Khasiat dan Manfaat Surat Al-Falaq

Didalam kitab tafsir Ibnu Katsir pada  beberapa  hadist dikisahkan bahwa Rasulullah pernah mengalami ganguan sihir yang dilancarkan oleh orang yahudi, kemudian Rasulullah membacakan surat Al Falaq ini hingga beliau terbebas   dari pengaruh sihir tersebut. Para perukyah juga banyak membacakan surat Al Falaq ini untuk mengatasi gangguan sihir dan tenung pada pasiennya.

SURAT AL FALAQ

1- Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, 2- dari kejahatan makhluk-Nya, 3- dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita     4- dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada  buhul-buhul, 5- dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

 

Ada 5 inti masalah yang dikemukakan didalam surat Al Falaq ini:

  1. Pernyataan bahwa kita berlindung pada Allah Tuhan yang menguasai waktu subuh
  2. Dari kejahatan sekalian mahluk ciptaannya yang ada dilangit dan bumi yang terlihat maupun tidak terlihat, yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui
  3. Dari berbagai kejahatan yang datang dimalam hari yang gelap gulita , seperti perampokan , pembunuhan, pencurian, kejahatan sihir, tenung , zinah, mabuk mabukan dan lain sebagainya
  4. Dari kejahatan para tukang sihir dan tenung yang melancarkan sihirnya seperti guna guna, santet, pelet, berbagai penyakit non medis, penutup rezeki , penghalang jodoh dan lain sebagainya
  5. Dari kejahatan orang yang dengki dan hasud yang melancarkan berbagai  fitnah dan mengancam keselamatan diri kita.

Allah memerintahkan kita untuk banyak membaca surat Al falaq ini agar terpelihara dari berbagai kejahatan yang mungkin mendatangi kita secara tidak terduga.  Awal surat dimulai  dengan kalimat“Qul….” katakanlah yang merupakan kalimat perintah. Namun sayang banyak diantara kita yang lalai dan tidak melaksanakan perintah ini.

Pada dasarnya kehidupan dunia ini merupakan kegelapan yang penuh dengan jebakan dan tipu daya, Al Qur’an merupakan cahaya yang menerangi sehingga kita bisa berjalan dengan aman dan selamat dari berbagai ancaman bahaya dan jebakan yang muncul. Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk juga merupakan sistim proteksi yang melindungi kita dari berbagai bahaya dan jebakan yang muncul.

Jika kita membaca surat Al Falaq ini dengan khusuk dan sungguh sungguh kemudian metadabburi ayat ayatnya hingga kita rasakan getaran energi yang menyertai bacaan tersebut, insya Allah kita akan mendapatkan proteksi dan perlindungan dari 4 perkara yang kita mintakan didalam  tadabbur tersebut.

Pertama:

Mendapat perlindungan dari berbagai kejahatan dan kemudharatan yang ditimbulkan oleh mahluk ciptaan Allah yang ada dilangit dan bumi, yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui yang terlihat maupun tidak terlihat. Bermacam macam mahluk Allah yang bisa menimbulkan kesulitan pada kita seperti virus dan kuman penyakit yang ada disekitar kita, mahluk supranutural seperti Jin, genderuwo , siluman yang tidak bisa kita lihat dan ketahui keberadaannya. Binatang buas dan orang yang berniat jahat seperti pencuri, perampok, pembunuh yang dapat mengancam keselamatan kita.

Kita banyak mendengar kisah orang yang tiba tiba mengalami gangguan penyakit ganas yang sulit disembuhkan seperti tumor otak, kanker yang meyerang organ vital pada tubuh. Ada orang yang terkena sihir dan gangguan mahluk halus sehingga menderita sakit berkepanjangan yang tidak bisa dideteksi dan disembuhkan secara medis. Ada orang yang diterkam binatang buas , mengalami perampokan dan pembunuhan sadis . Insya Allah dengan rajin membaca dan mentadabburi surat Al Falaq ini kita bisa terpelihara dari semua itu.

Kedua

Mendapat perlindungan dari berbagai kejahatan yang muncul dimalam hari. Para perampok, pencuri dan tukang sihir biasanya beroperasi pada malam hari. Kita banyak membaca berita tentang rumah yang dirampok atau dimasuki pencuri  dan orang yang dibunuh ketika sedang tidur.  Kegiatan judi, mabuk mabukan, zinah dan lain sebagainya juga biasanya dilakukan pada malam hari. Insya Allah kita bisa melalui malam hari dengan aman , nyaman dan tidur dengan pulas dibawah naungan Allah yang melindungi.

Ketiga

Dizaman modern ini ternyata masih banyak orang yang menggunakan jasa tukang sihir dan tukang tenung untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Menyingkirkan pesaing bisnis atau profesi , mendatangkan penyakit bahkan sampai membunuh pesaingnya dengan menggunakan kekuatan sihir dan tenung masih banyak dilakukan orang. Kejahatan dengan sihir dan tenung ini merupakan kejahatan yang sulit dilacak dan dituntut secara hukum, karena itu banyak orang yang menggunakan jasa tukang sihir tersebut untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sihir dan tenung diakui keberadaannya didalam al Qur’an , karena itu Allah juga menyiapkan benteng dan perlindungan bagi orang yang beriman dari gangguan dan bahaya kekuatan sihir dan tenung ini. Kami banyak menerima keluhan dari pembaca blog yang pada mulanya tidak percaya dengan adanya gangguan kekuatan supranatural ini. Namun setelah mereka mengalami sendiri mereka baru menyadari bahwa kekuatan itu memang ada.

Gangguan sihir yang banyak terjadi antara lain, dipersulit untuk mendapat jodoh, ditutup pintu rezekinya, selalu mengalami kesialan, sering bingung dan linglung sehingga tidak bisa bekerja dengan baik, sering mendengar bisikan dan dorongan untuk melakukan hal yang buruk dan tercela,sering terjadi kemelut dan kekacauan dalam rumah tangga, terkena pengaruh pelet dan lain sebagainya. Semua itu adalah gangguan dari syetan golongan jin yang dikirim dan diutus oleh tukang sihir untuk merusak dan mengganggu target sasarannya. Insya Allah dengan membiasakan membaca dan mentadabburi surat al falaq ini kita terpelihara dari semua kejahatan tersebut.

Keempat.

 Dengki dan hasud adalah penyakit yang banyak menghinggapi hati manusia, senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Penyakit inilah yang menyebabkan Iblis terusir dari syurga, ia dengki dan hasud pada Adam hinga tidak mau sujud ketika diperintahkan sujud pada Adam. Ia merasa lebih mulia karena ia diciptakan dari api sedangkan  Adam diciptakan dari tanah. Orang yang dengki dan hasud seringkali merasa tidak senang dan  ridho ketika teman atau pesaingnya mendapat sukses dan kebahagiaan. Ia ingin menlenyapkan dan menghancurkan kesuksesan dan  kebahagiaan yang didapat oleh temannya itu. Ia ingin yang sukses dan bahagia hanyalah dirinya saja.

Tanpa disadari kadangkala kita sering mendapat fitnah, dan gangguan dari orang yang dengki pada kita. Kedengkian ini bisa dinyatakan secara terang terangan , bisa juga secara sembunyi sembunyi. Orang yang dengki akan melancarkan berbagai fitnah untuk menghancurkan karir dan usaha yang kita jalani. Kadangkala mereka tidak segan segan mengguanakan jasa dukun atau paranormal untuk menghancurkan karir, usaha atau bisnis yang kita jalani. Insya allah dengan membiasakan diri membaca surat Al Falaq dan tadabburnya ini kita terpelihara dari ancaman dan gangguan orang yang dengki itu.

