Virus LGBT Bukan Hal Lucu, Ia Sudah Taraf Bahaya!

Belakangan ini, penyakit LGBT ( Lesbian, homoseksual, biseksual, dan transgender) kembali ramai diberitakan di media.

Merasa mendapat dukungan dari media-media sekular, para pengidap penyakit tersebut kini makin terang-terangan di tengah masyarakat.

Mereka merajalela dan berani berkeliaran dimana-mana. Tanpa rasa malu pengidap penyakit LGBT itu menunjukkan identitas dan meminta legalitas atas keberadaan mereka.

Realitas di atas mengingatkan aku dengan kejadian nyata di salah satu kampus negeri di Kalimantan Timur.

Seorang staf di kampus perguruan tinggi tersebut secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya seorang homoseksual.

Dengan santai dia bercerita, bahwa dirinya pernah bertengkar karena memperebutkan seorang pria di tempat pusat perbelanjaan.

“Kenapa kamu tidak jadi transgender saja?” tanya dosen menggoda.

Penderita homo itu menjawab, “Gak ah, saya gak mau seperti teman saya,” Waktu dia meninggal gak ada yang mau memandikan dia, jadi langsung dikafanin aja, “Innalillah… ternyata benar-benar ada orang yang menganggap hal itu biasa. Aku hanya bisa terperangah mengetahui hal ini.

Aku berharap pihak universitas-universitas atau sekolah-sekolah lebih selektif dalam memperkerjakan karyawan. Dan jika ada siswa atau mahasiswa yang berkepribadian selayaknya LGBT, sebaiknya diobai atau dikarantina saja.

Karena mereka bisa meracuni pikiran orang-orang di sekitar mereka dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM).

Dalam hal ini hendaknya pemerintah lebih tegas menangani kasus LGBT ini.

Wahai saudaraku kaum muslimin, jika belum bisa melakukan hal yang besar untuk permasalahan LGBT ini, maka lakukanlah dengan cara yang sederhana dulu.

Seperti mengingatkan keluarga, tetangga, dan kerabat tentang bahayanya LGBT. Karena sudah jelas keberadaan LGBT menyimpang dari tujuan Allah menciptaan laki-laki dan perempuan, yaitu untuk memperbanyak keturunan.

Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) yang artinya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa [4]: 1).

Ceritakan juga kepada mereka tentang kisah kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah karena perilaku menyimpang mereka. Islam juga menghukumi perilaku LGBT dengan hukuman yang berat.

Rasulullah sangat keras menghadapi kaum seperti ini, bahkan hal itu belum tentu bisa dilaksanakan oleh pemrintahan kita. Rasulullah bersabda:

“Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya).” (HR. Abu Daud).

Bagi para orang tua, perlakukan anak-anak kalian sebagaimana mestinya. karena tidak jarang kita jumpai orang tua yang suka mendadani anak laki-lakinya seperti perempuan, atau sebaliknya dengan alasan sebagai lucu-lucuan.

Rasulullah sangat melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) selalu memberi taufik dan hidayah kepada kita semua. Semoga Allah juga melindungi negeri ini dan para pemimpinnya. Agar para pemimpin bisa membedakan mana haq dan mana yang batil. Wallahu a’lam.*

 

Oleh: Ma’rufah Nur Annisa, Penulis mahasiswi di Samarinda, Kalimantan Timur

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

sumber: Hidyatullah.com

Ketika Azab Allah Meluluh-lantahkan Kaum Gay di Kota Pompeii

Jika kita ingin mengetahui dan melihat salah satu bukti azab Allah SWT yang diturunkan kepada kaum homoseksual, berkunjunglah ke kota Napoly Italia. Di gunung Vesuvius dekat kota Napoli dengan nama The Warning Mountain terdapatlah sebuah kota tua yang bernama Pompeii.

Kota pompeii ini pada zaman kekaisaaran Romawi adalah merupakan sebuah kota wisata bagi bangsawan Romawi karena suasana alamnya yang sejuk dan indah. Namun dibalik keindahan kota tersebut, kota Pompeii berkembang menjadi sebuah kota yang penuh dengan kemaksiatan. Di sana terdapat simbol-simbol organ vital manusia yang terdapat di setiap sudut kota. Semua ini sangat berkaitan sekali dengan kebudayaan mereka yaitu budaya Mithraic, yang memiliki anggapan bahwa organ vital manusia adalah sesuatu bagian dari kenikmatan yang hakiki.

Pompeii pada masa itu merupakan suatu simbol dari degradasi akhlak manusia yang terjadi pada masa kekaisaran Romawi. Di zaman itu kota Pompeii menjadi pusat perzinaan dan surga bagi kaum homoseksual.

Sekitar tahun 79M, Gunung Vesuvius pada kota Napoli meletus. Meletusnya gunung tersebut mengakibatkan Awan panas dan debu vulkanik menghantam kota Pompeii sekaligus menguburnya. Dari foto fosil-fosil peninggalan kota Pompeii tersebut, bisa dilihat keadaan manusia pada kota tersebut. Dari fosil tersebut tampak penduduk kota Pompeii yang melakukan maksiat tidak sadar akan meletusnya gunung Vesuvius dan hantaman awan panas disertai debu vulkanik ke kota Tersebut.

Tampak dari fosil-fosil tersebut mereka mati dalam keadaan melakukan maksiat. Ini adalah bukti bahwa Allah SWT akan memberikan azab kepada makhluk yang melampaui batas.Sekarang fosil-fosil utuh manusia itu dipamerkan sebagai peringatan kepada umat manusia akan kebesaran ALLAH SWT serta azab yang diberikan Allah SWT kepada manusia yang melampaui batas, Hal ini juga pernah diceritakan dalam Al Qur’an tentang bagaimana nasib kaum Nabi Luth as dan “pemusnahan tiba-tiba”.

Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamnuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”(QS. Al Qamar, 54: 33-36)

Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji . Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal ?”.Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”(QS. Al Huud, 11: 77-83)

Setelah 1600 tahun kemudian, seorang arsitek pada saat itu berjalan di sekitar Gunung Vesuvius, ia menemukan sebuah fosil atap dari sebuah bangunan. Kemudian mereka melakukan penggalian. Penggalian yang dilakukan memakan waktu lebih dari 150 tahun untuk mengangkat kota Pompeii ke permukaan.

Pemandangan yang dilihat dari hasil penggalian oleh para arkeolog dunia itu sungguh menakjubkan. Fosil yang masih tampak utuh dan membatu dari tubuh manusia yang tampak awet. Posisi mereka ada yang sedang melakukan maksiat, ada yg sedang jongkok, bahkan ada yg sedang berusaha bangun dari tidurnya. Dari fosil yang ditemukan ada yang sedang melakukan maksiat, tampak beberapa dari mereka memiliki jenis kelamin yang sama ( Homoseks ). Ada juga yang sedang melakukan maksiat dengan anak-anak. Raut muka mereka masih tergambar detail seperti manusia yg masih hidup. (Isl/WarnaMuslim)

 

sumber: IslamNews.co

Cara Tobat dari Homo

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, Ustadz.

Saya sekarang sedang bingung dengan masalah yang saya hadapi dan saya mohon bimbingannya, Ustadz. Begini, saya telah terjerumus ke dalam dunia liwath dan itu sudah terjadi sejak lama. Sampai sekarang, sudah pantas rasanya saya untuk membina rumah tangga karena umur saya sudah kepala tiga. Tapi karena liwath itu, saya sampai saat ini tidak ada semangat untuk menjalani pernikahan karena keraguan dalam diri saya akan kemampuan saya menjalani peran sebagai suami kelak. Saya sangat ingin bisa bebas dari pengaruh liwath ini, Ustadz. Mohon petunjuk, apa yang harus saya lakukan? Terima kasih atas bantuan Ustadz sebelumnya. Saya tunggu jawabannya, Ustadz.

NN (**@yahoo.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Allahu akbar! Perbuatan liwath (melakukan homoseks antar-sesama lelaki dengan sodomi) adalah dosa yang sangat besar. Allah menyebutnya sebagai “al-fahisyah” (kumpulan perbuatan kekejian). Allah berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

Ingatlah Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya, kalian telah melakukan al-fahisyah, yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam ini.‘” (Q.s. Al-Ankabut:28)

Perbuatan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang nuraninya masih baik. Saking jeleknya perbuatan ini, Allah menghukum umat Nabi Luth yang melanggar, dengan empat hukuman sekaligus:

1. Dibutakan matanya (Q.s. Al-Qamar:37).
2. Bumi yang mereka tempati diangkat dan dibalik (Q.s. Al-Hijr:74).
3. Dihujani dengan batu (Q.s. Al-Hijr:74).
4. Allah kirimkan suara yang sangat keras (Q.s. Al-Hijr:73).

Andaikan hukum Islam ditegakkan, orang yang melakukan liwath akan dihukum dengan hukuman mati. Hanya saja, para sahabat berbeda pendapat tentang cara menghukumnya. Ada yang berpendapat dibakar, ada yang berpendapat dijatuhkan dari tempat yang tinggi kemudian dihujani batu dari atas, dan ada yang berpendapat dipenggal kepalanya. Yang jelas, semua sepakat bahwa pelaku homoseks antar-sesama lelaki dihukum mati, baik sudah menikah maupun belum menikah. Dasar masalah ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوا الفاعل والمفعول به

Siapa saja yang berjumpa dengan orang yang melakukan perbuatan seperti tindak-tanduk kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!” (H.R. Ahmad; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Karena itu, bagi Anda yang sempat terjerumus ke dalam perbuatan nista ini, hendaknya serius dalam bertobat kepada Allah. Yang bisa Anda lakukan:

  1. Tinggalkan lingkungan dan semua teman yang menjadi penyebab Anda melakukan kemaksiatan ini.
  2. Banyak memohon ampun kepada Allah, agar Allah menghapuskan dosa dan hukumnya yang menjadi ancaman bagi Anda.
  3. Anda harus bersedih ketika Anda teringat perbuatan ini.
  4. Carilah lingkungan yang baik, yang bisa membimbing Anda untuk melakukan ketaatan.
  5. Penuhi hidup Anda dengan ibadah dan mempelajari agama. Semoga ini bisa menjadi penghalang bagi Anda agar tidak lagi kembali kepada kemaksiatan sebelumnya.
  6. Jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk orang terdekat Anda, termasuk keluarga, istri, orang tua, atau siapa pun dia. Jika Anda ingin berkonsultasi, Anda bisa konsultasikan kepada orang lain yang tidak mengenal Anda, dengan cara yang disamarkan.

Terkait masalah pernikahan, Anda berhak untuk menikah, karena orang yang sudah bertobat itu dianggap tidak melakukan dosa yang dia sesali.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Pengakuan Tiga Lesbian Tobat Usai Shalawatan

Tiga mantan lesbian asal Jakarta mengikuti shalawatan dan santunan yatim di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ahad (3/1). Mereka mengaku terketuk hatinya saat mengikuti agenda tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon KH Ayip Abbas Abdullah yang hadir dalam kesempatan itu mengajak seluruh elemen untuk memperlakukan siapapun dengan baik. Tak terkecuali mereka yang tenggelam di dunia hitam. “Agama adalah akhlak. Marilah sama-sama kita berusaha memanusiakan manusia. Siapapun orangnya,” katanya.

