Hal yang Ditakutkan Rasulullah Menimpa Umatnya

Oleh: M Sinwani   

Suatu kali, Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan hal yang paling beliau takutkan dengan berkata, ”Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil.”

Para sahabat langsung bertanya, ”Apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, ”Riya.”

Riya adalah harapan untuk mendapatkan sanjungan, kemuliaan, atau kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan tindakan yang baik dalam ibadah ataupun kegiatan sehari-hari. Seseorang yang memperturutkan riya dalam ibadah mahdhah, seperti shalat maka tiada sedikitpun balasan pahala yang ia terima. (QS al-Ma’un [107]: 4-6)

Dalam ibadah ghairu mahdhah pun seperti itu. Berinfak di jalan Allah dengan maksud bisa mendapat julukan dermawan atau menuntut ilmu dengan niat mendapat gelar seorang alim maka segala usaha tersebut akan sia-sia.

Selain itu, pelaku riya juga akan mendapat laknat dari Allah SWT karena ia telah menyandingkan Sang Khalik dengan makhluk ciptaan-Nya. Dalam Hadis qudsi disebutkan bahwa Allah SWT menantang kala hari perhitungan kepada manusia dengan berkata, ”Pergilah kalian kepada orang-orang yang kala di dunia kalian mengedepankan riya atas mereka dan lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka.” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Demikian betapa besarnya laknat Allah terhadap pelaku riya. Riya hukumnya haram. Ia merupakan penyakit hati yang bersumber dari sifat rububiyyah dalam diri manusia, yakni sifat yang menganggap diri lebih mulia ketimbang orang lain sehingga senantiasa ingin mendapatkan pujian dan menampakkan perilaku baik dalam tutur kata dan perbuatan.

Sifat ini sejatinya ada dalam hati setiap pribadi manusia, meski takarannya berbeda-beda, bergantung iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Barang siapa yang imannya kuat maka ia akan mampu menekan penyakit riya tidak sampai tampak ke permukaan, tapi sebaliknya, manakala lemah maka ia akan terseret oleh arus penyakit ini.

Lantas, bagaimana usaha kita untuk menghindari syirik kecil ini? Pertama, dengan mengetahui akar pemicu timbulnya riya. Penyakit akan tumbuh kembali manakala penderita sekadar mengobati titik sakitnya bukan pada akarnya. Adapun secara terperinci ada tiga akar riya, yakni perasaan senang mendapatkan pujian,  takut akan hinaan dan celaan, serta tamak atas apa yang dimiliki oleh orang lain. Ketiga akar ini akan tercerabut dari dalam hati kita dengan mengingat bahwa keagungan hanya mutlak milik Allah SWT dan tiada kemuliaan yang abadi di dunia.

Namun, apabila riya masih terketuk dalam hati meski kita sudah mengetahui akar pemicunya maka cara yang kedua adalah dengan mengucap taawuz dan terus beristighfar kepada Allah SWT agar setan yang kala itu membuhulkan bisikan dapat menjauh dari kita karena sejatinya setan menjauh dari orang-orang yang hatinya bersih dan ikhlas.

Dari itu semua, apalah arti sebuah sanjungan kalau ia putus ditelan kematian. Sebab, sanjungan yang abadi hanya datang dari Allah SWT kelak di hari akhir. Masing-masing dari kita akan mampu meraih sanjungan-Nya dengan amal saleh dan ketakwaan yang hakiki. Wallahu a’lam.

 

sumber: Republika Online

15 Tips Sehat Selama di Tanah Suci Makkah

Menunaikan ibadah haji dan umrah, dibutuhkan stamina tubuh yang prima. Karena untuk dapat  dapat menjalankan runtutan ibadah yang baik dan benar, seorang jamaah harus sehat secara jasmani dan rohani.