Walaupun bagaimana mencegah adalah jauh lebih baik daripada mengobati. Mengobati orang yang terkena sihir, fitnah, bencana, dan berbagai kesulitan jauh lebih sulit dari pada mencegah terjadinya semua itu. Dibutuhkan energi dan usaha yang lebih kuat untuk mengobati semua gangguan itu dibandingkan dengan mencegahnya.

 

Surat Al falaq tersebut diatas juga bisa digunakan untuk mengobati orang yang terkena gangguan sihir, tenung dan fitnah namun  tentu dibutuhkan kesabaran dan usaha yang ekstra keras untuk mengatasi semua itu.

Umumnya orang yang terkena ganguan sihir, fitnah, bencana dan lain sebagainya jiwanya berada dalam keadaan yang tidak stabil. Sulit baginya untuk berkonsentrasi membaca tadabbur, untuk itu perlu dibantu oleh teman atau saudaranya yang sehat.

Kekuatan bacaan tadabur bukanlah pada ayat yang dibaca, tapi pada penghayatan dari orang yang membacanya. Jika surat Al falaq itu dibaca dengan khusuk dan sungguh sungguh akan terjadi komunikasi dan kontak batin antara yang bersangkutan dengan Allah sang pencipta alam semesta. Hubungan komunikasi ini akan menimbulkan getaran yang dapat dirasakan oleh orang yang mentadabburi surat Al Falaq tersebut. Getaran tersebut merupakan energi dahsyat yang muncul disekitar tubuh orang yang membaca tadabbur. Energi tersebut akan melindungi orang yang bersangkutan sesuai pesan yang terkandung dalam doa yang diucapkan.

Para perukyah juga membangkitkan energi ini pada dirinya ketika membaca ayat ayat rukyah. Karena itu dalam merukyah ada yang cepat berhasil menyembuhkan pasiennya dari gangguan sihir, namun ada juga yang butuh waktu sampai berjam jam dan berhari hari tergantung kekuatan konsentrasi dan kekhusukan para perukyah yang bersangkutan.

Contoh Bacaan tadabbur surat al Falag adalah sebagai berikut:

Ya Allah telah Kau ingatkan pada kami dalam Qur’anMu yang agung, agar kami berlindung padaMu Tuhan yang menguasai waktu subuh, dari kejahatan sekalian mahluk ciptaanMu,  dari kejahatan malam apabila telah gelap. Dan dari kejahatan wanita tukang sihir yang meniup pada ujung tali serta kejahatan orang yang iri dan dengki apa bila ia menyatakan kedengkiannya.

Ya Allah Tuhan yang menguasai waktu subuh. KepadaMu tunduk dan patuh segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi. Kami berlindung kepadaMu dari kejahatan sekalian mahlukMu yang ada dilangit dan bumi , yang  kami ketahui maupun tidak kami ketahui, yang terlihat maupun tidak terlihat.

Ya Allah Tuhan yang berkuasa penuh disegala penjuru langit dan bumi, kami berlindung padaMu dari kejahatan malam apabila sudah gelap. Kami berlindung padaMu dari berbagai kejahatan yang datang dimalam hari , yang kami ketahui maupun tidak kami ketahui, yang mengancam keselamatan kami dan keluarga kami.

Ya Allah Tuhan yang berkuasa penuh disegala penjuru langit dan bumi, kami berlindung padaMu dari kejahatan tukang sihir dan tukang tenung yang mengirimkan sihirnya kepada kami. . Lindungi kami dari bahaya dan  ancaman  kekuatan sihir yang datang menghampiri kami . Musnahkan dan lenyapkan berbagai kekuatan sihir dan kekuatan negatif yang datang menyerang kami ya Allah. Engkaulah pelindung dan penolong kami , tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkan kekuatanMu ya Allah.

Ya Allah Tuhan yang berkuasa penuh disegala penjuru langit dan bumi, Kami berlindung padaMu dari kejahatan orang yang dengki apabila mereka menyatakan kedengkiannya. Lindungi kami dari bahaya dan kemudaratan fitnah yang dilancarkan oleh orang yang dengki dan hasud pada kami ya Allah. Musnahkan dan lenyapkan berbagai fitnah yang dilancarkan oleh orang yang dengki pada kami ya Allah. . Engkaulah pelindung dan penolong kami , tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkan kekuatanMu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah , Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa.

Bacaan tadabbur ini dibaca setelah selesai membaca surat al Falaq dengan lengkap, baca tadabbur ini dengan sungguh sungguh dan penuh penghayatan. Rasakan komunikasi yang dalam dengan Allah yang maha mendengar dan maha memperhatikan keadaan  hamba hambaNya. Dia yang hidup dan berdiri sendiri maha melihat dan memperhatikan keadaan para hambaNya.

Rasakan getaran yang muncul ketika membaca tadabbur ini. Itu adalah pertanda telah terbangun komunikasi yang baik antara anda dengan Allah penguasa alam semesta. Mudah mudahan Allah mengabulkan semua hajat dan permohonan anda. Dia maha mendengar dan maha memperhatikan keadan hamba hambaNya. Jika Dia menolong anda maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mengalahkan anda.

Berikut bisa anda saksikan video cara membaca tadabbur surat al falaq ini sebagai pedoman bagi anda. Kalimat yang dibaca dalam tadabbur bisa anda kembangkan sendiri sesuai kebutuhan sepanjang tidak menyimpang jauh dari pemahaman surat Al Falaq yang anda baca.

 

Menghadapi gangguan sihir atau jin yang merasuk kedalam tubuh seseorang tadabbur ini bisa diulang ulang sampai beberapa kali. Pada kasus gangguan jin biasanya akan muncul reaksi dan perlawanan , kuatkan permohonan pada Allah agar Ia menurunkan pertolongan yang dahsyat dari sisinya. Untuk pengobatan dan mengatasi gangguan sihir atau Jin sebaiknya dibantu dengan ayat rukyah lainnya sepert ayat kursi, Al Baqarah, Yasin dan lain sebagainya.

Untuk proteksi dan perlindungan diri ada baiknya tadabbur ini dibaca minimal sekali sehari terutama sesudah shalat subuh. Mencegah adalah lebih baik daripada mengobati. Buat anda yang rawan terhadap gangguan sihir dan fitnah, seperti para pebisnis, pengawas lapangan dan project, profesi yang rawan persaingan, mereka yang bekerja dibawah ancaman dan stress ada baiknya mewiridkan bacaan tadabbur ini setiap selesai shalat subuh atau menjelang tidur.

 

sumber: Fadhil ZA

Memahami Surat Al Falaq

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan saya untuk membaca al-Mu’awwidzat tiap selesai shalat.” (HR. Abu Dawud, dihukumi shahih oleh al-Albani)

urat al-Falaq terdiri dari lima ayat dan tergolong makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah). Bersama surat an-Nas, ia disebut al-Mu’awwidzatain. Disebut demikian karena keduanya mengandung ta’widz (perlindungan).  Keduanya termasuk surat yang utama dalam Al-Qur’an. Keutamaan surat al-Falaq selalu disebut bersamaan dengan surat an-Nas.

