Inilah Tiga Waktu Mustajab Berdoa di Bulan Ramadan

RAMADAN adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa. Ayat tentang puasa dalam surat Al Baqarah yang langsung dilanjutkan dengan ayat tentang doa mengisyaratkan hal ini.

Secara khusus, ada tiga waktu di setiap hari selama bulan Ramadan yang merupakan waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Berdoa di waktu-waktu ini, insya Allah lebih mudah dikabulkan Allah.

Sepertiga malam terakhir

Pada hari-hari biasa, sepertiga malam yang terakhir juga merupakan waktu mustajabah untuk berdoa. Di bulan Ramadan, berdoa di waktu ini lebih mudah bagi banyak orang karena umumnya waktu ini adalah waktu sahur.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Rabb kita Tabaraka wa Taala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu, niscaya Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Sepanjang waktu puasa

Yakni sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: (pertama) orang yang berpuasa sampai ia berbuka” (HR. Ahmad; shahih lighairihi)

Saat berbuka

Perbanyak doa saat berbuka karena waktu ini juga waktu mustajabah untuk berdoa.

“Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah; hasan)

Jangan sia-siakan tiga waktu ini. Setiap hari selama Ramadan.

[Bersamadakwah]
– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2306212/inilah-tiga-waktu-mustajab-berdoa-di-bulan-ramadan#sthash.sIiZ8j9R.dpuf

Ini Hukum Meninggalkan Puasa Ramadan

APABILA kita sudah memahami bahwa puasa Ramadan merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun Islam, bahkan ia masuk dalam perkara yang pastinya semua orang sudah tahu.

Oleh karena itu, siapa mengingkari kewajibannya akan menjadi kafir, yaitu kita berurusan dengannya seperti berurusan dengan orang murtad. Lalu dia diminta untuk bertobat, jika dia bertobat maka tobatnya diterima, namun sekiranya enggan, maka dijatuhkan hukuman bunuh sekiranya dia telah lama memeluk agama Islam dan tidak tinggal berjauhan dari para ulama.

Jika dia sudah tahu kewajibannya tanpa mempersoalkan kewajiban puasa, namun dia berkata, “Aku tahu wajib, tetapi aku tidak mau berpuasa,” maka dia tergolong dalam golongan yang fasik,[1] bukannya kafir.

Golongan ini mestilah dicegah oleh pemerintah dengan diperintahkan mereka menahan makan dan minum supaya mereka juga seolah-olah berpuasa sekalipun hanya sekadar luarnya saja.[Ustaz Syihabuddin Ahmad, Lc/Fimadani]

[1] Golongan yang tidak diterima persaksiannya, serta dia tidak boleh menjadi wali perkawinan anak perempuannya sendiri, atau mewakili perkawinan manapun.

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2305772/ini-hukum-meninggalkan-puasa-ramadan#sthash.81ByIwoa.dpuf

Dahulukan Qadha Puasa Ramadan atau Puasa Syawal?

ADA pertanyaan terkait puasa enam hari di bulan Syawal setelah Hari Raya Idul Fitri. Apakah seorang wanita muslimah sebaiknya memulai puasa qadha sebanyak hari puasa yang ditinggalkannya karena haid, kemudian barulah dia mengerjakan puasa enam hari (bulan Syawal, pen.) atau bagaimana seharusnya?

Jawabannya, alhamdulillah. Jika dia (wanita muslimah tersebut, pen.) ingin memperoleh pahala yang telah disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan (secara penuh, pen) kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu senilai dengan puasa selama setahun.” (HR. Muslim, no. 1984)

Maka, seorang wanita muslimah seharusnya menyempurnakan puasa Ramadannya terlebih dahulu, baru kemudian dia melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, agar sejalan dengan hadis dan supaya dia bisa meraih pahala yang disebutkan dalam hadis tersebut.

