Tiga Alasan Bencana Menimpa Manusia

Oleh: Komarudin Saleh

 

Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang bencana, mulai dari banjir, longsor, dan yang paling aktual adalah bencana asap di tanah Sumatra hingga bencana moral yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan kriminal. Mungkin kita bertanya mengapa semua ini terus terjadi? Alquran sebagai petunjuk dan pedoman hidup telah memberikan setidaknya tiga alasan terkait dengan bencana yang menimpa manusia.

Pertama, adakalanya bencana itu datang sebagai “soal ujian” bagi seseorang atau sekelompok manusia. Bencana jenis ini adalah murni kehendak Allah SWT (QS at- Thagaabun [64]:11) yang didatangkan untuk menguji manusia.

Banyak sekali teori yang diciptakan oleh manusia agar terhindar dari bencana atau musibah jenis ini. Dalam aktivitas perdagangan misalnya, untuk sukses dan terhindar dari kebangkrutan, manusia gencar merancang teori marketing dan promosi, tapi faktanya ada yang berkuasa mengatur arus rezeki.

Sikap yang harus kita ambil untuk menyikapi bencana ini adalah bersabar dan bertawakal kepada-Nya. Bersabar artinya kita menerima dengan lapang dada. Berat dan ringan cobaan yang menimpa seseorang bukan selalu bergantung pada bentuk musibahnya, melainkan tergantung pula bagaimana dia menerimanya. Jika diterima dengan hati yang sempit, sekecil apa pun musibah akan terasa berat. Ibarat sekepal garam yang dituangkan ke dalam air semangkuk, tentu akan terasa asinnya jika dibandingkan dengan sekepal garam yang dituangkan ke danau.

Kemudian tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, namun bukan berarti menyerahkan pekerjaan kepada-Nya. Artinya, manusia terus berusaha dan hasilnya terserah bagaimana Allah memberi ketetapan. Di samping itu, manusia juga senantiasa berprasangka baik kepada-Nya.

Kedua, adakalanya bencana itu datang disebabkan oleh kesalahan manusia (khatiiati an-naas) (QS ar-Rum [30]:41). Sifat serakah dan eksploitasi terhadap lingkungan hidup tentu berimplikasi terhadap datangnya bencana alam. Tidak jarang bencana yang ditimbulkan berdampak pula kepada mereka yang tidak terlibat dalam pengrusakan lingkungan.

Jutaan manusia di Riau dan sekitarnya yang terpapar asap kebakaran hutan mayoritas justru adalah mereka yang tidak terkait sedikit pun dengan keuntungan dari pembakaran hutan yang dilakukan atas nama ekonomi itu. Maka yang harus dilakukan, yakni, pertama, mengintrospeksi diri dan menata kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dalam penataan ini jelas peran dan arahan pihak yang berwenang adalah yang terdepan.

Kedua, mempertebal kembali humanitas yang mungkin sudah mulai meluntur agar tidak ada lagi korban akibat keserakahan dalam mencari keuntungan. Ketiga, adakalanya bencana itu datang disebabkan oleh dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia (dzunubu an-naas). Jika bencana sebelumnya disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam, sedangkan jenis bencana yang satu ini disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan.

Terdapat banyak kisah dalam Alquran yang mengisahkan tentang bencana yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Tentu tidaklah semata-mata kisah tersebut disajikan dalam Alquran melainkan agar menjadi pelajaran. Maka, tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari bencana jenis ini kecuali dengan pertobatan.

Demikianlah Alquran menjawab pertanyaan mengapa bangsa ini terus dilanda bencana. Boleh jadi keimanan kita sedang diuji, namun tidak menutup kemungkinan semua ini akibat dari kesalahan dan dosa-dosa yang kita perbuat. Apa pun yang melatari semua bencana yang melanda negeri ini, berpegang teguh kepada ajaran agama adalah solusinya. Wallahu a’lam.

 

sumber: Republika Online

Haid dalam Pandangan Islam

Zaman telah berubah. Anak-anak perempuan di era modern ternyata lebih cepat mengalami menstruasi atau haid. Para ahli kandungan mengungkapkan, saat ini, anak perempuan lebih cepat mengalami haid, karena banyak mengonsumsi junk food yang mengandung hormon. ”Jangan kaget, jika putri Anda yang baru berusia delapan tahun sudah haid,” ujar seorang ahli kandungan.

