Memberi Salam pada Majelis yang Bercampur Muslim dan Non Muslim

Bagaimana mengucapkan salam pada majelis yang di situ terdapat muslim dan non muslim? Apakah kita mengucapkan salam, atau membiarkannya? Karena ada hadits larangan memulai mengucapkan salam pada non muslim.

وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم –

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari  no. 6254 dan Muslim no. 1798).

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara muslim dan non muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk muslim. (Al Adzkar, hal. 464).

Penjelasan di atas tidak bertentangan dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167). Hadits Abu Hurairah ini umum, sedangkan hadits Usamah di atas bersifat khusus. Hadits Abu Hurairah menunjukkan tidak boleh memulai salam pada non muslim tanpa ada sebab apa-apa dan juga tanpa ada hajat. Demikian kata Ath Thobari sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11: 39-40.

Namun jika seseorang  mengucapkan salam pada non muslim yang tidak memasukkan non muslim dalam salam tersebut seperti dengan ucapan “Assalamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin” (keselamatan bagi kami dan bagi orang-orang yang sholeh), seperti ini boleh. Sebagaimana pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa salampernah menulis surat pada Heraklius dan mengucapkan salam “Salamun ‘ala manit taba’al huda” (keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk). Lihat penjelasan dalam Al Fath, 11: 40.

Semoga sajian di pagi ini bermanfaat.

 

Referensi:

Al Adzkar An Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: ‘Amir bin Ali Yasin, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat tahun 1432 H.

 

sumber: Rumaysho

Membalas Salam Non Muslim

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Bagaimanakah hukum membalas salam orang kafir (ahli kitab maupun non muslim lainnya)? Dan bolehkah memulai mengucapkan salam pada mereka? Ada pula hadits yang menyebutkan bahwa jika kita berjumpa orang kafir, maka pepetlah mereka ke pinggir. Bagaimana penjelasan hal ini?

Thoyyib, ada sebuah riwayat yang menjelaskan masalah di atas. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167)

Memulai Salam pada Orang Kafir

Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum memulai ucapan salam pada orang kafir dan hukum membalas salam mereka. Kebanyakan ulama terdahulu dan belakangan mengharamkan memulai ucapan salam. Imam Nawawi berkata, “Larangan yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan keharaman, Inilah yang benar bahwa memulai mengucapkan salam pada orang kafir dinilai haram.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 145).

Adapun memulai mengucapkan “selamat pagi” pada orang kafir, tidaklah masalah. Namun lebih baik tetap tidak mengucapkannya kecuali jika ada maslahat atau ingin menghindarkan diri dari mudhorot. (Keterangan dari islamweb)

Membalas Salam Orang Kafir

Mayoritas ulama (baca: jumhur) berpendapat bahwa jika orang kafir memberi salam, maka jawablah dengan ucapan “wa ‘alaikum”. Dalilnya adalah hadits muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas bin Malik berkata,

مَرَّ يَهُودِىٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « وَعَلَيْكَ » . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَتَدْرُونَ مَا يَقُولُ قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَقْتُلُهُ قَالَ « لاَ ، إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ »

Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6926)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan menjawab salam orang muslim dan orang kafir. Ibnu Battol berkata, “Sebagian ulama berpendapat bahwa membalas salam orang kafir adalah wajib berdasarkan keumuman ayat (yaitu surat An Nisa ayat 86, pen). Telah shahih dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika ada yang mengucapkan salam padamu, maka balaslah ucapannya walau ia seorang Majusi.” Demikian pendapat Asy Sya’bi dan Qotadah. Namun Imam Malik dan jumhur (mayoritas ulama) melarang demikian. Atho’ berkata, “Ayat (yaitu surat An Nisa’ ayat 86) hanya khusus bagi kaum muslimin. Jadi tidak boleh menjawab salam orang kafir secara mutlak. Hadits di atas cukup menjadi alasan.” (Fathul Bari, 11: 42)

Surat An Nisa ayat 86 yang dimaksud adalah,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86). Inilah dalil yang jadi alasan sebagian ulama (seperti Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah) bahwa jika orang kafir memberi salam ‘as salaamu ‘alaikum’, maka hendaklah dibalas dengan yang semisal, yaitu ‘wa ‘alaikumus salam’.

