Manfaat Shalat Dhuha

Ass Ustad,,,,

saya mau bertanya apa manfaat sholat dhuha & apa saja makna dari sholat dhuha tersebut???

oya satu lagi ustad,,,apakah di perbolehkan jika kita jarang untuk sholat subuh tapi untuk sholat dhuha kita sering melakukannya….(hampir tiap hari sholat dhuha )

sekian dulu pertanyaan dari saya ustad,,,

Ass…

Hamba Allah

Waalaikumussalam Wr Wb

 

 

Jawab:

Ada yang mengatakan bahwa shalat dhuha juga disebut shalat awwabin. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa keduanya berbeda karena shalat awwabin waktunya adalah antara maghrib dan isya.

Waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan berakhir hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik.

Adapun diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Juga apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya,”Siapakah yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau saw menjawab,”Dahak yang ada di masjid, lalu pendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Didalam riwayat lain oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh berkata,”Nabi saw kekasihku telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat dhuha dan mengerjakan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah bahkan para ulama Maliki dan Syafi’i menyatakan bahwa ia adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits-hadits diatas. Dan dibolehkan bagi seseorang untuk tidak mengerjakannya.

Berbeda dengan shalat shubuh maka tidak ada perbedaan dikalangan ulama bahwa ia adalah wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya dan berdosa jika ditinggalkan. (baca : Cara Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan).

Dengan demikian tidak dibenarkan bagi seorang yang hanya mengerjakan shalat dhuha yang kedudukannya sunnah sementara dirinya meninggalkan shalat shubuh yang kedudukannya lebih tinggi darinya yaitu wajib.

Wallahu A’lam

-Ustadz Sigit Pranowo Lc-

 

 

sumber: EraMuslim.com

Penjajah Zionis Serbu Masjid Al-Aqsha, 110 Orang Korban

Pasukan penjajah Israel hari Ahad (13/09/2015) pagi, mengepung Kota Tua (Baldah Qadimah) di al Quds dan mendirikan pos-pos pemeriksaan militer di gerbang-gerbangnya.

Pasukan dalam jumlah besar menyerbu area masjid al Aqsha dan Mushala al Kibli. Mereka menghujani para jamaah di dalam masjid al Aqsha dengan tembakan meriam suara, gas dan peluru karet. Sehingga sejumlah jamaah mengalami luka.

Menurut sumber-sumber di al Quds dikutip PIC, jumlah korban yang terluka akibat penyerbuan ini mencapai 110 orang.

Sejak pagi pasukan penjajah Zionis melarang semua kaum perempuan dan laki-laki di bawah usia 50 tahun, semua pelajar sekolah syariat, para penjaga dan pegawai wakaf untuk masuk ke masjid al Aqsha.

Menurut Pusat Informasi Urusan al Quds dan al Aqsha, pasukan penjajah Zionis menyerbu mushalat al Kibli hingga berjarak beberapa meter.

Mereka menghujani para jamaah yang beri’tikaf di dalamnya dengan gas beracun dan peluru karet. Sehingga mengkibatkan banyak jamaah mengalami sesak nafas dan terluka. Anggota pasukan Zionis juga menyerang para penjaga masjid al Aqsha dengan brutal dan menangkap salah seorang dari mereka.

Asap membumbung di sisi selatan mushalat al Kibli. Kebakaran meletus di sisi selatan mushala al Kibli. Kaum laki-laki dan anak-anak yang ada di dalam masjid al Aqsha segera memadamkannya.

Sejak pagi, sejumlah warga Palestina dari al Quds dan wilayah Palestina terjajah tahun 1948 telah bersiaga di sekitar masjid al Aqsha di depan puluhan pos militer yang didirikan pasukan penjajah Zionis di sekitar masjid al Aqsha, di samping para jamaah yang sudah beri’tikaf di dalam masjid sejak Sabtu malam.

Di area masjid al Aqsha saat ini sedang terjadi konfrotnasi sengit antara pasukan penjajah Zionis dan para jamaah. Pasukan penjajah zionis mengeluarkan mereka dengan paksa dari dalam masjid al Aqsha.

Menteri Pertanian Zionis Ory Ariel bersama sekitar 40 pemukim Yahudi menyerbu masjid al Aqsha dengan mendapatkan penjagaan dan perlindungan ketat dari pasukan penjajah Zionis.

“Kami tidak bisa menggambarkan kehancuran yang terjadi pada mushalat al Kibli. Dan kami tegaskan bahwa kehancuran saat ini belum pernah terjadi sejak pembakaran yang dilakukan teroris Yahudi pada 21 Agustus 1969,” ujar seorang jamaah di dalam masjid al Aqsha dikutip PIC.

Menurut keterangan para saksi mata, pasukan penjajah Zionis mencegah bantuan medis mendekati lokasi dan mengevakuasi korban. Pasukan Zionis menyita alat pemadam kebakaran yang ada. Mereka menghancurkan semua jendela mushala al Kibli. Sebagian serdadu berusaha naik ke atas mushalat al Kibli dan menguasai para jamaah yang ada di dalamnya.

Lebih serius, pasukan polisi penjajah Zionis mencegah para pegawai dan penjaga masjid al Aqsha masuk ke dalam masjid. Mereka mengusir siapa saja yang ada di dalamnya dan menyerang Direktur Wakaf di al Aqsha, Syaikh Umat Kiswani, dan penjaga utama.

Di sekitar masjid al Aqsha, konfrotnasi meletus sengit, tempatnya di pintu Hitah, antara anggota kepolisian penjajah Zionis dan para pemuda yang dicegah masuk masjid al Aqsha.

Sebaliknya, polisi penjajah Zionis mengizinkan puluhan pemukim pendatang Yahudi untuk masuk masjid al Aqsha melalui pintu barak masjid (al Magharibah) dengan mendapatkan penjagaan dan perlindungan ketat, di antara mereka ada Menteri Pertanian Zionis Ory Ariel.

Kecaman Meluas

Sejumlah tokoh dan lembaga Islam Arab dan Palestina mengecam kejahatan terakhir penajajh Israel terbaru di Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.

 

Esesco, organisasi pendidikan, pengajaran dan kebudayaan Islam mengutuk penyerbuan tentara Zionis ke Masjid Al-Aqsha.

Dalam keteranganya, Esesco menganggap tindakan tentara Zionis tersebut sebagai sebuah kejahatan teroris yang harus dikecam oleh Negara manapun atau organisasi apapun di dunia, disamping memberikan sangsi kepada para pelaku.

Sementara itu, Kepala Urusan Agama Turki, Muhammad Cormakh mengecam penyerbuan pemukim dan serdadu ke pelataran Al-Aqsha dan melakukan penodaan terhadap Masjid Kiblati.

Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas Izet Rasyq mengatakan bahwa penyerbuan dan penodaan yang dilakukan Menteri Pertanian Zionis dan para gerombongan pemukim Yahudi ke masjid al Aqsha hari Ahad (13/09/2015), adalah kejahatan perang, yang bertujuan mengukuhkan rencana penjajah membagi masjid menjadi dua; antara kaum Muslimin dan orang Yahudi secara waktu dan tempat.

“Kebrutalan dan kejahatan penjajah Zionis terhadap masjid al Aqsha dan pembakaran mushala al Kibli pada hari ini (Ahad, red), merupakan eskalasi berbahaya dalam serangkaian kejahatan penjajah Zionis terhadap masjid al Aqsha dan tempat-tempat suci di Palestina,” ujar Rasyq.

