Melatih Keikhlasan Anak Melalui Puasa

Usia yang paling ideal untuk mulai melatih anak puasa adalah 7 tahun.

Puasa menjadi ibadah jasmani dan rohani yang juga bisa diajarkan kepada anak. Dari ibadah ini seorang anak akan belajar keikhlasan hakiki kepada Allah SWT dan selalu merasa diawasi oleh Nya.

”Dengan ibadah ini si anak dapat menekan keinginannya atas makanan dan minuman walaupun lapar dan haus,” kata Dr Muhammad Nur Abdul Hafiz Suwaid dalam bukunya “Prophetic Parenting Cara Nabi SAW Mendidik Anak”.

Di samping menekan keinginan, si anak juga dapat melatih kesabarannya. Para sahabat membiasakan anak-anak mereka untuk beribadah puasa. Imam Bukhari memberi judul salah satu bab dalam kitab shahihnya dengan nama “Shiyamush Shibyan” (puasanya anak-anak).

Kemudian dia membawakan hadits Umar. Yaitu ketika Umar melihat seseorang yang mabuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, Umar menghardiknya. “Celakalah engkau! Engkau melakukan ini padahal anak-anak kami sedang puasa!” Umar pun memukulnya.

Ibnu Hajar mengomentari hadits ini: Lafal (Bab Puasanya Anak-anak), artinya diisyaratkan atau tidak? mayoritas ulama mengatakan tidak wajib bagi anak di bawah usia baligh. “Namun Sebagai ulama salaf menganggapnya sunnah,” katanya.

Di antaranya adalah Ibnu Sirin dan az-Zuhri dan demikian juga dikatakan oleh asy- Syafi’i mengatakan, bahwa mereka juga diperintahkan untuk mengerjakannya sebagian latihan apabila mereka mampu. Usia yang paling ideal untuk mulai melatih anak puasa adalah 7 tahun. “Batasan usianya adalah tujuh tahun dan sepuluh tahun.” 

Usia ini juga kata Muhammad Nur sama persis seperti mengajarkan anak untuk ibadah sholat. Ishak memberi batasan usia 12 tahun. Ahmad, dalam salah satu riwayatnya, sepuluh tahun. Al-Auza’i mengatakan, “Apabila mampu berpuasa tiga hari berturut-turut maka dianjurkan untuk berpuasa.”

Muhammad Nur menambahkan, yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama. Pendapat yang masyhur dalam mazhab Malikiyyah: puasa tidak disyaratkan untuk anak-anak. Menurut penulis, Imam Bukhari telah bersikap lembut dalam memberikan alasan untuk judul bab ini. Yaitu dengan membawakan atsar Umar pada judul bab. 

Sebab, pedoman terkuat yang dijadikan sebagai bantahan terhadap hadits-hadits semacam ini adalah amalan sebaliknya dari penduduk kota Madinah. Di sinilah, tidak ada amalan untuk dijadikan sebagai pedoman yang lebih kuat dibandingkan dengan amalan-amalan pada masa Umar, yang jumlahnya para sahabat masih sangat banyak ketika itu. 

Umar mencela orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan dengan mengatakan. “Kenapa engkau makan padahal anak-anak kami berpuasa? “Ibnul Majisyun dari mazhab Malikiyah mengungkapkan pendapat yang cukup aneh. 

“Di katakan bahwa apabila anak mampu berpuasa, maka dia diwajibkan berpuasa. Apabila dia tidak puasa tanpa alasan yang jelas, maka dia wajib mengqadhanya.” 

KHAZANAH REPUBLIKA

Memaksa Anak untuk Berpuasa

Bolehkah Memaksa Anak untuk Berpuasa?