Keterangan: Orang kafir yang dimaksud di sini adalah setiap non muslim, baik Yahudi, Nashrani, Majusi, Hindu, Budha dan lainnya.

Ketika Bertemu Orang Kafir di Jalan

Adapun maksud hadits,

فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” Yang dimaksud adalah janganlah membuka jalan pada orang kafir dalam rangka memuliakan atau menghormati mereka. Sehingga bukanlah maknanya jika kalian bertemu orang kafir di jalan yang luas, maka paksalah mereka hingga ke lubang sehingga jalan mereka menjadi sempit. Pemahaman seperti ini berarti menyakiti non muslim tanpa ada sebab. Demikian keterangan Al Munawi dalam Faidul Qodir (6: 501) yang menyanggah tafsiran sebagian ulama yang keliru.

Baca pula artikel: Ucapan Salam, Amalan Mulia yang Ditinggalkan

 

Wallahu a’lam bish showwab. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

sumber: Rumaysho

Meraih Rahmat Rahimiyyah

Al-Rahman adalah kasih-sayang “generik” yang diberikan Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan, al-Rahim adalah kasih sayang-Nya yang spesial dikhususkan kepada hamba-Nya yang khusus pula. Kelompok yang akan mendapatkan kasih sayang al-Rahim analoginya ialah mereka yang sudah melewati anak tangga pertama.

Orang-orang yang akan mendapatkan rahmat rahimiyyah Allah SWT ialah mereka yang sudah sampai ke makam sosial dan spiritual yang lebih tinggi, yang memang wajar untuk mendapatkannya. Allah SWT memang Maha Pengasih, tetapi juga Mahaadil yang tentu tidak menyamakan antara orang-orang yang telah menempuh perjuangan panjang dan mahasulit dengan orang-orang yang tidak melakukan usaha apa pun.

Soal berapa lama hamba-Nya akan berada di dalam rahmat rahmaniyyah baru hijrah ke rahmat rahimiyyah, hanya Allah SWT yang Mahatahu. Yang pasti bahwa penetapan al-Rahman dan al-Rahim sebagai induk nama-Nya (al-umm al-asma’), yang diisyaratkan dengan pemberian nama itu menempel pada kata bismillah ditambah pengulangan penyebutannya begitu banyak mengisyaratkan bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Maha Pengasih dan Penyayang ketimbang sebagai Maha Penghukum dan Maha Pendendam (al-muntaqim). Kenyataan ini memberikan rasa optimisme kepada siapa pun hamba-Nya yang pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan untuk segera kembali (taubah) keada-Nya.

Meski demikian, orang-orang yang mendapatkan rahmat rahmaniyyah berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa di neraka. Sedangkan, orang-orang yang mendapatkan rahmat rahimiyyah berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa dengan rasa malu terhadap Allah, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Orang yang tobat lalu menjauhi dosa karena takut tersiksa dengan neraka biasa disebut inabah.

Sedangkan, orang yang tobat lalu menjauhi dosa karena takut tersiksa dengan rasa malu kepada Tuhan biasa disebut istijabah. Orang yang istijabah lebih tersiksa rasa malu kepada Tuhannya ketimbang panasnya api neraka. Semoga kita mendapatkan rahmat rahimiyyah-Nya.

Oleh: Nasarudin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

 

sumber: Republika Online

Ini Rahasia Al-Rahman

Alquran konsisten selalu mendahulukan kata al-Rahman baru al-Rahim sesungguhnya untuk mengisyaratkan kita bahwa perjuangan menuju puncak harus melalui anak tangga pertama. Untuk mencapai makam ma’rifah lebih tinggi tidak bisa meninggalkan fikih dan syariah.