“Penyerbuan Mushala al Kibli dan pengusiran penjaganya, serta laragan bagi para penuntut ilmu untuk masuk ke dalamnya, merupakan kejahatan yang melanggar semua garis merah. Kami tidak akan membiarkan pembagian al Aqsha terjadi, apapun yang harus ditanggung,” tambahnya.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

sumber: Hidayatullah.com

Sering Merasa Dengki? Inilah Cara Mengatasinya

Oleh Nashih Nashrullah

Hasad atau iri-dengki merupakan satu dari sekian penyakit yang mematikan. Bagaimana tidak, penyakit tersebut, seperti diidentifikasikan oleh Ibnu Hajar, sebagaimana dinukilkan dari kitab Fath al-Bari, seseorang tidak ingin nikmat yang diimiliki orang lain itu bertahan lama. Bila perlu, segera hilang dari tangannnya. Bahkan, ganti berpindah ke pangkuan pelaku hasad tersebut.

Apa dan bagaimana hal ihwal hasud? Topik ini dibahas oleh Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad. Sekalipun uraiannya tidak selengkap layaknya sebuah eknsiklopedi, tetapi besutan sosok yang akrab dipanggil dengan sapaan Abu Abdullah itu cukup lengkap dengan bahasa yang renyah dan menyentuh semua lapisan masyarakat. Ini penting lantaran dengki menyerang siapa pun, tak peduli latar belakangnya.

Syekh Musthafa mengemukakan, dengki bisa saja muncul akibat beberapa faktor. Pemicu yang paling banyak mendominasi adalah permusuhan dan kebencian, yang barangkali termanifestasikan dalam perilaku ataupun tidak. Faktor ini juga mungkin timbul akibat perlakuan lalim terhadap si pelaku dengki.

Sumpah serapah pun dengan mudah menyeruak, entah celaka, binasa hartanya, atau dampak tak mengenakkan lainnya. Kecintaan terhadap harta dan jabatan juga bisa mendorong dengki diri seseorang. Ambisi meraih itu semua terkadang membutakan nurani. Bahkan, tak jarang pula menempuh berbagai cara agar orang lain sulit mencapai pangkat tersebut.

Teguran agar menjauhi pemicu dengki ini pernah disebutkan dalam surah an-Nisaa’ ayat 54. “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”

Rasa dengki juga bisa datang akibat berebut popularitas. Dan, kesemua faktor tersebut bermuara pada satu pangkal sebab, yakni lemahnya spiritualitas. Frekuensi iri yang ada dalam diri seseorang terkadang melintas ruang dan waktu. Namun, kadarnya akan semakin akut bila jarak antarkedua belah tak jauh. Misal, sesama karyawan dalam satu perusahaan, antartetangga kompleks perumahan, atau teman bisnis.

Bila dengki ini dibiarkan, ungkap Syekh Musthafa, bisa berakibat fatal. Pendengki sejatinya telah menafikan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Setiap makhluk memiliki nasib dan rezeki yang berbeda-beda. Ketetapan tersebut, seperti penegasan hadis riwayat Muslim dari Amr bin al-Ash, telah ditentukan sebelum Allah SWT menciptakan langit dan bumi, sekitar 50 ribu tahun.

Kedengkian yang berlarut-larut pula, perlahan tanpa disadari, akan mengikis kebaikan pendengki itu sendiri. Dan, para pendengki itu kelak akan mempertanggungjawabkan kelakuannya tersebut di akhirat. Efek negatif dengki tak terhenti pada sanksi di akhirat, tetapi juga akan dirasakan dampaknya di kehidupan dunia.

Perasaan gundah gulana, khawatir, dan sakit hati akan selalu menghantui hari demi hari si pendengki. Dalam titik tertentu, terkadang ironsinya, ia malah mengharapkan petaka bagi dirinya sendiri. Dan, rasa dengki itu hanya akan menyebabkan yang bersangkutan terkucil dari lingkungannya. Karena itulah, rasa dengki dengan kriteria di atas sangat dikecam dalam agama. “Ini bukti keluhuran tuntunan Islam,” kata Syekh Musthafa.

Syekh Musthafa pun memaparkan beberapa solusi dan cara sederhana guna mengikis kedengkian dalam diri seseorang. Ingat, bertawakallah selalu. Karena, ungkap Ibnu al-Qayyim, hanya dengan bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian akan seseorang. Jika memosisikan Allah sebagai satu-satunya pelindung, sejauh itu pula penjagaan akan selalu ada. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS at-Thalaq [65]: 3).

Sebagai langkah antisipasi, jangan sesekali menceritakan apalagi sengaja memanas-manasi ‘si pendengki’ dengan kisah-kisah tentang nikmat dan anugerah yang Anda peroleh.

Memang, ada anjuran untuk menceritakan nikmat, tetapi tak selamanya niat baik itu tepat sasaran. Inilah mengapa Nabi Ya’qub AS melarang putranya, Yusuf AS, mengisahkan mimpi yang dialami putra kesayangannya tersebut kepada segenap saudaranya. (QS Yusuf [12]: 5).

Larangan ini juga seperti ditegaskan dalam hadis Abu Qatadah riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW melarang menceritakan mimpi baik, kecuali kepada orang yang ia percayai.

Resep membendung rasa dengki selanjutnya, menukil dari pernyataan Ibn al-Qayyim, bersikap cuek dan berusaha membersihkan pikiran dari tingkah laku pendengki. Biarkan seperti angin lalu saja. Bahkan, akan sangat baik bila Anda membalas perlakuan buruk itu dengan tindakan baik. Memadamkan api kedengkian itu dengan balasan berupa perbuatan terpuji. “Tetapi, ini sangat sulit,” kata Ibn al-Qayyim.

Dan terakhir, selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki, entah mereka yang berada jauh dari Anda, ataupun yang dekat dengan Anda sekalipun. “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS al-Falaq [113]: 2)

 

 

sumber: Republika Online

Terdapat Tujuh Faktor Kenapa Penyakit Hasad Dengki Menguasai Diri Manusia

Oleh: Ustaz Abu Basyer

 

Sahabat yang dirahmati Allah,

Hasad dengki adalah satu sifat mazmumah yang  dibenci oleh Allah S.W.T. Sesiapa yang ada sifat ini sebenarnya ia tidak meredai ketentuan Allah S.W.T  yang telah dikurniakan sesuatu kelebihan atau nikmat kepada seseorang dikalangan hamba-hamba-Nya.

 

Terdapat tiga ciri  sekiranya ada pada diri seseorang ia mempunyai penyakit hasad dengki.

 

1. Yaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.

 

2. Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.

 

3. Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerosakan.

 

 

Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali ada disimpulkan tujuh faktor  yang menimbulkan perasaan hasad dengki tersebut.

 

Antara lain :-

 

1) Perasaan Permusuhan dan Kebencian

 

2) Merasa Diri Mulia

 

3) Takabbur

 

4) Ujub

 

5) Takut Terlepas Sesuatu Tujuan dan Habuan

 

6) Ghairah Menjadi Ketua dan Mencari Populariti

 

7) Busuk Hati.

 

Huraian faktor-faktor tersebuat adalah seperti berikut.

 

Pertama : Perasaan Permusuhan dan Kebencian

 

Ini adalah sebab yang paling banyak menimbulkan kedengkian. Kerana sesiapa yang disakiti oleh seseorang lain atas sebab-sebab tertentu atau menyangkalnya dalam tujuan-tujuan tertentu lantaran alasan-alasan tertentu, hatinya pasti marah lalu membenci orang yang menyakitinya itu, maka tertanamlah bibit dengki dalam dirinya. Dengki mengundang perlakuan yang agresif untuk memuaskan hatinya.