Hukum memaksa anak 10 tahun untuk puasa dan usia berapa batasan waktu melatih anak puasa?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Puasa seperti kewajiban syariat pada umumnya. Puasa diwajibkan hanya bagi mukallaf, yaitu muslim, berakal, dan baligh. Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يَفِيقَ

Pena catatan amal diangkat (kesalahannya tidak dihitung) untuk 3 orang: orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai besar (baligh), dan orang gila sampai sadar. (HR. Ahmad 24694 & Nasai 3445)

Berdasarkan hadis ini, anak yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Hanya saja, dianjurkan bagi orang tua untuk melatih anaknya berpuasa. Terutama ketika anak itu mendekati usia baligh. Diharapkan, ketika masuk usia baligh, dia tidak keberatan untuk berpuasa. Dan untuk usaha ini, orang tua berhak mendapat pahala amar makruf, mengajak anaknya untuk melakukan ketaatan.

Ibnu Batthal mengatakan,

أجمع العلماء أنه لا تلزم العبادة والفرائض إلا عند البلوغ، ولكن أكثر العلماء استحسنوا تدريب الصبيان على العبادات رجاء البركة، وأن من فعل ذلك منهم مأجور، ولأنهم باعتيادهم عليها تسهل عليهم إذا لزمتهم

Ulama sepakat bahwa ibadah fardhu tidak wajib kecuali setelah baligh. Hanya saja, mayoritas ulama menganjurkan untuk melatih anak-anak melakukan ibadah, dengan harapan mendapatkan keberkahan, dan orang tua yang mendidik semacam ini akan mendapat pahala. Karena dengan dibiasakan melakukan ibadah, akan memudahkan mereka untuk melaksanakan ibadah, jika sudah diwajibkan. (Syarh Shahih Bukhari Ibnu Batthal, 4/107)

Diantara yang menganjurkan adanya latihan puasa bagi anak adalah Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, az-Zuhri, Atha’, Qatadah, dan Imam as-Syafi’i rahimahullah.

Dan seperti inilah tradisi yang dilakukan para sahabat. Mereka melatih anak-anaknya untuk berpuasa. Puasa pertama yang diwajibkan untuk para sahabat adalah puasa ‘Asyura. Ketika itu diwajibkan, mereka melatih anak-anaknya untuk ikut berpuasa.

Dalam hadis dari sahabat Rubayyi’ bintu Muawwidz radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita,

Bahwa di pagi hari Asyura, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa sahabat untuk memberi tahu tentang kewajiban puasa ke kampung-kampung anshar,

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ

Siapa yang hari ini sudah sarapan, hendaknya dia puasa di sisa harinya. Dan siapa yang berpuasa, belum makan, hendaknya dia lanjutkan puasanya.

Kata Rubayyi’,

Kamipun berpuasa dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami buatkan boneka dari kapas. Jika ada yang menangis minta makanan, kami beri boneka itu, sampai datang waktu berbuka. (HR. Bukhari 1960)

Latihan semacam ini tentu saja dengan pertimbangkan kondisi fisik anak. Sehingga jika anak sakit-sakitan, atau suka kelelahan. Sehingga mengenai usia berapa yang paling tepat untuk membiasakan puasa, semua kembali kepada kemampuan anak. Artinya, latihan bisa dilakukan selama tidak memberatkan, meskipun sebaliknya, anak jangan sampai tidak puasa sama sekali dengan alasan memberatkan.

Allahu a’lam.

 

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Ramadan Ceria bagi Anak-anak Muslim

Di bulan Ramadan, kita menahan diri dari makanan dan minuman dari matahari terbit sampai matahari terbenam, semua itu hanya demi Allah.

Tentu saja Ramadhan lebih dari itu, tetapi itulah kesan pertama yang didapat anak-anak. Jadi, Muslim merayakan kehadiran Bulan Suci, tetapi tidak (belum) semua orang menjalankan puasa.

Anak-anak kecil berlarian, anak-anak kecil meminta makanan ringan, anak-anak kecil ingin berpelukan, anak-anak kecil di waktu membaca. Banyak keluarga muda masih memiliki anak-anak kecil yang belum berpuasa. Mereka memang belum siap bergabung untuk menahan diri dari makanan dan minuman di siang hari, dan menikmati perayaan itu sendiri, namun harus ada alasan bagi anggota terkecil dari keluarga kita untuk bergabung menikmati Ramadhan pada saat yang sama.