Adapun dari segi boleh atau tidaknya, wanita muslimah mengakhirkan qadha puasa Ramadan, adalah sesuai dengan kemampuannya, sebelum bulan Ramadan berikutnya tiba. []

Keterangan Syaikh Muhamad bin Shaleh al-Munajed
Sumber: http://islamqa.com/ar/ref/4082

***
artikel muslimah.or.id
Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/2339-mendahulukan-qadha-puasa-ramadhan-atau-puasa-syawal.html
– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2306274/dahulukan-qadha-puasa-ramadan-atau-puasa-syawal#sthash.070OY4PG.dpuf

Sujud Terakhir

Allah Al-Khaliq, Sang Pencipta segala apa yang ada di langit dan di bumi. Kekuasaan-Nya yang Maha Tak Terbatas, menciptakan dan mematikan apa saja yang Dia kehendaki. Begitu pula, manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya hidup dalam garis yang telah ditakdirkannya.

Tak hanya menciptakan, Allah-lah yang menanggung seluruh hajat (kebutuhan) makhluk-Nya baik diminta atau pun tidak. Allah pula Yang Maha Memberikan Rezeki, tanpa pamrih dan mengharapkan balasan. Karenanya, sebagai manusia yang lemah, kita patut menyadari bahwa segala apa yang dimiliki hanya bersumber dari Allah, sepatutnya tubuh ini digunakan untuk ibadah; bersujud salah satunya.

Makna asal kata sujud ialah tunduk dan merendahkan diri. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan ketundukan dan penyembahan kepada Allah. Sujud berlaku umum, meliputi manusia, binatang, dan benda mati. Karena itu, sujud ini memiliki dua bentuk: sujud takhyir yaitu sujud yang hanya ada pada manusia dan dengannya ia mendapatkan pahala.

Kedua, sujud taskhir yaitu sujud yang dilakukan oleh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan. (Raghib al-Ashfahani, 2010: 168). Seperti pada firman Allah Swt, “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Qs Ar-Ra’d: 15)

Sujud yang kita laksanakan setidaknya saat shalat lima waktu, memang sedikit banyak akan berdampak pada kualitas hidup kita. Menyoal sujud, dalam surah al-Baqarah ayat 34 pun disebutkan tentang penolakan Iblis saat Allah menyuruhnya sujud (penghormatan) kepada Nabi Adam as. Pembangkangan iblis ini jelas karena di dalam diri iblis terdapat banyak kesombongan; merasa lebih terhormat dan paling baik.

Hal ini sangat relevan dengan kondisi dimana manusia sulit bersujud. Sulit bersujud akibat dihinggap perasaan segan, malas ataupun alasan sibuk dan sebagainya disebabkan oleh penyakit (maradh). Al-maradhu ialah kondisi tubuh ketika hilang keseimbangan.

Jenis penyakit juga ada dua, pertama, sakit jasmani yaitu sakit yang diderita sebagian atau keseluruhan anggota tubuh. Kedua, sakit ruhani yang meliputi berbagai macam keburukan; misalnya kebodohan, kekufuran, kikir dan munafiq. Seperti pada firman Allah, “Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya,” (Qs al-Baqarah: 10)

Kemunafikan, kekufuran, akhlak yang buruk dan kekikiran diserupakan Allah dengan penyakit, karena beberapa alasan salah satunya keberadaan sifat tersebut mampu menghalangi seseorang memeroleh hidayah Allah, seperti penyakit jasmani yang menghalangi badan untuk bergerak secara sempurna. (Raghib, 353)

Karenanya, mari jadikan momen penghujung Ramadhan ini sebagai saat yang tepat untuk memperbaiki shalat, memaksimalkan zikir, memperbanyak sedekah, dan memanfaatkan malam untuk beri’tikaf; mencari keutamaan malam lailatul qadr, seperti anjuran Rasulullah. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah Allah masih memberikan usia di Ramadhan berikutnya? Sekali lagi, mari manfaatkan sepuluh malam terakhir; barangkali, ini sujud kita yang terakhir…

Allahumma inna-Ka ‘afuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna yaa Kariim…

Oleh: Ina Salma Febriany

Republika Online

Jadikan Kami Pewaris Firdaus

Nama Firdaus sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah nama yang disematkan sebagai tempat peristirahatan abadi yang menentramkan dan menyejukkan hati bagi orang-orang beriman. Itulah tempat ternyaman yang tak pernah terbayangkan oleh akal dan tak pernah terlihat oleh mata untuk hamba-Nya yang senantiasa beribadah dan beramal shaleh.

