Shalat Fajar, Qabliyah Subuh, Qiyamul Lail, dan Tahajud

Assalamualaikum wr wb

Ustaz, apa beda antara shalat Fajar dengan sunah Qabliyah Subuh? Dan, apa beda shalat Tahajud dengan shalat qiyamul lail? Karena ada yang mengatakan antara shalat itu berbeda. Mohon penjelasannya.

Warni Hs – Denpasar

Waalaikumussalam wr wb

Yang dimaksud shalat Fajar adalah shalat Subuh, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Jadi, shalat Fajar dan shalat Subuh adalah dua nama untuk satu shalat fardhu yang waktunya dimulai dari terbitnya fajar hingga terbitnya matahari.

Jabir bin Samurah meriwayatkan sesungguhnya di antara kebiasaanNabi adalah duduk di tempat shalatnya setelah shalat Fajar (Subuh) sampai matahari agak meninggi. (Hadits Riwayat Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Ketika shalat Fajar (Subuh) pada hari Jumat, Nabi saw membaca Alif Lam Mim (surah as-Sajdah) dan Hal ata ‘ala al-insan hinum mina al-dahri (surah al-Insan). (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam kedua hadis tersebut, yang dimaksudkan dengan shalat Fajaradalah shalat Subuh. Dan, shalat Subuh mempunyai shalat sunah rawatib yang dilakukan sebelumnya, yaitu sebanyak dua rakaat dan shalat ini selalu dilakukan oleh Nabi saw.

Shalat sunah rawatib sebelum Subuh inilah yang disebut shalat sunah Fajar dan dinamakan juga shalat sunah Subuh atau sunah dua rakaat Fajar (rak’ataa al-fajr).

Dari Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw tidak melakukan satu pun shalat sunah secara berkesinambungan melebihi dua rakaat (shalat rawatib) Subuh.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, shalat sunah Fajar, shalat sunah Qabliyah Subuh, atau shalat sunah dua rakaat Fajar adalah nama untuk satu shalat sunah yang dilakukan sebelum shalat Subuh sebanyak dua rakaat.

Sedangkan, qiyamul lail adalah menggunakan waktu malam atau sebagiannya meskipun sebentar untuk shalat, membaca Alquran atau berzikir kepada Allah SWT, dan tidak disyaratkan untuk menggunakan seluruh waktu malam.

Dalam Ensiklopedi Fikih Kuwai disebutkan maksud dari qiyam adalah menyibukkan diri pada sebagian besar malam dengan ketaatan, tilawah Alquran, mendengar hadis, bertasbih atau bershalawat.

Jadi, qiyamul lail berlaku umum untuk shalat atau ibadah lainnya yang dilakukan pada malam hari, baik sebelum tidur atau setelah tidur, termasuk shalat Tahajud. Sedangkan, Tahajud adalah khusus untuk shalat malam.

Sebagian ulama mengatakan, Tahajud itu berlaku umum untuk seluruh shalat malam. Sedangkan menurut sebagian ulama lain, Tahajud adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu.

Dalam tafisrnya, Imam al-Qurthubi mengatakan, Tahajud adalah bangun setelah tidur (haajid), kemudian menjadi nama shalat karena seseorang bangun untuk mengerjakan shalat, maka Tahajud adalah mendirikan shalat usai tidur.

Hal yang sama dikatakan oleh al-Aswad, al-Qamah, danAbdurrahman bin al-Aswad.

 

 

Ustaz Bachtiar Nasir

 

sumber: Republika Online

Lima Sabda Rasulullah tentang Shalat Subuh

Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah. Tantangan untuk menyingkap selimut ketika dinginnya pagi datang mendapat apresiasi tersendiri di mata Allah SWT.

Allah SWT berfirman, ”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahfi [18]: 28).

Rasulullah pun sering mengungkap keutamaan shalat Subuh. Berikut lima sabda Rasulullah tentang shalat Subuh.

 

Pahala Shalat Malam Satu Malam Penuh

Diriwayatkan Muslim dari Utsman bin Affan ra berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” Hadits riwayat Muslim.

