Al-Qur’an Sebagai Mukjizat Terbesar

MULAI pagi hingga siang kemarin, Allah takdirkan saya berkumpul dengan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan beberapa politisi dalam acara menghias bumi dan langit nusantara dengan ayat-ayat al-Qur’an.

Ribuan orang bersama-sama mengkhatamkan al-Qur’an dari al-Fatihah sebagai ayat pembuka samapai an-Nas sebagai ayat terakhir. Harapannya adalah semoga pintu pembuka keberkahan senantiasa ada pada anak bangsa Indonesia dan semoga akhirnya adalah keberhasilan hidup sebagai manusia (an-Naas) yang bahagia.

Andai kegiatan khatmil Qur’an menjadi agenda rutin anak bangsa, andai khatmil Qur’an itu dilanjutkan dengan fahmil Qur’an (memahami al-Qur’an) dengan tafakkur dan tadabbur yang tepat, maka yakinlah bahwa Indonesia ini akan selalu diwarnai dengan hujan emas dan permata, bukan hujan tangis dan tetes air mata. Sungguh al-Qur’an sebagai mu’jizat terbesar Nabi Muhammad memiliki kekuatan dan kedahsyatan efek yang luar biasa untuk menghadirkan asa yang sementara ini hanya menjadi harapan dan tujuan dalam tulisan.

Sebagaimana al-Qur’an mampu menjadikan umar bin khattab yang kasar dan keras menjadi lunak dan beradab setelah mendengarkan ayat al-Qur’an yang dibacakan adiknya, sungguh hati kasar nan tamak para mafia politik dan ekonomi di tanah air ini bisa diharapkan melunak dan berempati pada rakyat kelas bawah dan kaum terpinggirkan.

Sebagaimana al-Qur’an mampu mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat madani, yakinlah bahwa al-Qur’an juga mampu mengubah hati gelap anak bangsa menjadi hati terang.

Saya yakin banyak yang setuju dengan uraian saya di atas. Namun mungkin banyak yang kemudian bertanya, dari maka kita harus memulai? Jawabannya adalah dari kita sendiri yang mengistiqamahkan membaca al-qur’an dalam setiap ada kesempatan. Bahkan, adakanlah selalu kesempatan itu tanpa menunggu diadakannya acara mengaji oleh orang lain.

Biasakanlah mengaji bersama keluarga, lalu meluas lagi dan meluas lagi sampai semua tengah dan pinggiran negeri ini mengaji. Sejuklah Indonesiaku, damailah negeriku. Salam, AIM. [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2294097/al-quran-sebagai-mukjizat-terbesar#sthash.wDuuTlTR.dpuf

Biasakan Membaca Doa Nabi Yunus

BIASAKAN membaca apa yang dibaca Nabi Yunus ketika dimakan ikan dan sekian lama berada dalam perut ikan itu. Beliau diselamatkan dari musibah yang menurut nalar tidak ada kemungkinan selamat. Allah bekerja dengan cara yang tak diduga untuk hambaNya yang senantiasa menjaga tauhid, mensucikanNya dan mengakui kesalahannya.

Yang diucapkan Nabi Yunus adalah: “Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim”.

Orang yang menjaga tauhid, menggantungkan diri kepada Allah saja, akan senantiasa ditolong Allah. Orang yang bertasbih, mensucikan Allah, akan senantiasa dilimpahi karunia tak terduga. Orang yang mengakui kesalahannya, kedzaliman dirinya, sungguh akan disayang Allah dan disayang pula oleh hamba-hambaNya yang lain.

Demikian sentuhan siang dari saya, AIM, seorang hamba Allah yang penuh kelemahan dan kekurangan. Doakan saya bisa menjalankan amanah besar berupa pesantren kota Alif Laam Miim ya. Tak mudah, tak ringan, dan tak selalu lepas dari uji dan goda. Salam dari hati kami yang paling dalam, AIM.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2294584/biasakan-membaca-doa-nabi-yunus#sthash.2yQPb8nj.dpuf

Seribu Satu Jalan Menuju Kematian

SERIBU satu jalan menuju kematian. Hadirnya adalah misteri. Ditebak ia tak datang, tidak diduga ia tiba-data datang.

