Katanya Allah Dekat, Mengapa Tidak Terlihat?

Dalam benak seorang Muslim, mungkin pernah terlintas sekali-dua kali atau bahkan berkali-kali pertanyaan tentang keberadaan dan wujud Allah Swt. Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: katanya Allah dekat, lalu mengapa tidak terlihat?

Kita merasa Allah Swt. begitu dekat, bahkan sangat dekat, melebihi urat nadi kita sendiri. Tapi, sebagai manusia yang hanya memiliki lima indera yang sangat terbatas, perasaan dekat dengan Allah Swt. Tersebut kembali dipertanyakan mengingat wujud-Nya tak bisa dilihat dengan kasat mata.

Dalam sebuah video ceramahnya di Wamimma TV, Buya Syakur Yasin pernah memaparkan sebuah analogi: “Siapa orang yang paling paham dengan firman Tuhan? Ia adalah orang yang sudah paham (paling dekat) dengan Tuhan.”

Melalui analogi tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa ada kesinambungan antara memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an dengan baik sesuai kaidah tafsir dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya yakni Allah Swt.

Melihat Tuhan Perspektif Qur’an dan Hadits

Saat surat An-Nasr turun, diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali, Umar, dan Abu Bakar menangis. Turunnya ayat tersebut menandakan bahwa sebentar lagi mereka semua akan ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. Para sahabat pun paham makna ayat-ayat yang telah turun tersebut sebab merekalah yang paling dekat dengan Rasulullah Saw.

Dari peristiwa tersebut, muncul pertanyaan: apakah kedekatan dengan Allah Swt. juga berarti harus dekat dengan Nabi Muhammad Saw.? Lantas bagaimana dengan umat lslam yang hidup setelah Rasulullah Saw. wafat?

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, tercatat hanya ada dua ayat saja yang berkaitan dengan melihat atau bertemu dengan Allah Swt. Sebagai berikut:

Quran Surat Al-Qiyamah Ayat 22

 وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ

Wujụhuy yauma`iżin nāḍirah

Artinya: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.”

Quran Surat Al-Qiyamah Ayat 23

 إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Ilā rabbihā nāẓirah

Artinya: “Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”

Makna kalimat “dan wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri” berasal dari kata an-nadhaarah yang artinya rupawan, menawan, cemerlang lagi penuh kebahagiaan.

Sementara itu, makna “kepada Rabb-nyalah mereka melihat” adalah melihat dengan kasat mata.

Dalam riwayat al-Bukhari r.a., dalam Shahih-nya disebutkan: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan kasat mata.”

Dalam ayat tersebut ditegaskan tentang penglihatan orang-orang Mukmin terhadap Allah Swt. di akhirat kelak.

Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., yang keduanya terdapat di dalam Kitab ash-Shahihain (Al-Mustadrak alaa al-Sahihain) tercantum bahwasanya ada beberapa orang bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari Kiamat kelak?”

Beliau menjawab, “Apakah kalian merasa sakit saat melihat matahari dan bulan yang tidak dihalangi oleh awan?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliaupun bersabda, “Sesungguhnya seperti itulah kalian akan melihat Rabb kalian.”

Masih dalam kitab yang sama, disebutkan bahwa dari Jarir ra., ia berkata: “Rasulullah Saw. pernah melihat bulan pada malam purnama, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan ini. Jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan (oleh perasaan lelah/ngantuk) dari mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan tidak juga sebelum tenggelamnya, maka kerjakanlah.’”

Waktu matahari terbit dan tidak juga sebelum tenggelam dalam hadits tersebut yaitu waktu shalat Subuh di pagi hari dan shalat ‘Ashar di sore hari.

Dalam Kitab ash-Shahihain juga tercantum: dari Abu Musa, ia berkata: “Rasulullah Saw. telah bersabda: ‘Ada dua Surga yang bejana dan semua isinya terbuat dari emas, dan ada dua Surga yang bejana dan semua isinya terbuat dari perak. Tidaklah terdapat tirai antara suatu kaum dengan penglihatan mereka kepada Allah Swt. melainkan terdapat selendang kebesaran pada wajah-Nya di Surga ‘Adn.’”

Melihat Tuhan Perspektif Filsafat Islam

Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang eksistensi Tuhan dipaparkan dalam sebuah kalimat sebagai berikut: “Barang siapa yang mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya.”

Perlu digarisbawahi di sini bahwa frasa “mengetahui Tuhannya” di sini bukan bermakna mengetahui bentuk secara harfiah dari sosok Tuhan tersebut, tapi lebih kepada kehadiran rasa ihsan dalam diri manusia saat menjalani kehidupan sehari-hari.

Ihsan di sini berarti bahwa di mana pun seorang Muslim berada, maka ia akan merasa melihat Tuhannya. Atau, di mana pun ia berada, ia selalu merasa dilihat oleh Tuhannya. Dua perasaan tersebut mengukuhkan bahwa Allah dekat dan mengetahui segalanya.

Dalam buku Filsafat Islam (1957), Hasyimsyah Nasution menuliskan bahwa terkait wujud atau zat Allah Swt., Imam Al-Ghazali menjelaskan dengan metodologi filsafat yang menitikberatkan “tidak ada sesuatupun yang ada kecuali ada yang mengadakan” Al-Ghazali juga tidak menyetujui pendapat yang menyebutkan bahwasannya Tuhan itu wujudnya sederhana, wujud murni, dan tanpa esensi.

