Syarhus Sunnah: Allah Dekat pada Kita yang Berdoa

Allah itu begitu dekat (qoriib) pada hamba yang berdoa. Allah juga memiliki keperkasaan. Itulah yang akan dibahas dalam bahasan Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah berikut ini.

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

قَرِيْبٌ بِالإِجَابَةِ عِنْدَ السُّؤَالِ بَعِيْدٌ بِالتَّعَزُّزِ لاَ يُنَالُ

“Allah itu dekat ketika ada yang berdoa. Allah itu jauh keperkasaan-Nya dari makhluk, tidak mungkin dikalahkan oleh makhluk.”

Allah dekat pada orang yang berdoa

Allah itu mengabulkan doa orang yang meminta ketika ada yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ»

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghaib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari, no. 2992 dan Muslim, no. 2704).

Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ رَبُّنَا قَرِيبٌ فَنُنَاجِيهِ ؟ أَوْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ

“Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdoa ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?” Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas (surah Al-Baqarah ayat 186). (Majmu’ah Al-Fatawa, 35:370)

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan Allah pada orang yang berdoa (kedekatan yang sifatnya khusus).” (Majmu’ah Al-Fatawa, 5:247)

Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah itu ada dua macam:

  1. Kedekatan Allah yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk.
  2. Kedekatan Allah yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdoa pada-Nya, yaitu Allah akan mengijabahi (mengabulkan) doanya, menolongnya dan memberi taufik padanya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 77)

Kedekatan Allah pada orang yang berdoa adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada orang yang berdoa dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud. (Majmu’ah Al-Fatawa, 15:17)

Kedekatan Allah ketika sujud

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim, no. 482)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ – عَزَّ وَجَلَّ – ، وَأمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.” (HR. Muslim, no. 479)

Aturan berdoa ketika sujud:

(1) berdoa ketika sujud setelah membaca bacaan saat sujud seperti “SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA”,

(2) berdoa ketika sujud tidak dikhususkan pada sujud yang terakhir,

(3) berdoa dengan bahasa Arab,

(4) boleh berdoa dengan doa yang berasal dari Al-Quran,

(5) tidak boleh telat dari imam ketika berdoa saat sujud.

Allah memiliki ‘izzah

Walaupun Allah dekat, Allah memiliki ‘izzah (keperkasaan). Allah memiliki ‘izzah: (1) ‘izzah al-quwwah (keperkasaan dalam kekuatan), (2) ‘izzah al-ghalabah (keperkasaan tidak ada yang dapat mengalahkan), (3) ‘izzah al-imtina’ (keperkasaan tidak ada yang dapat mencegah).

Dalil bahwa Allah memiliki sifat ‘izzah adalah firman Allah,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Hud: 66)

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ,لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS. Thaha: 5-6)

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  1. Iidhah Syarh As-Sunnah li Al-Muzani.Cetakan Tahun 1439 H. Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Salim Bazmul. Penerbit Darul Mirats An-Nabawiy.
  2. Majmu’ah Al-Fatawa.Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Ibnu Hazm.
  3. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  4. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  5. Tamam AlMinnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net.

Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 19 Dzulhijjah 1440 H (20 Agustus 2019)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Ingin tahu selengkapnya. 
Yuk KLIK: https://rumaysho.com/21200-syarhus-sunnah-allah-dekat-pada-kita-yang-berdoa.html

Mengapa Kita Tak Boleh Malas Berdoa?

PERTAMA adalah karena Allah sendiri yang memerintahkan kita berdoa dan Allah sendiri yang berjanji akan mengabulkannya. Allah sangat senang kepada hambaNya yang senang berdoa karena berdoa bermakna ada sambungan antara hamba dengan Tuhannya.

Kedua adalah karena doa merupakan sebuah kekuatan akan harapan hidup yang lebih baik. Mereka yang tidak pernah berdoa akan mudah untuk pesimis dan, bahkan, tidak berdoa itu adalah potret kepesimisan, keputusasaan, di samping bisa juga sebagai potret kesombongan.

