Berapa Lama Jarak Waktu Seharusnya Antara Adzan dan Iqamah?

Adzan disyariatkan untuk memberitahukan masuknya waktu shalat. Oleh karena itu , diperlukan adanya perkiraan waktu yang memadai untuk bersiap siap shalat dan datang ke masjid. Jika tidak demikian, hilanglah manfaat dan fungsi dari seruan adzan tersebut dan hilang pula kesempatan shalat jamaah bagi banyak orang yang bermaksud untuk melaksanakannya. Sebab, jika orang yang sedang makan , minum atau buang hajat, atau sedang dalam keadaan tidak berwudhu – pada saat adzan sedang dikumandangkan- tidak diberi kesempatan waktu untuk bersiap siap, dia akan ketinggalan  shalat jamaah sepenuhnya atau sebagiannya disebabkan ketergesaan dan tidak adanya jarak waktu antara adzan dan iqamah. Apalagi orang yang tempat tinggalnya jauh dari masjid.

 

Imam Bukhari telah mengisyaratkan berapa lama jarak antara adzan dan iqamah, akan tetapi , dia tidak menetapkan perkiraan waktu yang pasti, dia menyebutkan hadits ‘Abdullah bin Mughaffal, dia berkata, Nabi SAW bersabda  :

صحيح البخاري ٥٩١: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا كَهْمَسُ بْنُ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

‘Antara tiap dua adzan  ada shalat. Antara tiap dua adzan ada shalat.” Kemudian yang ketiga kalinya beliau bersabda , “ Bagi yang mehendakinya.” (Muttafaq alaih)

 

Yang dimaksudkan 2 adzan disini adalah adzan dan iqamah.

Abdul Aziz bin Baaz mengatakan, “tidak boleh menyegerakan iqamah hingga imam memerintahkan, jarak itu sekitar seperempat jam atau sepertiga jam atau mendekatinya. Jika imam terlambat dalam waktu yang cukup lama, diperbolehkan yang lainnya untuk maju menjadi imam sholat. Imam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap iqamah, sedangkan mu’adzin adalah orang yang bertanggung jawab terhadap adzan. (Rr)

 

sumber: EraMuslim.com

Bagaimana ya Sholat Menjadi Khusyu’ …

Sifat-sifat Shalat

Yang populer di masyarakat, penilaian sahnya shalat hanya bertumpu kepada terpenuhinya syarat dan rukun yang telah disebutkan dalam kitab-kitab fiqih. Memang, itu adalah langkah awal yang tepat untuk mencapai hakikat shalat.

Akan tetapi, syarat dan rukun tersebut harus ditindaklanjuti dengan pelajaran berikutnya sehingga, di samping terpenuhi syarat dan rukunnya juga semua sifat-sifat shalat dapat dicapai, antara lain sebagai berikut:

  1. Niat yang ikhlas (Q.S. Al Bayyinah, 98: 5).
  2. Dilakukan dengan khusyu’ (Q.S. Al Mu‘minûn, 23: 1-2).
  3. Thumaninah.
  4. Menjadi puncak kenikmatan hidup.
  5. Mencegah perbuatan keji dan munkar (Q.S. Al ‘Ankabût, 29: 45).

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ( العنكبوت : 45)

“Sesungguh shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar”لصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنٍ “Shalat adalah tiang agama”

Apabila seorang hamba menjiwai kedua teks tersebut, ia akan menjadi orang yang taat kepada Allah dan bermanfaat bagi kehidupan manusia serta bersih dari ucapan dan perkataan yang menyakiti sesama. Tiang dalam satu bangunan berfungsi sebagai penopang yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya; bekerja sama dalam menjaga keselamatan bersama.

Maka, demikian pula jika shalat sudah berfungsi sebagaimana mestinya, akan menjadi penegak hukum, pembina akhlak, pemelihara kesatuan umat, dan pengikat antara sesama Muslim. Kendati kaum Muslimin meyakini bahwa shalat adalah syari’at yang telah ditetapkan Allah dan tidak untuk diperdebatkan, namun dapat dipungkiri bahwa shalat masih sering menjadi bahan perdebatan.