 

Pendekkata perasaan hasad dengki sentiasa bergandingan dengan perasaan marah dan permusuhan. Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat marah, kerana marah adalah salah satu tabiat manusia. maka agama tidak melarang marah, tetapi kita diperintahkan untuk dapat mengendalikan marah dan senantiasa menjadi pema’af.

 

Fiirman Allah s.w.t  yang bermaksud : “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”

(Surah Al-A’raaf ayat 199)

 

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud : ”Orang yang terkuat di kalangan kamu semua ialah orang yang dapat  mengalahkan hawa nafsunya di ketika dia marah dan orang yang tersabar ialah orang yang suka memberikan pengampunan di saat dia  berkuasa memberikan balasan (kejahatan orang yang menyakitinya)”

(Hadis Riwayat Baihaqi)

 

Kedua : Merasa Diri Mulia

 

Perasaan ini manifestasinya ialah seseorang itu merasa keberatan kalau ada sesiapa yang dianggapnya mengatasi dirinya. Dia tidak rela kalau ada orang lain melebihinya. Kalau ada orang –orang sepertinya yang mendapat lebih pangkat, kuasa, ilmu dan harta, dia bimbang kalau-kalau orang tersebut akan bersikap sombong terhadapnya. Dia tidak boleh tahan dengan sikap mengatasi yang ditunjukkan oleh saingannya itu. Malah dia tidak boleh menerima apa yang dirasakannya sebagai sikap mengatasinya.

 

Ketiga : Takabbur

 

Jelasnya seorang itu mempunyai watak membesarkan diri terhadap orang lain, selalu memperkecilkan dan mempergunakan seseorang untuk kepentingan dirinya. Ia menganggarkan seseorang itu mematuhinya. Apabila orang berkenaan menerima atau memperolehi sesuatu kurnia ia khuatir kalau-kalau orang itu tidak lagi merelakan diri untuk mengikut arahannya. Akhirnya orang yang telah mendapat kurnia tersebut akan enggan mengikutinya, atau boleh jadi ia menganggap orang tersebut akan cuba pula menyainginya.

 

Allah S.W.T. berfirman (di dalam Hadis Qudsi) : “Kesombongan adalah selendangKu dan kebesaran adalah sarungKu. Maka barang siapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasti Kulemparkan ia ke dalam Jahannam dan tidak akan Kupedulikan lagi.” 

Apabila kita meneliti maksud hadis ini, ia dengan jelas menyatakan bahawa kesombongan dan kebesaran itu hanya milik Allah s.w.t. semata-mata, tetapi bagaimanakah perasaan ini masih boleh timbul di dalam hati manusia?

Sebenarnya, perasaan sombong atau takabbur boleh berlaku apabila timbulnya suatu pandangan terhadap orang lain dengan pandangan yang kecil dan hina.

 

Keempat : Ujub (bangga diri)

 

Terdapat tiga ciri-ciri ujub iaitu :

 

a. Iaitu merasai atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.

 

b. Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahawa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahawa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.

 

c. Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahawa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.

 

Pernah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan kepada kita perihal umat-umat di zaman silam. Mereka merasa takjub dengan diri mereka sendiri. Hal ini menghalang mereka menurut kebenaran. Hujjah mereka selalunya ialah seperti yang tertera di dalam Al-Quran :-

 

“Bukankah kamu tak lebih dari manusia(biasa) seperti kami juga?”

 

Dan ungkapan yang berbunyi: “Dan mereka berkata adakah wajar kami mempercayai manusia yang seperti kami juga?”

 

Golongan tersebut merasa aneh melihat orang yang berjaya mendapat pangkat kerasulan, menerima wahyu dan martabat yang dekat di sisi Allah Subhanuahu Wata’ala ialah manusia seperti mereka. Sebab itu mereka menaruh rasa dengki kepada Rasul-Rasul tersebut.

 

Kelima : Takut Terlepas Sesuatu Tujuan dan Habuan

 

Biasanya perasaan ini wujud dalam kalangan orang yang saling berlumba-lumba merebut sesuatu habuan. Tiap orang akan merasa dengki kepada saingannya apabila saingannya mendapat suatu kelebihan yang boleh membantu dirinya sahaja membolot habuan yang menjadi tujuan mereka tadi.

 

Keenam : Ghairah Menjadi Ketua dan Mencari Populariti

 

Umpamanya seseorang yang bercita-cita untuk menjadi manusia pertama yang tidak ada tolok bandingnya dalam salah satu cabang seni. Apabila keghairahan terhadap pujian dan jolokan – bahawa dialah satu-satunya pakar yang tidak ada taranya di zaman itu – telah menguasai dirinya, tiba-tiba dia mendengar ada orang lain yang dapat menandinginya di tempat lain. Hal ini nescaya akan menyusahkan hati perutnya. Ia bercita-cita kalau tandinganya itu mati sahaja atau kemahirannya menurun dan pupus.

 

Ketujuh : Busuk Hati

 

Keadaan ini kalau ada pada seseorang maka ia akan bersikap tidak suka sesuatu kebaikan diperolehi oleh hamba Allah yang lain. Apabila disebutkan dihadapannya tentang kesenangan mana-mana hamba Allah, sempit hatinya mendengar perihal tersebut. Akan tetapi apabila dinyatakan pula sebaliknya, umpama tentang kesusahan, kegagalan dan nasib malang menimpa orang lain maka ia merasa gembira dan suka hati.

 

Sahabat yang dimuliakan,

Marilah sama-sama kita buangkan sifat hasad dengki ini samaada di dalam hati  atau di dalam tindakkan dan amalan kita. Sifat yang keji ini bukan saja mendapat kebencian manusia tetapi yang paling penting sifat ini di benci oleh Allah S.W.T. Hidup di dunia ini adalah sementara dan kehidupan di hari akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi maka tinggalkanlah sifat hasad dengki ini kerana sesiapa yang menuruti sifat ini dia sedang mengikut hawa nafsunya dan mengikut bisikan syaiatan dan akan mendapat azab seksaan dihari akhirat nanti.

 

Diambil dari: http://abubasyer.blogspot.com/2011_01_02_archive.html

 

[Penulis adalah Ahli Teras Pertubuhan IKRAM Malaysia]

Tulisan Menyentuh untuk Aylan Si Balita Suriah

Kau tidak layak untuk tenggelam dalam dinginnya air dan dinginnya ketidakpedulian manusia. Kau bukan migran, bukan pengungsi. Kamu adalah seorang bocah kecil berusia tiga tahun yang ingin bermain dengan aman, jauh dari ancaman kekerasan dan perang. Pergi dalam damai Aylan Kurdi. Semoga Tuhan mengampuni kami karena menewaskanmu,”

Begitulah obituari yang ada di Surat kabar Australia Sydney Morning Herald. Sebuah obituari menyentuh untuk yang ditulis untuk Aylan Kurdi, balita Suriah yang tewas tenggelam dan ditemukan di pantai Turki. Obituari tersebut ditulis seorang penulis anonim.

Seperti dilansir The Huffington Post, Jumat (4/9), sebuah obituari menempati kolom di salah satu surat kabat paling dihormati di Australia. Bersamaan dengan pemakaman Aylan, ibu dan kakaknya yang ikut tewas tenggelam.

Mendampingi tulisan tersebut terpampang sebuah gambar boneka kartu beruang. Sementara di Kobane ayah Aylan, Abdullah Kurdi, memakamkan ketiga anggota keluarganya didampingi kerabat.