Innaa lillaah wa innaa ilayhi raaji’uun. Telah kembali ke rahmat Allah Prof. DR. H. Saiful Anam, MA, dosen UINSA Surabaya, seorang dosen yang sangat ramah pada mahasiswanya dan akrab dengan kolega-koleganya. Beliau adalah seorang yang tegas dalam memegang prinsip, teguh dalam pendirian dan santun dalam kehidupan.

Beberapa hari yang lalu, beliau masih menguji disertasi dua mahasiswa Libya bersama saya dan tim penguji yang lain. Saat itu, wajahnya bersih namun tak terlihat sakit. Masih bercanda dan bertanya-tanya tentang Alm. Drs. H. Makasi, MAg, misanan isteri saya yang menjadi teman akrabnya.

Beliau berkata: “Pak Makasi tidak kita duga ya, sudah meninggal dunia.” Saat ini beliau sedang menjadi promotor disertasi mahasiswa Libya dengan saya. Tidak seperti biasanya, beliau cepat tanda tangan bahkan sebelum diskusi disertasi itu dengan saya. Ini bukan kebiasaan beliau. Kata orang, barangkali itu adalah bagian dari tanda-tanda.

Namun kematian tak selalu hadir dengan tanda-tanda pasti. Bahkan tidak pasti kematian itu diawali dengan sakit. Buktinya ada banyak orang yang meninggal bukan karena sakit. Tidak pula pasti diawali dengan wasiat atau perilaku tertentu, buktinya ada yang tiba-tiba meninggal dalam keadaan shalat, sujud, atau dalam keadaan santai bermain. Sungguh kematian itu misteri.

Yang pasti, kita pasti menemui kematian itu. Karena mati tak pernah berjanji kapan akan datang, tugas kita adalah mempersiapkan segalanya untuk menjadi akhir kehidupan yang indah, yang disebut dengan husn al-khatimah. Persembahkan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Saatnya nanti, tak ada yang bisa dibanggakan kecuali iman dan amal shalih. Masihkah mau dan bersemangat bertengkar berebut “tulang?” Salam, AIM, Dosen UINSA Surabaya.

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2295293/seribu-satu-jalan-menuju-kematian#sthash.UCouNgOg.dpuf

Sudahkah Membayar Uang Kos kepada Allah

MALAM ini ada yang datang ke pondok seorang hamba Allah yang hidupnya penuh dengan cerita, cerita menyedihkan dan cerita menggembirakan, cerita nyata yang biasa-biasa saja dan cerita nyata yang bagai hanya di alam maya saja. Bagi saya, kisah-kisahnya adalah testimoni akan kebenaran firman Allah, janji Allah kepada hambaNya.

Hamba Allah yang satu ini sudah lama menjadi aktifis sosial, dengan rajin bershadaqah seakan sudah tak pernah takut miskin. Dunia shadaqah digelutinya semenjak beliau gagal mengatur hidupnya sendiri dengan mengandalkan pada uang deposito yang dititipkan di bank. Uang yang menurut perhitungan kalkulatornya bisa “menjamin” hidupnya walau hanya dengan mengandalkan bunganya saja habis ludes sampai ke akar-akarnya.

Awalnya beliau belajar mengikhlaskan sepeda motor satu-satunya untuk dishadaqahkan, saat ini sudah terbiasa menshadaqahkan apa yang dimilikinya. Bukan hanya uang melainkan juga mobil dan rumah. Apakah beliau jatuh miskin?

Ternyata semakin dipercaya Allah untuk mengelola harta benda untuk kemaslahatan. Anak-anaknya sukses di sekolah dan perguruan tinggi favorit. Rumah dan tanahnya bertambah dan usahanya berkah berlimpah. Bagai dunia mimpi saja kata beliau.

Beliau bershadaqah bukan karena ingin kaya. Menjadi kaya karena shadaqah itu hanya efek positifnya saja. Beliau hanya ingin diridlai Allah. Kebiasaannya sejak dulu adalah menyediakan kotak amal di samping tempat tidurnya. Setiap bangun pagi beliau dan isteri memasukkan sejumlah uang, minimum 100 ribu ke kotak itu sebagai terima kasihnya diijinkan untuk “ngekos” di bumi ini. Sebagian uang kos itu dititipkannya melalui Ponpes Kota Alif Laam Miim. Subhanallah wa Alhamdulillah.

