Cinta Dunia, Bahaya dan Cara Menyikapinya

Penyakit cinta dunia (hubbud-dunya) adalah penyakit berbahaya, maka janganlah jadi hamba dunia

PENYAKIT Cinta dunia (hubbud-dunya) adalah penyakit masyarakat yang secara fakta ada dan sudah ditegas sendiri dalam Al-Quran. Berapa banyak kasus di sekitar kita, bahkan yang terbaru seorang jenderal bintang dua membunuh anak buah sendiri hingga merekayasa fakta, tujuanya tidak lain menyelamatkan kecintaanya pada dunia dan isinya.

Benang merah yang bisa diambil pelajaran kasus terbaru ini adalah; bahaya cinta dunia itu merusak dirinya sendiri dan orang lain. Dengan perilakunya ini menyebabkan hak-hak orang terampas oleh manusia serakah, pengidap penyakit cinta dunia.

Rasulullah ﷺ telah lama mengingatkan masalah ini;

حب الدنيا رأس كل خطيئة

“Cinta dunia adalah biang keladi dari semua kesalahan.” (HR. Baihaqi).

Bahkan Sayyidina Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu pernah berujar dalam khotbahnya, “Dunia ini ibarat ladang tempat makan orang baik dan orang jahat.”

Jika melihat berbagai ayat Al Qur’an serta hadis Nabi, mayoritas “orang tidak baik” lah yang mendominasi kehidupan di dunia ini. Karena hampir tidak ada yang tidak “menoleh’ kepada dunia kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah.

Imam Ghozali menyebutkan di dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang keburukan dunia sangat banyak sekali. Dan kebanyakan ayat-ayat Al Qur’an memuat mengenai keburukan (fitnah) dunia dan anjuran untuk memalingkan makhluk dari dunia serta mengajak kepada akhirat.

Zaid bin Arqom pernah bersama Sayyidina Abubakar Asshidiq Radiyallahu Anhu, saat itu beliau meminta minuman lalu diberikan kepadanya air dan madu. Maka ketika beliau telah kenyang dari minuman itu beliau menangis hingga sahabat-sahabatnya juga ikut menangis.

Lalu para sahabatnya itu diam dari tangisnya dan tidak demikian dengan Abubakar, beliau menangis lagi dan para sahabatnya menyangka bahwa Abubakar ada masalah yang mereka tidak mampu membantunya. Lalu Abubakar mengusap kedua matanya dan para sahabatnya bertanya, “Wahai Khalifah penerus Rasulullah ﷺ, apa yang membuat engkau menangis?”, Abubakar menjawab, “Aku pernah  bersama Rasulullah ﷺ dan aku melihat beliau menolak sesuatu dari dirinya padahal aku tidak melihat seorangpun bersamanya. Maka aku bertanya kepada beliau apa yang engkau tolak tadi? Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

هذه الدنيا مثلت لي فقلت لها إليك عني ثم رجعت فقالت إنك افلت مني لم يفلت مني من بعدك

“Inilah dunia menampakkan diri kepadaku dan aku berkata kepadanya pergilah dariku kemudian dia kembali dan berkata sesungguhnya engkau (Rasulullah ﷺ) bisa lepas dariku namun tidak akan ada yang bisa lepas dariku sepeninggalmu.” (HR. Bazzar, Hakim, Baihaqi).

Lihat bagaimana angkuhnya dunia yang memproklamirkan diri di depan Rasulullah ﷺ bahwa tidak ada yang bisa lepas dari cengkeramannya (dunia) sepeninggal Nabi Muhammad ﷺ kelak. Hujjatul Islam Imam Al Ghazali menukil sebuah hadis di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dalam bab fitnah (kejelekan) dunia yang berbunyi,

حديث موسى بن يسار “ان الله جل ثناؤه لم يخلق خلقا ابغض اليه من الدنيا وانه منذ خلقها لم ينظر

اليها” اخرجه ابن ابي الدنيا من هذا الوجه بلاغا وللبيهقي في الشعب من طريقه وهو مرسل

“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih dibenci daripada dunia. Dan sesungguhnya Allah tidak pernah melihat kepada dunia sejak Dia menciptakannya.” (HR. Ibnu Abi Dunya dan Baihaqi).