 

sumber: Republika Online

Arab Rayakan Idul Adha 24 September 2015

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH — Arab Saudi mengumumkan bahwa Idul Adha 1436 hijriah jatuh pada Kamis (24/9) waktu setempat.

Dikutip dari laman Al Arabiya, Senin (14/9), pengumuman tersebut dibuat setelah pejabat berwenang Arab Saudi yang mengamati bulan Dzulhijjah telah melihat penampakan tubuh bulan. Setelah bulan dapat terlihat, maka diputuskanlah waktu masuknya bulan Dzulhijjah yang juga merupakan bulan ke-12 dalam kalender Islam.

Idul Adha merupakan simbol menghormati kesediaan dan ikhlasnya Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya, Ismail, untuk disembelih. Namun Allah SWT menggantinya dengan kambing.

Hari Raya Idul Adha dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah sesudah para jamaah haji wukuf di Padang Arafah dan melaksanakan rangkaian prosesi ibadah hajinya.

Haji dengan Uang Haram

Tanya: Apa hukum haji dengan uang hasil korupsi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Haji merupakan ibadah yang menggabungkan antara kemampuan fisik dan finansial. Dua kemampuan ini menjadi syarat wajibnya haji. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran: 97).

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang makna istitha’ah dalam ayat di atas. Lalu beliau menjawab,

الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ

“Bekal dan kendaraan.” (HR. Turmuzi 818, Ibn Majah 2897, dan dinilai dhaif sekali oleh al-Albani)

Namun pada prinsipnya, kemampuan finansial menjadi bagian penting dalam haji.

Kaitannya dengan ini, kita hendak menyimpulkan bahwa haji adalah ibadah badaniyah dan maliyah.

Karena ditinjau dari bentuk pengorbanan hamba ketika beribadah, ulama membaginya menjadi 3,

Pertama, ibadah murni badaniyah, itulah semua ibadah yang modal utamanya gerakan fisik.

Seperti shalat, puasa, dzikir, adzan, membaca al-Quran, dst.

Kedua, ibadah murni maliyah. Semua ibadah yang pengorbanan utamanya harta.

Seperti zakat, infaq, sedekah, dst.

Ketiga, ibadah badaniyah maliyah. Gabungan antara ibadah fisik dan harta sebagai pendukung utamanya. Seperti jihad, haji atau umrah.

Sebagian ulama memberikan satu kaidah, ibadah maliyah tidak diterima jika diambilkan dari harta yang haram.

Dr. Abbas Ahmad al-Baz menjelaskan,

العبادة المالية لا تكون مقبولة عن الله تعالى الا إذا كانت من مصدر كسب مشروع، لأن ثمرة الحلال حلال؛ وثمرة الحرام حرام

Ibadah maliyah tidak diterima di sisi Allah ta’ala, kecuali jika dari sumber usaha yang diizinkan syariat. Karena hasil dari yang halal adalah halal dan hasil dari sumber yang haram adalah haram. (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm 291).

kadiah ini berdasarkan hadis,

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan tidak pula sedekah dari harta ghulul (HR. Muslim 224, Nasai 139, dan yang lainnya).

Karena Allah hanya menerima zakat, infak, dan sedekah dari harta yang baik dan halal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَل

Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik, Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik, maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung”. (Muttafaq ’alaih).

Hukum Haji dengan Uang Haram

Ulama berbeda pendapat ketika menentukan posisi kepemilikan harta dalam ibadah haji.

Apakah kepemilikan harta yang ada di tangan jamaah haji merupakan syarat sah haji. Dimana status keabsahan haji tergantung pada status kepemilikan harta. Sehingga jika harta ini dimiliki dengan cara yang tidak halal, maka haji tidak sah.

Ataukah keberadaan harta ini hanya syarat wajib hajib. Artinya, ketika seseorang bisa membiayai dirinya berangkat haji maka dia wajib haji. Terlepas dari sumber apapun dia mendapatkan biaya itu.

Pendapat pertama, hajinya sah, meskipun dia berdosa dengan menggunakan harta haram.

Ini merupakan pendapat Hanafiyah, Syafiiyah, dan salah satu pendapat dalam Malikiyah serta pendapat sebagian ulama hambali.

Mereka beralasan bahwa keberadaan harta, bukan syarat sah haji, namun syarat wajib haji. Karena inti haji adalah melaksanakan manasik sesuai yang dituntunkan. Dan ini tidak ada kaitannya dengan status harta yang digunakan untuk mendanai kegiatan itu.

Sebagaimana shalat tetap sah, sekalipun baju yang dikenakan hasil korupsi. Membaca al-Quran tetap sah, sekalipun mushaf yang dibaca hasil mencuri, dst.

Ketika hajinya dinilai sah, maka dianggap sudah menggugurkan kewajiban.

Ibnu Abidin menjelaskan berhaji dengan harta haram,

فقد يقال إن الحج نفسه الذي هو زيارة مكان مخصوص الخ ليس حراما بل الحرام هو إنفاق المال الحرام ولا تلازم بينهما كما أن الصلاة في الأرض المغصوبة تقع فرضا وإنما الحرام شغل المكان المغصوب لا من حيث كون الفعل صلاة

Alasan yang diberikan bahwa haji sendiri, yang kegiatannya mengunjungi tempat-tempat khusus, bukanlah amalan haram. Yang haram adalah penggunaan harta yang haram. Dan tidak ada keterkaitan antara keduanya. Sebagaimana shalat di tanah ghasab (rampasan), dianggap menggugurkan kewajiban (sah). Namun yang haram adalah menggunakan tanah rampasan itu, dan bukan kegiatan shalatnya. (Hasyiyah Ibn Abidin, 2/456).

Dalam madzhab Malikiyah, al-Wansyarisi – ulama malikiyah – (w. 914 H) menjelaskan,

إذا حج بمال مغصوب ضمنه وأجزأه حجه، وهذا قول الجمهور

Ketika orang berhaji dengan harta hasil merampas, maka dia wajib ganti rugi, namun hajinya sah. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. (al-Miyar al-Muarab, 2/44).

An-Nawawi – ulama syafiiyah – menjelaskan,

إذا حج بمال حرام، أوراكباً دابة مغصوبة أثم وصح حجه، وأجزأه عندنا، وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبدري، وبه قال أكثر الفقهاء، وقال أحمد: لا يجزئه، ودليلنا أن الحج أفعال مخصوصة، والتحريم لمعنى خارج عنها

Orang yang berhaji dengan harta haram atau naik kendadaraan hasil merampas, maka dia berdosa dan hajinya sah serta telah menggugurkan kewajiban menurut kami. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, al-Abdari, dan pendapat mayoritas ulama. Sementara Imam Ahmad mengatakan, “Hajinya tidak sah.” Alasan kami (syafiiyah), bahwa haji merupaka amalan khusus. Sementara haramnya harta, itu faktor luar. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 7/62).

Pendapat kedua, hajinya tidak sah.

Ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Hambali dan Malikiyah.

Karena biaya haji, bagian dari syarat sah pelaksanaan haji. Meskipun pada asalnya ini syarat wajib haji, namun syarat wajib dalam ibadah maliyah, sekaligus menjadi syarat sah.

Al-Wansyarisi menyebutkan keterangan sebagian ulama maliki,

وسئل بعضهم عمن حج بمال حرام، أترى ذلك مجزياً عنه، ويغرم المال لأصحابه؟ فأجاب: أما في مذهبنا فلا يجزئه، وأما في قول الشافعي فذلك جـائز، ويرد المـال، ويطيب له حجه

Sebagian ulama malikiyah ditanya tentang orang yang berangkat haji dengan harta haram, apakah menurut anda itu bisa menggugurkan kewajiban, dan wajib mengganti harta kepada pemiliknya?

