Tanda Hitam di Jidat Belum Tentu Ahli Ibadah?

ADA yang bertanya apakah tanda hitam di jidat adalah orang yang masuk golongan ahli ibadah dan khusyuk salatnya? Namun, tak kurang juga hadis yang bunyinya justru negatif terhadap tanda hitam itu.

Misalnya: “Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut unta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyukan” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bidah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).

Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang sahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadis tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para sahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadis yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.

Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadis yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.

Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca Alquran namun Alquran tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudian mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syuaib al Arnauth).

Karena itu, kita seharusnya biasa-biasa saja memandang tanda hitam di jidat itu. Tidak memandangnya sebagai tanda bekas sujud dan meninggikannya secara tidak proporsional; tetapi tidak juga memandangnya tercela.

Sebab bisa jadi, si pemilik jidat hitam sendiri tidak menginginkan hal itu terjadi padanya. Mungkin saja itu karena sujud yang terlalu menungging, sehingga memberikan telanan yang lebih berat kepada jidat saat sujud. Hasilnya, ya tanda hitam tadi. Wallahu alam.

 

INILAH.com

 

Dicabutnya Anugerah Allah kepada si Ahli Ibadah

DAHULU di kalangan Bani Israil, ada seorang fasik yang gemar berbuat berbagai dosa, keji, dan kemungkaran. Setelah menghabiskan sebagian umurnya berbuat keburukan, munculah penyesalan dalam hatinya. Dia mulai berpikir untuk bertobat.

Lalu dia mendengar ada seorang zuhud dan ahli ibadah di kalangan Bani Israil. Bahkan berkat kezuhudannya, Allah memerintahkan awan untuk senantiasa mengikuti dan menaunginya dari teriknya matahari. Ahli ibadah ini juga termasuk yang doanya dikabulkan.

Akhirnya si fasik yang ingin bertobat itu memutuskan bertemu dengan orang zuhud untuk meminta didoakan agar dosanya diampuni.

Ketika berhasil menemukan tempat peristirahatan orang zuhud, si fasik melihatnya sedang bersandar pada sebuah dinding. Seperti biasa, dia dinaungi awan dari sengatan matahari.

Ketika si ahli ibadah melihat orang fasik mendatanginya, ia langsung beranjak dan menjauh. Bahkan semakin dekat orang fasik, semakin kasar dan buruk celaan ahli ibadah untuk mengusirnya.

Orang fasik yang ingin bertobat itupun pulang dengan hati yang hancur, tak berdaya. Tangisannya mengalir deras. Bersamaan dengan itu, awan yang menaungi si ahli ibadahpun hilang dan malah menaungi oranf fasik yang menyesali dosanya.

Kemudian Allah SWT berfirman pada nabi di zaman itu, “Sesungguhnya Allah lebih menyayangi dan mengasihi hamba-Nya melebihi diri mereka sendiri.”

Demikianlah Allah mencabut anugerah dari seorang ahli ibadah yang zuhud. Derajat dan kedudukannya sirna ketika ia berperilaku buruk bahkan pada orang fasik sekalipun. Kedekatan seorang manusia dengan Yang Maha Esa harusnya dibarengi kedekatan dengan makhluk ciptaan-Nya. Karena cinta tak melahirkan apapun selain cinta.[Islamindonesia]

 

INILAH MOZAIK

Ahli Ibadah, tapi Ahli Neraka

Betapa banyak manusia di alam ini yang tersesat, sehingga mereka tidak menyembah Allah, namun yang mereka sembah adalah setan. Mereka menyembah, namun salah sasaran. Kita dan mereka sama-sama ibadah. Bedanya, kita beribadah kepada Tuhan yang benar, Al-Haq. Sementara mereka beribadah kepada tuhan yang batil, menyembah thaghut, yang tidak layak untuk disembah.

Kita dan mereka sama-sama capek, kita dan mereka sama-sama mengorbankan waktu dan tenaga. Bahkan bisa jadi, mereka lebih capek dibandingkan kita.

Allah berfirman menceritakan keadaan salah satu ahli neraka,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ . تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

“Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al-Ghasyiyah: 3 – 4).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran Al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.

Umarpun memanggilnya, ‘Hai rahib… hai rahib.’ Rahib itupun menoleh. Ketika itu, Umar terus memandangi sang Rahib. Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya. Kemudian tiba-tiba Umar menangis.

Beliaupun ditanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat anda menangis?. Mengapa anda menangis ketika melihatnya.’
Jawab Umar, ‘Aku teringat firman Allah dalam Al-Quran, (yang artinya) ‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki neraka yang sangat panas’ Itulah yang membuatku menangis.’ (Tafsir Ibn Katsir, 8/385).

 

Tahukah Anda mengapa mereka di neraka?

Mereka rajin ibadah, namun semua sia-sia, justru mengantarkan mereka ke neraka?

Apakah Allah mendzalimi mereka? Tentu tidak, karena Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya. Allah haramkan diri-Nya untuk mendzalimi hamba-Nya.

Lalu apa sebabnya?

Tentu saja semua itu kembali kepada pelaku perbuatan itu. Sebabnya adalah dia salah dalam beribadah. Dia beribadah, namun salah sasarannya, salah tata caranya, salah niatnya, salah yang disembah, atau salah semuanya. Sehingga bagaimana mungkin Allah akan menerimanya? Dan di saat yang sama, Allah justru memberikan hukuman kepada mereka. Wal ‘iyadzu billah..

Saudaraku sesama muslim, yang dirahmati Allah..,
Menyadari hal ini, sudah selayaknya kita bersyukur, Allah jadikan kita orang mukmin, padahal kita tidak pernah memintanya. Kita patut bersyukur, kita terlahir dari keluarga muslim, padahal kita tidak pernah diminta untuk memilihnya. Yang ini menjadi salah satu modal bagi kita agar ibadah kita diterima oleh Allah.

 

Kita sudah memiliki modal iman, tinggal saatnya kita berusaha agar amal kita diterima Allah. Bagaimana caranya? Caranya: kita berupaya agar amal yang kita kerjakan adalah amal yang benar. Benar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan syariat.

Kriteria itu, Allah nyatakan dalam firman-Nya,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110).

 

Keterangan ayat,

  • “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya” artinya dia siap bertemu Allah dengan membawa bekal amal yang diterima.
  • “hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, itulah amal yang diajarkan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • “dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, dengan ikhlas karena Allah ketika beribadah.

Itulah salah satu ayat yang menjelaskan kriteria amal yang benar dalam syariat,

  • Benar niatnya: ikhlas karena mengharap balasan dari Allah
  • Benar tata caranya: sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Niat yang ikhlas semata, belumlah cukup untuk membuat amal kita diterima. Semangat, bukan modal utama agar amal kita diterima. Karena kita juga dituntut untuk benar dalam tata caranya.

Sebagai mukmin, kita tentu tidak ingin amal kita ditolak karena salah prakteknya. Kita dalam beramal telah mengeluarkan modal tenaga, waktu, atau bahkan harta. Jangan sampai menjadi batal, karena kita kurang perhatian dengan tata cara beramal.

Karena itu, mari kita menjadi orang yang mencintai sunah dan berusaha membumikan sunah. Berusaha menyesuaikan amal kita dengan sunah. Dengan itu, kita bisa berharap, amal kita diterima. Kita bisa tiru semangat para ulama dalam meniti sunah, hingga mereka berdoa,

اللهم أمتنا على الإسلام وعلى السنة

“Ya Allah, matikanlah aku di atas islam dan sunah…” (HR. Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad, 9/354).

 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits

 

 

sumber: KonsultasiSyariah.com