Dari dua pijakan pemikiran tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa Al-Ghazali berpikir Tuhan adalah wajibul Wujud di mana akan dapat dirasakan kehadirannya jika benar-benar dapat mengetahui sebenarnya hakikat dari diri kita sendiri. Merasakan bahwa Allah dekat adalah karena seorang manusia telah memahami hakikatnya.

Kesekatan tersebut bukan berarti bahwa Tuhan dan hambaNya menjadi satu, tapi lebih pada praktik dalam menghadirkan sifat-sifat Tuhan, atau berusaha menerapkan sifat-sifat Tuhan kedalam diri seorang Muslim dalam menjalani kehidupan di dunia.

Sebagai misal, menerapkan sifar Ar-Rohman dan Ar-Rohiim yang berarti seorang Muslim mesti berusaha menjadi penyayang. Cara yang dipaparkan Al-Ghazali bertujuan untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Sang Kholiq, dan merasakan Sifat-Nya ada dalam diri manusia.

Bisakah Manusia Melihat Wujud Allah?

Dalam buku Etika Al-Ghazali, Etika Majemuk di Dalam Islam(1988), Kamil, Ph.D dan M.Abul Quasem, M.A. menyatakan bahwa untuk bisa mencapai wujud Allah Swt., Al-Ghazali tidak mengartikannya sebagai penyamaan dengan Allah Swt. atau Ittishol atau peleburan diri dengannya (Hulul) atau percampuran hakikat kemanusiaan (Nasut) dengan Hakikat Ilahiyah (Lahut).

Bagi Al-Ghazali, dekat dengan Allah dan melihat Allah bisa diwujudkan dalam konsep yang bernama Wahdatusy Syuhud yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Kesatuan Penyaksian. Sebab bagi Al-Ghazali, apa yang manunggal adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.

Melalui konsep tersebut, seorang Muslim yang mencapai Allah Swt. akan mampu menumbuhkan sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat Allah yang tercantum dalam  Asmaulhusna dan diterapkan dalam dirinya, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari selama ia hidup di dunia.

Al-Ghazali menambahkan bahwa Allah Swt. diketahui eksistensinya dengan akal. Allah Swt. terlihat zat-Nya dengan mata hati sebagai kenikmatan dari-Nya dan kasih sayang bagi orang-orang yang berbuat baik dan sebagai penyempuurnaan dari-Nya bagi kenikmatan yang memandangNya yang Mulia.

Analogi Buya Syakur Yasin tentang “siapa orang yang paling paham dengan firman Tuhan? Ia adalah orang yang sudah paham (paling dekat) dengan Tuhan” bisa kita pahami dengan pemikiran Al-Ghazali mengenai Tuhan lewat konsep Wahdatul Syuhud.

Perasaan dekat dengan Allah bisa jadi muncul karena seorang Muslim telah berusaha menerapkan sifat-sifat Allah Swt. dengan baik dalam hidupnya. Ia telah berlaku ihsan. Meski merasa dekat, seorang manusia tidak akan bisa melihat Tuhannya dengan kasat mata sebab Allah Swt. hanya bisa diketahui dengan akal dan dilihat dengan mata hati.[]

BINCANG SYARIAH

4 Tanda Ini Bukti Allah SWT Murka kepada Seorang Hamba

Seorang Muslim bisa terjebak pada empat keadaan berikut ini yang membuatnya tidak sadar bahwa itu sebetulnya adalah wujud kemurkaan Allah SWT pada dirinya. 

Apa saja empat hal itu? Berikut ini adalah empat bentuk kemurkaan Allah SWT sebagaimana dilansir dari laman Mawdoo.

Pertama, penyebab datangnya kebencian di muka bumi itu ialah karena perbuatan buruk atau pelanggaran yang dilakukan seorang hamba, hingga perbuatan tersebut menjadi gunjingan banyak orang atau orang lain merasakan dampaknya.

Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari jalur Abu Hurairah RA. Nabi SAW bersabda: 

إنَّ اللهَ، إذا أحبَّ عبدًا، دعا جبريلَ فقال: إنِّي أحبُّ فلانًا فأحِبَّه. قال فيُحبُّه جبريلُ. ثمَّ يُنادي في السَّماءِ فيقولُ: إنَّ اللهَ يُحبُّ فلانًا فأحِبُّوه. فيُحبُّه أهلُ السَّماءِ. قال ثمَّ يُوضعُ له القَبولُ في الأرضِ. وإذا أبغض عبدًا دعا جبريلَ فيقولُ: إنِّي أُبغِضُ فلانًا فأبغِضْه. قال فيُبغضُه جبريلُ. ثمَّ يُنادي في أهلِ السَّماءِ: إنَّ اللهَ يُبغِضُ فلانًا فأبغِضوه. قال فيُبغِضونه. ثمَّ تُوضعُ له البغضاءُ في الأرضِ

“Apabila Allah SWT mencintai seorang hamba-Nya, Dia memanggil Jibril bahwa sesungguhnya Allah SWT mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Maka jibril mencintai hamba itu lalu Jibril berseru kepada penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Maka seluruh penduduk langit mencintai hamba itu, kemudian orang itu pun dijadikan bisa diterima oleh penduduk bumi.”

Kedua, wujud kemurkaan Allah SWT pada seorang hamba, yaitu hamba tersebut cenderung terus berada dalam cintanya kepada sesuatu yang dibenci Allah SWT, sama seperti saat dia membenci apa yang dicintai Allah SWT.

Ketiga, hamba tersebut selalu berada dalam kesesatan, ketidaktaatan dan dosa, dan bergerak di antara dosa dan dosa. Hamba ini tidak bertobat dari semua hal buruk itu dan mati untuknya.

