SWT kelak di hari akhir. Masing-masing dari kita akan mampu meraih sanjungan-Nya dengan amal saleh dan ketakwaan yang hakiki. Wallahu a’lam.

 

sumber: Republika Online

15 Tips Sehat Selama di Tanah Suci Makkah

Menunaikan ibadah haji dan umrah, dibutuhkan stamina tubuh yang prima. Karena untuk dapat  dapat menjalankan runtutan ibadah yang baik dan benar, seorang jamaah harus sehat secara jasmani dan rohani.

Oleh karena itu, perhatikan 15 tips sehat selama di tanah cuci:

  1. Membatasi aktivitas fisik di luar Masjidil Haram dan Pemondokan secara berlebihan.
  2. Jamaah perlu istirahat yang cukup.
  3. Gunakan selalu masker untuk menghindari  polusi udara.
  4. Perbanyak mengkonsumsi air putih, sekitar 3-4 liter per hari.
  5. Membatasi minuman dingin.
  6. Makanlah secara teratur. Hindari mengonsumsi makanan basi atau kedaluarsa.
  7.  Perbanyak mengonsumsi buah-buahan banyak mengandung air atau vitamin C.
  8. Buanglah Sampah pada tempatnya.
  9. Menutup mulut atau hidung saat batuk dan bersin dengan sapu tangan atau tisu.
  10. Tidak meludah di sembarang tempat.
  11. Mencuci tangan secara teratur sebelum/sesudah makan atau buang air besar.
  12. Jaga kebersihan dan kerapian kamar. Tidak menjemur pakaian dan memasak di dalam kamar.
  13. Tidak merokok di dalam kamar jamaah/di ruangan ber-AC.
  14. Jamaah yang sudah menderita penyakit tertentu di Tanah Air tetap mengonsumsi obat yang biasa digunakan.
  15. Segera lapor kepada petugas bila mengalami gangguan kesehatan.

 

 

Sumber: Republika Online

Petugas Haji Harus Melayani Jamaah

Setiap tahunnya, permasalahan yang terjadi dalam penyelenggara haji selalu berbeda. Oleh karena itu, layanan yang diberikan kepada jamaah pun harus selalu berubah. Begitulah yang disampaikan Ketua Panitia Pembekalan Petugas PPIH Arab Saudi 1436H/2015M Khoirizi di Asrama Haji, seperti yang dikutip Republika Online.

Menurut Khoirizi, setiap Muslim yang berangkat ke tanah suci selalu berpikir untuk beribadah. Namun, sebagai petugas, keberaan mereka di tanah suci, tidak lain  adalah untuk melayani para jamaah.

Perbedaan layanan dan permasalahan yang kompleks itulah yang dihadapi oleh petugas. “Kalau petugasnya berpikir ibadah maka akan merepotkan,” kata Khoirizi.

Karena itulah, pemerintah memilih lebih banyak petugas berpengalaman. “Tapi kan tidak mungkin semua, maka komposisinya 60 persen sudah berpengalaman dan 40 persen belum berpengalaman,” ujar dia.

“Pembekalan ini penting, kita bukan leha-leha. Output yang dihasilkan adalah komitmen untuk melayani,” kata Khoirizi.

Sumber: Jurnal Haji Umrah- Republika Online

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahap Pertama BPIH Reguler: Hari Kelima 72.825 Jemaah Lunas

Jakarta (Sinhat)–Berdasarkan data dari Siskohat Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) tercatat sebanyak 72.825 jemaah telah melunasi pada tahap pertama hari kelima hingga sore hari ini, Senin (08/06).

Pelunasan tahap pertama Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Reguler Tahun 1436H/2015M dimulai 01- 30 Juni 2015 mendatang.

Sebagaimana tahun lalu, kuota jamaah haji Indonesia tahun ini berjumlah 168.800 karena masih mengalami pemotongan sebanyak 20%. Dari jumlah itu, kuota haji regular sebanyak 155.200 yang terdiri dari jemaah haji regular sebanyak 154.049 dan Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) sebanyak 1.151 orang. Sedangkan haji khusus sebanyak 13.600 terdiri dari jemaah haji khusus sebanyak 12.831 orang dan petugas PIHK sebanyak 769 orang.

