Terbukti Mustajab, Doa untuk Anak agar Kaya dan Hidupnya Berkah

Ini lafadz doa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Doa untuk anak agar kaya dan hidupnya barokah.

Bahkan doa ini bukan hanya untuk anak kandung tetapi juga untuk murid. Karena Rasulullah dengan doa ini mendoakan sahabat kecil yang melayaninya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Anas bin Malik adalah putra Malik dan Ummu Sulaim. Ketika usianya masih delapan tahun, Ummu Sulaim menggandengnya menghadap Rasulullah yang baru tiba di Madinah. Hijrah dari Makkah.

“Ya Rasulullah, tak ada seorangpun di kalangan anshar, kecuali mereka menghadiahkan sesuatu untukmu,” kata Ummu Sulaim. “Sementara saya tidak memiliki sesuatu yang bisa saya hadiahkan selain putraku ini. Silahkan Anda ambil dan jadikan sebagai  pembantu untuk berkhidmat kepadamu.”

Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha adalah seorang ibu yang luar biasa. Ia ingin memperjuangkan agama Allah dan membantu Rasulullah. Ia juga ingin anaknya mendapat keberkahan dengan melayani Rasulullah.

Sedangkan Anas bin Malik, pada usia sekecil itu ia telah dewasa dan mau mengambil tanggung jawab besar. Di saat anak-anak seusianya banyak yang bermain-main, ia telah siap melayani Rasulullah.

Luar biasanya Ummu Sulaim, ia juga minta Rasulullah mendoakan anaknya. “Ya Rasulullah, inilah Anas. Aku membawanya untuk berkhidmat kepadamu. Maka doakanlah dia.”

Maka Rasulullah pun mendoakan Anas:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan keturunannya. Serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.

Doa ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih-nya masing-masing. Dan sesuai doa ini, Anas bin Malik menjadi seorang yang kaya raya dan banyak keturunan. Hidupnya juga diberkahi Allah.

“Demi Allah, harta bendaku sangat banyak dan anak cucuku hari ini lebih dari seratus orang,” kata Anas bin Malik dalam riwayat Imam Muslim.

Mendoakan anak agar kaya dan keturunannya banyak tidaklah dilarang dalam Islam. Dan jangan lupa, doakan pula keberkahan untuk mereka. Sebab ketika hidupnya berkah, maka harta dan nikmat lainnya digunakan untuk beribadah dan kebaikannya bertambah. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Doa lain bisa dibaca di Kumpulan Doa


Buah Doa, Harapan dan Arahan Orang Tua

KEMARIN pagi ada tamu ke pondok saya, yaitu seorang kiai yang memiliki 28 bersaudara seayah seibu. Begitu banyaknya, banyak orang mengernyitkan dahi kaget dan bertanya berapa usia sang ibu saat menikah dan bagaimana cara melahirkannya. Yang menarik adalah fakta bahwa kesemuanya menjadi orang sukses, ada yang menjadi kiai, ibu nyai dan ada pula yang menjadi tokoh masyarakat.

Tadi malam saya diundang ceramah haul kiai besar Sidoarjo, al-Maghfur lah KH Sirodj Cholil, ayahanda KH Rofiq Sirodj (Gus Rofiq), Ketua Syuriah NU Sidoarjo. Jumlah putera puteri K. Sirodj, menurut penuturan puteranya yang ke-17 adalah sebanyak 21 orang. Semuanya menjadi tokoh agama dan tokoh masyarakat yang disegani. Lalu timbul pertanyaan: “Apakah rahasianya sehingga putera-puterinya sukses semua?”

Kisah di atas adalah dua di antara kisah-kisah lainnya yang serupa. Biasanya, saya senang mencari tahu rahasia sukses mengantarkan anak ke gerbang sukses itu, dan tak begitu tertarik tentang rahasianya punya banyak anak. Jawabannya adalah hampir seragam, yakni doa, harapan dan pengarahan akan anak untuk senantiasa menuntut ilmu agama, terutama al-Qur’an.