Bagaimanakah dengan kita? Sudahkah membayar uang kos kepada Allah atas perkenanNya mempersilahkan kita ada di bumiNya? Sungguh kisah beliau inspiratif sekali. Ada banyak kisah lainnya yang insyaAllah akan saya share melalui forum ini. Salam, AIM, Pengasuh. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2295294/sudahkah-membayar-uang-kos-kepada-allah#sthash.cNqWDiSW.dpuf

Miras dan Pornografi Pematik Kejahatan Seksual kepada Anak

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar berpendapat, minuman keras (miras) dan pornografi menjadi salah satu faktor pematik maraknya kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur. Karena itu, Deddy berpendapat hukuman di hilir harus berat.

“Tapi ini tidak menjamin akan berkurang tindakan kekerasan terhadap anak. Artinya pencegahan pun harus dilakukan tapi bagaimana peredaran miras, narkoba dan situs porno. Itu harus sama upayanya, harus besar,” kata Deddy Mizwar ketika diminta tanggapannya tentang kondisi Indonesia Darurat Kejahatan Seksual di Bandung, Jumat (13/5).

Menurut dia hukuman berat untuk pelaku kejahatan seksual perlu diterapkan. Sedangkan wacana hukuman kebiri bisa menjadi salah satu bentuk hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku.

“Tentunya hukuman harus berat. Tapi tidak menjamin berkurangnya tindakan kriminal, kekerasan terhadap anak kalau tindakan pencegahan juga harus dilakukan,” kata Deddy.

Sumber : Antara/ Republika Online

FUI Tolak Wacana Permintaan Maaf Pemerintah kepada Keluarga Eks PKI

Forum Umat Islam (FUI) siap menghadap dan melawan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). FUI menilai PKI memiliki ajaran Komunisme atau Atheisme yang menentang keberadaan Allah Yang Maha Kuasa, yang merupakan dasar kehidupan Bangsa dan Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath mengatakan, FUI secara tegas tidak mendukung dengan indikasi kebangkitan PKI.

Menurutnya, PKI dalam lintasan sejarah terbentuknya NKRI dan perjalanannya hingga hari ini telah terbukti melakukan pengkhianatan dan pemberontakan dalam rangka membentuk negara komunis di Indonesia yang mengubah dasar Negara dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar Atheisme, atau faham Tiada Tuhan.

PKI dalam hal pengkhianatan terhadap NKRI telah melakukan serangkaian tindakan kekerasan dan pembunuhan kepada para alim ulama, para aktivis Islam seperti PII, Banser, dan Nahdatul Ulama di Jawa Timur.

Mereka juga melakukan tindakan provokasi  terhadap Presiden Soekarno agar membubarkan organisasi Islam seperti Masyumi, serta melakukan tindakan pembunuhan kepada para Jenderal TNI sehingga bentrokan antara para kader dan simpatisan PKI dengan para aktivis Islam dan TNI, adalah suatu keniscayaan sebagai akibat dari ulah dan tindakan mereka.

“Adanya wacana untuk membalik fakta sejarah seolah-olah bahwa kader PKI dan simpatisan mereka adalah para korban yang sama sekali tak berdosa adalah  suatu hal yang bertentangan dengan fakta sejarah sehingga adanya upaya tuntutan kepada Negara untuk meminta maaf dan kompensasi adalah suatu hal yang bersifat mengada-ada,” katanya Republika.co.id, Jumat (13/5).

Al Khaththath menjelaskan, adanya berbagai indikasi kebangkitan kembali ajaran ideology PKI di Indonesia seperti upaya pencabutan Tap MPRS No XXV/1966, adalah suatu perkara yang harus diwaspadai. Kembalinya ideology PKI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia wajib ditolak oleh umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

FUI, lanjut Al Khaththath telah melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu. Dalam pertemuan ini, FUI meminta sejumlah hal untuk dilakuka pemerintah. Misalnya, dalam menangani masalah yang berkaitan dengan PKI, harus memulai dari kasus pemberontakan-pemberontakan PKI sejak 1946, bukan hanya setelah 1965.

“Dalam membuat program Gerakan Bela Negara (GBN) oleh Kemenhan bisa memasukkan kurikulum ketahanan ideologi, khususnya menajamkan bahaya ideologi komunis,” kata Al Khaththath.