Keutamaan al-Mu’awwidzatain

Dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhubahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟))

“Tahukah engkau ayat-ayat yang telah diturunkan malam ini, tidak pernah ada yang menyerupainya sama sekali? Kemudian beliau mengatakan:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Sedangkan at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudriradhiyallahu ‘anhu hadits berikut,

((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنْ عَيْنِ الْجَانِّ وَعَيْنِ الإِنْسِ, فَلَمَّا نَزَلَتْ الْمُعَوِّذَتَانِ أَخَذَ بِهِمَا, وَتَرَكَ مَا سِوَى ذَلِكَ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari mata jahat jin dan manusia. Ketika turun alMu’awwidzatain, beliau memakainya dan meninggalkan yang lain. (dihukumi shahih oleh al-Albani)

Kedua surat ini disunatkan dibaca setiap selesai shalat wajib. Dalam hadits lain, ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

(( أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan saya untuk membaca alMu’awwidzat tiap selesai shalat.” (HR. Abu Dawud, dihukumi shahih oleh al-Albani)

Disunatkan juga membacanya sebelum dan sesudah tidur, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Uqbah yang lain:

(( ياَ عُقْبَةُ ! اِقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَقُمْتَ، مَا سَأَلَ سَائِلٌ وَلاَ اِسْتَعَاذَ مُسْتَعِيْذٌ بِمِثْلِهِمَا))

“Wahai ‘Uqbah, bacalah keduanya setiap kamu tidur dan bangun. Tidaklah seseorang bisa meminta atau berlindung dengan seperti keduanya.”  (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah, dihukumi hasan oleh al-Albani)

Hadits-hadits shahih juga menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenganjurkan membacanya pada dzikir pagi dan sore. Beliau juga membacanya saat meruqyah diri beliau saat sakit dan disengat kalajengking. Demikian juga malaikat yang meruqyah beliau saat disihir Labid bin al-A’sham.

Tafsir Surat al-Falaq

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Penguasa) waktu Subuh.”

Dalam bahasa Arab, al-falaq berarti sesuatu yang terbelah atau terpisah. Yang dimaksud dengan al-falaq dalam ayat ini adalah waktu subuh, karena makna inilah yang pertama kali terdetik dalam benak orang saat mendengar kata al-falaq. Ia disebut demikian karena seolah-olah terbelah dari waktu malam.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk berlindung (isti’adzah) kepada Allah semata.Isti’adzah termasuk ibadah, karenanya tidak boleh dilakukan kepada selain Allah. Dia yang mampu menghilangkan kegelapan yang pekat dari seluruh alam raya di waktu subuh tentu mampu untuk melindungi para peminta perlindungan dari semua yang ditakutkan.

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Dari kejahatan apa-apa yang telah Dia ciptakan.”

Ayat yang pendek ini mengandung isti’adzah dari kejahatan semua makhluk. Al-Hasan Al-Bashri berkata : “Jahannam dan iblis beserta keturunannya termasuk apa yang telah Dia ciptakan.” Kejahatan diri kita sendiri juga termasuk di dalamnya, bahkan ia yang pertama kali masuk dalam keumuman kata ini, sebagaimana dijelaskan  Syaikh al-‘Utsaimin. Hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan dari semua kejahatan, karena semua makhluk di bawah kekuasaanNya.

Setelah memohon perlindungan secara umum dari semua kejahatan, kita berlindung kepada Allah dari beberapa hal secara khusus pada ayat berikut; karena sering terjadi dan kejahatan berlebih yang ada padanya. Di samping itu, ketiga hal yang disebut khusus berikut ini juga merupakan hal-hal yang samar dan tidak tampak, sehingga lebih sulit dihindari.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

“Dan dari kejahatan malam apabila telah masuk dalam kegelapan.”

Kata ghasiq berarti malam, berasal dari kata ghasaq yang berarti kegelapan. Kata kerjawaqaba mengandung makna masuk dan penuh, artinya sudah masuk dalam gelap gulita.

Kita berlindung dari kejahatan malam secara khusus, karena kejahatan lebih banyak terjadi di malam hari. Banyak penjahat yang memilih melakukan aksinya di malam hari. Demikian pula  arwah  jahat  dan binatang-binatang yang berbahaya. Di samping itu, menghindari bahaya juga lebih sulit dilakukan pada waktu malam.

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada tali-tali ikatan.”

Para tukang sihir biasa membaca mantra dan jampi-jampi, kemudian mereka tiupkan pada tali-tali yang di ikat. Inilah yang di maksud dengan ruqyah syirik. Sihir merupakan salah satu dosa dan kejahatan terbesar, karena disamping syirik, ia juga samara dan bisa mencelakakan manusia di dunia dan akhirat. Karenanya kita berlindung secara khusus kepada Allah dari kejahatan ini.

Penyebutan wanita tukang sihir dalam bentuk muannats (feminin) dikarenakan jenis sihir ini yang paling banyak melakukannya adalah wanita. Dalam riwayat tentang sihir Labid bin al-A’sham yang ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebutkan bahwa puteri-puteri Labid yang menghembus pada tali-tali.

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang dengki apabila ia dengki.”

Dengki (hasad) adalah membenci nikmat Allah atas orang lain dan menginginkan hilangnya nikmat itu darinya. Yang dimaksud dengan ‘apabila ia dengki’ adalah jika ia menunjukkan kedengkian yang ada di hatinya dan karenanya terbawa untuk membahayakan orang yang lain.  Kondisi yang demikianlah yang membahayakan orang lain. Orang yang hasad akan menempuh cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan keinginannya. Hasad juga bisa menimbulkan mata jahat (‘ain) yang bisa membahayakan sasaran kedengkiannya. Pandangan mata dengkinya bisa mengakibatkan orang sakit, gila, bahkan meninggal. Barang yang dilihatnya juga bisa rusak atau tidak berfungsi. Karenanya, kitapun berlindung kepada Allah dari keburukan ini secara khusus.

Ada juga orang dengki yang hanya menyimpan kedengkiannya dalam hati, sehingga ia sendiri gundah dan sakit hati, tapi tidak membahayakan orang lain, sebagaimana dikatakan Umar bin Abdil Aziz: “Saya tidak melihat orang zhalim yang lebih mirip dengan orang terzhalimi daripada orang yang dengki.”

Jadi, untuk melindungi diri dari semua kejahatan kita harus menggantungkan hati kita dan berlindung hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan membiasakan diri membaca dzikir yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini adalah salah satu wujud kesempurnaan agama Islam. Kejahatan begitu banyak pada zaman kita ini, sementara banyak umat Islam yang tidak tahu bagaimana cara melindungi diri darinya. Adapun yang sudah tahu banyak yang lalai, dan yang membacanya banyak yang tidak menghayati. Semua ini adalah bentuk kekurangan dalam beragama. Andai umat Islam memahami,mengamalkan dan menghayati sunnah ini, niscaya mereka terselamatkan dari berbagai kejahatan.

Kesimpulan:

  1. Surat ini adalah surat yang utama, dan dianjurkan dibaca setelah shalat, sebelum dan sesudah tidur, dalam dzikir pagi dan sore, juga dalam ruqyah.
  2. Kita memohon perlindungan hanya kepada Allah dari semua kejahatan secara umum, dan beberapa hal secara khusus karena lebih sering terjadi, lebih samar atau karena mengandung bahaya yang lebih.
  3. Mewaspadai kejahatan malam, tukang sihir dan pendengki.
  4. Sihir dan ‘ain adalah perkara yang hakiki.
  5. Kesempurnaan agama Islam yang mengajarkan cara melindungi diri dari berbagai kejahatan.
  6. Kekurangan sebagian umat Islam dalam memahami, mengamalkan dan menghayati ajaran Islam.