Ketika putera-puteri kita telah dekat akrab dengan al-Qur’an yang mulia, maka terikut mulialah mereka. Ketika prinsip hidup dalam al-Qur’an sudah tertanam dalam dada anak kita, maka senantiasa luaslah dadanya bak segara yang siap menampung apapun dalam bahtera kehidupan ini. Ketika al-Qur’an sudah menjadi dzikir harian, maka kata dan perbuatannya akan senantiasa benar dan lehidupannya senantiasa penuh hikmah. Bacalah QS Al-Baqarah ayat 269.

Doa orang tua adalah doa dahsyat kemustajabannya. Selalu saya katakan bahwa selama orang tua selalu memiliki waktu mendoakan anak-anaknya, maka selama itulah selalu ada peluang anak-anaknya untuk selalu lebih baik dan lebih sukses. Lalu bagaimanah dengan orang tua yang terlalu sibuk dengan kerjanya sampai melupakan anak-anaknya? Bisa kita kisahkan lain waktu tentang suami istri yang memiliki 13 anak yang semuanya menjadi orang yang berprilaku kurang menyenangkan. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Raih Rezeki dari Doa Orangtua

SAHABAT sekalian yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, apa yang kiranya sahabat rasakan ketika sahabat berhubungan jarak jauh dengan sang pendamping hidup? Saya yakin, seperti ada yang kurang dalam hidup. Mengapa bisa demikian? Boleh jadi dikarenakan adanya cinta dalam hati yang menjadikan diri selalu ingin dekat bersamanya.

Di kala menjelang malam, di mana seluruh pekerjaan sudah diselesaikan, dalam suasana hati yang relaks, sahabat pasti ingin menghubungi sekadar berbicara yang mungkin kurang penting, dan lebih condong kepada berbagai hal ke seharian yang sederhana, namun terasa luar biasa.

Nah, bagaimana kiranya kepada kedua orangtua yang telah membesarkan kita, sahabat? Masih adakah tambatan hati kita kepada mereka yang membuat hati kita tergerak untuk menjaga komunikasi dengan keduanya? Wah, bahaya jika sudah tidak ada. Rupanya kita telah lupa atas jasa mereka yang telah menghantarkan kita menjadi pribadi yang ada saat ini.

Tahukah sahabat, ini sebuah kisah nyata yang tidak etis jika saya sebutkan namanya. Di suatu saat, saya sedang makan siang dengan beberapa orang kawan. Tiba-tiba ponsel salah seorang dari kami berdering dengan nomor yang tidak dikenal, dan setelah diangkat, ternyata dari bapaknya di kampung. Tiba-tiba kawan saya menitikan air mata, tentu kami pun langsung bertanya, apakah yang sebenarnya terjadi?

Ternyata kawan saya diberi satu pertanyaan yang sangat menohok, pertanyaan tersebut “LE, apa harus kamu mendengar kabar bahwa bapak mu sudah mati, baru kamu ingat bapak? Bapak ini masih hidup LE, bapak gak butuh apa-apa dari kamu, bapak dengar kami sehat saja, bapak sudah sangat senang”.

Saya rasa siapa pun hatinya akan tertusuk mendengar pertanyaan dan statement sang bapak kepada anaknya tersebut. Cerita ini dapat menjadi sebuah pelajaran, bahwa terkadang kita lebih mencintai pasangan, profesi pekerjaan, komunitas dan lainnya, dibandingkan kedua orangtua yang telah berjasa dalam hidup kita. Padahal mereka adalah manusia yang paling tulus bersama kita, melebihi tulusnya pasangan hidup, apalagi teman sejawat yang mungkin karena kepentingan, dan teman komunitas yang berkumpul mungkin hanya satu pemikiran, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, kapankah terakhir sahabat berkomunikasi dengan orangtua? Sudahkah di minggu ini menghubungi orangtua walau hanya bertanya kabar mereka dan memberikan kabar kita? Jika belum. Lakukan segera dan dapatkan doa dari mereka yang boleh jadi penyebab turunnya rezeki dari Allah Ta’ala. Saran saya, masukkanlah berkomunikasi dengan orangtua menjadi agenda mingguan yang tak terlepas dari catatan agenda sahabat sekailan, dan rasakan bedanya.