Imel (nama samaran), mantan lesbi mengaku hidupnya tenang. Gelisah yang dulu selalu menerpa ketika di dunia lesbi, kini menghilang. “Jiwa saya tenang sekali. Ada perasaan yang sulit digambarkan. Visual dosa saya tergambar dari kecil. Semua dosa terlihat nyata sekali. Saya menyesal menjadi lesbi,” tuturnya.

Imel mengaku baru setahunan berhenti menjadi lesbian. Dalam hidupnya, ia sudah 20 tahun terkungkung dalam dunia perlesbianan. Setiap kali mengikuti shalawatan dan santunan tak kuat untuk membendung tangis.

Kali pertama mengikuti agenda itu ketika di Jakarta setahun lalu. “Pertama ikut, jiwa saya bergejolak. Lalu berpikir dan memutuskan berhenti jadi lesbi. Sangat berat, Mas.”

Segendang sepenarian. Dini merasakan hal sama. Bedanya, Imel sebagai butchy alias buci, lesbi yang jadi pria; sedangkan Dini sebagai lesbi femme, pelaku sebagai pasangan wanitanya.

“Susah diceritain Mas. Rasanya hati adem. Lalu begitu menyesal tercebur ke lesbi. Saya ingin kembali ke agama,” ucap Dini. Ia telah meninggalkan lesbi setahunan juga usai mengikuti shalawatan dan santunan yatim.

Sudah Merambah Remaja Putri

Dini mewanti-wanti para wanita agar jangan sekali-kali tercebur ke dunia lesbi. Rasa sesalnya seumur hidup. Untuk seluruh orang tua, Dini juga mengingatkan agar mengawasi buah hati wanitanya secara ketat.

“Sekarang lesbi ada juga yang masih SMP. Hati-hati untuk orangtua. Virus lesbi menyebar lebih cepat dari narkoba. Bahkan lebih cepat dari api membakar bensin,” ungkap Dini.

Jika sudah tercebur ke dunia lesbi; alkohol, narkoba, dan seks bebas pasti merasakan. Lalu, kegelisahan hidup akan berlipat-lipat. Hidup tidak tenang. Hal itu diamini Imel dan satu mantan lesbi lainnya, Tika. Dini dan Tika sudah tercebur ke dunia lesbi selama 15 tahun.

Ketiganya berhenti jadi lesbi usai mengenal shalawatan dan yatiman. Sejak itu, mereka terus aktif mengikuti dalam kegiatan tersebut. Meski di Cirebon, mereka tempuh juga.

Tika menambahkan, “Kalau dulu kami selalu gelisah, sekarang ketenangan hidup kami begitu luar biasa. Alhamdulillah. Dan ternyata pesta-pesta dalam lesbi cuma kamuflase rasanya. Setelah pesta menambah ketidaktenangan hidup.”

“Please, jangan pernah terjebak di dunia lesbi,” pinta Tika. (Red: Mahbib)

 

sumber: NU Online

Suara Ibu Membuatku Tobat dari Dunia Lesbi

Namaku Rosi, BMI Hong Kong asal Banten. Aku berkenalan dengan pria yang bekerja di Korea lewat internet. Ketika aku benar-benar jatuh cinta kepadannya, tiba-tiba ia mengkhianatiku dengan menikahi gadis lain di kampung. Dari sanalah kisah kelamku bermula.

Awalnya aku sekadar curhat tentang permasalahan yang kuhadapi kepada si T, sesama BMI Hong Kong. Lama – lama ada rasa tenang dan nyaman yang aku rasakan bila ngobrol dengan T. Merasa sepi tanpa kehadirannya.

Perhatian yang diberikan T layaknya seorang lelaki yang menghawatirkan kekasihnya. Walau kenyataan kami sama-sama perempuan. T memberi semangat, menemani ngobrol setiap saat. Dari sinilah imanku mulai goyah.

T menjadi “lelakinya” dan aku yang perempuannya, walau kami sama-sama wanita. Entah setan mana yang merasuk, namun saat itu ku merasakan kenyamanan bersamanya. Karena sakit hati dengan pengkhianatan pacar, aku stres dan hilang kendali.

Dua tahun bekerja di Hong Kong aku tidak mendapatkan apa-apa karena uang dipakai untuk hura-hura. Lalu di kontrak kedua aku memilih jalan sendiri dan menjadi seorang tomboy (TB).

Karena beban berat dan patah hati dua kali,teman-teman TB menasihatiku, jika aku ingin melupakan T, maka aku harus jadi tomboy. Setelah menjadi TB, aku jatuh hati dengan perempuan yang kebetulan juga berinisial T juga. Mulai dari sana seperti hilang kendali, lupa daratan, lupa tujuan, lupa agama, orang tua, bahkan lupa tanah air.

Banyak kegiatan yang kami lakukan berdua agar kelihatan kompak dan serasi. Dari mulai dancer sampai ke gitar. Intinya agar kelihatan keren.

Suatu hari aku memergoki dia telepon cowok. Dari sana mulai ada pertengkaran. Hatiku mulai gelisah. Karena aku tidak bisa melupakannya.

Semakin lama menjadi TB, membuatku percaya diri, bahkan berjanji sehidup semati dengannya. Lagi-lagi uangku habis untuk menghidupi “pacarku” itu.

Lalu aku kenal kegiatan yang mengasah adrenalin. Dari sana aku mulai ada rasa malu, kenapa aku harus menjadi TB?