Keempat, tanda Allah SWT murka pada seorang hamba, yaitu hamba tersebut lalai dalam melaksanakan sholat wajib, tidak menjaganya atau melaksanakannya. 

Ini bentuk kelalaian dalam melaksanakan sholat lima waktu. Hak-hak Allah SWT dan hamba-hamba-Nya pun lenyap, sehingga menjadi tidak peduli terhadap nasib di dunia dan akhirat.

KHAZANAH REPUBLIKA

Berprasangka Baik kepada Allah

Berbaik sangkalah kepada Allah, maka Allah pun akan memberi kebaikan kepadamu.

Sebuah riwayat dituturkan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin Jilid 4 bab al-Khauf wa al-Raja’, tentang harapan akan ampunan Ilahi bagi seorang Bani Israil yang dimasukkan ke dalam neraka selama 1.000 tahun. Dia terus menjerit memanggil nama Allah.

Lantas Jibril diperintahkan membawanya ke hadapan-Nya. Allah bertanya, “Bagaimana keadaan tempatmu?“

“Jelek sekali, ya Allah,“ jawabnya.

Maka Allah pun menyuruhnya kembali masuk ke neraka. Dia berjalan keluar dan tiba-tiba membalik badannya kembali kepada Tuhan. Lalu ditanya, “Kenapa engkau balik badan?“.

Si pendosa itu menjawab, “Karena aku benar-benar berharap Engkau tak kembalikan aku ke neraka setelah sejenak aku dikeluarkan.“

Tuhan lalu perintahkan para malaikat untuk memasukkannya ke dalam surga. Karena, ternyata dia masih punya harapan akan rahmat dan ampunan Allah. Subhanallah. Saya tidak tahu apakah itu hanya kisah rekaan sang Hujjatul Islam untuk menggambarkan pemikiran dan pandangannya atau memang benar-benar riwayat yang beliau baca untuk ditularkan kepada kita semua.

Namun, yang jelas, Imam al-Ghazali ingin mengajak kita, para pembaca setia pemikirannya, untuk memohon keselamatan lewat ampunan dan kasih sayang Allah. Mereka yang penuh dosa namun masih berharap pada ampunan-Nya akan dipeluk oleh kasih sayang-Nya.

Berbaik sangkalah kepada Allah, maka Allah pun akan memberi kebaikan kepadamu. Yakinlah bahwa Allah itu Maha Pengampun, niscaya Dia pun akan mengampuni dosa hamba-Nya.

Berharaplah kepada Allah untuk meminta apa saja yang engkau butuhkan selama itu masih berupa kebaikan untuk mencari ridha-Nya. Jangan tutup harapan dan kecerahan masa depanmu hanya karena engkau tidak yakin bahwa Allah akan menolong hidupmu.

Dalam keseharian, Rasulullah senantiasa mendidik dan mengarahkan para sahabatnya agar selalu berbaik sangka terhadap Allah. Dari Jabir r.a. dia berkata, aku mendengar Rasulullah tiga hari sebelum wafatnya beliau bersabda,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ  ( رواه مسلم، رقم  2877

“Janganlah seseorang di antara kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah.” (HR Muslim).

Berbaik sangka kepada Allah adalah kenikmatan yang agung dan menjadi jaminan kebahagiaan hidup seseorang di dunia dan akhirat. Hadits Qudsi lengkap tentang sangkaan kepada Allah dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW.

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً  (رواه البخاري، رقم  7405 ومسلم ، رقم 2675

”Sesungguhnya Allah berfirman, “Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim).

Laksana Do’a

Beberapa bentuk husnuzh-zhann kita kepada Allah adalah bahwa doa kita akan diterima oleh Allah. Setidaknya, ada tica cara Allah menerima doa kita, yaitu langsung dinyatakan dalam kehidupan di dunia, dihindarkan dari keburukan hidup dan dibalas di hari akhir nanti. Jika orang sudah tidak yakin, maka ia tidak akan mendapatkan apapun kecuali kehampaan dan keputusasaan.

Adapun bentuk su’uzh-zhann kita kepada-Nya adalah bahwa “Allah itu tidak adil”, “dengan sakit Allah ingin menyiksaku”, “bahwa ujian ini adalah adzab Allah kepadaku”, “hanya aku yang diuji dan disakiti seperti ini” dan sebagainya. Semoga kita selalu berbaik sangka kepada Allah dan dihindarkan dari berburuk sangka kepada Allah. Amin.

*Bahrus Surur-Iyunk adalah guru SMA Muhammadiyah I Sumenep, penulis buku Agar Imanku Semanis Madu (Quanta EMK, 2017), Nikmatnya Bersyukur (Quanta EMK, 2018), Indahnya Bersabar (2019) dan 10 Langkah Menembus Batas Meraih Mimpi (SPK, 2020).

KHAZANAH REPUBLIKA

Terikatlah dengan Apa yang Disukai Allah

KETIKA Rasulullah Saw mendapat perintah dari Allah Ta’ala untuk berdakwah secara terbuka, beliau pun mendaki Bukit Shafa. Di sana beliau menyeru dan mengumpulkan para pembesar suku Quraisy. Setelah menanyakan tentang kepercayaan mereka terhadap Beliau, lalu Rasulullah Saw bersabda, “Aku memperingatkan kamu semua bahwa di depanku (akhirat) ada siksa yang amat pedih.”

Di antara orang-orang Quraisy itu terdapat Abu Lahab, paman kandung Nabi Saw. Abu Lahab yang ikut hadir itu langsung menyahuti ajakan Nabi dengan makian, “Celakalah engkau sepanjang hari! Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?”. Tetapi Nabi Saw tidak membalas ejekan keras tersebut.