Ketiga adalah karena berdoa itu merupakan tanda percayanya kita kepada Allah; percaya bahwa Allah Tuhan kita, percaya bahwa Allah yang mengatur hidup kita, percaya bahwa Allah tahu persis keadaan dan masalah kita, serta karenanya maka kita percayakan urusan kita kepadaNya. Sungguh keimanan yang indah.

Ada tiga kemungkinan jawaban Allah akan doa yang kita panjatkan. Pertama, iya, Aku kabulkan segera atau sekarang. Kedua, iya, Aku kabulkan, tapi tidak sekarang. Ada waktu yang lebih indah dan lebih tepat untukmu. Ketiga, Aku memiliki rencana yang lebih indah untukmu. Jadi bukan yang engkau pinta yang Aku berikan, namun yang lebih baik dari yang engkau pinta.

Betapa Rahman Rahimnya Allah Tuhan kita, betapa baiknya Allah Tuhan kita. Namun, begitu terbatas pengetahuan kita. Teruslah berbaik sangka kepada Allah dan tetaplah berdoa serta memasrahkan diri kita kepada Allah. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi |

INILAH MOZAIK

Jumat Ini, Sudah Berdoa Belum?

Hari Jumat merupakan waktu mustajabnya doa. Yuk belajar dari Riyadhus Sholihin siang ini.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail

  1. Bab Keutamaan Hari Jumat, Kewajiban Shalat Jumat, Mandi untuk Shalat Jumat, Mengenakan Wewangian, Datang Lebih Dulu untuk Shalat Jumat, Berdoa pada Hari Jumat, Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penjelasan tentang Waktu Dikabulkannya Doa (pada Hari Jumat), dan Sunnahnya Memperbanyak Dzikir kepada Allah Setelah Shalat Jumat

Hadits #1156

وَعَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَكَرَ يَوْمَ الجُمُعَةِ ، فَقَالَ : (( فِيهَا سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْألُ اللهَ شَيْئاً ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيّاهُ )) وَأشَارَ بيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat. Beliau bersabda, “Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba yang muslim tepat pada saat itu berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti memberikan kepadanya.” Beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya untuk menggambarkan sedikitnya (sebentarnya) waktu tersebut. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 935 dan Muslim, no. 852]

Faedah Hadits

  1. Ada anjuran untuk menyesuaikan waktu pada hari Jumat ini untuk berdoa.
  2. Hari Jumat dikhususkan untuk waktu terkabulnya doa menunjukkan akan agungnya hari tersebut dibanding hari-hari lainnya dan haji Jumat adalah sayyidul ayyam, pemimpin hari-hari yang ada.
  3. Para ulama semangat menentukan waktu pada hari Jumat ini sehingga mereka berselisih dalam: (1) penentuan waktunya pada hari Jumat, (2) apakah pengabulan doa pada hari Jumat masih ada atau sudah diangkat, (3) apakah berpindah dalam beberapa waktu dalam sehari ataukah tidak.

Perselisihan hingga 40 pendapat

Ibnu Hajar rahimahullah sendiri menyebutkan ada 40 pendapat dalam masalah ini. Beliau rahimahullah mengatakan,

أَنَّ كُلّ رِوَايَة جَاءَ فِيهَا تَعْيِين وَقْت السَّاعَة الْمَذْكُورَة مَرْفُوعًا وَهْم ، وَاَللَّه أَعْلَم.

“Setiap riwayat yang menyebutkan penentuan waktu mustajab di hari Jum’at secara marfu’ (sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memiliki wahm (kekeliruan). Wallahu a’lam.” (Fath Al-Bari, 11:199)

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah berkata, “Sudah sepantasnya seorang muslim berusaha untuk memperbanyak doa di hari Jum’at di waktu-waktu yang ada secara umum.”

Referensi:

  1. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Fiqh Ad-Du’a’. Cetakan pertama, Tahun 1422 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Hlm. 46-48.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Ingin tahu selengkapnya. 
Yuk KLIK: https://rumaysho.com/21009-jumat-ini-sudah-berdoa-belum.html

Jika Selesai Salat Fardu, Berdoalah!

ALLAH Taala berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)

Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdoalah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. (HR. Ath-Thabari dengan sanad yang tsabit dari Ali)

Ibnul Qayyim menyatakan masih boleh berdoa setelah membaca dzikir bada shalat. Namun berdoa dalam shalat lebih afdal karena saat itu orang yang shalat sedang bermunajat dengan Allah.