Lantas setelah melihat berbagai celaan kepada dunia yang banyak tersebar di Al-Quran dan Hadis Nabi tersebut, apakah itu artinya kita dilarang untuk ‘menikmati’ dunia? Tentu bukan demikian maksudnya.

Syeikh Abdul Wahhab As Sya’roni di dalam kitabnya mengatakan hendaknya kita meniru akhlak para Salaf Saleh dalam menyikapi dunia. Disebutkan oleh Imam Sya’roni bagaimana Salaf Saleh menyikapi dunia;

النظر إلى الدنيا بعين الاعتبار لا بعين المحبة لها وشهواتها، كما قد درج عليه جمهور السلف الصالح رضي الله عنهم

“Melihat kepada dunia dengan pandangan pertimbangan (untuk diambil pelajaran) bukan dengan pandangan cinta dan berkeinginan kepada dunia. Seperti yang dilakukan oleh mayoritas Salaf Soleh Radiyallahu Anhum” (Syekh Abdul Wahhab As Sya’roni, Kitab Tanbihul Mughtarin hal. 65, cet. Darul Kutub Islamiyyah Jakarta).

Hatim Al-A’shom pernah ditanya seseorang perihal kriteria manusia yang bisa menjadi Ahlul I’tibar,

وقيل لحاتم الأصم : متى يكون أحدنا من أهل الاعتبار فى الدنيا ؟

فقال : إذا رأى كل شيء فى الدنيا عاقبته إلى الخراب وصاحبه يذهب إلى التراب.

Ditanyakan kepada Hatim Al A’shom, “Kapan kita dianggap termasuk daripada orang yang bisa mengambil pelajaran di dunia? Hatim menjawab, “Tatkala sudah bisa melihat setiap sesuatu di dunia ini akibatnya adalah kehancuran dan pemilik (harta) dunia akan mati menjadi tanah.”

Maknanya adalah semua yang berkaitan dengan dunia akan musnah belaka, ini sesuai dengan firman Allah di dalam Al-Quran,

كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS: Al Qashash : 88)

Walhasil orang beriman telah diingatkan berkali-kali di dalam Al Qur’an bahwa  dunia adalah kesenangan yang menipu (QS. Al Hadid : 20). Maka mewaspadai tipuannya adalah sebuah keniscayaan.

Imam Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menukil wasiat dari Ruhullah Nabi Isa Alaihis Salam yang berbunyi,

وقال عيسى عليه السلام : لا تتخذوا الدنيا ربا فتتخذكم عبيدا

“Jangan kalian menjadikan dunia sebagai Tuhan, maka dunia akan menjadikan kalian sebagai hamba.”

Barangsiapa yang menjadi hamba dunia maka dunia akan menghancurkannya sehancur-hancurnya baik secara cepat atau lambat. Dan itu yang kini sedang terjadi di belahan dunia manapun di akhir zaman ini.

Lihat bagaimana para koruptor dan penguasa zalim. Kehancuran hidup mereka pasti akan datang, dan jika masih bisa lepas di dunia, ingat pengadilan akhirat sudah menanti.

Sebagai penutup, penulis ingin mengutip wasiat dari Nabi Isa ibnu Maryam Alaihis Salam yang bisa menjadi pegangan bagi orang beriman dalam menyikapi dunia. Beliau berkata,

وقال عيسى عليه السلام : لا يستقيم حب الدنيا والآخرة في مؤمن كما لا يستقيم الماء والنار في إناء واحد.

“Tidak (mungkin) tegak (akur) cinta dunia dan akhirat pada diri seorang mukmin seperti tidak akan bisa akur  air dan api di dalam satu wadah.” Wallahu A’lam Bis Showab.*/ Muhammad Syafii Kudo, murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

HIDAYATULLAH

Cinta Dunia Pangkal dari Segala Dosa

Manusia dihadapkan kepada dua pilihan selama hidup. Memilih kehidupan akhirat atau duniawi. Tak mudah untuk memilih salah satunya karena hal ini berhubungan dengan keimanan seseorang.

