Pantang Jadi Seorang Pengecut

SAUDARAKU tidak ada yang lebih membahayakan kita selain dari kesalahan dan keburukan kita sendiri. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Setiap kita pasti pernah melakukan kesalahan dan pasti memiliki kekurangan, akuilah hal ini.

Jika melakukan kesalahan kepada orang lain, maka akui dan minta maaflah. Pantang bagi kita untuk bersikap pengecut. Akuilah kesalahan dan bertanggungjawablah.

Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Tapi kalau tidak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf, maka ini fatal. Orang yang gemar mengelak padahal sudah jelas ia berbuat salah, apalagi sampai menyalahkan orang lain, maka sungguh ini mental pengecut. Berbahaya sekali mental seperti ini, karena ini adalah bagian dari mental kemunafikan yang sangat hina. Jangan sampai ada dalam diri kita mental yang seperti ini.

Jangan pernah takut mengakui kesalahan yang sudah kita lakukan. Bersikaplah ksatria. Mengakui, meminta maaf, dan perbaikilah. Tidak ada orang yang celaka disebabkan mengakui kesalahan. Yang celaka justru orang yang bersikap sebaliknya. Bersikap sombong tidak mengakui kesalahan, melarikan diri dari tanggung jawab, apalagi hingga menyalahkan orang lain.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang bersih dari kekurangan dan kesalahan. Setiap orang pasti bisa melakukan kekhilafan. Tapi yang buruk adalah jika tidak mau mengakui kesalahan, enggan bertobat dan memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135)

Keengganan mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri apalagi sampai meminta maaf, maka ini cerminan kesombongan yang ada di dalam hati. Sedangkan sombong adalah penyakit hati yang sungguh sangat berbahaya. Betapa banyak orang yang hancur karena kesombongan.

Apa yang membuat Iblis membangkang kepada Allah ketika Ia memerintahkannya bersujud kepada Nabi Adam sebagai sebuah penghormatan? Tiada lain adalah kesombongan. Ia merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam dari tanah, sehingga iblis pun menolak perintah Allah dan meremehkan Nabi Adam.

Apa pula yang membuat Firaun menolak seruan Nabi Musa dan menantangnya? Apa yang membuat Firaun mengaku sebagai Tuhan, menyuruh manusia menyembahnya dan menentang Tuhan-nya Nabi Musa yaitu Allah SWT? Tiada lain adalah kesombongan. Ia merasa sebagai raja yang berkuasa atas segala-galanya.

Kemudian, apa yang membuat Qorun menolak nasihat Nabi Musa untuk kembali kepada Allah setelah ia memiliki kekayaan yang berlimpah ruah? Karena kesombongan. Ia merasa kekayaannya itu ia peroleh semata-mata karena kecerdasannya saja, bukan karena Allah. Subhanallah!

Iblis, Firaun, dan Qorun kemudian celaka atas izin Allah, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Iblis dilaknat oleh Allah untuk selamanya. Firaun dibinasakan di kedalaman lautan. Sedangkan Qorun binasa ditelan bumi beserta seluruh kekayaannya. Betapa dahsyat akibat dari kesombongan. Semoga kita terhindar dari penyakit hati yang satu ini.

Oleh karena itu, marilah senantiasa kita melatih diri untuk rendah hati menyadari tiada manusia yang sempurna, mustahil manusia luput dari kekurangan dan kesalahan. Kerendahan hati membuat kita selalu menyadari segala yang dimiliki, kemampuan kita, kekayaan kita, kedudukan dan apa pun yang kita miliki tiada lain adalah dari Allah SWT.

Jika kita ditakdirkan memiliki pangkat atau jabatan yang tinggi, tak perlulah kita tinggi hati merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Kita dihargai dan dihormati oleh orang lain bukanlah karena kehebatan kita, melainkan karena Allah masih menghijab atau menutupi aib dan keburukan kita dari pengetahuan orang lain. Sedangkan kalau Allah menyingkapnya sedikit saja, boleh jadi jabatan kita yang tinggi tidak akan ada artinya lagi. Bahkan boleh jadi keluarga kita, orangtua kita, pasangan kita atau anak-anak kita akan sangat malu dan tidak lagi menghormati kita.

Maka, rendah hatilah. Sadarilah diri kita ini bukan makhluk sempurna. Kita adalah makhluk yang kotor dengan kesalahan dan kekhilafan, sehingga selalu membutuhkan ampunan Allah SWT. Dan, ampunan Allah hanya bisa kita jemput dengan tobat yang sungguh-sungguh, dan ikhtiar memperbaiki diri secara serius dan terus-menerus.

Ketika melihat kekurangan dan kesalahan diri kita, sebenarnya kita sedang belajar mengakui dan meminta maaf atas kekurangan dan kesalahan yang dilakukan. Sungguh sikap yang demikian adalah sikap ksatria, dan ciri dari orang beriman.

Saat ini kita sepertinya sedang mengalami krisis sikap ksatria, yakni keberanian untuk mengakui kesalahan dan memohon maaf. Tidak sedikit orang yang melakukan kesalahan namun tidak mau mengakuinya, apalagi meminta maaf. Malah ada yang sengaja merencanakan dan melakukan kesalahan kemudian melemparkan tuduhan pada orang lain. Sungguh ini sikap yang sangat berbahaya, sikap kemunafikan yang memicu fitnah dan keburukan di tengah masyarakat kita. Semoga kita tidak termasuk orang yang demikian.

Macam-macam alasan orang bersembunyi dari tanggung jawab dan tidak mengakui kesalahannya. Ada yang takut dimarahi, takut dipecat, takut ditegur, dan alasan-alasan ketakutan lainnya. Padahal itu hanya rasa takut kepada makhluk. Tidakkah ia takut kepada Allah SWT, Yang Maha Mengetahui?!

Bersembunyi dari manusia, lari dari tanggung jawab, berdusta hanya melahirkan kecemasan dan hati yang sempit. Sepandai-pandainya manusia menyembunyikan sesuatu, akhirnya akan terungkap juga dengan izin Allah. Dan, yang tidak kalah berbahaya juga adalah sikap seperti ini hanya menumpuk-numpuk dosa.

Sedangkan menyadari, mengakui, dan memohon maaf atas kesalahan akan mendatangkan ketenangan dan hati yang lapang. Sikap ini juga meringankan kita untuk berobat kepada Allah. Karena melakukan kesalahan adalah fitrah manusia, dan sebaik-baik manusia adalah yang bertobat atas kesalahan yang dilakukannya.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertobat.” (HR. Tirmidzi)

Pribadi yang mudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf adalah pribadi yang disukai orang lain. Setiap orang sesungguhnya mencintai sikap-sikap terpuji seperti kerendahan hati. Tidak ada orang yang menyukai kesombongan. Oleh karena itulah, orang yang mudah menyadari kesalahan yang diperbuatnya kemudian meminta maaf dan berupaya tidak mengulanginya, lebih mudah memiliki banyak teman.

Jika ia berada di lingkungan kerjanya, maka rekan-rekan termasuk atasan dan bawahannya akan merasa nyaman dengan keberadaannya. Jika ia berada di lingkungan pendidikannya, maka teman-teman dan guru-gurunya akan senang dengan keberadaannya.

Menyadari kekurangan dan kesalahan adalah sikap yang disukai Allah, dan juga disukai sesama manusia. Sikap demikian adalah cerminan dari sifat rendah hati, sifat yang sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW. [*]

INILAH MOZAIK