(Ini catatan dari Tafsir Al-Quran Al-Azhim karya Ibnu Katsir, 7:599 dan Zaad Al-Maad karya Ibnul Qayyim, 1:249-250)

 

INILAH MOZAIK

Perbanyaklah Berdoa di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah waktu terkabulnya doa dikuatkan dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 10: 14) mengatakan bahwa perowinya tsiqah -terpercaya-. Lihat Jaami’ul Ahadits, 9: 224)

Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. Mengapa demikian?
Diibaratkan seseorang ketika ingin mempertahankan diri dari serangan musuh atau ingin ‘menembak’ target maka dia akan membutuhkan senjata. Seperti halnya seorang mukmin, ketika dia ingin sesuatu maka dia butuh ‘senjata’ dengan berdoa kepada Allah.

Lalu sudahkah engkau ketahui wahai saudariku tentang waktu-waktu terbaik untuk berdoa ketika bulan Ramadhan ini?

1. Sepertiga malam terakhir dan ketika waktu sahur
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Imam Nawawi berkata, “Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 36)

Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur adalah  diijabahi (dikabulkan).” (Fathul Bari, 3: 32)

2. Siang hari saat berpuasa
Ketika sedang puncak-puncaknya rasa lapar dan dahaga menyerang maka perbanyaklah berdoa saudariku. Karena ini merupakan waktu yang baik untuk berdoa.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” ( HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)

Kata Imam Nawawi, “Disunnahkan orang yang berpuasa berdoa saat berpuasa dalam urusan akhirat dan dunianya, juga doa yang ia sukai, begitu pula doa kebaikan untuk kaum muslimin.” ( Al Majmu’, 6: 273)

3. Ketika berbuka puasa
Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa karena saat itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194)

4. Ketika malam lailatul qadar

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan” (QS. Al Qadr: 3)

Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu’anha:

قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. (Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku)” .(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih)

Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu’anha meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut.

Selain keempat waktu di atas, kita juga bisa memanfaatkan waktu untuk berdoa ketika adzan berkumandang, di antara adzan dan iqamah, ketika sedang sujud dalam shalat, ketika sebelum salam pada shalat, di hari Jum’at , dan ketika turun hujan. Karena waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa.

MasyaAllah, begitu banyaknya waktu yang baik untuk memohonkan hajat kita kepada Allah. Maka dari itu jangan sampai kita melalaikan waktu-waktu tersebut hanya untuk hal yang sia-sia bahkan untuk hal yang maksiat –Wal ‘iyadzu billah-.
Semoga Allah selalu memberikan hidayah dan taufik kepada kita.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11171-perbanyaklah-berdoa-di-bulan-ramadhan.html

Berdoa Agar Diteguhkan dalam Islam

MENJADI hamba Allah yang memeluk agama Islam tentu menjadi kebahagiaan yang tiada tara, tak ternilai, dan kekekalannya menjadi impian kita semua. Allah memerintahkan kepada kita agar kita memeluk Islam hingga akhir hayat kita, hingga kita mati tetap dalam keadaan Islam.

Allah Subhanahu Wa Tala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 102 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“.

Maka dari itu berupaya agar hidayah Islam tetap ada pada kita dan kita teguh di atasnya hingga kita meninggal, adalah hal yang sangat penting dan pokok dalam hidup kita. Sebab sebagai seorang muslim, kita percaya dan yakin bahwa setelah kematian, akan ada kehidupan lain yang akan kita jalani. Satu-satunya cara dan bekal yang benar adalah kita hidup dan mati dalam keadaan memeluk Islam.

Dalam Al Qurn terdapat ayat-ayat yang menjelaskan bahwa para Nabi alahimussalam pun berdoa pada Allah agar diwafatkan dalam keadaan Islam (berserah diri pada Allah). Diantaranya adalah doa Nabi Yusuf alaihissalam. Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam Surat Yusuf ayat 101 yang artinya, “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang shaleh”.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam berdoa juga agar dapat istiqamah di atas Islam. Beliau berdoa sekaligus mengajari umatnya dengan doa tersebut. Doa yang paling sering dibaca Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah doa, “Ya Muqallibal qulub tsabbit qalbi la diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)”. Ummu Salamah radilyallahu anha pernah menanyakan kepada beliau shalallahu alahi wasallam mengapa doa tersebut sering beliau baca.

Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang Allah kehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya”. (HR. Tirmidzi).

Maka hendaknya kita menyeringkan pula membaca doa tersebut. Memohon pada Allah agar Allah mengekalkan Islam pada diri kita hingga akhir hayat kita sebagaimana perintah Allah. [*]

 

 

Doa dan Usahalah: Jangan Percaya Ramalan di 2019

TAHUN BARU 2019 segera tiba besok pagi pukul 00.00. Praktik meramal menjelang tahun baru pun marak. Paranormal atau supranatural melakukan serangkaian ramalan berkaitan dengan apa yang akan terjadi di tahun depan.

Umat Islam cukup banyak yang terpancing untuk mempercayai ramalan tersebut, meski kadang hanya secara iseng saja. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan ramalan nasib di mata Islam?

Sebelumnya, mari kita lihat firman Allah SWT berikut;

Artinya:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok [1187]. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)

Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Allah SWT juga dalam firman-Nya:

23. dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,

24. kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” [879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.
(QS. Al-Kahfi: 23-24).

Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan insya Allah (artinya jika Allah menghendaki).

Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Pada hakekatnya, ramalan terbagi menjadi dua macam.
1. Ramalan ilmiah.
2. Ramalan nonilmiah.
Dalam hal ini, Islam melarang ramalan yang nonilmiah karena sangat menyesatkan dan bahkan banyak sudah tercampuri dengan sesuatu yang bersifat setan.

Larangan mempercayai ramalan nonilmiah karena kebenaran ramalan itu masih buram dan banyak disalahgunakan sehingga keberadaannya menyesatkan. Sebab pada praktiknya, ramalan banyak menggunakan kekuatan jin dan setan.
Perlu diketahui, meskipun pada praktiknya beberapa ramalan yang dilakukan terbukti kebenarannya, namun hal itu hanya bersifat serba kebetulan semata.

Bagaimana tentang orang yang minta diramal di awal tahun?
Kalau dalam ajaran Islam sendiri sebenarnya kita tidak boleh mempercayai ramalan baik yang datangnya dari dukun ataupun dari orang yang pintar.

Walaupun selama ini banyak juga yang ingin mengetahui masa depannya melalui ramalan-ramalan tersebut, hal itu sebenarnya disebabkan oleh lemahnya pengetahuan mereka tentang agama.

Orang yang meminta ramal ataupun yang meramal, dua-duanya hukumnya haram. Karena itu bisa menyebabkan adanya kesyirikan. Sedangkan syirik itu adalah dosa yang tak dapat diampuni oelh Allah SWT.

Lalu kenapa fenomena ramal meramal ini jadi trend?
Maraknya masyarakat yang suka minta diramal dan meramal itu karena adanya krisis akidah, moral dan pengetahuan tentang agama Islam.

Karena sebenarnya ramalan itu dapat merampas independensi manusia dalam menatap masa depannya. Mereka seharusnya kalau ingin mencapai sukses ke depannya, bukan mendatangi ke peramal, namun padukan saja antara doa dan usaha. Insya Allah berhasil.

Ada yang menyanggah. Bukankah dahulu Rasulullah SAW juga meramalkan suatu kejadian yang akan terjadi? Jawabnya ya memang benar.
Apa-apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW adalah benar akan terjadi, namun itu bukan ramalan, tapi wahyu Allah SWT yang kejadiannya pasti akan terjadi di masa yang akan datang.

Jadi, apa yang dikatakan Rasulullah SAW terkait kejadian yang akan datang itu sifatnya informatif tentang suatu peristiwa yang kelak akan terjadi. Sebuah wahyu, dari Sang Pencipta Alam. Informasi semacam itu terkadang juga diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, waliyullah. Tapi, namanya bukan wahyu, namun disebut sebagai ilham. Wallahu A’lam. []

Jangan Tergesa-gesa dalam Berdoa

COBA runut beberapa hari atau pekan atau bahkan bulan yang lalu bila kita masih dapat mengingatnya, sudah berapa kali kita berdoa atau meminta kepada Allah? Seberapa sering? Mengapa doanya terhenti? Jenuh, kah?