Lama berkutat dengan kesibukan baruku, sampai pacarku cemburu dan menuduh aku selingkuh.

Aku cerita ke teman baruku tentang pertengkaranku. Namun teman baruku sering cerita kalau dulu semua anak yang belajar di sini pernah lesbi. Tapi setelah masuk sini, mereka tobat.

Bukan hanya teman baruku yang membuatku malu, guruku juga sering nyindir ketika kita foto bersama. Katanya aku “ganteng”. Secara nurani aku tersinggung karena aku wanita.

Hatiku semakin gersang, pertengkaran sering terjadi.

Ramadhan datang. Kegiatanku libur karena aku harus setia menemani ceweku aktif kegiatan di grupnya. Ada pengajian, buka bersama, ngaji bareng, padahal semua anggotanya lesbian.

Suatu saat ada lomba yang diadakan KJRI Hong Kong bekerja sama dengan majelisku. KJRI mengadakan lomba qiroáh dan kebetulan grup kami diundang untuk mengajukan anggota dan berpartisipasi dalam lomba. Terpilihlah aku. Hari itu malam Nuzulul Qur’an. Aku dandan rapi dan cantik dengan berkerudung dan percaya diri ikut lomba qiro.

Acara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di KJRI berjalan lancar, walaupun aku tidak menang. Banyak akhwat yang mengikuti acara. Ruangan penuh. Semua anggun berjilbab,ramah, dan murah senyum.

Di antara mereka ada yang menyapaku dan bertanya dari majelis apa, spontanitas aku kaget dan bingung mesti jawab apa karena aku bukan perwakilan suatu majelis pengajian apa pun. Aku perwakilan dari grub dancer. Akhirnya terpaksa aku bohong kalau aku berasal dari Majelis Al-Muslimin.

Hatiku tidak karuan, terasa panas dan mau nangis tidak tahu kenapa. Akhirnya perlombaan selesai. Masing masing peserta sibuk dengan mengaji karena sambil menunggu buka bersama.

Aku dan temanku memutuskan untuk keluar ganti kostum dan mencari makan karena lapar. Kami pura- pura berpuasa dari pagi sampai sore.

Ketika di dekat sebuah warung Indonesia, kebetulan ada akhwat dari salah satu panitia lomba. Ia menyapaku pelan, ”Mbak, tadi ‘kan yang ikut lomba ngaji ‘kan?”.

Aku langsung tertunduk malu. Bingung mau jawab apa karena kostumku sudah ganti ala anak TB. Rambut pun diacak-acak pakai hairspray. Akhirnya aku beranikan diri menjawab, mengiyakan, seraya pamit dan cepat- cepat pergi.

Sepanjang perjalanan KJRI Victori park hatiku gundah seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk menangis. Aku coba tahan karena tidak enak dengan teman sebelahku.

Hampir tiap malam, sebelum tidur, aku tidak menelepon ceweku. Walau dia miscall dan SMS banyak kali. Aku hanya menjawab ngantuk dan capek. Setiap hari sudah mulai malas meneleponnya. Hatiku tidak karuan, teringat sapaan dan pertanyaan Mbak panitia lomba waktu itu. Rasanya malu dan hancur sudah membohongi diri sendiri dan banyak orang.

Pertengkaran terus berlanjut antara aku dan ceweku,tapi ada saja alasanku tidak ingin diganggu.Akhirnya ia menuduhku selingkuh dan macam-macam tuduhan lain. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa tidak mau menjawab teleponnya.

Suatu hari aku bilang ke ceweku “bagaimana kalau kita sama sama pakai krudung?” Ia marah, nangis, bahkan ngancam mau bunuh diri. Dia sempat  menyilet pergelangan tangannya, untung lukanya tidak dalam. Karena merasa kasihan dan khawatir dengan keselamatanya, akhirnya aku urungkan niat untuk pakai kerudung dan berjanji tidak akan meninggalkan dia lagi.

Hari demi hari kami lalui sampai hari raya tiba. Aanehnya, kami merayakan hari raya dengan sangat spesial. Bagi yang TB harus memakai sarung, baju koko, dan peci. Sedangkan yang cewek pakai baju panjang dan berkerudung. Padahal kami pasangan yang menyelewengkan agama, tapi dengan “pedenya” merayakan hari raya Idul Fitri dengan kostum itu.

Setelah lebaran, aktivitas liburku kembali normal. Beladiri, dancer, dan gitar. Hubungan kami pun mulai membaik. Tapi lagi-lagi pertengkaran datang karena adanya perbedaan kegiatan dan minimnya waktu bertemu. Dia memaksaku fokus di dancer, sedangkan aku lebih suka belajar beladiri. Masing masing tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya kuputuskan keluar dari dancer dan gitar.

Hanya datang sebentar di grup menemani dia dancer setelah itu waktuku untuk pelatihan bela diri. Semakin lama hatiku tersiksa dengan hubungan lesbi seperti ini, karena tiap minggu bertengkar masalah waktu.

Semenjak pertengkaran itu, semua teman sering membicarakanku. Ada yang bilang “ngapain lesbian, cewek sama cewek apa enaknya, buang waktu aja.” Ada juga yang menyarankan aku untuk tobat. Telingaku memerah. Hatiku panas.

Akhirnya aku sudah mulai terbiasa tidak berkomunikasi dengan ceweku dan merasakan ketenangan.

Tanggal 30 Desember adalah hari yang kutunggu, karena hari itu pertandingan lomba klubku. Sebelum lomba, aku mendapat SMS dari temanku bahwa ketika lomba aku harus pakai kerudung. Pikiranku semakin kacau antara cewekku dan lomba. “Apa kata orang -orang nanti kalau aku tiba tiba berkrudung? Apa kata gengku nanti?” Semua berkecamuk sampai pusing tujuh keliling.