Lalu bagaimana ajaran Islam memandang masalah ini?  Dalam kitab Risaalah ad-Dimaa’ ath-Thabi’iyyah li an-Nisaa’ dijelaskan bahwa haid, secara bahasa, berarti mengalirnya sesuatu. Sedangkan secara syar’i maknanya adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita secara alami tanpa sebab apapun di waktu-waktu tertentu.

Semua ulama mazhab bersepakat bahwa haid  akan dialami seorang anak perempuan minimal pada usia sembilan tahun. Jadi, menurut ulama Syafi’i, Maliki, Hanbali dan Hanafi,  jika anak perempuan belum mencapai umur sembilan tahun, namun sudah mengeluarkan darah dari tubuhnya, maka itu bukan darah haid, tapi darah penyakit.

Menurut ulama Mazhab Hanafi, sejak anak perempuan berusia sembilan tahun dan telah mengalami haid, berarti  sudah diwajibkan melakukan semua perintah agama, seperti shalat dan puasa. Setiap bulannya,   anak perempuan itu  akan mengalami keluarnya darah haid sampai pada usia 55 tahun. Dan jika setelah usia 55 tahun masih juga mengeluarkan darah, maka itu bukanlah darah haid. Kecuali, jika warnanya hitam atau merah tua, baru itu bisa dianggap darah haid.

Berhentinya darah haid pada usia tertentu itu, dalam ilmu fikih, dikenal dengan istilah iyas. Mengenai masa iyas ini, Mazhab Hanbali berbeda pendapat dengan Mazhab Hanafi. Menurut ulama  Mazhab Hanbali ini, masa iyas akan terjadi ketika seorang perempuan berusia 50 tahun. Dan jika pada usia tersebut seseorang masih juga mengeluarkan darah, maka itu tidak dianggap sebagai darah haid. Meskipun darah yang keluar berwarna hitam atau merah tua.

Mazhab Maliki berpendapat lain. Seseorang akan berhenti dari haid ketika berusia 70 tahun. Sedangkan Mazhab Syafi’i  menyatakan tidak adanya batas usia  haid.  Haid, menurut ulama Mazhab Syafi’i, bisa dialami semua perempuan, kapan saja selama ia masih hidup, sekalipun biasanya berhenti pada usia 62 tahun.

Sumber: Pusat Data Republika

Darah Haid, Apa Hukumnya?

Ulama dari empat mazhab sepakat bahwa status hukum darah haid adalah najis. Dan, seseorang baru suci setelah darah itu berhenti keluar,  lalu ia melakukan penyucian besar, yaitu mandi. Kalau darah haid dihukumi najis, lantas bagaimana dengan tubuh orang yang sedang mengalami haid?

Menurut ulama terkemuka Syekh Yusuf Qaradhawi, semua anggota tubuh wanita yang haid, tidaklah najis. Ia berargumen pada sebuah riwayat dari Aisyah. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW meminta kepada Aisyah, “Bawakan kepadaku tikar kecil itu!,” Kemudian ‘Aisyah menjawab, “Saya sedang haid, wahai Rasulullah.” Maka Rasul SAW bersabda, “Inna haidhatiki laisat fii yadiki,” sesungguhnya haidmu itu tidak di tanganmu. (HR Bukhari).

Hadis tersebut secara tegas mengisyaratkan kesucian tubuh seseorang yang sedang haid. Karenanya, tutur Syekh Qaradhawi, ketika ia menyentuh benda apapun, termasuk juga air, tidak lantas membuatnya najis. Akan tetapi ada permasalahan lain yang muncul. Bagaimana jika ia menyentuh atau membaca Alquran?

Mayoritas ulama berpendapat, wanita yang haid dilarang mengerjakan ibadah-ibadah seperti halnya orang yang sedang junub. Termasuk juga menyentuh Alquran dan berdiam diri di dalam masjid. Sedangkan jika membaca Alquran, tanpa menyentuhnya, sebagian ulama membolehkannya. Tetapi ada pula yang melarangnya.

