Bukti Rasul Cinta Umatnya: Mendoakan di Waktu Pagi

“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Marilah kita memperhatikan doa Nabi untuk umatnya, bahwa beliau mendoakan keberkahan bagi umatnya, di pagi harinya.

Waktu pagi adalah waktu yang penuh dengan berkah, terlebih jika dimanfaatkan untuk hal-hal dan aktivitas yang bermanfaat.

Tentunya bagi orang-orang yang melaksanakan salat subuh berjemaah dan tidak tidur lagi dia akan mendapatkan keberkahan dari Allah Taala. Karena didoakan oleh Rasulullah.

Namun tidak sedikit di antara manusia yang melalui waktu paginya dengan tidur terlelap, tidak bangun dari tidurnya kecuali setelah matahari meninggi.

Atau ada juga yang menghabiskan waktu paginya dengan bermalas-malasan, sehingga diapun jatuh dalam pelukan selimut dan guling, yang pada akhirnya dia terseret ke dunia lain dalam mimpi dan khayalan.

Sebaiknya kita isi waktu pagi dengan aktifitas yang bernilai ibadah dengan mengharapkan pahala di sisi Allah Taala, dengan itu kitapun mendapatkan doa Rasulullah berupa keberkahan di waktu pagi.

Ya Allah berkahilah kehidupan kami di dunia ini. Aamiin. [Ust. Fuad Hamzah Baraba LC]

INILAH MOZAIK

Ketika Cinta Rasulullah Bertepuk Sebelah Tangan

Perjalanan rumah tangga Rasulullah dengan Khadijah menjadi salah satu kisah cinta paling romantis sepanjang masa. Namun, meski sangat mencintai Khadijah, perempuan mulia itu ternyata bukan cinta pertama Rasulullah. Lalu siapakah perempuan yang mampu membuat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam jatuh hati untuk kali pertama?

Fakhitah, nama perempuan itu. Putri pamannya, Abu Thalib sekaligus sepupunya itulah yang menjadi cinta pertama Rasulullah. Saat berusia 20 tahun atau lima tahun sebelum menikahi Khadijah, Rasulullah sempat melamar Fakhitah. Namun harapannya bersanding dengan sang sepupu untuk membangun rumah tangga tak terwujud.

Lamarannya ditolak pamannya sendiri, Abu Thalib. Sang paman ingin menikahkan putrinya yang kemudian dipanggil Umm Hani itu kepada pria dari silsilah keluarga Aminah, ibu Rasulullah.

Dikutip dari buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings, Umm Hani merupakan putri dari paman Rasulullah, Abu Thalib. Rasa cinta tumbuh di hati Muhammad muda. Kemudian Muhammad saat itu memohon kepada pamannya agar diizinkan menikahi putrinya.

Namun, Abu Thalib memiliki rencana lain. Hubayrah, putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum, juga telah melamar Umm Hani.

Hubayrah bukan saja seorang pria yang kaya raya, tetapi juga seorang penyair berbakat, seperti halnya Abu Thalib sendiri. Terlebih lagi kekuasaan Bani Makhzum di Mekkah demikian meningkat seiring dengan merosotnya kekuasaan Bani Hasyim. Kepada Hubayrah-lah Abu Thalib menikahkan putrinya, Umm Hani.

“Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kita nikahi (Aminah), maka seorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan mereka,” kata Abu Thalib dengan lembut kepada Muhammad muda.

Abu Thalib menjelaskan keputusannya menikahkan Umm Hani dengan Hubayrah demi menjaga hubungan baik kedua kabilah, sesuai tradisi arab kala itu. Dengan berlapang dada, Muhammad muda menerima penolakan paman yang amat dicintainya.

Meski ditinggal menikah oleh perempuan yang dicintainya, Muhammad muda tak lantas terus larut dalam kesedihan. Seorang saudagar perempuan terkaya di Mekkah, Khadijah dari Suku Asad, diam-diam memerhatikan Muhammad. Caranya mendekati Muhammad sangat elegan. Khadijah menjadikan Muhammad sebagai mitra kerja yang mendagangkan hartanya. Khadijah memilihnya karena nama Muhammad telah dikenal di penjuru Mekkah sebagai Al-amin, orang yang terpercaya, yang dapat diandalkan, jujur.