Sampai di tempat lomba, semua sudah bersiap-siap . Hanya aku yang masih bingung mau bagaimana. Lalu temanku menyodorkan kerudung dan menyuruh aku memakainya.

Dia bilang, boleh dilepas setelah lomba. Akhirnya dengan yakin aku ambil kerudung itu dan sebisa mungkin aku memakainya karena sudah lama tidak pakai.

Perasaan jadi aneh. Semua teman- teman di ruang ganti bengong melihat aksi yang terjadi. Mereka hanya melirik dengan tatapan mata yang bermacam-macam artinya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku keluar dari ruangan ganti menuju arena lomba. Hampir semua teman di arena melihatku seolah tidak percaya, bahkan guru pun sampai tidak mengenaliku. Aku hanya bisa diam, senyum, dan cuek dengan mereka. Bagiku, di hatiku sudah merasa tenang, karena temanku selalu berbisik untuk tidak mempedulikan mereka.

Aku menang dalam lomba dan mendapat gold medal, namun selesai perlombaan tidak tahu kenapa aku ingin mencopot jilbab itu.

Perselingkuhan terjadi. Perasaanku mulai goyah lagi di antara tiga pilihan: lanjut sama ceweku yang pertama, jalan sama ceweku yang kedua, atau memilih tobat dan berkerudung?

Ada yang bilang aku “playboy”, suka gonti-ganti psangan. Ada yang bilang aku munafik karena sudah berkerudung tapi masih lesbian.

Semua gosip membuat telingaku panas. Lama aku merenung, sakit bila melihat status di Facebook. Mereka sengaja menyindirku, bahkan mereka beramai-ramai komen membahas tentangku. Sangat menyakitkan, padahal mereka yang berkomen juga lesbian.

Sabar yang aku jalani tidak cukup membuatku tenang. Hampir sebulan terombang-ambing dalam lautan masalah. Mentok di ujung jurang yang dalam, terpojok. Maju salah mundur terluka parah. Stres yang kurasakan mengingatkanku pada seseorang yang selama ini ku lupakan.

Ibu! Ibu kandungku yang membesarkanku dan mengirimku datang ke Hong Kong untuk mencari uang. Ibu yang selama ini sudah kulupakan. Suatu ketika aku menelepon ibu. Ia menangis karena aku tidak pernah memberi kabar. Berbagai macam pertanyaan ia lontarkan,sedangkan mulutku tidak kuasa menjawabnya. Hanya air mata yang keluar, tanpa ada isak tangis. Ia berpesan agar aku rajin shalat dan mendoakannya agar sehat dan kami bisa bertemu kembali.

Setelah telepon ibu, hatiku sedikit tenang, padahal di luar sana aku lagi jadi sorotan. Aku yang sangat pintar, sering berprestasi, tapi kelakuan “preman”.

Akhirnya aku putuskan memakai jilbab dan menelpon cewek baruku serta meminta maaf atas perbuatanku selama ini. Dia cukup mengerti dan menerima bahkan mendukungku. Kini ku anggap dia sebagai adik saja, terkadang ia juga ke masjid walau belum istiqamah tobat.

Sampai sekarang gosip tentangku masih ada, tapi aku tutup telinga karena butuh pegangan yang erat agar tak terjatuh lagi.

Aku mulai aktif lagi bergabung di majelis taklim yang sudah 10 tahun aku lupakan. Sampai sekarang, alhamdulillah, aku bisa yakin dan benar- benar istiqomah tobat. Aku menangis jika ingat masa lalu di dunia gelap itu. (Seperti dituturkan kepada Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

 

sumber:  DD Hongkong

Kisah Gay Bertato yang Masuk Islam dan Kemudian Insyaf

Imam Masjid New York Shamsi Ali menuturkan beberapa tahun lalu ia ditelpon oleh seorang sopir limo di kota New York. Menurut sopir tersebut ada pelanggangnya yang ingin belajar Islam.

“Saya meminta dia (pelanggan sopir) agar datang ke masjid. Suatu hari datanglah orang itu, orang putih tinggi besar dan bertato,” kata Shamsi, Rabu, (16/2).

Setelah laki-laki tinggi besar itu duduk, Shamsi bertanya mengapa pria itu mau belajar Islam? Dia mengatakan karena dia ingin jalan hidup yang menuntunnya dalam 24 jam selama 7 hari dan seluruh hidupnya.

Pria itu bercerita bahwa ia beragama Budha saat itu. Walaupun lahir sebagai Katolik, ia pindah Protestan, dan akhirnya masuk Budha. Bahkan ketika datang, dia berpakaian biksu untuk tujuan menghargai Shamsi sebagai imam masjid.

Shamsi pun menjelaskan bagaimana Islam menuntun hidup manusia dalam 24 jam sehari semalam. Baru beberapa menit pria itu memotong pembicaraan dan bertanya: apakah benar ia bisa diterima sebagai Muslim?

“Saya jawab, semua manusia dirangkul oleh Islam dan semua memiliki peluang yang sama untuk menjadi yang terbaik. Saya kemudian lanjut menjelaskan tuntunan Islam,” terang Shamsi.

 

Pria itu kembali memotong pembicaraan lagi dan bertanya, “Apa anda yakin, kalau saya akan bisa diterima oleh Islam?”. Karena terkejut Shamsi lalu bertanya mengapa pria itu bertanya demikian? Lalu laki-laki berbadan besar itu mengaku dirinya seorang gay.