Imam Nawawi termasuk ulama yang melarang wanita yang sedang haid membaca Alquran. Sedangkan Imam Bukhari, Ibnu Jarir at-Thabari, dan Ibnu Munzir berada di pihak yang membolehkannya. Al-Bukhari menyebutkan sebuah komentar dari Ibrahim an-Nakha’i, tidak ada salahnya seorang perempuan yang haid membaca ayat Alquran.

Bahkan Ibnu Taimiyah, seperti dikutip oleh Syekh Muhammad al-Utsaimin dalam Fiqh Mar’ah al-Muslimah, menyatakan tidak ada satupun sunnah yang melarang perempuan haid membaca Alquran. Para perempuan Muslimah di zaman Rasulullah mengalami haid. Maka, jika saja membaca Alquran dilarang sebagaimana shalat, tentu sudah dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

Lebih lanjut Ibnu Taimiyah berpendapat, manakala tidak ada satu riwayatpun dari Rasulullah yang melarang perkara ini, maka tidak boleh dihukumi haram. Karena, Rasulullah sendiri tidak mengharamkannya.

Sumber: Pusat Data Republika

Arlina Senang Sekali Mendengar Kumandag Azan

Gemuruh takbir jamaah zikir membahana di Gedung Pertamina Plaju, Palembang belum lama ini. Rasa syukur haru bahagia menyambut keputusan saudari Arlina berikrar Syahadatain.

Awalnya, Arlina ingin bersyahadat di Masjid Az Zikra Sentul. Namun, Allah punya rencana terbaik untuk hadiah hidayah hambaNya. Malam selesai isya berjamaah, Arlina bersyahadat dengan nama Islam, Asma Shiddiiqoh, hadiah nama dari Habib Umar Abdul Aziz bin Syahab.

“Arlina senang sekali setiap mendengar kumandang adzan, setelah mempelajari Islam, Arlina semakin bulatkan hati keyaqinan untuk masuk Islam” kata Arlina seperti dilansir akun pribadi Ustaz Arifi Ilham.

Arlina adalah mualaf yang ke 615 melalui majelis ini. Arlina 23 tahun juga mohon doa agar ibu beliau juga meraih hidayah Allah.

 

Sumber: Republika Online

Penuh Harap kepada Allah

Oleh: Moch Hisyam

Allah SWT itu Mahaluas karunia-Nya. Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, Allah SWT akan membalasnya dengan yang lebih baik dan lebih banyak dari apa yang kita lakukan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebesar dan sebanyak apa pun dosa kita kepada Allah SWT, jika kita bertobat kepada-Nya, Allah SWT akan mengampuninya. Karenanya, salah satu hal yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita ketika berinteraksi dengan Allah SWT adalah sifat raja, yakni mengharap akan karunia dan rahmat-Nya.

Dalam kitab Madariju al-Salikina Manazilu Iyyaka nabudu waiyyaka nastain, Ibnu Qayyim al-Zaujiyah mengatakan, raja(mengharap) merupakan ayunan langkah yang membawa hati ke tempat sang kekasih, yakni Allah SWT dan negeri akhirat.

Ada yang berpendapat raja artinya kepercayaan tentang kemurahan Allah SWT. Raja (mengharap) berbeda dengan berangan-angan. Berangan-angan adalah harapan yang disertai dengan kemalasan, pelakunya tidak pernah bersungguh-sungguh dan berusaha.

Sementara, raja itu disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh dan tawakal. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa raja tidak dianggap sah kecuali disertai dengan usaha.

Raja atau mengharap terbagi tiga macam. Dua macam merupakan perbuatan terpuji dan satu lagi merupakan perbuatan tercela. Pertama, harapan seseorang agar bisa taat kepada Allah SWT berdasarkan cahaya dari-Nya, lalu dia mengharap pahala-Nya.

Kedua, seseorang yang berbuat dosa, lalu bertobat dan mengharap ampunan-Nya, kemurahan dan kasih sayang-Nya. Ketiga, orang yang melakukan kesalahan dan mengharap rahmat Allah SWT tanpa disertai usaha. Ini sesuatu yang menipu dan harapan yang dusta.