Referensi:

  1. Al-Quran dan Terjemahnya, Percetakan Mushaf Madinah.
  2. Irsyadul ‘Aqlis Salim Ila Mazayal Kitabil Karim (Tafsir Abu Su’ud), Maktabah Syamilah.
  3. Fathul Qadir, asy-Syaukani, Darul Hadits.
  4. Taysirul Karimir Rahman,  Muassasah ar-Risalah.
  5. Riyadhush Shalihin, an-Nawawi, al-Maktab al-Islami.
  6. Tafsir Juz ‘Amma, Website Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.

Penulis: Ustadz Anas Burhanudin, MA

Artikel www.muslim.or.id

Inilah Keutamaan Surat Al Ikhlas

Ada banyak sekali Keutamaan dari Surat Al Ikhlas yang mungkin belum kita ketahui. Beberapa hadits shahih dibawah ini insyaallah bisa membantu kita untuk mengetahui fadhilah surat Al Ikhlas.

1. Surat Al Ikhlas Sebanding Dengan Sepertiga Alqur’an

  • Hadits Abu Said al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:”Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (HR. Bukhori)
  • Hadits Abu Said al Khudri Radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata:”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga al Qur`an dalam satu malam (saja)?” Hal itu membuat mereka keberatan, (sehingga) mereka pun berkata: “Siapa di antara kami yang mampu melalukan hal itu, wahai Rasulullah?” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allahul Wahidush Shamad (surat al Ikhlash, Red), (adalah) sepertiga al Qur`an”. (HR. Bukhori)
  • Hadits Abu ad Darda` Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca dalam satu malam (saja) sepertiga al Qur`an?” Mereka pun berkata: “Dan siapa (di antara kami) yang mampu membaca sepertiga al Qur`an (dalam satu malam, Red)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “sebanding dengan sepertiga al Qur`an.” (HR. Muslim)
  • Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah kalian, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur`an,” maka berkumpullah orang yang berkumpul, kemudian Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa asllam keluar dan membaca (surat al Ikhlash, Red), kemudian beliau masuk (kembali). Maka sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain: “Sesungguhnya aku menganggap hal ini kabar (yang datang) dari langit, maka itulah pula yang membuat beliau masuk (kembali),” lalu Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan bersabda: “Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian akan membacakan sepertiga al Qur`an. Ketahuilah, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (HR. Muslim)

2. Bisa menjadi Penyebab Masuk Surga

  • Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:”Aku datang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mendengar seseorang membaca:. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah wajib,” aku bertanya: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda, “(Telah wajib baginya) surga. ” (Tafsir Alqur’anul Adzim, Ibnu Katsir)

3. Melindungi Orang Yang Membacanya

  • Hadits Uqbah bin Amir al Juhani Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:”Tatkala aku menuntun kendaraan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan, tiba-tiba beliau berkata: “Wahai Uqbah, katakan,” aku pun mendengarkan, kemudian beliau berkata (lagi): “Wahai Uqbah, katakan,” aku pun mendengarkan. Dan beliau mengatakannya sampai tiga kali, lalu aku bertanya: “Apa yang aku katakan?”

Beliau pun bersabda: “Katakan “, lalu beliau membacanya sampai selesai. Kemudian beliau membaca , aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca , aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang berlindung (dari segala keburukan) seperti orang orang yang berlindung dengannya (tiga surat) tersebut”. (HR. Nasa’i)

4. Dibaca Nabi Ketika Hendak Tidur Untuk Penjagaan Diri

  • Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin merebahkan tubuhnya (tidur) di tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan ke dua telapak tangannya, kemudian beliau sedikit meludah padanya sambil membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dan “Qul Audzu bi Rabbin Naas” dan “Qul Audzu bi Rabbil Falaq,” kemudian (setelah itu) beliau mengusapkan ke dua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat beliau jangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhori)

5. Akan Diampuni Dosa-dosanya Dengan Izin Allah SWT

  • Hadits Mihjan bin al Adru Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, tiba-tiba (ada) seseorang yang telah selesai dari shalatnya, dan ia sedang bertasyahhud, lalu ia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (kepadaMu) bahwa sesungguhnya Engkau (adalah) Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya, ampunilah dosa-dosaku, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah diampuni (dosa-dosanya),” beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.(HR. Abu Dawud)

6. Berdoa Dengan Wasilah Surat Al Ikhlas Insyaallah Doa Akan Cepat Dikabulkan

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu, bahwa diriku bersaksi sesungguhnya Engkau (adalah) Allah yang tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya,” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah dengan namaNya, yang jika Ia dimintai dengannya (pasti akan) memberi, dan jika Ia diseru dengannya, (pasti akan) mengabulkannya”. (HR. Abu Dawud)

7. Dengan Mencintainya Maka Akan Dicintai Allah

  • Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:”Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan , maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya”. (HR. Bukhori)

Subhanallah, Begitu banyak sekali keutamaan dari Surat Al Ikhlas, Semoga kita semua bisa mengamalkannya dan mengambil pelajaran dari hadits-hadits diatas, Amiin.[ ]

 

 

 

sumber: Inilah.com

Mengapa Surat al-Ikhlas senilai Sepertiga al-Quran?

Surat al-Ikhlas senilai Sepertiga al-Quran?

Mengapa surat al-Ikhlas senlai sepertiga al-Quran, dan apa maksudnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Keterangan bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga al-Quran bersumber dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Di suatu malam, ada seorang sahabat yang mendengar temannya membaca surat al-Ikhlas dan diulang-ulang. Pagi harinya, sahabat ini melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan nada sedikit meremehkan amalnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Bukhari 5013 dan Ahmad 11612).

Dalam hadis lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat,

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Sanggupkah kalian membaca sepertiga al-Quran dalam semalam?”

Mereka bertanya, ‘Bagaimana caranya kita membaca 1/3 al-Quran?’

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Qul huwallahu ahad senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Muslim 1922).

Makna al-Ikhlas 1/3 al-Quran

Dalam al-Quran, ada 3 pembahasan pokok:

[1] Hukum, seperti ayat perintah, larangan, halal, haram, dst.

[2] Janji dan ancaman, seperti ayat yang mengupas tentang surga, neraka, balasan, termasuk kisah orang soleh dan kebahagiaan yang mereka dapatkan dan kisah orang jahat, berikut kesengsaraan yang mereka dapatkan.

[3] Berita tentang Allah, yaitu semua penjelasan mengenai nama dan sifat Allah.

Karena surat al-Ikhlas murni membahas masalah tauhid, bercerita tentang siapakah Allah Ta’ala, maka kandungan makna surat ini menyapu sepertiga bagian dari al-Quran.

Kita simak keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar,

قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Senilai sepertiga al-Quran” dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna al-Quran. Karena isi Quran adalah hukum, berita, dan tauhid. Sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini.  (Fathul Bari, 9/61)

Penjelasan kedua,

Bahwa isi quran secara umum bisa kita bagi menjadi 2:

[1] Kalimat Insya’ (non-berita): berisi perintah, larangan, halal-haram, janji dan ancaman, dst.

[2] Kalimat khabar (berita): dan berita dalam al-Quran ada 2:

[a] Berita tentang makhluk: kisah orang masa silam, baik orang soleh maupun orang jahat.

[b] Berita tentang khaliq: penjelasan tentang siapakah Allah, berikut semua nama dan sifat-Nya.