Ustaz Abu Ihsan Al Maidany dalam kajian Akibat Buruk Maksiat di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, belum lama ini, mengajak umat Islam agar mementingkan kehidupan akhirat ketimbang duniawi. Namun, bukan berarti sesuatu yang bersifat duniawi harus pula ditinggalkan. Ia harus melakukannya secara proporsional.

“Cinta dunia pangkal dari segala dosa,” ujar Ustaz Ihsan menyampaikan pendapat dari Ibnu Qoyyum.

Kecintaan kepada hal yang ber sifat duniawi agar tidak berlebihan. Sebab, dampak dari kecintaan yang berlebihan tersebut digambarkan lebih ganas daripada serigala. Artinya, ketika mereka ter buai oleh duniawi, potensi mela kukan maksiat semakin besar.

Kecintaan kepada duniawi yang berlebihan akan membuat ma nusia terseret ke dalam kemaksiatan. Ironisnya, mereka justru tak merasa bahwa yang dilakukan adalah sebuah kemak- siatan.

Ia mencontohkan seseorang yang meninggalkan ibadah shalat akan cenderung menunda shalat karena disibukkan oleh pekerjaan duniawi. Sehingga, pada akhirnya mereka tak melaksanakannya dan terus berulang-ulang. Kita kadang dipermainkan setan karena dunia itu. Satu demi satu per kara dosa dianggap biasa,ka ta Ustaz Ihsan.

Ustaz Ihsan mengungkapkan, banyak orang pada zaman ini yang meremehkan urusan akhirat. Mereka meyakini bahwa perto batan dapat dilakukannya ketika kesuksesan duniawi berhasil diraihnya. Namun, menurut Ustaz Ihsan, kenyataannya justru se baliknya, yaitu banyak di antara mereka yang sulit untuk berto- bat. Oleh karena itu, Ustaz Ihsan menegaskan, belum tentu mereka yang mencintai duniawi secara berlebihan dapat fokus terhadap urusan akhirat. Maka dari itu, tidak bisa disatukan dunia dan akhirat, kata Ustaz Ihsan.

Ia menuturkan, Allah SWT telah mengatakan, dalam firman- nya bahwa urusan akhirat lebih baik ketimbang duniawi. Sesuatu yang berkaitan dengan akhirat ia akan lebih kekal. Tetapi, untuk mencapai kesuksesan tersebut, tidak akan mudah karena selalu mendapatkan gangguan dari setan.

Makhluk ini, lanjut Ustaz Ihsan, tidak menginginkan manusia mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, ia tak pernah berhenti untuk menggang gu manusia dengan berbagai godaan. Salah satu contohnya ada lah menggiring manusia untuk mencintai duniawi secara ber lebihan hingga lupa terhadap akhirat. Mau dapat dua-duanya sulit. Ada konsekuensinya. Kalau mau akhirat, harus rajin ibadah,tuturnya.

Kondisi seseorang yang memi lih fokus kepada kehidupan akhirat penuh dengan tantangan.

Dia menjelaskan, mereka akan tidak mudah mendapatkan peker jaan atau bisnis yang dijalankan tak berkembang. Situasi seperti itu banyak ditemui pada kehidupan masyarakat.

Ustaz Ihsan mengingatkan kepada seluruh Muslim khususnya mereka yang usianya sudah tua agar segera memfokuskan diri kepada urusan akhirat. Meninggalkan segala dosa adalah cara satu-satunya agar nantinya selamat.

Ustaz Ihsan mengungkapkan, ada banyak dampak negatif bagi mereka yang berbuat dosa antara lain ia akan terhalang untuk mendapatkan hidayah dari Allah.

