Wahai Bilal, Allah Berikan Karunia-Nya untuk Bayar Utangmu

Jangan bersedih ketika menghadapi suatu cobaan, sebagaimana kisah Bilal yang berhutang kepada seorang musyrik untuk menolong fakir miskin. Saat itu Rasulullah SAW tidak mempunyai harta sedikit pun untuk menolong fakir miskin, maka beliau meminta tolong pada Bilal untuk berhutang kepada siapapun. Ternyata Bilal dijebak oleh orang musyrik untuk berhutang kepadanya, ketika Bilal resah memikirkan bagaimana harus melunasi hutangnya kepada orang musyrik itu, tiba-tiba datanglah pertolongan dari Allah SWT

Dikutip dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a. bahwa pada suatu ketika Bilal ra ditanya, “Bagaimanakah biaya keperluan Nabi SAW?” Jawabanya, “Beliau tidak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari. Akulah yang mengurusnya.”

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, jika Beliau didatangi seseorang yang kelaparan, maka bila tidak ada biaya beliau akan berkata kepada Bilal, “Pinjamilah dari siapa saja agar dapat memberi makan orang itu.” Lalu Bilal akan memenuhi keperluan orang itu dengan berutang.

Jika ada orang yang datang tanpa berpakaian, maka Rasulullah SAW akan berkata pada Bilal, “Pinjamlah dari siapa saja agar dapat membelikan baju untuk orang itu.” Lalu Bilal akan mencarikan pakaian untuknya dengan berutang.

Pada suatu hari orang musyrik menemui Bilal, ia berkata, “Aku telah memperoleh banyak rezeki. Jika kamu perlu uang, jangan meminjam dari orang lain, pinjamlah dariku.” Bilal senang dengan tawaran itu, dia pun meminja uangnya untuk keperluan Rasulullah SAW.

Suatu ketika, setelah Bilal berwudhu untuk azan, tiba-tiba datanglah orang musyrik itu dengan kelompoknya. Dia berteriak, Hai orang Habsyi!” Bilal pun menoleh lalu menjumpainya. Orang musyrik itu langsung memaki dan berkata kasar kepadanya.

Orang itu berkata, “Bulan ini tinggal empat hari lagi. Jika kamu tidak membayar utangmu dalam empat hari ini, maka akau akan menjadikan dirimu sebagai budakku dan kamu harus menggembalakan kambing seperti dahulu.” Setelah berkata demikian, dia pun pergi meninggalkan Bilal.

Sepanjang hari Bilal sangat sedih memikirkan hal itu. setelah shalat Isya, ia menceritakan seluruh kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Bilal berkata, “Ya Rasulullah, sekarang engkau tidak memiliki apa-apa untuk membayarnya. Orang musyrik itu pasti akan menghinaku lagi. Oleh karena itu, jika diizinkan, aku akan pergi dari sini sampai mendapatkan uang untuk membayar utang itu. Jika engaku memanggilku, aku akan segera datang.”

Setelah Bilal berkata demikian, dia segera pulang dan mempersiapkan pedang, perisai, sepatu serta barang lainnya untuk keberangkatan esok. Ketika shubuh hampir tiba datanglah seseorang dan berkata, “Cepatlah, Rasulullah ingin menjumpaimu.” Maka Bilal segera pergi.

Setibanya di sana Bilal melihat empat ekor unta penuh dengan muatan sedang duduk. Rasulullah SAW berkata, “Ada kabar gembira untukmu, wahai bilal. Allah memberikan karunia-Nya untuk membayar utangmu. Ambilah unta-unta itu beserta muatannya,  barang ini telah dikirim sebagai hadiah untukku dari pemimpin kaum Fadak atas nazarnya.”

Mendengar perkataan Rasulullah SAW membuat Bilal sangat senang, hal yang tak disangka-sangak. Di saat semua terlihat buntu tetaplah berkhusnudzon kepada Allah SWT.

 

REPUBLIKA

Lafaz Tauhid Bilal Bin Rabah

Sosok sahabat Rasulullah SAW Bilal bin Rabah merupakan satu contoh betapa Islam mengangkat derajat seluruh umat manusia, baik itu bangsa kulit cerah maupun gelap. Agama ini mengajarkan, ketakwaan merupakan faktor penentu status mulia di hadapan Allah. Harta, keturunan, dan kekuasaan politik hanyalah titipan belaka dari Sang Pencipta.

Sebuah hadis riwayat Imam Muslim menceritakan bagaimana kadar ketakwaan Bilal bin Rabah. Suatu hari, Rasulul lah SAW hendak menunaikan shalat Subuh di masjid. Beliau berpapasan dengan Bilal dan berkata kepadanya, Wahai Bilal, beri tahu kepadaku tentang amal perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam. Sebab, malam tadi aku (bermimpi) mendengar suara terompahmu di depanku di surga.

Tidak satu pun amal yang pernah aku lakukan yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan senantiasa melakukan shalat (sunah) semam puku setiap selesai berwudhu dengan sempurna, siang maupun malam, jawab Bilal.

Keimanan Bilal memang sudah teruji di masa permulaan dakwah Islam. Saat itu, Rasulullah SAW menyebarkan Islam se cara sembunyi-sembunyi. Buku Kisahkisah Islami yang Menggetarkan Hatikarya Hasan Zakaria Fulaifal Bilal bin Rabah langsung memantapkan hati memeluk Islam. Padahal, waktu itu, Bilal masih seba gai budak belian. Status paling rendah itu merupakan warisan. Bilal lahir pada 580 Masehi di Makkah dari keluarga budak keturunan Afrika. Diam-diam, Bilal pada suatu hari pergi dari pekerjaannya untuk ke majelis Rasulullah SAW. Di sana, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Majikannya marah begitu mengetahui kepergian budaknya itu. Lebih murka lagi begitu mencurigai keislamannya. Bilal pun tidak membantah telah mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Ia pun digiring ke te ngah padang pasir untuk disiksa. Si majikan tidak sendiri, tapi menyertakan kawan-kawannya yang juga petinggi kaum musyrikin Makkah. Mereka hendak memaksa Bilal agar mengingkari Islam dan menyembah berhala-berhala.

Badannya diben tangkan di atas pasir yang panas. Matahari menye ngat amat terik. Sebuah batu besar menindih tubuhnya. Semua kaki dan tangannya diikat dan ditambatkan pada empat tonggak. Orang-orang musyrik terus meneriakinya agar meninggalkan iman dan Islam. Beberapa algojo juga mencambuk kepala dan bagian tubuh Bilal yang tidak tertin dih batu besar. Namun, Bilal tetap tabah menjalani penyiksaan itu. Dari mulutnya hanya terucap kata yang terus diulanginya, Ahad. Ahad. Ahad. Allah Maha Esa. Satu-satunya yang pantas disembah. Bukan berhalaberhala itu.

Ketenangan Bilal justru menyurutkan keberanian orang-orang musyrik itu. Mereka pun merayu Bilal dengan imingiming harta dan kebebasan bila ia mau menanggalkan iman dan Islam. Bilal tidak gentar. Ia terus melafalkan perkataan tauhid. Bahkan, tidak jarang senyum mengulas di bibirnya.

 

REPUBLIKA