Mengenai istilah surga, dalam Muíjam Mufradat Alfazil Qurani diuraikan bahwa kata jannah atau jannaatun (plural), identik dengan pohon-pohon yang rindang yang juga sering disebut jannah (kebun). Disebut jannah karena menyerupai kebun yang ada di bumi kendati demikian keindahan surga tak tertandingi oleh kebun duniawi.

Ibnu Abbas dalam memaknai kata ini pun mengungkapkan bahwa jannaatun ditulis dalam bentuk jamak karena tingkatan surga ada tujuh; yakni Surga Firdaus, Adn, An-Naíim. Daarul Khulud, Maíwa, Daarus Salaam, dan Illiyun (Syaikh Raghib: 2010, 76)

Tingkatan surga ini tidak bermakna bahwa Allah membeda-bedakan posisi hamba-Nya kelak, sebab semua tingkatan atau jenis surga sudah tentu tempat ternyaman lahir batin yang disediakan Allah khusus untuk para hamba-Nya yang beriman.

Hanya saja, setiap perbuatan baik (amal shaleh) tiap-tiap makhluk berbeda, maka ëpenempatan-nyaí pun disesuaikan dengan usaha hamba-hambaNya selama di dunia; tentu dengan izin dan rahmat-Nya. Lalu, mengapa surga firdaus masuk dalam kategori surga yang paling tinggi dari keenam jenis surga lainnya?

Syaikh Muhammad Fuíad Abd Baqií dalam Muíjam Mufahras Li-Alfazil Quran menguraikan bahwa penyebutan lafadz firdaus dalam al-Quran berjumlah tidak lebih dari dua. Allah menyebutkan lafadz firdaus hanya pada dua surah yakni surah Al-Kahf (18): 107 dan surah Al-Muíminuun (23): 11. Mengapa hanya ada dua tempat? Melalui dua surah inilah insyaAllah kita akan temukan jawabannya.

Dalam surah Al-Kahf (18): 107, Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus (yang) menjadi tempat tinggal. (QS. 18:107) Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (QS. 18:108)î (al-Kahfi: 107-108). Surah al-Kahfi ayat 107 ini menyiratkan bahwa prasyarat utama untuk memeroleh firdaus adalah tak cukup hanya dengan beriman, namun juga harus diimbangi dengan beramal shalih.

Amal shalih yang seperi apa? Jawabannya ada pada awal surah Al-Muíminun ayat 1- 10, ìSungguh telah beruntung orang-orang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyuí dalam shalat mereka. Dan orang-orang yang meninggalkan perbuatan yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri dan hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya itu tidak tercela.

Tetapi barang siapa yang berzina, maka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan sungguh beruntung orang-orang yang memenuhi janjinya. Serta orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi. Yakni mewarisi surga firdaus, mereka kekal di dalamnya,î

Kedua surah di atas memiliki keterkaitan tentang prasyarat apa saja yang membuat seorang hamba layak masuk ke dalam surga firdaus. Selain karena memang masuk surga bisa didapat atas rahmat Allah, manusia juga perlu berikhtiar untuk memerolehnya. Selain harus menunaikan zakat, meninggalkan hal yang sia-sia, menjaga kemaluan, tidak berzina, salah satu syarat untuk penting untuk meraih firdaus adalah dengan menjaga kekhusyuan shalat.