Selain itu, mereka akan terhalang dari ilmu dan kebenaran. Orang berbuat maksiat semakin lama semakin keras hatinya. Sehingga, gakbisa membedakan yang baik dan buruk. Gakmempan lagi dengan nasihat, ucapnya.

Ustaz Ihsan menambahkan, berbuat dosa juga akan membuat manusia jauh dari rahmat Allah atau kasih sayang-Nya. Termasuk dijauhkan dari keberkahan dan keberuntungan. Padahal, keberkahan sendiri bisa mendatangkan kemaslahatan.

Kemaksiatan pun membuat Allah mencabut rezeki kepada mereka yang melakukannya. Untuk itu, kemaksiatan harus dihindari supaya selama kehidupan mendapatkan happy endingHappy ending tersebut hanya bisa didapatkan oleh mereka yang bertakwa. Yang paling meletihkan dalam hidup perang melawan setan. Dia gakada jedanya, kata dia menegaskan.

REPUBLIKA

Kerugian Bila Hati Tertambat pada Dunia

KEINDAHAN dunia akan nampak mempesona bila mata ini masih terbuka. Lakukan karya terbaik dalam hidup kita selama kesempatan masih ada.

Tak akan ada kesempatan kedua dalam kisah perjalanan manusia. Dan bila tiba masanya tak akan ada yang bisa menghindarinya. Hanya amal kebajikan yang jadi teman sejatinya.

Kerugian bila hati tertambat pada dunia. Tujulah akhirat, dunia pun akan kita dapat. Bila hanya dunia yang jadi tujuan ingatlah bahwa hidup di dunia hanya sesaat lewat.

Hasan Al Bisri menasihati kita:

“Siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dengan meninggalkan kepentingan hidup di akhirat, maka Allah Ta’ala akan memberikan enam sanksi, tiga di dunia dan tiga lagi di akhirat.”

Tiga di dunia yaitu:
(1) angan-angan yang tidak ada habisnya.
(2) ketamakan yang luar biasa berkobar-kobarnya sehingga tidak ada qanaah sedikitpun.
(3) dicabut kelezatan ibadah darinya.

Adapun tiga di akhirat ialah:
(1) keguncangan pada hari kiamat.
(2) kekerasan dalam hisab.
(3) kerugian yang berkepanjangan.

Kesempatan belum tentu berulang apalagi kesempatan kita untuk beramal. Karena hidup ini dibatasi oleh ajal. Maka jangan sampai diri terjungkal kala diri tiada punya amal untuk menuju kehidupan kekal.

[Ustadzah Rochma Yulika/iman-islam]

 

INILAH MOZAIK

Hakikat Cinta Dunia

Cinta dunia adalah salah satu penyakit akhir zaman yang dikhawatirkan oleh Rasulallah SAW akan menimpa umatnya. Penyakit ini akan meyebabkan umat Islam menjadi lemah.

Walaupun jumlahnya banyak dan mayoritas, kekuatannya akan seperti buih di lautan, membubung tapi keropos.Besar tapi rapuh. Akibatnya, umat Islam akan menjadi santapan renyah yang diperebutkan oleh musuh, seperti makanan di atas meja yang diperebutkan anjing.

Kondisi tersebut digambarkan Nabi SAW: “Hampir tiba masa di mana kalian diperebutkan sebagaimana sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Seorang sahabat bertanya: Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulallah? Rasulullah bersabda: Tidak. Bahkan saat itu jumlah kalian sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kalian tertimpa penyakit wahn.

Sahabat bertanya: Apakah penyakit wahnitu, ya Rasulallah? Beliau menjawab: Penyakit wahnitu adalah cinta dunia dan takut mati. (HR Abu Daud).

Cinta dunia tidak terkait langsung dengan mencari, memiliki, dan menggunakannya, tapi terkait dengan cara menyimpannya. Mencari, memiliki, dan menggunakan dunia tidak dilarang, bahkan dianjurkan. Asalkan dunia yang dicari dan dimiliki tidak dipakai untuk merusak, tapi memperbaiki (kemaslahatan) (QS al-Qashash [28]: 77). Cinta dunia lebih terkait dengan cara menyimpannya.