Beberapa waktu setelah itu, dan masih di sekitar Bukit Shafa juga, Rasulullah Saw pernah dicaci-maki oleh Abu Jahal dengan kata-kata yang luar biasa menyakitkan. Namun beliau tetap diam saja. Yang bertindak justru paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib RA yang saat itu belum masuk Islam setelah mendapatkan laporan tentang hal tersebut. Pahitnya cacian sampai membuat Hamzah memukul Abu Jahal dengan panah yang masih dibawanya sepulang dari berburu.

Saudaraku, kebaikan Rasulullah Saw itu sempurna, Beliau mengajak manusia kepada keselamatan dan akhlak mulia. Apa yang beliau sampaikan pun bukan untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi untuk kebaikan manusia. Walau demikian, beliau tetap saja dianggap jelek oieh sebagian orang. Padahal, Rasulullah Saw sudah dikenal sebagai orang yang terpercaya jauh sejak sebelum diangkat sebagai rasul.

Jadi, sebaik apapun yang kita lakukan, tidak akan semua menganggapnya baik. Oleh sebab itu, dalam berbuat baik, kita tidak usah terpenjara oleh kelakuan dan perkataan orang. Karena, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. qaf [50]:18). Apa yang diucapkannya pasti kembali kepada dirinya sendiri.

Begitu juga kalau ada orang yang pelit kepada kita, jangan merasa tertantang atau dendam untuk ikut ikutan pelit. Ajaran Islam mengajarkan agar kita memberi kepada yang pelit itu. Kalau tidak sanggup, kita maafkan dia, tidak usah membalas atau marah. Kalau kita membalas melotot kepada orang yang melotot, kita akan menjadi kembaran dia sehingga tidak ada bedanya antara kita dengan dirinya. [*]

INILAH MOZAIK

Antara Doa dan Pemberian Allah

SAUDARAKU, Syaikh Ibnu Athaillah menulis dalam karyanya, Al Hikam, “Jangan sampai permintaanmu kepada Allah, engkau jadikan sebab pemberian Allah.” Jadi, manakala kita berdoa, meminta kepada Allah, janganlah kita menganggap bahwa Allah memberi disebabkan permintaan kita kepada-Nya. Karena jika demikian, maka berarti Allah diatur oleh kita. Tidak demikian.

Hakikatnya, doa yang kita panjatkan kepada Allah adalah bentuk ibadah kita kepada-Nya. Demikian juga dengan ikhtiar yang kita lakukan, itu adalah amal sholeh kita. Perkara Allah memberi, Allah mengabulkan, maka itu mutlak kehendak Allah semata.

Sungguh, Allah Maha Mengetahui keperluan seluruh makhluk-Nya, termasuk kita. Bahkan, kita punya keperluan juga itu adalah kehendak Allah. Dan, yang menyediakan segala sesuatu yang bisa memenuhi keperluan kita pun adalah Allah. Jadi, sebelum kita meminta kepada Allah, maka sesungguhnya Allah sudah mengetahui keperluan kita. Mengapa? Karena Allah yang menciptakan kita.

Jadi, ketika Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan meminta kepada-Nya, maka itu bukanlah agar kita memberitahu keperluan kita. Melainkan supaya kita beribadah, tunduk, bersandar dan memohon hanya kepada-Nya. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Kita bisa merasakan lapar, namun kita tidak mengerti mengapa kita harus merasakan lapar. Kemudian, kita memerlukan makanan dan makanan pun ada sehingga kita bisa menutupi rasa lapar kita. Bagaimana itu terjadi? Tiada lain adalah karena Allah menciptakan kita, Allah menciptakan rasa lapar, dan Allah pula yang menciptakan makanan. Allah menciptakan haus, Allah pula menciptakan air. Allah menciptakan paru-paru, dan Allah pula menciptakan oksigen. Subhaanalloh.

Saudaraku, Allah memberi bukan karena kita meminta, namun karena Allah Maha Memberi. Kita diperintahkan berdoa dan meminta, adalah sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Bayangkan jikalau setiap yang kita perlukan, hanya bisa kita peroleh dengan cara meminta terlebih dahulu, tentu banyak hal yang sampai hari ini belum kita miliki padahal sangat kita perlukan.

Jangan dulu jauh-jauh, kita perhatikan diri kita sendiri. Perhatikan rambut kita, warnanya, bentuknya, tingkat kelenturannya, jumlahnya, kecocokannya dengan bentuk wajah kita, pertumbuhannya meski berulang kali kita pangkas, ketiadaan rasa sakit ketika kita memangkasnya. Maa syaa Allah.. Kita tidak pernah memintanya, namun Allah memberikan secara sempurna dan sangat detail, cocok dengan keperluan kita. Itu baru rambut, belum organ lainnya.

Rasulullah Saw bersabda, “Doa adalah saripati ibadah” (HR. Tirmidzi). Yang terpenting dari doa bukanlah terkabulnya doa, yang terpenting dari doa adalah kita menjadi hamba Allah yang tunduk dan hanya menjadikan Allah semata sebagai tempat bersandar dan meminta. Boleh jadi yang kita dapatkan sesuai dengan doa kita, namun boleh jadi tidak sesuai dengan doa kita. Namun, itu tidaklah penting, karena yang penting dari doa kita adalah kita mentauhiidkan Allah Swt.