Khadijah yang tertarik kepada Muhammad kemudian melamarnya, meskipun ia lebih tua 15 tahun dari pemuda yang kelak menjadi nabi dan rasul terakhir. Pernikahan mereka sangat diberkahi dan penuh kebahagiaan, meskipun bukan berarti tidak pernah sedih atau merasa kehilangan. Selain berperan sebagai istri yang baik, Khadijah juga menjadi sahabat bagi suaminya, tempat berbagi suka cita hingga pada tingkat yang luar biasa.

Bersama Khadijah, Rasulullah memiliki enam anak, dua putra dan empat putri. Putra sulungnya diberi nama Qasim, yang meninggal sebelum berusia dua tahun. Berikutnya seorang putri bernama Zaynab, disusul dengan tiga putri lainnya yaitu Ruqayyah, Umm Kultsum dan Fathimah. Dan yang terakhir seorang putra lagi yaitu Abdullah, yang juga tidak berusia panjang.

Pada tahun 619 Masehi, Rasulullah merasa kehilangan besar atas kematian istrinya, Khadijah. Khadijah kira-kira berusia 65 tahun, sedangkan Rasullullah shalallahu alaihi wassalam berusia 50 tahun. Mereka telah hidup bersama secara harmonis selama 25 tahun. Khadijah bukan hanya istri Rasulullah, tetapi juga sahabat dekatnya, penasihatnya, dan ibu seluruh keluarganya.

Keempat putrinya dirundung perasaan duka cita, tetapi Rasulullah menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa Jibril baru saja datang kepadanya, mengucapkan selamat dan mengatakan, “Allah telah menyiapkan tempat tinggal baginya (Khadijah) di surga.”

Saat Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul, Fakhitah menjadi pengikutnya. Keputusan memeluk Islam membuat Fakhitah berpisah dengan suaminya, Hubayrah yang enggan masuk Islam. Ketika sudah menjadi janda, Fakhitah mengurus empat anaknya sendirian.

Setelah ditinggal wafat Khadijah, Rasulullah sempat kembali melamar sepupunya tersebut. Cinta pertamanya. Namun, Rasulullah kembali ditolak. Jika dulu pamannya yang menolak, kini Fakhitah yang menolak lamaran Rasulullah.

“Wahai Rasulullah tidak ada wanita yang tak ingin menjadi istrimu, begitu pula denganku, aku memiliki banyak anak, jika aku menikah denganmu aku bingung aku harus memilih berat ke mana. Kalau aku berat kepada suami, aku takut menelantarkan anak-anakku yang masih kecil, dan jika aku berat kepada anak aku takut zalim kepada hak suamiku. Daripada aku menjadi orang yang zalim jadi Rasulullah, maaf saya tidak bisa menerima lamaranmu.”

Banyak Berselawat Bisa Dekat Rasulullah di Akhirat

DEKAT dengan seseorang yang berpengaruh adalah kebanggaan bagi banyak orang. Karenanya ada orang yang berusaha mendekati orang kaya, mendekati pengusaha, atau mendekati penguasa. Jika sudah dekat, tentu saja ia akan tertulari pengaruh tokoh tersebut.

Di akhirat, tidak berguna kekayaan dan jabatan. Pada saat itu, tidak ada bedanya antara orang kaya dan orang miskin. Tidak ada bedanya antara pengusaha dan buruh. Tak ada bedanya antara penguasa dan rakyat jelata. Yang membedakan adalah iman dan amalnya; yang membedakan adalah ketaqwaannya.

Di akhirat, Rasulullah adalah manusia sentral yang kepadanya manusia berbondong-bondong meminta syafaat. Maka dekat dengan Rasulullah pada saat itu adalah kesuksesan besar. Kedudukannya menjadi mulia, posisinya aman, dan dijamin selamat dari dahsyatnya adzab.

Bagaimana cara menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah di akhirat? Siapakah orang yang paling dekat dengan Rasulullah di hari kiamat? Beliau sendiri telah memberitahukan kepada umatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

“Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku” (HR. Tirmidzi; hasan)

Syaikh Mushthofa Al Bugho dan empat ulama lainnya dalam Nuzhatul Muttaqin menjelaskan, “Hadits ini berisi anjuran memperbanyak selawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tingginya derajat orang yang memperbanyak selawat di hari kiamat kelak.”