“Sejak kapan anda merasakan seperti itu? Apakah sejak kecil?” tanya Shamsi.

Pria itu sempat terdiam sejenak lalu membantahnya. Ia menceritakan ia baru menjadi gay ketika memulai bisnisnya di bidang event organizer dalam bidang fashion show. Pergaulannya di dunia model yang menjadikannya memiliki kecenderungan untuk menyukai sesama lelaki.

Shamsi menerangkan kepada pria itu, menjadi Muslim bukan sekedar pindah agama tapi melakukan perubahan, termasuk untuk mengubah orientasi seksualnya. Shamsi bertanya kepada laki-laki gay itu, apakah anda mau berubah? Laki-laki itu menjawab dengan tegas, ya saya mau.

 

“Alhamdulillah setelah masuk Islam, dua bulan kemudian di bulan Ramadan pria itu menelpon saya memberitahu kalau dia puasa dan merasakan ketenangan,” jelasnya.

Setahun kemudian di musim haji, Shamsi kembali mendapat telpon menyampaikan bahwa pria itu sedang berada di Maroko untuk melamar calon isterinya. Rupanya diam-diam dia mencari jodoh lewat biro jodoh di internet.

“Alhamdulillah, teman kita ini sudah berkeluarga dan berbahagia. Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa berubah. Apalagi itu adalah bagian dari preferensi gaya hidup,” ujar Shamsi.

Shamsi mengaku kurang mengerti dengan mereka yang membela homo dan lesbi. Di satu sisi meninggikan ‘kemampuan manusia untuk menentukan pilihan’. Tapi di sisi lain mereka berargumen seolah kaum homo dan lesbi itu tunduk patuh pada ketentuan lahir.

 

sumber: Republika Online

Saat Jenazah LGBT Telantar, Siapa yang Menshalatkan?

Keberadaan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Surabaya disebut memprihatinkan. Pendiri Kawan Pelangi, sebuah ormas yang menangani pasien marginal di Surabaya, Mila Machmudah Djamhari, mengakui kerap menemukan kasus pasien HIV/AIDS yang merupakan LGBT telantar.

Dia pun mengenang kejadian pada April 2015 lalu. Ketika itu, dua korban HIV/AIDS wafat di RSUD Dr Soetomo. Satunya waria, sedangkan lainnya merupakan gay. “Mereka sudah dua hari meninggal, tapi tak ada respons apa pun dari keluarga dan dari teman-temannya,” ungkap Mila saat berbincang denganRepublika.co.id, Selasa (2/2).

Untuk pasien waria, kata Mila, memang sudah tidak ada keluarga yang mendampingi. Sementara itu, pasien gay ditolak oleh keluarga mereka. Pihak Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya pun mengontak Mila untuk meminta solusi atas jenazah dua LGBT tersebut.

Menurut Mila, berdasarkan prosedur dari RSUD Dr Sutomo, jenazah tanpa penanggung jawab akan dikumpulkan hingga sepuluh. Setelah itu, jenazah tersebut akan dikuburkan tanpa mendapat penanganan sesuai dengan agama yang dipeluknya. Kendala tidak adanya keluarga yang menerima jenazah tersebut, pun membuat jenazah itu dalam status telantar.

Tak kehilangan akal, Mila lantas mengontak seorang aktivis organisasi masyarakat (ormas) Islam Abu Taqi Machiky Mayestino Triono Soendoro. Dia meminta saran kepada Abu Taqi apakah ada lembaga Islam yang bersedia menangani jenazah penderita HIV/AIDS tersebut.

“Kemudian, dikonfirmasi kepada saudara di STAI Ali bin Abi Tholib. Dari beliau-beliau direkomendasikan ke saudara Ustaz Hilmi Basyrewan dari Yayasan Dakwah Bil Hal,” kata Mila.

Sebelum meminta kepada sang ustaz untuk menangani dua jenazah tersebut, Mila mengaku menjelaskan kepada Ustaz Hilmi bahwa dua jenazah itu mengidap HIV/AIDS dan memiliki perilaku seksual menyimpang. Kemudian, kata Mila, ustaz itu hanya menjawab. “Asal dia Muslim, itu ladang amal kami,” kata Ustaz Hilmi seperti ditirukan Mila.

Jenazah waria pun dimandikan dan dishalatkan pada sore hari oleh Ustaz Hilmi. Jenazah itu lalu diantar dengan ambulans milik Dinkes Pemkot Surabaya ke permakaman.  Untuk jenazah gay, kata Mila, pihak dinkes melakukan pendekatan kepada keluarganya agar bisa menerima kondisi jenazah putra mereka. “Akhirnya, keluarga dan masyarakat pun menerima untuk memakamkannya di permakaman kampung,” ujarnya.

Kata Mila, tak ada satu pun ormas pro-LGBT yang melakukan pendampingan terhadap para pasien HIV/AIDS yang LGBT di rumah sakit tersebut. “Mereka kan hanya menggerakkan gaya hidup. Pada saat mereka sakit, coba saja di RSUD Dr Soetomo tidak kelihatan. Baru ketika ada proyek ditangani,” katanya.

Dia menjelaskan, hanya ormas waria yang menunjukkan kepedulian. Hanya saja, dia mengungkapkan, mereka terkendala dengan dana dan jaringan. Karena itu, mereka pun bergandengan dengan Kawan Pelangi untuk mendampingi para pasien korban HIV/AIDS.

Mila mengatakan, meski tidak setuju LGBT karena bertentangan dengan ajaran agama, dia memiliki banyak teman LGBT, dari homoseksual hingga waria. Kebanyakan mereka aktif di organisasi Kawan Pelangi bentukannya. Hanya, Mila mengaku kerap berusaha untuk menunjukkan kepada mereka untuk kembali pada fitrahnya masing-masing.