Orang yang berusaha mencapai puncak makam spiritual tanpa mengindahkan aspek fikih dan syariah sulit dibayangkan akan mencapai tujuan tersebut. Kalangan sufi menunjukkan tiga jalan menuju puncak, yaitu syariah, tarekat, dan hakikat. Ketiga jalan ini harus terintegrasi satu sama lain, sebagaimana diuraikan dalam artikel terdahulu tentang “Makna Spiritual Thaharah.”

Sehubungan dengan ini, Ibn ‘Athaillah pernah mengingatkan kita: Man tashawwafa wa lam yatafaqah faqad tazandaq, wa man tafaqqaha walam yatashawwaf faqad tafassak, wa man jama’a bainahuma faqad tashaddaqah (Barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindik, barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasik, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka itulah yang akan mencapai puncak kebenaran).

Al-Rahman adalah simbol kemahapengasihan Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Warahmati wasi’at kulli syai’in (Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu). Sifat al-Rahman menunjukkan betapa Allah SWT dan seluruh makhluk-Nya tidak bisa dipisahkan. Siapa pun dan apa pun makhluk-Nya pasti merasakan efek kasih sayang Allah SWT. Apakah benda mati atau benda hidup, alam gaib dan alam syahadah, semuanya mendapatkan rahmat-Nya.

Sungguhpun makhluk-Nya kafir dan menghina diri-Nya seperti iblis dan para pengikutnya tetap ia mendapatkan rahmat-Nya. Dari segi inilah Ibnu Arabi pernah menyatakan di dalam kitab Futuhat al-Makkiyah, semua orang pada saatnya akan masuk ke dalam surga, sungguhpun mereka tidak pernah melakukan kebaikan. Allah SWT menciptakan seluruh makhluk-Nya dengan cinta dan karenanya segenap makhluk-Nya pasti akan mendapatkan kasih-Nya.

 

Oleh: Nasarudin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

 

sumber: Republika Online

Ini Waktu-waktu yang Dilarang Shalat

Sulaiman Rasyid dalam bukunya Fikih Islam yang diterbitkan Sinar Baru Algesindo menyebutkan, shalat sunat muthlaq adalah shalat sunat yang tidak ditentukan waktunya dan tidak ada sebabnya.

Jumlah rakaat shalat sunat muthlaq, kata Sulaiman, tidak ada batas. Berapa saja, dua rakaat atau lebih. Caranya, seperti shalat sunat yang lainnya. Ia lalu mengutip sabda Rasulullah SAW, ”Shalat itu adalah suatu perkara yang terbaik, banyak atau pun sedikit.

Meski shalat sunat Muthlaq bisa dilakukan kapan saja karena tidak ditentukan waktunya, menurut Sulaiman Rasyid, ada beberapa waktu yang dilarang untuk melakukan shalat sunat Muthlaq.

Pertama, sesudah shalat Subuh sampai terbit matahari. Hal ini, jelas Sulaiman Rasyid, berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari Muslim yang artinya, ”Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda telah melarang salat sesudah shalat Subuh hingga terbit matahari.

Kedua, sesudah shalat Asar sampai terbenam matahari. Sulaiman Rasyid mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari yang artinya, ”Dari Abu Hurairah, ”Rasulullah SAW telah melarang shalat sesudah shalat Asar.

Ketiga, Tatkala istiwa (tengah hari) selain hari Jumat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Daud yang artinya, ”Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAw telah melarang shalat pada waktu tengah hari tepat, sampai tergelincir matahari kecuali hari Jumat.”

Keempat, tatkala matahari terbit matahari setinggi tombak (pukul 08.00-09.00). Dan kelima, tatkala matahari hampir terbenam sampai terbenamnya.

Hal ini, berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim yang artinya, ”Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah SAw melarang shalat pada tiga saat: Tatkala terbit matahari sampai tinggi. Kedua, tatkala hampir zuhur sampai tergelincir matahari serta ketiga, tatkala hampir terbenam.

 

sumber: Republika Online

Yuk, Pahami Etika Membaca Al-Fatihah

Membaca surah al-Fatihah adalah salah satu rukun shalat. Dalam hadis tegas dikatakan: La shalata illa bi fatihah al-kitab (tidak ada shalat tanpa membaca surah al-Fatihah).