Para ulama menerangkan, ketika dalam hadits disebut hari kiamat, yang dimaksud bukanlah sebatas saat kiamat saja. Tetapi sering kali maksudnya adalah akhirat. Tergantung konteks hadis tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah yang menyebutkan al hajju arafah. Haji adalah wukuf di Arafah. Tentu saja, wukuf bukanlah keseluruhan haji.

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Abu Yala:

“Sesungguhnya Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban)

“Ketahuilah, sesungguhnya orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak berselawat kepadaku” (HR. Abu Yala)

Jadi, salah satu cara menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah dengan memperbanyak shalawat. Siapa mukmin yang paling banyak membaca selawat, insya Allah ia akan menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah di akhirat.

Tentu saja ada amal lain yang menjadikan seseorang dekat dengan Rasulullah. Misalnya menyantuni anak yatim, yang oleh Rasulullah disebutkan keutamaannya:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” sabda beliau sambil mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau dengan agak merenggangkan keduanya. (HR. Al Bukhari). Wallahu alam bish shawab. [bersamadakwah]

 

MOZAIK

Cinta Sejati Kita kepada Rasulullah SAW

Mengimani Rasulullah SAW adalah bagian dari rukun iman yang mesti dimiliki oleh setiap mukmin. Keimanan tersebut salah satunya diwujudkan dalam bentuk kecintaan kita kepada Nabi Muhammad selaku utusan Allah yang terakhir.

Pertanyaannya, bagaimana caranya mencintai Rasulullah SAW dengan benar? Persoalan itulah yang berusaha dijawab oleh Dr Sofyan bin Fuad Baswedan dalam kajian Islam yang digelar oleh Majelis Taklim Sidra Masjid al-Hidayah Kompleks Bank Indonesia (BI) Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (13/5) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, mubaligh asal Surakarta, Jawa Tengah, itu menuturkan, cinta kepada Rasulullah antara lain dapat dibuktikan dengan menaati perintah agama, termasuk sunah-sunah yang dibawakan oleh beliau SAW. Selain itu, kecintaan kepada Rasulullah juga dapat ditunjukkan dengan cara menjauhi berbagai perkara yang dilarang oleh agama.

Kendati demikian, kata dia, dalam praktiknya tidak semua Muslim mampu menjalankan perintah agama secara menyeluruh. Sebagian dari mereka ada yang masih melalaikan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Sebagian dari mereka ada pula yang melanggar larangan-larangan agama.

“Ketika seseorang meninggalkan perintah agama yang sifatnya wajib, dia merasa berdosa. Begitu pula ketika melanggar apa yang dilarang agama, dia merasa berdosa. Inilah bentuk cinta paling minimal dari seorang Muslim kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Sofyan.

Seseorang yang mengaku mencintai Rasullah SAW, kata dia, harus meyakini segala perkara gaib dalam Islam. Beberapa contoh perkara gaib itu antara lain turunnya wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, peristiwa Isra dan Mi’raj, datangnya hari kiamat, serta keberadaan surga dan neraka.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, ketika Rasullah SAW menceritakan kepada penduduk Makkah tentang peristiwa Isra dan Mi’raj, banyak orang kafir di kota itu yang mengolok-olok nabi. Tidak hanya itu, di antara orang-orang yang baru memeluk Islam pada waktu itu bahkan ada yang menjadi murtad kembali, lantaran tidak percaya dengan mukjizat Rasulullah SAW tersebut.

Mereka menilai, baik peristiwa Isra (perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis) maupun Mi’raj (perjalanan Nabi SAW dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha), sangatlah tidak masuk akal. Pasalnya, jarak dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis di Palestina mencapai 1.500 kilometer, sehingga perjananan antara keduanya pada masa itu membutuhkan waktu lebih kurang satu bulan. Sementara, Rasulullah SAW mampu menuntaskan perjalanan tersebut hanya dalam waktu satu malam.

Apalagi dengan perjalanan menuju Sidratul Muntaha yang lokasinya berada di atas langit ketujuh. Kaum kafir Makkah dan orang-orang yang lemah iman menganggap peristiwa itu sebagai perkara yang mustahil untuk dicerna logika.