Pembicaraan tentang syarat, rukun, wajib, sunnah, atau lainnya selalu menyibukan umat Islam yang mengkaji ilmu fiqih yang terkadang membawa kepada perdebatan. Apa yang menjadi faktor utama sehingga masalah ini susah mencapai titik temu? Memang betul, shalat tidak akan sah jika tidak memerhatikan hukum-hukmnya, namun apakah shalat seseorang pasti akan diterima hanya karena telah sesuai dengan syarat dan rukunnya?

Sungguh tidak demikian sebab masih ada yang perlu diperbaiki, yaitu perbaikan esensi shalat; kandungan atau ruh shalat yang terdapat pada gerakan.

Makna Khusyu’

Kendati kata khusyu’ sudah tidak asing bagi kaum Muslimin, namun pada praktiknya dalam kehidupan sehari-hari masih dirasa perlu ada tambahan penjelasan. Bagaimana sebenarnya khusyu’ menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Mungkin, definisi khusyu’ cukup diperlukan, namun ada yang lebih diperlukan dari itu, yaitu mengetahui bagaimana khusyu’nya Rasulullah saw. Karena itu, dalam pembahasan ini tidak akan dibahas definisi khusyu’ yang mungkin banyak menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan para ahli fiqih.

Khusyu’ dalam Al Qur’an:

– Khusyu’ dengan suara,

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

Dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. (Q.S. Thâhâ, 20: 108)

– Khusyu’ dengan qalbu,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman menundukkan hati mereka untuk mengingat Allah. (Q.S. Al Hadîd, 57: 16)

– Khusyu’ dengan menangis dan bersujud,

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`. (Q.S. Al Isrâ’, 17: 109)

– Khusyu’ karena takut kepada Allah,

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (Q.S. Al Hasyr, 59: 21)

– Khusyu’ karena takut dan harap,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Q.S. Al Anbiyâ’, 21: 90)

– Khusyu’ dalam pandangan,

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ

(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. (Q.S. Al Qalam, 68: 43)

– Khusyu’ dengan wajah,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. (Q.S. Al Ghâshiyah, 88: 2) Beberapa ayat tersebut memberi gambaran kepada kita tentang arti khusyu’ secara bahasa dan hakikat khusyu’ yang harus kita raih dalam shalat. Ayat-ayat tersebut secara keseluruhan memberi isyarat bahwa khusyu’ akan teraih dengan melibatkan tunduknya seluruh organ tubuh berlandaskan iman yang terwujud dalam rasa takut dan harap kepada Allah.

Khusyu’ dalam ibadah sulit diukur dengan ilmu fiqih sebab khusyu’ adalah komunikasi seorang hamba dengan Allah yang tidak selalu melibatkan gerakan lisan atau anggota tubuh lainnya karena yang lebih menentukan kekhusyu’an adalah penghayatan terhadap apa yang diungkapkan dalam hati.

Namun demikian, tidak berarti bahwa khusyu’ itu masalah gaib atau sesuatu yang tidak terukur. Justru, khusyu adalah tingkatan yang mesti kita capai dan kita upayakan, baik dalam shalat, membaca Al Qur’an, berdoa, atau yang lainnya.

Untuk mengetahui kadar kekhusyu’an kita dalam menunaikan shalat, sangat penting untuk diketahui sifat–sifat shalat menurut Al Qur’an dan As sunnah.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ .الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

Sungguh beruntung orang-orang mukmin yang dalam shalatnya senantiasa khusyu’ . (Q.S. Al Mu‘minûn, 23: 1-2)

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُونُوْا كَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman menundukkan hati mereka untuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya diturunkan al Kitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka jadi keras.

Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadîd, 57: 16)

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan shalat) lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain.

Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Melalui ayat-ayat tersebut, fungsi khusyu’ dalam kehidupan umat Islam adalah:

  1. Khusyu’ syarat utama untuk meraih kesuksesan hidup.
  2. Khusyu’ dapat berlangsung selama shalat dan juga di luar shalat.
  3. Khusyu’ dapat diraih dengan qalbu yang dzikir.
  4. Tanpa khusyu’, maka hati akan menjadi keras.
  5. Shalat yang khusyu’ dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
  6. Shalat yang tidak khusyu’ tidak akan mampu mengubah keadaan umat.

Untuk meraih khusyu’ dalam shalat, sangat penting bagi kita untuk selalu memerhatikan nasihat para shâlihîn yang telah berjuang membela hak dan menghancurkan kebatilan. Semoga Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya kepada Ibnu Mubarak (wafat tahun 181H) yang telah menasihati seorang hamba yang dikenal sebagai ahli fiqih, ahli hadits, orang yang zuhud, dan sering meneteskan air mata ketika beribadah kepada Allah Swt., yaitu Fudhail bin ‘Iyadh (wafat tahun 187H).

Kendati Fudail memiliki sifat-sifat yang sangat terpuji, namun menurut Ibnul Mubarak, beliau perlu ditegur dan dinasihati. Maka, ia mengirim sepucuk surat yang berisi nasihat dengan untaian kata yang tersusun dalam bait-bait syair yang sangat indah,

َيـاعَـابِدَ اْلـحَـرَمـــــَيْنِ لَوْأَبْـصَـــرْتـَنـَا لَعَلِـمْتَ أَنـــكَ فِيْ الــعِبَــادَةِ تَلْــــعَبُ مَنْ كَانَ يَخْضــِبُ جَيــــــْدَهُ بِدُمـــُوْعِـهِ فَـنُـحـُوْْرُنَا بِدِمَـــــــــائِنـَا تَتَخَـــضَّبُ أَوْ كَانَ َيتـــْعَبُ خَيـْــلُـهُ فِيْ بــــــَاطِلٍٍ فَخُــُيوْلُـنَا يَـــوْمَ اْلـكَـرِيْـهَةِ تَـتْــــعَبُ رِيْـــحُ اْلعَبِــــْيِرِ لَكُمْ وَنَحْنُ عَبِِِِــــــْيرُنَا رَهَـــجُ السَّنــَابِكِ وَالْغُبـــــــَارُ اْلأَطْيَبُ وَلَقَدْ أَتــَــانـَا عَنْ مَــقَالِ نَبِـــــــيِّنَـا قَـوْلٌ صَحِيْــــــــحٌ صَـــادِقٌ لاَ يـَكْذِبُ لاَ يَسْـــتَوِيْ غُبَــــــــارُ خَيْـــلِ اللهِ فِيْ أَنـْفِ امْـرِئٍٍ وَدُخَـــــــانُ نـَـارٍٍ تـَلْـهَـبُ هَـذَا كِـتـَابُ اللهِ يـَنْـــطِـقُ بَيْــــــنَـنَا لَيْسَ الشَّهِـــــــيْدُ بـِمَيــــــِّتٍ لاَ يَكـْذِبُ

Wahai saudaraku, Anda terkenal sebagai ahli ibadah di Masjidil Haram… Sekiranya Anda menengok (pasukan mujahidin bersama) kami, pasti Anda sadar bahwa Anda sedang bermain-main dengan ibadah Anda, Siapa yang membanjiri pipinya dengan air mata, (maka lihatlah) sesungguhnya leher kami penuh dengan darah.

Barang siapa yang kudanya lesu karena kegiatan yang tak berguna, maka sesungguhnya kuda kami merasa lelah karena perang. Anda senantiasa menikmati harumnya minyak wangi. Sementara hidung kami penuh dengan debu yang disemburkan kaki kuda. Sungguh telah sampai kepada kami dari Nabi yang selalu tepat ungkapannya dan benar tutur katanya, beliau bersabda, “Tidaklah sama debu kuda Allah yang masuk ke dalam hidung seorang (mujahid) dengan api neraka yang menyala-nyala.