Mengharap (raja) terletak di saat dan setelah seseorang melakukan ikhtiar atau usaha. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah al-Baqarah [2] ayat 218, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Orang yang senantiasa berharap akan keluasan karunia Allah SWT (raja) adalah orang yang selalu membukakan pintu harapan baginya. Cirinya, hatinya selalu mengharapkan kesempurnaan nikmat Allah dan kesempurnaan ampunan-Nya.

Ahmad bin Asim pernah ditanya, “Apakah tanda raja pada diri seorang hamba?” Dia menjawab, “Jika dia dikelilingi kebaikan, ia mendapat ilham untuk bersyukur, sambil mengharap kesempurnaan nikmat dari Allah SWT di dunia dan di akhirat, serta mengharap kesempurnaan ampunan-Nya di akhirat.

Keadaannya yang seperti demikian itu menjadikan orang yang raja senantiasa berbaik sangka kepada Allah SWT, bersabar, dan berlapang dada serta tidak mudah putus asa dan frustrasi karena ia meyakini akan keluasan rahmat dan ampunan Allah SWT.”

Cara untuk menumbuhkan raja (mengharap) dalam diri kita adalah dengan mengetahui dan meyakini akan keluasan dan kesempurnaan karunia dan rahmat Allah SWT dan berupaya meraihnya dengan amal-amal yang kita lakukan. Dengan hal inilah sifat raja akan tumbuh dalam diri kita. Insya Allah. Wallahu alam.

 

sumber: Republika Online

10 Rahasia Kandungan Surat Al Fatihah

Kandungan dan setiap kalimat, kata, serta dalam deretan huruf-huruf al-Qur’an memiliki daya i’jaz atau juga the power of mukjizat.

 

MERASAKAN kelembutan dan kehalusan bahasa Al-Qur’an menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang beriman ketika membacanya. Sebab selain makna dan kandungannya yang berlaku sepanjang masa hingga Hari Kiamat, Al-Qur’an juga memiliki daya i’jaz (the power of mukjizat) pada setiap pemilihan kalimat, kata, serta dalam deretan huruf-huruf Al-Qur’an sekalipun.

Sensani lathaif at-tafsir lughawiyah (kehalusan tafsir) tersebut dilukiskan secara detail oleh Mufassir Muhammad Ali ash-Shabuni ketika menerangkan kelembutan ayat-ayat dalam Surah al-Fatihah.

Hal ini bisa dibaca lebih jauh dalam kitab Tafsir Ayat al-AhkamMin al-Qur’an (Cetakan Dar ash-Shabuni, Kairo: 2007, cetakan pertama). Berikut penjelasannya:

Kesatu: Allah Ta’ala memerintahkan ta’awudz (membaca a’udzu billahi min asy-syaithani ar-rajim) sebelum membaca al-Qur’an.

Menurut Ja’far ash-Shadiq, perintah ta’awudz tersebut hanya dikhususkan ketika membaca al-Qur’an, sedang hal itu tak diwajibkan untuk ibadah dan amal kebaikan lainnya.

Hikmahnya antara lain, sebab terkadang lisan seorang hamba bergelimang dosa dengan dusta, ghibah, atau mengadu domba. Olehnya, Allah menyuruh orang itu ber-ta’awudz agar lisannya menjadi bersih kembali sebelum membaca ayat yang turun dari Zat Yang Mahasuci lagi Bersih.

Kedua: Adanya ayat basmalah di ayat pertama. Yaitu lafadz bismillahirrahirrahmanirrahim. Ayat basmalah yang mengawali surah al-Fatihah memberi indikasi yang terang agar seluruh amal perbuatan seorang Muslim juga wajib didahului dengan bacaan basmalah. Hal ini selaras dengan hadits Nabi.

“Setiap urusan kehidupan yang tidak diawali dengan ucapan bimillahirrahmanirrahim maka dia akan terputus.” (Riwayat Abu Daud).