Berdoa adalah ibadah. Jangan sampai kita tidak melakukan ibadah ini. Pasti kita termasuk orang sombong. Jangan pula kita berdoa namun hanya sesekali saat kita berhajat.

Pekan ini sedang ujian sekolah/kuliah atau karir, maka saat itu juga kita baru berdoa. Bahkan sekali itu saja doa yang kita panjatkan. Hari-hari jauh sebelum ujian, kita tak pernah berdoa. Dan dengan sekali doa hanya pada saat ujian tersebut, kita mengharap ‘keajaiban’ dari Allah. Tentu tidak mengapa mengharap demikian, yang jadi masalah adalah kita tak pernah mengingat Allah sebelumnya. Bahkan kita bergelimang maksiat.

Teruslah meminta pada Allah. Bukan untuk kebutuhan sesaat ini saja. Namun mintalah seluruh kebaikan di dunia yang saat ini, besok, lusa, dan seterusnya kita butuhkan. Prestasi dari Allah, mintalah mulai saat ini. Jangan hanya pada saat ujian. Rumah, kendaraan, dan lain-lain. Mintalah itu semua kepada Allah dengan sesering mungkin. Karena Allah lah pemilik semua. Juga mintalah pada Allah kebaikan akhirat yang pastinya kita butuhkan pada saatnya nanti.

Disamping berdoa pada waktu, kondisi dan tempat yang mustajab, doa juga harus dilakukan sesering mungkin. Jangan kita berputus asa dari Rahmat Allah. Jangan pula tergesa-gesa sehingga menjadikan kita bosan meminta padaNya. Al iyadzubillah.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan, selama dia berdoa bukan untuk keburukan atau memutus tali silaturahim dan selama dia tidak tergesa-gesa dalam berdo’a. Kemudian seseorang bertanya, ‘Ya Rasulallah, apa yang dimaksud tergesa-gesa dalam berdo’a?’ Kemudian Rasulullah menjawab, yaitu seseorang yang berkata, Sungguh aku telah berdoa dan berdoa, namun tak juga aku melihat doaku dikabulkan’ lalu dia merasa jenuh dan meninggalkan do’a tersebut”. (HR Muslim)

Yuk, kita ulang-ulang terus doa kita. Boleh jadi Allah beri rumah atau kendaraan sesuai doa kita, pada akhir tahun depan. Yang penting, sekarang jangan jenuh dan meninggalkan do’a tersebut.Ingat, hakikatnya semua yang ada di dunia ini kepunyaan Allah, bahkan yang ada di akhirat juga. Maka mintalah kepada yang memiliki hingga Dia memberikannya kepada kita.

Harap dicatat pula, bahwa Allah mengabulkan doa bisa dengan jalan lain, bisa dengan diampuninya dosa-dosa kita, dinaikkan derajat kita di sisinya, dan lain-lain. [*]

 

INILAH MOZAIK

Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya

APABILA kita sudah mengetahui bahwasanya doa adalah inti dari ibadah, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, hendaklah kita juga mengetahui bahwa doa adalah inti dari isti’anah (permintaan tolong kepada Allah).

Tidak masuk akal jika kita meminta pertolongan kepada seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tetapi dengan tidak mengucapkan satu kalimat permintaan sedikit pun. Namun, antara permintaan kepada manusia dan permohonan kepada Allah terdapat perbedaan yang sangat jauh.

Terkadang manusia menolak satu permintaan, terkadang pula ia mau memberi suatu permintaan. Akan tetapi, ketika kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia akan senantiasa memenuhi permintaan Anda, dan memberikan apa yang diinginkan melebihi apa yang diminta.