Oleh karena itu, perhatikan 15 tips sehat selama di tanah cuci:

  1. Membatasi aktivitas fisik di luar Masjidil Haram dan Pemondokan secara berlebihan.
  2. Jamaah perlu istirahat yang cukup.
  3. Gunakan selalu masker untuk menghindari  polusi udara.
  4. Perbanyak mengkonsumsi air putih, sekitar 3-4 liter per hari.
  5. Membatasi minuman dingin.
  6. Makanlah secara teratur. Hindari mengonsumsi makanan basi atau kedaluarsa.
  7.  Perbanyak mengonsumsi buah-buahan banyak mengandung air atau vitamin C.
  8. Buanglah Sampah pada tempatnya.
  9. Menutup mulut atau hidung saat batuk dan bersin dengan sapu tangan atau tisu.
  10. Tidak meludah di sembarang tempat.
  11. Mencuci tangan secara teratur sebelum/sesudah makan atau buang air besar.
  12. Jaga kebersihan dan kerapian kamar. Tidak menjemur pakaian dan memasak di dalam kamar.
  13. Tidak merokok di dalam kamar jamaah/di ruangan ber-AC.
  14. Jamaah yang sudah menderita penyakit tertentu di Tanah Air tetap mengonsumsi obat yang biasa digunakan.
  15. Segera lapor kepada petugas bila mengalami gangguan kesehatan.

 

 

Sumber: Republika Online

Petugas Haji Harus Melayani Jamaah

Setiap tahunnya, permasalahan yang terjadi dalam penyelenggara haji selalu berbeda. Oleh karena itu, layanan yang diberikan kepada jamaah pun harus selalu berubah. Begitulah yang disampaikan Ketua Panitia Pembekalan Petugas PPIH Arab Saudi 1436H/2015M Khoirizi di Asrama Haji, seperti yang dikutip Republika Online.

Menurut Khoirizi, setiap Muslim yang berangkat ke tanah suci selalu berpikir untuk beribadah. Namun, sebagai petugas, keberaan mereka di tanah suci, tidak lain  adalah untuk melayani para jamaah.

Perbedaan layanan dan permasalahan yang kompleks itulah yang dihadapi oleh petugas. “Kalau petugasnya berpikir ibadah maka akan merepotkan,” kata Khoirizi.

Karena itulah, pemerintah memilih lebih banyak petugas berpengalaman. “Tapi kan tidak mungkin semua, maka komposisinya 60 persen sudah berpengalaman dan 40 persen belum berpengalaman,” ujar dia.

“Pembekalan ini penting, kita bukan leha-leha. Output yang dihasilkan adalah komitmen untuk melayani,” kata Khoirizi.

Sumber: Jurnal Haji Umrah- Republika Online

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahap Pertama BPIH Reguler: Hari Kelima 72.825 Jemaah Lunas

Jakarta (Sinhat)–Berdasarkan data dari Siskohat Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) tercatat sebanyak 72.825 jemaah telah melunasi pada tahap pertama hari kelima hingga sore hari ini, Senin (08/06).

Pelunasan tahap pertama Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Reguler Tahun 1436H/2015M dimulai 01- 30 Juni 2015 mendatang.

Sebagaimana tahun lalu, kuota jamaah haji Indonesia tahun ini berjumlah 168.800 karena masih mengalami pemotongan sebanyak 20%. Dari jumlah itu, kuota haji regular sebanyak 155.200 yang terdiri dari jemaah haji regular sebanyak 154.049 dan Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) sebanyak 1.151 orang. Sedangkan haji khusus sebanyak 13.600 terdiri dari jemaah haji khusus sebanyak 12.831 orang dan petugas PIHK sebanyak 769 orang.

Jemaah haji akan diberangkatkan dalam 2 gelombang. Gelombang I direncanakan akan mulai diberangkatkan pada tanggal 21 Agustus 2015 sampai dengan tanggal 3 September 2015 menuju Madinah. Gelombang II pada tanggal 4 September 2015 sampai dengan tanggal 17 September 2015 tujuan Jeddah.

Rute pemberangkatan tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, Gelombang I dengan rute Tanah Air-Madinah-Makkah-Jeddah-Tanah Air, sedangkan Gelombang II dengan rute Tanah Air-Jeddah-Makkah-Madinah-Tanah Air. (ar/ar).

Biaya Haji Sudah tak Bisa Diturunkan Lagi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Pernyataan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang masih bisa diturunkan lagi dinilai Kementerian Agama sebagai ragam pendapat semata.

“Ini sudah merupakan perjanjian Kemenag dengan pemerintah Arab Saudi, nah ini tentu membawa konsekuensi ada yang menurun dan ada pelayanan tambahan,” ujar Sekjen Kemenag Prof Nur Syam, Ahad (7/6).