Secara simbolik ada tiga cara menyimpan dunia, yaitu di tangan, di bawah kaki, dan di dalam hati. Menyimpan dunia di tangan dan di bawah kaki tidak berbahaya karena tidak akan melahirkan cinta dunia. Namun, menyimpannya di dalam hati sangat berbahaya karena cara demikian termasuk cinta dunia.

Orang yang menyimpan dunia di tangan menganggap bahwa dunia yang berada digenggamannya bukan miliknya, tapi hanya titipan Allah SWT. Oleh karena itu, ia tidak akan menahannya jika harus dilepas dan tidak akan melepasnya jika harus ditahan. Ada dan tidak adanya dunia di tangan tidak memengaruhi kehidupannya.

Anggapan yang sama ada pada orang yang menyimpan dunia di bawah kakinya. Dunia dianggap tidak lebih mulia dari dirinya, sehingga diinjaknya. Dunia tidak dibiarkan mengatur dirinya, tapi ia yang mengaturnya. Baginya, dunia hanya sarana untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, bukan tujuan. Oleh karena itu, keberadaan dunia tidak banyak memengaruhi kehidupannya.

Adapun orang yang menyimpan dunia di dalam hati meyakini bahwa dunia yang ada digenggamannya semua miliknya, bukan titipan Allah SWT. Akibatnya, dunia sangat memengaruhi kehidupannya. Kebahagiaan dan kesedihannya sangat ditentukan oleh ada dan tidak adanya dunia. Dunia yang hilang, tapi hati yang sakit. Inilah hakikat cinta dunia.

Bibit-bibit cinta dunia yang dikhawatirkan oleh Nabi SAW mulai terlihat pada zaman Khulafa ar-Rasyidin, ketika pembendaharaan dunia terbuka bersamaan dengan meluasnya kekuasaan kaum Muslimin. Kekhawatiran tersebut diekspresikan pada doa Khalifah Umar bin Khattab: “Ya, Allah jadikanlah dunia dalam genggaman kami, jangan jadikan dunia di dalam hati-hati kami”. Wallahu a’lam.

OLEH: Karman

 

REPUBLIKA

Jangan Lelahkan Hidupmu untuk Dunia

MANUSIA satu sisi adalah makhluk yang sempurna karena kemampuannya berpikir yang digunakan untuk istiqomah di jalan yang lurus.

Namun, satu sisi, manusia adalah makhluk yang paling susah bahagia, karena besarnya angan-angan dunia, yang membuat hidupnya sibuk hingga lupa menjalankan tugas-tugas penting sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah.

Tidak sedikit orang yang karena pekerjaannya, mendapatkan income besar setiap bulannya, tapi sholat menjadi tidak sempat, mendidik anak apalagi.

Ada banyak orang yang bisa wisata ke berbagai penjuru bumi, namun menyantuni anak yatim tidak pernah, peduli terhadap Muslim yang teraniaya apalagi.

Dan, dibalik itu semua, ternyata mereka adalah orang yang hidup dalam ketidaktenangan, ketidakbahagiaan, dan karena itu, semakin hari hidup mereka dikendalikan oleh obsesi demi obsesi tentang materi.

Dr. Muslih Muhammad dalam bukunya Emotional Intelligence of Al-Qur’an mengisahkan kehidupan keluarga di Kairo Mesir.

Dia adalah seorang pria berusia 35 tahun dengan dua anak yang masih kecil. Ia dan istrinya sama-sama sebagai pegawai pemerintah. Keduanya memulai rumah tangga dengan keuangan yang pas-pasan.

Meski demikian, kehidupan mereka terus berjalan dalam cinta dan kasih sayang. Kehidupan mereka hanya ditopang oleh pengaturan belanja dari penghasilan tetap dari pekerjaan mereka berdua. Namun kemudian ada hasrat mendesak untuk memiliki berbagai perkakas rumah tangga modern dan kasur yang lebih baik.