 

Surga yang Dijanjikan

Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari ra ia berkata Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga.” (HR Al Bukhari). Dua waktu yang dingin itu adalah shalat Subuh dan shalat Ashar.

 

Dapat Melihat Allah

Mereka yang menjaga shalat Subuh dan Ashar, dijanjikan kelak di surga akan melihat Allah SWT. Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah ra artinya: ”Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, ”Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan shalat sebelum terbit matahari dan shalat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

 

Berada di Bawah Lindungan Allah SWT

Rasulullah SAW memberi janji, bila shalat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa pun yang mengerjakannya seharian penuh. Hadits yang diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barangsiapa yang membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka.”(HR Muslim, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)

 

Diampuni Dosanya

Rasul SAW bersabda “Siapa saja tetap duduk di masjid setelah melaksanakan dua rekaat salat subuh sampai ia melaksanakan salat dhuha, dan ia tidak berucap kecuali yang baik, maka dosa-dosanya akan diampuni Allah SWT.,walaupun dosanya itu lebih banyak dari buih di lautan“ (HR.Abu Daud).

 

 

Doa Rasulullah untuk Penjaga Shalat Subuh

Shalat Subuh terkenal karena daya tariknya yang tinggi sekaligus tantangannya yang tidak mudah. Banyak sekali hadis yang mendorong untuk melaksanakan shalat Subuh dan menyanjung mereka yang menjaganya.

Rasulullah SAW mengetahui waktu Subuh adalah waktu yang sulit. Seorang Muslim bila dibiarkan begitu saja akan memilih mengistirahatkan dirinya sampai matahari terbit dan meninggalkan shalat wajib. Karena itu Rasulullah SAW mengkhususkan shalat mulia ini dengan keistimewaan tunggal dan sifat-sifat tertentu yang tidak terulang pada shalat lainnya.

“Siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia barada dalam jaminan Allah. Maka, jangan kamu mencari jaminan Allah dengan sesuatu (selain dari shalat), yang pada saat kamu mendapatkannya justru kamu tergelincir ke dalam api neraka.” (HR Muslim).

Muhammad Abdur Rauf al-Munawi dalam kitabnya at-Ta’arif mengatakan as-Subhu atau As Sabah adalah permulaan siang, yaitu ketika ufuk berwarna merah karena tertutup tabir matahari. Adapun shalat Subuh adalah ibadah shalat yang dilaksanakan ketika fajar shidiq dan berakhir pada saat matahari terbit.

Banyak sekali keutamaan yang didapat di waktu Subuh. Salah satu keutamannya adalah Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan shalat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis, ”Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Jika Rasulullah SAW yang berdoa, maka tidak akan ada hijab di antara beliau dengan Allah SWT. Karena beliau sendiri adalah orang yang secara jasadiyah paling dekat dengan Allah SWT.

 

 

Istirahat dengan Shalat

Ibadah shalat bak waktu istirahat yang ditunggu-tunggu manusia. Namun, tak jarang yang menyepelekannya. Ibadah shalat menjadi beban, sehingga berat untuk melaksanakannya. Tidak sedikit yang lantas meninggalkan ibadah shalat.

Suatu ketika Rasulullah SAW berkata kepada Bilal bin Rabah budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dari majikannya Abu Jahal– ”Ya Bilal, arihni bish-shalati” (Wahai Bilal istirahatkan aku dengan shalat)”.

Ibadah shalat merupakan mukjizat yang paling berharga yang disampaikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara Malaikat Jibril. Karena itu Rasulullah SAW bersabda, “Ash-shalatu mi’rajul mu’minin (Shalat merupakan mi’raj (komunikasi langsung) seorang mukmin kepada Tuhannya).”

Mukjizat shalat yang disampaikan pada peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian di Sidratul Muntaha, merupakan sebuah pencerahan bagi umat Islam.