Ini pernyataan saya pribadi yang boleh jadi terdapat kesalahan, namun merupakan ungkapan hati yang jujur bahwa “boleh jadi ada bagian rezeki kita yang masih menggantung di langit dan baru dapat diturunkan melalui doa orangtua kita”.

Coba perhatikan bahwa mereka yang menjaga tali hubungan yang erat dengan kedua orangtuanya adalah orang yang memiliki kecenderungan mencapai tingkat kesuksesan dan prestasi tertinggi. SubhanaLLah. Apakah sahabat mengetahui mengapa demikian? Ya. Jawabannya adalah karena “RIDA Allah ta’ala terletak pada RIDA kedua orangtua”.

Wallahu a’lam. [Maulana ishak, S.Pi alumni MSP IPB angkatan 43, Relationship Management Rumah Zakat, Ex Staff Khusus Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS]

INILAH MOZAIK

Subhanallah, Doa Orangtua Mustajab untuk Anaknya

“Anakmu pintar sekali ya. Masih kecil tapi rajin ke masjid ikut salat jemaah. Antum mengajaknya tiap hari?” kata seorang ikhwan kepada temannya sesama kader dakwah.

“Alhamdulillah, dia berangkat sendiri tanpa disuruh.”

“Hebat. Gimana tipsnya?”

“Wallahu alam. Ana nggak merasa ada tips khusus. Hanya saja, sejak sebelum menikah aku selalu berdoa: Rabbijalni muqimash shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal dua.”

Masya Allah Doa yang dimaksud ikhwan tersebut adalah

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dan anak cucu kami orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankan doa kami.” (Q.S. Ibrahim: 40)

***

“Dulu waktu masih SMA, ia jarang pulang. Ikut genk yang nggak jelas. Salatnya juga malas,” seorang ibu bercerita tentang anaknya yang kini telah menikah, “Lalu aku berdoa setiap selesai salat fardhu dan salat malam. Agar ia jadi anak yang salih”

Setelah sekian lama mendawamkan doa, keajaiban mulai terlihat.

“Dini hari itu, setelah tahajud dan berdoa aku tertidur,” lanjut ibu itu, “aku bermimpi tubuh anakku dipenuhi ulat. Lalu aku mengambilnya satu per satu.”

Tak lama setelah mimpi itu, sang anak perlahan berubah. Sedikit demi sedikit ia menjaga jarak dengan genk-nya. Jika tak ada perlu ia berada di rumah, belajar. Di bangku kuliah, akhlaknya kian membaik, salat lima waktu dipenuhinya dan ia meraih 10 besar IPK di fakultasnya.

***

Saudaraku, kadang sebagai orangtua kita melupakan senjata utama; doa. Kita lupa, di saat ada masalah dengan anak kita, di saat mereka jauh dari harapan kita, kita melupakan doa. Bukankah anak-anak kita sesungguhnya adalah milik Allah? Bukankah yang menggenggam hati mereka adalah Allah? Dan bukankah yang kuasa untuk mengubah dan memperbaiki mereka adalah Allah? Lalu mengapa kita tidak berdoa dan berdoa memohon kepada-Nya?

Uduunii astajib lakum. Allah sudah berfirman, berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan. Maka jika kita ingin akan kita shalih, anak kita taat, anak kita dekat dengan Allah, jalan utamanya adalah berdoa. Mintalah kepada Allah. Siapapun mukmin yang berdoa kepada Allah, Dia akan mengabulkannya. Apalagi jika yang berdoa adalah orang tua dan yang didoakan adalah anaknya.

Dalam sejumlah hadis, Rasulullah menegaskan bahwa doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang akan dikabulkan. Doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Azza wa Jalla.

“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud; hasan)

“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi; shahih)

Maka mulai malam ini, berdoalah untuk anak-anak kita. Doakanlah mereka, lalu perhatikan keajaiban yang akan terjadi. []

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2342367/subhanallah-doa-orangtua-mustajab-untuk-anaknya#sthash.fAONp9qT.dpuf