Inilah kitâbullâh berbicara kepada kami dengan benar bahwa orang yang mati syahid sebenarnya tidaklah mati.” Ibnu Mubarak ingin mengingatkan kita agar jangan merasa cukup mengisi kehidupan ini dengan sekadar shalat dan berdo’a, meskipun sampai membanjiri wajah dengan air mata, kalau masih menolak banjirnya leher dengan darah fî sabîlillâh. Wallahu’alam. (Ms)

Sholat Subuh Berjamaah adalah Bukti Suatu Ijazah dari Allah

Saudaraku muslim, di antara keutamaan sholat Subuh adalah Allah SWT telah menjadikannya sebagai suatu syahadah (kesaksian, bukti), khususnya bagi orang yang konsisten menjaganya. Karena, sholat Subuh disaksikan oleh para malaikat yang mulia, selain para malaikat yang turut menyaksikan sholat sholat lainnya , yaitu sholat Subuh dan Ashar.

Rasulullah SAW bersabda :

Malaikat malaikat siang bergantian mendampingi kalian dengan malaikat malaikat malam, dan mereka berkumpul pada waktu sholat Subuh dan Ashar. Setelah itu, malaikat yang semalaman menjaga kalian naik ke langit, lalu Allah bertanya kepada mereka – dan Dia lebih tahu tentang mereka-, “Bagaimana kalian tinggalkan hamba hamba Ku?” Mereka menjawab, “ Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datang kepada mereka ketika mereka sholat” (HR Bukhari)

Qodhi bin Iyadh ra berkata, Hikmah mengapa mereka berkumpul pada sholat Subuh dan Ashar, karena itu termasuk kelembutan dan permuliaan Allah SWT terhadap hamba hambaNya, dengan menjadikan para malaikatNya berada dalam kondisi para hamba sedang beribadah  , sehingga kesaksian malaikat untuk mereka menjadi kesaksian terbaik.

Al Hafizh Ibnu Hajar ra berkata, “ Hikmah mengapa Allah SWT bertanya kepada malaikat, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, adalah meminta kesaksian mereka tentang anak Adam bahwa mereka berbuat baik.

Tidakkah anda melihat, bagaimana Allah mengagungkan orang orang yang konsisten memelihara sholat Subuh dan Ashar di hadapan para MalaikatNya, dan Allah menjawab pertanyaan mereka tentang mengapakah manusia diciptakan dengan kesaksian para malaikat sendiri terhadap makhluk yang bernama manusia itu ? “ Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mereka sholat, dan kami datang kepada mereka dalam keadaan mereka sholat”, begitulah kesaksian malaikat.

Manusia hari ini, rela mengorbankan apapun demi memperoleh syahadah (Sertifikat, ijazah) berisikan nilai, yang dibubuhi tanda tangan seorang pemimpin besar. Mereka memajang sertifikat itu dan meletakkan pada bingkai paling besar dan menempatkannya dalam ruangan rumah atau kantor kerja yang paling terlihat. Mereka memajangnya untuk menunjukkan betapa dirinya adalah ahli dan professional dalam bekerja.

Adapun untuk mendapatkan syahadah (kesaksian) dari Dzat yang segala sesuatu sudah ada nilai di sisiNya, dan timbanganNya berlaku walaupun untuk sebiji dzarroh, maka kami hanya bisa katakan, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, menyedihkan sekali!” Banyak orang tidak ada semangat, tidak ada yang mencarinya selain beberapa gelintir hamba Allah yang beriman. Pada pandangan kami, mereka adalah yang keluar rumah pada waktu hari masih gelap untuk melaksanakan sholat Subuh, setiap malam bagi mereka adalah malam Lailatul Qadr,  maka Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang orang seperti ini.