Nur Syam sekaligus mengonfirmasi bahwa penurunan BPIH sebesar 502 dolar AS sudah melalui perhitungan yang sangat mendasar  dari Kementerian Agama dan Komisi VIII DPR. Artinya, penurunan sebesar itu sudah relatif besar. Lantaran disesuaikan dengan perbaikan kualitas pelayanan, dan tambahan-tambahan pelayanan yang juga telah diperhitungkan juga.

Dua perubahan pelayanan itu adalah pemberian makan untuk masing-masing jamaah selama 15 kali di Mekkah. Serta penghematan rute keberangkatan jamaah haji dari Indonesia yang tidak lagi transit di Jeddah, namun langsung menuju Madinah.

“Sehingga jika kemudian muncul perkara dana BPIH masih bisa diturunkan lagi, ya karena nilai dolar fluktuatif. Jadi ini sudah ada proses negosiasi, ada proses perhitungan, mana yang perlu diturunkan, dan mana yang perlu dipertahankan, dan sebagainya” katanya.

Kisah Pelaku Maksiat Dapat Hidayah Melalui Anaknya Yang Bisu Dan Tuli

saya seorang pria berumur 37 tahun. Sudah menikah dan dikaruniai anak. Salah satunya Marwan yang masih berusia 7 tahun. Allah memberinya kekurangan berupa tuli dan bisu. Meski demikian, sungguh dia telah disusui keimanan dari air susu wanita yang beriman dan seorang penghafal Al-Quran.

Oh ya, meski istri saya wanita beriman. Saya sudah melakukan banyak hal yang dilarang oleh Allah ta’ala dan dosa-dosa besar.

Shalat saja jarang saya lakukan secara berjamaah kecuali kalau ada acara-acara tertentu saja sebagai bentuk simpati (menarik perhatian) terhadap orang lain. Terus terang, teman saya kebanyakan kurang baik dan para pesulap. Mungkin karena itu syetan selalu bersama saya dalam banyak waktu.

Suatu malam saya dan Marwan sedang di rumah. Kala itu, bertepatan shalat Maghrib. Saya sedang merencanakan pergi bersama teman-teman. Namun tiba-tiba anak saya, Marwan memberi isyarat-isyarat (bahasa tubuh yang hanya saya dan dia yang mengerti).

Kira-kira isyaratnya kala itu begini: “Wahai bapakku, kenapa engkau tidak shalat”? Kemudian dia mulai mengangkat tangannya ke langit dan mengancam saya dengan maksud menunjukkan isarat bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala melihat saya.

Saya jadi kaget (terharu) dengan perkataannya dan mulailah anak saya menangis di depan saya. Saya berusaha menariknya namun rupanya dia kabur.

Beberapa saat kemudian, dia menuju kran dan mengambil wudhu. Ia lalu shalat di depan saya. Usai shalat dia berdiri dan mengambil mushaf Al-Quran, meletakkannya di depannya dan membolak-balik kertas-kertasnya lalu meletakkan jarinya tepat pada Surat Maryam : “Wahai bapakku, sesungguhnya aku (Ibrahim) khawatir, bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pengasih, maka kamu menjadi kawan bagi syetan.” (Quran Surat Maryam ayat:45).

Melihat kejadian itu saya tak kuasa menangis dalam waktu yang cuku lama. Lalu dia berdiri dan menghapus air mata saya sambil tak lupa mencium kepala dan tangan saya sambil berkata dengan isyarat yang kira-kira artinya: “Shalatlah wahai bapakku sebelum kamu diletakkan dalam tanah dan menjadi jaminan azab.”

Demi Allah Yang Maha Besar, saya dalam keadaan bingung (hilang akal) dan takut. Sungguh, tidak ada satu orangpun yang  mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka saya segera menghidupkan lampu-lampu rumah semuanya sambil ia mengikutiku dari kamar ke kamar dengan melihatku penuh keheranan.

“Tinggalkanlah lampu-lampu itu, mari kita pergi ke masjid (maksudnya Masjid Nabawi yang mulia).”

“Tidak, kita akan pergi ke masjid yang ada di dekat rumah kita saja, ” bagitu kataku.

Iapun masih menolak ajakan saya, karena dia hanya ingin pergi ke Masjid Nabawi. Dan saya akhirnya pergi ke sana meski dalam keadaan takut sekali.