“Selain itu, FUI menolak rencana dan wacana permintaan maaf pemerintah kepada PKI dan mendesak agar pencarian kuburan massal dihentikan serta menyatakan bahwa PKI adalah pelaku kejahatan kemanusiaan,” tegasnya.

Ia menambahkan, FUI juga meminta pemerintah agar menginstruksikan TVRI untuk memutar kembali film G30S/PKI. FUI juga meminta pemerintah untuk  melibatkan para Ulama dan pesantren dalam program bela negara.

 

 

sumber:Republika Online

Tukang Es Pakai Kaos ISIS Ditangkap tapi Puteri Indonesia Pakai Kaos Komunis Dibela, Itulah Indonesia!

Betapa ironis dengan kebijakan di negeri mayoritas Muslim Indonesia. Seorang publik figur Puteri Indonesia -yang selama ini ditentang umat Islam- memakai kaos bergambar palu arit lambang komunis, dibela habis-habisan.

Padahal, sejarah telah menjadi saksi kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) yang banyak membantai umat Islam termasuk pula para pejabat militer di negeri ini.

Namun, perlakuan terhadap Puteri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri sangat berbeda dengan Ade Puji Kusmanto (31), warga Terlangu, Brebes, Jawa Tengah. (Baca: Puteri Indonesia 2015 Bangga Selfie Pakai Baju Palu Arit Berlambang Komunis)

Ade, pedagang es kelapa muda itu ditangkap aparat kepolisian lantaran mengenakan kaos bertuliskan kalimat tauhid yang dituding bagian dari simbol ISIS (Islamic State of Iraq and Sham) yang kini mendeklarasikan Daulah Islamiyah.

Saya sudah sampaikan ke Menteri Agama, kemarin orang yang pakai baju ISIS ditangkap-tangkapi padahal itu kekuatan hukum positif atau hukum tetap yang bisa dijadikan dasar untuk menangkap orang yang menggunakan baju itu

Hal itu disampaikan Pimpinan Taruna Muslim yang juga pengamat anti Komunis, Ustadz Alfian Tanjung.

“Saya sudah sampaikan ke Menteri Agama, kemarin orang yang pakai baju ISIS ditangkap-tangkapi padahal itu kekuatan hukum positif atau hukum tetap yang bisa dijadikan dasar untuk menangkap orang yang menggunakan baju itu,” kata Ustadz Alfian Tanjung kepada redaksi Panjimas.com, Rabu (25/2/2015).

Menurut Ustadz Alfian Tanjung, siapa pun mereka baik itu publik figur atau seorang rakyat jelata harus disikapi sama.

Kenapa orang yang memakan simbol sebuah partai yang sangat terlarang, apa pun alasannya, malah dibela katanya sekedar untuk rekreasi atau menghargai. Sedangkan tukang es kelapa malah ditangkap-tangkapi oleh polisi

“Kenapa orang yang memakan simbol sebuah partai yang sangat terlarang, apa pun alasannya, malah dibela katanya sekedar untuk rekreasi atau menghargai. Sedangkan tukang es kelapa malah ditangkap-tangkapi oleh polisi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ustadz Alfian Tanjung menilai, penggunaan simbol komunis yang dilakukan seorang publik figur seperti Puteri Indonesia bukan tanpa sengaja, melainkan ada tujuan tertentu.

“Ini sebagai isyarat PKI sedang melakukan familiarisasi bahwa simbol mereka juga merupakan simbol yang berhak ditampilkan di hadapan publik,” tutupnya. [AW]

 

 

sumber:Panji Mas

Puteri Indonesia 2015 Bangga Selfie Pakai Baju Palu Arit Berlambang Komunis

Puteri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri mengatakan terlihat narsis saat berfoto selfie mengenakan baju palu arit, lambang komunis.

Dengan bangga Anindya mengunggah foto berbaju komunis itu ke akun Instagram miliknya, @anindyakputri pada Jumat lalu (20/2/2015).

“I So Vietnam Today,” tulis Anindya sebagai keterangan di foto itu.

Nettizen di jejeraing sosial pun banyak yang mengecam tingkah puteri Indonesia tersebut.

”Apakah ini foto Putri Indonesia (mungkin Anindya Putri)? Kok konyol begitu ya?,” ujar akun @nurudinwriter.