 

– Imad Husain- Keajaiban Sholat Subuh

 

sumber: Era Muslim

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili Menulis Lebih 200 Kitab

Syeikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang ulama fikih kontemporer yang dikenal luas keilmuannya dikabarkan meninggal dunia. Syeikh Wahbah meninggal pada hari Sabtu (08/08/2015) malam, pada usia 83 tahun.

Syeikh Wahbah lahir tanggal 6 Maret 1932, daerah Qalmun,  Damaskus, Suriah dari orangtua yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaannya. [Baca: Ulama Kontemporer Dunia, Syeikh Wahbah Zuhaili Berpulang]

Ayahnya, Musthafa az-Zuhaili dikenal seorang penghafal Al-Quran, ibunya Fathimah binti Musthafa Sa`dah,[ dikenal dengan sosok yang kuat berpegang teguh pada ajaran Islam. Syeikh Wahbah belajar Al-Quran dan menghafalnya dalam waktu relatif singkat.

Setelah menamatkan sekolah dasar, ayahnya menganjurkan kepada Wahbah untuk melanjutkan sekolah di Damaskus. Pada tahun 1946, Wahbah pindah ke Damskus untuk melanjutkan sekolah ke tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Setelah itu, ia melanjutkan ke perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana mudanya di jurusan Ilmu-ilmu Syari`ah di Suriah.

Ia pindah ke Mesir, dan kuliah di dua universitas sekaligus, yakni  Universitas Al-Azhar (pada jurusan Syari`ah dan Bahasa Arab) dan Universitas Ain Syams (jurusan hukum).

Setelah menyelesaikan di dua universitas tersebut, ia melanjutkan jenjang  magister Universitas Cairo, (jurusan Hukum Islam). Hanya dalam waktu dua tahun, program magisternya dengan judul tesis adz-Dzara’i` fi as-Siyasah asy-Syar`iyyah wa al-Fiqh al-Islamiysudah diselesaikan.

Syeikh Wahbah kemudian  melanjutkan pendidikannya doctoral dan lulus dengan disertasiAtsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islamiy: Dirasatan Muqaranatan tahun 1963 dengan predikat “Sangat Memuaskan” (Syaraf ula), dan direkomendasikan dicetak dan dikirim ke universitas-universitas luar negri.

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili senantiasa menduduki ranking teratas pada semua jenjang pendidikannya. Menurutnya, rahasia kesuksesannya dalam belajar terletak pada kesungguhannya dalam menekuni pelajaran dan menjauhkan diri dari segala hal yang mengganggu proses belajar.

Syeikh Wahbah dikenal ulama dengan segudang ilmu dan banyak memiliki guru. Di antara gurunya adalah;  Di antara guru-guru beliau Syeikh Muhammad Hasyim al-Khatib asy-Syafi’i, (w. 1958M) seorang khatib di Masjid Umawi. Beliau belajar darinya fikih as Syafi’I, mempelajari ilmu fikih dari Abdul Razaq al-Hamasi (w. 1969M); ilmu Hadits dari Syeikh Mahmud Yassin (w.1948M); ilmu faraid dan wakaf dari Syekh Judat al-Mardini (w. 1957M), Syeikh Hassan aṣ-Sati (w. 1962M, pakar fikih Hanbali, pernah menjabat rektor pertama Universitas Damaskus), ilmu tafsir dari Syeikh Hassan Habnakah al-Midani (w. 1978M); ilmu bahasa Arab dari Syeikh Muhammad Shaleh Farfur (w. 1986M); ilmu usul fikih dan mustalah hadits dari Syeikh Muhammad Lutfi al-Fayumi (w. 1990M, aktifis pendiri Ikatan Ulama di Damaskus, pakar bidang Fikih Hanafi); ilmu akidah dan kalam dari Syeikh Mahmud al-Rankusi.

Belum lagi guru-gurunya dari luar Suriah; antara lain: Syeikh Muhammad Abu Zahrah, ulama terkenal di Mesir, Syeikh Mahmud Syaltut, (tokoh pembaru  dan tokoh Al-Azhar). Mahmud Syaltut sendiri terpengaruh oleh pemikiran Muhammad Abduh.