Sedikit Resep untuk Anak-anak

Gagasan paling dasar dari Ramadhan, bahkan untuk anak-anak kecil, adalah untuk menjauhkan diri dari makanan dan minuman dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Dan salah satu dari sekian banyak manfaat dari puasa adalah kesehatan. Bagi mereka yang belum mulai berpuasa, Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menanamkan kebiasaan makan yang sehat.

Hal ini dapat menjadi rumit untuk seorang ibu yang berpuasa untuk terus mempersiapkan makanan ringan untuk anak-anak kecil mereka sepanjang hari yang panjang, tapi ini adalah resep sederhana yang akan membantu anak-anak menghargai makanan yang sehat yang akan menarik minat mereka berdasarkan makanan dari Al Qur’an.

Buah-buahan, kurma, kismis dan madu adalah beberapa rasa dari Al-Qur’an dan kebanyakan dari mereka mudah untuk dipersiapkan. Berkat makanan ringan ini, anak-anak akan menjadi lebih menghargai nikmat Allah dan belajar kebiasaan baik selama Bulan Suci. Kurma khususnya memiliki efek menenangkan pada temperamen mereka, sesuatu yang akan diapresiasi oleh setiap ibu.

Menyertakan anak-anak untuk membantu menyiapkan makanan untuk berbuka puasa juga merupakan ide yang baik jika makanannya sederhana. Setidaknya, mereka akan mampu menghargai kerja keras sebagai pengantar berbuka puasa.

Membuat Pohon Berkah

Gunakan kartu poster untuk membuat batang pohon dan membentuk daun berwarna-warni untuk anak Anda. Tanyakan kepada mereka tentang berkah-berkah yang telah mereka terima dan mintalah mereka menggambar atau menulisnya pada daun. Tempelkan kepada pohon dan amatilah pohon yang tumbuh sepanjang Ramadan.

Setelah sebulan mengumpulkan berkah dan menambahkannya ke batang pohon yang tandus, biarkan mereka mengagumi berapa banyak berkah yang mereka terima sepanjang bulan!

Ingatlah untuk menyampaikan rahmat Allah dan kasih sayang atas mereka. Juga, dalam hari-hari Ramadhan ini, berbicaralah dengan mereka tentang bagaimana cara mereka dapat “membayar” Allah untuk semua kebaikan-Nya – melalui do’a, melalui amal dan bahkan melalui perilaku yang baik.

Anak-anak bisa mendatangkan ide-ide yang paling cerdik dan akan menyenangkan untuk memikirkan bersama mereka juga. Mungkin ini bisa menjadi proyek baru bersama-sama.

Waktu Untuk Bercerita di Masjid

Jika memungkinkan, cobalah untuk bersama-sama dengan keluarga lain dan anak-anaknya yang seumuran untuk menyediakan waktu bercerita.

Hal ini dapat dilakukan di Masjid atau di rumah-rumah yang berbeda secara bergiliran. Bergiliran untuk menceritakan kisah tentang Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Tidak ada waktu seperti Ramadhan untuk menyampaikan Sirah yang mengagumkan terkait komitmen Rasulullah untuk Allah dan agama-Nya yang sempurna, Islam.

Cerita lain yang akan sangat bagus dikisahkan pada bulan ini yaitu cerita dari Al-Qur’an. Semakin anak-anak mendengar dan tahu tentang Al-Qur’an, bahkan jika mereka sangat sedikit kemampuan membacanya, semakin kuat akar Islam yang ditanam di dalam hati mereka. Ini selalu menjadi ide yang baik untuk memulai sedini mungkin dan menabur benih iman ketika mereka masih kecil dan murni.

Mengikuti Kegiatan Masyarakat

Sering membawa anak-anak ke Masjid dan bergabung di dalamnya pada semua kegiatan yang memungkinkan, juga merupakan cara yang bagus untuk mengilhami cinta Ramadan dalam diri mereka. Mengajak mereka menggelar sajadah, merapikan peralatan atau mengatur tikar untuk berbuka puasa adalah beberapa cara sederhana yang bisa menyenangkan dan mendidik anak-anak.