Sebaik-baiknya doa adalah yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Salah satu doa yang bisa kita contoh adalah doa nabi Yunus a.s manakala beliau berdoa, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zholim.” (QS. Al Anbiyaa [21] : 87)

Dalam doa ini, nabi Yunus a.s mentauhiidkan Allah Swt., lalu bertasbih mensucikanNya bahwa setiap perbuatan Allah pastilah yang terbaik meski hal itu tidak sesuai keinginan kita sebagai makhluk. Apalah arti keinginan kita, karena keinginan kita seringkali didorong oleh hawa nafsu. Kemudian, nabi Yunus a.s merendahkan diri di hadapan Allah Swt. dengan mengakui tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki kekuatan apa-apa kecuali jika Allah memberikan.

Maka saudaraku, semoga kita termasuk golongan orang yang gemar berdoa kepada Allah sebagai bentuk ibadah kita kepada-Nya. Diiringi rasa optimis, baik sangka dan keyakinan bahwa apapun takdir Allah pastilah yang terbaik bagi kita. Wallohualam bishowab. [*]

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Subhanallah, Kita Lelah Saja Disukai Oleh Allah

SETIDAKNYA ada delapan (8) kelelahan manusia yang disukai Allah SWT dan RasulNya. Kedelapan kelelahan tersebut adalah :

1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya (QS. 9:111)

2. Lelah dalam berda’wah/mengajak kepada kebaikan (QS.41:33)

3. Lelah dalam beribadah dan beramal sholeh (QS.29:69)

4. Lelah mengandung, melahirkan, menyusui. merawat dan mendidik putra/putri amanah Illahi (QS. 31:14)

5. Lelah dalam mencari nafkah halal (QS. 62:10)

6. Lelah mengurus keluarga (QS. 66:6)

7. Lelah dalam belajar/menuntut ilmu (QS. 3:79)

8. Lelah dalam kesusahan, kekurangan dan sakit (QS.2:155)

Lelah itu nikmat. Bagaimana mungkin? Logikanya bagaimana? Jika Anda seorang ayah, yang seharian bekerja keras mencari nafkah sehingga pulang ke rumah dalam kelelahan yang sangat. Itu adalah nikmat Allah swt yang luar biasa, karena banyak orang yang saat ini menganggur dan bingung mencari kerja.

Jika Anda seorang istri yang selalu kelelahan dengan tugas rumah tangga dan tugas melayani suami yang tidak pernah habis. Sungguh itu nikmat luar biasa, karena betapa banyak wanita sedang menanti-nanti untuk menjadi seorang istri, namun jodoh tak kunjung hadir.

Jika kita orangtua yang sangat lelah tiap hari, karena merawat dan mendidik anak-anak, sungguh itu nikmat yang luar biasa. Karena betapa banyak pasangan yang sedang menanti hadirnya buah hati, sementara Allah swt belum berkenan memberi amanah.

Lelah dalam mencari nafkah

Suatu ketika Nabi saw dan para sahabat melihat seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.

Rasulullah saw menjawab: Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya dan kesombongan, maka dia di jalan setan. (Al-Mundziri, At-Targhb wa At-Tarhb).

Sungguh penghargaan yang luar biasa kepada siapa pun yang lelah bekerja mencari nafkah. Islam memandang bahwa usaha mencukupi kebutuhan hidup di dunia juga memiliki dimensi akhirat.

Bahkan secara khusus Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada siapa pun yang kelelahan dalam mencari rejeki. Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan mencari rejeki pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni dosanya oleh Allah swt.

Subhanallah, tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim, kecuali di dalamnya selalu ada keutamaan.

Kelelahan dalam bekerja bisa mengantarkan meraih kebahagiaan dunia berupa harta, di sisi lain dia mendapatkan keutamaan akhirat dengan terhapusnya dosa-dosa. Syaratnya bekerja dan lelah. Bukankah ini bukti tak terbantahkan, bahwa kelelahan ternyata nikmat yang luar biasa?

Kelelahan mendidik anak

Di hari kiamat kelak, ada sepasang orangtua yang diberi dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi. Keduanya bingung dan bertanya: Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini? Dikatakan kepada mereka: Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anakmu.

Merawat dan mendidik anak untuk menjadi generasi shaleh/shalehah bukan urusan yang mudah. Betapa berat dan sangat melelahkan. Harta saja tidak cukup.

Betapa banyak orang-orang kaya yang anaknya gagal karena mereka sibuk mencari harta, namun abai terhadap pendidikan anak. Mereka mengira dengan uang segalanya bisa diwujudkan. Namun, uang dibuat tidak berdaya saat anak-anak telah menjadi pendurhaka.

Berbahagialah manusia yang selama ini merasakan kelelahan dan berhati-hatilah yang tidak mau berlelah-lelah. Segala sesuatu ada hitungannya di sisi Allah swt. Kebaikan yang besar mendapat keutamaan, kebaikan kecil tidak akan pernah terlupakan.

Rasulullah saw bersabda: Pahalamu sesuai dengan kadar lelahmu.

Allah swt akan selalu menilai dan menghitung dengan teliti dan tepat atas semua prestasi hidup kita, sebagaimana firman-Nya: Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. 

INILAH MOZAIK

Allah tak Mungkin Salah

SUATU HARI hari, seseorang datang ke Istana Sulaiman. Sulaiman melayani sang tamu dengan mengajaknya berbincang-bincang. Namun ketika di tengah perbincangan, sang tamu merasa seperti ada yang sedang memperhatikan dari sudut ruangan.

Tamu tersebut pun melirik sudut ruangan yang telah merisaukan hatinya. Ya, disudut ruangan itu memang ada yang sedang memperhatikannya. Namun seketika hilang ketika tamu dari Sulaiman tersebut melihat sudut ruangan itu.