Beliau menjawab,

Dalam madzhab kami, itu tidak sah. Sementara dalam madzhab as-Syafi’i, itu boleh. Dan dia wajib mengembalikan hartanya, dan berhaji dengan baik. (al-Mi’yar al-Muarab, 2/43).

Al-Wansyarisi juga menyebutkan keterangan Ibnul Muhriz,

الحج قربة، فلا ينفق فيه إلا الطيب من الكسب. فقد رُويَ عنه في الحديث صلى الله عليه وسلم أنه قال: مَنْ حَجَّ بمَالٍ حَرَام فَقَال لَبِّيْكَ نودي لا لّبَّيْك وَلاَ سَعْدَيك، فارجع مأزُوراً غَيْرَ مأجُورٍ

Haji itu ibadah. Karena itu, jangan didanai kecuali dari hasil yang halal. Diriwayatkan sebuah dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa berhaji dengan harta haram, lalu dia bertalbiyah, “Labbaik..”  maka dijawab untuknya, “Tidak ada labbaik dan tidak ada sa’daik.., pulanglah dengan membawa dosa dan bukan pahala.”.’

(al-Mi’yar al-Muarab, 2/42)

Hadis yang dibawakan Ibnul Muhriz, disebutkan al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, dan statusnya dhaif sekali.

Ibnu Rajab – ulama hambali – menjelaskan,

وأما الحج بالمال المغصوب ففي صحته روايتان فقيل لأن المال شرط لوجوبه وشرط الوجوب كشرط الصحة

Haji dengan harta hasil rampasan, tentang status keabsahannya, ada dua riwayat. Ada yang mengatakan, bahwa harta merupakan syarat wajib haji. Dan syarat wajib, seperti syarat sah. (al-Qawaid al-Fiqhiyah, hlm. 23)

Tarjih:

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa haji dengan harta haram hukumnya sah, telah menggugurkan kewajiban, meskipun sangat tidak berkualitas. Karena inti haji adalah aktivitas manasik selama masa haji, dengan aturan sebagaimana yang disebutkan dalam fiqh haji.

Selama jamaah haji melakukan semua aktivitas manasik itu dengan baik, memenuhi semua rukun, syarat dan tidak melakukan pembatal, maka hajinya sah.

Hanya saja kesimpulan ini tidak berkaitan dengan apakah hajinya diterima ataukah tidak. Karena yang dibahas dalam hal ini adalah apakah hajinya sah atau tidak. Jika sah, berarti telah menggugurkan kewajiban.

Sebaliknya, jika tidak sah, berarti belum menggurkan kewajiban.

Apakah diterima oleh Allah? Ini di luar pengetahuan manusia.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

sumber: Pengusaha Muslim

Mengenal Gharar dalam Bai’ Musharah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pada kajian kali ini, kita akan mengkaji hadis tentang jual beli musharrah, berikut beberapa pelajaran terkait jual beli gharar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَرُّوا الإِبِلَ وَالغَنَمَ، فَمَنِ ابْتَاعَهَا بَعْدُ فَإِنَّهُ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ بَعْدَ أَنْ يَحْتَلِبَهَا: إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ، وَإِنْ شَاءَ رَدَّهَا وَصَاعَ تَمْرٍ

Janganlah kalian melakukan tashriyah pada onta dan kambing. Siapa yang membeli hewan setelah dilakukan tashriyah, maka dia punya 2 hak pilih, setelah dia perah susunya: jika mau dia bisa memilikinya dan tidak perlu dikembalikan, dan jika mau, dia boleh mengembalikan hewan itu, dengan memberikan satu gantang kurma. (HR. Bukhari 2148)

Apa itu Tashriyah?

Melakukan Tashriyah : tindakan membiarkan hewan penghasil susu, seperti kambing, sapi, atau onta,  untuk tidak diperah beberapa hari, agar ambing susunya kelihatan besar sebelum dijual. Sehingga ketika dijual, pembeli menganggap, hewan yang dia beli susunya banyak.

Tindakan ini bisa menaikkan harga hewan atau mengundang perhatian pembeli. Namun ketika diperah, baru kelihatan bahwa ternyata susunya tidak banyak dan kondisi ambingnya yang kemarin ternyata tidak normal. Dan tentu saja, ini sangat merugikan pembeli.

Salah satu contoh praktek tashriyah yang sempat dilakukan sebagian pedagang nakal di tempat kita adalah sapi gelonggong. Seekor sapi digelonggong dengan air sehingga kelihatan gemuk dan lebih berat. Namun setelah disembelih, ternyata dagingnya berair.

Keterangan Hadis

Hadis ini berbicara tentang larangan menipu dan bersikap tidak jujur ketika jual beli. Terutama peniuan yang kerap dilakukan beberapa pedagang nakal. Mereka melakukan upaya kamuflase, agar barang yang dia jual kelihatan jauh lebih sempurna. Sementara itu tidak dilakukan secara normal. Diantaranya, praktek tashriyah. Membuat ambing susu hewan perah semakin besar, agar harga bisa ditingkatkan.

Karena syariat menghargai hak semua manusia, hak konsumen maupun pedagang, maka praktek yang merugikan sebagian pihak semacam ini, dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak hanya dilarang, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melindungi hak konsumen yang didzalimi, dengan memberikan hak pilih kepada mereka.

Beliau memberikan dua hak pilih,

Pertama, tidak mengembalikan hewan itu dan merelakan sebagian haknya karena upaya penipuan yang dilakukan penjual. Dengan demikian, jual beli sah, mengkat dan tidak bisa dibatalkan sepihak.

Kedua, membatalkan transaksi jual beli dengan mengembalikan hewan itu kepada penjual, setelah diperah susunya, dengan memberikan ganti rugi atas susu yang telah dia ambil sebelum dikembalikan.

Ini menunjukkan bagaimana pertian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhada hak konsumen, dan beliau sangat melindungi hak mereka.

Pelajaran Hadis:

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita simpulkan dari hadis di atas,

Pertama, larangan penipuan dan sikap tidak terbuka (tadlis) dalam jual beli. Salah satunya adalah penipuan dan sikap tidak terbuka ketika jual beli hewan. Meskipun semua bentuk penipuan dalam hal apapun, hukumnya terlarang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

“Siapa yang menipu, dia bukan bagian dari kami.” (HR. Muslim 295).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang menipu dengan pernyataan, “bukan bagian dari kami.” Bukan maksudnya dia keluar dari islam. Namun maksudnya, dia telah meninggalkan sikap iitba’ dna tidak mengikutiku, tidak mengikuti jalanku, untuk bersikap baik kepada sesama. Karena semacam ini bukan termasuk akhlak dan kebiasaan kami. (Syarh as-Sunnah, 8/167 dan Majmu’ al-Fatawa, Ibn Taimiyah, 7/525).

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الغَرَرِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. (HR. Ahmad 8884, Abu Daud 3378 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Kedua, syafiiyah berpendapat bahwa berdasarkan tekstual hadis, tashriyah hukumnya haram secara mutlak. Baik untuk dijual maupun untuk kepentingan pribadi. Mereka memahami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan tashriyah pada hewan, karena ini akan menyakiti hewan. Sementara kita diperintahkan untuk bersikap lembut kepada binatang.

Sementara mayoritas ulama mengatakan bahwa alasan larangan ini terkait unsur penipuan dalam jual beli hewan musharrah.