Jemaah haji akan diberangkatkan dalam 2 gelombang. Gelombang I direncanakan akan mulai diberangkatkan pada tanggal 21 Agustus 2015 sampai dengan tanggal 3 September 2015 menuju Madinah. Gelombang II pada tanggal 4 September 2015 sampai dengan tanggal 17 September 2015 tujuan Jeddah.

Rute pemberangkatan tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, Gelombang I dengan rute Tanah Air-Madinah-Makkah-Jeddah-Tanah Air, sedangkan Gelombang II dengan rute Tanah Air-Jeddah-Makkah-Madinah-Tanah Air. (ar/ar).

Biaya Haji Sudah tak Bisa Diturunkan Lagi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Pernyataan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang masih bisa diturunkan lagi dinilai Kementerian Agama sebagai ragam pendapat semata.

“Ini sudah merupakan perjanjian Kemenag dengan pemerintah Arab Saudi, nah ini tentu membawa konsekuensi ada yang menurun dan ada pelayanan tambahan,” ujar Sekjen Kemenag Prof Nur Syam, Ahad (7/6).

Nur Syam sekaligus mengonfirmasi bahwa penurunan BPIH sebesar 502 dolar AS sudah melalui perhitungan yang sangat mendasar  dari Kementerian Agama dan Komisi VIII DPR. Artinya, penurunan sebesar itu sudah relatif besar. Lantaran disesuaikan dengan perbaikan kualitas pelayanan, dan tambahan-tambahan pelayanan yang juga telah diperhitungkan juga.

Dua perubahan pelayanan itu adalah pemberian makan untuk masing-masing jamaah selama 15 kali di Mekkah. Serta penghematan rute keberangkatan jamaah haji dari Indonesia yang tidak lagi transit di Jeddah, namun langsung menuju Madinah.

“Sehingga jika kemudian muncul perkara dana BPIH masih bisa diturunkan lagi, ya karena nilai dolar fluktuatif. Jadi ini sudah ada proses negosiasi, ada proses perhitungan, mana yang perlu diturunkan, dan mana yang perlu dipertahankan, dan sebagainya” katanya.

Kisah Pelaku Maksiat Dapat Hidayah Melalui Anaknya Yang Bisu Dan Tuli

saya seorang pria berumur 37 tahun. Sudah menikah dan dikaruniai anak. Salah satunya Marwan yang masih berusia 7 tahun. Allah memberinya kekurangan berupa tuli dan bisu. Meski demikian, sungguh dia telah disusui keimanan dari air susu wanita yang beriman dan seorang penghafal Al-Quran.

Oh ya, meski istri saya wanita beriman. Saya sudah melakukan banyak hal yang dilarang oleh Allah ta’ala dan dosa-dosa besar.

Shalat saja jarang saya lakukan secara berjamaah kecuali kalau ada acara-acara tertentu saja sebagai bentuk simpati (menarik perhatian) terhadap orang lain. Terus terang, teman saya kebanyakan kurang baik dan para pesulap. Mungkin karena itu syetan selalu bersama saya dalam banyak waktu.

Suatu malam saya dan Marwan sedang di rumah. Kala itu, bertepatan shalat Maghrib. Saya sedang merencanakan pergi bersama teman-teman. Namun tiba-tiba anak saya, Marwan memberi isyarat-isyarat (bahasa tubuh yang hanya saya dan dia yang mengerti).

Kira-kira isyaratnya kala itu begini: “Wahai bapakku, kenapa engkau tidak shalat”? Kemudian dia mulai mengangkat tangannya ke langit dan mengancam saya dengan maksud menunjukkan isarat bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala melihat saya.

Saya jadi kaget (terharu) dengan perkataannya dan mulailah anak saya menangis di depan saya. Saya berusaha menariknya namun rupanya dia kabur.