Di samping itu, beliau amat terkesan dengan buku-buku tulisan Abdu ar-Rahman Azam seperti al-Risalah al-Khalidah dan buku karangan Syeikh Abu Hassan an-Nadwi berjudul Ma ża Khasira al-‘alam bi Inkhitat al-Muslimin.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily mengarang lebih dari 200 kitab. Mulai dari buku yang terdiri dari 16 jilid, sampai artikel-artikel melebihi 500 buah. Salah satu bukunya yang banyak dikenal di Indonesia adalah; al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu dan Tafsir al-MunirAl-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, adalah kitab fikih kontemporer yang sangat penting dalam pengkajian fikih komparatif. Buku ini untuk pertama kalinya dicetak oleh Dar al-Fikr di Damaskus pada tahun 1984, terdiri dari 9 jilid besar.

Mayoritas kitab yang ditulisnya menyangkut fikih dan ushul fikih. Namun, ia juga menulis kitab tafsir sampai enam belas jilid.

Karena keseriusannya dalam ilmu, Dr.Badi` As Sayyid Al Lahham dalam biografi Syeikh Wahbah dalam buku yang berjudul, Wahbah Az Zuhaili al -`Alim, Al Faqih, Al  Mufassirmengumpamakannya seperti Imam As Suyuthi (w. 1505 M) yang menulis 300 judul buku di masa lampau.*

 

sumber: Hidayatullah.com

Ulama Kontemporer Dunia Syeikh Wahbah Zuhaili Berpulang

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Syeikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, ulama fikih kontemporer  dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala hari Sabtu (08/08/2015) sore waktu setempat.

Kabar ini menyebar setelah beberapa media lokal Suriah,www.freesyrianews.com dan www.waledalqatrawi.commerilisnya pertama kali.

“Beliau meninggal pada malam Sabtu, 8 Agustus, di usia 83 tahun,” demikian dikutip an www.waledalqatrawi.com.

Kabar ini rupanya cepat menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

“Dunia Islam Moderat kehilangan Tokoh Ulama yg sangat otoritatif, Prof Dr Wahbah Zuhaili tlah wafat. InnalilLahi …walbaqaa liLlah. AlFatihah,” ujar Dr Hidayat Nurwahid dalam akun twitter-nya.

Doa juga datang dari Prof. Madya Dato’ Dr. Mohd Asri Zainul Abidin, profesor pengajian Islam di Universiti Sains Malaysia yang juga dikenal mantan Mufti Perlis.

“Berita kewafatan al-Syeikh Dr Wahbah al-Zuhaili mendukacitakan umat Islam. Suatu kehilangan besar. kehilangan besar. Sumbangan ilmunya kepada umat di zaman kini amatlah bermakna. Beliau guru kita semua. Semoga Allah menerima segala sumbangan dan jasanya kepada agama dan umat ini. إنا لله وإنا إليه راجعون,” ujar pria yang dikenal dengan panggilan Dr Maza  ini.

Sebagaimana diketahui, Syeikh Wahbah adalah seorang ulama produktif, telah mengarang lebih dari 200 kitab. Mulai dari buku yang terdiri dari 16 jilid, sampai artikel-artikel melebihi 500 buah.

Salah satu bukunya yang banyak dikenal di Indonesia adalah; al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhudan Tafsir al-Munir.  Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, adalah kitab fikih kontemporer yang sangat penting dalam pengkajian fikih komparatif. Buku ini untuk pertama kalinya dicetak oleh Dar al-Fikr di Damaskus pada tahun 1984, terdiri dari 9 jilid besar. [Baca: Syeikh Wahbah Az-Zuhaili Menulis Lebih 200 Kitab]

Mayoritas kitab yang ditulisnya menyangkut fikih dan ushul fikih. Namun, ia juga menulis kitab tafsir sampai enam belas jilid.*

 

sumber: Hidayatullah.com

Dulu mau gabung tentara perangi Islam, kini jadi mualaf

Merdeka.com – Tragedi 9/11 atau 11 September telah memberikan andil besar atas tumbuhnya Islamophobia di dunia Barat, utamanya Amerika Serikat. Namun, peristiwa itu juga memberikan hidayah bagi sebagian besar orang betapa agungnya Islam lalu memeluknya.