Berbisnis Ala Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW adalah seorang yang kaya pada zamannya dulu. Sudah seharusnya kita sebagai umatnya untuk mengikuti jejaknya. Karena hidup bukanlah hanya pasrah kepada nasib.

Menurut beberapa sumber, rasulullah meraih kesuksesan dalam berbisnis di 6 kota berbeda. 4 diantaranya adalah Syam (Syuriah), Bahrain, Yordania, dan Yaman. Semua bisnisyang dijalankan oleh beliau menciptakan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan menurut beberapa sumber, ia nyaris tidak mengalami kegagalan dalam berbisnis. Lalu bagaimana strategi beliau dalam menjalankan bisnis yang untuk mencapai kesuksesan? berikut ulasannya.

JUJUR DALAM BERBISNIS

Kejujuran adalah kunci dalam berbisnis. Inilah salah satu metode yang diterapkan oleh rasul. Bahkan saking jujurnya, ia mendapatkan gelar Al-Amin yang berarti terpercaya. Rasulullah awalnya mendapatkan barang dagangan dari seorang saudagar kaya bernama Khadijah yang kemudian membuatnya terpikat lalu menjadikannya seorang istri.

Kejujuran menjadi sebuah branding tersendiri pada dagangan beliau. Orang-orang lebih memilih untuk membeli kepadanya karena merasa aman tidak akan ditipu. Ini karena beliau selalu menjelaskan apa adanya tentang apa yang ia jual kepada pelanggannya.

MENGHORMATI PELANGGAN

Rasulullah memperlakukan pelanggannya layaknya seorang saudara yang harus dibantu. Bagi beliau, bisnis adalah sebuah kegiatan dimana kita akan membantu seseorang dalam memecahkan masalahnya. Itulah inti bisnis yang sesungguhnya. Oleh karena itu beliau sangat hormat dan santun kepada pelanggannya layaknya saudara. Seperti salah satu sabda beliau:

Sayangilah saudaramu layaknya menyayangi dirimu sendiri.

MENEPATI JANJI

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janjimu (QS Al-maidah:1)

Seperti yang kita tahu, dalam melayani pelanggan kita harus menepati janji. Misalnya memenuhi deadline sesuai dengan yang sebelumnya telah disepakati. Ini akan menjadi nilai plus tersendiri bagi bisnis kita. Inilah salah satu yang di terapkan rasulullah SAW.

Baginya, menepati sebuah janji adalah sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Bahkan bukan hanya menepati janji, beliau juga melakukan tugasnya dengan integritas yang tinggi sehingga membuat pelanggannya sangat puas.

HANYA MENJUAL PRODUK YANG BERKUALITAS

Rasulullah hanya menjual produk yang berkualitas saja. Beliau tidak pernah menjual produk yang rusak atau tidak layak untuk dijual. Dan ia juga memilah-milah produk yang berkualitas tinggi dan rendah untuk disesuaikan dengan harganya. Namun bukan berarti ia juga menjual produk yang tidak layak untuk dijual.

 

Suatu ketika rasulullah pernah memarahi seorang pedagang yang tidak jujur karena mencampur jagung basah ke dalam tumpukan jagung kering yang akan dibeli. Bukan hanya melanggar syariat agama, tapi perbuatan ini juga akan membuat pelanggan tidak akan kembali lagi.

TIDAK MENJELEK-JELEKKAN BISNIS ORANG PESAING

Seperti sabda beliau:

Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain. (HR Muttafaq)

Rezeki sudah ada yang mengatur, oleh karena itu rasul sangat melarang seseorang menjelek-jelekkan dagangan pesaingnya. Karena sejatinya prinsip sebuah bisnis adalah bagaimana cara kita memuaskan pelanggan, bukan malah menjatuhkan pesaing. Naikkanlah kualitas bisnis kamu, dan biarkanlah pelanggan yang akan menilainya.

DILARANG MENYIMPAN/MENIMBUN BARANG

Menyimpan/menimbun barang demi sebuah keuntungan dilarang oleh islam. Misalnya seperti fenomena yang baru saja terjadi yaitu kenaikkan harga bbm. Karena harga bbm akan naik, kamu menyetok banyak bbm untuk dijual kembali pada saat harga bbm naik. Di dialam islam ini disebut ihtikar dan sangat dilarang. Jual lah barang dengan harga yang sesuai dengan kondisi pada saat itu juga.

MEMBAYAR GAJI KARYAWAN TEPAT PADA WAKTUNYA

Bayarlah gaji karyawan tepat pada waktunya. Karena mereka sudah rela memberikan waktunya ke kamu, maka kamu wajib membayarnya tepat waktu. Jika waktu pemberian gaji tanggal 1, maka kamu wajib membayarnya di tanggal 1. Seperti salah satu sabda rasul:

Berikanlah upah kepada karyawan sebelum kering keringatnya.

BISNIS JANGAN SAMPAI MENGGANGGU IBADAH

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku (QS Adzdzariyat:56)

Dalam kehidupan, bisnis bukanlah semata-mata yang harus dikejar. Ada banyak orang yang melupakan sholat dan bahkan lupa membayar zakat karena kesibukkannya dalam bekerja. Allah swt amat tidak suka hal ini. Bekerja memang bagian dari ibadah, namun itu bukanlah hal yang utama.

Itulah strategi rasul dalam menjalankan bisnisnya. Ini sangat masuk akal dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Maka sudah seharusnya kita sebagai entrepreneur muslim harus menerapkan apa yang sudah rasul lakukan dalam menjalankan sebuah bisnis.