Sungguh benar perkataan seorang penyair:

Jangan sekali-kali Anda meminta dari anak Adam untuk satu keperluan

Mintalah kepada Dzat yang pintu-Nya senantiasa terbuka

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan marah jika Anda tidak meminta kepada-Nya

Sementara anak Adam akan marah ketika diminta

Di berbagai tempat dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, di antaranya firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Al-Mu’min [40]: 60)

Baca: Doa “Ampuh” Imam Ahmad

Firman Allah yang lain:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf [7]: 55)

Berdoa tidak hanya dilakukan di saat genting saja. Karena hal tersebut adalah sesuatu yang wajib bagi setiap muslim, baik dalam keadaan senang maupun susah. Rasulullah pernah bersabda:

“Kenalilah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di kala senang, niscaya Dia pasti akan mengetahuimu ketika susah.” (HR Ahmad).

Seorang hamba hendaknya banyak berdoa kepada Allah dan selalu mengulang-ulang (baca; mendesak) doanya, karena Allah menyukai hamba-Nya yang mengulang-ulang dalam doanya sebagaimana firman-Nya:

فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“…Maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (Al-Baqarah[2]: 186).

Lafazh ‘idza’ (diterjemahkan dengan apabila-edt) berfungsi sebagai tahqiq (benar-benar melakukannya) dan katsrah (sering mengulang-ulang). Berbeda dengan lafazh `in‘ yang berfungsi mewakili perasaan syak (keraguan) dan menunjukkan bahwa tindakan tersebut jarang dilakukan.

Dengan demikian, Allah menyeru hamba-Nya untuk ilhah (mengulang-ulang/mendesak) ketika berdoa dan Dia menjanjikan mereka jawaban yang baik. Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa doanya tidak akan pernah sia-sia.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada seorang muslim pun di bumi ini yang berdoa kepada Allah  kecuali Allah akan memenuhi permohonannya, atau Dia akan memalingkannya dari kejelekan yang setimpal dengan doanya, selama dia tidak berdoa untuk kesalahan (dosa) atau memutuskan silaturrahim.” Seorang laki-laki berkata, ‘Kalau begitu, kami akan banyak melakukannya (berdoa).’ Beliau bersabda, ‘Allah akan lebih banyak lagi (mengabulkannya)’.” (HR At-Tirmidzi).

Oleh sebab itu, jika seorang muslim berputus asa dari dikabulkannya doanya, niscaya doanya juga tidak akan dikabulkan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yaitu) ia berkata, Aku telah berdoa kepada Rabb-ku, namun doaku belum juga dikabulkan’.”

Allah tidak tergesa-gesa sebagaimana ketergesaan anak Adam, namun setiap keputusan (takdir) yang ada di sisi-Nya mempunyai waktu tertentu. Alangkah indahnya perkataan Imam Syafi’i:

Apakah engkau menyepelekan dan meremehkan doa

Sementara engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh doa

Panah di waktu malam tidak akan salah sasaran

Namun dia memiliki jarak, dan ia mesti ditempuh

Telah disebutkan dalam sebuah atsar bahwa Nabi Musa alaihis salam ketika berdoa untuk kecelakaan pengikut Fir’aun, beliau berdoa:

رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ

“… Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka. Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus [10]: 88)

Kemudian Allah berfirman kepada beliau:

قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا

“…Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua…” (Yunus [10]: 89)

Allah baru mewujudkan doa beliau setelah empat puluh tahun kemudian, dengan ditenggelamkannya pengikut Fir’aun dan diberikannya kekuasaan kepada Bani Israil.

Apakah Nabi Allah, Musa, menganggap doanya terlambat dikabulkan? Tidak, beliau mengetahui bahwa keputusan Allah mempunyai waktu tertentu. Dengan itu, beliau memberikan kabar gembira kepada kaumnya:

رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“…Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya). Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (Al-A’ raf [7]: 129)

Sesungguhnya hakikat isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) tampak pada sikap hamba ketika meminta kepada Rabbnya. Dia meyakini bahwa semua kebaikan berada di tangan Allah,  Dia Maha Pemurah yang memberi tanpa menghitung.

 

Dengan meminta kepada Allah, ia tidak perlu lagi meminta kepada sesama manusia. Dia menjadi mulia karena Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Para shahabat –semoga Allah meridhai mereka semua–memohon semua keperluan mereka kepada Allah sampai pada urusan tentang makanan ternaknya.