Ketiga: Pengucapan lafadz “bismillah” (dengan nama Allah) dan tidak mengatakan “billahi” (dengan (zat) Allah). Meski ada yang menganggap penyebutan keduanya bermakna sama., namun yang benar adalah masing-masing memiliki arti yang beda. Bahwa lafadz “bismillah” dipakai untuk mengharap berkah dari Allah (tabarruk) sedang “billahi” digunakan ketika seseorang bersumpah atas nama Allah (qasam).

Keempat: Penamaan yang berbeda antara lafadz “Allah” dan “al-Ilah”. Nama “Allah” khusus dipakai untuk nama agung Allah Tuhan semesta alam. Tak ada sekutu bagi-Nya dan tak ada sesembahan selain diri-Nya (la ma’buda bi haqqin illa ilaihi). Sedang nama “al-Ilah” digunakan untuk menyebut Tuhan secara umum. Berhala yang disembah oleh orang musyrik, misalnya, juga dinamai dengan sebutan “al-Ilah”.

Kelima : Kandungan makna ayat “bismillahirrahirrahmanirrahim”. Di antaranya adalah memohon berkah dengan nama Allah dan pernyataan ketinggian Zat Allah. Ayat ini sekaligus berfungsi sebagai penangkal jitu untuk seluruh makar jahat setan kepada manusia. Sebab setan akan kabur acap lafadz basmalah ini dibaca. Lebih jauh, menurut Ali ash-Shabuni, ayat ini mengandung makna penegasan kepada orang-orang musyrik yang selama ini mengagungkan nama-nama selain Allah dalam setiap urusan mereka.

Keenam: Adanya huruf alif lam (al-makrifah) pada kata “al-hamdu”. Suatu pujian yang sempurna kepada Allah. Oleh Ali ash-Shabuni, pujian tersebut dengan sendirinya meredupkan bahkan melenyapkan seluruh yang lain di luar Sang Khaliq (istighraq al-jinsi). Huruf alif lam (al-makrifah) tersebut juga mengisyaratkan sanjungan kepada Allah  yang bersifat kontinuitas, bukan suatu pujian yang dibuat-buat apalagi dipaksakan.

Ketujuh: Penyebutan “ar-Rahman ar-Rahim” yang datang setelah lafadz “Rabb al-Alamin”. Sebab boleh dikata nama “Tuhan semesta alam” menyiratkan makna kesombongan, kekuasaan, dan keperkasaan. Kesan seperti itu terkadang melahirkan kebimbangan bahwa Tuhan itu tidak menyayangi hamba-Nya. Ujungnya, sangkaan sepintas itu memunculkan putus asa dan ketakutan seorang hamba. Untuk itu, lafadz tersebut menguatkan bahwa Rabb yang dimaksud adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi seluruh makhluk-Nya.

Kedelapan : Penyebutan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Penyebutan dhamir khithab(kata ganti kedua) menunjukkan dialog kedekatan hamba dengan Rabbnya. Allah tak memiliki jarak untuk mengabulkan doa dan memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya. Abu Hayyan al-Andalusi, pengarang kitab Tafsir al-Bahru al-Muhith menambahkan, seolah-olah orang tersebut menghadirkan Allah secara nyata di hadapannya ketika sedang bermunajat kepada-Nya.

Kesembilan : Penggunaan kata jamak dalam lafadz “na’budu” (kami menyembah) dan “nasta’in” (kami memohon pertolongan). Sebuah pemilihan kata yang sangat halus kala seorang hamba datang mengetuk perkenan Allah, Zat Yang Maha Pencipta. Seolah ia berkata, wahai Tuhanku, aku tak lain adalah hamba-Mu yang papa lagi hina. Tak pantas bagiku menghadap seorang diri di hadapan cahaya kemuliaan-Mu. Untuk itu aku memilih berbaris bersama orang-orang yang juga memohon kepada-Mu dan ikut berdoa bersama mereka. Terimalah doaku dan doa kami semua.