Mengingat surat al-Ikhlas hanya berisi berita tentang Allah, maka surat ini menyapu sepertiga makna al-Quran.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

ولذلك عادلت ثلث القرآن لأن القرآن خبر وإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عن الله

Surat al-Ikhlas senilai 1/3 al-Quran, karena isi al-Quran ada 2: khabar dan Insya’. Untuk Insya’ mencakup perintah, larangan, dan perkaran mubah. Sementara khabar, di sana ada khabar tentang kkhaliq dan khabar tentang ciptaan-Nya. Dan surat al-Ikhlas hanya murni membahas khabar tentang Allah. (Fathul Bari, 9/61)

Pahalanya Senilai Membaca 1/3 al-Quran

Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya memberikan pahala ibadah kepada hamba-Nya dengan nilai yang beraneka ragam. Ada ibadah yang diberi nilai besar dan ada yang dinilai kecil. Sesuai dengan hikmah Allah. sehingga, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang usianya relatif pendek, bisa mendapatkan pahala besar tanpa harus melakukan amal yang sangat banyak.

Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi oleh Allah lailatul qadar, yang nilainya lebih baik dari pada 1000 bulan. Ada juga masjidil haram, siapa yang shalat di sana dinilai 100.000 kali shalat. Kemudian surat al-Ikhlas, siapa membacanya sekali, dinilai mendapatkan pahala membaca 1/3 al-Quran.

Dan Allah Maha Kaya untuk memberikan balasan apapun kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Senilai dalam Pahala BUKAN Senilai dalam Amal

Kami ingatkan agar kita membedakan antara al-Jaza’ dengan al-ijza’.

Al-jaza’ (الجزاء) artinya senilai dalam pahala yang dijanjikan

Al-Ijza’ (الإجزاء) artinya senilai dalam amal yang digantikan.

Membaca surat al-Ikhlas mendapat nilai seperti membaca 1/3 al-Quran maknanya adalah senilai dalam pahala (al-Jaza’). Bukan senilai dalam amal (al-Ijza’).

Sehingga, misalnya ada orang yang bernadzar untuk membaca satu al-Quran, maka dia tidak boleh hanya membaca surat al-Ikhlas 3 kali, karena keyakinan senilai dengan satu al-Quran. Semacam ini tidak boleh. Karena dia belum dianggap membaca seluruh al-Quran, meskipun dia mendapat pahala membaca satu al-Quran.

Sebagaimana ketika ada orang yang shalat 2 rakaat shalat wajib di masjidil haram. Bukan berarti setelah itu dia boleh tidak shalat selama 50 puluh tahun karena sudah memiliki pahala 100.000 kali shalat wajib.

Benar dia mendapatkan pahala senilai 100.000 kali shalat, tapi dia belum disebut telah melaksanakan shalat wajib selama puluhan tahun itu.

Berbeda dengan amal yang memenuhi al-Ijza’, seperti jumatan, yang dia menggantikan shalat dzuhur. Sehingga orang yang shalat jumatan tidak perlu shalat dzuhur. Atau orang yang tayammum karena udzur, dia tidak perlu untuk wudhu, karena tayammum senilai dengan amalan wudhu bagi orang yang punya udzur.

Syaikhul Islam mengatakan,

فالقرآن يحتاج الناس إلى ما فيه من الأمر والنهي والقصص ، وإن كان التوحيد أعظم من ذلك، وإذا احتاج الإنسان إلى معرفة ما أُمر به وما نهي عنه من الأفعال أو احتاج إلى ما يؤمر به ويعتبر به من القصص والوعد والوعيد : لم يسدَّ غيرُه مسدَّه ، فلا يسدُّ التوحيدُ مسدَّ هذا ، ولا تسدُّ القصص مسدَّ الأمر والنهي ولا الأمر والنهي مسدَّ القصص ، بل كل ما أنزل الله ينتفع به الناس ويحتاجون إليه

Al-Quran, dibutuhkan manusia keterangan mengenai perintah, larangan, dan semua kisahyang ada, meskipun tauhid menjadi kajian paling penting dari semua itu. Ketika seseorang butuh untuk mengetahui perintah dan larangan dalam masalah perbuatan, dan butuh  untuk merenungi setiap kisah, janji dan ancaman, maka kajian lainnya tidak bisa menutupi  kebutuhan dia pada itu semua. Kajian tauhid tidak bisa menggantikan kajian perintah dan larangan, demikian pula masalah kisah, tidak bisa menggantika perintah dan larangan atau sebaliknya. Namun semua yang Allah turunkan bermanfaat bagi manusia dan dibutuhkan mereka semua.

Lalu beliau mengatakan,

فإذا قرأ الإنسان { قل هو الله أحد } : حصل له ثوابٌ بقدر ثواب ثلث القرآن لكن لا يجب أن يكون الثواب من جنس الثواب الحاصل ببقية القرآن ، بل قد يحتاج إلى جنس الثواب الحاصل بالأمر والنهي والقصص ، فلا تسد { قل هو الله أحد } مسد ذلك ولا تقوم مقامه

Jika seseorang membaca surat al-Ikhlas, dia mendapat pahala senilai pahala sepertiga al-Quran. Namun bukan berarti pahala yang dia dapatkan sepadan dengan bentuk pahala untuk ayat-ayat Quran yang lainnya. Bahkan bisa jadi dia butuh bentuk pahala dari memahami perintah, larangan, dan kisah al-Quran. Sehingga surat al-Ikhlas tidak bisa menggantikan semua itu. (Majmu’ al-Fatawa, 17/138).

Allahu a’lam.

 

sumber: Konsultasi Syariah

Fadhilah – Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas (Memurnikan Ke-Esa-an Alloh SWT) adalah Surat ke-112 dalam Al-Qur an dengan fadhilah dan keutamaan yang menakjubkan. Surat ini tergolong Surat Makkiyah, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan ke-Esa-an Alloh dan menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya.

Sabda Rosululloh S.A.W yang bermaksud:
Barangsiapa membaca Surat Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi titian shirotul-mustaqim lalu menuju ke surga. (Demikian diterangkan dalam Tadzkirotul Qurthuby).

Fadhilah Membaca Surat Al-Ikhlas

Rosululloh SAW pernah bertanya sebuah teka-teki kepada umatnya Siapakah antara kalian yang dapat mengkhatamkan Al-Qur an dalam jangka masa singkat (dua-tiga menit)?

Tiada seorang dari sahabatnya yang menjawab. Malah Sayyidina ‘Umar bin Khattab r.a. (Rodliyallohu ‘anhu) telah mengatakan bahwa mustahil untuk mengkhatamkan Al-Qur an begitu cepat. Kemudian Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib k.w. mengangkat tangannya, menyatakan kesanggupan. Sayyidina ‘Umar berkata kepada Sayyidina ‘Ali bahwa Sayyidina ‘Ali (yang masih muda pada waktu itu) mungkin tidak tahu apa yang dikatakannya itu.

Kemudian Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali. Rosululloh SAW menjawab dengan mengatakan bahwa Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib benar. Kemudian menerangkan bahwa membaca Surat Al-Ikhlas sekali ganjarannya sama dengan membaca 10 juz kitab Al-Qur an atau sepertiga Al-Qur an. Jika membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali Khatamlah Al-Quran karena dengan membaca sebanyak tiga kali sama seperti dengan membaca 30 juz Al-Quran.

Keutamaan Mengamalkan Surat Al-Ikhlas

Artikel ini berhubungan erat dengan Wasiat Rosululloh Muhammad SAW.