Melihat keresahan sang tamu, Sulaiman kemudian menanyakan perihal yang terjadi pada tamu tersebut. Sulaiman bertanya “Wahai Saudaraku, mengapa engkau terlihat begitu resah. Apakah penghormatanku kepada seorang tamu tidak memuaskan hatimu?”

Dengan cepat sang tamu menjawab, “Oh, bukan. Bukan begitu, Saudaraku. Perlakuanmu sungguh lebih dari yang aku harapkan. Kau memang orang yang sangat mulia.”

“Kalau begitu, apa yang merisaukan hatimu. Mungkin aku bisa membantumu mencarikan jalan pemecahannya?” jawab sulaiman menawarkan bantuan.

Sang tamu kemudian menceritakan mengenai seseorang di sudut ruangan yang terus memperhatikan saat sedang berbincang tadi, namun hilang seketika ia melihatnya. Sulaiman kemudian menjelaskan mengenai seseorang yang dimaksud oleh tamunya itu.

“Oh, dia adalah sahabatku, sang malaikat maut,” jelas Sulaiman.

“Ya, dia terus menerus menatapku, seakan-akan aku adalah sasaran untuk diambil nyawanya,” ungkap sang tamu.

Sulaiman pun menawarkan bantuan untuk membuat hati sang tamu tenang, sang tamu kemudian meminta untuk di antarkan ke India. Dengan izin Allah, Sulaiman menghantarkan sang tamu ke India atas bantuan udara.

Sang tamu pun sampai ke India, tidak berapa lama kemudian sang malaikat maut kembali ke istana Sulaiman. Sulaiman bertanya mengapa sang malaikat memandangi tamunya terus. Ternyata sang malaikat maut mendapat tugas untuk nyawa orang tersebut di India, namun karena tamu itu ada di istana, malaikat menunggunya untuk kembali ke India.

“Apakah kau temui orang itu di India?” tanya Sulaiman.

“Tentu saja. Allah memang tidak akan salah. Kini sudah kulaksanakan tugasku,” tegas malaikat maut.

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [QS. An-Nisa/ 4: 78]. []

Allah tak Pernah Ingkar Janji

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imran [3]:9)

Al-Wa’du dain, janji adalah utang, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Karena utang, maka ia harus ditunaikan atau dibayar. Caranya, yaitu dengan memenuhi atau menepatinya.

Menepati janji adalah salah satu bukti keimanan serta ketakwaan seseorang. “Telah beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Mukminun [23]:8). Sedangkan menyalahi janji atau mengingkarinya merupakan salah satu tanda dari kemunafikan.

Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya menegaskan bahwa di antara tanda-tanda kemunafikan adalah “idza wa’ada akhlafa”, jika berjanji mengingkarinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tidak menyadari akan hal ini. Banyak di antara kita yang sering dengan mudah mengucap janji, tetapi sering juga mengingkari. seolah-olah hal ini menjadi lumrah. Padahal, jika kita mau kaji lebih lanjuut, dalam sejumlah ayat Al-Qur’an Allah Swt, secara tegas memerintahkan kepada kita untuk memenuhi janji.

“Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kami telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS.An-Nahl [16]:91)

“Sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra [17]: 34)

Beberapa ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya menepati janji. Janji yang telah kita ucapkan dan tidak kita tunaikan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Allah Swt melalui sejumlah ayat Al-Quran menegaskan bahwa diri-Nya tidak pernah mengingkari janji. Allah selalu menepati janji-Nya. Hal ini tentu berbeda dengan kebiasaan kita pada umumnya. Kita sering kali mudah mengucapkan janji, tetapi sering kali pula sulit untuk menepatinya.

Padahal, sering disebutkan dalam beberapa keterangan ayat di atas, bahwa ketika berjanji kemudian kita tidak memenuhi janji kita, maka kelak di akhirat Allah akan menagih janji yang pernah kita ucapkan.

Apa bukti bahwa Allah tidak pernah ingkar janji? Mari perhatikan sekeliling kita. Pernahkah kita jumpai orang-orang yang rajin bersedekah, misalnya, atau orang-orang yang senang menyantuni anak yatim, mengulurkan tangannya untuk membantu fakir miskin, hidupnya susah, usahanya bangkrut, keluarganya berantakan? Pernahkah kita temui orang-orang berhati mulia yang tak segan-segan mengorbankan harta, pikiran, tenaga serta jiwanya untuk membantu sesama, kemudian hidup mereka menderita? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: Tidak! ya, sekali lagi: Tidak!

Allah menjanjikan kebaikan dan kebahagiaan hidup kepada mereka yang peduli kepada sesama, empati kepada orang lain, senang berbagi, gemar menolong, serta rajin membantu orang lain yang kesusahan. Ini janji Allah. Dan kita saksikan mereka yang selalu memberi kebaikan kepada orang lain terus diliputi kebahagiaan. Inilah salah satu bukti janji Allah. Dan masih banyak lagi bukti-bukti yang menunjukkan bahwa janji Allah itu nyata. [Didi Junaedi]

INILAH MOZAIK

 

Ketika Allah Mengatur Hidup Kita

PERNAHKAH kita menduga sejak lama bahwa hidup kita akan seperti ini? Menjalani hidup di sini dengan orang-orang tertentu di sekeliling kita dan dengan takaran rizki yang kita dapatkan kini. Kebanyakan kita akan menjawab: “Tidak menyangka seperti ini.” Lalu, siapa yang menjalankan hidup ini dan mengantarkan kita pada titik ini?