Kesepuluh: Penyandaran kata nikmat kepada Allah dalam lafadz “an’amta” (yang Engkau beri nikmat). Sebaliknya, kata marah (ghadhab) dan sesat atau penyesatan (dhalal) tidak disandarkan kepada-Nya. Ini terlihat ketika Allah menyebut kata “an’amta alaihim” (yang Engka beri nikmat atas mereka) tapi tidak mengucap “ghadhabta alaihim”(yang Engkau marahi atas mereka) atau “adhlalta alaihim” (yang Engkau sesatkan atas mereka).*/Masykur Abu Jaulah

 

sumber: Hidayatullah.com

13 Keistimewaan Membaca Surat Al-Fatihah

Keutamaan dan khasiat membaca surat Al-Fatihah sebelum tidur mampu membuat seseorang aman dari segala hal, kecuali kematian.

Surat Al-Fatihah menjadi surat paling awal saat kita hendak membuka Alquran. Bahkan Al-Fatihah selalu dibaca sebelum dan sesudah melakukan segala sesuatu.

Rasulullah juga mengatakan bahwa seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah saat menjalankan salat dikatakan tidak sah, karena surat Al-Fatihah memiliki peranan yang sangat penting.

Adapun keistimewaan dan khasiat membaca surat Al-Fatihah jika dibandingkan dnegan surat yang lainnya.

  1. Kebaikan orang tersbeut diterima oleh Allah SWT.
  2. Seluruh dosanya yang ada di dunia diampuni.
  3. Akan selamat lidah mereka dari api neraka yang sangat panas.
  4. Akan terhindar dari murka Allah SWT.
  5. Mampu berjumpa dengan Allah SWT.
  6. Terbebas dari azab ketika ia dikubur nanti.
  7. Mendapat derajat yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak membaca, nanti ketika di surga.
  8. Keutamaan dan khasiat membaca surat Al-Fatihah sebelum tidur mampu membuat seseorang aman dari segala hal, kecuali kematian.
  9. Rumah yang sering dibacakan Al-Fatihah dan Al-Ikhlas akan bebas dari kefakiran, serta akan berlimpah kebaikan.
  10. Membaca Al-Fatihah sudah seakan-akan menyedekah emas di jalan Allah.
  11. Satu ayat dari surat Al-Fatihah menutup satu pintu neraka bagi orang tersbeut.
  12. Membaca surat Al-Fatihah dengan ayat kursi dan dua ayat surat aL-Imran ketika shalat akan dibalas di surga.
  13. Manfaat membaca Al-Fatihah yang terakhir adalah kita seakan telah membaca kitab injil, zabur, taurat. Quran, suhuf Ibrahim dan suhuf Idris sebanyak 7 kali.

 

sumber: Dream.co.id

Eric Hensel: Ada Alasan Islam Melarang Daging Babi dan Alkohol

Erick Hensel rutin berkomunikasi dengan temannya di Dubai. Setiap kali bertemu mereka, ia akan melontarkan pelbagai pertanyaan. Persoalan keislaman pun tak luput ditanyakan hingga teman-temannya jengah.

Mereka mengatakan, “Berhentilah bertanya. Kalau kamu bertanya, mengapa perempuan mengenakan penutup wajah, itu pertanyaan negatif. Tidak perlu ditanyakan. Mengapa perempuan menutup wajah seperti itu? Atau, mengapa perempuan tampak alami bila terlihat seperti ini? Jangan terus-menerus bertanya tentang sesuatu yang aneh tentang Islam. Dan, jangan bertanya soal ini lagi dan lagi!”

Hensel yang dibesarkan di keluarga Kristiani ini tak menyerah. Kendati tidak digubris, dia mencari sendiri jawaban untuk menutup rasa ingin tahunya. Baginya, manusia tidak selalu bisa mengandalkan opini orang lain. Agama adalah soal `kamu’ dan `pencarianmu’. Pencarian untuk menemukan sesuatu yang bermakna dan menuntunnya pada hidup yang lebih baik.

Saat itu, Hensel masih tinggal di Timur Tengah. Dia mulai banyak belajar mengenai Islam. Kadang-kadang, dia membaca sesuatu sampai gemetar dan berkeringat. Hensel tidak tahu dari mana tekanan itu berasal. Akan tetapi, pria Amerika itu mulai menemukan sebentuk kebenaran.

Hensel kemudian juga membeli sajadah, meminjam buku agama berbahasa Inggris, dan mencari referensi via internet. Dia menjelajah mulai dari Wikipedia sampai situs-situs keislaman untuk mendapat informasi pembanding yang lebih gamblang.