Dalam perspektif tasawuf, saat membaca surah al-Fatihah, ada beberapa etika yang harus dilakukan. Selain tentunya harus membacanya dengan bacaan yang jelas dan sharih, juga diharapkan menghayati kedalaman artinya.

Di samping itu, kalangan arifin mengingatkan sebuah riwayat: Idza takallama bi al-tasmiyah an yara anna Allah yama’uha wa an yaqifu hatta yasma’u min Allah qaulahu fayanbagi bi al-mushalli an yuqifa `inda kulli ayatin min al-fatihah waq fatan yasirah, yantadhiru jawa ba Rabbahu lahu, wa kana yasma’uhu wa huwa yaqulu: Hamidani `abdi idz qala alhamdulillahi Rabbil `alamin. Faidza qala al-rahman al-rahim qala: Atsni `alaiyya `abdi. Fa idza qala Maliki yaum al- din, qala: majjadani `abdi. Faidza qala Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, qala: Hadza baini wa baina `abdi. Fa idza qala Ihdina al-sharath al-mustaqim ila akhir, qala: Hadza al-‘abdi wa li’abdi ma qala.

(Jika seseorang dalam shalat membaca bismillah, ia akan menyak sikan sesungguhnya Allah SWT mendengarkan ucapannya dan seyogianya ia berhenti pada setiap pemberhentian dengan baik, sambil menunggu jawaban Tuhan untuknya. Dia mendengarkan bacaan itu dan menjawab: “Hamba-Ku memuji diri-Ku” ketika membaca al-hamdulillahi Rabbil `alamin. Jika membaca al-rahman al-rahim, Ia menjawab: “Hamba-Ku menyanjung diri-Ku.” Jika membaca Maliki yaum al-din, Ia menjawab: “Hamba-Ku memuliakan-Ku.” Jika membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Ia menjawab:”Inilah antara Aku dan Hamba-Ku.” Jika membaca Ihdina al-shirath al-mustaqim sampai terakhir, Ia menjawab: “Inilah hamba-Ku dan untuknya apa yang dibaca.”

Jika membaca surah al-Fatihah dalam shalat, sebaiknya kita berhenti dengan lembut sambil menunggu sapaan dan jawaban Tuhan dari bacaan ayat demi ayat surah al-Fatihah. Khususnya kepada para imam, sebaiknya memahami hal ini supaya makmun juga ikut merasakan jawaban-jawaban lembut Tuhan.

Dengan demikian, membaca ayat-ayat surah al-Fatihah secara bersambung dalam shalat terasa tidak etis karena seolah-olah tidak membutuhkan sapaan dan jawaban Tuhan. Suasana batin yang seharusnya muncul pada saat kita membaca surah al-Fatihah ialah dialog mesra dengan Tuhan.

Ayat demi ayat yang kita baca ditanggapi secara aktif. Dengan menghayati jawaban-jawaban Tuhan di sela-sela bacaan ayat surah al-Fatihah dapat menambah khusyuk shalat kita. Lebih terasa hadis Nabi yang membayangkan jika kita sedang shalat maka sesungguhnya kita membayangkan Tuhan seolah-olah di hadapan kita atau Tuhan sedang menyaksikan kita secara dekat. Bahkan, Ia telah menyapa kita disetiap pemberhentian bacaan ayat. Subhanallah.

Etika lainnya ialah sebelum membaca surah al-Fatihah sebaiknya kita membaca taawuz yang keutamaannya sudah dibahas dalam artikel terdahulu. Setelah itu kita membaca ayat pertamanya dengan serasi, yakni Bismillahir rahmanir rahim. Apakah mau menyembunyikan bacaannya seperti mazhab Imam Malik atau mau mengeraskan (jahar) seperti bacaan Imam Syafi tidak terlalu masalah, yang penting ketika kita membaca ayat pertamanya betul-betul hati kita hadir di hadapan Allah SWT.

Semakin mampu kita menghayati kedalaman makna surah al-Fatihah akan semakin nikmat merasakan dialog itu dengan Tuhan. Karena itulah, surah al-Fatihah disebut sebagai Umm al-Qur’an. Allahu a’lam.