Bacalah kembali kisah indah kehidupan Nabi Yusuf dalam al-Qur’an maka jawabannya akan jelas. Saudaranya yang iri membuang beliau ke dalam sumur saat beliau masih kecil. Tujuannya adalah biar mati. Allah tak berkehendak beliau wafat, lalu dikirimkanNya kafilah yang butuh air. Datanglah ke sumur itu untuk menimba, Yusufpun selamat.

Dijuallah Nabi Yusuf untuk dijadikan budak. Allah tak berkenan. Allah tanamkan rasa buth pada Penguasa Mesir untuk mengambilnya sebagai anak yang dibesarkan dalam istana. Kisahnyapun berubah tema menjadi “dari sumur menuju istana.”

Di istana, beliau tertimpa fitnah. Kebenaran terkalahkan oleh kekuasaan. Beliau di penjara lama sekali. Allah tanamkan rasa butuh di hati penguasa, butuh juru tafsir mimpi. Yusufpun tampil sebagai penafsir jitu yang menjadikan beliau keluar dari penjara.

Krisis ekonomi terjadi, rakyat butuh makan saat paceklik. Semua butuh pemimpin yang hebat untuk keluar dari krisis. Kondisi ini yang akhirnya menjadikan beliau sebagai penguasa Mesir yang menyelesaikan masalah.

Kalau Allah yang mengatur, ada saja sebab yang menjadi akibat. Sebab itu kadang kala tak enak, namun akibatnya bisa jadi enak. Tanpa terasa, tiba-tiba kita bahagia setelah lama menjalani derita. Ada Allah Yang Mengatur. Dekatlah denganNya dan selalulah pasrah kepadaNya.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Menaati Rasulullah Menaati Allah

Nabi shallallahualaihi wasallam bersabda,

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia lebih mencintaiku daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR. Al-Bukhari, no 15 dan Muslim, no. 44).

Mendengar sabda Nabi di atas, para sahabat mencurahkan kecintaan yang besar kepada sang Rasul shallallahu alaih wasallam, melebihi cinta mereka kepada keluarganya. Mereka lebih mementingkan kecintaan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, daripada selainnya. Inilah prinsip hidup para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka.

Mereka begitu faham pengaruh cinta dalam kehidupan. Cinta akan memicu seorang, untuk selalu patuh dan tunduk kepada orang yang dicintai, yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dalam Alquran, Allah taala telah menekankan hal ini. Yang menunjukkan pentingnya kepatuhan dan tunduk terhadap perintah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Bahkan AllahTaala mengaitkan ketaatan kepada-Nya, dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana dalam firman-Nya,

“Barangsiapa yang menaati rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (An Nisa: 80)

Artinya, barangsiapa yang bermaksiat kepada sang Rasul shallallahu alaihi wasallam, itu artinya dia telah bermaksiat kepada Allah subhanahu wa taala.

Para sahabat begitu sadar, bahwa cinta ibarat tali yang kuat, yang mengeratkan ikatan hati, antara mereka dan Rasulullahshallallahu alaihi wasallam. Dengan kecintaan yang tulus inilah, mereka hendak menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah taala berfirman,

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah kemenangan yang besar.” (An Nisa: 13)

Memang, hubungan antara cinta, taat, tunduk dan patuh amatlah erat. Kata-kata ini tidak bisa dipisahkan. Semakin tinggi frekuensi cinta, semakin tinggi pula tingkat kepatuhan dan ketundukannya kepada yang ia cintai. Sebaliknya, saat frekuensi cinta berkurang, maka semakin rendah tingkat kepatuhan dan ketundukan terhadap perintah maupun larangan beliau.

Tanda Cinta

Cinta kepada sesutu apapun, mesti ada bukti. Ketika Anda mencintai rumah, pasti Anda akan senantiasa menjaga, merawat dan membersihkannya. Dan Anda akan marah bila ada orang yang mengotorinya. Saat Anda mencintai anak Anda, maka Anda akan mendidik, membimbing dan mengayominya. Demikian pula kecintaan kepada Rasulullahshallallahu alaihi wasallam. Ia juga memiliki tanda-tanda. Sebagai bukti Ketulusan dan kejujuran cintanya kepada beliau; bukan sekedar dakwaan atau bualan belaka.

Di antara bukti kejujuran cinta tersebut tersebut adalah, berpegang teguh dengan sunnahnya (jejak kehidupannya), serta memuliakan para pengikut sunnahnya (penghulunya adalah sahabat-sahabat beliau), memperbanyak shalawat untuknya, rindu berjumpa dengannya, cinta kepada orang-orang yang dicintainya dan benci kepada orang-orang yang dibencinya. (Makanat as-Sunnah an-Nabawiyah, hal 41).

Cinta yang Proposional

Ketahuilah, sesungguhnya cinta para sahabat kepada Rasulullah shallallahu alaih wasallam adalah cinta yang proposional. Maksudnya adalah, pertengahan antara cintanya orang yang melampaui batas dan cintanya orang yang menyepelekan atau teledor dalam hal kecintaan kepada Nabi. Berikut Ini kami paparkan tiga golongan manusia dalam hal kecintaan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Pertama, orang yang melampaui batas dalam hal kecintaan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Seperti orang-orang yang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan kecintaannya kepada Nabi. Dampaknya adalah ekspresi cinta yang melampaui batas syari. Akhirnya mereka membuat ibadah-ibadah baru yang tak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Seperti perayaan maulid Nabi, dengan dalih bahwa ini adalah ekspresi kecintaan mereka kepada Nabi shallallahualaihiwasallam. Ini yang pertama.