Shalat menjadi pertanda saat seorang hamba ingin mendekat kepada Khaliknya. Dengan shalat,  seorang hamba mengadu pada Tuhan-Nya. Hatinya akan senantiasa tertambat di jalan Allah. Sehingga yang ada pencerahan rohani lewat shalat dengan catatan pelaksanaan shalat bukan sebuah beban yang sangat berat akan tetapi sebuah faktor kebutuhan.

Bila shalat sudah menjadi kebutuhan, maka seorang Muslim akan senantiasa melakukan shalat secara khusyuk. Kualitas hubungan dengan Tuhannya adalah utama. Shalat bukan sekadar pelepas kewajiban saja, tapi demi memenuhi anjuran Nabi SAW,

 

Menikmati Shalat

Satu waktu, Rasulullah SAW masuk masjid. Lalu, seorang lelaki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai, ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda, “Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat.

Lelaki itu kembali shalat seperti shalat sebelumnya. Setelah shalatnya yang kedua, ia mendatangi Nabi SAW dan memberi salam. Rasulullah SAW menjawab, “Wa’alaikassalam.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat.

Sehingga orang itu mengulangi shalatnya lagi, total jadi tiga kali. Lelaki itu berkata, “Demi Zat yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya!”

Rasul yang mulia itu lalu bersabda, “Bila engkau melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu, rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh shalatmu.

Subhanallah, sahabatku, inilah dalil bolehnya mengulangi shalat sampai merasakan kekhusyukan. Sungguh shalat yang yakin ditatap Allah dan sadar bahwa sedang berhadapan dengan Allah (QS asy-Syuaro: 218-220) sehingga setiap bacaan menjadi doa dan terasa sedang berdialog dengan-Nya akan membuat shalat kita thumakninahdan khusyuk, tenang, damai, sejuk, nyaman, nikmat, indah, bahagia dan buahnya adalah akhlak mulia (QS al-Ankabut: 45).

Dalam shalat, kita dituntut sebisa mungkin untuk mendirikannya dengan khusyuk. Sebab dengan khusyuk, amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT, terhapus dosa-dosa kita, dan segala perilaku serta ucapan kita terjaga dari kemungkaran dan kefasikan.

Khusyuk menjadi bukti keikhlasan seorang hamba. Karena hanya mereka yang ikhlas beribadah karena Allah dan shalat karena-Nya yang dapat melakukan khusyuk secara sempurna. Tanpa keikhlasan, maka seseorang hanya melakukan kekhusyukan palsu atau yang sering disebut kekhusyukan dusta.

Lalu, bagaimana caranya agar mudah khusyuk dalam shalat? Pertama, menghadirkan hati. Sadarlah bahwa dirinya sedang bermunajat, sedang berdiri berhadapan langsung dengan Sang Maha Kuasa, berdialog tanpa batas apa pun.

Maka dalam keadaan seperti itu, yakinlah bahwa Allah sedang melihat, memperhatikan dan mengawasi gerak-gerik shalat kita. Maka alangkah bodohnya kita, jika kita sedang berhadapan langsung seperti itu, kita tidak merasa takut atau bergetar dengan keberadaan-Nya di hadapan kita.

Kedua, anggaplah saat itu adalah shalat yang terakhir. Agar makin khusyuk, anggaplah bahwa shalat tersebut adalah yang terakhir kali kita lakukan karena bisa jadi usai shalat Allah mencabut nyawa kita.

Atau bayangkan, pada saat kita sedang mengambil wudhu tiba-tiba datang malaikat maut menghampiri kita dan mengabarkan bahwa usai shalat nanti dia akan mencabut nyawa kita. Subhanallah. Kita lanjut di kesempatan lain.

 

Oleh: Muhammad Arifin Ilham

sumber: Republika Online

Kunci Khusyuk, Shalat Seakan Mau Meninggal Dunia

Berbeda dengan wahyu-wahyu yang lain –yang selalu melalui perantara Malaikat Jibril– perintah shalat lima waktu langsung disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, ketika Isra’ Mi’raj. Ini sebagai pertanda, betapa pentingnya ibadah shalat lima waktu itu. Hukum shalat pun wajib. Ibadah ini pula yang membedakan umat Islam dari umat beragama yang lain.