 

Oleh: Nasarudin Umar,
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

 

sumber: Republika Online

Rahasia Surah Al Fatihah

Setelah mengungkapkan rahasia takbir Ihram maka artikel ini berusaha untuk memahami rahasia besar yang terkandung di dalam surah al-Fatihah di dalam pelaksanaan shalat. Begitu penting kedudukan QS al- Fatihah ini sehingga Nabi pernah mengungkapkan, La shalata illa bi fatihah al-kitab (tidak ada shalat tanpa membaca surah al-Fatihah).

Para ulama fikih sependapat, membaca surah al-Fatihah wajib hukumnya pada setiap rakaat shalat, kecuali sebagai makmum dalam shalat yang dijahar, menurut Imam Abu Hanifah, cukup menghayati bacaan imam. Menurut Imam Syafi’, makmum wajib membaca surah al-Fatihah pada setiap rakaat.

Jika makmum masbuk dan tidak sempat membaca surah al-Fatihah karena imam sudah rukuk maka makmum harus mengganti rakaat shalatnya yang ketinggalan bacaan surah al- Fatihah pada rakaat khusus. Bagi para sufi, bukan hanya membaca surah al-Fatihah pada setiap rakaat secara utuh, tetapi juga sedapat mungkin memahami makna keseluruhan ayat-ayat al- Fatihah.

Para sufi betul-betul menyarankan agar orang yang shalat betul-betul memahami makna lahir dan makna batin keseluruhan surah yang memiliki beberapa nama ini di dalam Alquran ini. Sulit dibayangkan seseorang akan meresapi hakikat dan makna shalat tanpa memahami dan menghayati makna surah ini.

Bagi para sufi, Alquran memiliki makna lahir dan batin. Jika mereka tidak mampu memahami makna-makna keseluruhan ayat, minimum memahami lebih dalam makna surah al-Fatihah. Untuk memahami kedalaman makna Al-quran, disyaratkan agar para pembacanya betul-betul di dalam keadaan bersih dari hadas besar dan kecil sebagaimana ditegaskan di dalam ayat.

La yamassahu illa al- muthahharun (tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disuci- kan). (QS al-Waqi’ah [56]:79).

Lebih khusus lagi, jika kita ingin memahami makna batin Al qur an, selain bersih lahiriah, juga dituntut besih secara rohani, sebagaimana disebutkan dalam ayat, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS al- Baqarah [2]:151).

Shalat pada hakikatnya adalah perjalanan mendaki (mikraj) menuju Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis, Al-shalatu mi’raj al- mu’minin (shalat adalah mikraj ba gi orang-orang mukmin). Untuk mendaki ke puncak, tentu membutuhkan energi spiritual yang luar biasa. Di sinilah kedudukan surah al-Fatihah yang harus dihayati maknanya.

Ayat demi ayat surah al-Fatihah menjadi representasi dari keseluruhan ayat dan surah di dalam Alquran. Sebagaimana dikata- kan Nabi bahwa jika Alquran dipadatkan maka pemadatannya ialah ketujuh ayat dari surah al- Fatihah. Jika dipadatkan lagi, maka pemadatannya terletak di dalam ayat pertamanya (basmalah), dan jika basmalah ini dipadatkan maka pemadatannya ialah titik di bawah huruf `ba’ (akan diuraikan secara khusus misteri basmalah dalam artikel mendatang).

Penempatan letak surah al-Fatihah sebagai awal atau permulaan Alquran tentu memiliki rahasia di mata Allah SWT. Menurut Imam Abduh dalam Tafsir Al-Manar, surah al-Fatihah bukan hanya penempatannya yang pertama, surah ini juga paling awal diturunkan oleh Allah SWT.

Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat yang mengatakan ayat yang pertama turun ialah lima ayat pertama dari surah al-Alaq. Betul sebagai ayat yang pertama turun, tetapi sebagai surah pertama utuh turun sekaligus ialah surah al-Fatihah.