Beberapa saat kemudian, dia menuju kran dan mengambil wudhu. Ia lalu shalat di depan saya. Usai shalat dia berdiri dan mengambil mushaf Al-Quran, meletakkannya di depannya dan membolak-balik kertas-kertasnya lalu meletakkan jarinya tepat pada Surat Maryam : “Wahai bapakku, sesungguhnya aku (Ibrahim) khawatir, bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pengasih, maka kamu menjadi kawan bagi syetan.” (Quran Surat Maryam ayat:45).

Melihat kejadian itu saya tak kuasa menangis dalam waktu yang cuku lama. Lalu dia berdiri dan menghapus air mata saya sambil tak lupa mencium kepala dan tangan saya sambil berkata dengan isyarat yang kira-kira artinya: “Shalatlah wahai bapakku sebelum kamu diletakkan dalam tanah dan menjadi jaminan azab.”

Demi Allah Yang Maha Besar, saya dalam keadaan bingung (hilang akal) dan takut. Sungguh, tidak ada satu orangpun yang  mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka saya segera menghidupkan lampu-lampu rumah semuanya sambil ia mengikutiku dari kamar ke kamar dengan melihatku penuh keheranan.

“Tinggalkanlah lampu-lampu itu, mari kita pergi ke masjid (maksudnya Masjid Nabawi yang mulia).”

“Tidak, kita akan pergi ke masjid yang ada di dekat rumah kita saja, ” bagitu kataku.

Iapun masih menolak ajakan saya, karena dia hanya ingin pergi ke Masjid Nabawi. Dan saya akhirnya pergi ke sana meski dalam keadaan takut sekali.

Kami masuk ke Raudhoh, sedang saat itu penuh dengan manusia. Tak beberapa lama, dikumandangkanlah iqamah untuk shalat Isya. Imam membaca firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan dan barangsiapa mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) itu menyuruh perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: An-Nur: 21).

Mendengar bacaan imam, saya tak kuasa menahan tangisan.Rupanya, Marwanpun ikut menangis karena terpengaruh tangisan saya. Di pertengahan shalat, rupanya Marwan mengeluarkan sapu tangan dari kantong saya lalu menghapus air mata saya dengan sapu tangan itu.

Usai shalat, saya masih menangis lagi. Marwan kembali menghapus air mata saya sampai-sampai saya duduk (berada) di masjid Nabawi satu jam penuh. Karena kerasnya tangisan saya, membuat Marwan mendinginkan suasana.

“Sudahlah pak, jangan takut” ujarnya.

Kami lalu pulang ke rumah dan malam itu adalah malam yang sangat mengagumgkan bagi saya. Di mana saya seolah lahir kembali.

Tak lama hadirlah istri saya dan anak-anak saya. Mereka mulai menangis semuanya, padahal mereka tidak tahu sedikitpun apa yang telah terjadi.

Saat itu berkatalah Marwan pada mereka semua, “Tadi bapak shalat di masjid haram.”

Mendengar kabar ini, senanglah istri saya. Akhirnya saya menceritakan semua pada istri tentang apa yang terjadi antara saya dan Marwan.

“Aku bertanya kepadamu dan demi Allah, apakah kamu yang datang padanya (pada Marwan) dan menyuruhnya membuka mushaf untukku saat itu?,” demikian pertanyaanku saat itu.

Saat itu istrku bersumpah pada Allah tiga kali bahwa sesungguhnya dia tidak tak pernah melakukan hal itu pada Marwan.

“Pujilah Allah (bersyukurlah pada Allah) karena kamu dapat hidayah ini, ” ujar istriku kala itu.

Sungguhnya, malam itu adalah malam yang paling berkesan (indah).

Sekarang, Alhamdulillah saya tidak pernah lagi meninggal shalat berjamaah di masjid. Dan sungguh, saya telah meninggalkan (menjauhi) teman-teman yang buruk semuanya.

Kini saya telah merasakan keimanan sebagaimana saya juga hidup penuh kebahagian, kecintaan dan saling menyayangi bersama istri dan anak-anak saya. Lebih khusus anak saya Marwan yang tuli lagi bisu. Bagaimana tidak, sedangkan saya telah mendapat hidayah melalui dia.