Akhirnya, keduanya tergelinir pada hutan untuk keperluan berbagai barang yang harus mereka beli, hingga mereka berdua mengalami kehidupan yang sangat sempit.

Karena keduanya masih menjaga imannya, korupsi bukan jadi pilihannya. Mereka memilih bekerja paruh waktu. Alhasil terpenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, termasuk untuk mencicil hutang.

Akan tetapi, betapa banyak kebahagiaan yang terenggut dari kehidupan rumah tangganya. Mereka berdua terjebak rutinitas yang luar biasa sibuk untuk mendapatkan gaji pokok dan gaji tambahan.

Hidupnya menjadi sibuk hanya untuk mewujudkan kesuksesan dan keuntungan bagi pemilik perusahaan, serta untuk membenahi berbagai problematika sosialnya yang tidak ada habisnya. Semua itu banyak menita waktu istirahat pekanannya. Ia juga merasa asing terhadap kedua anaknya, karena ia selalu pulang malam. Ketika itu mereka berdua langsung tertidur lelap.

Bahkan, ia dan isterinya merasa seolah-olah terpisah dari masyarakatnya. Mereka tidak pernah mengunjungi seorang pun, yang akibatnya tak seorang pun mengunjungi mereka. Karena mereka berangkat Shubuh, pulang larut malam.

Mereka menghabiskan siang untuk bekerja keras, lalau malam menyantap makanan-makanan hambar di berbagai restoran, belum lagi dengan kesusahan dan kesedihan yang menipa mereka akibat tingkah laku pemilik perusahaan dan tipu dayanya.

Sampai muncul pertanyaan di dalam hatinya.

“Jika aku berhenti dari kerja sambilan ini, apakah aku akan mati kelaparan? Tidak akan!”

Karena belum pernah terjadi kami mengalami bahaya kelaparan, meski dalam kondisi kesulitan materi.

“Lalu apakah rumah kami akan kehilangan sesuatu yang dapat membuat kami tidak dapat melangsungkan kehidupan normal? Tidak akan!”

“Karena semua faktor kehidupan normal telah terpenuhi oleh penghasilan yang kami dapatkan. Meskipun sebagian perabot sudah kuno, tapi kami sudah terbiasa. Bahkan kami siap untuk memulai hidup lebih prihatin dari kehidupan normal yang telah kami jalani.”

Bukan Soal Gengsi

Jika demikian apa yang harus ditakutkan, dan untuk apa harus takut, tidak ada sama sekali yang perlu ditakutkan. Ya harus dilakukan adalah berhenti dari berlomba menumpuk kekayaan, mengutamakan penampilan dan gengsi-gengsi dalam kehidupan sosial.

Padahal sejatinya hidup bukanlah soal gengsi, tetapi kemanfaatan diri bagi agama, manusia dan kehidupan.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita, pada suatu hari Rasulullah keluar dan memegang tangan Abu Dzar.

Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, di hadapanmu ada jalan mendaki yang sukar. Tidak ada yang mampu mendakinya, selain orang-orang yang ringan.”

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku termasuk orang yang ringan atau orang yang berat?”

Beliau menjawab dengan bertanya, “Apakah kamu punya makanan untuk hari ini?

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya lagi, “Dan makanan untuk esok hari?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya lagi, “Dan makanan untuk esok lusa?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Jika kamu punya makanan untuk tiga hari, maka kamu termasuk orang-orang yang berat.” (HR. Thabrani).

Kemudian lebih lanjut Dr Muslih Muhammad menulis, “Penulis yakin akan adanya berbagai masalah yang akan kita temukan. Semua orang berambisi mendapatkan limpahan materi. yang semua itu mengharuskannya untuk sibuk, yang mengakibatkan matinya hubungan sosial, shalat yang terputus, nilai-nilai yang menurun, hilangnya keamanan, serta kasih sayang dan cinta yang menguap dari kehidupan kita. Ditambah dengan berbagai racun yang melekat pada jiwa, yaitu; dengki, cemburu, tamak, pembangkangan, dan ambisi terhadap dunia dan tak menganggap akhirat.”