Kedua, mereka yang lebih mendahulukan kecintaan kepada selain beliau, daripada kecintaan kepada beliau. Akibatnya, akan menimbulkan dampak negatif yang mereka alami dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Contohnya adalah, orang-orang yang mengaku mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam. Namun saat ada perkataan tokoh atau kiyai mereka, yang menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam, mereka lebih mendahulukan perkataan kiyainya tersebut.

Ketiga, merekalah para sahabat radhiyallahuanhum. Setiap muslim yang menginginkan kejujuran dalam cintanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, hendaklah ia mengikuti jejak mereka dalam mewujudkan cinta hakiki tersebut. Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, mereka tidak melampaui batas dalam kecintaan mereka, tidak pula seperti orang-orang yang teledor dan menyepelekan kecintaan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. (Lihat Makanat as-Sunnah an-Nabawiyah, hal 38).

Potret Cinta Sahabat Kepada Nabi

Pembaca yang budiman, mari sejenak melihat kembali perjalanan hidup generasi terbaik umat ini. Yaitu para sahabat radhiyallahu anhum. Untuk memetik pelajaran-pelajaran berharga dari keindahan perilaku mereka, keluhuran adab dan akhlak mereka.

Pernakah terbayang di benak Anda, bagaimana gambaran cinta dan pengagungan sahabat-sahabat kepada beliau?

Meski kata-kata tak kuasa untuk melukiskan hakikat cinta mereka yang begitu jujur dan agung. Namun, tak mengapa sedikit membaca kisah-kisah menakjudkan, dari gambaran cinta mereka tersebut:

Abu Sufyan, salah seorang yang pernah menjadi musuh besar Nabi SAW, menuturkan tentang kenyataan yang ia soal persahabatan rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat, “Aku belum melihat seorang pun yang mencintai orang lain, seperti cintanya sahabat-sahabat Muhammad -shallallahualaihiwasallam- kepadanya.” (Abu Nuaim, Marifat ah-Shahabah, jilid 3/1183-1184 ).

Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ditanya, “Bagaimana cinta kalian kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam?”. Beliau menjawab,”Demi Allah, beliau lebih kami cintai dari harta, anak, ayah, dan ibu kami. Bahkan lebih (kami cintai) dari air segar di waktu dahaga.” (Al-Qadhi Iyadh, asy-Syifa bi Tarif Huquq al-Musthafa, jilid 2/52).

Kisah Urwah bin Masud yang masyhur. Ketika kaum Quraisy mengutusnya dalam rangka melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin, di Hudaibiyah. Saat perjumpaannya dengan Nabi dan kaum muslimin, ia mendapati sebuah sikap yang menakjudkan hatinya, dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sepulangnya Urwah ke Makkah, ia pun berkata di hadapan kaum Quraisy, “Wahai kaum Quraisy.. Demi Allah, aku telah diutus kepada para raja sebagai delegasi kalian. (Aku diutus) kepada Kishar (raja negeri Roma), Kisra (raja negeri persia), begitu pula Najasyi (raja negeri Habasyah). Namun demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh pengikutnya, seperti pengagungan yang dilakukan para sahabat Muhammad kepadanya.Demi Allah, jika ia (Muhammad) berdahak, pasti dahak itu akan jatuh di tangan salah seorang mereka. Lalu mereka usapkan ke wajah dan kulit mereka. Jika mereka mendapat perintah darinya, maka mereka akan segera melaksanakan perintah tersebut.

Jika ia selesai berwudu, hampir-hampir mereka bersengketa karena saling berebut sisa air wudhunya. Jika ia berbicara, sahabat-sahabatnya merendahkan suara di hadapannya. Tak ada seorang pun yang memandangnya dengan pandangan yang tajam. Hal ini karena mereka begitu menghormatinya.” (Al-Bukhari, no 2731).

Karena dorongan cinta yang tulus, kepada Nabi shallallahu alaih wasallam, sampai-sampai seorang sahabat yang bernama Rabiah bin Kaab Al-Aslami radhiyallahu anhu, rela menjadi pelayan beliau, demi bisa menjadi pendamping beliau di surga. Rabiah bercerita, “Suatu malam aku menginap di rumah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Akupun menyediakan air wudhu untuknya serta memenuhi kebutuhan beliau. Lalu beliau bertanya, “Memohonlah..”. “Aku ingin menemanimu di surga.” pintaku. Beliau menjawab,”Tak adakah yang selain itu?”. “Tidak,” Jawabku. Beliau lantas bersabda, “Perbanyaklah sujud, agar dapat membantuku mewujudkan keinginanmu.” (Muslim, no 489)

Karena ketulusan cinta, para sahabat selalu ingin meniru tingkahlaku beliau.Dikisahkan bahwa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallampernah memiliki sebuah cincin yang terbuat dari emas. Melihat beliau memakai cincin emas, maka para sahabatpun ikut mengenakan cincin emas. Kemudian ketika beliau membuang cincin itu (karena adanya larangan memakai cincin emas bagi laki-laki), seraya bersabda, “Aku tak akan memakai cincin emas lagi untuk selamanya.” maka merekapun langsung membuang cincin-cincin tersebut. (Al-Bukhari, no 5866).

Demikianlah, kepatuhan yang luar biasa. Pengagungan terhadap sunah yang tak ada bandingnya. Serta kerinduan yang selalu hadir dalam hati suci mereka kepada kekasih yang paling dicintai. Ini tidak lain adalah buah daripada cinta yang jujur dan tulus kepada Sang Rasul.

Semoga Allah meridai seluruh sahabat dan menyediakan kehidupan kekal abadi di surga-Nya bersama kekasih Muhammad shallallahu alaihi wasallam.Wasallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wasallam.

 

[Abu Huraerah Al Faluwy/muslimorid]