*pemilik cerita ini adalah salah satu penduduk Kota Madinah.

Menggendong Sang Ayah Selama Prosesi Haji

Punggungku adalah kursi yang nyaman untuk ayahku…
———————————————————————

Itulah ucapan jamaah haji asal India saat menggendong ayahnya yang telah berusia 80 tahun, saat keduanya menunaikah ibadah haji tahun ini, tahun 1435 H/2014 M. Nama anak itu adalah Muhammad Rasyid. Ia berusia 50-an tahun. Rasyid menyatakan, ia bisa saja membawa kursi roda untuk membantu ayahnya menunaikan satu per satu rangkaian ibadah haji. Namun menurutnya ayahnya yang sepuh itu lebih merasa nyaman berada di atas punggunya. Jadi ia lebih memilih cara itu agar ayahnya merasa lebih senang.

“Aku bisa mendorongnya dengan kursi roda atau alat pengangkut sejenisnya, tapi punggungku lebih nyaman untuk ayahku,” katanya kepada harian al-Watan.

Rasyid adalah anak satu-satunya dari sang ayah. Dan ia sangat mencintai ayahnya lebih dari apapun. “Aku sangat dekat dengan ayahku, terutama setelah ibuku meninggal dunia”, katanya.

Dia berkisah, dulu sewaktu kecil ayahnya senantiasa menggendongnya. Mengangkat tubuh kecilnya di atas punggung si ayah. “Sekarang saatnya aku membalas kebaikan ayahku dalam bentuk serupa”.

Sebenarnya sang ayah sejak dulu telah mengutarakan harapan agar bisa menunaikan ibadah haji ke tanah haram. Namun saat itu, kondisi keuangan keluarga mereka tidak memungkinkan. “Ketika ayahku berusia 80 tahun, aku memutuskan untuk membawanya pergi berhaji, tidak peduli berapapun biayanya”, kata Rasyid.

Rasyid melanjutkan, “Aku juga bertekad dan berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membiarkan kaki ayahku menyentuh bumi (aku gendong), baik saat thawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh putaran), sa’i (bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa-Marwa), dan saat melempar kerikil jamarat”.

Setelah berhasil menunaikan tekadnya itu, Rasyid teringat akan ucapan seseorang di desanya, desa kecil yang berada di India. Orang-orang mengatakan, ia tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji karena ayahnya yang sangat mencintainya tidak akan mungkin mengizinkannya berangkat ke Arab Saudi. Selain itu, ayahnya juga tidak bersedia apabila ia gendong agar pergi haji bersama. Namun ia telah membuktikan apa yang disangkakan penduduk desa itu keliru. Bahkan, ia tidak hanya berangkat dengan ayahnya saja. Ibu tirinya pun ikut serta bersama-sama menunaikan rukun Islam yang kelima.

Kisah Muhammad Rasyid ini mengajarkan kepada kita tentang berbakti kepada orang tua. Haji saat ini berbeda dengan haji-haji di zaman dulu. Saat ini, jumlah jamaah haji begitu besar dan kondisinya begitu padat. Bahkan pada saat-saat tertentu, untuk masuk Masjidil Haram di waktu-waktu haji pun mendapat peringatan dan pengaturan karena Masjidil Haram sudah tidak mampu menampung jamaah haji. Belum lagi cuaca yang terik menyengat. Namun di tengah kondisi padatnya Masjidil Haram dan lempar jamarat, serta panasnya cuaca, Rasyid berusaha sekuat tenaga menggendong ayahnya yang sudah sangat tua. Terkadang kita dalam keadaan longgar dan mudah, masih sering menolak perintah dan enggan berbuat baik kepada orang tua. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita bakti dan kasih sayang kepada orang tua kita.

Ia juga menjadi bukti dari sekian banyak bukti kebenaran janji Allah. Janji barangsiapa yang jujur kepada Allah, maka Allah akan mewujudkan cita-citanya. Rasyid telah jujur berniat sepenuh hati mewujudkan cita-citanya dan ayahnya untuk berhaji ke tanah suci. Lalu, Allah bukakan jalan kepadanya.