Berdasarkan riwayat lain, yang menyatakan,

لاَ تَصُرُّوا الإِبِلَ وَالْغَنَمَ لِلْبَيْعِ

Janganlah kalian melakukan tashriyah pada onta atau kambing yang hendak dijual. (HR. ad-Daruquthni 3119 dan al-Humaidi dalam Musnadnya 1076)

Sementara unsur penipuan, gharar, dan sikap tidak terbuka, hanya ada dalam jual beli. Sehingga boleh saja melakukan tashriyah untuk kepentingan pribadi, selama tidak membahayakan hewannya.

Al-Hafdiz Ibnu Hajar mengatakan,

وقُيِّد النهي بالبائع إشارةً إلى أنَّ المالك لو حفَّل، فجمع اللبنَ للولد أو لعياله أو لضيفه لم يحرم، وهذا هو الراجح

Larangan tashriyah dikaitkan dengan jual beli merupakan isyarat bahwa ketika pemilik hewan hendak mengumpulkan susu, lalu dia biarkan susu di kambing perahnya tidak diambil beberapa hari agar bisa diperah lebih banyak untuk anak-anaknya, keluarganya, atau tamunya, hukumnya tidak haram. Ini pendapat yang lebih kuat. (Fathul Bari, 4/361).

Sementara alasan Syafiiyah bahwa larangan itu berlaku karena ini menyakiti binatang, tidaklah tepat. Karena tashriyah hanya sementara, tidak selamanya. Sehingga ditoleransi, terutama jika di sana ada manfaatnya.

Ketiga, disebutkan onta dan kambing dalam hadis ini, bukan pembatasan. Sehingga berlaku untuk semua tindakan yang sama pada binatang yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak menyebutkan sapi, karena populasi sapi di wilayah arab sangat sedikit. Sehingga, mayoritas ternak mereka adalah kambing dan onta. Seperti di Indonesia, mayoritas ternaknya kambing dan sapi, sementara populasi onta sangat kecil.

Karena sekali lagi, illah (alasan) larangan dalam hadis ini kembali pada sikap tidak jujur.

Imam Bukhari ketika membawakan hadis ini, beliau mencantumkan judul bab,

باب النهي للبائع أن لا يحفِّل الإبلَ والبقر والغنم وكلَّ محفَّلة

Bab, larangan bagi penjual untuk mengumpulkan susu onta, sapi, maupun kambing. Larangan ini berlaku untuk semua hewan yang susunya bisa dikumpulkan. (Shahih Bukhari, 4/361).

Keempat, zahir (makna tekstual) hadis menunjukkan bahwa hak pilih untuk mengembalikan hewan itu berlaku jika sudah diperah. Karena dalam lanjutan hadis, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam mensabdakan,

فَإِنَّهُ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ بَعْدَ أَنْ يَحْتَلِبَهَا

“dia punya dua hak pilih, setelah dia perah susunya”

Hanya saja, jumhur ulama menegaskan bahwa illah adanya hak khiyar adalah setelah diketahui ada unsur penipuan (al-Ghisy). Sehingga tidak harus diperah terlebih dahulu. . sementara hadis menyebutkan setelah diperah, karena itu diantara cara untuk mengetahui adanya penipuan. Sehingga ketika unsur penipuan itu diketahui dengan cara yang lain, seperti pengakuan penjual atau pengakuan saksi.

Intinya, selama diyakini ada unsur penipuan, ada hak khiyar bagi yang didzalimi.

Kelima, barangkali ini pelajaran sangat penting untuk dicatat.

Bahwa penipuan, sikap tidak jujur, tidak terbuka dalam jual beli, tidaklah serta-merta membatalkan akad. Akan tetapi status akad menggantung, dikembalikan kepada kerelaan pihak yang dirugikan. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hak pilih kepada pembeli sebagai pihak yang dirugikan,

فَإِنَّهُ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ بَعْدَ أَنْ يَحْتَلِبَهَا: إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ، وَإِنْ شَاءَ رَدَّهَا وَصَاعَ تَمْرٍ

“Dia punya 2 hak pilih, setelah dia perah susunya: jika mau dia bisa memilikinya dan tidak perlu dikembalikan, dan jika mau, dia boleh mengembalikan hewan itu, dengan memberikan satu gantang kurma. (HR. Bukhari 2148)

Adanya hak pilih menunjukkan bahwa jual beli itu sah. Artinya, jika pihak yang dirugikan memilih untuk merelakannya, maka uang yang diterima menjadi hak penjual dan barang halal untuk dimiliki pembeli.

An-Nawawi mengatakan,

واعلم أن التصرية حرام سواء تصرية الناقة والبقرة والشاة والجارية والفرس والأتان وغيرها لأنه غش وخداع وبيعها صحيح مع أنه حرام وللمشتري الخيار في إمساكها وردها

Pahami bahwa tashriyah hukumnya haram, baik untuk onta, sapi, kambing, budak, kuda, keledai, maupun yang lainnya. Karena ini penipuan. Hanya saja jual belinya sah, meskipun haram. Pembeli memiliki hak pilih antara mempertahankan barang atau mengembalikannya. (Syarh Shahih Muslim, 10/162)

Di tempat lain, beliau mengatakan,

أن التصرية حرام وأن في هذه الأحاديث مع تحريمها يصح البيع وأنه يثبت الخيار في سائر البيوع المشتملة على تدليس

Tashriyah hukumnya haram. Dalam hadis-hadis ini menunjukkan bahwa jual beli sah, meskipun haram. Dan berlaku hak khiyar untuk semua jual beli yang mengandung usur penipuan. (Syarh Shahih Muslim, 10/166)

Keenam, dari hadis ini, ulama memberikan kaidah bahwa larangan dalam muamalah yang hanya terkait hak makhluk, tidak menyebabkan jual beli itu batal.

Sebagian ulama  ushul menyatakan dalam kaidah,

أنَّ النهي عن الشيء إن كان لحقِّ الله تعالى فإنه يُفسد المنهيَّ عنه، وإن كان لحقِّ العبد فلا يُفسد المنهيَّ عنه

Larangan melakukan sesuatu, jika terkait hak Allah, maka membatalkan tindakan yang dilarang itu. Dan jika terkait hak hamba, tidak membatalkan tindakan yang dilarang. (Miftah al-Ushul ‘ala Bina al-Furu’ ala al-Ushul, at-Tilmisani, 421 – 422)

Contoh lebih jelas,

Allah melarang kita melakukan jual beli setelah adzan jumat, ketika khatib naik mimbar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Jumuah: 9)

Adanya larangan ini, karena jual beli setelah khatib naik mimbar bisa menyebabkan telat jumatan, sehingga tidak kaitanya dengan hak makhluk. Berdasarkan kaidah di atas, jual beli setelah adzan jumat, ketika khatib naik mimbar, hukumnya batal.

Berbeda dengan larangan menipu dalam jual beli. Larangan ini terkait hak makhluk. Sehinga keabsahan jual belinya dikaitkan dengan kerelaan pihak yang dirugikan.

Ketujuh, kapan hak khiyar menyembalikan barang itu berlaku?

Sampai berapa lama hak khiyar ini berlaku?

Ada dua pendapat ulama di sana,

Pertama, hak khiyar tidak boleh ditunda, jika pihak yang dirugikan mengetahui adanya unsur penipuan dalam jual belinya. Jika ditunda, hak khiyar ini akan hangus.

Ini merupakan pendapat sebagian syafiiyah.

