Benarkah Derajat Manusia Dihadapan Allah Sama?

Allah menciptakan manusia dengan dibekali akal untuk berfikir, sehingga oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk terbaik diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah.

Dalam kehidupan ini, kita tentu berdampingan dengan berbagai macam jenis sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia. Apakah Anda pernah mendengar kalimat “manusia sebagai makhluk ciptaan Allah itu memiliki derajat yang sama dimata Allah, sehingga satu sama lain tidak boleh ada yang merasa paling benar“.

Kalimat-kalimat semacam itu atau yang serupa memang sekilas terasa indah dan tidak salah, namun itulah salah satu kelebihan setan dalam upaya menyesatkan manusia. Setan selalu membisikkan kalimat-kalimat yang indah, namun isinya mengandung kesesatan.

Itulah kalimat-kalimat racun yang dapat merusak aqidah umat Islam. Allah berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” [QS. Al-An’am ayat 112]

Kita semua sepakat bahwa seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan, namun benarkah derajat manusia sebagai ciptaan Tuhan itu sama dimata Tuhan? jika ada yang menganggap bahwa derajat manusia itu sama dimata Allah, maka itu adalah anggapan yang keliru.

Mengapa demikian? banyak alasan yang mendukung mengapa derajat manusia dimata Allah itu tidak sama. Salah satunya adalah karena yang buruk dan yang baik itu tidaklah sama. Allah SWT berfirman,

“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu,…”. [QS. Al-Maidah ayat 100]

Kemudian, derajat antara orang-orang kafir dan orang mukmin juga berbeda. Allah sendiri menyebut orang mukmin sebagai makhluk terbaik dan menyebut orang kafir sebagai seburuk-buruk makhluk.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” [QS. Al-Bayyinah ayat 6-7]

Dari ayat diatas jelas disebutkan bahwa orang-orang kafir dan kaum musyrikin adalah orang yang diberikan predikat seburuk-buruk makhluk oleh Allah SWT dan orang beriman yang mengerjakan amal saleh adalah sebaik-baik makhluk, ini Allah yang mengatakan, bukan manusia.

Kemudian, Allah SWT juga membedakan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu. Allah berfirman,

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [QS. Az-Zumar ayat 9]

Ayat diatas menjelaskan tentang keutamaan orang yang berilmu di atas selainnya. Itulah alasan kenapa derajat manusia dihadapan Tuhan itu tidak sama.

Sebagai muslim, wajib untuk saling mengingatkan. Karena membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, itu bukti iman. Dan Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam.

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” [QS. At-Taubah ayat 29]

Semoga bermanfaat.

 

 

sumber: Makintau

Mahfud MD: Orang yang Menjaga Puasa Bisa Mencapai Derajat Takwa

JAKARTA — Cendekiawan Muslim Mahfud MD mengatakan orang yang mampu menjaga puasa, akan mencapai derajat takwa di hadapan Allah SWT.

Mahfud menyebut takwa adalah berhati-hati dalam melangkah dalam hidup agat tidak tersesat kepada hal-hal yang buruk.

“Orang yang mampu menjaga puasalah yang bisa mencapai derajat takwa,” kata Mahfud, melalui akun twitter pribadinya @mohmahfudmd, Rabu (17/6).

Meski terkesan sederhana, Mahfud menyebut tidak mudah mendefinisikan takwa yang sesungguhnya. Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini kemudian menceritakan sebuah dialog yang terjadi antara Umar bin Khatthab dan sahabatnya Ubay Bin Kaab.

Saat itu, kisah Mahfud, Ubay bertanya kepada Umar apa arti takwa. Umar menjawab takwa adalah berjalan di jalan yang terjal di tepi jurang. Saat ditanya Ubay apakah Umar pernah berjalan di jalan terjal seperti itu, Umar menjawab pernah.

Kemudian, sambung Mahfud, Umar memecahkan rasa penasaran Ubay dengan mengatakan takwa itu adalah menjalani hidup dengan sangat hati-hati.

“Takwa itu adalah selalu berhati-hati agar tak salah melangkah. Kalau telanjur bersalah sebagai manusia segeralah bertobat dan sportif,” kata Mahfud menerangkan.

Ia kemudian mengingatkan bila pernah berbuat kesalahan segeralah mengakui dan meminta maaf. ”Jangan sekali-kali menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuat diri sendiri,” kata Mahfud mengingatkan.

Menyalahkan orang lain, kata Guru Besar Universitas Islam Indonesia ini, akan semakin menambah persoalan baru yang menyulitkan posisi kita.

“Kalau bersalah, tapi tak mau mengaku salah dan malah menyalahkan orang lain, Anda akan membuat kesalahan-kesalahan baru yang makin menyulitkan,” ujar Mahfud.

sumber: Republika Online