Kami masuk ke Raudhoh, sedang saat itu penuh dengan manusia. Tak beberapa lama, dikumandangkanlah iqamah untuk shalat Isya. Imam membaca firman Allah “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan dan barangsiapa mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) itu menyuruh perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: An-Nur: 21).

Mendengar bacaan imam, saya tak kuasa menahan tangisan.Rupanya, Marwanpun ikut menangis karena terpengaruh tangisan saya. Di pertengahan shalat, rupanya Marwan mengeluarkan sapu tangan dari kantong saya lalu menghapus air mata saya dengan sapu tangan itu.

Usai shalat, saya masih menangis lagi. Marwan kembali menghapus air mata saya sampai-sampai saya duduk (berada) di masjid Nabawi satu jam penuh. Karena kerasnya tangisan saya, membuat Marwan mendinginkan suasana.

“Sudahlah pak, jangan takut” ujarnya.

Kami lalu pulang ke rumah dan malam itu adalah malam yang sangat mengagumgkan bagi saya. Di mana saya seolah lahir kembali.

Tak lama hadirlah istri saya dan anak-anak saya. Mereka mulai menangis semuanya, padahal mereka tidak tahu sedikitpun apa yang telah terjadi.

Saat itu berkatalah Marwan pada mereka semua, “Tadi bapak shalat di masjid haram.”

Mendengar kabar ini, senanglah istri saya. Akhirnya saya menceritakan semua pada istri tentang apa yang terjadi antara saya dan Marwan.

“Aku bertanya kepadamu dan demi Allah, apakah kamu yang datang padanya (pada Marwan) dan menyuruhnya membuka mushaf untukku saat itu?,” demikian pertanyaanku saat itu.

Saat itu istrku bersumpah pada Allah tiga kali bahwa sesungguhnya dia tidak tak pernah melakukan hal itu pada Marwan.

“Pujilah Allah (bersyukurlah pada Allah) karena kamu dapat hidayah ini, ” ujar istriku kala itu.

Sungguhnya, malam itu adalah malam yang paling berkesan (indah).

Sekarang, Alhamdulillah saya tidak pernah lagi meninggal shalat berjamaah di masjid. Dan sungguh, saya telah meninggalkan (menjauhi) teman-teman yang buruk semuanya.

Kini saya telah merasakan keimanan sebagaimana saya juga hidup penuh kebahagian, kecintaan dan saling menyayangi bersama istri dan anak-anak saya. Lebih khusus anak saya Marwan yang tuli lagi bisu. Bagaimana tidak, sedangkan saya telah mendapat hidayah melalui dia.

*pemilik cerita ini adalah salah satu penduduk Kota Madinah.

Menggendong Sang Ayah Selama Prosesi Haji

Punggungku adalah kursi yang nyaman untuk ayahku…
———————————————————————

Itulah ucapan jamaah haji asal India saat menggendong ayahnya yang telah berusia 80 tahun, saat keduanya menunaikah ibadah haji tahun ini, tahun 1435 H/2014 M. Nama anak itu adalah Muhammad Rasyid. Ia berusia 50-an tahun. Rasyid menyatakan, ia bisa saja membawa kursi roda untuk membantu ayahnya menunaikan satu per satu rangkaian ibadah haji. Namun menurutnya ayahnya yang sepuh itu lebih merasa nyaman berada di atas punggunya. Jadi ia lebih memilih cara itu agar ayahnya merasa lebih senang.

“Aku bisa mendorongnya dengan kursi roda atau alat pengangkut sejenisnya, tapi punggungku lebih nyaman untuk ayahku,” katanya kepada harian al-Watan.

Rasyid adalah anak satu-satunya dari sang ayah. Dan ia sangat mencintai ayahnya lebih dari apapun. “Aku sangat dekat dengan ayahku, terutama setelah ibuku meninggal dunia”, katanya.

Dia berkisah, dulu sewaktu kecil ayahnya senantiasa menggendongnya. Mengangkat tubuh kecilnya di atas punggung si ayah. “Sekarang saatnya aku membalas kebaikan ayahku dalam bentuk serupa”.

Sebenarnya sang ayah sejak dulu telah mengutarakan harapan agar bisa menunaikan ibadah haji ke tanah haram. Namun saat itu, kondisi keuangan keluarga mereka tidak memungkinkan. “Ketika ayahku berusia 80 tahun, aku memutuskan untuk membawanya pergi berhaji, tidak peduli berapapun biayanya”, kata Rasyid.