“Palu arit adl lambang PKI, paham komunis dilarang di Indonesia, apapun bentuknya! apalagi menyandang Putri Indonesia,” kicau @semesta_kicau.

puteri indonesia kaos palu arit

Wanita kelahiran  3 Februari 1992 itu berdalih bahwa sikap tersebut untuk menghargai negara lain yakni Vietnam. Menurutnya, mengenakan baju palu arit sama seperti orang lain mengenakan batik.

“Saya menghargai persahabatan antar bangsa dan juga perbedaannya termasuk ideologi masing-masing negara. Saat itu pun saya berpikir saya mengenakan baju itu karena menghargai teman-teman dari Vietnam. Sama halnya seperti mereka yang memakai baju batik pemberian saya” ujar Anin di Graha Mustika Ratu, Selasa (24/2/2015).

Alangkah naifnya jika kaos merah berlambang palu arit itu disamakan dengan baju batik. Sebab, sangat jelas kaos palu arit itu melambangkan ideologi tertentu dalam hal ini komunis, sementara baju batik tidak melambangkan ideologi tertentu dan hanya melambangkan budaya dari Indonesia.

“Karena sangat naif, sudah terpilih sebagai Puteri Indonesia. Indonesia kan antikomunis, lalu ada orang yang memakai baju lambang komunis,” kata Mayor Jenderal TNI Mochamad Fuad Basya yang menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI di tempat berbeda. [AW/ cnn, viva]

 

sumber:Panji Mas

Hukum Shalat Saat Makanan Telah Tersaji

Manakah yang mesti didahulukan saat makan malam -misalnya- telah tersaji, apakah makan dulu baru mengerjakan shalat? Atau bagaimana?

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560).

Dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

Jika makan malam telah tersajikan, maka dahulukan makan malam terlebih dahulu sebelum shalat Maghrib. Dan tak perlu tergesa-gesa dengan menyantap makan malam kalian.” (HR. Bukhari no. 673 dan Muslim no. 557).

Yang Dinafikan dalam Hadits

Jika disebutkan tidak dengan kata “laa” dalam hadits, maka yang dimaksud bisa tiga makna: (1) laa yang menafikan keberadaan, artinya tidak ada, (2) laa yang menafikan kesahan, artinya tidak sah, (3) laa yang menafikan kesempurnaan, artinya tidak sempurna. Demikian maksud penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin.

Kalau dimaknakan dengan makna peniadaan secara total, tidaklah tepat karena masih saja ada orang yang shalat saat makanan sudah disajikan atau sambil menahan kentut.

Kalau shalat saat makanan tersaji tidak sah, ini bisa jadi menurut ulama yang berpendapat kekhusyu’an itu wajib ada di dalam shalat. Jika dalam shalat terlalu sibuk dengan hal-hal lain di luar shalat, shalatnya tidaklah sah.

Kalau kita nyatakan bahwa kekhusyu’an adalah sunnah shalat, bukanlah wajib sebagaimana yang dinyatakan oleh mayoritas ulama, berarti “laa” yang dimaksud dalam hadits adalah tidak sempurna. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa yang lebih tepat, kalimat dalam hadits berarti “tidak sempurna shalat seseorang ketika makanan telah dihidangkan”.

Berarti, dapat kita sebut bahwa shalat saat makanan telah tersaji, hukumnya makruh.

Faedah Hadits

Beberapa faedah yang bisa disimpulkan dari hadits:

1- Islam sangat perhatian terhadap shalat sampai-sampai memerintahkan untuk konsentrasi dalam shalat dan menghilangkan pikiran di luar shalat.

2- Shalat dengan penuh kekhusyu’an lebih utama daripada shalat di awal waktu karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan untuk makan lebih dulu supaya kekhusyu’an shalat tidak terganggu dengan hadirnya makanan.

3- Memilih untuk menyantap makan tidaklah mengapa walau shalat jama’ah nantinya luput. Kalau menyantap saat waktu shalat itu bukan rutinitas dan telah rutin mengerjakan shalat secara berjama’ah, maka pahala berjama’ah tetap dicatat. Hal ini berdasarkan hadits,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba dalam keadaan sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya semisal keadaan beramalnya saat mukim (tidak bersafar) atau saat sehat (tidak sakit).” (HR. Bukhari no. 2996). Makan saat shalat berjama’ah termasuk uzur yang sama dengan hadits ini, sehingga juga akan dicatat sama halnya ketika sakit atau bersafar.