Apa yang menarik dari hal ini? Benar, di dalam jiwa mereka telah tertanam kuat hakikat yang besar bahwasanya Allah adalah Raja Yang Maha Pemurah, Dia tidak pernah menolak orang yang meminta kepada-Nya. Tidak pernah seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit untuk meminta kepada Rabb-nya, kecuali Dia akan memberikannya.

Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2]: 186)

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghadap (meminta) kepada Allah dalam segala hajat yang kita perlukan, baik keperluan itu datangnya dari Allah atau dari seorang makhluk-Nya, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat.

Namun, seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa untuk meminta agar doanya segera dikabulkan. Allah lebih mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya. Dia mengetahui kapan memberinya dan kapan menahannya. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah:

“Barang siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya kemudian dia shalat dua rakaat dengan sempurna, Allah akan memberikan apa yang dia minta, baik dengan segera atau ditunda.” (Al-Bukhari, Ahmad, dan Ath-Thabrani dari Abu Darda’).*

 

/Dr. Hani Kisyik, dari bukunya Kunci Sukses Hidup Bahagia

HIDAYATULLAH

Tiga Cara Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya

DENGAN sifat-Nya yang Agung, Allah akan senantiasa mengabulkan doa setiap hamba-Nya. Ada sebuah hadis yang menyampaikan dengan indah bahwa Allah mengabulkan doa dengan tiga cara: 1) Allah mengabulkan secara langsung doa yang dipanjatkan; 2) Allah menunda untuk mengabulkan doa tersebut; 3) Allah menggantikan doa tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.

Meski demikian, pernahkan kita merenung mengapa doa-doa kita tidak kunjung diijabah? Allah sungguh Maha Penyayang yang sangat mengerti keinginan setiap hamba-Nya. Namun, hendaknya tidak dikabulkannya doa juga menjadi bahan untuk muhasabah. Kisah pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib berikut ini insya Allah akan melimpahkan banyak hikmah yang dapat mengingatkan kepada kita tentang sebuah doa.

Dikisahkan pada masa Bani Israel, ada sepasang suami istri yang selalu berdoa kepada Allah swt, agar mereka segera dikaruniai seorang buah hati. Hingga tahun kelima yang sedih karena merasa Allah telah menjauh darinya bertanya kepada Khalifah Ali yang kebetulan sedang memberikan khutbah. “Ya Amirul Mukminin, mengapa doa kami tak diijabah? Padahal Allah swt berfiman bahwa berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan doamu.”

Ali bin Abi Thalib balik bertanya, “Apakah engkau sudah menjaga pintu-pintu doamu?”

Sang suami mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti ucapanmu, wahai Amirul Mukminin.”

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan melaksanakan kewajibanmu sebagai hambaNya? Kau beriman kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Apakah kau menjaga pintu doamu dengan beriman kepada Rasulullah? Kau beriman kepada Rasul-Nya, tetapi kau menentang sunah dan mematikan syariatnya.”

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan mengamalkan ayat-ayat Alquran yang kau baca? Ataukah kau juga belum sadar tatkala mengaku takut kepada neraka, tetapi kau justru mengantarkan dirimu sendiri ke neraka dengan maksiat dan perbuatan sia-sia? Ketika kau menginginkan surga, sebaliknya kau lakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga,” Tanya Ali bin Abi Thalib bertubi-tubi. “Apakah kau telah menjaga pintu doamu dengan bersyukur kepada-Nya saat Dia memberikan kenikmatan? Sudahkah engkau memusuhi setan atau malah sebaliknya kau bersahabat dengan setan? Apakah kau pernah menjaga pintu doamu dari menjauhi mencela dan menghina orang lain?” lanjut sang khalifah.

Sang suami terdiam mendengarnya. Khalifah Ali kembali berucap, “Bagaimana doa seorang hamba akan diterima sementara kau tidak menjaga, bahkan menutup pintu doa tersebut? Bertakwalah kepada Allah, perbaikilah amalanmu, ikhlaskanlah batinmu, lalu kerjakanlah amar makruf nahi munkar. Insya Allah, Dia akan segera mengabulkan doa-doamu.”

 

INILAH MOZAIK