Orang-Orang yang Menepati Janjinya Kepada Allah

Semoga Allah merahmati Anas bin Nadhir. Ia adalah seorang syahid Perang Uhud yang telah memenuhi janjinya kepada Tuhannya. Dia sangat menyesal tidak hadir di Perang Badar, karenanya dia merasa kehilangan banyak kebaikan dan pahala yang besar. Anas tidak turut serta dalam Perang Badar bukan karena takut atau dia seorang yang munafik. Dia mengira tidak akan terjadi perang, dia menyangka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hanya untuk mencegat kafilah dagang orang-orang Quraisy, dan Rasulullah tidak mewajibkan para sahabatnya untuk berangkat.

Anas telah berjanji kepada Allah, “Jika Allah memberiku memberiku kesempatan hadir di medan perang melawan musuh-musuh-Nya, niscaya Dia pasti melihat apa yang aku lakukan.”

Di Perang Uhud, kaum musyrikin lari tunggang langgang di awal peperangan di saat kaum muslimin bersikap benar. Allah mewujudkan janji-Nya kepada mereka, akan tetapi manakala kaum muslimin menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bercerai-berai sementara peperangan kembali memanas. Anas melihat keadaan dan situasi telah berubah. Dia melihat teman-temannya seraya berkata, “Wahai Saad, aku mencium bau surge di balik Gunung Uhud,” Anas meliah kaum muslimin yang terpukul mundur, maka ia berkata, “Ya Allah, maafkanlah aku dari apa yang mereka lakukan.” Dia pun maju menyerang musuh seperti seekora rajawali menyerang mangsanya. Kekuatan iman mendorongnya, ada kehidupan mulia yang diidam-idamkannya setelah dia meninggalkan kehidupan ini. Dia ingin memenuhi janjinya, dan dia menunjukkannya kepada Allah Ta’ala.

Perang pun usai, kaum muslimin mendapati tubuhnya menjadi ladang bagi pedang, tombak, dan anak panah, sampai-sampai para sahabat tidak mengenalinya lagi. Wajahnya berubah, hanya saudara perempuannya yang mengenalinya dari tanda yang terdapat di jari tangannya. Saad menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kepahlawanan Anas, “Y a Rasulullah, demi Allah, aku tidak kuasa melakukan apa yang telah dilakukan oleh Anas.”

Sikap Anas ini mengingatkanku pada sikap seorang badui yang beriman dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sang badui diberi harta rampasan perang sebagai haknya, dia malah bertanya kepada Rasulullah, “Apa ini?” Rasulullah menjawab, “Harta rampasan perang yang menjadi hakmu.” Badui itu menjawab, “Aku tidak mengikutimu demi ini. Aku mengikutimu agar aku bisa berperang di jalan Allah, lalu anak panah menembus ini (dia menunjuk kepada lehernya). Maka aku mati dan masuk surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ucapan itu jujur, Allah akan mewujudkan keinginanmu.”

Pada perang berikutnya, badui tersebut dibawa kepada Rasulullah dalam keadaan anak panah tertancap di lehernya. Rasulullah bertanya, “Diakah itu?” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia membenarkan Allah, maka Allah membenarkannya.”

Begitu pula pemuda yang meninggalkan shalat di belakang Mu’adz radhiallahu ‘anhu, dengan alasan bacaan Mu’adz terlalu panjang. Mu’adz menuduhnya munafik. Maka pemuda itu mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah berkata kepada Mu’adz, “Apakah kamu seorang pembuat fitnah wahai Mu’adz?” Lalu beliau berkata kepada pemuda itu, “Apa yang kamu lakukan jika kamu shalat wahai anak muda?” Dia menjawab, “Aku membaca Al-Fatihah. Aku memohon surga dan perlindungan dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku dan Mu’adz sama-sama membaca apa yang kamu baca.” Kemudian pemuda itu mengatakan, “Mu’adz akan tahu siapa aku kalau musuh datang.” Pada saat itu kaum muslimin mendapatkan informasi bahwa ada musuh yang hendak datang menyerang. Beberapa saat, benar saja musuh datang menyerang. Kaum muslimin pun tak gentar menghadapi mereka. Pemuda itu ikut serta bertempur dan dia gugur sebagai syahid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz, “Apa yang terjadi pada pemuda itu?” Mu’adz menjawab, “Ya Rasulullah, dia telah membenarkan Allah dan aku berbohong. Dia gugur syahid.”

Generasi pertama adalah generasi yang benar dalam akidah dan perbuatan mereka. mereka bertolak dari akudah yang kuat dan niat yang teguh. Jika kita meneliti orang-orang seperti ini, orang-orang yang tidak hanya berbicara, niscaya kita akan mendapati ratusan bahkan ribuan teladan yang mengagumkan. Mereka adalah realisasi dari firman Allah,

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kita memerlukan orang-orang mukmin seperti mereka. orang-orang yang ucapannya sesuai dengan akidahnya. Perbuatannya membenarkan ucapan dan akidahnya. Mereka sadar bahwa mereka menisbatkan diri mereka kepada Islam dengan hati, perasaan, tingkah laku, harapan, dan penderitaan. Mereka menegakkan hubungan mereka dengan orang lain, baik dalam bentuk kecintaan ataupun kebencian, di atas petunjuk kitabullah, Alquran.

Kita memerlukan orang-orang mukmin seperti mereka. Apakah kita termasuk sebagian dari mereka? Semoga. Jika tidak, maka berusahalah dan semoga Allah memberi pertolongan.

 

Sumber: Ensiklopedi Generasi Salaf/Kisah Muslim