Rasyid melanjutkan, “Aku juga bertekad dan berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membiarkan kaki ayahku menyentuh bumi (aku gendong), baik saat thawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh putaran), sa’i (bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa-Marwa), dan saat melempar kerikil jamarat”.

Setelah berhasil menunaikan tekadnya itu, Rasyid teringat akan ucapan seseorang di desanya, desa kecil yang berada di India. Orang-orang mengatakan, ia tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji karena ayahnya yang sangat mencintainya tidak akan mungkin mengizinkannya berangkat ke Arab Saudi. Selain itu, ayahnya juga tidak bersedia apabila ia gendong agar pergi haji bersama. Namun ia telah membuktikan apa yang disangkakan penduduk desa itu keliru. Bahkan, ia tidak hanya berangkat dengan ayahnya saja. Ibu tirinya pun ikut serta bersama-sama menunaikan rukun Islam yang kelima.

Kisah Muhammad Rasyid ini mengajarkan kepada kita tentang berbakti kepada orang tua. Haji saat ini berbeda dengan haji-haji di zaman dulu. Saat ini, jumlah jamaah haji begitu besar dan kondisinya begitu padat. Bahkan pada saat-saat tertentu, untuk masuk Masjidil Haram di waktu-waktu haji pun mendapat peringatan dan pengaturan karena Masjidil Haram sudah tidak mampu menampung jamaah haji. Belum lagi cuaca yang terik menyengat. Namun di tengah kondisi padatnya Masjidil Haram dan lempar jamarat, serta panasnya cuaca, Rasyid berusaha sekuat tenaga menggendong ayahnya yang sudah sangat tua. Terkadang kita dalam keadaan longgar dan mudah, masih sering menolak perintah dan enggan berbuat baik kepada orang tua. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita bakti dan kasih sayang kepada orang tua kita.

Ia juga menjadi bukti dari sekian banyak bukti kebenaran janji Allah. Janji barangsiapa yang jujur kepada Allah, maka Allah akan mewujudkan cita-citanya. Rasyid telah jujur berniat sepenuh hati mewujudkan cita-citanya dan ayahnya untuk berhaji ke tanah suci. Lalu, Allah bukakan jalan kepadanya.

Kisah Rasyid juga mengajarkan bahwa rezeki haji itu bukanlah hitungan pasti nominal rezeki. Terkadang jalan menuju ke sana Allah bukakan dari pintu yang tiada disangka. Entah apapun dan bagaimanapun caranya. Dan sebaliknya, terkadang rezeki harta itu ada tapi kesehatan atau hal-hal lain jadi penghalang. Terkadang harta itu cukup atau berlebih, namun lemahnya iman menghalangi.

Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah dengan sepenuh hati dan penuh kejujuran bahwa kita ingin menjadi tamu-Nya di rumah-Nya, Baitullah yang mulia, mudah-mudahan Allah kabulkan keinginan dan wujudkan suatu hari nanti. Mohonlah kepada Allah taufik, agar hati kita diberikan spirit untuk menggemakan kalimat talbiyah bersama kaum muslimin dunnia di Baitullah al-haram.

Sumber: saudigazette.com.sa

Rencana Perjalanan Haji 1436 H / 2015 M

Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) sudah menyusun Rencana Perjalanan Haji (RPH) 1436 H/ 2015 M. Daftar ini berisi jadwal-jadwal penting jemaah haji di Indonesia maupun di Arab Saudi.

Inilah daftar RPH yang detikcom peroleh dalam pelatihan Petugas PPIH:

a. 20 Agustus 2015 (5 Dzulqoidah 1436)= Calon jemaah haji masuk asrama haji.

b. 21 Agustus 2015 (6 Dzulqoidah 1436)= Awal pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang I dari Tanah Air ke Madinah.

c. 30 Agustus 2015 (15 Dzulqoidah 1436)= Awal jemaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah.

d. 3 September 2015 (19 Dzulqoidah 1436)= Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari Tanah Air ke Madinah/ Jeddah pukul 24.00 waktu Arab Saudi.

e. 4 September 2015 (20 Dzulqoidah 1436)= Awal calon jemaah haji Gelombang II dari Tanah Air ke Jeddah.