 

Pepatah Arab mengatakan, “Siapa yang berakal, niscaya ia akan ridha terhadap dunia yang hanya secukupnya. Ia tidak sibuk mengumpulkannya. Namun ia sibuk mengerjakan pekerjaan akhirat, karena akhirat adalah negeri yang pasti dan negeri kenikmatan. Sedangkan dunia adalah negeri yang fana (akan hancur). Dunia adalah penipu dan pembuat bencana.”

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shalllallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Akan menimpa umatku racun umat-umat lain. Para sahabat bertanya, “Apa itu racun umat-umat lain?”

Rasulullah Shalllallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Bersenang-senang tanpa batas, sombong, memperbanyak harta, perlombaan di dunia, saling menjauh, saling mendengki, hingga terjadi pembangkangan, kemudian kekacauan.” (HR. Thabrani).

Lantas apa yang mesti kita jalani agar hidup tak terhimpit dunia, dan itu adalah kunci kebahagiaan hidup dunia-akhirat?

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاء اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Sungguh berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mukminun (23):24). Inilah jalan kebahagian hakiki yang semestinya kita jalani, agar hidup tak “disiksa” dunia. Wallahu a’lam.*

 

HIDAYATULLAH

Aku Masih Cinta Dunia, Ini Tandanya

Kemarin malam, setelah mengisi pengajian di salah satu masjid, mataku dilanda kantuk. Inginnya langsung tidur. Namun, entah mengapa kaki justru melangkah ke meja lalu tangan membuka laptop.

Aku membuka salah satu website-ku yang sudah cukup lama tidak update. Beruntung, SEO-nya cukup bagus sehingga masih ada traffic tiap hari.

“Your domain has expired, if you are the owner of this domain, please immediately renew your domain names.” Peringatan itu langsung membuat mata terbuka. Kantuk hilang. Ya Allah… ternyata notifikasi emailku sedang bermasalah sehingga tidak tahu ada reminder pembaruan domain hingga invoice.

Segera kubuka website penyedia domain, memilih menu perpanjangan domain. Alhamdulillah internet banking masih ada saldo. Paginya, website itu telah kembali.

Sehari sebelumnya, aku tidak bisa tidur hingga jam 1 dini hari. Gara-garanya, setelah menyelesaikan beberapa aktifitas, ada pesan dari teman bahwa ada undangan ke luar kota dua pekan lagi. Rencananya, rombongan dua keluarga. Jadilah malam itu berburu tiket promo. Jam malam, aplikasi tiket online menolak internet banking. Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk browsing, harus beberapa kali ke ATM untuk transfer.

Saat harus memperpanjang domain dan berburu tiket promo, yang notabene urusan dunia karena resikonya hanya rupiah, mengapa kantukku hilang? Sedangkan saat tilawah belum selesai satu juz, aku bisa tidur dengan nyenyak?

“Ah, besok juga bisa dirapel,” begitu godaannya.

“Akhi, kalau rapelan begini namanya bukan ODOJ,” sang admin tegas mengingatkan.

Ya Allah… aku masih cinta dunia. Saat urusan dunia, aku bersegera menyelesaikannya. Namun saat urusan akhirat, aku berlambat-lambat.

Betapa jauhnya diri ini dari generasi terbaik yang ditarbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hanya terlambat shalat Ashar karena memeriksa kebunnya, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melakukan mua’qabah. Menginfakkan kebun yang membuatnya terlambat shalat jamaah tersebut.

Betapa jauhnya diri ini dari para sahabat yang dibina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu minta targetnya dinaikkan saat disuruh Rasulullah mengkhatamkan Al Quran sekali dalam sebulan. “Aku masih kuat lebih dari itu ya Rasulullah.” Dinaikkan, khatam sekali dalam sepekan. “Aku masih kuat lebih dari itu ya Rasulullah.” Akhirnya targetnya dinaikkan menjadi khatam sekali setiap tiga hari.