Inilah yang terjadi terhadap Ibrahim Killington. Saat tragedi itu berlangsung, dia menganggap Muslim sebagai penjahat kemanusiaan dan berniat untuk memerangi Islam.

Namun, di tengah upaya untuk bergabung dengan tentara AS, dia malah mendapatkan hidayah dari sebuah siaran radio. Pikirannya pun tertarik untuk mempelajari Islam lebih jauh dari apa yang dipahaminya.

Sejak itu, ia terus mendalami Islam dan akhirnya memeluk agama ini. Masa lalunya yang hanya untuk mabuk-mabukan dan bersenang-senang tak lagi dilakoninya, aktivitasnya kini hanya untuk beribadah di masjid.

Berikut videonya:

Setelah debat terbuka, satu desa di Filipina putuskan menjadi mualaf

Dua bulan lalu hidayah turun kepada warga desa di Hagonoy Bulacan, Filipina. Tepatnya pada 24 Mei 2015, ratusan orang, dari orang dewasa samapi anak-anak mengucapkan kalimat syahadat.

Mereka semua bersumpah bahwa Allah adalah tuhan yang esa dan Muhammad adalah utusan Allah. Dibimbing ustaz Mohammed Yousef Pamintuan, warga desa yang mayoritas pemeluk agama Nasrani itu juga berikrar bahwa Isa adalah utusan Allah semata.

Sebelum penduduk di desa tersebut memutuskan memeluk Islam, Komunitas Mualaf Dakwah Symposium di Hagonoy Bulacan berdialog kepada mereka. “Di dalamnya banyak mantan pendeta dan misionaris mengadakan dialog terbuka yang membukakan pintu hidayah satu desa mayoritas Kristiani untuk kembali kepada fitrahnya yaitu mengimani Diinul Islam,” kutip laman resmi mualaf center, Selasa (14/7).

Dalam video berdurasi kurang dari 1 menit tersebut, tampak Ustaz Mohammed Yousef Pamintuan berdiri di atas panggung memimpin warga desa untuk bersama-sama bersyahadat. Warga desa berdiri dan megikuti apa yang disampaikan ustaz tersebut lalu kemudian duduk kembali untuk menerima nasehat dari sang ustaz.

 

sumber: Merdeka.com

Satu pleton anggota polisi & jenderalnya masuk Islam di Filipina

Allhuakbar! adalah kata yang didengungkan berkali-kali oleh puluhan polisi Filipina yang berbaris rapi. Mereka mengumandangkan takbir setelah resmi bersyahadat pada bulan lalu.

“Kesatuan Police trainees sa Cabanatuan Nueva Ecija Filipin, satu peleton polisi mengikrarkan syahadat di bimbing Ustaz Mohammed Kamar Sabdulla,” tulis mualaf center dalam akun resminya, Selasa (14/7).

Dalam video yang berdurasi lebih dari satu menit tersebut, tampak Ustaz Mohammed Kamar Sabdulla memerintahkan para polisi untuk bersaksi dengan mengacungkan telunjuk mereka.

Para polisi ini kemudian diminta mengikuti ucapan syahadat, “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Warosuluh, Wa Asyhadu Anna Isa Ibnu Maryam Rosulullah.”.

Selain itu ditambahkan pula, mereka diminta bersaksi bahwa Isa putera Maryam adalah rasul utusan Allah. Beberapa hari setelah para polisi ini berucap syahadat, pada 24 Juni 2015 Abdulrahman Cruz seorang kapten dari dinas kepolisian Filipin juga ikut bersyahadat.