Mereka berdalil dengan hadis di atas, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyatakan,

فَمَنِ ابْتَاعَهَا بَعْدُ فَإِنَّهُ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ

“Siapa yang membeli hewan setelah dilakukan tashriyah, maka dia punya dua hak pilih…”

Dalam hadis di atas, digunakan huruf fa’ [فَإِنَّهُ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ] yang menunjukkan rentangnya sebentar, dan bukan kata tsumma [ثُـمَّ] yang memberi makna penundaan.

Dan ini diqiyaskan dengan semua khiyar aib (hak pilih karena ada cacat barang) dalam jual beli.

Kedua, tidak harus segera, namun boleh ditunda dan dibatasi selama 3 hari. Lebih dari  3 hari, hangus kesempatan hak khiyar.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Pendapat ini didukung dalil hadis dalam riwayat lain,

مَنِ اشْتَرَى شَاةً مُصَرَّاةً فَهُوَ بِالْخِيَارِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ رَدَّهَا رَدَّ مَعَهَا صَاعًا مِنْ طَعَامٍ

Siapa yang membeli kambing musharrah, maka dia punya hak khiyar selama 3 hari. Jika dia kembalikan, harus ditambah dengan ganti rugi segantang bahan makanan. (HR. Ahmad 10866, Muslim 3909 dan yang lainnya).

Jumhur berpegang dengan batasan 3 hari yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan pendapat inilah yang lebih kuat, karena lebih sesuai dalil.

Kedelapan, setelah kita memilih penndapat hak khiyar selama 3 hari, berikutnya, mulai kapankah perhitungan 3 hari itu?

Ulama berbeda pendapat kapan mulai rentang adanya hak khiyar.

Pendapat hambali menyatakan bahwa hak khiyar tidak hilang, selama pihak yang dirugikan belum mengetahui adanya unsur penipuan. Sehingga, kesempatan khiyar baru dibuka, ketika pembeli baru mengetahui adanya unsur penipuan itu. Sekalipun jual belinya telah lama dilakukan. Misalnya, setahun setelah jual beli baru diketahui ada penipuan. Dalam kondisi ini hak khiyar tetap berlaku.

Kita bisa simpulkan ini dari batasan hak khiyar yang disarankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah hewan tashriyah diperah. Artinya setelah diketahui adanya peniuan.

Sementara Syafiiyah menyatakan bahwa hak khiyar mulai berlaku dihitung sejak akad.

InsyaaAllah pendapat yang medekati adalah pendapat hambali. Karena hak khiyar ini dikaitkan dengan adanya unsur penipuan dalam jual beli. Sehingga kembali kepada batasan, sejak kapan pihak yang dirugikan mengetahui adanya penipuan itu.

Demikian, semoga bermanfaat

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits

 

sumber: Pengusaha Muslim

Apa itu Riba Jahiliyah?

 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Istilah ini sering kita dengar dan kita perlu mengenalnya. Tidak hanya mengenal dalam arti pernah mendengar istilah, tapi juga harus mengenal hakekatnya.

Ada pepatah mengatakan,

عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه ، ومن لا يعرف الشر من الخير يقع فيه

Aku mengenal keburukan untuk untuk mengamalkannya… namun untuk menghindarinya…

Siapa yang tidak kenal keburukan di tengah kebaikan, dipastikan dia terjerumus dalam keburukan itu.

Semua muslim benci syirik, memusuhi syirik. Namun sayang, banyak muslim yang tidak kenal hakekat syirik. Sehingga beberapa diantara mereka melakukan syirik, namun mereka menyebutnya ibadah.

Betul apa yang dipesankan Umar bin Khatab,

إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية

Ikatan islam terlepas satu demi satu, karena muncul generasi dalam islam yang tidak kenal tradisi Jahiliyah. (Majmu’ Fatawa, 10/301)

Tentu saja kita tidak ingin mulut ini koar-koar anti riba, sementara kita sendiri adalah praktisi riba jahiliyah. Lebih dari itu, kita akan menimbang, bagaimana praktek riba di zaman ini, dengan cara orang jahiliyah mengambil riba.

Apa itu Riba Jahiliyah?

Kita akan simak beberapa keterangan ulama yang mendapatkan informasi dari para saksi sejarah, para sahabat yang pernah mengalami zaman tersebarnya riba.

Keterangan Zaid bin Aslam – ulama tabiin –,

كَانَ الرِّبَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ يَكُونَ لِلرَّجُلِ عَلَى الرَّجُلِ الْحَقُّ إِلَى أَجَلٍ فَإِذَا حَلَّ الْأَجَلُ قَالَ : أَتَقْضِي أَمْ تُرْبِي ؟ فَإِنْ قَضَى أَخَذَ وَإِلَّا زَادَهُ فِي حَقِّهِ وَأَخَّرَ عَنْهُ فِي الْأَجَلِ

Bentuk riba jahiliyah, si A berutang kepada si B sampai batas waktu tertentu. Ketika tiba jatuh tempo, si B memberi tawaran kepada si A, “Lunasi utangmu sekarang atau ditambah bunga?” Jika si A melunasi ketika itu, maka tidak ada kelebihan apapun. Dan jika tidak melunasi ketika itu, si A terbebani tambahan yang harus dia bayarkan dan batas pelunasan ditunda. (HR. Malik dalam al-Muwatha’, no. 1371).

Sebagaimana tambahan ini berlaku pada kuantitas yang dibayarkan, tambahan ini juga berlaku pada kualitas yang dibayarkan. Misalnya, dulu utang sapi usia setahun. Ketika jatuh tempo, si A tidak bisa meluasi. Akhirnya waktu pelunasan ditunda, namun harus dibayarkan berupa sapi yang usianya lebih tua.

Disebutkan dalam riwayat lain, keterangan Zaid bin Aslam,

Riba jahiliyah itu peenambahan dalam usia. Si A berutang kepada si B seekor onta. Ketika datang jatuh tempo, si B menagih, “Lunasi sekarang atau tambah usia?”

Jika si A memiliki hewan yang bisa digunakan untuk melunasi, dia bisa bayarkan sesuai usia hewan yang  diutang. Jika tidak ada, maka waktu pelunasan ditunda dan usia hewan untuk pelunasan ditambah. Begitu seterusnya, usianya selalu bertambah. (at-Thabrani dan tafsirnya, 7/205)

Keterangan lain dari Qatadah, seperti yang disebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau menjelaskan riba jahiliyah dalam jual beli kredit, yang harganya bertambah ketika tidak bisa dilunasi ketika jatuh tempo,

إِنَّ رِبَا أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَبِيع الرَّجُل الْبَيْع إِلَى أَجَل مُسَمَّى , فَإِذَا حَلَّ الْأَجَل وَلَمْ يَكُنْ عِنْد صَاحِبه قَضَاءٌ ، زَادَ وَأَخَّرَ عَنْهُ

Bentuk riba jahiliyah, si A menjual barang kepada si B secara kredit sampai batas tertentu. Ketika tiba jatuh tempo, sementara si B tidak bisa melunasi, harga barang dinaikkan dan waktu pelunasan ditunda. (Fathul Bari, 4/313)

Syaikhul Islam mengomentari bentuk riba jahiliyah di atas,

وَهَذَا هُوَ الرِّبَا الَّذِي لَا يُشَكُّ فِيهِ بِاتِّفَاقِ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَفِيهِ نَزَلَ الْقُرْآنُ ، وَالظُّلْمُ وَالضَّرَرُ فِيهِ ظَاهِرٌ

Inilah riba yang tidak diragukan lagi keharamannya, dengan sepakat ulama salaf. Inilah riba yang dibahas dalam al-Quran. Nampak sangat jelas unsur kedzaliman dan bahayanya. (Majmu’ al-Fatawa, 20/349).