Soal adanya orang yang membaca secara tersembunyi ayat pertama surah al-Fatihah ada beberapa pendapat. Pertama tetap menganggap basmalah ayat pertama dari surah ini, namun ada kalanya Nabi tidak membaca keras (jahar).

Pendapat ini dipegang, antara lain, oleh Imam Malik dan kini dipertahankan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Pendapat lain mengatakan, memang basmalah tidak merupakan bagian dari surah al-Fatihah, karena itu tidak dijaharkan. Mushaf Alquran cetakan Pemerintah Arab Saudi tetap menganggap dan menulis nya sebagai ayat pertama dari surah al-Fatihah, tapi pembacaannya tidak dijaharkan dengan alasan mengikuti sunah Nabi.

 

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

sumber: Republika Online

Yuk, Kenali Makna Al-Rahman dan Al-Rahim

Kata al-Rahman (Maha Pengasih) dan al-Rahim (Maha Penyayang) berasal dari satu akar yang sama, yaitu rahima-yarham yang berarti menaruh kasih atau menyayangi. Al-Rahman-al-Rahim sering dijadikan kata majemuk, dua kata yang tak terpisahkan secara semantik dan semiotik. Keduanya adalah bagian dari nama-nama indah Tuhan (al-Asma’ al-Husna).

Kedua nama ini sering disebut sebagai induk nama-nama Tuhan (al-umm al-Asma’) karena begitu seringnya berulang penyebutannya di dalam Alquran, termasuk menjadi sifat paten di dalam semua basmalah. Kata al-Rahman terulang sebanyak 57 kali dan al-Rahim terulang 114 kali, dua kali lipat dari al-Rahman.

 

 

Puncak Rahasia

Kata al-Rahman al-Rahim di dalam ayat pertama (bismillah al-Rahman al-Rahim) menegaskan bahwa Tuhan (Allah) dalam kapasitasnya sebagai “Puncak Rahasia” (Sirr al-Asrar/the Secred of the Secred) yang dalam bahasa tasawuf  biasa disebut Ahadiyyah (the One), adalah betul-betul Maha Pengasih dan Maha Penyayang (al-Raman al-Rahim).

Pada ayat ketiga surah al-Fatihah, kata al-Rahman al-Rahim muncul lagi untuk menegaskan dalam kapasitas-Nya sebagai Tuhan (Rabb), yakni diri-Nya sebagai Wahidiyyah (the Oneness), yang dalam bahasa tasawuf sering disebut dengan pemilik entitas-entitas permanen (al-A’yan al-Tsabitah), yang di dalamnya tergambar nama-nama dan sifat-sita-Nya.

Baik dalam kapasitas-Nya sebagai Allah (Ahadiyah/the One/) maupun sebagai Rabb (Wahidiyah/the Oneness), tetap konsisten memiliki sifat-sifat utama (al-Rahman-al-Rahim). Penjelasan ini sekaligus membantah anggapan orang yang mengatakan Alquran berisi banyak kata-kata yang mubazir (redandance), yaitu kata yang sering berulang.

Kalangan ulama tafsir Isyari mengatakan, setiap basmalah di dalam Alquran memiliki kandungan penekanan makna (point stressing) yang berbeda satu sama lain.

 

Sifat Utama

Basmalah dalam surah al-Fatihah beda point stressing-nya dengan basmalah surah al-Baqarah dan surah-surah lainnya. Pengulangan kata al-Rahman-al-Rahim (ayat 1 dan 3) dalam surah al-Fatihah menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai hamba-Nya bahwa apa pun kapasitas kita, baik sebagai pejabat maupun pribadi, tetaplah memiliki sifat-sifat utama yang pengasih dan penyayang.

Dipilihnya nama al-Rahman-al-Rahim sebagai nama permanen di dalam basmalah menjadi isyarat buat kita bahwa baik sebagai Ahadiyah/the One maupun Wahidiyah/the Oneness. Dia lebih menonjolkan diri-Nya dengan sifat-sifat kelembutan dan kepenyayangan (nurturing) ketimbang sifat-sifat kejantanan dan kekerasan (masculine/jalaliyyah).