“Dia juga pakar kristologi setempat menjadi wasilah datangnya hidayah kepada atasannya yang seorang jenderal berbintang satu,” kutip sumber yang sama.

Abdurahman Cruz bersyahadat dibimbing dengan ustaz yang sama dan dia resmi melepas agama asalnya dan beralih ke agama Islam.

sumber: Merdeka.com

 

Kisah haru Rasulullah dan anak yatim di hari raya Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri tidak hanya dirayakan dengan bersenang-senang namun bisa juga dirayakan dengan berbagi. Seperti yang dilakukan Rasulullah di hari lebaran kepada seorang anak yatim.

Dikisahkan saat semua orang bergembira menyambut lebaran, terdapat lah seorang gadis kecil di sudut jalan Kota Madinah dengan pakaian lusuh. Seorang diri, dia tampak menangis tersedu-sedu.

Rasulullah melihat gadis itu, lantas menghampirinya. “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”, kata Rasulullah dikutip dari laman Rumah Yatim dan Dhuafa, Rabu (15/7).

Dengan suara lirih, gadis itu bercerita kepada Rasulullah SAW. “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia.”

“Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah. Ia berjuang bersama Rasulullah Saw bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”.

Hati Nabi langsung terenyuh, sambil membelai rambut anak itu, Nabi berkata, “Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu. dan Aisyah menjadi ibumu. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Dia tatap lekat-lekat Rasulullah dan memastikan bahwa di hadapannya adalah seorang utusan Allah. Anak yatim itu kaget sekaligus bahagia sampai bibirnya tidak bisa berucap dan hanya menganggukan kepala.

Rasulullah pun menggandeng tangan mungilnya ke rumah Aisyah. Sesampai di rumah Rasulullah sendiri yang menyisirnya dan membersihkan badannya dengan penuh kasih sayang.

Dibantu Fatimah, gadis itu dipakaikan baju bagus dan diberi makanan serta uang saku. Dia lalu dipersilakan untuk bermain dengan teman sebayanya.

Teman-teman gadis itu bertanya, “Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Dengan senyum mengembang, gadis kecil itu menjawab, “Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.

Wanita cantik Belanda ini jadikan syahadat uji kelulusan universitas

Merdeka.com – Siti Malikah Feer (29) belajar mengenal Islam dari berbagai sumber, baik buku maupun bertanya dengan teman sekampusnya yang dianggap mempunyai suri tauladan baik.

Siti Malikah yang dulu bernama Marlou Feer terkejut saat dia mendapati surat Al Mukminun ayat 12-14 dalam Alquran. Di situ diceritakan proses penciptaan manusia mulai dari segumpal darah sampai akhirnya menjadi manusia.

“Sudah ada di Alquran walaupun waktu itu scientist (ilmuwan) tidak tahu gimana. Masya Allah banyak miracle (keajaiban) di dalam Alquran,” takjub Malikah kepada merdeka.com di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (11/6).

Meski sudah merasa ada kebenaran dan keajaiban di dalam Alquran, Malika masih bergeming dan menutup hati dari Islam. Bahkan dengan enteng dia bertaruh akan memeluk Islam jika dia lulus ujian universitas.

“Waktu saya masih tunggu keajaiban dan jawaban dari Allah. Saya berjanji jika saya tidak lulus maka jawabannya saya tidak akan masuk Islam,” tambah dia.

Namun ujian belum juga dimulai, Malikah sudah berjabat tangan dengan rekan muslimnya sembari mengucapkan syahadat dengan mantap.

“Waktu mau ujian saya sudah percaya sudah ada tuhan dan muhammad. Waktu ujian saya sudah bersyahadat. saksinya dua teman saya dari Irak dan Afghanistan ketika berkata syahadat saya belum tahu akan lulus tapi lulus,” ucap dia sumringah.

Akhirnya di tahun 2003, Marlour Feer resmi mengganti namanya menjadi Siti Malikah. Selanjutnya di tahun 2006 gadis cantik bermata abu-abu ini mulai mengenakan jilbab.