Hingga pada beberapa kesempatan, Hensel yakin tidak mungkin dia bisa belajar semua itu. Dia hampir-hampir menyerah. Tidak ada cara untuk mempelajari itu semua.

“Setiap kita memiliki sebuah kesempatan. Pilihannya, akan kita ambil atau kita lewatkan. Saya bisa jadi meninggal besok. Saya mungkin akan melewatkan kesempatan itu dan tidak akan pernah mendapatkannya kembali,” ucapnya mengenang.

Butuh waktu sekitar sepekan untuk meyakinkan diri atas keputusan itu. Ada juga hal-hal kecil yang masuk ke pikiran Hensel, seperti larangan makan daging babi atau minum bir, tapi dia merasa dorongan berislam jauh lebih kuat. Hensel meyakinkan diri. Islam memang sesuatu yang baru, tapi tidak akan membuatnya berbeda.

Dia yang dulu hidup tanpa makna dan sekadar bersenang-senang, kini memiliki tujuan hidup. Dengan keyakinan itu, Hensel mantap mengikrarkan syahadat. Waktu itu dia sendirian, di kamar. Dia itu kemudian belajar shalat dan berdoa. Karena selalu bepergian, dia tidak pernah tinggal di satu tempat cukup lama dan memiliki keluarga dekat. Dia cukup beruntung memiliki lingkungan yang mendukung. Relawan itu mendapat tempat untuk belajar Islam dan bahasa Arab.

“Keluargaku di AS adalah keluarga yang sangat baik. Mereka mendukung sepanjang perjalanan hidupku. Tapi, memiliki keluarga Muslim yang mendukungmu sangat penting,” ujarnya.

 

sumber: Republika Online

Awal Mula Eric Hensel Terpesona Islam

Pria bernama lengkap Eric Hensel ini telah melakukan kerja-kerja sosial untuk membantu orang miskin di Tunisia, Oman, Bahrain, UEA, dan Mesir. Bagi relawan berkebangsaan Amerika ini, perjalanannya ke berbagai negara tidak sebatas menemukan tempat-tempat baru, tetapi juga mendapatkan makna spiritualitas yang hilang. Mula-mula bertugas di Detroit, kemudian pindah ke Timur Tengah.

Bagi Hensel yang sudah terjun ke dunia relawan sejak muda ini, menjadi relawan lebih memuaskan ketimbang menceburkan diri ke dunia bisnis. Pria itu memandang relawan sebagai pekerjaan yang mampu membuatnya menjadi pribadi lebih baik.

Afrika Utara sudah lama menarik perhatian Hensel. Kebetulan, suatu kali dia mendapat tawaran posisi di Tunisia.
Tidak mudah baginya untuk pindah karena banyak kenalan mengatakan hal- hal negatif tentang Afrika Utara atau kawasan seputar negara-negara Arab.

Namun, Hensel tidak ambil pusing. Ia tetap berangkat dengan segala cara. Di Tunisia, Hensel tidak menemukan orang-orang yang secara langsung memberitahunya tentang Islam. Tunisia, kata Hensel, bukan tempat orang asing bisa benar-benar belajar agama terlalu banyak.

Namun, di sanalah dia menemukan orang-orang yang begitu baik dan menunjukkan kemurahan hati yang tulus. Bukan berarti tidak ada orang-orang tulus macam itu di belahan dunia lain, tapi untuk beberapa alasan sikap, orang-orang Tunisia menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tersimpan di dalam budaya mereka. Suatu sistem yang dianggap penting oleh semua orang dan ditaati dengan sangat baik.

“Saya tinggal di negara Muslim, tempat orang menunaikan ajaran agama mereka. Saya menyaksikan nilai-nilai Islam bertebaran dalam budaya dan adat istiadat negeri ini,” kesan Hensel.

Perkenalan Hensel dengan risalah Muhammad SAW ini sebenarnya sudah di mulai sejak dia duduk di bangku perkuliahan. Saat itu, dia merasa Islam terlalu berbeda, kendati dia tidak pernah memiliki pengalaman buruk dengan Islam atau pemeluknya.