Apakah Anda juga mengalami hal yang kira-kira sama? Jika iya, mari kita bersama-sama memperbaiki diri. Mari kita banyak-banyak beristighfar. Memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan marilah kita berdoa agar Allah menjadikan dunia hanya di tangan kita. Tidak menjadi kepentingan terbesar dan menguasai hati kita.

اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai kepentingan terbesar kami dan janganlah Engkau jadikan musibah kami di dalam urusan agama kami, duhai Dzat yang Maha Mengasihi dan Menyayangi. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

 

BERSAMA DAKWAH

Ciri Penyakit Cinta Dunia

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt, Dzat Yang Maha Sempurna dalam menciptakan dan mengurus segala ciptaan-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, ciri-ciri penyakit cinta dunia di antaranya yang pertama,dilanda kebingungan yang tiada ujung. Ia sibuk memikirkan makhluk atau ciptaan, sedangkan ia lupa kepada Dzat Yang Maha Pencipta, sehingga bingunglah ia.

Ia bingung mengurus anak, bingung mengurus rumahtangga, bingung mengurus kerjaan. Baru bangun tidur pagi-pagi sudah bingung memikirkan hal-hal itu. Padahal jika yang ia pikirkan adalah Allah, kemudian ia berdoa di pagi hari, maka akan tenanglah hatinya.

Kedua, diperbudak kesibukan. Ada orang yang andaipun jatah waktunya ditambah dari 24 jam menjadi 36 jam, tetap saja sibuk seperti tak pernah reda. Mau tilawah Al Quran seperti tak ada waktu. Sholat juga ditunda-tunda, kalaupun terlaksana akan kilat terburu-buru. Sedangkan pekerjaannya seperti tak beres-beres. Mengapa? Karena ia tidak diberi petunjuk oleh Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw adalah orang yang sangat sibuk, banyak sekali urusan-urusan besar yang harus beliau kerjakan. Namun, semuanya beres dan beliau tetap dalam keadaan tenang menunaikan ibadah secara khusyu dan tumaninah. Kuncinya adalah petunjuk Allah yang membuat setiap gerakan dan ucapan menjadi sangat efektif. Maka, kita perlu senantiasa mendahulukan Allah di atas segala-galanya agar kita dibimbing oleh-Nya.

Ketiga, kebutuhan yang tiada pernah tercukupi. Ada orang yang punya uang berapapun, sebanyak apapun, tetap saja kurang. Punya kambing 99 ekor, tetap gelisah memikirkan kambing tetangga yang satu ekor karena ingin punya 100 ekor. Begitu seterusnya. Padahal Allah Swt. berfirman, “..Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”(QS. Ath Tholaq [65] : 3)

Maka, kebutuhan kita terpenuhi bukan karena kita kaya raya, bukan karena kita banyak uang sehingga bisa membeli apa saja, namun karena Allah-lah yang mencukupi kita. Kuncinya bukanlah pada banyaknya harta, tapi pada tawakal kita kepada Allah Swt.

Keempat,panjang angan-angan, terus-menerus memikirkan apa yang tidak ada. Orang yang cinta dunia juga tidak pernah merasa puas atas apa yang dimilikinya. Baru saja punya mobil baru, sudah memikirkan model apa lagi yang akan keluar dan ingin membelinya. Padahal mobil yang baru dibeli juga baru dimulai cicilannya. Akhirnya, orang yang demikian menjadi jauh dari sikap syukur, yang terjadi malah terjerumus pada sikap kufur.

Demikianlah saudaraku, empat ciri dari penyakit cinta dunia. Bukan tidak boleh kita menguasai hal-hal yang duniawi, karena Allah menyediakan dunia seisinya adalah untuk kita kelola. Akan tetapi yang tidak boleh adalah jika duniawi ini membuat kita lupa pada Allah Swt., Dzat Yang Maha Kuasa yang telah menitipkannya kepada kita.

Apa saja yang kita miliki adalah sarana untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Semoga kita jauh dari penyakit cinta dunia. [*]

 

 

sumber:Mozaik Islam