Menurut Ibnu Abbas makna khaasyiuun ialah orang-orang yang takut dan tenang. Ali bin Abi Thalib mengungkapkan yang dimaksud khusyu dalam ayat ini adalah kekhusyuan hati. Hasan al Bishri juga mengatakan bahwa kekhusyuan mereka terdapat dalam hati hingga mereka menundukkan pandangan dan merendahkan diri. Ibnu Katsir dalam tafsir al-Quranil Adzhimi menuliskan bahwa khusyu dalam shalat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mencurahkan hatinya hanya untuk shalat, bukan selainnya.

Bagi Rasulullah dan para sahabat, shlat juga mampu menjadi sarana ëistirahatí baik istirahat secara jasmani (menghentikan pekerjaan lain) maupun ruhani (sarana memeroleh ketenangan), sesuai dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, bahwa Rasulullah bersabda kepada Bilal, ìWahai Bilal! Istirahatkanlah kami dengan shalat.

Sebab shalat adalah seutama-utamanya ibadah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di alam akhirat nanti, maka penting bagi kita untuk menjaga waktu, wudhu, gerakan dan bacaannya, agar khusyu mudah didapat. Bahkan, Rasulullah bersabda bahwa shalat menjadi makruh ketika kita dalam kondisi lapar (padahal makanan sudah tersaji) atau menahan buang air kecil maupun besar; sebab hal-hal ini dapat menghilangkan kekhusyuan kita dalam shalat.

Dari ëAisyah ra, dia berkata, ìAku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ìTidak sempurna shalat seseorang, apabila terdapat makanan yang terhidangkan (sebelum dia makan) atau dia menahan buang air besar maupun kecil,î (HR Muslim)

Musthafa Saíid Al-Khin menafsirkan hadits di atas dengan kemakruhan hukum menahan lapar dan hajat ketika ingin shalat sementara waktu shalat masih panjang. Sementara jika waktu shalat hampir habis, maka wajib bagi kita untuk mendahulukan shalat dan diperbolehkan menunda makan dan menahan buang air besar maupun kecil, jika dirasa mampu.

Ketika shalat sudah menjadi ëalarm pribadiísebagai sarana ibadah karena Allah dan harapan untuk memeroleh warisan firdaus, maka perasaan berat mengerjakannya akan sirna. Kekhusyuan dan ketenangan batin pun akan sendirinya tercipta. Akhirnya, kedua surah di sama-sama ditutup dengan ëmereka kekal di dalamnyaí, sebagai hadiah tambahan dan janji Allah, bahwa mereka akan tetap tinggal di dalam surga firdaus selama-lamanya, dengan penuh kenyamanan dan kedamaian.

Ya Allah, golongkan kami menjadi hamba-hambaMu yang mewarisi firdaus. Aamiin

Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan, Rasulullah bersabda: ìJika kalian memohon surga kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya surge Firdaus, karena ia merupakan surga yang paling tinggi sekaligus surga paling pertengahan, dan darinya terpancar sungai-sungai surga.î (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Oleh: Ina Salma Febriany

Amalan-amalan Sunah Bulan Ramadan

TENTUNYA sudah diketahui oleh umat Islam, selama bulan Ramadan ada banyak keutamaan jika melaksanakan ibadah wajib maupun sunah. Berikut ini beberapa amalan sunah yang dapat dilakukan selama bulan Ramadan, antara lain:

1. Mengakhirkan waktu sahur

Selain membekali tubuh dengan makanan berenergi untuk menjalankan puasa sepanjang hari, sahur juga termasuk ke dalam amalan yang disunahkan oleh Rasulullah Saw. Berikut beberapa hadis terkait dengan sahur:

– “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (Muttafaqunalaih)

– “Makanan sahur adalah makanan yang berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun seorang dari kalian hanya sahur dengan meneguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR Imam Ahmad)

Kita disunahkan untuk mengakhirkan waktu sahur, karena jarak sahur Nabi Shalallahu alaihi wasallam dengan waktu beliau salat Subuh adalah sekitar membaca 50 ayat Alquran (kurang lebih 10-15 menit) sebagaimana hadis yang disampaikan oleh muttafaqalaih).