Dalam rukun Islam, shalat pun menempati urutan kedua setelah syahadat. Karena itu, sudah seharusnya shalat lima waktu itu kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan yang lebih penting lagi, shalat itu harus kita laksanakan dengan khusyuk.

Shalat, menurut etimologi berarti doa mohon kebajikan. Dalam berdoa, kita tentu melakukannya dengan penuh kesungguhan. Sudah semestinya kita juga harus sungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat. Shalat itu penuh simbol dan makna –baik dalam gerakan-gerakannya maupun dalam bacaan-bacaannya, sehingga kita juga harus sungguh-sungguh memahami maknanya.

Khusyuk dalam shalat pun menjadi wajib hukumnya. Sesungguhnya seseorang tidak mendapat pahala dari shalat yang dikerjakannya, kecuali ia dapat menghayati lafadz yang dibacanya dalam shalat. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Kamu tidak mendapat pahala dari shalatmu, kecuali kamu dapat menghayati apa yang dibaca di dalamnya.” (HR Al-Baihaqi).

Jadi, untuk bisa khusyuk dalam shalat, pertama-tama kita memang harus tahu arti dari bacaan yang kita lafadzkan. Berikutnya, bacaan-bacaan dalam shalat itu kita hayati sepenuhnya agar makna semua bacaan-bacaan itu meresap ke dalam hati sanubari kita.

Memang, untuk bisa khusyuk dalam shalat bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila kamu berdiri melaksanakan shalat, maka hendaklah shalat seperti shalatnya orang yang hendak meninggal dunia.” (HR Ahmad).

 

Menurut Al-Ghazali dalam bukunya, Ihya Ulumiddin, khusyuk adalah ruhnya shalat. Sedangkan khusyuk itu adalah buah dari iman dan hasil keyakinan akan Keagungan Allah Azza Wa Jalla. Barang siapa yang dikaruniai hal itu, maka ia akan khusyuk di dalam shalat dan di luar shalat. Karena yang menimbulkan khusyuk adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengamati hamba-Nya di manapun dia berada.

Bila saja rasa khusyuk itu telah bersemayam di setiap hati sanubari kita, tentu tak akan ada lagi yang namanya korupsi, kolusi, manipulasi, nepotisme, perjudian, penipuan, pelacuran, dan kejahatan lainnya. Tapi kenyataannya, hal itu masih banyak terjadi di negeri kita. Mengapa?

Untuk itu, kita semua memang layak bertanya pada diri kita sendiri: Apakah kita sudah khusyuk dalam melaksanakan shalat? Atau, selama ini kita memang belum pernah melaksanakan ibadah shalat? Kalau begitu, mari kita mulai melaksanakannya sekarang dengan khusyuk. Allah sudah menjanjikan bahwa ibadah shalat bisa mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Pastilah, janji Allah itu benar adanya asal kita juga bisa menegakkan shalat dengan benar.

Oleh Ilham Darmawan

Pemerintah Diminta Lindungi Agama dari Penistaan

Ketua PP Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas mendesak pemerintah agar bertindak sigap dalam melindungi agama dari segala bentuk penistaan. Pernyataan ini menanggapi aksi penistaan terhadap agama Islam yang belakangan ini kerap terjadi, mulai dari beredarnya sandal berlafaz Allah, terompet sampul Alquran, dan lainnya.

Selama ini, kata Yunahar, kasus-kasus penistaan hanya diselesaikan secara kekeluargaan dengan cara memaafkan. “Meskipun dimaafkan, seharusnya hukum tetap dijalankan untuk memberi efek jera sehingga kasus serupa tidak terulang,” katanya kepada Republika, Rabu (13/1).

Ia menduga, aksi-aksi pelecehan terhadap agama Islam yang terjadi secara beruntun itu bukanlah karena kekhilafan atau ketidaksengajaan, melainkan sengaja dirancang oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. “Ini bukan sebuah keteledoran biasa,” ujar dia.