Islam akan membuatnya dipandang rendah di tengah masyarakat dan membawa perubahan gaya hidup yang terlalu besar.  Ajaran Islam tampak jauh lebih ketat dibandingkan gaya hidup yang dia praktikkan. “Saya belajar banyak tentang agama di universitas. Saya menjalin interaksi dengan Muslim juga di universitas,” tuturnya.

Persentuhannya dengan Islam berlanjut di Tunisia, Dubai, Bahrain, Oman, dan seluruh negara Teluk. “Tapi, tidak ada yang benar-benar menarik perhatian sampai saya membaca sebuah buku karya seorang penulis asal Iowa,” ungkap Hensel.

Penulis yang dimaksud Hensel adalah Bill Bryton. Dia menulis sebuah buku yang cukup impresif berjudul, A Short Histoty of Nearly Everything (2003). Buku itu merangkum seluruh ilmu pengetahuan yang berhasil diketahui umat manusia dari awal kehidupan hingga saat ini. Itu sebuah buku besar, sekitar 800 halaman atau lebih. Bryton menulis buku itu lantaran tidak puas terhadap pengetahuannya sendiri.

Ada beberapa informasi yang kurang tepat, tapi secara umum sangat baik. Pada setiap akhir bab, penulis menambahi catatan, “Tapi, ini kurang lima persen dari informasi yang sebenarnya di luar sana.”Setelah membaca buku itu, Hensel berpikir,  “Wow! Sungguh menakjubkan, manusia benar-benar tahu banyak informasi.” Perhatian pria itu tersita pada satu persoalan.

Dia terpesona betapa Tuhan melakukan segalanya bagi manusia. Ilmu Tuhan sangat luas, meliputi langit dan bumi. Manusia bahkan tidak akan pernah bisa meniru atau mempelajari seluruh apa yang Dia berikan. Buku itu seolah membuka simpul rasa ingin tahu di benak Hensel.

 

Republika Online

Operasi Plastik karena Ingin Cantik itu Godaan Setan

Hati-hati bagi Anda yang pernah melakuka operasi plastik, atau sedang berencana menjalani operasi plastik. Pendiri dakwah kreatif iHAQI, Ustadz Erick Yusuf menjelaskan setiap manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya oleh Allah SWT.

Hal itu dia rujuk dari Alquran Surat At Tin ayat 4. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. Attin:4).

Kemudian dia menjelaskan bahwa Ibn Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata, ayat ini menunjukkan bahwa penciptaan manusia adalah sebaik-baik bentuk makhluk-Nya. Namun demikian, manusia memiliki ketampanan dan kecantikan yang berbeda satu dengan lainnya. Meskipun kecantikan dan ketampanan bersifat relatif, namun secara umum manusia memahami ketampanan dan kecantikan sebagai sesuatu yang menggugah dan menyenangkan kala dipandang mata.

“Karena itu pula, kita mendapati ayat Allah SWT yang mengabarkan kepada umat manusia bahwa syaitan telah bersumpah untuk menyesatkan anak cucu Adam dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengubah karunia Allah agar terasa lebih tampan dan cantik,” ungkapnya kepada Republika.co.id , Senin (19/10).

Erick menyebutkan, keinginan manusia untuk tampil cantik dan tampan tersebut adalah dorongan dari syaithan. Karena menurutnya syaithan sudah berjanji akan menggoda manusia dengan berbagai cara, termasuk dorongan keinginan untuk melakukan operasi plastik untuk memperindah tubuh.

Terkait hal itu, beriikut ini adalah dalil yang dimaksud:  “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. Annisa 119).

Dia juga menjelaskan larangan Allah SWT tersebut dalam Hadis Riwayat Bukhari-Muslim, bahwa Allah SWT melaknat laki-laki dan perempuan yang membuat tato. Dan yang berhias untuk tujuan mengubah ciptaan Allah. Dia meyakini sebenarnya kita pasti bisa membedakan mana operasi yg darurat dilakukan untk kesehatan dan sebagainya, dan mana yang hanya untuk kosmetik dan sebagainya.

 

sumber: Republika Online