2. Berbuka puasa

Pada waktu buka telah tiba, Rasulullah menganjurkan kita untuk segera berbuka. Beliau bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun alaih)

Sementara menu terbaik untuk membatalkan adalah beberapa butir kurma sebagaimana Rasulullah melakukannya.

“Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan jika tidak ada tamr, maka beliau meminum air, seteguk demi seteguk.” (HR Abu Dawud)

3. Memberi makan berbuka puasa

Ramadan merupakan momentum berharga untuk kita saling berbagi. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memberikan makanan untuk seseorang berbuka puasa. Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

4. Menggapai lailatul qadar

Malam lailatul qadar adalah malam yang amalan didalamnya lebih baik dari pada seribu bulan. Rasulullah bersabda, “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR Bukhari).

Kita bisa meraihnya dengan melakukan Itikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah. []

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2304830/amalan-amalan-sunah-bulan-ramadan#sthash.OI8g0et5.dpuf

Ini Doa Buka Puasa Cara Rasulullah

SALAH satu sunah dalam puasa Ramadan adalah berdoa saat berbuka puasa. Bagaimana doanya?

Berikut ini doa puasa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

(Dzahabadh dhoma,u wabtalatil uruq wa tsabatal ajru insyaa Allah)

Artinya: “Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah”

Doa tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Daruquthni, dihasankan Syaikh Nasiruddin Al-Albani dalam Irwaul Ghalil, Misykatul Mashabih dan Shahih Abi Dawud.

Sedangkan doa satu lagi yang berbunyi

(Allohumma laka shumtu wa alaa rizqika afthortu)

Artinya:”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka”

Doa ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, dinilai hasan oleh Syaikh Nasiruddin Al-Albani dalam Misykatul Mashabih, namun didhaifkannya dalam Shahih wa Dhaif Al Jamiu Ash Shaghir dan kitab-kitab lainnya. Wallahu alam bish shawab.

[Bersamadakwah]

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2305762/ini-doa-buka-puasa-cara-rasulullah#sthash.rS7vsoP2.dpuf

Marahmu Membatalkan Puasamu

ALKISAH, suatu hari di bulan Ramadan, Rasulullah saw mendengar seorang perempuan sedang memaki-maki seseorang.

Nabi pun kontan mengambil makanan dan menyuruh perempuan itu memakannya. “Saya sedang berpuasa, ya Rasulullah,” jawab perempuan itu.

“Bagaimana mungkin engkau mengaku berpuasa, padahal kau baru saja maki-maki orang lain,” kata Rasulullah. “Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja.”

Nabi melanjutkan, “Allah telah menjadikan puasa sebagai penghalang dari perbuatan atau perkataan yang tercela dan merusak puasa.”

“Alangkah sedikitnya orang berpuasa, alangkah banyaknya orang yang lapar,” kata Rasul.

 

[ Islamindonesia]
– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2305760/marahmu-membatalkan-puasamu#sthash.g3BSdF39.dpuf

Suntik dan Infus Membatalkan Puasa?

SALAH satu pertanyaan terkait puasa adalah tentang suntik dan infus. Apakah keduanya membatalkan puasa? Berikut ini jawaban Syaikh Dr Yusuf Qardhawi sebagaimana kami ringkas dari Fiqih Puasa.

Suntikan (injeksi) ada yang disuntikkan ke otot, bawah kulit atau melalui urat nadi. Ada suntikan yang dimaksudkan untuk pengobatan, suplemen, dan pengganti makanan.

Suntikan untuk pengobatan, misalnya untuk menurunkan panas dan tekanan darah, para ulama kontemporer sepakat hal itu tidak membatalkan puasa.

Suntikan sebagai suplemen seperti vitamin atau kalsium juga tidak membatalkan puasa. Sebab ia masuk ke dalam tubuh tidak melalui lubang terbuka dan tidak berisi santapan fisik yang bertentangan dengan hikmah puasa untuk menahan lapar dan dahaga.