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahwa Rosululloh SAW telah bersabda:
Ketika saya (Rosululloh SAW) melakukan perjalan isro-miraj ke langit, maka saya telah melihat ‘Arsy di atas 360,000 sendi dan jarak jauh antara satu sendi ke satu sendi ialah 300,000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12,000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80,000 malaikat yang mana kesemuanya membaca Surat Al-Ikhlas. Setelah mereka selesai membaca Surat Al-Ikhlas maka berkata mereka: Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini, kami berikan kepada orang yang membaca Surat Al-Ikhlas, baik ia lelaki maupun perempuan.

Surat Al-Ikhlas, Keutamaan Surat Al-Ikhlas, Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas, Arab
“Katakanlah Dia-lah Alloh Yang Maha Esa, Alloh yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan Tiada satupun yang setara dengan Dia.”

Membaca Surat Al-Ikhlas memperoleh pahala seperti membaca Kitab Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur an.

Sabda Rosululloh SAW yang lain:
Demi Alloh yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya
“Qul Huwallohu Ahad” itu tertulis di sayap malaikat Jibril a.s,
“Allohush-shomad” itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s,
“Lam yalid walam yuulad” tertulis pada sayap malaikat ‘Izroil a.s,
“Walam yakullahu kufuwan Ahad” tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s.

“Qul Huwallohu Ahad” itu tertulis di dahinya Abu Bakar As-shiddiq .r.a.,
“Allohush-shomad” itu tertulis di dahinya ‘Umar bin Khattab r.a.,
“Lam yalid walam yuulad” tertulis di dahinya ‘Utsman bin ‘Affan r.a.,
“Walam yakullahu kufuwan Ahad” tertulis di dahinya ‘Ali bin Abi Tholib r.a..

(Kitab Hayatun Kuluubi)

Hadits-hadits tentang Surat Al-Ikhlas

Dari A’isyah r.a., bahwasanya Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seorang shahabat dalam sebuah pertempuran. Lalu dia mengimami sholat dan selalu membaca surat Al-Ikhlas. Tatkala mereka kembali dari pertempuran mereka adukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Tanyakan kepadanya apa yang melatarbelakangi dia berbuat seperti itu, merekapun menanyakannya. Lalu dia pun menjawab: “Karena sesungguhnya surat Al-Ikhlas itu mengandung sifat yang dimiliki oleh Ar-Rohman (Alloh SWT) dan aku suka untuk membacanya. Maka Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kabarkan kepadanya bahwa Alloh subhanahu wata’ala mencintainya” (HR. Al-Bukhari no.7375)

Dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata: “Aku pernah bersama Rosululloh Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam dan disaat itu beliau mendengar seseorang membaca Al-Ikhlas. Lalu beliau bersabda: “Dia telah mendapatkan”, Abu Hurairah bertanya: “Mendapatkan apa wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Al-Jannah (surga).”(HR. At Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Kecintaanmu terhadap surat Al-Ikhlas memasukkanmu ke dalam al jannah.” (HR. Al-Bukhari)

Sebenarnya banyak sekali Fadhilah – Keutamaan Membaca Al-Qur an, mudah-mudahan yang disampaikan ini bisa banyak bermanfa’at.

Dari ‘Ali bin Abi Tholib k.w.: “Siapa saja yang duduk membaca Al-Qur an, niscaya dia akan berdiri darinya dengan tambahan atau kekurangan, yaitu bertambah dalam mendapatkan petunjuk, atau berkurang dalam kesesatan.”

“Mintalah dari Alloh SWT segala kebaikan dengan mengikuti Al-Qur an. Mendekatlah kepada Alloh SWT dengan mencintai Al-Qur an. Janganlah memperalatnya demi mendapatkan sesuatu dari hamba-hamba Alloh dengannya. Tiada sesuatu sebaik Al-Qur an yang dapat dibawa seseorang ketika menghadapkan diri kepada Tuhan-nya.”

Wallohu a’lam.

 

sumber: Aura Ilmu

Subhanallah.. Dahsyatnya Surat Al Ikhlas

Banyak sekali tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran Allah di dunia ini, tanda-tanda ini seringkali muncul pada binatang, tumbuhan, maupun pada manusia. Anda mungkin sering melihat lafadz Allah pada binatang yang diabadikan dalam sebuah foto yang diupload di media sosial seperti Facebook, atau kita pernah mendengar sebuah pohon di suatu negara yang membentuk kalimat laa ilaaha illa Allah. Semua ini tidak lain ditujukan kepada kita agar selalu ingat akan kebesaran Allah SWT.

 

Salah satu bentuk keagungan Allah juga terlukis pada sayap malaikat. Menurut suatu hadits, pada sayap malaikat terdapat tulisan surat al-Ikhlas. Keterangan ini terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Ketika melakukan isra’ ke langit, saya telah melihat Arsy di atas 360.000 sendi di mana jarak tempuh antara satu sendi ke sendi lainnya ialah 300.000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12.000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80.000 malaikat di mana semuanya membaca surah al-Ikhlas.”

Setelah itu Nabi bersabda lagi, “Setelah selesai membaca surat tersebut mereka berkata: Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surat al-Ikhlas, baik ia laki-laki maupun perempuan.”

Ketika para sahabat mendengar keterangan Nabi yang demikian itu, mereka dibuat berdecak kagum. Lalu Nabi bersabda lagi, “Wahai para sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Para sahabat menjawab: “Ya, kami sungguh kagum, ya Rasulullah saw.”

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di sayap malaikat Jibril a.s, Allahush Shamad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s, Lam Yalid Walam Yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s, Walam Yaqullahu Kufuwan Ahad tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s. Oleh karena itu, barang siapa dari umatku membaca surat al-Ikhlas maka dia diberi pahala membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an yang agung.”

Setelah Rasulullah saw. berkata demikian, baginda bersabda lagi, “Wahai sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Maka para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah saw., kami semua kagum.”

Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di dahi Abu Bakar Ash-Shidiq, Allahush Shamad itu tertulis di dahi Umar al-Faaruq, Lam Yalid Walam Yuulad itu tertulis di dahi Utsman Dzun Nuurain dan Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad itu tertulis di dahi Ali ra. Oleh karena itu, siapa yang membaca surat al-Ikhlas maka ia diberi oleh Allah pahala Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” (Keterangan ini terdapat dalam kitab Hayatul Quluub)

Demikian agungnya posisi surat al-Ikhlas di antara surat-surat lainnya, hingga ia sampai terlukis di sayap para malaikat. Bahkan ihwal keagungan dan besarnya manfaat surat ini, Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa membaca surat al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, ia akan selamat dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka, melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke surga.” (Seperti diterangkan dalam kitab Tadzikaratul Qurthuby).

Ada suatu kisah yang menggambarkan keagungan surat al-Ikhlas. Kisah ini terekam dalam hadits. Suatu kali Nabi memberikan sebuah teka-teki kepada para sahabatnya: Siapakah di antara kamu yang dapat mengkhatam Qur’an dalam jangka waktu cepat? Tidak ada seorang sahabat pun yang bisa menjawabnya. Umar lalu berkata bahwa mustahil bisa mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu begitu cepat. Tetapi Ali kemudian mengangkat tangannya. Melihat hal ini, Umar langsung berkata bahwa Ali (yang masih kecil pada waktu itu) tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Ali membaca surat al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah saw. menjawab dengan mengatakan bahwa Ali betul.

Menurut Nabi, membaca surah al-Ikhlas satu kali pahalanya sama dengan membaca 10 juz al-Qur’an. Lalu dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka khatamlah al-Qur’an. Karena hal itu sama dengan membaca 30 juz al-Qur’an.

Ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlas itu memiliki kelebihan dibandingkan surat-surat lainnya. Karena itu, kita sering mengucapkannya pada saat dzikir, tahlil, shalat, keadaan takut dan sebagainya. Karena itu pula, Allah mengukirnya pada sayap malaikat.

Kelebihan surat al-Ikhlas juga terlihat dari kisah berikut ini. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa sewaktu ia bersama-sama Rasulullah saw. di Tabuk, pernah suatu ketika cahaya matahari terbit dengan redup, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Malaikat Jibril lalu datang. Kepada malaikat, Nabi pun menanyakan tentang hal ini. Malaikat menjawab, bahwa matahari tampak redup karena sayap Malaikat terlampau banyak. Para Malaikat sebanyak 70.000 ini diutus Allah karena ada seorang sahabat yang meninggal di Madinah. Sahabat ini banyak membaca surat al-Ikhlas.

Bayangkan, keadaan sahabat itu begitu dihormati di mata malaikat karena seringnya ia membaca surat al-Ikhlas saat hidup. Ini sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat ini dalam kehidupan kita. Semakin sering kita membacanya kian besar pula kita mereguk pahala dari Allah swt..

Hal ini pula yang membuat kenapa surat al-Ikhlas terlukis di sayap malaikat. Kenapa bukan surat yang lain? Toh, sama-sama al-Qur’an. Ini disebabkan surat al-Ikhlas memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dibandingkan surat-surat yang lain.

Abu Sa’id al-Khudry berkata, “Ada seorang sahabat Rasul mendengar tetangganya membaca berulang-ulang ayat Qul Huwallahu Ahad. Kemudian keesokan paginya, Abu Sa’id al-Khudry menyampaikan kepada Rasulullah perihal yang didengarnya semalam, yakni seakan-akan sahabat ini menganggap ringan kedudukan surat ini. Maka Nabi pun bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, Sesungguhnya surat al-Ikhlas benar-benar menyamai sepertiga al-Qur’an.” (HR. Bukhari dalam Bab Fadha’il Qur’an No. 5014).

Hadits di atas sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat al-Ikhlas, sehingga membuatnya terlukis di sayap malaikat.

Pertanyaannya kemudian adalah kenapa hanya malaikat Jibril, Mikail, Israil dan Izrafil saja yang sayapnya terlukis dengan surat al-Ikhlas?

Inilah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi, bila kita melihat sejarah para malaikat, maka kita tahu bahwa keempat malaikat itu memiliki peran sentral dalam kehidupan makhluk Allah. Malaikat Jibril misalnya, bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw. Ia adalah pemimpin para malaikat. Ia juga menjadi tempat keluh kesah Nabi saat dirinya sedang dalam kebingungan dan sebagainya.

Lalu malaikat Mikail, yang bertugas mengatur cuaca hujan, kemarau, rezeki, dan sebagainya. Sedang malaikat Israil bertugas meniup sangkakala dan malaikat Izrail yang mencabut seluruh makhluk yang bernyawa. Bukan berarti, tugas malaikat-malaikat yang lain tidak terlalu sentral dalam kehidupan manusia. Tetapi, dengan diukirnya surat al-Ikhlas pada keempat malaikat di atas, setidaknya menunjukkan peran utama mereka dalam kehidupan makhluk Allah, terutama manusia.

Persoalan gaib ini hakekatnya hanya Allah yang Maha Tahu. Kita sebagai orang yang beriman wajib untuk mempercayainya. dan tidak perlu membanding-bandingkan peran malaikat satu sama lain. Yang penting, tugas kita adalah mempercayai bahwa di sayap-sayap malaikat yang empat itu terlukis surat al-Ikhlas, yang berarti mengindikasikan pentingnya surat ini untuk selalu kita baca setiap saat. Karena itu, perbanyaklah kita membaca al-Qur’an, terutama surat al-Ikhlas. Amiin!

 

sumber: KabarMakkah

Inilah Keutamaan Surat Al Ikhlas

Ada banyak sekali Keutamaan dari Surat Al Ikhlas yang mungkin belum kita ketahui.
Beberapa hadits shahih dibawah ini insyaallah bisa membantu kita untuk mengetahui fadhilah surat Al Ikhlas.
1. Surat Al Ikhlas Sebanding Dengan Sepertiga Alqur’an

– Hadits Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (HR. Bukhori)

– Hadits Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga al Qur`an dalam satu malam (saja)?” Hal itu membuat mereka keberatan, (sehingga) mereka pun berkata: “Siapa di antara kami yang mampu melalukan hal itu, wahai Rasulullah?” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allahul Wahidush Shamad (surat al Ikhlash, Red), (adalah) sepertiga al Qur`an”. (HR. Bukhori)

– Hadits Abu ad Darda` Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca dalam satu malam (saja) sepertiga al Qur`an?” Mereka pun berkata: “Dan siapa (di antara kami) yang mampu membaca sepertiga al Qur`an (dalam satu malam, Red)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ sebanding dengan sepertiga al Qur`an.” (HR. Muslim)

– Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah kalian, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur`an,” maka berkumpullah orang yang berkumpul, kemudian Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa asllam keluar dan membaca قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (surat al Ikhlash, Red), kemudian beliau masuk (kembali). Maka sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain: “Sesungguhnya aku menganggap hal ini kabar (yang datang) dari langit, maka itulah pula yang membuat beliau masuk (kembali),” lalu Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan bersabda: “Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian akan membacakan sepertiga al Qur`an. Ketahuilah, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (HR. Muslim)
2. Bisa menjadi Penyebab Masuk Surga

– Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku datang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mendengar seseorang membaca:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah wajib,” aku bertanya: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda, “(Telah wajib baginya) surga. ” (Tafsir Alqur’anul Adzim, Ibnu Katsir)

3. Melindungi Orang Yang Membacanya

– Hadits Uqbah bin ‘Amir al Juhani Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Tatkala aku menuntun kendaraan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan, tiba-tiba beliau berkata: “Wahai Uqbah, katakan,” aku pun mendengarkan, kemudian beliau berkata (lagi): “Wahai Uqbah, katakan,” aku pun mendengarkan. Dan beliau mengatakannya sampai tiga kali, lalu aku bertanya: “Apa yang aku katakan?”

Beliau pun bersabda: “Katakan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ”, lalu beliau membacanya sampai selesai. Kemudian beliau membaca قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّالفَلَقِ, aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang berlindung (dari segala keburukan) seperti orang orang yang berlindung dengannya (tiga surat) tersebut”. (HR. Nasa’i)

4. Dibaca Nabi Ketika Hendak Tidur Untuk Penjagaan Diri

– Hadits A’isyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin merebahkan tubuhnya (tidur) di tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan ke dua telapak tangannya, kemudian beliau sedikit meludah padanya sambil membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dan “Qul A’udzu bi Rabbin Naas” dan “Qul A’udzu bi Rabbil Falaq,” kemudian (setelah itu) beliau mengusapkan ke dua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat beliau jangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhori)

5. Akan Diampuni Dosa-dosanya Dengan Izin Allah SWT

– Hadits Mihjan bin al Adru’ Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, tiba-tiba (ada) seseorang yang telah selesai dari shalatnya, dan ia sedang bertasyahhud, lalu ia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (kepadaMu) bahwa sesungguhnya Engkau (adalah) Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya, ampunilah dosa-dosaku, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah diampuni (dosa-dosanya),” beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.(HR. Abu Dawud)

6. Berdoa Dengan Wasilah Surat Al Ikhlas Insyaallah Doa Akan Cepat Dikabulkan

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu, bahwa diriku bersaksi sesungguhnya Engkau (adalah) Allah yang tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya,” kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah dengan namaNya, yang jika Ia dimintai dengannya (pasti akan) memberi, dan jika Ia diseru dengannya, (pasti akan) mengabulkannya”. (HR. Abu Dawud)

7. Dengan Mencintainya Maka Akan Dicintai Allah

– Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya”. (HR. Bukhori)

Subhanallah, Begitu banyak sekali keutamaan dari Surat Al Ikhlas, Semoga kita semua bisa mengamalkannya dan mengambil pelajaran dari hadits-hadits diatas, Amiin.