4- Jika makanan belum dihidangkan saat sudah merasa lapar, maka tetap shalat dikerjakan lebih dulu. Hadits di atas dimaksudkan mendahulukan shalat jika makanan telah tersaji. Karena saat itu kecenderungan hati lebih besar dibanding saat makanan belum hadir.

Jadi prinsipnya bukanlah “ketika lapar lebih baik makan daripada shalat.” Prinsip yang dimaksud dalam hadits adalah “mendahulukan makan dari shalat saat makanan telah tersajikan.”

5- Maksud dari mendahulukan makan dari shalat adalah ketika benar-benar dalam keadaan butuh untuk makan (benar-benar lapar). Karena sebab larangan mendahulukan shalat kala itu adalah karena masalah khusyu’ dan konsentrasi hati. Jika hati tidak begitu butuh pada makan, maka tidak jadi larangan mendahulukan shalat saat itu. Karena “al hukmu yaduuru ma’a illatihi wujudan aw ‘adaman”, hukum itu berputar pada ada atau tidaknya illah.

6- Jika makanan telah tersaji namun saat itu tidak boleh disantap, maka bukan berarti shalat mesti ditinggalkan.

Misalnya, jika belum shalat Ashar dan kita baru terbangun saat mendekati matahari terbenam dan masih belum waktu berbuka puasa, namun makanan telah tersaji. Maka tidak bisa dikatakan bahwa kita tidak shalat Ashar saja karena makanan telah tersaji, tunda saja shalat tersebut sampai berbuka. Yang benar, shalat Ashar tetap dikerjakan meskipun makanan belum bisa disantap karena  memang belum saatnya waktu berbuka.

7- Jika ada makanan porsi besar dan makanan ringan saat berbuka puasa, maka yang lebih baik tetap mendahulukan makanan ringan, barulah setelah shalat Maghrib dilanjutkan dengan makanan berat. Demikian kesimpulan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin.

 

Pecahnya Pemberontakan PRRI

Menurut Wangsawidjaya, yang waktu itu menjadi sekretaris pribadi Bung Hatta, orang nomor dua di Indonesia ini meletakkan jabatan bukan hanya karena tindakan Bung Karno yang sering menyimpang, terutama karena keadaan pemerintahan dewasa itu (1950-1958).

Saat itu parpol saling menyerang dan bertengkar secara tidak sehat karena condong bersikap sebagai orang partai daripada negarawan. Sedangkan, partai yang berkuasa lebih mementingkan politik dan aspirasi partainya ketimbang kepentingan bangsa dan negara.

Sekalipun sudah tidak lagi sebagai wakil presiden, perhatian Bung Hatta terhadap nusa dan bangsa tetap besar. Ketika pecah pemberontakan PRRI, ia berupaya sekuat tenaga mengusahakan perdamaian antara pusat dan daerah. Indonesia, katanya, tidak boleh pecah, malah harus memperkuat persatuan.

”Empat kali saya berupaya menghalang-halangi (pemberontakan PRRI), tapi tidak berhasil. Saya tegaskan bahwa tindakan itu akan mencapai sebaliknya dari yang dimaksud, akan menghancurkan apa yang telah dibangun dengan usaha sendiri serta menjadikan Sumatra Barat sebagai padang dilajang gajah, dan last but not leastmemperkuat semangat diktatur di kalangan pemerintahan,” (Solichin Salam: Sukarno–Hatta).

Sukarno dan Hatta tak Saling Dendam

Hatta sendiri kepada Solichin menceritakan bagaimana akrabnya ia dan Bung Karno waktu itu. ”Hingga tiap surat yang akan ditandatanganinya ditolak sebelum ada paraf saya. Dan tiap keputusan yang saya ambil Bung Karno selalu menyetujuinya.”

Sedangkan, Wangsa, yang menjadi sekretaris pribadi Bung Hatta hingga tokoh ini meninggal dunia, menyatakan, sekalipun sering berbeda pendapat, keduanya tidak pernah saling mendendam. Sebagai bukti, Bung Hatta tidak dendam kepada Bung Karno ialah peristiwa menjelang wafatnya presiden pertama RI ini.

Pada 19 Juni 1970, atau dua hari sebelum Bung Karno wafat, Bung Hatta dan Wangsawidjaja mengunjungi RSPAD Gatot Subroto untuk menjenguk Bung Karno.