Menurutnya, kesabaran umat Islam sedang diuji menyusul terjadinya aksi-aksi penistaan itu. Ia pun berharap, umat Islam tidak terpancing oleh hal itu. Jika terpancing, lanjut Yunahar, maka hal itu akan dijadikan pembenaran stigma bahwa umat Islam mudah marah dan suka bertindak anarkistis. Pada akhirnya, Islam menjadi tersudutkan dan tidak bisa berkembang. Secara otomatis, hal tersebut dapat merugikan dakwah Islam.

“Stigma seperti ini harus dilawan,” tegas Yunahar. Terkait hal ini, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, para penegak hukum bekerja sama dengan intelijen sedang menyelidiki rentetan aksi penistaan agama ini. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui latar belakang dan aktor di balik aksi penistaan tersebut.

Untuk menyelesaikan masalah ini, menurut Menag, penegakan hukum yang tegas menjadi hal yang penting. “Jika memang ditemukan faktor kesengajaan maka pelaku harus menjalani proses hukum dan sanksi sehingga tidak menjadi preseden di kemudian hari.”

Menag melihat, ada dua faktor yang menyebabkan seringnya terjadi tindakan pelecehan terhadap agama Islam. Dua faktor tersebut adalah ketidaktahuan dan kesengajaan.

“Dia tidak tahu itu kaligrafi atau tulisan nama Allah dan Muhammad yang sangat disakralkan. Jadi, faktor ketidaktahuan,” ujar Lukman saat ditemui di kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (13/1).

Adapun pelecehan agama yang terjadi karena faktor kesengajaan, lanjut Menag, biasanya disebabkan oleh beberapa motif seperti untuk menimbulkan keresahan di masyarakat, membenturkan antarumat beragama, dan maksud lainnya.

Faktor kesengajaan inilah, kata Menag, yang menimbulkan pekerjaan rumah tersendiri kepada umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini. “Nah, kita lalu sengaja diganggu oleh persoalan yang tidak terkait dengan produktivitas masyarakat,” katanya.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI KH Cholil Nafis sepakat bahwa tindakan yang melecehkan agama bisa disebabkan oleh ketidaktahuan. Dalam hal ini, masyarakat kurang paham mana ajaran Islam yang harus dimuliakan dan mana yang tidak. “Kurang hati-hati mana wilayah yang suci dan mana yang tidak. Jadi, ada ketidakmengertian, ada keteledoran,” katanya.

Selain ketidakmengertian, lanjut Kiai Cholil, faktor lain yang menyebabkan pelecehan terhadap agama Islam adalah kurangnya gerakan antarumat beragama untuk saling menasihati dalam kebaikan. Akibatnya, banyak orang yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mereka hanya memikirkan diri sendiri.

Karena itu, kata dia, perlu kerja sama semua pihak dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang ajaran agama sehingga masyarakat mengetahui mana hal yang perlu dihormati dan mana yang biasa-biasa saja.

n ed: wachidah handasah

 

sumber: Republika Online

Masyarakat Harus Pahami Tindakan Penistaan Agama

Kasus penistaan terhadap keyakinan, khususnya agama Islam kembali terjadi terkait munculnya sandal buatan pabrik lokal di Gresik, Jawa Timur, yang bertuliskan lafaz Allah. Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menegaskan agar masyarakat lebih memahami bentuk-bentuk penistaan terhadap agama.

Menurutnya, kasus ini adalah kasus yang sangat sensitif, jika umat Islam memiliki kesadaran yang cukup.

“Jadi, dalam kasus sandal berlafaz Allah ini para buruh yang notabene mayoritas Muslim harus segera melaporkan. Atau, minimal menegur di level pengambil kebijakan di pabrik tersebut, //owner// produk,” tuturnya kepada Republika, Jumat (16/10).

Hal ini, menurut dia, merupakan bentuk amar makruf nahi munkar. Jika seorang Muslim melihat pelanggaran yang nyata maka dengan tegas dia akan menasihati dan menegurnya. Demikian pula pada kasus ini, jika masyarakat sadar bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan penistaan maka seharusnya masyarakat segera mengambil tindakan.