 

sumber: KabarMakkah

9 Waktu Utama Membaca Surat Al-Ikhlas

SURAT Al Ikhlas, seperti halnya surat-surat yang lain juga memiliki banyak rahasia yang terkandung di dalamnya. Dinamakan surat Al Ikhlas, karena dia menyelamatkan orang yang membacanya dari kesulitan dunia akherat, dari kesulitan sakarotul maut, dari kesulitan kegelapan malam dan dari segala kesulitan resiko di hari kiamat.

Ternyata ada waktu tertentu yang dianjurkan membaca surat Al-Ikhlas. Berikut sembilan waktu yang dianjurkan untuk mengamalkan surat Al-Ikhlas:

Pertama: waktu pagi dan sore hari

Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Namun sedikitpun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah“. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN QUL A’UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akn mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud no. 5082 dan An Nasai no. 5428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kedua: sebelum tidur

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)

Ketiga: ketika ingin meruqyah (membaca do’a dan wirid untuk penyembuhan ketika sakit)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu’awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).”  (HR. Bukhari no. 5748)

 

Keempat: wirid seusai shalat (sesudah salam)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat  di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)

Kelima: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah fajar (qobliyah shubuh)

Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646). Hal ini juga dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud yang akan disebutkan pada point berikut.

Keenam: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah ba’diyah maghrib

Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ketujuh: dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga raka’at

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada raka’at pertama: Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), pada raka’at kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan pada raka’at ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).” (HR. An Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)

Kedelapan: dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada malam jum’at

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kesembilan: ketika shalat dua rak’at di belakang maqom Ibrahim setelah thowaf

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)

Meskipun ada anjuran 9 waktu di atas. Namun membaca surat Al-Ikhlas tidaklah terpaku pada 9 waktu tersebut. Di mana pun kapanpun boleh membaca surat Al-Ikhlas sebagai bentuk dzikir kepada Allah SWT. Wallahu a’lam. [Reni Fatwa/islampos]

Sumber: rumaysho.com

Tiga Jenis Hakim, Hanya Satu yang Masuk Surga

Oleh Dr A Ilyas Ismail

Sikap dan perilaku hakim selalu disorot, baik pada masa lalu maupun masa sekarang ini. Pasalnya, selain memiliki otoritas dan kekuasaan yang besar, hakim juga acap kali menghadapi godaan yang juga luar biasa besar, terutama godaan harta dan kekayaan dunia.

Menarik disimak, hadis yang sangat populer yang dirawikan oleh para pengarang kitab Sunan bahwa para hakim itu hanya tiga orang. Satu orang di surga dan dua lainnya di neraka. Seorang yang di surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran, lalu menetapkan hukum dengan kebenaran itu. Ia di surga. Seorang lagi, hakim yang mengetahui kebenaran, tapi culas. Ia tidak menetapkan hukum berdasarkan kebenaran. Ia di neraka. Yang satu lagi, hakim yang bodoh, tidak tahu kebenaran, dan menetapkan hukum atas dasar hawa nafsu. Ia juga di neraka. (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Jadi, hakim yang benar dan jujur-berdasarkan hadis di atas-hanya sepertiga, sedangkan dua pertiga sisanya adalah hakim-hakim yang korup dan culas. Hadis ini, menurut pakar hadis, al-Munawi, merupakan teguran dan peringatan bagi para hakim agar mereka menjaga kejujuran dan integritas yang tinggi. Hadis ini, lanjut al-Munawi, berbicara pada tataran realitas (bi hasb al-wujud) dan bukan berdasarkan idealitas-formal (la bi hasb al-hukm).

Dalam Alquran, para penguasa dan semua aparat penegak hukum, termasuk para hakim, dipatok untuk memiliki dua sifat dasar, yaitu adil dan amanah. Tanpa dua sifat ini, para aparat penegak hukum sulit tidak terjebak pada kejahatan dan praktik mafia hukum. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS al-Nisa’ [4]: 58).

Ayat ini, menurut ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, sangat penting dan secara khusus ditujukan kepada para penguasa. Adil dalam ayat ini berarti memahami kebenaran (hukum-hukum Allah) dan menetapkan perkara atas dasar kebenaran itu dengan jujur, adil, dan tanpa pandang bulu sesuai prinsip equal before the law. Sedangkan amanat bermakna, antara lain, bertanggung jawab, memegang teguh sumpah jabatan, profesional, serta menjunjung tinggi kemuliaan hakim dan lembaga peradilan.

Menurut Umar Ibnu Abdul Aziz, khalifah yang dikenal sangat adil, integritas para penegak hukum itu sangat ditentukan oleh kompetensi intelektual, moral, dan spiritual mereka dalam 5 hal. Apabila satu saja tak terpenuhi dari lima kompetensi itu, demikian Abdul Aziz, para penegak hukum itu tidak akan selamat dari aib atau keburukan.

Kelima kompetensi itu, secara berturut-turut dikemukakan seperti berikut ini. Pertama, fahiman, yakni memahami dengan baik soal hukum. Kedua, haliman, memiliki hati nurani dan sifat santun. Ketiga, `afifan, memelihara diri dari dosa-dosa dan kejahatan. Keempat, shaliban, sikap tegas memegang prinsip. Kelima, `aliman saulan `an al-`ilm, memiliki ilmu dan wawasan yang luas serta banyak berdiskusi. Hanya melalui penegak hukum dengan moralitas dan integritas yang tinggi, hukum dan keadilan bisa ditegakkan di negeri ini. Lainnya tidak. Wallahu a`lam.

 

 

sumber: Republika Online

 

———————————————-

Miliki Kaos Inspirasi Kedudukan Hakim, klik di sini!

Keadilan Syuraih Al-Qadhi yang Mengabadi (4 -Habis)

Hakim Adil dan Bertakwa

Keputusan Umar untuk mengangkat Syuraih sebagai hakim di Kufah amat tepat. Tinta emas sejarah mencatatnya sebagai hakim adil dan bertakwa. Syuraih adalah seorang lelaki Yaman dari suku al-Kindi.

Saat Jazirah Arab disinari cahaya Islam dan menyebar hingga ke negeri Yaman, Syuraih termasuk orang yang pertama beriman kepada Allah dan Rasulnya. Bahkan, ia termasuk orang yang memenuhi panggilan dakwah Islam.

Syuraih menjalankan amanah dan menegakkan keadilan itu selama 60 tahun lamanya. Di depan peradilan, ia tak pernah mengistimewakan pejabat atau kerabatnya sendiri.

Pengangkatan Syuraih al-Qadhi sebagai hakim di Makkah tidaklah rumit, hanya merujuk pada kredibilitas, reputasi, dan integritas seseorang. Karena begitulah sistem pengangkatan seorang pejabat negara pada masa kekhalifahan Islam. Berbeda pengangkatan seorang pejabat negara seperti sekarang, perlu persyaratan administrasi yang melelahkan

 

sumber: Republika Online