Sedangkan suntikan melalui urat nadi (infus) yang berfungsi sebagai pengganti makanan (seperti glukosa atau lainnya), maka inilah yang diperselisihkan para ulama kontemporer.

Sebagian ulama memandang infus membatalkan puasa karena membawa makanan yang diperlukan tubuh. Sebagaimana makanan masuk ke tubuh melalui mulut membuat puasa batal, infus juga dipandang membatalkan puasa karena berisi intisari makanan dan mengirimkannya ke darah secara langsung.

Sebagian ulama lainnya memandang infus tidak membatalkan puasa karena tidak melalui tenggorokan (jauf) yang juga disebut sebagai perut besar. Infus juga tidak menghilangkan rasa lapar dan dahaga dalam artian orang yang diinfus tidak merasa kenyang dan puas. Terkadang infus membuat seseorang merasakan kesegaran dan bergairah, namun ini semata tidak cukup membatalkan puasa karena mandi juga membuat orang merasa segar.

Pendapat terakhir ini yang saya pilih. Dan sebagai catatan penting, permasalahan ini sesungguhnya sepele karena infus tidak dibutuhkan kecuali untuk orang yang sakit pada stadium tertentu atau usai melakukan operasi yang membutuhkan makanan buatan. Dalam kondisi yang demikian, orang tersebut masuk dalam kategori mariidhun (sakit) dan diperbolehkan berbuka (tidak puasa).

[Bersamadakwah]

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2305770/suntik-dan-infus-membatalkan-puasa#sthash.KEbKOnkf.dpuf

Puasa Mencegah Penyakit Gula

PENYAKIT gula atau yang dikenal dengan diabetes mellitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi pankreas yang tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah memadai atau karena sel tubuh gagal merespons insulin dengan baik.

Insulin merupakan hormon yang membantu sel tubuh untuk menyerap glukosa (gula) sehingga bisa dipergunakan sebagai sumber energi.

Pada penderita diabetes, kadar glukosa meningkat didalam darah dan air kencing. Akibatnya, penderita sering buang air kecil, selalu merasa haus, lapar, dan sering mengalami gangguan sekresi lemak dan protein. Glukosa merupakan monosakarida karbon enam hasil sintetis karbohidrat yang menjadi bahan bakar utama bagi semua sel tubuh.

Puasa dapat memelihara keseimbangan glukosa dalam darah karena adanya keseimbangan antara fungsi hormone insulin dan hormone antiinsulin, termasuk di antaranya hormone glucagon, adrenalin, glukokortikoida, hormone pertumbuhan, dan hormone tiroksin.

Hormon insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah sementara hormone antiinsulin menaikkan kadar gula dalam darah. Karena itu, harus ada keseimbangan antara kadua jenis hormone itu agar darah tetap terjaga dari gangguan atau kelainan.

Secara umum, naik atau turunnya kadar gula dalam darah merupakan gejala yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya karena keadaannya sangat berkaitan dengan glukosa.

Puasa merupakan cara paling baik untuk menjaga agar kadar gula dalam darah tetap normal. Puasa memberi waktu istirahat kepada kelenjar pankreas dari tugas rutinnya.

Dalam buku “Buku Pintar Mukjizat Kesehatan Ibadah”, terdapat hasil penelitian dari seorang ahli medis, Barber SG. Penelitian ini menyatakan bahwa sangat jarang ditemukan penyakit gula pada kaum muslim yang taat menjalankan ibadah puasa dan bahwa jumlah penderita penyakit tersebut semakin hari semakin berkurang. Ditambahkan juga dalam penelitian tersebut, sebuah rumah sakit tidak ditemukan seorang pasien pun yang dinyatakan positif menderita penyakit gula selama bulan Ramadan. []

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2305662/puasa-mencegah-penyakit-gula#sthash.VLhKZdI0.dpuf