Dengan kata lain, Allah SWT lebih menonjol sebagai “Tuhan Keibuan” (the Mather God) ketimbang “Tuhan Kebapakan” (the Father God).

Hal ini juga dibuktikan dengan dominannya sifat-sifat kelembutan dan kepengasihan (nurturing/jamaliyyah) ketimbang sifat-sifat keagungan dan kekerasan (struggeling/jalaliyyah) di dalam memperkenalkan diri-Nya pada al-Asma’ al-Husna. Sekitar 80 persen nama-nama Allah masuk kategori jamaliyyah/nurturing dan hanya sekitar 20 persen masuk kategori jalaliyyah/struggeling.

Lebih dari itu, nama-nama maliyah-Nya paling sering terulang di dalam Alquran. Contohnya nama al-Rahman terulang 57 kali dan al-Rahim terulang 114 kali. Bandingkan dengan nama-Nya yang lain, seperti al-Muntaqim (Yang Maha Pendendam) dan al-Mutakabbir (Yang Maha Angkuh) masing-masing hanya terulang satu kali di dalam Alquran.

Hal ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya Allah SWT lebih menonjol untuk dicintai ketimbang untuk ditakuti. Dia bukan sosok Maha Mengerikan untuk ditakuti dan dipuja, tetapi sebagai sosok Maha Penyayang untuk dicintai.

 

Dua Bagian Rahmat Tuhan

Di dalam kitab-kitab tafsir dibedakan sifat-sifat rahmat Tuhan ke dalam dua bagian, yaitu Rahmat Rahmaniyyah dan Rahmat Rahimiyyah. Yang pertama bersifat memberi rahmat kepada seluruh makhluk-Nya tanpa membedakan jenis dan tingkatan (maratib).

Mulai dari benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia tanpa dibedakan antara beriman dan kafir, semua mendapatkan Rahmat Rahmaniyah, sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran surah al-A’raf ayat 156, Rahmati wasi’at kulla syai’in (Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu).

Rahmat Rahmaniyyah melimpah kepada seluruh makhluk dan hamba-Nya tanpa dibedakan orang kafir atau beriman. Siapa pun yang berusaha untuk mendapatkan rahmat-Nya akan dipenuhi-Nya, sungguhpun orang itu kufur dan pendosa. Yang penting mereka sudah memenuhi persyaratan universal sudah berhak untuk mendapatkannya.

Itulah sebabnya banyak kita jumpai orang-orang selayaknya mendapatkan azab, tetapi mendapatkan rezekinya. Tentu, berbeda dengan Rahmat Rahimiyah, yang penjelasannya akan diuraikan dalam artikel mendatang.

Oleh: Nasarudin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

sumber: Republika Online

Mengucapkan Salam pada Rumah Kosong

Apakah mesti mengucapkan salam saat memasuki rumah kosong atau memasuki rumah yang tanpa penghuni? Bagaimana bentuk salamnya jika ada?

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An Nur: 61).

Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين

Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang sholeh)” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17).

Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata, “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam yang salam “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. (Al Adzkar, hal. 468-469).

Maksud kalimat “Assalamu ‘alainaa” menunjukkan seharusnya do’a dimulai untuk diri sendiri dulu baru orang lain. Sedangkan kalimat “wa ‘ala ‘ibadillahish sholihiin”, yaitu salam pada hamba yang sholeh, maksud sholeh adalah orang yang menjalani kewajiban, hak Allah dan juga hak hamba. (Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, 3: 186).

Hanya Allah yang memberi hidayah.

Referensi:

Al Adzkar An Nawawiyah, Abu Zakariya, Yahya bin Syarf An Nawawi Ad Dimasyqi, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Rosysyul Barod Syarh Al Adabil Mufrod, Dr. Muhammad Luqman As Salafi, terbitan Darud Da’i, cetakan pertama, tahun 1326 H.

Syarh Shahih Al Adabil Mufrod, Husain bin ‘Audah Al ‘Uwaisyah, terbitan Al Maktabah Al Islamiyyah, cetakan kedua, tahun 1425 H.

 

sumber: Rumaysho