Kisah Rasyid juga mengajarkan bahwa rezeki haji itu bukanlah hitungan pasti nominal rezeki. Terkadang jalan menuju ke sana Allah bukakan dari pintu yang tiada disangka. Entah apapun dan bagaimanapun caranya. Dan sebaliknya, terkadang rezeki harta itu ada tapi kesehatan atau hal-hal lain jadi penghalang. Terkadang harta itu cukup atau berlebih, namun lemahnya iman menghalangi.

Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah dengan sepenuh hati dan penuh kejujuran bahwa kita ingin menjadi tamu-Nya di rumah-Nya, Baitullah yang mulia, mudah-mudahan Allah kabulkan keinginan dan wujudkan suatu hari nanti. Mohonlah kepada Allah taufik, agar hati kita diberikan spirit untuk menggemakan kalimat talbiyah bersama kaum muslimin dunnia di Baitullah al-haram.

Sumber: saudigazette.com.sa

Rencana Perjalanan Haji 1436 H / 2015 M

Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) sudah menyusun Rencana Perjalanan Haji (RPH) 1436 H/ 2015 M. Daftar ini berisi jadwal-jadwal penting jemaah haji di Indonesia maupun di Arab Saudi.

Inilah daftar RPH yang detikcom peroleh dalam pelatihan Petugas PPIH:

a. 20 Agustus 2015 (5 Dzulqoidah 1436)= Calon jemaah haji masuk asrama haji.

b. 21 Agustus 2015 (6 Dzulqoidah 1436)= Awal pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang I dari Tanah Air ke Madinah.

c. 30 Agustus 2015 (15 Dzulqoidah 1436)= Awal jemaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah.

d. 3 September 2015 (19 Dzulqoidah 1436)= Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari Tanah Air ke Madinah/ Jeddah pukul 24.00 waktu Arab Saudi.

e. 4 September 2015 (20 Dzulqoidah 1436)= Awal calon jemaah haji Gelombang II dari Tanah Air ke Jeddah.

f. 12 September 2015 (28 Dzulqoidah 1436)= Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah.

g. 17 September 2015 (4 Dzulhijjah 1436)= Akhir pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang II dari Tanah Air ke Jeddah.

h. 17 September 2015 (4 Dzulhijjah 1436)= Closing date KAIA Jeddah (pukul 24.00 WAS).

i. 21 September 2015 (8 Dzulhijjah 1436)= Hari Tarwiyah.

j. 22 September 2015 (9 Dzulhijjah 1436)= Wukuf di Arafah.

k. 23 September 2015 (10 Dzulhijjah 1436)= Idul Adha 1436 H.

l. 24-26 September 2015 (11-13 Dzulhijjah 1436 H)= Hari Tasyrik.

m. 28 September 2015 (15 Dzulhijjah 1436)= Awal pemulangan jemaah haji Gelombang I dari Makkah melalui bandara KAAIA Jeddah ke Tanah Air.

n. 29 September 2015 (16 Dzulhijjah 1436)= Awal kedatangan jemaah haji Gelombang I dari Jeddah ke Tanah Air.

o. 3 Oktober 2015 (20 Dzulhijjah 1436)= Awal pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Makkah ke Madinah.

p. 11 Oktober 2015 (28 Dzulhijjah 1436)= Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang 1 dari Makkah ke bandara KAAI Jeddah.

q. 12 Oktober 2015 (29 Dzulhijjah 1436)= Awal pemulangan jemaah haji Gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.

r.14 Oktober 2015 (1 Muharram 1437)= Tahun baru hijriah.

s. 16 Oktober 2015 (3 Muharram 1437)= Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Makkah ke Madinah.

t. 25 Oktober 2015 (12 Muharram 1437)= Akhir pemulangan jemaah haji Gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.

u. 26 Oktober 2015 (14 Muharram 1437)= Akhir kedatangan jemaah haji Gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.