Ada satu kesimpulan yang penting untuk kita garis bawahi, bahwa utang di masa jahiliyah, tidak otomatis langsung ada ribanya. Riba baru berlaku ketika pada saat jatuh tempo pertama, utang itu tidak bisa dilunasi. Sehingga riba baru dikenakan untuk jatuh tempo kedua.

Kita bisa bandingkan dengan praktek riba di zaman kita.

Siapapun yang berutang di bank ribawi, apapun labelnya, perhitungan riba telah ditetapkan dari sejak awal utang. Sehingga sekalipun utang dibayarkan di batas jatuh tempo pertama, tepat waktu, debitor tetap dikenakan riba.

Kita bisa menilai, manakah yang lebih parah keadaannya?

Masalah pelipatan angka, itu hanya masalah waktu penundaan. Karena riba kontemporer juga bisa berlipat berkali-kali, jika ditunda dalam waktu lama.

Hanya Riba Jahiliyah yang Dilarang?

Sebagian orang beranggapan bahwa transaksi yang dikembangkan bank zaman ini, bukan termasuk transaksi riba jahiliyah. Karena semua terukur dan adanya bunga sebagai kompensasi dari nila waktu uang (time value of money). Sehingga bukan riba yang dilarang dalam al-Quran.

Bahkan mereka memotivasi setiap pengusaha untuk utang.

Bisnis tanpa utang, gak eksis boss..

Biarkan bank yang mengaudit usaha anda. Untuk membuktikan kejujuran anda.

Semakin banyak bank yang merestui pinjaman dana untuk anda, berarti anda semakin terpercaya.

Allahu akbar, jelas motivasi yang sangat membahayakan. Bisa pelaku riba di bank merasa yakin tidak ada yang bermasalah dari gajinya.

Kita bisa jawab dari beberapa sisi,

Pertama, bahwa riba bank kontemporer, tidak berbeda dengan riba jahiliyah. Bahkan riba bank lebih parah dari pada riba jahiliyah.

Kedua, riba jahiliyah tidak mesti berlipat ganda. Karena jika jatuh temponya pendek, tidak ada pelipatan utang.

Ketiga, dalam islam, riba sekecil apapun dilarang. Meskipun itu terukur. Karena riba jahiliyah pun terukur. Semua kembali kepada kesepakatan.

Dari Handzalah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad 21957, ad-Daruqutni 2880 dan dishihkan al-Albani)

Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Ibn Majah 2360, al-Hakim 2259 dan dishahihkan ad-Dzahabi).

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk membela riba bank, setelah memahami semua riba benilai dosa besar.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits

 

sumber: PengusahaMuslim.com

Ini Rahasia di Balik Shalat

Oleh: Prof Nasarudin Umar, Guru Besar UIN Syarifhidayatullah, Jakarta

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kata shalat oleh kalangan sufi dihubungkan dengan derivasi besar (al-isytiqaq al-kabir), yakni dari huruf wa-sha-la yang kemudian membentuk beberapa kata, seperti washala (sampai, menyambung), washshala (menyampaikan), washil (tetap berfungsi), ittashala (berkelanjutan), shilah (perhubungan), washlun (tanda terima, resi), wushl (pertalian, per hubungan), washilah (keakraban, perkumpulan), wushul (suka atau banyak memberi), washil (menyambung), aushal (persediaan), maushil (tempat pengem bangan), muwashil (perhubungan).

Derivasi ini bisa mengungkap hakikat dan rahasia shalat. Seorang yang shalat berarti melakukan hubungan langsung (direct connecting) dengan Allah SWT.  Dengan demikian, tercipta rasa aman, tenang, damai, indah, sejuk, dan lapang di dada, seperti yang dilukiskan Allah dalam ayat, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Rad [13]:29).

Karena itulah, Allah SWT menyerukan, “Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha [20]:14).  Mengingat Allah SWT untuk menenangkan jiwa harus dilakukan secara konstan dan dengan waktu yang teratur, sebagaimana di tegaskan dalam ayat lain, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”  (QS an-Nisa [4]:103).

Melaksanakan shalat secara rutin sebagaimana waktu-waktu yang ditentukan Allah SWT diharapkan dapat melahirkan hamba-hamba yang istimewa, yakni hamba yang selalu berada di “dunia atas” (al-`alam al-`ulya), bukankah shalat itu adalah mikraj bagi orang yang beriman (al-shalatu mi’raj al- mu’minin), sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

Orang-orang yang berada di “dunia atas” ialah “mereka yang selalu menggunakan mata Tuhan untuk melihat dan telinga Tuhan untuk mendengar”, seperti dinyatakan dalam hadis. Orang- orang di “dunia atas” tidak lagi lebih tertarik terhadap urusan dan keperluan duniawi yang ada di “dunia bawah” (al-`alam al-sufl a).

Bukan berarti mereka tidak suka itu, tetapi mereka sudah melihat sesuatu dalam etalase Tuhan yang jauh lebih menarik daripada keseluruhan apa yang ada di dunia bawah. Bagaimana tidak tenang jika Tuhan sendiri meyakinkan mereka:  “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat [41]:30).

Mungkin yang perlu ditekankan di sini ialah shalat yang bagaimana yang bisa mengorbitkan seseorang menuju “dunia atas”? Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan kepada kita, “Sesungguhnya ada dua orang dari umatku mendirikan shalat. Rukuk dan sujudnya sama. Namun, perbedaan kualitas shalat antara keduanya bagaikan bumi dan langit.” Hadis ini mengisyaratkan kita untuk senantiasa memperhatikan kualitas shalat.

Allah SWT juga mengingatkan kita untuk memperbaiki kualitas shalat: “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat Wus thaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.”  (QS al-Baqarah [2]:238). Ciri-ciri shalat yang benar ialah shalat yang: “…mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”

(QS al-Ankabut [29]:45), “…keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda me- reka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS al-Fath [48]:29).

Sebaliknya, shalat yang dilakukan secara sembrono dan ti dak memiliki dampak sosial dilukiskan dalam Alquran, “Maka kecelaka anlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)  orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS al-Maun [107]:4-7).

Dalam hadis juga digambarkan Nabi bagi orang yang shalat atau sujudnya bagaikan ayam yang mematok makanan. Maka, shalatnya akan dilipat lalu ditamparkan ke muka yang bersangkutan. Untuk meraih shalat yang memungkinkan seseorang mikraj ke “dunia atas”, seseorang betul-betul harus mengindahkan petunjuk dan directions Tuhan untuk sesuatu yang berhubungan dengan shalat.

Antara lain melakukan penyempurnaan thaharah, seperti mandi junub bagi orang yang janabah, berwudhu atau bertayamum dengan baik, menggunakan penutup aurat yang bersih dan muru’ah, melaksanakan atau menjawab suara azan, menghadap ke kiblat, dan melakukan amaliah shalat secara tumaninah.

Shalat yang khusyuk menurut kalangan sufi dimulai saat seseorang mengambil air wudhu. Di antara mereka ada yang mengatakan, orang yang tidak khusyuk saat mengambil air wudhu sulit untuk khusyuk di dalam shalat. Mereka menyarankan agar jangan ada kata- kata duniawi seusai mengambil air wudhu sampai selesai shalat.

Jika seseorang telah melakukan dosa, meskipun secara fi kih wudhu belum batal, disarankan agar mem- perbaharui wudhunya. Energi spiritual pada wudhu diperlukan untuk melahirkan shalat khusyuk. Allahu a’lam.