Menurut dia, dalam kasus ini terdapat hukum Islam yang mengatur di dalamnya. Lafaz Allah atau lafaz suci lain yang terdapat tidak pada tempatnya, menurutnya, dalam perspektif Islam tidak layak untuk dikonsumsi atau dipakai. ”Dalam hal ini, tidak ada ikhtilaf. iIni adalah sesuatu yang sudah disepakati ulama (mujma’) bahwa tidak boleh seorang Muslim melecehkan simbol-simbol agama.”

Di luar itu, kasus ini adalah masalah hukum, tidak hanya cukup disampaikan saja. Tapi, juga dilaporkan ke pihak yang berwenang atau yang bisa mengadvokasi untuk masalah ini, sehingga bisa dihentikan.

“Sekali lagi, semua itu dapat terlaksana jika masyarakat memiliki pemahaman dan kesadaran bahwa hal ini merupakan sebuah penistaan yang nyata terhadap keyakinan mereka,” katanya.

 

sumber: Republika Online

 

 

Muhammad Al-Qiq, Wartawan yang Melawan Penjajah dengan Lapar

Hari ini (Senin, 8 Februari 2016), genap 76 hari wartawan Palestina Muhammad Al-Qiq (33) melakukan aksi mogok makan. Kini ia berada di rumah sakit HaEmek, Afula, bagian utara yang kini diklaim sebagai wilayah ‘Israel’. Hiba Masalha, pengacara dari Komisi Urusan Tawanan dan Eks-Tawanan Otoritas Palestina, mengunjungi al-Qiq pada Jumat (05/02/2016) sore di rumah sakit. Ia mengatakan bahwa al-Qiq tengah ‘berjuang melawan penjajah dengan lapar’.

“Kondisi kesehatan Muhammad al-Qiq semakin buruk. Ia benar-benar kehilangan kemampuan untuk bicara. Ia terus menderita kelelahan, pusing dan sulit bernafas akibat terus berlanjutnya aksi mogok makan dan ia menolak perawatan selama 75 hari berturut-turut,” kata Masalha kepada Quds dikutip the Electronic Intifada, Ahad (07/02/2016)

Masalha menambahkan, kondisi al-Qiq semakin parah menyusul penolakannya atas keputusan Mahkamah Agung ‘Israel’ yang ‘membekukan’ perintah penahanan administratifnya.

Kamis lalu, para hakim ‘Israel’ ‘membekukan’ penahanan al-Qiq dan memerintahkannya untuk tetap di rumah sakit HaEmek. Al-Qiq mulai melakukan mogok makan pada November lalu, tak lama setelah otoritas Zionis menangkapnya. Setelah proses interogasi, penjajah Zionis menjatuhkan penahanan administratif –hukuman penjara tak terbatas tanpa dakwaan atau sidang.

“Keputusan pengadilan merupakan penipuan,” kata Masalha. Ia menegaskan bahwa tuntutan al-Qiq adalah diakhirinya penahanannya, bukan ‘membekukan’ penahanannya yang berarti ia bisa ditangkap kembali kapan pun.” Masalha mengatakan, Wakil Direktur RS HaEmek, Dr. Tuvia Tiyosuno, memberitahunya bahwa kondisi al-Qiq terus menurun dan itu membahayakan jiwanya. Organ-organ dalam al-Qiq bisa gagal kapan pun dan ia berisiko tinggi mengalami perdarahan di otaknya. Jantungnya bisa berhenti berdetak kapan pun. “Setiap menit yang berlalu merupakan ancaman bagi jiwanya,” Masalha mengutip perkataan Tiyosuno.

Masalha mengatakan ia diminta datang ke rumah sakit oleh para dokter ‘Israel’ Jumat malam untuk membahas kondisi al-Qiq. Dalam kesempatan itu, Masalha mengungkapkan pernyataan tegas al-Qiq bahwa perawatan apapun yang akan ia terima, itu hanya jika di rumah sakit Palestina. Masalha menambahkan, berbagai upaya terus dilakukan untuk mencapai kesepakatan soal kasus al-Qiq.