Setelah sebelumnya mereka mendapat kabar dari Mas Agung (dirut PT Gunung Agung) bahwa Bung Karno dalam keadaan gawat. Sakitnya Bung Karno ini memang sangat dirahasiakan pemerintah. Karena itulah, Hatta sebelum membesuknya harus minta izin terlebih dulu kepada Pak Harto melalui Sekmil Jenderal Tjokropranolo.

 

 

sumber: Rumaysho.Com

 

Lupa Membaca Bismillah di Awal Makan

Kita telah tahu bahwa di awal makan kita diperintahkan untuk membaca bismillah. Bagaimana jika lupa membaca bismillah di awal, apa yang mesti dibaca sehingga rutinitas makan kita tetap diberkahi serta dijauhi dari godaan setan?

Urgensi Membaca Bismillah di Awal Makan

1- Membaca bismillah di awal makan adalah perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Wahai Ghulam, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

2- Setan menghalalkan makanan yang tidak disebut bismillah

Dari Hudzaifah, ia berkata, “Jika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau menghadiri jamuan makan, lalu seorang Arab badui datang yang seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian seorang budak wanita datang sepertinya ia terdorong hendak meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan berkata,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِى لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ يَسْتَحِلُّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَجَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ لَفِى يَدِى مَعَ أَيْدِيهِمَا

Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama orang badui ini, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama budak wanita ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua.” (HR. Abu Daud no. 3766. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

3- Mudah kenyang dan bawa berkah pada makanan dengan membaca bismillah di awal

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan)

Lupa Membaca Bismillah

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang meninggalkan membaca “bismillah” di awal karena sengaja, lupa, dipaksa, tidak mampu mengucapkannya karena suatu alasan, lalu ia bisa mengucapkan di tengah-tengah makannya, maka ia dianjurkan mengucapkan “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu” (Al Adzkar, hal. 427, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah)

Ada beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu(dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا أَكَلَ أَحَدكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله فَلْيَقُلْ : بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaah fii awwalihi wa aakhirihi (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767 dan Ibnu Majah no. 3264. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih).

Dari Umayyah bin Mihshon -seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يَأْكُلُ فَلَمْ يُسَمِّ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلاَّ لُقْمَةٌ فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ فَضَحِكَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ « مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَقَاءَ مَا فِى بَطْنِهِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk dan saat itu ada seseorang yang makan tanpa membaca bismillah hingga makanannya tersisa satu suapan. Ketika ia mengangkat suapan tersebtu ke mulutnya, ia mengucapkan, “Bismillah awwalahu wa akhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).” Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa dan beliau bersabda, “Setan terus makan bersamanya hingga. Ketika ia menyebut nama Allah (bismillah), setan memuntahkan apa yang ada di perutnya.” (HR. Abu Daud no. 3768, Ahmad 4: 336 dan An Nasai dalam Al Kubro 10113. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Al Hakim menshahihkan hadits ini dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Mutsanna bin ‘Abdurrahman mengatakan hadits ini hasan dan memiliki berbagai penguat. Lihat Majma’ Az Zawaid, 5: 22).

Hadits terakhir di atas menunjukkan bahwa setan itu berserikat pada makanan yang tidak disebut nama Allah (membaca: bismillah) saat dimakan. Lalu jika seseorang mengingat Allah (mengucap bismillah) di tengah-tengah makan walau makanan tersisa sedikit, maka diharamkan pada setan apa yang telah dimakan sebelumnya. Juga hadits di atas menunjukkan bahwa setan bisa muntah. Lihat Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly, 2: 48.

Hadits-hadits di atas pun jadi dalil bahwa jika seseorang lupa membaca bismillah di awal makan dan baru teringat di tengah-tengah makan, maka ucapkanlah “bismillah awwalahu wa akhirohu” atau “bismillah fii awwalihi wa aakhirihi“.

Semoga sajian di malam ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Moga aktivitas makan kita bukan hanya mengisi perut, namun aktivitas tersebut moga semakin menguatkan kita dalam ibadah dan mendatangkan keberkahan karena mengikuti tuntunan Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Baca artikel Rumaysho.Com lainnya: Sebelum Makan, Bacalah Bismillah.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Akhukum fillah,

 

 

Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)