Kegiatan ini juga membuat Ramadhan “yang nyata,” dimana mereka dapat berhubungan baik sampai saat mereka tumbuh dewasa.

Mendengarkan Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an setiap hari adalah suatu keharusan, terutama saat Ramadhan, tetapi di samping itu, mengajak anak-anak untuk mendengarkan Al-Qur’an dapat membantu mendorong cinta mereka untuk Allah melalui penanaman Pesan dari Allah di alam bawah sadar mereka.

Bacalah Al-Qur’an di seluruh hari-hari tenang mereka dan saat mereka tertidur malam hari. Ini akan memungkinkan mereka untuk membawa pesan hingga hari berikutnya. Sebelumnya kita membangun kebiasaan membaca dan mendengarkan Al Qur’an, semakin lama efek dari Al-Qur’an akan bertahan dan mereka akan membawanya sampai dewasa.

Pemberian Kecil Ramadhan

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memberi. Pergilah membeli barang-barang dengan anak-anak Anda dan putuskan apa yang dapat diberikan kepada orang miskin, terutama anak yatim yang mungkin menghargai pakaian dan mainan.

Membiarkan mereka mengambil dan memilih mainan dan pakaian yang mereka ingin berikan adalah cara yang baik untuk mengajarkan tindakan amal. Selain menghitung semua berkah mereka, kita juga dapat melakukan amal juga. Semakin anak-anak didorong (tanpa dipaksa) untuk memberi, semakin kurang kecenderungan mereka untuk menumbuhkan nilai-nilai materialistik di masa depan.

Dorong anak Anda untuk mengemasi barang-barang mereka dan berjalan-jalan ke Masjid atau panti asuhan terdekat bersama-sama. Ini memungkinkan anak-anak untuk berpartisipasi memberi secara bersama-sama. Mereka akan semakin menghargai pakaian dan mainan mereka.

Memulai Shadaqah Jariyah

Selain pemberian amal, dimulai pula sedekah jariyah untuk keluarga. Mengalokasikan dan menghias kotak jariyah untuk menyimpan uang receh di rumah. Doronglah anak Anda untuk menyimpannya dalam stoples dan melihat tumpukan uang jariyah selama beberapa minggu. Jariyah dapat disumbangkan ke Masjid dan ketika Ramadan berakhir dan/atau ketika jariyah sudah terisi penuh.

Satu Hari Satu Do’a…

Mengucapkan satu do’a satu hari akan mendorong anak-anak untuk meminta kepada Allah. Orang tua perlu berdo’a untuk anak-anak mereka sepanjang waktu dan cara yang baik dengan berdo’a yang keras; satu hari satu do’a untuk setiap anak.

Mendengar nama mereka disebut dalam do’a orang tuanya akan mendorong anak-anak untuk berdo’a untuk diri mereka sendiri, bahkan jika bulan Ramadhan telah berlalu, dan berdo’a untuk orang tua mereka juga.

Menggambar Grafik Mundur Idul Fitri

Selain Ramadan, buatlah anak-anak gembira tentang Idul Fitri. Buatlah grafik mundur untuk Idul Fitri dan tempelkan pada dinding di rumah. Beri tanda centang setiap hari yang lewat sehingga anak-anak dapat melihat bagaimana Ramadhan berjalan. Ini adalah cara yang baik untuk mempelajari hari dalam seminggu dan belajar bagaimana untuk mengolah angka.

Anak-anak kecil mungkin tidak berpuasa, namun mereka pasti bisa didorong untuk menghargai Ramadan. Dengan menjaga Ramadhan tetap menyenangkan dan nyata dan dengan mengajarkan mereka tentang rahmat Allah, anak-anak akan tumbuh untuk menghargai Bulan Suci sebagai salah satu yang spesial dan menarik, juga salah satu bulan yang diberkahi dengan kehadiran orang tua mereka, membuat mereka merasakan Ramadhan sebagai Bulan yang sangat Suci, sekalipun jika mereka ngemil sepanjang hari.

Diterjemahkan dari tulisan Maria Zain, Penulis lepas, UK dalam onislam.net

(fauziya/muslimahzone.com)