f. 12 September 2015 (28 Dzulqoidah 1436)= Akhir calon jemaah haji Gelombang I dari Madinah ke Makkah.

g. 17 September 2015 (4 Dzulhijjah 1436)= Akhir pemberangkatan calon jemaah haji Gelombang II dari Tanah Air ke Jeddah.

h. 17 September 2015 (4 Dzulhijjah 1436)= Closing date KAIA Jeddah (pukul 24.00 WAS).

i. 21 September 2015 (8 Dzulhijjah 1436)= Hari Tarwiyah.

j. 22 September 2015 (9 Dzulhijjah 1436)= Wukuf di Arafah.

k. 23 September 2015 (10 Dzulhijjah 1436)= Idul Adha 1436 H.

l. 24-26 September 2015 (11-13 Dzulhijjah 1436 H)= Hari Tasyrik.

m. 28 September 2015 (15 Dzulhijjah 1436)= Awal pemulangan jemaah haji Gelombang I dari Makkah melalui bandara KAAIA Jeddah ke Tanah Air.

n. 29 September 2015 (16 Dzulhijjah 1436)= Awal kedatangan jemaah haji Gelombang I dari Jeddah ke Tanah Air.

o. 3 Oktober 2015 (20 Dzulhijjah 1436)= Awal pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Makkah ke Madinah.

p. 11 Oktober 2015 (28 Dzulhijjah 1436)= Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang 1 dari Makkah ke bandara KAAI Jeddah.

q. 12 Oktober 2015 (29 Dzulhijjah 1436)= Awal pemulangan jemaah haji Gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.

r.14 Oktober 2015 (1 Muharram 1437)= Tahun baru hijriah.

s. 16 Oktober 2015 (3 Muharram 1437)= Akhir pemberangkatan jemaah haji Gelombang II dari Makkah ke Madinah.

t. 25 Oktober 2015 (12 Muharram 1437)= Akhir pemulangan jemaah haji Gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.

u. 26 Oktober 2015 (14 Muharram 1437)= Akhir kedatangan jemaah haji Gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.

Maurice Bucaille, Meneliti Mumi Fir’aun dan Memutuskan untuk Masuk Islam

kisahmuallaf.com – Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof. Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan.

Liam Neeson : Bergetar Mendengar Adzan di Turki

KisahMuallaf.com – Bintang Hollywood Liam Neeson , pemeran utama Film Grey, the A Team, Taken 1, Taken 2 , dan beberapa film Box Office Hollywood mempertimbangkan melepaskan keyakinan Katolik dan menjadi seorang Muslim.

Aktor yang telah berusia 59 tahun, ia mengaku merasakan kekuatan Islam “memasuki ke dalam batinnya” saat ia melakukan syuting film Taken 2 di kota Istanbul Turki.

Dia mengatakan: “Panggilan sholat (Adzan) yang terjadi lima kali sehari selama seminggu pertama itu membuatnya gila.Minggu kedua, lantunan adzan itu memasuki dan terasa di bawah kulitnya. Pada minggu ketiga, rasanya saya tidak bisa hidup tanpa (Adzan) nya. Ini benar-benar menjadi suatu hipnotis dan sangat, sangat berpengaruh bagi saya , sangat, sangat istimewa, sangat indah. ”

Kemudian ia beli CD nyanyian Islam, yang ia memakai dan mendengarkannya sebelum tidur untuk membantunya tidur.

“Ada 4.000 masjid di kota Istambul . Beberapa dari masjid itu sungguh menakjubkan dan itu benar-benar membuat saya berpikir ingin menjadi seorang Muslim. ”

Liam dibesarkan di Irlandia Utara sebagai anak dari keluarga Katolik yang taat dan ia diberi nama oleh pendeta setempat.

Tapi bintang Hollywood tersebut- ditinggal oleh istrinya Natasha Richardson yang meninggal dalam usia 45 tahun dalam kecelakaan ski pada tahun 2009 – telah berbicara tentang kondisi imannya.

Dia berkata: “Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik tapi saya selalu berpikir setiap hari dan bertanya kepada diri sendiri, secara tidak sadar, apa yang kita lakukan di planet ini? Apa maksud dari semuanya itu?

Tapi sayangnya, hingga saat ini Liam Neeson masih belum menyatakan memeluk Islam, semoga saja hidayah itu datang kembali dan tidak di sia siakan olehnya…Aamiin.