Sebuah foto yang ditweet situs berita Quds kemarin (6/2) memperlihatkan al-Qiq dengan al-Quran di samping ranjangnya.
Sebuah foto yang ditweet situs berita Quds kemarin (6/2) memperlihatkan al-Qiq dengan al-Quran di samping ranjangnya.

Sabtu lalu, Quds TV memberitakan bahwa keluarga al-Qiq menyangkal ada kesepakatan yang telah dicapai. Organisasi-organisasi HAM dan para pejabat PBB meminta penjajah Zionis untuk mendakwa atau membebaskan al-Qiq, yang merupakan satu dari lebih 660 warga Palestina yang dijatuhi penahanan administratif. Hingga kini al-Qiq masih melanjutkan aksi mogok makan. Warga Palestina di penjuru Tepi Barat terjajah, Jalur Gaza dan wilayah yang kini diklaim sebagai ‘Israel’ pun melancarkan aksi solidaritas terhadapnya. Jumat lalu, Syeikh Raid Salah, pemimpin Gerakan Islam cabang utara di ‘Israel’, sebuah partai politik yang dinyatakan ilegal oleh penjajah Zionis pada November lalu, juga turut menjenguk al-Qiq di rumah sakit.*/Sahabat Al-Aqsha Jumat lalu, media Palestina menyebarluaskan video al-Qiq yang berada di ranjang rumah sakit sedang memegang sebuah papan bertuliskan pernyataan dalam bahasa Inggris, Ibrani dan Arab yang menegaskan ia akan terus melakukan mogok makan.

 

sumber: Hidayatullah.com

Perusahaan Pembuat Panci Lafaz Allah Minta Maaf

Sebuah surat dari perusahaan yang mengaku pembuat panci dengan stiker lafaz Allah beredar di sejumlah wilayah, termasuk di Jember, Jawa Timur. Surat tersebut ditandatangani seseorang bernama Rizky Agung Alim.

Dalam surat tersebut dinyatakan perusahaan yang memroduksi panci tersebut sudah lama tidak berproduksi. Dalam surat itu disebutkan, salah satu karyawannya menyarankan untuk menulis Alhamdulilah. Perusahaan menyetujui saran tersebut dan membuat stiker dengan tulisan tersebut.

“Bahwa kami menempelkan stiker tersebut tidak bermaksud untuk merendahkan agama tertentu, apalagi sampai melecehkan. Justru kami sangat respek terhadap tulisan tersebut,” tulis Rizky dalam surat tersebut, Selasa (26/1).

(Baca Juga: Astaghfirullah, Lafaz Allah Ada di Produk Panci).

Lembaran kertas berkop surat PT Trektroindo Anugrah Sukses Abadi ini menyatakan permintaan maaf kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan umat Islam seluruhnya. Sebagai bentuk keseriusan permintaan maaf itu, pihak perusahaan akan menarik panci Paramount dengan tulisan Arab dan akan mengganti dengan barang serupa yang bebas dari label stiker bertuliskan lafaz Allah.

Menanggapi surat dari perusahaan yang beralamat di Jl Gajah Mada No 4 Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Sidoarjo itu, MUI Jember, Ahmad Halim Subahar mengaku bahwa sesama umat Islam dirinya mau memaafkan. Namun dia tetap meminta agar kasus itu diproses secara hukum.

“Karena ini bukan permasalahan personal, namun ada unsur dimensi agama Islam,” tegas Ahmad.

Ia mengatakan jika persoalan ini tidak ada tindakan tegas, justru nantinya akan muncul kasus-kasus serupa. Ia mengatakan sudah letih dengan kasus seperti ini. Setiap kali dimaafkan malah muncul kasus baru lagi. Karena itu ia menegaskan, MUI Jember menginginkan kasus ini diproses secara hukum.

 

sumber: Republika Online