Namun, ketika kabar tentang Isra dan Mi’raj sampai ke telinga Abu Bakar RA, dia langsung menyatakan keyakinannya kepada Rasulullah. Tidak sekadar memercayai, Abu Bakar bahkan juga membenarkan seluruh peristiwa yang dialami oleh Nabi SAW tersebut, sehingga dia pun diberi gelar ash-Shiddiq (yang berkata ‘benar’).

“(Apa yang ditunjukkan oleh Abu Bakar) itu adalah sikap orang yang betul-betul memahami hakikat cinta kepada Nabi SAW. Karena konsekuensi dari iman kepada Rasulullah itu adalah memercayai apa pun yang beliau bawa, termasuk perkara-perkara gaib yang bahkan sulit dijangkau oleh akal kita sekalipun,” kata Sofyan.

Selanjutnya, cinta kepada Rasulullah dapat diwujudkan dengan mendahulukan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW di atas semua ajaran yang ada di dunia ini. Dengan kata lain, setiap Muslim yang mengaku mencintai Rasulullah sudah seharusnya menjalankan perintah agama sesuai dengan sunah atau tuntunan yang beliau SAW ajarkan. Menurut Sofyan, seseorang yang menyelisihi sunah —atau bahkan merekayasa ritual peribadatan tertentu di dalam Islam— pada hakikatnya belum mampu menunjukkan cinta yang sejati kepada Nabi SAW.

Pada hari kiamat nanti, orang-orang yang melakukan bid’ah dalam urusan agama akan kecewa berat. Tak hanya itu, Nabi SAW pun akan kecewa berat dengan mereka. Dalam satu hadis disebutkan, “Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim AS. Ingatlah bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri. Maka kutanyakan: ‘Yaa Rabbi, bukankah mereka adalah sahabatku?’ Akan tetapi jawabannya adalah: ‘Kamu tidak tahu tentang apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.” (Hadis muttafaq alaih).

Majelis Taklim Sidra Masjid al-Hidayah Pancoran rutin mengadakan kajian Islam sejak 2016. Setiap harinya, pemateri atau penceramah yang dihadirkan di majelis itu selalu berganti-ganti, dengan tema kajian yang cukup variatif. “Mulai dari fikih, akidah, akhlak, hingga tafsir,” ungkap salah satu jamaah MT Sidra, Fauzan Zaphran Hafiz.

 

REPUBLIKA

Kelembutan Cinta Rasulullah kepada Istri-istrinya

RASULULLAH SAW sangat mencintai dan lembut pada istri-istrinya. Berikut adalah contoh sikap luar biasa beliau yang harus diteladani oleh setiap suami:

– Rasulullah SAW tidak pernah menyusahkan istrinya. Jika pakaiannya koyak, Rasulullah SAW menambalnya sendiri tanpa menyuruh isterinya.

– Rasulullah SAW selalu bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Contoh: Rasulullah SAW memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

– Rasulullah SAW tidak segan membantu istrinya di dapur. Contoh: Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap dimasak untuk dimakan, sambil tersenyum Rasulullah SAW menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

– Rasulullah SAW sering memanggil istrinya dengan panggilan mesra. Contoh: Aisyah r.a. dipanggil dengan panggilan Khumaira (yang kemerah-merahan) oleh beliau.

– Rasulullah SAW tidak pernah mendesak istrinya menyediakan makanan. Contoh: suatu ketika, Rasulullah SAW pulang pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” Sedikit pun tidak tergambar raut kesal di wajah beliau.

– Rasulullah SAW sangat marah ketika melihat seorang suami sedang memukul istrinya. Contoh: suatu saat beliau melihat seseorang memukul istrinya. Beliau menegur, “Mengapa engkau memukul istrimu?” Orang itu menjawab, “Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap bandel juga, jadi aku pukul dia.” Rasulullah SAW berkata lagi, “Aku tidak menanyakan alasanmu, aku bertanya mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”

– Rasulullah SAW tetap lembut dan santun kepada istri. Rasulullah selalu memperlakukan istrinya sangat istimewa sekalipun beliau adalah pemimpin umat Islam tertinggi, bahkan saat itu adalah pemimpin terbesar di dunia. Sayidatina Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.”

– Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik, kasih dan lemah lembut terhadap isterinya.” [caramuhammad]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347098/kelembutan-cinta-rasulullah-kepada-istri-istrinya#sthash.NPUU5mIy.dpuf